Guys! Ini adalah fanfic pertama gue!

I'm a dead Megaman Fan! So, piker aja dech, nie fanfic tentang apa. Maaf ya, kalo fanfic gw rodo-rodo aneh gitu. Namanya aja first time, y gak? Tenang aja. Gw buat nie fanfic dalam bahasa Indonesia. Kalo mao English versionny, message aja ke Gw kasih linkny nanti.

Tokohnya adalah tokoh-tokoh kesayangan gw dari Megaman X series. Here it is!

(Gue bangun tidur…lagi libur…bosen nie…lanjutin nulis fanfic ah…)

Gue : *Bergerak ke meja, membuka laptop*

Laptop: *Bersiap untuk menyala dan diketik*

Axl+X : *Ngomong-ngomong di luar kamar gue*

Zero : *Berdiri di depan pintu kamar gue…NGAPAIN LO MASUK-MASUK KE KAMAR GUE TANPA IJIN !

Gue : *Berpikir dalam hati…oh forget it…*

Zero : Gue nungguin lo masukin gue di fanfic lo…

"Itu mereka, Axl," ucap X dengan pelan.

"Haaaah…aku mencium bau emas dan permata!"

"Ayo mengendap di belakang mereka."

Kedua pemuda itu berjalan dengan sangat pelan memutari garis belakang tempat terjadinya peperangan. Axl mempersiapkan sebuah pistol kecil di tangannya, sedangkan X mempersiapkan sebuah busur dan sebuah anak panah di tangannya yang lain. Tidak berapa lama, mereka menemukan sekumpulan mayat prajurit.

"Waktunya panen!" seru Axl.

"Aku akan berjaga-jaga. Tapi, jangan lama-lama ya…Aku juga ingin melihat-lihat mereka," kata X.

Setelah Axl pergi, X berdiri dan menatap tanah di bawahnya dengan diam. Ingatannya akan masa lalu membanjiri kepalanya. Di saat…ia terus terancam menjadi kelinci percobaan dari seorang penyihir jahat bernama Willy.

5 tahun yang lalu…

X tinggal bersama seorang penyihir bernama Willy. X bekerja sebagai pengambil bahan-bahan untuk percobaan Willy. Willy sendiri adalah seorang penyihir yang independen, yang tidak mau bekerja pada siapapun. Sebenarnya, Will adalah orang yang baik. Ia pernah bekerja untuk kerajaan Abel, salah satu kerajaan yang paling terkemuka saat itu. Bahkan, dia yang mengadopsi X ketika X ditinggalkan sendirian di hutan. Tetapi semuanya berubah sejak kematian putra kesayangannya yang ada di negeri yang jauh 1 tahun kemudian.

Willy mencoba membuat replika dari putranya tersebut dan ia berhasil. Semua yang ada pada replika itu persis dengan putranya, bahkan replika itu dibuatnya hidup. Tetapi, replika itu seperti robot, tidak memiliki hati dan tidak bertingkah seperti putranya yang asli. Replika itu tidak memiliki apa-apa selain kehidupan dan tubuh yang diberikan padanya, karena itu replika itu diberi nama Zero…yang melambangkan kekosongannya.

Kemarahan Willy membuat Zero menjadi sebuah mesin pembunuh. Siapa saja yang ingin dibunuh oleh Willy akan dibunuh oleh Zero, Willy beranggapan karena adanya manusialah yang menyebabkan kematian putranya.

X pernah mencoba untuk berteman dengannya. X berpikir bahwa Zero telah menjadi seorang individu baru, yang berarti dia juga seorang manusia. X pernah mencoba setumpuk cara, tetapi Zero tetap saja seorang manusia yang tidak memiliki hati. Usaha X sering ketahuan oleh Willy, tetapi Willy diam saja. Karena suatu kejadian…X lari dari istana itu…tanpa pernah kembali…

"Oi!"

"…"

"Khan? Kebanyakan ngelamun lo!"

"…ow…OW! Sa-sakit tahu!"

"Gue cubit pipi lo baru nyadar…tapi…"

X menggelengkan kepalanya dan mengelus pipinya yang terasa sakit. Tentu saja, sebuah pandangan sebal bercampur kesal dilayangkannya pada sahabatnya yang ribut itu.

"Apa? Tapi apa?"

"Um…uh…pipimu kok…selembut pipi cewek…"

GLEK! Sialan lo, pikir X.

"Ah…sudahlah…giliranmu buat ngerampok sekarang."

"Gue cuma pengen lihat-lihat kok," sanggah X.

"Ya…ya…apapun itu…"

X mulai bergerak ke arah kumpulan mayat itu, meninggalkan Axl untuk berjaga-jaga…diiringi tatapan aneh dari Axl yang terus menempel padanya.

X berjalan ke arah tumpukan mayat itu. Di sana, ia langsung mencari mayat prajurit kerajaan Abel. Di setiap prajurit itu, ada sebuat batu emas kecil dengan huruf "H" terukir di situ. Ia mengambil dari dalam kantongnya, sebuah batu yang sama persis, tetapi dengan ukiran X dibelakangnya. Dari situlah ia mendapatkan namanya. X tidak pernah tahu nama aslinya.

X kembali menegakkan kepalanya dan menatap ke langit. Seketika itu juga, ia melihat sebuah pedang terhunus dan lalu menghujam ke arahnya. Dengan sigap, x menghindari pedang itu dan mempersiapkan panahnya. Dihadapannya berdiri seorang ksatria. Ksatria itu setengah telanjang akibat perang, dan disekujur tubuhnya, terdapat sangat banyak luka. Wajah penuh keringat, pedang bersimbah darah, dan tubuh penuh luka bukan membuat X takut, tetapi mengeluarkan rasa simpatinya. X menjatuhkan panahnya dengan menunjukkan maksud bahwa ia tidak ingin berkelahi.

"…kau bukan pemanah kerajaan Abel?"

"Aku tidak pernah tinggal di kerajaan dimanapun," ucap X dalam dialek yang biasa diucapkan para orang istana.

"Jadi…apa kau pernah tinggal di istana?"

"Tidak…tidak di istana manapun."

"Tapi…mengapa kau berbicara seperti…UGH!"

Sang ksatria terjatuh sambil memegangi tubuhnya sebelah kiri yang terluka parah. X mendekatinya walaupun ia diberi isyarat untuk menjauh. X menunduk dan melihat sekujur tubuhnya.

"Lukamu cukup parah, tetapi masih dapat disembukan."

"Apa…apakah kau seorang tabib?"

"Tidak, tetapi saya tahu satu atau dua hal mengenai perawatan luka," ucap X. Ia menyimpan kembali masa lalunya dan merahasiakan bahwa ia pernah juga mempelajari ilmu pengobatan melalui Willy, yang terkenal sebagai seorang penyihir yang jahat.

"Baiklah…aku merasa terhotmat untuk itu…"

"Biar kubantu kau berdiri…"

"…boleh aku tahu namamu?"

"Namaku…?"

"Ya, namamu anak muda."

"Namaku adalah X. Dan kau?"

"Namaku adalah…Ville."

Sedetik kemudian, Ville terjatuh dan tidak sadarkan diri, meninggalkan X dalam kepanikan…yang biasa dialami para wanita.

X : Gue nyesel liat lanjutannya…

Ville : Mank napa?

Gue : Yeh…tunggu aja di chapter-chapter selanjutnya.

(Axl masuk bersama Zero…)

Axl : Heh…gimana nih jadinya?

Zero : Apa gue emang sedingin itu?

Gue : Udah…tunggu aja. Jangan ganggu gue dulu!

Well, readers!

Itu tadi bagian kedua! Bagian ketiga bakal nyusul klo gue g sibuk! : )

Piss for ol' Megaman Lovers!