Memory © Kaori Suruga

Disclaimer : Vampire Knight © Hino Matsuri

Warning : Abal, Gaje , OOC Parah!, Yaoi / Sho-Ai

Don't like, Don't read

Kaname, Zero


A/N : Yak sekarang mari kita kembali ke masa 5 tahun lalu ketika Kaname bertemu Zero.


London , Musim Dingin , 2 Januari

"You can believe me, the sky is so close here. I feel I can catch it and give it to you…"

Malam itu salju turun cukup lebat, angin nampak tak akan berhenti berhembus untuk waktu yang cukup lama. Di langit nampak bulan purnama, ya bulan purnama yang besar. Di sisi lain pohon yang kini hanya tersisa sedikit dedaunan nampak seperti sebuah siluet hitam yang menghiasi dataran.

Langit itu begitu hitam, tak ada bintang, hanya bulan. Sesekali terlihat awan yang melintas sehingga berubah menjadi asap kelabu ketika terkena cahaya. Kaname berjalan pelan kearah selatan, menuju sebuah rumah persinggahan yang tak terlalu besar. Mata merahnya berkilat ketika terkena cahaya, begitu dingin. Betapa besar aura membunuh yang kini ia pancarkan.

Sebelumnya Kaname menerima kabar beberapa penjahat yang mengusik ketenangan wilayahnya. Berbuat sesuatu diluar kehendaknya. Membunuh, menyekap para manusia, sehingga hal itu menimbulkan pembicaraan yang tak menyenangkan dari manusia terhadap kaumnya.

Dan sekarang Kaname telah berdiri tepat di bagian luar beranda rumah tersebut, terlihat sedikit cahaya yang terpancar di sisi jendela sebelah kanan. Tiba-tiba ada suara berisik yang terdengar dari arah pintu dan kini pintu itu terbuka. Menampakkan sesosok pria tinggi kurus dengan wajah sangar. Matanya berkilat marah ketika menatap Kaname yang berdiri tak jauh di depannya.

Pria itu menegakkan tubuhnya dengan sombong sembari tersenyum mengejek kearah Kaname. Kedua tangannya ia masukkan ke kantong celananya yang longgar.

Pria itu melangkah maju dan berhenti di pertengahan tangga beranda yang terbuat dari kayu, "Wah, aku kira siapa yang datang berkunjung? Ternyata tuan muda Kaname." Ucapnya sembari tertawa.

Kaname hanya diam, ekspresinya datar dan dingin,"Siapa kau? Apakah kau yang menculik para manusia itu?" Ucapnya tenang.

Pria itu kini tertawa keras,"Kalau iya, kau mau apa tuan muda yang manis?" Ejeknya.

Mata Kaname berkilat marah,"Aku akan menghabisimu."

Si pria nampak tak percaya, "Menghabisiku? Kau pasti bercanda hha…"

"Apa tujuanmu melakukan ini semua? Siapa yang memberi perintah padamu?!"

Kini pria itu nampak serius, matanya menatap lurus kearah Kaname. Terlihat sedikit taring putih muncul di sudut kanan mulutnya disertai kuku yang memanjang tak lazim dari kedua buah tangannya. Kuku yang begitu panjang dan tajam.

"Kau pasti tahu siapa yang menyuruh kami." Balasnya.

"Aku sama sekali tak mengetahuinya."

Kening si pria berkerut, "Oh, ayolah. Kau pasti pernah mendengar tentang 'Vampire Buangan' iya kan?"

"Lalu?"

Pria itu melangkah menuruni 3 anak tangga yang tersisa dan berdiri tepat di hadapan Kaname, "Kami menjadi 'Vampire Buangan' karena keluargamu! Dan kini kami ingin menuntut balas." Si pria melangkah ke sisi kanan Kaname,"Ah, dan para manusia itu adalah mangsa kami. Kami mengumpulkan mereka sebagai suplay makanan kami."

Kaname meliriknya tajam, "Lalu yang memimpinmu?"

Pria itu menoleh,"Informasi tentang tuan kami tak penting untuk kau ketahui. Karena, sebentar lagi kau akan mati!"

Pria itu melayangkan kukunya kearah Kaname. Tepat sebelum kuku itu mengenai wajah Kaname, ia menghindar dengan cepat. Pria itu tersenyum dan kembali berlari kearah Kaname dan menghujamkan beberapa pukulan.

Kaname berhasil menghindar, alhasil pukulan-pukulan itu mengenai pepohonan dan beberapa batu besar di sekelilingnya hingga tak berbentuk.

Dia cukup kuat. – ucap Kaname dalam hati.

Aku tidak ingin ini berlangsung lama. Akan lebih baik semua ku akhiri dengan cepat.

Kaname mempercepat larinya. Kini pria itu ada di sisi kanannya. Kaname menggerak-gerakkan tanganya sembari berlari. Pria itu kemudian ikut menyerang kearah Kaname, tangannya tepat mengarah ke jantung Kaname. Tetapi Kaname dengan sigap memasang perisai kekuatan untuk menghalau serangan.

Kemudian Kaname melihat sebuah celah dari serangan sebelumnya. Ia langsung meraih lengan pria itu dan kemudian mencengkeram lehernya dengan tangannya yang lain.

Pria itu memberikan perlawanan tapi dengan cepat Kaname menghujam leher si pria dengan taring-taringnya yang tajam.

"Uargh!" Pekik si pria yang kini sibuk meronta.

Slurp

Terdengar suara darah yang terhisap meninggalkan tubuh pria itu. Semakin lama pria itu melemah dan akhirnya berhenti meronta. Tangannya yang sebelumnya mencengkram lengan Kaname, kini terkulai lemas tak berdaya.

Kaname melepas gigitannya kemudian mengusap sedikit darah yang ada di mulut dengan punggung tangannya. Pria itu jatuh terlempar, Dia sudah mati. Aku sudah menghisap habis darahnya. – Batin Kaname.

Kaname melemparkan pandangan ke sekeliling tempat itu tapi tak menunjukkan tanda-tanda musuh. Sepertinya hanya dia yang menjaga tempat ini, lebih baik aku memeriksa kedalam. – Ucap Kaname dalam hati.


Gelap, hanya ada sedikit cahaya disini. – Batin Zero.

Zero menatap ruangan itu. Memang gelap tetapi samar ia bisa melihat beberapa lukisan tua terpajang di dinding sebelah kiri. Zero kemudian menatap ke sisi kirinya, pintu ada di sisi kiri dan ia terikat di sebuah kursi kayu tua.

Tubuh Zero bergetar, ia terisak. Tentu saat ini menjadi sesuatu hal yang menakutkan bagi seorang anak berusia 12 tahun. Pelan-pelan air mata turun melewati pipinya yang kecil.

Ibu…Ayah…

.

.

BRAK!

Pintu di sisi kiri Zero tiba-tiba terbuka dan menampakkan sesosok pria tinggi bertubuh tegap dan berjubah hitam. Zero menatap sosok itu tak percaya.

Si-siapa dia? – Pikir Zero.

Sementara Zero sibuk menatap Kaname. Kaname berjalan kearah Zero kemudian merunduk, berjongkok di depan Zero.

Zero mengerjapkan matanya berulang-ulang kali kemudian ia melihat senyum Kaname, senyum yang begitu lembut.

Dia tidak akan membunuhku kan? –Batin Zero.

Kaname membuka mulutnya dan Zero melihat taring putih yang menggantung di sudut bibir Kaname. Badannya mulai bergetar dan kembali terisak.

"Hiks, jangan bunuh aku…" Isak Zero.

Kaname diam kemudian tiba-tiba mengangkat tangannya dan membelai kepala Zero. Matanya yang merah menatap Zero dengan lembut dan Kaname tersenyum – sepertinya berusaha menenangkan-.

"Jangan khawatir, aku datang untuk menyelamatkanmu." Ucap Kaname.

Zero yang terisak sekarang menatap Kaname dengan kedua mata besarnya yang berair, "Su-sungguh? Kau tidak akan memakanku kan tuan?" Balas Zero tergagap.

Kaname tersenyum lagi,"Sungguh. Jadi biarkan aku melepaskan ikatanmu dan membawamu pergi dari tempat mengerikan ini."

Kaname mengangkat tangan kanannya kemudian dengan cepat kuku-kuku runcing mencuat keluar dari ujung-ujung jarinya. Zero sedikit terkejut ketika Kaname mengayunkan tangannya dengan cepat dan mendapati tali yang mengikatnya telah terurai lepas dan jatuh tergeletak di lantai.

Kemudian Kaname membantu Zero berdiri lalu ia menyelipkan sebelah tangannya ke kaki Zero dan menariknya ke dalam pelukan Kaname – gendongan ala putrid seperti biasa-.

Sembari menyusuri ruangan itu menuju pintu Kaname bertanya,"Siapa namamu?"

Tubuh kecil itu masih bergetar tapi Zero menengadah menatap Kaname, berusaha untuk menjawab dengan tenang,"Aku Zero Kiryuu, tuan."

"Jangan panggil aku tuan, panggil saja Kaname. Asalmu darimana, Zero?"

"A-aku dari Jepang. Mereka membawaku jauh dari rumah dan…A-ayah juga Ibu-"

Ucapan Zero terputus karena ia tak bisa menahan tangisnya. Kaname menatap Zero iba. Menghapus butir-butir bening itu dari wajah kecil Zero dengan sebelah tangannya yang bebas.

Aku sempat mengelilingi ruangan lain dan tak ada musuh. Hanya ada Zero disini dan,AH!

Kaname menatap Zero lekat, Kedua mayat di ruang kosong yang aku temukan pasti…ayah dan ibunya.


Mereka tiba di pintu keluar. Malam sudah begitu larut, bulan kini terlihat redup. Mungkin beberapa jam lagi matahari akan terbit dan Kaname tidak mengharapkan dirinya berdiri kemudian terpapar sinar mentari pagi.

"Kau mau ikut ke tempat tinggalku?" Ucap Kaname sembari menatap Zero.

"Y-ya, Kaname-san…"

Kaname mempererat pelukannya kemudian melemparkan dirinya ke udara dan terbang di kegelapan. Menembus awan kelabu dengan sedikit sinar bulan.


Tak terasa pagi begitu cepat tiba. Burung-burung berkicau tiada henti layaknya jam weker yang ingin membangunkan penghuni kastil. Vampire biasanya akan tertidur lelap ketika pagi hari, tapi lain halnya dengan Kaname. Ia sibuk memerintahkan beberapa pelayan untuk membuat sarapan dan teh – para pelayan di kastil Kaname juga vampire tapi dengn strata sosial yang berbeda tentunya-.

Setelah memberikan beberapa perintah pada kepala pelayan, Kaname kembali masuk ke dalam kamarnya. Dan ketika ia berbalik, terlihat sosok tubuh yang ramping sedang tertidur pulas di dalam selimut Kaname. Ya, itu Zero. Apabila diperhatikan lebih dekat, terlihat bekas air mata di sudut mata Zero.

Kaname meletakkan tubuhnya di sebelah Zero, Ia tak berhenti menangis semalaman, sekali pun dalam tidurnya. – Batin Kaname.

Kaname membelai rambut Zero lembut. Tak berselang lama Zero membuka matanya, mengerjapkannya beberapa kali sebelum benar-benar terbangun.

"Selamat pagi, Zero. Bagaimana tidurmu?" Ucap Kaname lembut.

Zero menegakkan tubuhnya. Wajahnya murung tetapi wajah imut itu tak berkurang pesonanya. Zero hanya mengangguk tak mengeluarkan sepatah kata. Kejadian kemarin pasti sebuah trauma baginya.

Dan aku harus menjelaskan bahwa…orang tuanya telah tiada. – Ucap Kaname dalam hati.

Kaname kembali menaruh perhatiannya ke Zero, "Bagaimana kau lapar? Aku sudah menyediakan sarapan."

Zero kembali mengangguk. Kaname berdiri kemudian disusul Zero yang mengikutinya melangkah ke ruang makan.

Aku akan memberitahu kabar ini nanti…setelah dia siap tentunya.


2 minggu kemudian

"When I'm trying to hide that I just find the dark in my mind."

Krieet
.

"Kaname-sama." Ucap sebuah suara.

Kaname mengalihkan pandangannya dari sebuah lilin yang bergoyang sendu di atas meja kayu yang mewah. Hanya melirikkan matanya,"Oh kau Siro…"

"Bagaimana informasi yang kuminta?" Ucap Kaname datar.

"Saya sudah mencoba untuk menyelidiki tetapi belum mendapatkan hasil, Kaname-sama."

Kaname mengerutkan dahinya, "Kenapa?"

"Sedikit kemungkinan menggali informasi 'Vampire Buangan' dikarenakan keberadaan mereka sulit untuk dilacak. Saya sudah mengirimkan informan ke beberapa wilayah dan saat ini mereka belum memberi kabar satu pun."

Begitu merepotkan.

"Lalu bagaimana dengan kondisi Zero?"

"Zero-sama sedang membaca di perpustakaan. Apa perlu saya panggilkan?"

Kaname melambaikan tangannya,"Tidak, tak perlu. Pastikan saja dia tidak mengetahui berita tentang orang tuanya tanpa seijinku. Mungkin…aku yang akan mengatakannya, walau tidak sekarang." Balas Kaname lirih.

"Baik Kaname-sama, saya permisi." Ucap Shiro kemudian beranjak kearah pintu.

Kaname kembali mengalihkan pandangannya ke jendela. Malam begitu gelap. Tanpa bintang dan…

Krieet
.
"Zero-sama!" Pekik si kepala pelayan.

Kaname memandang cepat kearah pintu yang menampakkan tubuh kecil di balik tubuh Shiro. Tanpa pikir panjang Kaname berjalan begitu cepat menuju pintu dan meraih tangan Zero. Ia tak lupa berbisik menyuruh Shiro pergi dan menitipkan pesan agar ia tak diganggu.

Shiro mengangguk kemudian menutup pintu.

Suasana kini hening. Kaname dan Zero berdiri di tengah ruangan. Ia tak melepaskan tangannya yang kini berada di bahu Zero.

Ah tubuhnya bergetar. Apakah dia mendengar pembicaraan kami? –Batin Kaname.

Zero hanya menundukkan kepalanya.

.

.

"Zero?" Panggil Kaname lembut.

.

.

Tubuh kecil itu tak bergerak, Zero tetap terpaku memandang lantai.

Ekspresi Kaname kini berubah sedih. Hatinya begitu pilu melihat anak itu, Zero. Hanya melihat punggung kecil itu bergetar Kaname bisa merasakan kesedihan Zero, lukanya.

.
Kaname merebahkan tubuhnya di depan Zero kemudian mendongak menatap kedua bola mata Zero yang kini sudah berubah basah. Butir-butir kecil perlahan berjatuhan ke lantai disusul isakan pelan yang keluar dari bibir kecilnya.

Tak berselang lama Zero membuka mulutnya sembari menangis, "Kaname-san kumohon! Beritahu dimana ayah dan ibuku!" Pekik Zero tiba-tiba, suaranya begitu tersiksa.

Kaname meraih bahu Zero yang kini duduk bersimpuh di lantai. Zero berlinang air mata. Matanya menatap Kaname sedih, menuntut penjelasan.

"Zero…"Ucap Kaname lirih.

Zero meraih lengan Kaname,"Ka-kaname-san hiks…a-aku memohon padamu…"

Kaname meraih Zero ke dalam pelukannya. Guratan rasa bersalah kini terpampang jelas di wajah Kaname.

"Maafkan aku Zero." Ucapnya lirih.

"Ke-kenapa kau meminta maaf Kaname-san?!"

"Aku…"

.

.

"Orang tuamu…" Tangan Kaname bergetar, "Sudah tiada…"

.

"AKU YANG MENYEBABKAN ORANG TUAMU TERBUNUH!"

.

.

Mata Zero melebar, "A-apa? Ka-kaname-san…itu tidak benar kan?!"

Kaname mempererat pelukannya, "Mereka yang menahanmu dan membunuh orang tuamu menyimpan dendam pada keluargaku, padaku."

Zero membenamkan wajahnya di dada Kaname, tangannya terkulai lemas, "Bagaimana bisa…"

"KENAPA HARUS AKU?!" Pekik Zero yang kemudian menangis kencang. Memecah keheningan malam itu. Tubuh Zero kini bisa tetap tegak berkat Kaname yang memeluknya.

Kaname memaki pelan, Anak ini terluka karena ku! – Batinnya.

"Kau boleh membenciku seumur hidupmu! Walaupun begitu aku akan menjagamu, aku berjanji! Tinggalah bersamaku, Zero!"

Kaname memeluk tubuh kecil itu kembali, mendekapnya dalam kehangatan kecil yang hanya bisa ia berikan sekarang.

"IBU…AYAH!" Isak Zero. Kini suaranya parau.

.

.

Zero terus menangis dan menangis hingga jatuh tertidur. Terlelap dalam pelukan Kaname yang tak beranjak sedikit pun dari sisinya. Kedua sosok itu kini begitu samar di tengah temaram cahaya lilin. Cahaya lilin yang sendu.

Jiwa kecil yang tersiksa…

Sekali pun kau memintaku untuk membunuh

Sebanyak apapun akan kulakukan

Hanya demi dirimu

Yang terkasih…


A/N : Gomen minna karena saya baru bisa update begitu lama. Inspirasi muncul dan hilang berulang kali. Di chapter ini baru bisa membahas pertemuan Zero dan Kaname. Semoga di chapter berikutnya bisa membeberkan lebih banyak lagi.

Mohon review nya minna, arigatou.


To Be Continue