Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Yaoi, gaje, OOC, dan hal-hal lainnya.
Pairing: NaruxSasu, (sedikit nyempil ItaSasu, ItaKyuu)
Rating: M for Mature and Sexual content
Homophobia
.
.
(Part 2)
Hey, I Love You
.
_Sasuke's POV_
.
Aku pemuda biasa dengan status pelajar di Konoha Gakuen. Berangkat sekolah, belajar, mengerjakan dokumen di ruang council, dan pulang. See? Hanya cowok tampan biasa yang melakukan kegiatan sehari-hari. Tapi satu hal yang membedakan aku dengan yang lainnya...
Aku gay...
Oke, jangan terlalu terkejut, karena aku sendiri juga bingung dengan diriku ini. Wajahku tampan-bukannya sombong, tapi aku memang tampan, kulitku bersih putih-jangan tanya kenapa bisa begitu, bahkan Temari pun tidak akan kuberitahu rahasia kulit putihku ini, dan aku seorang presiden council...
.
Aku berjalan pelan melewati koridor, jam tanganku menunjukkan pukul 13.00 siang. Aku merasa hari ini waktu berjalan lama, terlebih lagi saat aku berduaan di dalam lemari dengan Naruto. Aku menyebutnya 'Lemari-cinta', diam-diam aku tersenyum sendiri dengan panggilan yang aku berikan pada lemari itu.
Aku berjalan melewati halaman sekolah menuju atap, pekerjaanku disana masih belum selesai... Hingga...
-BRASSHH!- Air tumpah tepat diatasku, membuatku basah kuyup. Aku mendongakkan wajah, terdengar tawa yang memuakkan. Aku melihat... Empat.. Ah, bukan, tapi lima orang cowok, dan salah satunya adalah cewek yang terlihat ketakutan.
"Nanti dia akan memasukkan nama kita ke buku 'hitam' nya." Kata cewek itu khawatir. Salah satu cowok hanya mendengus meremehkan.
"Dia tidak akan tahu, dia tidak mengenal kita... Ayo pergi!" Seru cowok itu yang merupakan pemimpin kawanan 'brengsek' itu.
Aku kembali menatap seragamku kemudian mendesah. Aku lupa bawa seragam cadangan, pikirku lagi sambil menarik-narik rambut hitamku yang basah. Aku sudah biasa diperlakukan begini, walaupun aku presiden council dan punya kekuasan-seperti buku hitamku- tetap saja aku tidak bisa menulis seluruh nama orang yang mem-bully-ku satu per satu. Lagipula, aku tidak tahu nama mereka, soalnya mereka langsung lari setelah mengerjaiku, aku'kan tidak bisa mengingat wajah mereka satu per satu.
Aku tidak mempedulikan kejadian barusan. Kaki ku tetap melangkah melewati halaman sekolah, bahkan pandangan siswa lain yang berbisik dan menunjuk-nunjuk ke arahku tidak kupedulikan sama sekali.
Tapak kaki ku berbelok masuk ke koridor sekolah, berbelok ditikungan ruangan guru kemudian menaiki anak tangga pelan.
-PLASH!- Seseorang melemparku dengan balon yang diisi cat berwarna merah. Aku berbalik dan mendapati punggung jasku sudah berwarna merah. Lagi-lagi aku mendesah. Aku kesal ketika harus lupa membawa seragam cadangan, harusnya sepuluh seragamku tidak dicuci secara barengan, kataku dalam hati. Aku menatap sekelebat bayangan siswa yang tekikik menghilang dibalik tembok.
Ini sudah dua kali aku dikerjai dalam satu hari. Serius! Biasanya hanya sekali dalam sehari. Aku berpikir sejenak, kemudian segera melupakannya, aku harus menuju atap sekolah untuk menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda.
Aku mulai melangkah lagi tetapi terhenti ketika melihat dua orang dari arah berlawanan berjalan ke arahku. Mataku hanya memandang mereka dingin. Salah satunya adalah Uchiha Itachi dan... Aku melirik seseorang yang berada disebelah kakakku... Cowok itu Kyuubi... Kakak Naruto... Cowok dengan rambut merah yang terlihat selalu basah-seperti terkena air itu, mungkin dia habis keramas, entahlah, yang pasti membuat wajahnya semakin eksotis apalagi dengan bibir yang jarang tersenyum dan mata kucingnya yang kaku, aku yakin dia akan menjadi idola diantara para cewek disekolah.
Itachi hanya memandangku diam kemudian mengalihkan pandangannya ke Kyuubi, "Kantin hari ini, makanannya tidak ada yang spesial." Gerutu Itachi sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Kyuubi hanya diam saja.
Cowok berambut merah itu memilih berjalan ke arahku, "Kau tidak apa-apa?" Tanya Kyuubi. ketika Kyubi membuka bibirnya untuk bicara, dua taring kecil terlihat diantara gigi putihnya, membuatnya terlihat imut.
Aku menggeleng. "Aku tidak ap-"
"Kyuubi..." Itachi menginterupsi, "Ayo kita kembali ke kelas." Kata cowok rambut hitam itu sambil menarik lengan Kyuubi menjauh. Aku hanya diam tidak protes. Sudah lama aku dan Itachi jarang bicara, termasuk dengan kedua orang tuaku. Ayahku bahkan tidak menganggapku ada karena orientasi seksualku. Aku dianggap sampah dikeluargaku sendiri... Tapi... Aku tidak peduli... Aku sudah terbiasa.
Kyuubi memandang Itachi kemudian memejamkan matanya, "Baiklah." Cowok rambut merah itu berjalan lagi tanpa menghiraukan aku. Itachi berjalan melewatiku tanpa menegurku, seakan-akan aku tidak ada disana.
Aku diam sejenak. Setelah Itachi menjauh, aku mulai mendesah pelan...Mataku beralih pada noda di punggung jasku, Seragamku basah dan kotor, pasti sulit mencucinya, keluhku dalam hati.
Aku berjalan lagi, kali ini lebih berhati-hati karena aku tidak mau dilempari apapun dari siswa-siswa yang memandangku dengan aneh. Aku heran, apa bully terhadap diriku semakin intens? Maksudku- dua kali dalam sehari? Apa tidak cukup sekali saja dalam sehari?
-Dug- Pundakku tertabrak seseorang yang baru saja keluar kelas. Mata birunya memandangku kaget.
"Te..Teme?" Panggilnya. Aku menatapnya terbelalak, berusaha menyembunyikan rasa girangku bertemu dengannya lagi.
"Hn..." Jawabku pelan. Cowok pirang itu memandangku dari atas sampai ujung kaki.
"Kau kenapa basah kuyup begini?" Tanyanya lagi sambil menyentuh rambut hitamku. Aku mencoba menenangkan debar jantungku. Aku menepis tangannya, berpura-pura tidak suka dengan perlakuannya.
"Hanya hujan lokal." Jawabku asal-asalan. Naruto terlihat bingung, wajahnya terlihat berpikir, kemudian dia menengok ke arah kelas.
"Hei Choji!" Panggil Naruto, cowok gemuk yang sedang memakan snack nya langsung menengok seketika. "Apa kau lihat hujan hari ini?!" Seru Naruto lagi. Choji berpikir lalu menggeleng mantap.
Naruto berbalik menatapku lalu nyengir, "Kau bohong, Teme."
Aku tenganga menatapnya, kemudian, "Ha..ha..ha.. Kau lucu..." Kataku sambil menyentuh perutku yang geli. air mataku sampai keluar gara-gara tingkah lucu Naruto, apa aku senang karena dia ternyata memperhatikanku?
Naruto berdecak kesal ketika aku menertawainya. Kemudian...
-Sreet- Naruto melampirkan jasnya di kedua bahuku. Aku terdiam dan mendongakkan wajah menatapnya.
Cowok pirang itu nyengir, "Pakai jasku saja dulu, nanti kau sakit." Kata Naruto. Menepuk bahuku pelan lalu berlalu pergi. Tangannya kanannya melambai tanpa berbalik.
Sejenak aku terdiam, lalu cemberut kesal, "Sok keren..." Bisikku lagi.
Mataku menatap jas cowok pirang itu lalu menyentuhnya pelan, tanpa sadar aku tersenyum kecil.
Aku meregangkan ototku yang kaku lalu berusaha bersemangat lagi, "Oke... Pekerjaanku masih banyak... Semangat Sasuke!" Kataku pada diri sendiri.
_POV End_
.
.
.
Itachi duduk dikelas, matanya diam memandang Sasuke yang berada di atas atap sekolah. Dari kelasnya, dia bisa leluasa menatap adiknya itu. Sasuke terlihat kesusahan ketika mengangkat kabel-kabel dan beberapa papan kayu, sesekali cowok itu terjatuh lalu bangkit lagi.
Kyuubi mengikuti arah pandangan Itachi, "Kalau kau begitu khawatir, bantu saja dia."
Itachi hanya diam lalu berbalik menatap buku pelajarannya, membacanya dengan malas. Kyuubi hanya menyender di meja cowok bermata onyx itu.
Setelah beberapa detik tidak ada tanggapan dari Itachi, Kyuubi mulai beranjak dari meja cowok dingin itu. Tetapi gerakan Kyuubi terhenti ketika Itachi tiba-tiba memegang erat tangannya.
Cowok berambut merah itu berbalik, Itachi hanya memegang tangannya dan matanya masih fokus pada buku pelajaran. Cowok dingin itu bahkan tidak bicara atau menoleh ke arah Kyuubi, hanya tangannya yang terus menggenggam tangan kurus cowok rambut merah itu.
Kyuubi mendesah kalah, "Baiklah, aku akan tetap disini." Katanya lagi sambil menyender di meja Itachi. Cowok dingin itu terlihat melepaskan genggamannya ketika Kyuubi duduk kembali di mejanya.
Kyuubi menatap sekeliling kelas, beberapa temannya berlarian kesana kemari. Ada yang melempar kertas, ada yang bermain dengan meja, ada yang usil menyingkap rok para cewek- yang itu membuat Kyuubi menahan tawanya- lalu tanpa sengaja jari kelingking Itachi menyentuh tangannya yang bersender di meja.
Cowok merah itu berbalik menatap Itachi, cowok dingin itu masih sibuk membaca bukunya. Kyuubi diam saja, kemudian menggerakkan kelingkingnya sedikit untuk menyentuh kelingking Itachi. Tanpa bicara pun Kyuubi dapat melihat senyum tipis di bibir cowok dingin itu.
Kyuubi tersenyum kecil, lalu berbalik melihat kelakuan teman-teman lainnya. Sesekali cowok itu melempar kertas ke arah temannya dengan tangan satunya yang masih bebas.
"Kyuu.." Suara Naruto membuat cowok rambut merah itu berbalik ke arah pintu kelas. Itachi hanya melirik Naruto sekilas lalu menjauhkan kelingkingnya dari kelingking Kyuubi.
"Ada apa?" Tanya Kyuubi. Naruto nyengir.
"Mau pulang bareng?" Tanya cowok rambut pirang itu. Kyuubi diam, kemudian melirik Itachi yang sepertinya tidak peduli.
Naruto terlihat tidak sabar, "Mau bareng apa tidak, nih?"
Kyuubi menatap adiknya lagi, "Tidak... Kau pulang saja duluan."
Naruto mengangkat bahunya tidak peduli lalu melenggang pergi.
Itachi melirik Kyuubi dengan ekor matanya. Cowok rambut merah itu tahu apa yang dipikirkan Itachi hanya dengan melihat tatapannya. Walau bagi semua orang sulit memahami cowok dingin itu, tapi tidak dengan Kyuubi. Dia tahu semua gestur bahkan mimik tanpa ekspresi Itachi.
"Berterima kasihlah padaku, jadi kau pulang tidak sendirian." Kata Kyuubi yang menatapnya dengan kaku. Walaupun samar-samar tapi dia dapat mendengar dengusan kecil Itachi.
"Sama-sama." Jawab Kyuubi, yang mengerti arti dengusan itu.
.
.
.
Naruto berjalan disepanjang koridor sekolah. Agak sepi ketika bel pulang sudah berbunyi. Semua siswa akan berlari kesurupan pulang ke rumah. Cowok pirang itu mulai bersenandung pelan. Tiba-tiba langkah kaki Sakura membuatnya terhenti, cewek itu melambai bersemangat ke arah Naruto.
Naruto tersenyum, "Hai..." Kata Naruto yang berusaha menangkap Sakura yang hampir terjatuh ketika menabraknya. "Semangat sekali." Kata cowok pirang itu sambil mencubit pipi cewek itu.
Sakura hanya tersenyum kemudian menggamit lengan Naruto, "Ayo pulang bareng." Ajak gadis pink itu.
Naruto hanya mengangguk senang, baru beberapa langkah berjalan, mata Naruto menangkap sosok Sasuke yang masih sibuk dengan pekerjaannya di atas atap.
Sakura mengikuti arah pandangan Naruto, "Dia tekun sekali." Kata gadis itu, "Ah..! Lihat!" Tiba-Tiba Sakura kaget kemudian menunjuk seseorang yang mengendap-endap dibelakang Sasuke. Orang yang mencurigakan dengan membawa ember.
Naruto ikut melihat orang itu, tetapi terlalu sulit untuk melihat siapa yang mengendap-endap itu dari jarak sejauh ini. Naruto yakin isi ember itu adalah air. Jadi... karena itu Sasuke basah kuyup. Sial! Gerutu Naruto dalam hati.
Naruto mulai berbalik dan berlari. Sakura sedikit terkejut, "Naruto! Kau mau kemana?!" Cowok pirang itu hanya melambai pelan.
"Pulanglah duluan! Aku ada urusan!" Teriak Naruto yang menghilang di tikungan koridor.
.
.
Naruto berlari dengan cepat, matanya fokus pada seseorang yang sudah mengguyurkan air pada Sasuke. Mereka terlihat bertengkar, Sasuke terlihat ingin menghajar orang itu tetapi pukulan telak diwajah, membuat Sasuke tersungkur.
Sial! Sial! Sial! Rutuk Naruto dalam hat- -Dug!- Naruto menabrak Kyuubi, membuat mereka berdua terhuyung kebelakang.
"Apa yang kau lakukan?!" Kesal Kyuubi berusaha berdiri, untung saja Itachi berhasil menangkap tubuh cowok berambut merah itu jadi Kyuubi tidak terjerembab ke belakang.
Naruto yang terjatuh mulai berdiri lagi, "Sasuke!" Seru Naruto panik, "Dia di bully oleh seseorang di atas atap sekolah! Kita harus memban-"
"Naruto... Sudah sore, pulanglah." Kata Kyuubi sambil merapikan jasnya yang berdebu. Cowok pirang itu menggeram.
"Bagaimana aku bisa pulang kalau temanku dihajar orang!" Seru Naruto gusar. Kyuubi menatapnya tajam.
"Aku bilang pulang... Naruto..." Desis cowok rambut merah itu. Naruto balas menatapnya dengan marah.
Itachi menatap Naruto dingin, "Bukannya kau 'homophobia'? Kenapa kau perhatian sekali pada Sasuke?" Aura dingin Itachi membuat siapa takut mendekat atau beradu argumentasi dengannya, tapi Naruto dengan berani memandang mata onyx cowok itu.
"Dengar, brengsek!" Naruto merenggut jas Itachi. "Aku memang 'homophobia' tapi aku tidak pernah menghina atau memukul seseorang karena orientasi seksualnya, mengerti?!"
Itachi mendengus, menampilkan senyuman yang merendahkan, "Apa itu berarti kau 'gay', tuan homophobia?"
Naruto ingin sekali menghajar orang angkuh didepannya ini, "Kau... Brengsek!"
"Naruto!" Kyuubi membuka suaranya dengan keras. Matanya nyalang, "Lepaskan tanganmu dari Itachi... Sekarang!"
Naruto hanya menggeram kesal, "Kalian Binatang! Kalian Bukan Man-!" Teriakan Naruto terhenti ketika tangan Itachi mencengkram wajahnya kuat. Mata onyx cowok itu dingin... Lebih dingin dari es, membuat Naruto merasakan kengerian hingga tulang belakangnya.
"Kau tahu apa tentang binatang?" Desis Itachi dingin. "Kau tidak akan pernah tahu perasaan kami para 'binatang'."
Naruto masih terpaku ketakutan melihat mata dingin Itachi, seperti seorang tikus yang terhipnotis dengan kengerian mata ular. Cowok pirang itu merasakan tubuhnya kaku seketika.
"Itachi-sama!" Teriakan seorang siswa yang membawa ember membuat mereka berbalik. Cowok berambut panjang itu melepaskan cengkramannya dari wajah Naruto.
Siswa tadi terengah-engah, "Aku sudah melakukan sesuai permintaanmu." Katanya penuh dengan nada-yang bagi Naruto sangat menjijikan, "Jadi, apa aku boleh terus mengikutimu, Itachi-sama." Nada gembiranya membuat Naruto harus menahan muntah.
Itachi menyeringai, "Belum.." Katanya dingin, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga pemuda tadi, "Kau harus melakukan yang lebih dari itu." Desisnya pelan. Cowok itu hanya membungkuk senang lalu berlari pergi.
Naruto yang sadar dengan apa yang terjadi langsung menunjuk Itachi dengan marah, "Kau!" Serunya, "Kau yang menyuruh orang itu untuk melakukan hal yang keji pada Sasuke'kan!"
Itachi berbalik, "Aku bangga padamu karena kau baru sadar sekarang." Kata cowok bermata onyx itu, "Dan aku juga bangga padamu karena baru sekarang kau tahu kalau Sasuke di-bully orang... Kemana saja kau?" Tanya Itachi dingin lalu mendekat ke arah Naruto, "Ah, iya... Kau'kan sibuk dengan cewek-cewek bodohmu it-."
-BUGH!- Naruto menghajar pipi kanan Itachi. Membuat cowok itu hampir terhuyung jatuh, tetapi dengan sigap dia menyeimbangkan kakinya lagi. Mata onyxnya marah. Tetapi sekali lagi, Itachi berhasil menekan kemarahannya dengan tatapan dingin.
"Aku harap kau terus berperan menjadi 'tuan homophobia', hindari Sasuke kalau kau masih mau dia selamat." Itachi memandang Naruto tajam, "Kadar homophobia mu masih rendah... Aku harap kau meningkatkannya dengan tingkatan paling ekstrim."
Naruto menggeram marah, "Apa maksudmu!"
Itachi diam, "Artinya, musuhi Sasuke, buat dia menderita, berikan tatapan 'menjijikan' dan hinaan untuknya."
Naruto meludah, "Untuk apa aku mau melakukan hal itu?!"
Itachi diam kemudian detik selanjutnya dia menyeringai, "Tentu saja agar Sasuke tetap hidup." Itachi menunjuk ke jendela, memperlihatkan Sasuke yang di tahan beberapa siswa dan berusaha mendorongnya dari atap.
"Kau Gila! Sasuke Bisa Mati!" Teriak Naruto panik. Itachi menyeringai.
"Itulah yang aku mau... Yang keluarga ku inginkan... Sampah tidak diperlukan di keluarga 'Uchiha', kau mengerti'kan, tuan homophobia?" Jelas cowok bermata dingin itu. Naruto tidak menjawab hanya mengepalkan tinjunya.
Cowok pirang itu menggigit bibirnya keras, "Baiklah." Katanya lagi, "Aku ikuti permainanmu."
Itachi tersenyum, "Pintar!" Pujinya sambil menepuk kepala Naruto, "Sebagai hadiah atas partisipasimu..." Itachi mendekatkan bibirnya ke telinga Naruto, berbisik pelan, "... Aku akan memberikanmu hak istimewa untuk menyiksa Sasuke."
Naruto memejamkan matanya erat, "Asal kau bersumpah." Naruto menatap mata Itachi kesal. "Hanya aku saja yang boleh menyiksa Sasuke, tidak ada pengikutmu ataupun lainnya."
Itachi terdiam... Senyum tipis terkembang di wajah dingin cowok itu, "Deal..." Sahutnya.
.
.
Naruto menjauh, langkahnya terdengar berat dan kecewa. Itachi hanya diam kemudian menatap jendela dan mengangkat tangannya pelan, menyuruh seluruh anak buahnya berhenti menyiksa Sasuke.
Kyuubi menatap Itachi dingin, "Apa itu tidak terlalu berlebih-" Belum sempat Kyuubi berbicara, Itachi menutup bibir Kyuubi dengan tangannya. Kemudian cowok dingin itu menunjuk kerah jasnya yang sudah tertempel kamera dan alat penyadap kecil. Fugaku menyadap dan merekam seluruh aktifitas penyiksaan untuk Sasuke melalui Itachi.
Cowok onyx itu mematikan seluruh alat penyadap dan kamera di jasnya kemudian mengizinkan Kyuubi bicara.
"Itachi... Itu terlalu berlebihan." Kata Kyuubi melanjutkan perkatannya.
Itachi diam, "Tapi itu satu-satunya jalan untuk membuat Sasuke selamat dari siksaan Tou-san yang terus mencambuknya hingga pingsan." Mata Itachi meredup sedih. "Aku berusaha menghentikan ayahku tapi dia bilang 'Aku akan berhenti asal kau yang menggantikanku menyiksanya'." Itachi memandang Kyuubi dengan senyum dipaksakan.
Kyuubi menyentuh bibir Itachi yang berdarah akibat tinju Naruto, "Sakit?" Tanya Kyuubi lagi sedikit khawatir. Itachi tidak menjawab hanya mencium lembut pergelangan tangan Kyuubi, dan memeluk cowok itu dengan erat.
"Aku merasa bodoh... Aku menyiksa Sasuke karena orientasi seksualnya, sedangkan aku sendiri berusaha menyembunyikan orientasiku dari ayah... karena aku pengecut." Suara Itachi terdengar getir. Kyuubi hanya diam, tidak tahu harus berkata apa-apa lagi selain membalas pelukan cowok itu.
.
.
.
_Kediaman Uchiha, 08.00 malam_
.
Fugaku dan Itachi saling berhadapan di meja makan, bukan hidangan makan malam yang berada didepan mereka, melainkan hasil kamera dan alat penyadap yang bertebaran disana. Fugaku sudah melihat hasil rekamannya, dia hanya diam menunggu jawaban Itachi.
"Apa maksud semua ini?" Tanya Fugaku dengan nada berat, "Kenapa kau menyuruh anak ini untuk mem-bully Sasuke?"
Itachi hanya diam, "Bukankah itu yang terbaik?" Jawabnya tenang. Fugaku mengernyitkan dahi tanda bingung.
"Apa maksudmu?"
"Naruto..." Itachi terdiam lalu menatap ayahnya itu tajam, "Sasuke menyukai Naruto, bukankah itu bagus?" Jelas Itachi lagi yang membuat Fugaku terbelalak marah.
Itachi menyeringai, "Kalau Sasuke di bully oleh orang yang disukainya, maka siksaan yang paling berat adalah..."
Fugaku mulai paham, "Siksaan mental maksudmu?" Kemudian pria itu hanya mendengus pelan, "Kalau itu alasannya, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, semua kuserahkan padamu." Mata Fugaku menatap beberapa surat dan paspor atas nama Sasuke, "Kau harus membuat Sasuke segera pergi dari sekolah itu, aku akan langsung mengirimnya ke luar negeri."
Itachi terdiam, "Berapa lama lagi Sasuke akan berangkat?"
Pria dingin itu melihat beberapa dokumen permintaan sekolah yang berada di luar negeri, "Satu minggu, buat Sasuke pergi dari Jepang dalam satu minggu..." Fugaku menatap mata Itachi, "Aku ingin membuang anak itu jauh-jauh."
Itaci memejamkan matanya, "Aku menger-"
-Cklek- Suara pintu depan dibuka, Fugaku dan Itachi tahu siapa yang baru datang jam segini. Sekelebat bayangan Sasuke membuat Fugaku memanggilnya dengan nada benci tapi meredamnya dengan suara dingin.
"Sasuke." Panggil Fugaku tanpa menoleh sedikitpun, Sasuke terhenti di depan pintu dapur, tanpa ekspresi, memandang ayahnya itu, "Dalam seminggu kemasi barang-barangmu, kau akan segera berangkat ke luar negeri."
Sasuke masih diam kemudian melangkah pergi tanpa menjawab apapun. Itachi menatap ayahnya lagi.
"Aku rasa Sasuke akan tetap memaksa tinggal disini, untuk melihat tou-san menderita." Jelas Itachi sambil mengecap teh miliknya.
"Dia tidak akan berani, aku akan memastikan dia akan pergi dalam seminggu ini."Jawab Fugaku lagi sambil bangkit berdiri, "Aku harap kau memastikan 'Bocah kuning' itu melakukan pekerjaannya dengan baik."
Itachi menyeringai, "Tenang saja, aku memiliki banyak mata-mata, tidak ada satu kabar pun yang lolos dari pendengaranku."
Fugaku diam lalu melenggang pergi, meninggalkan Itachi yang masih menyesap teh miliknya.
.
.
Sasuke menutup kamarnya dengan pelan, dia menyender lemas di pintu. Tubuhnya sakit dan bajunya kotor. Ini hari yang melelahkan baginya. Sasuke menghitung jarinya, empat kali cowok raven itu di-bully dalam sehari. Apa homophobia orang bisa bertambah ya? Soalnya orang yang menyiksanya semakin banyak dari hari ke hari.
Sasuke berjalan ke arah kamar mandi, melepas seragam kotornya dan segera membersihkan diri. Guyuran air hangat dari shower membuat tubuhnya sedikit rileks. Pikiran Sasuke mengingat Naruto... Senyum cowok itu, kebaikannya dan sentuhannya. Tanpa sadar Sasuke menyentuh miliknya sendiri. Desahan dan lenguhan membuat Sasuke harus memanggil Naruto dalam setiap erangannya.
"Nghh...Naruto..A-Ahh..." Sasuke mengocok miliknya pelan, beberapa pre-cum mulai keluar dan batang kemaluannya berdenyut-denyut senang. "Nghhh-Hnnn-Naruto...Ahhh"
.
"Bisa kau hentikan tingkah mu itu?" Suara Itachi membuat Sasuke refleks berbalik menatap pintu kamar mandinya yang terbuka. Mata Sasuke nyalang.
"Mau Apa Kau! Kenapa Bisa Ada Dikamarku?!" Seru Sasuke marah, dia tidak suka seorang pun masuk kamarnya. Ini tempat privasinya.
Itachi masuk ke kamar mandi melihat beberapa shampo dan sabun, "Kau tidak mengunci pintu kamar, dan..." Itachi menatap Sasuke, "Kamar mandinya terbuka... Kau tidak pernah menutupnya?"
Sasuke mengeram marah, kebodohannya membuat Itachi seenaknya masuk ke kamar. Lain kali Sasuke akan memalangi pintu kamarnya dengan papan dan menulis 'Iblis Dilarang Masuk!'.
Itachi mendekat dengan seringai anehnya, Sasuke mundur dengan siaga, "Mau Apa Kau!" Serunya kesal.
Itachi menghimpit Sasuke diantara dinding dan tubuhnya, "Bagaimana kalau kita bermain sedikit, Sasuke?" Jelas Itachi dingin. Sasuke terbelalak kaget untuk sesaat, kemudian dia menatap Itachi dengan pandangan jijik.
"Huh! Bagaimana kalau aku beritahu 'Fugaku' kalau anak kebanggannya adalah gay?" Ancam Sasuke... Itachi diam lalu menyeringai.
"Ayah tidak akan percaya padamu... Dia tidak pernah mempercayaimu lagi, ingat?" Nada Suara Itachi terdengar kejam dan menggoda di saat bersamaan. Cowok raven itu menahan getaran tubuhnya ketika Itachi menjilat telinga Sasuke.
"Nghhh-Stop-Hnnh..." Sasuke berusaha menahan tangan Itachi yang menyentuh miliknya. Kakaknya itu menyeringai senang, kemudian dia melepas baju dan celananya.
"Kau benar-benar menjijikan, Sasuke." Bisik kakaknya sambil menarik- narik batang kemaluan Sasuke, "Tapi tenang saja, aku suka wajahmu yang seperti itu." Sambung Itachi sambil menyentuhkan miliknya ke benda keras Sasuke.
Itachi mengocok miliknya dan Sasuke bersamaan, membuat cowok raven itu hampir hilang keseimbangan karena kenikmatan. Itachi menahan berat Sasuke dan terus mengocoknya.
"Ha-hhhh... Nghhh..." Sasuke mendesah lagi, "Hnnhh-Ita-Itachi... Ahh..Ahhhk!" Sasuke berusaha menormalkan nada suara dan desahannya. Percuma, sentuhan Itachi terlalu kuat dan... Enak? Memikirkan hal itu Sasuke merasa jijik pada dirinya sendiri.
"Hhh... Hhaahhh.. Sasuke... Hahhh..." Itachi mendesah tepat ditelinga Sasuke, yang makin membuat cowok raven itu tidak tahan lagi untuk memuncratkan cairan putih miliknya.
Itachi mempercepat kocokannya, deru napasnya menjadi semakin keras terdengar, "Ha-Hahh... Hhhh.. A..Ahh..Sas-"
-Riingg-Riiing- Suara telepon di kamar Sasuke membuat Itachi segera menghentikan kegiatannya sebentar. Cowok dingin itu yakin, yang menelepon Sasuke adalah ibunya, Mikoto. Entah kenapa wanita itu selalu perhatian pada anak bungsunya ini. Hanya pada saat Fugaku tidak ada baru Mikoto berani berbicara langsung pada Sasuke. Di hari-hari biasa, wanita itu hanya bisa berbicara dengan Sasuke melalui telepon rumah yang saling menyambung satu sama lainnya. Dia tidak berani berbicara dengan Sasuke secara terang-terangan dihadapan Fugaku.
Itachi berdiri lalu berpakaian kembali, dia melihat Sasuke yang masih terduduk lemas di lantai, benda milik cowok raven itu masih keras.
"Kita akhiri permainannya sampai sini dulu." Kata Itachi. Sebelum keluar dari kamar mandi, cowok dingin itu masih sempat menatap Sasuke, "Lain kali kita bermain lagi, oke, adik kecilku?" Seringai Itachi membuat Sasuke berusaha menahan amarahnya.
"Tidak ada lain kali, brengsek!" Seru Sasuke yang mulai bisa mengendalikan dirinya.
Itachi terdiam lalu tertawa keras. "Kita lihat saja nanti, Sasuke."
.
.
.
_Konoha Gakuen, 08.00 Pagi_
Naruto terlihat masih mengantuk di dalam kelas, beberapa kali cowok itu menguap malas, dia melirik jam tangannya, sudah pukul 8 pagi, tapi Kakashi-sensei masih belum terlihat.
"Narutooo~~Kuuunn~~!" Teriakan Rock lee membuat radar homophobia Naruto berdiri. Cowok yang selalu memakai baju ketat hijau itu terlihat berlari slow motion ke arahnya, membuat perasaan horor menjalari cowok pirang itu.
"BERHENTI KAU BRENGSEK!" Teriak Naruto berusaha kabur lewat jendela, tapi tangan Kiba menahan Naruto untuk tidak bunuh diri dini.
Rock lee menggeliat cemberut yang makin membuat Naruto merinding disco, "Naruto~kuun... Ayo kita berlari bersama menuju masa depan cer-"
-DUAGH!- Naruto sudah menghajar Rock lee sebelum cowok itu menyelesaikan kalimatnya. "Jangan Berani-Berani Mengatakan Kalimat Sesat Itu Lagi!" Seru Naruto sambil menggeram mirip anjing.
Naruto heran dengan temannya satu ini, padahal dulu mereka adalah musuh. Rock lee selalu menantangnya berkelahi, bertanding olahraga dan sejenisnya, tapi tentu saja, Rock lee selalu berakhir dengan kekalahan dan menghantam-hantam tanah dengan kesal. Sejak saat itu, cowok yang memiliki hobi berpakaian ketat itu mulai menyukai sikap manly dan kuat Naruto.
"Naruto~Kuun Jahaatt... Padahal aku menyukaimu~" Kata Rock lee dengan wajah sok imut. Naruto berusaha menahan hasrat ingin muntahnya.
"AKU TIDAK MENYUKAIMU, BRENGSEK! AKU HOMOPHOBIA!" Jerit Naruto frustasi. Rock lee menyilangkan kedua tangannya di depan dada, kemudian memajukan bibirnya cemberut.
"Tapi, kenapa di saat bersama dengan Sasuke kau tidak mengeluarkan sifat 'Homophobia'mu itu?" Tanya Rock lee sambil mendengus. Naruto terdiam, dia baru sadar tentang hal itu.
"Saat ditembak Sasuke juga sepertinya kau biasa saja, itu curang~~" Kata Rock lee lagi, tanpa memperhatikan Naruto yang terdiam.
Naruto menatap tangannya. Benar juga, kenapa aku tidak merasa jijik dengan Sasuke? Padahal banyak cowok yang menyatakan cinta padaku tetapi cuma Sasuke yang bisa mendekatiku dengan gampangnya. Pikir Naruto lagi.
Cowok pirang itu menatap Rock lee yang masih menggeliat kesal, "Curang.. Curang... Naruto~Kunn.. Curaangg~" Celotehan cowok bermata eksotis itu yang tidak dipedulikan Naruto, dia lebih memilih ke luar kelas menuju kantin.
Rock lee menatapnya bingung, "Mau kemana, Naruto~~kuunn?"
"Kantin." Jawab Naruto seadanya. Rock lee kaget sebentar lalu berusaha mengejar Naruto.
"Aku ikut, ya~~" Jerit Rock lee senang. Naruto berbalik dengan aura hitam yang mengerikan.
"Berani ikut, kau segera mati dalam 5 detik." Kata Naruto dingin. Rock lee terdiam dengan keringat bercucuran.
"A...Aku disini saja." Cicit Rock lee ketakutan sambil merapat kepojokan ruangan.
.
.
Sepanjang koridor Naruto hanya menggaruk kepalanya kesal, wajahnya memerah ketika teringat desah dan erangan Sasuke. Bahkan tadi malam dia harus bermimpi buruk tentang Sasuke yang telanjang dan berada di sofa merah yang mewah dengan pose yang membuat radar homophobia Naruto runtuh seketika.
Derap langkah beberapa orang membuat Naruto mendongakkan wajahnya, beberapa kohai 'cowok' berlari menuju ke arahnya dengan tergesa-gesa. Naruto merasakan firasat buruk.
"Sen-Senpai! Aku menyukaimu!" Kata salah seorang cowok sambil mengulurkan surat cinta.
"Tidak! Akulah yang menyukaimu, Senpai!" Kata yang lainnya berusaha mendorong cowok tadi.
"Minggir kalian! Naruto-senpai hanya buat aku!" Kali ini cowok berotot yang mulai menyatakan cintanya. Naruto makin merinding horor, kemudian...
"MENJAUH KALIAN!" Teriak Naruto ketakutan, beberapa tinju dilayangkan ke arah kohai-kohai 'Manis' nya itu. Dan semuanya berakhir dengan pingsan dan bersimbah darah dilantai.
Naruto menyeka keringat dingin nya, dan berusaha menormalkan napasnya yang putus-putus. Tidak biasanya dalam sehari dia ditembak oleh berpuluh-puluh cowok, biasanya hanya sekali dalam sehari. Dan tentu saja selalu berakhir dengan tinju dan tendangan Naruto.
-Plok-plok-plok- suara tepukan membuat Naruto berbalik, dibelakangnya berdiri Itachi yang menyeringai senang sedangkan Kyuubi berusaha mengalihkan matanya dari Naruto.
"Bagus sekali, tuan homophobia." Kata Itachi sambil berjalan pelan ke arah Naruto, pandangannya beralih lagi melihat beberapa orang yang pingsan kena pukulan cowok pirang itu. "Aku rasa makin banyak orang yang 'menyukai'mu ya?"
Naruto menggeram, "Ini Semua Kau Yang Lakukan' Kan?!" Seru Naruto lagi. Itachi diam lalu menggeleng.
"Aku tidak akan berbuat hal yang membuat ototku capek." Mata dingin Itachi menatap Naruto, "Itu semua karena kau."
"A.. Aku?" Tanya Naruto bingung.
Itachi menyeringai, "Ya, karena kau bersikap lembek pada Sasuke maka semua cowok jadi berani 'menembak'mu, karena mereka pikir kau sudah tidak homophobia lagi." Jelas Itachi sambil sesekali mengguling orang-orang yang pingsan itu dengan kakinya.
Itachi mendekatkan bibirnya ke telinga Naruto, "Sasuke berada dikantin." Kemudian mendesis mengerikan, "Aku ingin melihat pertunjukkan darimu, Tuan Homophobia."
Naruto hanya mengepalkan tangannya sambil menatap nyalang melihat kepergian Itachi. Setelah agak jauh, tiba-tiba cowok dingin itu berbalik, bibirnya membuat pola yang dapat dilihat Naruto sebagai ancaman.
'Jangan.. Buat.. Aku.. kecewa..' Begitulah yang dapat ditangkap oleh mata Naruto.
Kemudian Itachi melangkah pergi.
.
.
.
Sasuke berada dikantin, beberapa potong roti dan jus tomatnya tertata rapi di nampan. Mata onyx nya melirik ke sekeliling ruangan. Hanya mejanya saja yang kosong, beberapa siswa memilih makan dimeja lain, bahkan ada yang rela berdesak-desakkan agar tidak satu meja dengan Sasuke. Tapi bukan itu yang dibingungkan Sasuke, melainkan tidak ada siswa yang melemparinya makanan. Padahal biasanya di kantin, akan ada orang yang melemparnya dengan kaleng, makanan dan benda-benda lainnya. Apa mereka memikirkan cara licik yang lebih mengerikan dari pada mem-bully ku, ya? Tanya Sasuke dalam hati.
Kemudian pandangan Sasuke beralih pada seseorang yang masuk ke kantin...Itu Naruto, bisiknya dalam hati... Tanpa sadar dia memandangnya dalam diam, berusaha menahan senyum senangnya.
Cowok piraang itu berjalan dengan mata yang tajam ke arah Sasuke. Ekor mata Naruto melirik seseorang yang berada di pojok kantin, Uchiha Itachi... Memandangnya dengan seringai yang menjijikan.
Sasuke bangkit dari duduknya, berharap Naruto akan memilih tempat dimejanya, wajahnya tenang seperti biasa, tapi jantungnya terus berdegup kencang.
Naruto mendekat, Sasuke mulai membuka suaranya, "Jas milikmu..." Sasuke menghentikan kalimatnya kemudian beralih ke tas dan mengeluarkan jas cowok pirang itu, "Terima kasih." Sambung Sasuke lagi.
Naruto terdiam, dia tidak membalas ataupun menerima jas yang disodorkan Sasuke. Cowok raven itu bingung, "Naruto?" Panggil Sasuke.
Naruto menggigit bibir bawahnya, matanya menatap Irachi dengan ragu-ragu. Cowok dingin itu makin memandangnya dengan tajam, bibirnya terbuka membentuk sebuah kalimat, 'Lakukan sekarang.'
Naruto mengepalkan tangannya, kemudian...
"LADIES AND GENTLEMAN..." Naruto mulai membuka kedua tangannya lebar-lebar dan meminta perhatian seluruh murid. Cowok pirang itu naik ke atas meja, kemudian berjalan dengan angkuh.
"AKU AKAN MEMBERIKAN PERTUNJUKAN YANG MENARIK UNTUK KALIAN." Seru Naruto lagi, Sasuke kaget.
"Naruto apa yang kau laku-"
"APA KALIAN LIHAT COWOK INI?" Tanya Naruto sambil menunjuk Sasuke. Cowok raven itu memandang berkeliling ruangan dengan bingung, seluruh mata penghuni kantin menatap ke arahnya.
"DIA... COWOK MENJIJIKAN YANG PERNAH AKU TEMUI!" Seru Naruto lagi, sambil mengacungkan telunjuknya ke arah Sasuke. Cowok raven itu terbelalak kaget, jas milik Naruto terlepas dari pegangannya.
Itachi menyeringai senang, Kyuubi yang berada disebelahnya hanya diam membisu. Beberapa kikik tawa terdengar dari para pengunjung kantin. Naruto loncat dari meja, kemudian memandang Sasuke dengan tajam.
"DIA... MENYATAKAN CINTANYA PADAKU..." Seru Naruto lagi sambil mengelilingi Sasuke yang terdiam menahan marah. Beberapa suara kaget dan kasihan pada Naruto terdengar dari beberapa pengunjung kantin.
Naruto berbalik lagi, matanya memandang seluruh siswa yang berada disana, "LALU... APA YANG HARUS KUKATAKAN PADANYA?"
Naruto naik lagi ke meja, "APAKAH HARUS MENOLAKNYA?" Tanya Naruto dengan nada pura-pura sedih, yang disambut sorakan gembira pengunjung kantin.
"ATAU HARUS MENERIMANYA?" Tanya Naruto dengan nada dramatis, membuat seluruh siswa mengeluarkan suara protes. Itachi berusaha menahan tawanya, dia sangat menikmati 'pertunjukan' Naruto.
Naruto berputar sekali di atas meja, "LADIES AND GENTLEMAN... HARI INI AKU AKAN MEMBERIKAN JAWABANNYA!" Seru Naruto lagi yang disambut teriakan seluruh siswa.
Salah seorang siswa berteriak, "Tolak! Tolak!"
Dan yang lainnya mengikuti dengan teriakan yang sama dan wajah yang merendahkan Sasuke. Cowok raven itu mendengar gema membahana memenuhi kantin. Telinganya hampir tuli dan wajahnya memerah karena kesal.
Naruto menyeringai, kemudian merunduk secara dramatis untuk menghentikan ombak keributan itu, "AKU TELAH MEMILIH..." Seru Naruto sambil mengacungkan satu telunjuk ke atas, membuatnya berpidato seperti seorang pesulap profesional.
Itachi benar-benar menyeringai senang, dia tidak kecewa dengan 'pertunjukkan' yang dilakukan Naruto, bahkan dia dengan tenang duduk dan menikmatinya. Kyuubi hanya berdiri diam, dia memandang Naruto yang masih menghina Sasuke, pikirannya melayang pada kejadian malam tadi... Malam dimana Naruto beradu argumentasi dengannya.
.
_FlashBack_
"Aku tidak percaya kau membantu si sombong itu!" Teriak Naruto lagi. Kyuubi yang bersender di meja belajarnya hanya diam menatap Naruto.
"Itu bukan urusanmu." Katanya dingin, sambil berusaha mengusir Naruto dari kamarnya.
"Itu urusanku, brengsek!" Naruto menarik kerah baju Kyuubi, "Aku tidak ingin menyakiti Sasuke!"
Kyuubi menatapnya dingin, "Kalau begitu biarkan dia disiksa oleh Itachi... Dan jangan ikut campur."
Naruto menggeram marah, "Aku tidak bisa..." Matanya terluka mengingat Sasuke yang hampir didorong jatuh dari atap. "Aku tidak bisa membuat Sasuke menderita."
"Kalau begitu..." Kyuubi angkat bicara lagi, kemudian menepis cengkraman Naruto dari kerahnya, "Ikuti permainan Itachi... Siksa Sasuke, maka anak itu akan tetap selamat."
Naruto terdiam, Kyuubi mendengus, "Tidak ada pilihan ketiga, Naruto... Hanya ada dua pilihan, menyiksa Sasuke atau biarkan Sasuke disiksa oleh Itachi.."
_End Of FlashBack_
.
Kyuubi kembali ke kenyataan ketika Naruto mulai terlihat bersenang-senang sambil mengangkat sebuah gelas berisi air putih, "SEBELUM AKU MENJAWABNYA... MARI KITA RAYAKAN PERTUNJUKAN INI!" Seru cowok pirang itu, sambil bersulang dengan nyaring yang disambut kegembiraan luar biasa dari seluruh siswa.
.
Mata kucing Kyuubi terihat gelisah, apa yang akan kau pilih Naruto...?
.
Naruto menatap Itachi kemudian mengangkat gelasnya, "MARI BERSULANG, ITACHI..." Seru Naruto yang disambut sunggingan senyum kecil dari cowok dingin itu.
.
Menyiksa Sasuke... Atau...
.
Setelah meminum gelasnya dan melemparkannya begitu saja ke lantai, cowok pirang itu berbalik menatap Sasuke dan menyeringai, "SASUKE..." Teriak Naruto lagi.
.
Membiarkan Sasuke disiksa oleh Itachi...?
.
Naruto menunjuk Sasuke dengan tegas, "MULAI SEKARANG..." Ada jeda dari kalimat Naruto membuat semua orang menahan napas menunggu keputusan cowok itu. Itachi makin menyeringai.
.
Apa pilihanmu, Naruto? Tanpa sadar Kyuubi mencengkram tangannya sendiri dengan erat.
.
Naruto berteriak lagi, "KAU PACARKU! DAN MILIKKU SELAMANYA!" Itachi terbelalak ngeri, Sasuke menatap Naruto dengan terkejut dan beberapa lolongan protes dan marah terdengar dari pengunjung kantin. Sedangkan Kyuubi hanya terdiam sesaat kemudian tersenyum paksa... Jadi itu pilihan ketigamu, heh? Kyuubi memandang cowok pirang itu... Membuat dirimu dan Sasuke dalam masalah... Benar-benar adik yang merepotkan...
Itachi menggeram marah dengan wajah kesal, "NARUTO!" Raungnya gusar. Cowok pirang itu melirik Itachi dengan santai, kemudian membuka kedua tangannya lebar-lebar.
"AH... KAKAK IPAR..." Kata Naruto dengan lantang membuat semua orang menoleh ke arah Itachi, wajah cowok dingin itu memerah menahan murka.
Itachi menggertakkan giginya, "Kau tidak akan selamat... Aku bersumpah..." Gelas yang digenggam cowok dingin itu kini menjadi pecahan kaca ditangannya. Kyuubi hanya terdiam.
"TANGKAP MEREKA!" Raung Itachi lagi sambil menunjuk Naruto dan Sasuke. Beberapa siswa suruhannya langsung bersiaga dan menatap kedua pasangan itu dengan tajam.
"Ups..." Naruto meloncat dari meja, "Show is over... It's time to go, Princess.." Kata Naruto sambil menggendong Sasuke ala bridal style. Itachi makin murka.
"AKU BILANG TANGKAP MEREKA, BODOH!" Kali ini Itachi hampir menjerit frustasi. Naruto berlari melewati meja, meloncat ke arah counter makanan, menendang beberapa nampan ke orang suruhan Itachi, membuat mereka sedikit terlambat unuk mengejarnya.
Itachi menggebrak meja dengan marah, "Aku bersumpah untuk membunuh mereka berdua." Desisnya ngeri. Kyuubi terdiam menatap wajah marah Itachi, kemudian dia melihat adiknya yang bersusah payah kabur dari kejaran anak buah Itachi.
Kyuubi tersenyum kecil, "Well, good luck." Katanya lagi, entah berbicara dengan Itachi atau memberi keberuntungan pada adiknya itu... Entahlah, yang pasti cowok berambut merah itu memilih keluar kantin daripada harus melihat 'pertunjukan' yang berantakan itu.
.
.
.
TBC
.
Maaf buat alur yang cepat dan sedikit rated M nya *bungkuk badan* XD
Sedikit masukin itaSasu... *author dibakar massa* Maaf #kaboor
RnR Please ^O^
.
Special thanks: nasusay, suki da shaany, Augesteca, TheBrownEyes'129, mae and jae-chan, YukiMiku, Black LIly, Edogawa Riza, Mei, Nura, anis ladyroseuchiha, naDei, keiji wolf, MORPH, Noirouge, Aicinta, miszshanty05, Lovelyhime
