Sequel of Sakura Addiction!
Katekyo Hitman Reborn © Akira Amano
More Sakura Addiction © Marchenhaft
More Sakura Addiction
Second Addiction: Surprise
.
.
.
"Selamat ulang tahun!"
"Sakura…tidak masuk?" tanya Hibari begitu Kusakabe mengabarinya saat istirahat. Kusakabe menganggukkan kepalanya pelan.
"Sakit?"
"Tidak, dia tidak memberitahukan kepada gurunya kalau hari ini dia tidak masuk," jawab Kusakabe dan mulai menjaga jarak. "Em, kalau begitu, saya permisi—"
"Kusakabe."
"Y—Ya?"
"Datangi apartemen Sakura. Cari tahu kenapa dia tidak datang."
"B—Baik!"
Begitu Hibari selesai memberikan perintah, Kusakabe segera keluar dari ruangannya dengan helaan nafas yang panjang dan menunjukkan wajah lelah.
"Kusakabe-san," panggil Tsuna saat melewati Kusakabe yang sepertinya lelah itu. Gokudera dan Yamamoto nampak setia bersamanya. "Sepertinya hari ini Hibari-san badmood-nya sedang parah. Kenapa?"
Kusakabe lagi-lagi menghela nafas. "Sakura-san tidak masuk hari ini kan?"
"Ya, dia memang tidak masuk hari ini," jawab Yamamoto. "Jangan-jangan Hibari-san sedih karena Sakura tidak masuk hari ini?"
"Ternyata dia sangat menyukai Sakura, eh?" komentar Gokudera sambil tertawa.
Kusakabe tertawa kecil. "Yah, jawaban Hibari-san sedih karena Sakura-san tidak masuk cukup benar," jawabnya. "Tapi, yang membuat Hibari-san lebih kesal karena hari ini hari ulang tahunnya, dan Sakura-san tidak masuk."
Tiga sekawan itu hanya terdiam dan tersenyum pada Kusakabe. "Itu berarti kita berhasil?"
Kusakabe tersenyum. "Sangat."
-.-.-
"Hibari-san ngamuk."
"SMP Namimori sudah seperti neraka."
"Lihat saja sudah berapa pintu yang dia rusak. Kenapa sih?"
"Tau. Lagi PMS kali?"
"Woi."
Dan begitulah, selama seharian ini, Hibari benar-benar badmood dan dari auranya, terasa dia bisa membunuh siapapun dalam lima langkah. Dari matanya bisa dilihat dia benar-benar tidak ingin diganggu. Bahkan, tanpa komunikasi kata, para guru, murid, dan anggota komite disiplin selalu memberikan jalan pada Hibari yang sedang lewat.
Yah, daripada berakhir dibunuh?
"Hei, hei, kau tahu penculikkan yang akhir-akhir ini terus terjadi di Namimori?" bisik seorang murid perempuan yang tidak sengaja Hibari dengar. "Ngeri banget ya, katanya mereka terus menculik gadis seumuran kita loh!"
"Oh iya, benar!" sahut temannya yang satu lagi. "Ah, tadi pagi aku melihat seorang laki-laki sedang menghampiri Murasaki Sakura-san, kau tahu dia kan?"
"Ah, Murasaki-san yang jenius itu?" tanya gadis yang pertama. "Ya ampun, jangan-jangan dia…"
Tanpa berpikir lagi, Hibari langsung berlari ke ruang komitenya, dan menemukan Kusakabe yang sedang menyantap makan siangnya. "Kusakabe," sahut Hibari dengan nada mengerikan. "Kau pernah menyelidiki tentang penculikkan di Namimori bukan? Kau tahu dimana mereka bersembunyi?"
Kusakabe sedikit tersedak, namun ia bisa menahannya. "Uh—ugh, uhm, seingat saya, para penculik itu berkumpul di gudang kosong dekat taman," jawab Kusakabe dan mencoba meraih gelas berisi air putih itu. "Memangnya ada ap—ah, Hibari-san…sudah pergi?"
Kusakabe meneguk air dan menaruh gelasnya kembali ke meja. "Ada apa ya?"
-.-.-.
Hibari mendobrak gudang kosong itu, dan seketika sekelompok pemuda yang sedang bersenang-senang sambil meminum berkaleng-kaleng bir itu tersentak kaget. Mereka menatap Hibari dengan wajah ketakutan—kenapa monster Namimori bisa tau kalau persembunyian kita disini?
"Kembalikan Sakura-ku," sahut Hibari dengan suara mencekam, membuat para gerombolan preman itu ketakutan. "Kembalikan sekarang."
Para preman itu melihat satu sama lain, seakan-akan tidak mengerti apa yang dikatakan Hibari. "K—Kami…tidak tahu gadis yang bernama Sakura—UGH!" sahut salah satu pemuda itu namun kata-katanya dihentikan dengan serangan Hibari yang tiba-tiba.
"Jangan panggil namanya dengan suaramu yang menjijikan itu."
"TO—TOLONG!"
Tanpa mempedulikan alasan-alasan mereka, Hibari langsung menyerang yang lain dengan cepat. Satu, dua, tiga orang tumbang. Dan dalam hitungan menit, enam orang pemuda dengan badan yang cukup besar tumbang dengan mudahnya.
Hibari langsung mencari ke sekeliling gudang itu, mencari-cari gadis yang seharian ini tidak muncul. Namun, hasilnya nol.
Dan Hibari, dengan hati kesal, kembali ke sekolah tanpa menemukan Sakura.
-.-.-
Hibari memasuki lingkungan sekolah yang sudah sepi—tentu saja, ini sudah waktunya pulang. Ia menghela nafas, dan membuka pintu menuju ruangannya yang tentu saja hanya diisi oleh senyuman-senyuman anggota komite disiplin yang tidak ia inginkan untuk saat ini—
"SURPRISE!"
Suara terompet kecil dan pita warna-warni bertaburan begitu Hibari memasuki ruangannya. Anggota komite disiplin, Dino dan bawahannya, keluarga Vongola dan—Sakura menyambut kedatangan Hibari.
"Selamat ulang tahun, Kyoya-kun!" sahut Sakura dan menghampiri Hibari yang masih terdiam terkejut. "Maaf seharian ini aku tidak muncul di hadapanmu, sebenarnya aku masuk sekolah, loh."
"Tapi, Kusakabe—"
"Itu hanya akting, akting!" sahut Sakura dengan senyumannya. "Lagipula, aku harus berada di dapur sekolah seharian ini. Jadi mereka berusaha mencegah Kyoya-kun mengelilingi sekolah."
"Jadi, soal penculikan itu?"
"Ah, percakapan yang Kyoya-kun dengar itu sebenarnya suara teman sekelasku yang kuminta mengatakan hal itu, dan gerombolan preman yang Kyoya-kun kalahkan itu sebenarnya bawahannya Dino-san," jelas Sakura dan membawa sebuah kotak besar berwarna putih. "Habis, mau tidak mau ini harus selesai hari ini."
"Ini?"
Sakura tersenyum dan membuka kotak putih itu. Kue—kue coklat yang kelihatan lezat dengan tulisan Happy Birthday Kyoya-kun dengan krim putih lengkap dengan hiasan coklat Hibari yang membawa tonfa yang kecil.
"Selamat ulang tahun, Kyoya-kun!"
Mata Hibari terbelak, ia menundukan kepalanya. "Semua. Keluar dari ruangan ini kecuali Sakura," sahutnya yang membuat yang lain bingung. "SEKARANG."
"B—Baik!"
Tanpa basa-basi lagi, mereka segera keluar dari ruangan itu meninggalkan Hibari dan Sakura sendiri. Sakura tersenyum kecil dan menaruh kue itu di atas meja, lalu ia duduk di sofa depan meja itu.
"Mau kupotong kuenya, Kyoya-kun?" tanya Sakura sambil menyiapkan dua buah piring berwarna merah muda. "Mungkin rasanya tidak begitu enak, tapi—"
Cup. Hibari membungkukan badannya sekaligus mencium dahi Sakura lembut. "Kau membuatku khawatir," sahutnya dan duduk di samping Sakura. "Dan kau harus dihukum untuk itu."
Sakura menghela nafas, lalu tersenyum tipis. "Kalau begitu, boleh aku menembus dosa dengan ini?"
"Dengan kue?"
"Bukan, ini."
Sakura mencium pipi Hibari dengan cepat, dan tersenyum. "Untuk hari ini, cukup ini saja ya, Kyoya-kun?" tanya Sakura dan memotong kue, lalu menaruhnya di atas piring dan memberikannya ke Hibari yang masih terdiam. "Um, Kyoya-kun?"
Hibari terkekeh, dan mengambil piring itu dari tangan Sakura. "Kau harus dihukum lebih berat untuk selanjutnya."
"Aku akan berusaha sepenuh hati untuk melarikan diri kalau begitu."
Sakura tertawa dan Hibari tersenyum tipis. Momen itu begitu berharga kalau saja tidak ada oknum-oknum tertentu yang berusaha mengintip dari pintu dan jendela.
Dan tentu saja, mereka yang berusaha mengintip, berakhir tragis.
End of Second Addiction.
See you next time!
Maaf chapter 2-nya lama, soalnya laptop abis di-servis, dan baru bisa update sekarang.
Ini chapter request-nya Seiran, semoga bisa memuaskan ya XD
I'm officially in 11th grade now! Yeah! :D *gapenting
Maaf kalau ada typo, ceritanya aneh, dan absurd, tuangkan semua uneg-uneg kalian di review, ya!
Thank You~
