WELCOME TO MY IMAGINATION
.
.
.
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
.
.
.
Warning! : Maybe OOC. Typos. Alur cepet/bertele-tele.
.
GAK SUKA?! JUST GO AWAY!
.
Aku berimajinasi bersama :
SantiRevinty/YanaKim/KokomClouds/Miu/HyacintUchiha/GeminisayankSayank/LinevyHimechan/SushimakiPark/UchihaxHinata/CahyaUchiha/NN/Callistalia/Nurul851/Penelopi/YukarisELF/EuikoKatayanagi/SabrinaAnisa/YukikoMiyuki/Sucirachma5/Ilyaneji/Lightning69/MoyaHime/OnyxDarkBlue
.
.
NB : Disarankan ㅡjika berkenanㅡ untuk mendengarkan backsound Naruto sesuai dengan yang tertulis di [...] Agar bisa mengikuti suasana seperti yang penulis inginkan. Terimakasih^^
.
.
Happy Imagining^^
.
.
Burung-burung mulai berkicau merdu saat sang surya mulai menampakkan sinarnya. Mentari pagi menyebar ke sebagian bumi. Udara pagi yang dingin sedikit mengusik setiap insan yang masih berada di alam bawah sadar. Namun, ditengah dinginnya udara pagi, tetes embun pun terasa lebih menyejukkan.
[Saika]
Gadis bermata Byakugan itu terbangun, sedikit terusik dengan kicauan burung yang terdengar merdu. Kepalanya beranjak dari tas perbekalannya lalu terduduk. Memandang sekeliling, teman-temannya masih terlelap dengan mengelilingi api unggun. Memandang langit biru dengan perpaduan awan putih yang tampak bergerak.
Bara api yang berkobar untuk penerangan mereka semalam kini telah padam. Tidak ada secercah api yang tersisa. Mata amethyst Hinata menangkap pergerakan dari tubuh Sakura dan disusul dengan terduduknya gadis itu.
"Aaah! Sudah pagi rupanya.." Gumam gadis bersurai pink itu sambil meregangkan otot-ototnya.
"Ohayou Sakura-chan!" Sapa Hinata seraya tersenyum.
"Oh! Ohayou Hinata-chan!" Balas Sakura sambil menatap gadis bersurai indigo itu.
Kedua anggota lainnya, Shikamaru dan Lee pun mulai terbangun dari tidur mereka. Shikamaru terlihat masih menguap dengan malas sedangkan Lee tampak bersemangat untuk mengawali hari paginya.
"Ohayou Sakura-chan!" Sapa Lee pada Sakura yang berada di sebelah kanannya. "Ohayou Hinata-chan!" Imbuhnya seraya menatap Hinata yang berada di sebelah kirinya.
"Ohayou Lee."
"Ohayou Lee-kun!" Sakura dan Hinata terdengar hampir bersamaan ketika membalas sapaan Lee.
"Hooaaamm!" Suara seseorang menguap terdengar jelas, membuat ketiganya ㅡSakura, Lee dan Hinata menoleh bersamaan. Pelakunya tentu saja Naruto yang kini tampak mencari posisi nyamannya untuk kembali tidur.
"NARUTO! INI SUDAH PAGI! CEPAT BANGUN!" Teriakan Sakura menggelegar membuat Naruto yang masih berada di alam mimpi tersentak bangun. Bahkan, burung-burung pun terbang menjauh, begitu ketakutan mendengar teriakan Sakura.
"Sudah pagi ya.." Begitulah kira-kira kata pertama yang Naruto ucapkan pagi ini.
"Kita lanjutkan perjalanan." Seru Shikamaru sambil membenahi barang-barangnya kembali, diikuti oleh semua anggota tim. "Desa terdekat jaraknya sekitar 3-4 km lagi, kita akan sarapan disana." Imbuhnya.
"Baiklah! Ayo kita berangkat teman-teman!" Teriak Lee penuh semangat.
Mereka pun kembali melanjutkan misi mereka. Melompat dari satu dahan ke dahan yang lain dengan cepat. Melompat beriringan dengan Shikamaru di depan dan Lee di barisan belakang.
"Misi ini... Akan kita selesaikan dalam waktu berapa hari ya?" Tanya Hinata ragu.
"Kupikir akan lebih lama dari misi kita yang lain." Jawab Sakura. "Sasuke-kun sudah lama pergi, dan sekarang kita pergi mencarinya entah dimana." Lanjutnya.
"Aku harap, kita akan cepat menemukan Sasuke-san.." Tutur Hinata yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Sakura.
OoOoO
[Samidare]
Sasuke berjalan mengikuti Kakek itu sambil membawa beberapa ikat kayu bakar di tubuhnya. Sesekali ia melihat Kakek yang berjalan dengan tubuh yang sedikit membungkuk itu. Ia sedikit merasa iba pada Kakek-Nenek itu, iba akan keadaan kedua pasangan lansia tersebut. Namun, dibalik itu semua, ia merasa penasaran. Walau hidup berdua dengan kehidupan yang jauh dari kata layak, apa mereka merasa bahagia?
Bahagia? Perasaan yang entah kapan pernah Sasuke rasakan. Ia tidak tahu, lupa dan bahkan tidak mengerti bagaimana caranya hidup dengan bahagia. Selama ini, hatinya bagaikan batu.
Berkelana selama ini tidak membuahkan perasaan senang atau bahagia dalam hatinya, namun Ia hanya lebih bisa memahami arti hidup ini. Entah arti hidup seperti apa yang ia pahami. Yang ia tahu hanya, kehidupan ini tidaklah mudah untuk dijalani.
Sasuke menghentikan langkahnya ketika sang Kakek juga menghentikan langkahnya. Rupanya, mereka telah sampai di tempat dimana Kakek selalu ranting-ranting itu, di pinggiran pasar. Sasuke meletakkan ranting-ranting kayu dengan perlahan.
"Aku akan pergi berkeliling di desa ini." Kata Sasuke berpamitan.
Kakek itu mengamatinya sejenak sebelum berbicara, "baiklah. Berhati-hatilah."
Sasuke melangkahkah kakinya menjauh dari kerumunan pasar. Para penduduk sesekali memperhatikannya, namun ia tidak mempedulikan tatapan mereka itu. Ia hanya ingin menjauh dari kerumunan itu.
Langkah kakinya membawanya pergi ke pinggiran desa. Ada sebuah anak sungai disana. Mungkinkah sungai itu adalah sungai dimana ia mencuci mukanya pagi tadi? Entahlah. Ia enggan memikirkan hal itu.
Sasuke memilih untuk duduk bersimpuh di bibir sungai. Memandangi pantulan dirinya di air yang tampak tenang. Di sentuhnya rambut yang menutupi mata Rinnegannya. Ia tampak berpikir, masihkah ia setampan dulu? Masihkah gadis-gadis mengejarnya seperti saat ia masih di akademi? Ah! Kenapa ia memikirkan hal itu? Tentu saja sudah tidak ada lagi gadis-gadis yang mengejar-ngejarnya. Seorang mantan nuke-nin yang paling dicari di seluruh negeri, seseorang yang diselimuti oleh kegelapan. Tidak ada gadis yang mau bersamanya.
"Kakakㅡ kapan kita akan makan?" Suara seorang bocah kecil tertangkap jelas oleh indra pendengaran Sasuke.
"Tunggulah sebentar lagi. Lumut yang kita dapatkan masih belum bisa di jual." Sahut seseorang yang Sasuke yakini sebagai sang Kakak.
"Tapi aku sudah laparㅡ" bocah kecil itu masih merajuk, sedangkan sang Kakak hanya bisa mengelus surai hitam sang adik dengan tatapan menyesal.
Sasuke menoleh dan mendapati kedua bocah itu berada tidak jauh darinya. Seseorang membawa setumpuk kayu, dan seseorang yang lebih kecil membawa sebuah wadah yang terbuat dari bambu yang dianyam. Kemudian Sasuke beranjak dari duduk nyamannya. Pemuda itu bisa menangkap perasaan takut yang merayap di hati kedua anak kecil itu saat melihatnya.
"K-kakak!" Cicit sang Adik yang kemudian bersembunyi dibalik tubuh sang Kakak.
"T-tenanglah! Mu-mungkin pa-paman itu t-tidak jahat" ucap Sang Kakak menenangkan sambil melirik takut pada sosok menyeramkan di depannya.
"Kalianㅡ" Sasuke bungkam ketika merasakan kedua anak itu bergetar takut. "ㅡapa yang kalian lakukan disini?" Sambungnya.
"Ma-ma-maaf Pa-paman, j-jika ka-ka-kami mengganggu Pa-paman."
"Kemarilah!" Perintah Sasuke.
Kedua anak itu pun melangkah mendekat dengan waspada. Mereka takut, tetapi mereka tetap mendekati Sasuke. Mereka memandang Sasuke dengan gemetar ketika mereka telah berada di depan pemuda itu. Namun, mata mereka tampak menyipit bingung saat Pemuda itu berbalik, mengeluarkan pedang Kusanagi-nya. Kilatan petir Chidori terlihat merayap ke pedang Kusanagi itu, dan tanpa ragu ia mencelupkan Kusanagi-nya ke air.
Air sungai tampat sedikit terkoyak dan tidak lama kemudian muncullah beberapa ikan segar berukuran sedang ke permukaan.
"Ayo kita makan bersama!" Seru Sasuke datar.
"Pa-paman..." Bukan sahutan ketakutan yang terdengar, namun sahutan kekaguman. Mereka belum pernah melihat hal yang seperti itu selama ini.
"...hebat!"
OoOoO
[Unparalleled Troughout History]
Suara riuh segera terdengar ketika Naruto dan yang lainnya sampai di sebuah desa yang berdekatan dengan daerah perbatasan antara Negara Api dan Negara Air.
"Wah! Akhirnya kita sampai juga ya." Seru Naruto senang. Ia memandang sekeliling. Banyak orang yang berlalu-lalang disekitarnya, bercengkrama dan melakukan aktivitas lainnya.
"Jadi, ayo kita mencari makanan!" Sahut Lee dengan bersemangat.
"Iya.. Ayo kita pergi!" Sakura berlari mendahului teman-temannya, dan diikuti oleh Naruto dan Lee.
"Sakura-chan! Tunggu aku!" Panggil Naruto seraya berlari mengejar Sakura.
"Hey! Tunggu aku juga!" Sahut Lee.
Hinata hanya tertawa kecil melihat tingkah polah ketiga temannya. Dan berniat menyusul mereka.
"Shika-kun.. Ayo kita kejar mereka!"
"Ck! Itu merepotkan!" Keluh Shikamaru.
Hinata tersenyum, "ayolah! Apa kau tidak lapar juga?"
Shikamaru tidak membalas pertanyaan Hinata. Namun, pemuda Nara itu berjalan menyusul Naruto, Sakura dan Lee yang membuat Hinata terkekeh pelan.
.
.
Sakura menyingkap tirai yang terpasang di pintu masuk sebuah kedai Ramen. Ia segera mendudukkan dirinya disalah satu kursi, kemudian disusul oleh Naruto, Lee, Hinata dan Shikamaru.
"Paman! Kami pesan Ramen-nya!" Seru Naruto yang langsung dibalas sahutan "baik!" Oleh sang pemilik kedai sekaligus pembuat Ramen.
"Setelah ini, aku, Naruto dan Lee akan mencari sebuah kapal. Sakura dan Hinata pergi mencari perbekalan." Tutur Shikamaru.
"Aku mengerti, Shikamaru!" Sahut Sakura.
"Baik!"
"Silahkan menikmati Ramen-nya!" Paman pemilik kedai menaruh masing-masing 1 mangkuk Ramen didepan mereka.
"Selamat makan!" Teriak Naruto dan Lee hampir bersamaan.
Sakura menatap Naruto penuh sayang. Ia tersenyum. Ia pun merasa sangat beruntung memiliki seorang Naruto di dalam hidupnya. Sungguh, ia tidak menyesali keputusannya untuk menerima pria berambut pirang itu menjadi kekasihnya.
Tanpa sadar, Sakura terkekeh kecil sambil mengalihkan pandangannya dari sang kekasih.
"Kira-kira berapa hari kita akan sampai di Pulau Nagi?" Tanya Lee.
"Kita bisa sampai dalam 2 hari." Jawab Shikamaru.
"Ah! Aku sungguh tidak sabar untuk bertemu dengan sahabat sejatiku itu!" Ucap Naruto penuh kerinduan.
OoOoO
[Shitsui]
Sasuke tengah duduk bersama Nenek siang itu. Ia hanya memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh wanita tua itu. Memasak. Yah, nenek tengah memotong beberapa sayuran ketika Sasuke masuk dan duduk di sekitar area masak.
"Boleh aku bertanya? Apa kalian hanya hidup berdua?" Tanya Sasuke tiba-tiba.
Nenek menghentikan aktivitasnya dan menatap Sasuke, lalu kembali berkutat dengan pekerjaannya.
"Ya.." Jawab Nenek tersenyum. "Kami sudah hidup bersama selama 45 tahun." Imbuhnya.
"Kalian tidak mempunyai anak?"
"Tidak." Kata nenek. "Jika kau ingin bertanya, kenapa kami bisa bertahan selama ini tanpa kehadiran seorang bayi..." Nenek kembali menoleh pada Sasuke. "...jawabannya adalah cinta. Kami bersama bukan karena tuntutan untuk memiliki seorang bayi, tetapiㅡ kami bersama karena kami menginginkannya, karena cinta, nak." Jelas Nenek panjang.
Sasuke terdiam.
"Boleh nenek bertanya? Apa kau mempunyai seseorang yang kau cintai?" Tanya Nenek dengan nada lembut.
Sasuke menatap Nenek dengan tatapan sendu. Ingin sekali Sasuke menjawab dengan tegas "YA!" Tetapi ia tidak bisa. Lidahnya kelu.
"Jika kau memilikinya. Genggamlah ia. Hiduplah bersamanya, apapun yang terjadi. Nenek yakinㅡ kehidupanmu akan lebih berwarna..."
.
.
.
TO BE CONTINUE
Note :
Maaf baru update, karena selama seminggu ini ada beberapa hal yang harus aku lakukan^^ jadi, aku akan update paling lambat dalam waktu 1 minggu^^
Masih belum ada SH moment ya.. Karena mereka belum bertemu. Mohon untuk bersabar. Dan jangan bosan jika chapter awal ada NS moment^^
Terimakasih udah nyempetin untuk berimajinasi bersamaku^^
Sampai jumpa di Chapter berikutnya^^
