Neko?

Summary:

Dihari itu, dimenit itu, didetik itu, aku menemukanmu di tengah derasnya hujan salju yang lebat. Didalam dinginnya salju dengan suhu minus di bawah no, kau terbaring kaku tak sadarkan diri tergeletak di jalan. Warning: Akashi neko x Oc (Again?), OOC, full Typo, geje, abal bin abil(?)

Disclaimer : Kuroko no Basket – Tadatoshi Fujimaki

Pairing : Akashi x Reader.

Genre : romance/Drama.

Jujur saja, sebenarnya aku hampir menghiatuskan ni fic ini. pendapat tergantung reader. DON'T LIKE, DON'T READ.

.

"KYAAAAAAA, TIDAAK. SIAPA KAU! MENJAUH DARIKU!" tak tanggung-tanggung, Miu melantangkan suaranya. Kedua tangannya memukul-mukul dada pemuda yang di hadapannya dengan panic, berharap dia akan melepaskan dirinya.

Seluruh tubuhnya merinding. Pikirannya penuh dengan adegan-adegan penjahat yang sering ditontonnya di tv. Bisa saja kan pria itu seorang penjahat mesum yang akan melakukan hal aneh-aneh padanya lalu membunuhnya, kemudian mayatnya akan dimasukan kedalam koper lalu dibuang disungai. TIDAK! Miu tidak ingin hidupnya berakhir tragis seperti itu. Padahal kan dia hanya seorang gadis biasa yang Cuma memiliki wajah yang tidak terlalu menarik. Dia juga merasa tidak mempunyai musuh.

Ia masih tidak rela kalau nanti dirinya akan mati seperti itu, lagi pula ia masih belum membayar lunas snack yang dibelinya dikantin sekolah. Gak banget kan dia harus mati meninggalkan utangnya?

"SIAPA PUN KAU, TOLONG LEPASKAN AKU! AKU TIDAK INGIN MATI." Serunya kalang kabut. Tubuhnya semakin memberontak. Sialnya, lengan orang itu semakin mengencang seiringan dengan gerakannya.

"Heh, Bodoh." Cemoh pria bersurai merah itu. Gadis di hadapannya ini benar-benar lucu.

Miu terdiam mencerna ucapan si pria asing. Apa tadi dia mendengar pria itu mengatainya bodoh? Rasa takutnya tergantikan dengan amarah yang meluap-luap. Kurang ajar, sekarang ia tidak peduli siapa pun pria itu, ia hanya tidak terima dikatai bodoh oleh seorang penjahat yang berani masuk ke dalam kediaman tentramnya. Berani sekali dia.

"Heh, aku tidak peduli siapa kau, aku hanya tidak suka kau mengataiku bodoh dasar penjahat." Ujar Miu kesal. Tubuhnya sudah berhenti memberontak. Mata emerlandnya menatap tajam sepasang manic heterocrom milik pria asing itu.

Alis pria itu terangkat salah satu lalu mendengus geli. "Heh, kau masih belum sadar juga? Bodoh." ucapnya sarkastik.

Miu mulai naik pitam, dia sudah melupakan dirinya yang masih berada dalam pelukan pemuda itu. Yaah dia termasuk orang yang mudah terpancing emosinya. Lagi pula pria itu terlihat menyebalkan.

"APA MAKSUD DARI UCAPANMU?! KAU INI SIAPA HEH?"

"Akashi Seijuro."

Heh?

Apa dia bilang? Akashi? Akashi Seijuro?

Miu terdiam, mencerna satu kata dari pemuda itu. Akashi kan, nama— Kucingnya? Jangan bercanda, ini benar-benar tidak lucu. Pasti pemuda itu sengaja membuatnya bingung agar membuat Miu lengah lalu melancarkan aksi liciknya. Ya, pasti begitu. Tapi… darimana dia tahu nama kucingnya? Sedangkan dia baru memberi nama kucing itu kemarin. Pria itu melepas pelukannya. Refleks Miu mundur menjauh dan mojok dipinggiran kasur. Pemuda itu bangkit lalu duduk menatap Miu dengan seringai yang— uh tentu saja bikin Miu kembali naik pitam.

Tapi…

Kenapa pria itu punya telinga aneh. seperti— telinga kucing. Hanya saja berwarna merah mirip rambutnya. Miu memusatkan pandangan seluruhnya pada pemuda yang mengaku-ngaku bernama Akashi itu. Pemuda itu bertelanjang dada memakai celana traning hitam. Iris matanya heterocrom. Kuning keemasan dan merah. Pandangan Miu menurun teratur dan—

Apa pula benda panjang yang bergerak kesana kemari itu. Warnanya merah maroon.

Katakan ini hanya mimpi. Katakan ini hanya mimpi. Batinnya terus-terusan meramalkan empat kata itu. Miu berharap ini semua hanya imajinasinya yang kelewat liar. Ya. Hanya itu. Pasti. Miu dengan gemetar mencubit pipinya.

"Auw." Sakit. Ini bukan mimpi. Tapi, mana mungkin dia kucing yang ia pungut.

Akashi semakin melebarkan seringainya. Ada kilat kesenangan di kedua iris ruby dan topaz-nya. Akashi mencondongkan tubuhnya semakin dekat, dia melihat gadis di depannya semakin mundur lalu punggungnya menabrak dinding keras di belakangnya. Akashi mengulurkan tangannya, menyentuh dan membelai lembut helai-helai rambut gadis itu.

"Mohon kerja samanya, Majikanku."

SIAPA PUN, TOLONG KATAKAN INI HANYA MIMPII!

.

Miu memegang kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. Kepalanya sangat pusing kejadian pagi tadi sangat menguras tenaga serta batinnya. Miu mengacak-acak rambutnya kasar. Ahhkk dia benar benar frustasi. Orang-orang disekitarnya menatap Miu bingung lalu berbisik-bisik. Wajar saja mereka bingung dan menatap Miu aneh. Di sekolahnya, Miu terkenal dengan pribadi yang baik dan dewasa, jarang sekali menampilkan emosi yang berlebihan.

Miu tak ambil pusing dengan hal itu, dia lebih memilih berjalan cuek menuju ruang music. Dia berjalan ketengah-tengah ruangan lalu menaruh tempat biolanya. Miu membukanya, dan menempatkan biola itu senyaman mungkin di belahan bahu dan lebernya. Mengambil nafas, lalu mengeluarkannya. Dia memejamkan matanya, menyembunyikan iris zamrud di balik kelopak mata. Miu mulai memainkan biola itu. Melentunkan nada-nada merdu. Menikmati serta menghayati tiap nadanya. Tiap nada mewakili perasaannya sekarang. Itu salah satu lagu ciptaannya. Karena lagu itulah dia mendapatkan pujian guru-gurunya.

PLOK, PLOK, PLOK.

Miu membuka matanya cepat dan berhenti memainkan biolanya. dia mencari asal suara tepukan tangan yang berasal dari seseorang. Sungguh ini sebuah kejutan yang fantasis. Kise Ryouta berdiri di ambang pintu, bertepuk tangan sambil tersenyum manis pada Miu. Pemuda bersurai pirang itu berjalan mendekat. Miu mengangkat alisnya sedikit. Gadis itu hanya bingung melihat sang model yang terkenal dengan kepopulerannya berada di ruang music, terlebih dia bertepuk tangan untuknya.

Kise berhenti tepat di depan Miu, mebuat gadis itu terpaksa mendongak karena perbedaan tinggi badan. "Aku sangat menyukai permainan biolamu." Puji Kise.

Miu menurunkan biolanya perlahan. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Miu datar.

Kise memasukan tangannya ke saku lalu tersenyum."Karena aku suka dengan lagu yang kau mainkan." Jawab Kise tak jelas.

Miu menghela nafas. Dia berjalan menjauhi Kise dan bersandar di tembok. "Aku hanya heran. Orang populer sepertimu tertarik dengan ini. Terlebih, aku jarang melihatmu kemari." Miu mengangkat wajahnya menatap iris topaz Kise.

Kise tertawa renyah. Dia duduk disalah satu kursi di situ. "Tidak kok. Aku sering mendengarkan kau bermain. Tapi baru kali ini aku berani masuk kemari." Ucap Kise disela-sela tawanya.

Miu kembali mengangkat satu alisnya. Mendengarkan permainannya? Sungguh? Dia baru tahu kalau Kise selama ini menyukai permainan biolanya. Tidak sengaja Miu melirik jendela di sebelahnya. Tiga orang gadis menatap dirinya tajam dari kejauhan. Dari sinyal itu, Miu tahu, tidak seharusnya dia berduaan dengan sang Model yang sedang naik daun ini.

"Kise-kun, lebih baik kau pergi dari sini. Aku tidak ingin membuat para fansmu cemburu dan salah paham." Ujar Miu kalem. Dia bukan bermaksud mengusir Kise. Hanya saja, padangan menusuk dari ketiga gadis di sana membuat dia terpakasa mengusir Kise. Tidak terpaksa juga sih, karena dia juga lebih suka sendirian dan menikmati saat-saat tenang.

Kali ini giliran Kise yang menatap Miu bingung. "Untuk apa kau merasa sungkan. Abaikan saja mereka itu bukan masalah untukku." Jawab Kise cuek.

"Memang tidak masalah untukmu, tapi masalah untukku Kise-kun."

Kise kembali tertawa, dia bangkit berdiri lalu berjalan mendekati Miu. Kise menangkap ekspresi kebingungan Miu, lalu tersenyum. Jika ada fansnya, mungkin saja mereka langsung pingsan dengan darah yang menguncur di hidung. Tapi Miu bukan fans Kise

"Berjanjilah padaku untuk mengijinkan aku melihatmu bermain biola lagi."

Miu semakin menatap Kise bingung. Buat apa dia harus berjanji? Lagi pula ruangan ini bukan miliknya. Harusnya itu terserah Kise, walau sebenarnya dia mungkin akan agak terganggu dengan kehadiran seseorang nantinya. Tapi… jika fans Kise melihat mereka, apa yang akan mereka lakukan padanya ya?

"Itu terserah Kise-kun, tapi bagaimana dengan fa—"

"Tenang saja." Kise memotong ucapan Miu. Dia tersenyum lembut ke arah gadis itu. "Kau tidak perlu memikirkan itu." Lanjutnya. Lalu ia berjalan pergi meninggalkan Miu dalam kesendirian. Ruangan kembali hening.

Miu kembali melirik segerombolan gadis tadi. Mereka masih melemparkan tatapan tajam yang menusuk kemudian berbisik-bisik sebelum meninggalkan tempat itu. Menghela nafas, kemudian menaruh biolanya pada tempatnya kembali. Sudah waktunya ia kembali ke kelas.

.

Sudah malam. Miu melilitkan syalnya, dia sedikit mengeratkan sapu tangannya. Uap putih keluar dari mulutnya saat dia bernafas. Uhk, cuaca hari ini lebih dingin dari kemarin-kemarin. Miu mengandah, menatap kapas-kapas putih yang melayang-layang diudara. Ada beberapa yang mendarat di wajahnya saat dia menatap langit bersalju itu. Tubuh Miu sedikit menggigil. Dia berjalan semakin mempercepatkan langkahnya.

Miu berbelok di tikungan lalu berhenti. Tak jauh darinya, segerombolan pria, berbadan besar dan sangar-sangar berdiri di dekat tiang lampu jalannan sekitar satu meteran dari Miu. Tubuh Miu gemetar ketakutan. Dia ingin kabur tapi ini satu-satunya jalan untuk sampai di rumahnya. Gadis itu melangkah kebelakang berniat meninggalkan tempat itu. Sialnya, salah satu segerombolan mereka menoleh dan langsung menatapnya.

Pria itu menyenggol temannya yang lebih kurus ceking namun tinggi untuk meminta perhatian. Sinyal-sinyal motorik diotaknya mengirimkan tanda bahaya. Dia harus pergi dari sini. Dia harus meninggalkan tempat ini. Harus. Miu berbalik dan langsung berjalan cepat, menjauh dari mereka. Miu melirik kebelakang memastikan mereka tidak mengikutinya. Jantungnya serasa berhenti berdetak kemudian berdetak lebih kencang. Dua pria tadi berjalan dibelakangnya sejauh lima meter. Tidak terlihat buru-buru. Mereka berdua tertawa. Entah apa yang ditertawakannya, Miu tidak peduli.

Miu kembali menatap ke depan. Hatinya sangat tidak tenang. Dia takut. Sangat takut. Kecemasan dan rasa takut menguasainya. Air mata mulai muncul di pelupuk matanya. Tidak. Dia tidak boleh menangis. Miu menerobos ke keramaian dan berusaha berbaur dengan yang lainnya. Syukurlah, dengan begini pasti mereka tidak akan menemukannya. Miu hanya diam saat dua pemuda tadi berjalan melewatinya tanpa menoleh. Mereka pasti kehilangan jejaknya.

Miu berbalik dan kembali berjalan ketempat tadi lalu—

…Kembali berhenti.

Mendadak rasa cemas dan takut menyerangnya. Dua pria yang berbeda menghadang dirinya. Miu mundur perlahan lalu secara cepat berbalik dan lagi-lagi dia berhenti. Miu melihat dua pemuda yang mengikutinya tadi berjalan berdampingan menuju ke arahnya. Keempat pria sangar itu tertawa senang, merasa gembira karena berhasil menggiring mangsanya. Miu bergerak-gerak gelisah menoleh ke kanan dan ke kiri panik.

Dia dijebak.

"Hei lihat , si kucing manis terlihat bingung." Seru pemuda kekar di depannya. Ada tato bergambar sulur berduri yang melingkar di lengan pemuda tadi.

"Bagus Rei, kau berhasil membuatnya masuk dalam jebakan." Ucap pria yang lainnya. Ucapannya itu berhasil membuat mereka berempat tertawa-tawa keras.

Satu diantaranya maju mendekat lalu mencolek wajah Miu. Miu menampar tangan pemuda itu. Meski dia takut, dia masih punya rasa berani meski hanya sedikit. Secara teratur dia jalan mundur. Kaki-kakinya terasa gemetaran. Secara kompak, empat pria tadi berjalan kearahnya.

TIDAK! TOLONG!

BRUAGH, BUAGH.

Miu mendengar suara hantaman tapi dia tidak berani melihat. Matanya masih terpejam ketakutan. Dia juga mendengar salah satu preman tadi berteriak histeris.

"PRIA ITU SINTING. AYO PERGI DARI SINI SEBELUM KITA MATI!"

Lalu yang didengar selanjutnya suara derap-derap kaki yang menjauh lalu hening. Miu mendengar langkah kaki mendekat. Penasaran dia membuka matanya perlahan dan melihat Akashi berdiri didepannya.

"Sei… Seijuro?" Miu menatap Akashi tak percaya. Bagaimana bisa pamuda itu ada di tempat ini? Tapi dia sedikit lega karena Akashi menolongnya. Pemuda itu hanya menatapnya datar.

Eh?

Tunggu. Air muka Miu berubah panic dia mendekat ke arah Akashi. bagaimana kalau mereka semua melihat ekor serta telinga Akashi?

"Sejuro. Apa mereka melihat telingamu? Lalu ekormu gimana?" tanya Miu beruntun. Dia melongok belakang Akashi, namun Akashi lebih cepat. Pemuda surai merah itu menggendong Miu ala bridalstyle. Miu menjerit terkejut.

Akashi mendengus angku."Sudah diam saja. Mereka tidak akan tahu telinga serta ekorku." Sahutnya percaya diri.

Miu mengomel-omel. Matanya tak sengaja melihat tangan Akashi yang membawa benda yang tak lagi asing di matanya yang berwarna merah. Hah? Apa pula itu? Kenapa Akashi bisa membawa benda itu? Dan benda itu namanya—

"Gunting?"

Akashi melirik Miu lalu menatap gunting yang dia bawa. Bibirnya tertarik menampilkan sebuah seringai. "Untuk senjata." Jawabnya pendek.

Miu menatap Akashi horor.

Mizukawa Miu. Gadis pecinta music yang tak sengaja memungut seekor kucing yang sekarat di jalanan. Dan dia sama sekali tidak tahu kalau si kucing a.k.a Akashi Seijuro memiliki sifat sadis serta psikopat. Akan jadi apa kehidupan Miu untuk kedepannya?

xxxTBCxxx

Aaaaaahkkk tidak. Ini chap sumpeh ancur bangeeet. Parah bad humor. Aku paling gk bisa bikin humor. Hiks (nangis dipojokan)

Huwaaa aduh uhuk uhuk (keselek)

Hah apa boleh buat, udah terlanjur. dan maaf kalau masih banyak typo(s) karena aku gk sempet ngecek ulang. dan...

Jangan lupa Review