disclaimer: snk © isayama hajime; i do not gain any financial profit from this fanfiction
catatan: HAHAHA ga kebayang banget gue bakatnya bikin sampah yo _(:3_ maaf guys update lama
buat kamu yang udah buka laman ini, dan penggemar jeansasha lainnya
bab dua — kagum; sepotong roti dan seikat sumpah
.
.
"Jean, kamu pulang ke arah sini juga?" Sasha bersorak ketika menjumpai Jean melangkah mendekati Sasha — atau lebih spesifik dengan mendekati halte bus.
Lelaki itu melirik ke dalam mata keemasan Sasha, di mana gemerlap tersebar dan kehangatan terpancar, jauh berbeda dengan kelabunya iris mata Mikasa yang hanya tertuju pada satu orang — Eren.
Aaaaah! Kenapa dia harus mengingat-ngingat lagi hal yang tak penting?
Dan kenapa harus ada 'Eren' di belakang spekulasinya soal Mikasa?
"Jean?" Sasha bercelutuk, telapak tangannya mengenai bahu lebar Jean, pemuda itu terkejut karenanya, Sasha memerhatikannya dengan seksama sebelum bertanya, "kau baik-baik saja? Jujur, aku khawatir ketika kau berlari sehabis kutawari roti tadi — kukira kau takut padaku!"
Ketika mata Sasha masih tertuju padanya, Jean tertegun sejenak.
Jean harus bilang apa?
Jean harus mengatakan apa pada gadis yang tak mengerti apapun soal cinta?
Apa yang harus Jean lakukan ketika kekalutan batinnya menggelayut hingga membuat otaknya perih?
"Aku gak kenapa-napa," Jean berkata singkat.
"Terus kenapa kau tadi menghindariku?"
Jeda sejenak.
"Entahlah."
Percakapan mereka diakhiri dengan bus yang berhenti tepat di depan Jean, lalu si pemuda berambut cokelat keemasan melangkah masuk, meninggalkan tanda tanya dalam kepala Sasha.
"Uhh.. apa wajahku begitu jelek sampai dia tidak mau dekat denganku?" Sasha membatin, merendahkan diri.
.
.
Lemari Sasha yang beraroma kamper dijatuhi tas selempang merah, lalu Sasha menggeliat sebelum melompat ke atas kasur. Gadis itu menatap plafon kamarnya yang putih lamat-lamat, dalam benaknya, wajah Jean terus membayanginya.
Menghantuinya.
Hal aneh ini dimulai sejak musim semi—
Ketika Jean menjadi teman sekelas barunya.
Sasha selalu memandanginya dari belakang, menatap tengkuk; bahu; dan punggungnya dengan seksama, rambut cokelat keemasan Jean yang tertiup angin selalu tampak kuat — namun halus, seolah jemarinya akan merasakan kenyamanan yang berbeda dibandingkan ketika ia mengusap rambutnya sendiri.
Bagi Sasha, menatap Jean membuat kenyamanan sendiri di dalam hatinya, mengubah lingkungan hidupnya yang barbar di kampung halamannya menjadi sebuah rasa damai dan kehangatan.
Connie, sahabat sepermainannya sejak kecil, cukup mengenal Jean — karena mereka mengikuti ekstrakulikuler yang sama — sehingga Sasha memintanya bercerita banyak soal sosok seorang Jean Kirschtein, mulai dari namanya, keluarganya, tingkahnya, sampai bagaimana ia bertutur kata.
Semua rentetan kisah tiap hari dari Connie selalu berlumut dalam memorinya, menumpuk di dalam batin Sasha, menjadi acuan untuknya agar rajin ke sekolah, agar dapat menatap tengkuk yang sama itu, menatap semilir angin menyapu helaian rambut kusut itu.
Kekaguman perlahan membuncah dalam jantung Sasha. Menyakitinya.
Suatu kali, Jean tersenyum pada Mikasa dan memberinya sepotong roti mahal yang hanya dijual jauh di provinsi luar — membuat Sasha berpikir kalau Jean menyukai roti — roti dapat membuat Jean tersenyum.
Sejak saat itu Sasha membuat sumpah pada dirinya sendiri; sepotong roti akan terulur dari jemarinya, dan Jean akan menerimanya dengan senyuman terlukis di wajahnya.
Aneh memang, tapi tak ada salahnya, 'kan?
Tapi apa yang terjadi tadi siang — ketika Jean berlari menghindari Sasha dari kantin tanpa sepatahpun kata — terlalu jauh dari ekspektasi dalam sumpahnya; Jean tidak menerima roti pemberiannya; Jean tidak tersenyum ke arahnya; Jean bahkan menampakkan wajah muram kepadanya.
Sampai sekarang, dada Sasha terasa sesak — meski itu hanya perkara kecil.
Jika Jean ingin berada jauh dengannya, itu tidak masalah.
Sasha bisa mengurangi kekagumannya.
