Hehehe, sorry, kemaren aku salah masukin chapter. Lagi suka baca The Twin Moons, jadinya aku salah masukin!
Summary:
Orang-orang memandangnya saat mereka berjalan melewatinya. Dia duduk bergeming di tempat dengan wajah tersembunyi dari pandangan. Gaunnya tampak seperti kolam air yang mengelilinginya, cantik sekali. Namun orang-orang itu memandangnya seakan dia monster. Ya, monster. Si gadis salju yang mengerikan.
Disclaimer:
KENAPA KALIAN MASIH HARUS TANYA???? BLEACH BUKAN PUNYAKUUUUUUU!!!!!!
Yuki Onna
Chapter 1
Kuchiki Rukia
Part 2
Rukia merasa tidak enak dengan pandangan seluruh orang dalam ruangan itu (kecuali Ichigo) tertuju padanya dengan ekspresi yang tak terbaca. Tapi saat matanya bertatapan dengan mata seorang pria berambut cokelat bertampang baik hati, bulu kuduknya berdiri tiba-tiba, entah kenapa. Ada sesuatu yang melintas di mata pria itu, tapi lenyap begitu cepat sehingga Rukia merasa bahwa itu hanya bayangannya.
Dengan gugup Rukia menyadari bahwa pakaiannya tidak serapi sebelumnya. Ada kerutan di kimononya yang seputih salju dan rambutnya agak acak-acakan karena shunpo. Ingin rasanya meluruskan kerutan itu dan menyisir rambut hingga licin, tapi tentu saja dia tak bisa. Rukia hanya berdiri diam dengan wajah yang tidak kalah pasifnya dengan wajah siapapun di dalam ruangan. Pandangannya lurus tertuju ke mata pria tua di hadapannya, yang memandangnya dengan pandangan menusuk.
Setelah beberapa menit, kesunyian terpecah.
"Dia akan berada di bawah pengawasanmu, Kapten Kurosaki," ultimatum Yamamoto terdengar seperti gaung di kejauhan bagi telinga Rukia. "dan kau tak akan menolak," Yamamoto menambahkan karena Ichigo membuka mulutnya untuk memprotes. "karena ini adalah perintah resmi dariku dan para dewan." Dengan tampang marah, Ichigo menutup mulut walaupun wajahnya menunjukkan ketidaksetujuan yang teramat sangat.
Rukia duduk di kamarnya sendirian. Kimononya yang robek sudah diganti dengan kimono biru muda yang cantik dengan gambar air terjun yang jatuh mengalir ke danau yang dikelilingi bunga-bunga indah. Langit biru dengan awan putih dan burung-burung camar menghiasi bagian atas kimono, sedangkan sebuah air terjun keperakan mengalir dari lutut menuju ke danau biru di bawahnya. Obinya berwarna merah terang. Rambutnya sudah disisir hingga halus seperti sutra dan jatuh tergerai di punggungnya. Siapapun yang memandangnya akan menganggapnya amat cantik.
Tapi dengan marah Rukia mengamati kamar dimana dia berada. Ruangan itu berbentuk lingkaran yang cukup luas, dengan tempat tidur besar bertiang empat dan berkelambu dengan lukisan seorang gadis cantik dengan borgol di tangannya. Tidak jauh dari tempat tidur itu, terdapat sebuah lemari besar yang terbuat dari kayu mahogani yang dipoles mengilat dan sebuah meja kerja dari kayu mahogani dengan rak yang penuh dengan buku-buku. Lantai kamar dilapisi oleh permadani mewah yang berwarna merah darah, sewarna dengan kelambu tempat-tidur dan gorden yang menyelubungi dua buah jendela kaca setinggi lima setengah meter. Temboknya dicat dengan warna krem dalam gradasi yang cocok sekali dengan perabot ruangan.
Rukia menggertakkan gigi. Tidak ada penjaga yang menjaga ruangan itu, tapi dia bisa mendeteksi dinding kido yang kuat mengelilingi kastil. Sedangkan di bawah, puluhan shinigami sedang bertugas, entah mereka berlatih, menjalankan perintah atasan, atau melakukan sesuatu yang lain. Namun mereka semua waspada karena mereka tahu Rukia akan berusaha meloloskan diri. Dengan kata lain, Rukia berada dalam penjara tanpa besi dan tanpa terali.
Ingin rasanya dia menghajar kapten strawwberry dengan sikat rambut.
"Ano, permisi Rukia-nee," sapa seorang gadis kecil yang berdiri di depan pintu yang terbuka. Rukia mendongak dan menatap si gadis. Gadis itu tampaknya baru berusia dua belas tahun. Rambutnya berwarna cokelat muda yang dikepang dan dihiasi dengan pita merah muda. Dia mengenakan kimono merah muda dengan obi biru dan di tangannya terdapat tumpukan kimono yang terbungkus tatoshi.
"Oh, masuklah, Yuzu-chan!"ujar Rukia cepat-cepat. Yuzu tersenyum dan berjalan masuk. Diletakkannya tumpukan kimono itu di tempat tidur di sebelah Rukia.
"Maukah kau membantuku menyiapkan makan malam, Rukia-nee? Please?" pinta Yuzu dengan wajah begitu berharap hingga Rukia tidak sanggup menolak.
"Eh, ya. Tentu saja!" jawab Rukia. Yuzu tersenyum gembira. Dengan cepat digandengnya Rukia dan diajaknya gadis yang lebih tua itu menuruni tangga menuju ke dapur.
"Astaga, dia mirip sekali dengan Hisana-chan. Bukan begitu, Byakuya-kun?" ujar seorang pria berambut putih panjang dengan wajah ramah pada pria di sebelahnya yang berambut hitam panjang dengan wajah nyaris tanpa ekspresi.
"Memang," jawab pria itu, Byakuya, dengan tenang.
"Aku ingin tahu kenapa Yama-jii memerintahkan Ichigo-kun menangkap gadis itu," gumam si pria berambut putih.
"Tak ada yang tahu, Ukitake," jawab Ichigo. "tapi yang jelas, aku ingin tahu kenapa Rukia mirip sekali dengan Hisana-san."
"Namanya Rukia, bukan," ujar Byakuya dengan mata terpejam. Ichigo mengangguk. Dia dan Ukitake memandang Byakuya dengan pandangan heran yang berubah menjadi keterkejutan saat Byakuya berkata, "Dia mirip Hisana karena dia adalah putriku."
…
…
…
…
Ngiiiiing, ada nyamuk lewat.
"KAU PUNYA ANAK????" teriak Ukitake dan Ichigo bersamaan, tepat di telinga Byakuya.
Tatoshi: kertas yang biasa digunakan untuk membungkus kimono.
Gomenasai! Tapi ini cuma sambungan chapter 1! Gomenasai sekali lagi!
Walopun pendek, tolong pencet tombol warna ijo di bawah ini, ya! Yak, bener! Yang di situ!
