Disclaimer: Eyeshield21 belongs to Riichiro Inagaki anda Yusuke Murata
Title: Shadow And Smokes
Sub-title: Immaculate Conception
Warning: Adult theme and mature contents
.
Fic ini adalah fic terjemahan dari Shadow And Smokes by MangKulas, dengan berbagai penyesuaian dan improvisasi.
.
Mamori melihat benda putih panjang itu sekali lagi.
Positif.
Berapa kalipun Mamori memalingkan wajahnya untuk kemudian melihat tanda itu lagi, hasilnya selalu positif.
Mamori Anezaki positif hamil, padahal gadis itu sama sekali tidak berhubungan seks dengan siapapun selama dua tahun terakhir ini—dengan catatan kalau apa yang ia alami malam itu bersama Yoichi Hiruma benar-benar hanyalah mimpi belaka.
Dengan berat, Mamori mengangkat kepalanya perlahan. Ia memandang refleksi dirinya sendiri di cermin kamar mandi; tempat bayangan Hiruma juga pernah terpantul di sana. Tapi saat ini, sosok layaknya setan yang selalu menyeringai lebar itu tidak terlihat. Bahkan beberapa hari terakhir, Mamori sama sekali tidak menemukan tanda-tanda kehadiran sesuatu yang ia anggap ilusi itu.
Mungkin, otaknya akhirnya kembali ke alam nyata hingga semua halusinasi dan angan tentang Hiruma pun berhenti. Mungkin pada akhirnya ia kembali normal karena takut—khawatir akan sesuatu yang nyata dan substansial di dalam rahimnya.
Penampakan Hiruma yang ia lihat maupun rasakan, semua itu tidaklah nyata … 'kan?
.
.
Mamori sangat takut untuk berkonsultasi ke doker. Tapi toh akhirnya ia membuat janji. Karena suka atau tidak, gadis itu dapat merasakan perubahan-perubahan badannya. Mamori hampir bisa mendengar suara degupan jantung kedua di dalam tubuhnya sendiri.
Dan, soal pikirannya kalau ia telah melihat Hiruma di sekitar apartemennya, mencium aroma khasnya, dan merasakannya di malam hari—walaupun ia tahu kalau sebenarnya laki-laki itu tidak ada di sana, Mamori tidak pernah merasa takut.
Bahkan kenyataannya, gadis itu malah merasa nyaman akan kehadiran tidak lazim tersebut. Hal itu adalah sesuatu yang menyenangkan untuk menghibur kesendiriannya. Tapi sekarang ….
Sekarang Mamori takut. Setelah ia memeriksakan keadaannya menggunakan tes kehamilan sederhana dan menemukan bahwa bar biru kedualah yang muncul, Mamori langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur. Ia memegangi perutnya, merasakan banyak ketegangan di tubuh bagian itu.
Mamori tenggelam dalam pikiran-pikiran liarnya ketika ia berbaring di sana. Mengambil napas dan mengeluarkannya lambat-lambat, Mamori dapat mendengar gema dari detak jantungnya—atau mungkin dari detak jantung lain di dalam dirinya. Degupan yang mengikuti detakan jantungnya sendiri, seperti suara langkah kaki yang seakan mengikutinya di jalanan yang gelap dan sepi. Sesuatu yang akan terus bersamanya bahkan ketika ia berlari. Membuatnya takut untuk melihat ke belakang dan berusaha berlari lebih cepat lagi.
Debaran itu bahkan terdengar lebih keras setiap detiknya, setiap kali Mamori menghela napas. Sampai-sampai suara itu menenggelamkan semua suara lain yang ada. Mamori menggulung tubuhnya. Ia meletakkan kedua tangannya di telinga, berusaha untuk tidak mendengar detak jantung tersebut.
Mamori Anezaki sama sekali tidak tidur malam itu.
Ketika cahaya matahari pagi akhirnya meraih kamarnya, Mamori sudah tidak ada di ranjangnya. Ia membuat kopi hitam dan menunggu jam sembilan; janjinya dengan seorang dokter kandungan.
Sambil meniupi asap yang mengepul dari cangkir kopinya, Mamori memikirkan ibunya. Bagaimana ia akan menjelaskan perihal kehamilannya? Dan walaupun Mamori memang tidak harus memberitahu ibunya, hal itu hanyalah terlalu … aneh.
Apa sebaiknya ia menghubungi orang lain saja? Memberi tahu, mungkin Sena atau Suzuna? Seperti misalnya, "Sena, aku hamil tapi aku juga tidak yakin bagaimana hal ini bisa terjadi. Mungkin gara-gara mimpiku beberapa minggu yang lau, dimana Hiruma ada di dalamnya."
Hmmm …. Mungkin tidak. Mungkin ia hanya harus memastikan apakah ia benar-benar hamil atau tidak, baru kemudian khawatir akan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Meninggalkan kopi yang baru setengah diminum, Mamori pun pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap. Gadis itu ingin segera keluar dari apartemennya.
.
.
Walaupun dokter yang ditemuinya ternyata adalah seorang wanita gemuk yang menyenangkan dan ramah, Mamori sama sekali tidak bisa tersenyum. Dan, syukurlah, wanita yang mengingatkan Mamori pada neneknya sendiri itu sepertinya mengerti. Karena ia tidak menekan Mamori dengan banyak pertanyaan dan hanya sedikit berbicara.
Setelah sang dokter mengambil darahnya dan pergi ke bagian laboratorium untuk melakukan tes, Mamori menunggu di ruang konsultasi. Ruangan bercat putih dengan barang-barang yang juga serba putih itu membuat Mamori gelisah. Ia benci kamar putih itu. Rasanya begitu dingin di dalam sana.
Lalu tiba-tiba, terdengar suara ketukan pelan. Igawa-sensei—sang dokter—pun memasuki ruangan. "Anezaki-san, maaf membuatmu menunggu lama," katanya tersenyum. Tapi bukannya membalas senyum itu, Mamori malah menggigil di tempatnya.
.
.
"Kau baik-baik saja?" tanya Igawa-sensei khawatir. Di hadapannya sedang terduduk kaku seorang gadis muda yang terlihat tertekan. "Kau ingin aborsi?" tanyanya lagi.
Mamori menggelengkan kepalanya namun berkata kalau ia akan memikirkan hal tersebut. Igawa-sensei hanya memandangnya ramah dan memberitahu Mamori bahwa jika ia ingin melahirkan bayinya, maka pemilik mata biru safir itu harus meminum vitamin pra-natal. Mamori mengangguk, mati rasa.
Kemudian, dengan ragu-ragu Mamori bertanya, "Bolehkan aku menghubungimu lagi minggu depan?"
"Tentu saja," Igawa-sensei menjawab antusias.
.
.
Mamori Anezaki keluar dari ruangan putih yang ia benci dengan perasaan campur aduk. Kepalanya pusing dan penglihatannya kabur. Ia merasa kalau tiba-tiba saja semuanya jadi terasa … jauh.
Bahkan warna-warna di sekitarnya terlihat berlomba dengan gerakan benda yang seharusnya disertai oleh sang warna. Sehingga seorang pria yang menggunakan jaket biru terlihat dibuntuti oleh warna biru dari jaketnya dan seorang gadis kecil yang menggenggam bunga mawar di tangannya terlihat seakan jari-jarinya pun diselimuti warna merah. Layaknya darah.
Saat Mamori sampai di meja receptionist, gadis itu menyebutkan namanya dengan malas. Setelah membayar administrasinya, Mamori ingin segera berbaring dan tidur—mungkin sampai besok siang.
Tapi selagi Mamori menunggu dengan tidak sabar, pria yang berdiri di balik meja receptionist malah memandangnya tanpa berkedip.
Merasa terganggu dengan tatapan yang seakan menelanjangi dirinya, Mamori mengucapkan namanya sekali lagi, "Anezaki."
Sesaat, pria itu masih tak menanggapi. Namun kemudian, seperti baru saja tersadar akan posisinya saat ini, pria itu akhirnya berucap, "Ah, Anda Anezaki-san?"
Mamori hanya mengangguk bosan, berusaha tidak menghela napas panjang agar tidak membuat pria itu tersinggung.
"A—apa Anda membutuhkan seorang pendeta?"
Mamori mengerutkan keningnya. "Apa?" katanya, mencoba fokus.
Pria itu berdiri dan berjalan mengelilingi meja receptionist untuk menghampiri Mamori. "Saya sangat minta maaf, Anezaki-san," katanya sambil menggamit lengan Mamori lalu menarik gadis itu berjalan bersamanya.
"Apa yang—"
"Saya Ichiro Kai. Ada seseorang yang mengikuti Anda," potongnya tanpa basa-basi.
Mamori berbalik untuk melihat, mencari-cari seseorang di belakangnya.
"Tolong terus berjalan," pinta Ichiro Kai seraya menangkap kembali lengan Mamori. Semakin Anda memikirkan dia, maka Anda pun akan semakin melihatnya."
"Ap—"
"Anda harus mengunjungi seorang pendeta," ucap Kai terburu-buru. "Saya kenal seseorang yang bisa membantu Anda. Tapi tempatnya agak jauh. Butuh—"
"Tunggu! Tunggu sebentar …." Mamori melepaskan tangannya dari Kai lalu berbalik. "Anda bisa melihatnya?" tanyanya kemudian.
Kai mengangguk, berkeringat.
Dan Mamori tidak tahu apakah ia harus tertawa atau menangis. Nyatanya, gadis itu malah menjatuhkan lututnya ke lantai. Di sekitar mereka—Mamori dan Kai—para staff rumah sakit dan beberapa pasien menonton sambil berbisik-bisik.
"Anezaki-san?" Kai membungkuk. "Apakah Anda baik-baik saja?"
"Di mana dia?" tanya Mamori serak, mulutnya kering. Sang gadis bermahkota auburn tidak sanggup mengeluarkan pertanyaan yang sebenarnya sangat ingin ia ketahui jawabannya: apakah dia sudah mati?
Kai menatap Mamori tajam. "Sekarang dia ada di belakang Anda. Dan sedang memelototi saya."
"Dia terlihat seperti apa?" tuntut Mamori.
Kai kembali menagkap lengan Mamori, membantunya berdiri. "Biar saya ambilkan kopi."
"Dia terlihat seperti apa?" Mamori bertanya lagi. Kali ini lebih keras dan tangannya mengguncang-guncang lengan Kai.
Kai menatapnya ragu, "Pirang. Dan dia memiliki garis wajah yang tajam."
Mamori mengeluarkan pekikan ringan. Gadis itu memejamkan matanya, membuat cairan bening yang menggenang di permukaan matanya tumpah. Sesaat kemudian, ia merasakan tangan-tangan besar Kai di bahunya.
"Ada sesuatu yang aneh di sini, Anezaki-san. Pria itu … dia seperti tidak sepenuhnya berada di sini." Kai mengucapkan kalimatnya ragu-ragu.
Mamori hanya menatapnya bingung.
Kai tersipu. "Saya tahu hal ini kedengarannya bodoh. Saya akui, saya bisa melihat roh. Tapi biasanya tidak seperti ini. Yang satu ini, saya baru pertama kali melihat. Seolah-olah, dia bukanlah manusia, tapi juga bukan roh. Bahkan bukan setengah roh."
Mamori mengerenyit, menyeka air matanya. "Apa yang Anda bicarakan?"
"Saya … saya pikir Anda harus berkonsultasi dengan seorang pendeta yang saya kenal."
.
.
End of Chapter Two: Immaculate Conception
.
Dedicated to: Megumi Rockbell, DEVIL'D, and Chizuru SeenYuki Kakemi.
For ALL readers, thanks for reading. And please send me some feedback. I really appreciated that.
