Tezuka's office. (Kanzaki's Law Firm) 11.00 a.m
Empat bulan setelah kepindahan, akhirnya aku setuju dengan rencana Tachibana untuk segera mempunyai anak. Kami pun merencanakannya dengan baik. Maksudku, karena kami ini sibuk sekali dengan pekerjaan, sampai-sampai kami harus menentukan kapan kami akan 'membuat'nya.
(lha…dia kira kue kali dibuat…ckckck, pilih bahasa yang bener kek!)
Aku tidak tahu apakah berhasil atau tidak. Mau periksa ke dokter atau periksa sendiri dengan alat tes kehamilan, aku pun belum mau memikirkannya. Sampai pada akhirnya, hal ini aku ceritakan kepada bosku, seorang pengacara handal bernama Kanzaki Shuiko (ngarang sendiri). Bukan aku yang mengawali ceritanya. Wanita 53 tahun ini sendiri yang bertanya lebih dulu karena dia heran kalau sampai sekarang aku belum mengalami tanda-tanda kehamilan.
Suatu hari dia menyuruhku mengirim berkas perkara yang sudah dikumpulkan beberapa staff di kantor ini. Perbincangan kami kemudian menyimpang ke masalah yang satu ini. Dia yang mulai, mana aku tahu?
"Kalau kalian sampai merencanakan dengan serius seperti itu, berarti kemungkinan berhasilnya mendekati 100%, Kunimitsu. Apalagi usia perkawinan kalian sudah hampir satu tahun."
"…"
"Kau yakin belum merasakan apa-apa sampai sekarang? Aku mau tanya, berapa kali kalian 'melakukan'nya?" *nanya sambil senyum2*
"Kanzaki-sachou, kenapa harus menanyakan itu juga sih?" *agak salah tingkah*
"Kenapa mesti malu? Kita sama-sama wanita, tidak ada yang perlu ditutupi. Lagipula aku sudah lebih lama menikah daripada kau."
"Err…kami 'melakukan'nya…sampai tiga kali lebih. Tapi semua itu berselang satu minggu untuk sekali atau dua kali..." *ngomongnya satu nafas*
(OMG! Tachi…kau perkas-*digampar*)
"Apa pun keinginan kalian, kalau hanya sekedar keinginan, tidak akan pernah terwujud. Tapi kalian menunjukkan kerja keras, aku rasa tidak lama lagi kau akan segera 'isi'."
"…"
"Apalagi sudah empat bulan lamanya. Jangan khawatir. Coba biar aku prediksi. Aku harap prediksiku benar. Besok…tidak, mungkin hari ini…"
"Anda bilang hari ini?" 0_0;
Dia hanya tersenyum, lalu menyuruhku kembali ke tempatku. Aku duduk di kursiku dan menatap ke layar komputer. Tiba-tiba, pandangan mataku agak kabur lalu kembali fokus seperti semula. Aku melepas kacamataku dan mengucek kedua mataku satu kali. Yang terjadi kemudian mataku jadi agak berat, ditambah lagi kepalaku pusing. Aku bersandar ke kursi dan menghela nafas.
Minus-ku bertambah? Ah, mungkin saja…
Aku menduga demikian karena sudah 2 tahun aku tidak mengganti kacamataku. Mungkin saja sekarang minus-nya bertambah.
Darah rendah?
Tidak tidak, aku tidak punya riwayat darah rendah sebelumnya. OK, lupakan itu sekarang. Ayo fokus ke pekerjaan!
Kanzaki's Law Firm. 2.00 p.m
…tsu-san…
…mitsu-san…
"Kunimitsu-san?"
Aku tersentak di ruang kerjaku ketika seorang wanita masuk ke ruanganku dan menyadarkanku dari tidur singkatku. Aku tertidur? Sepertinya begitu. Posisi kepalaku ditopang oleh satu tanganku, dan aku sedang menghadap ke layar komputer.
"Anda baik-baik saja?"
"Oh, ya, aku baik-baik saja. Ada apa?"
"Tapi wajah Anda pucat sekali. Err…Saya ingin menyerahkan berkas perkara minggu ini dari kantor cabang kita."
"Letakkan saja di mejaku. Terima kasih, Natsuki."
Setelah karyawan wanita itu meninggalkanku, tanpa menyentuh berkas yang dia berikan, aku beranjak dari ruang kerjaku menuju toilet. Aku memperhatikan wajahku di cermin, dan benar saja, aku terlihat sangat pucat. Aku mencuci mukaku berkali-kali supaya lebih segar. Aku memeriksa kedua kantung mata bagian dalam, dan ternyata menjadi pucat juga. Aku merasa tidak enak badan, apa mungkin karena aku kelelahan? Tapi ini masih pukul 2 siang. Aku tidak boleh izin pulang kerja lebih awal.
Kembali ke ruang kerjaku, aku dikunjungi oleh teman kerjaku, Fuji. Dia masuk ke ruanganku untuk menyerahkan satu bundel laporan.
(Author's note : Fuji di sini jadi cewek juga. Biar Tezuka ada temennya…xixixi)
"Hey, Kunimitsu. Wajahmu pucat sekali. Kau sakit?"
"Aku…baik-baik saja. Sudah dua orang yang bilang aku seperti itu. Kau dan Natsuki."
"Tapi kenyataannya kau memang seperti sedang sakit. Apa sebaiknya kau izin pulang saja? Apa yang kau rasakan sekarang?"
"Err…hanya pusing saja kok."
"Aku sarankan kau segera minta izin pulang. Kondisimu sudah sangat parah."
"Aku baik-baik saja, Fuji." *bohong*
Dia pun menggelengkan kepala karena tidak kuat dengan perilakuku yang keras kepala. Dia keluar dari ruanganku setelah sukses memaksaku kembali tenggelam dalam setumpuk berkas laporan.
Apartment. 7.00 p.m
Meski semua orang di kantor menyuruhku izin pulang, pada akhirnya aku hanya izin untuk tidak ikut lembur di kantor karena saat itu kepalaku terasa pusing sekali.
Tiba di apartemen, aku langsung melempar diriku di sofa dan melepas lelah. Setelah itu aku pergi ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Selanjutnya aku melakukan tugasku sebagai istri yang baik sembari menunggu suamiku pulang kerja. Mungkin sekarang dia masih dalam perjalanan. Aku akan memasak sesuatu yang ringkas, supaya saat dia pulang nanti bisa langsung dinikmati selagi panas.
Ring…ring…
Selesai memasak, aku mendengar suara ponselku berdering tidak jauh dari dapur. Ah ya, aku meletakkannya di atas kulkas. Aku mengangkatnya, ternyata dari Tachibana.
"Kippei. Aku sudah masak. Kau sudah ada di mana?"
"Maaf, Mit-chan. Aku tidak bisa pulang cepat sekarang. Ada pekerjaan yang harus aku kerjakan di kantor."
"Apa? Tapi tadi siang kau mengirimku pesan singkat kalau akan pulang tepat waktu seperti biasa. Aku sudah masak dan sekarang kau tidak pulang."
"Aduh…maaf, sayang. (kyaaa~!) Aku benar-benar tidak bisa melarikan diri dari tugas yang satu ini."
"Sebenarnya tadi aku juga akan lembur. Hanya saja aku tidak enak badan dan meminta izin kepada Kanzaki-sachou untuk pulang."
"Kau sakit, Mit-chan? Sakit apa? Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah minum obat?"
"Daripada kau mengkhawatirkan aku dari jauh, bagaimana kalau kau sekarang pulang dan bawakan aku sesuatu untuk bisa menghilangkan sakit kepalaku?" *mulai kesal*
"Eits, ada apa ini, Mit-chan? Tiba-tiba kau mar-"
"Aku tidak mau dengar apa-apa lagi! Kalau kau belum pulang sebelum pukul 8, aku tidak akan membukakan pintu untukmu!" *marah beneran*
"Hey, Mit-" *keburu diputus teleponnya*
Setelah memutus teleponnya, aku menghela nafas dan bersandar pada kulkas. Ada apa denganku? Mengetahui dia pulang telat atau tidak pulang, itu sudah biasa. Tapi kali ini emosiku meluap sampai memarahinya tanpa ampun untuk alasan yang sama. Seharusnya aku bisa memakluminya karena dia memang sedang banyak pekerjaan. Dan sekarang…ah, aku tidak mengerti…
Ya sudah, aku juga tidak akan menarik kata-kataku. Dia tidak pulang sesuai dengan yang aku bilang, aku tetap tidak akan membukakan pintu untuknya….
Kanzaki's Law Firm. Next day, 8.00 a.m
Datang ke kantor, aku melihat di mejaku sudah bertambah dua map berkas yang harus diserahkan kepada bosku. Aku menghela nafas panjang kali ini, tiba-tiba saja kehilangan semangat untuk mengerjakannya. Demi Tuhan, aku baru saja menginjakkan kaki di ruangan ini dan map-map itu…yah, map-map itu sepertinya sudah tidak sabar menungguku menyentuhnya dan mencoret-coret sesuatu di dalamnya.
Tok…tok…
"Permisi, Kunimitsu-san. Saya bawakan kopi dan makanan kecil untuk Anda."
Seorang OB masuk membawakan nampan yang di atasnya terdapat secangkir kopi dan makanan kecil. Tiba-tiba aku ingin menolak apa yang ditawarkan oleh OB ini.
"Ganti kopinya dengan teh manis."
"Eh, tapi biasanya An-"
"Aku rasa kata-kataku sudah cukup jelas. Apa perlu aku mengulangnya?" *mulai gak sabaran*
"H-hai, akan saya ganti segera…"
Hal ini terjadi lagi. Sudah puas tadi malam memarahi Tachibana dari balik pintu apartemen, sekarang seorang OB yang berniat baik untuk menyemangatiku pagi hari dengan secangkir kopi, kena omel juga dariku. Dalam hitungan menit, si OB ini kembali ke ruanganku dan sudah mengganti kopi dengan teh. Dia keluar dari ruanganku agak ketakutan. Mungkin dia tidak pernah melihatku marah seperti tadi. Semoga tidak ada lagi korban amarahku setelah dua orang itu.
Saat aku hendak meminum tehnya, tiba-tiba perutku terasa sakit dan mual. Aku segera meminum tehnya, tapi yang terjadi kemudian malah aku ingin memuntahkannya kembali. Aku memaksa meminumnya sekali lagi. Setelah 4 teguk, rasa mual itu datang dan kali ini lebih kuat. Aku keluar dari ruanganku secepatnya untuk pergi ke toilet.
"*batuk2 dan muntah berkali-kali*"
(Maap, saya gak tega nulisnya…kasian Tezuka…*ditendang*)
Kedua tanganku bertumpu pada kedua sisi wastfel. Yang kumuntahkan barusan adalah cairan, dan sedikit campuran teh yang baru tadi aku minum. Badanku langsung lemas, aku hampir saja kehilangan keseimbangan. Aku melihat wajahku di cermin, dan terlihat sangat pucat.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Keluar dari toilet, nampaknya ada beberapa orang yang melihatku terburu-buru ke toilet tadi. Dua dari karyawan kantor ini menanyakan padaku apa yang terjadi. Aku hanya bilang pada mereka bahwa aku baik-baik saja. Termasuk Fuji yang sempat mencegahku masuk ke ruanganku karena dia khawatir. Sekali lagi aku bilang padanya, bahwa aku baik-baik saja.
Aku memutuskan untuk pergi ke ruangan bosku. Hanya kepadanya aku bisa meminta saran, mengingat posisiku ini dekat dengannya. Aku lalu menceritakan kepadanya apa yang baru saja aku alami pagi ini, dan sedikit cerita tadi malam.
"Sepertinya kata-kataku benar, Kunimitsu. Soal kehamilan itu…"
"Anda mengira…saya hamil?" *gak percaya*
"Aku bukan dokter kandungan. Tetapi perilakumu yang emosian serta rasa mual di pagi hari ini, sudah cukup menjelaskan keadaanmu."
"Kanzaki-sachou, apa saya boleh izin pulang? Mungkin setelah ini saya akan langsung ke rumah sakit saja."
"Tentu saja. Aku baru ingin mengatakannya padamu."
"Tapi pekerjaannya…"
"Akan aku serahkan tugas-tugasmu kepada Fuji. Kau pulang saja dulu. Konsultasikan segera kepada dokter, dan segera kabari suamimu."
Apartement. Night, 8.00 p.m
Aku lega malam itu Tachibana pulang tepat waktu. Saat dia pulang, aku minta maaf karena sudah bersikap kurang ajar padanya kemarin. Dia bilang tidak masalah, dan langsung bisa melupakan kejadian kemarin.
Saat ini kami sedang duduk di sofa sambil menonton TV. Aku belum bilang apa-apa soal kejadian pagi tadi. Aku juga tidak bilang kalau aku pulang cepat. Mungkin sekaranglah saat yang tepat untuk mengatakan padanya.
"Kippei."
"Ya?"
"Err…besok…kau bisa libur satu hari?"
"Eh, ada apa, Mit-chan?"
"Aku ingin kau mengantarku ke rumah sakit."
"Kau ingin menjenguk orang sakit?"
"Bukan, tapi aku yang ingin periksa…"
Mendengar kata-kata terakhirku tadi, Tachibana langsung mematikan televisinya dan menoleh padaku. Dia tampak terkejut.
"Mit-chan…sejak kapan…" *kaget tapi seneng*
"De-dengarkan aku dulu! Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pagi ini tadi aku mual dan muntah di kantor. Kanzaki-sachou mengizinkanku pulang lebih cepat karena dia khawatir kalau aku benar-benar…kau tahu…"
"Aku mengerti. Ah, aku tidak heran kau sampai marah-marah kemarin malam. Baiklah, malam ini juga aku akan izin kepada atasanku."
"Eh, tapi benar tidak apa-apa? Maksudku, kau sibuk sekali di kantor…"
"Karena aku juga penasaran, Mit-chan. Kita akan ke rumah sakit besok."
"Terima kasih, Kippei…"
Hospital. Next morning, 9.00 a.m
"Ada pasien bernama Ny. Tachibana Kunimitsu?"
Seorang suster memanggil namaku dari daftar antrian pasien pagi ini. Rata-rata yang ikut mengantri denganku adalah para wanita yang usia kehamilannya sudah lebih dari 5 bulan atau lebih.
Aku dan Tachibana masuk ke ruang dokter kandungan. Perasaanku bercampur aduk, aku bahkan tidak bisa melepaskan genggaman tanganku dari Tachibana. Dengan segenap keberanian, aku mulai menjelaskan kepada dokter ini mengenai kejadian yang aku alami selama beberapa hari belakangan ini.
"Dan…pada akhirnya saya memutuskan untuk berkonsultasi langsung dengan ahlinya."
"Apa Anda sudah pernah menggunakan alat tes kehamilan?"
"Belum, Dok."
"OK, kalau begitu kita akan melakukan satu tes sederhana."
Dokter ini, yang kuketahui namanya adalah Inui Sadaharu (khan di Anime dia dipanggil dokter…^^), memanggil dua orang suster untuk membantuku melakukan tes urin. Setelah menunggu selama beberapa menit, salah satu suster tadi membawa masuk hasilnya dan memberikannya kepada Dr. Inui.
"Selamat, Tachibana-san. Anda akan menjadi seorang ayah. Istri Anda positif hamil."
"Wah, serius?" *senengnya minta ampun*
"Ya, kemungkinan sudah masuk usia 2 bulan. Memang tidak terlihat pada awalnya. Saya bisa memakluminya kalau istri Anda sampai tidak menyadari. Anda berdua khan pasangan baru."
"Apakah hasil tes ini akurat, Dok?"
"Tentu saja. Saya senang akan keputusan istri Anda untuk menanyakan langsung kepada ahlinya." *naikkin kacamata*
Keluar dari ruang periksa, aku dikejutkan dengan tingkah Tachibana yang tiba-tiba menggendongku (a la princess…^^) dan berputar satu kali, tanpa memikirkan bahwa kami berada di koridor ruang tunggu. Aku sudah mencoba memberontak untuk memintanya menurunkanku. Tapi dia tidak mendengarku, dan tidak peduli apa komentar orang-orang yang melihat kami.
(wah, mau juga donk digendong! Tapi sama Kitadai Takashi…*clingak clinguk* Kok gak ada yang protes yak?)
"Kippei! Kau tidak lihat semua orang memperhatikan kita? Jangan aneh-aneh deh!"
"Kenapa harus malu? Biar semua orang tahu bahwa kita ini pasangan baru dan betapa senangnya mendengar bahwa istriku ini sudah hamil."
Akhirnya dia menurunkanku. Gara-gara tingkahnya yang berlebihan ini, aku sampai tidak enak hati harus meminta maaf pada pasien lain yang sedang mengantri ke dokter kandungan karena sudah merasa terganggu.
To be continue~
Fuji : kok aku cuma dikit?
kRieZt : khan cuma buat nemenin Tezuka, biar dia gak sendirian…
Fuji : kalo dia jadi cewek gitu? Fufufu~…*evil grin*
Tezuka : *ngelempar Fuji pake bakiak*
Tachibana : eh, kamu itu lagi hamil gak boleh overacting donk…
Tezuka : …*death glare ke Tachi*
OK2, tar aja ribut2nya. Semoga tidak ada kesalahan dalam penulisan cerita. Yang mau comment/review, masih ditunggu kok…^^/
