Juliet is My Romeo=
Summary : Sasuke, leader boy band yang mulai meredup di Konoha harus menyamar sebagai seorang perempuan dan tinggal di asrama putri demi kelangsungan karier boybandnya. SasuSaku.
Warnings : OOC, AU
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Chapter 2
Malam pertama tidur di kamar 111 sangat menyiksa bagi Sasuke. Dengan wig yang menempel di kepalanya, dengan udara panas di kamar itu, dengan semua peluh di tubuhnya. Arrrrrggghh... Andai saja Sasuke bisa berteriak dan memaki.
"Hah!" Sasuke bangun dari tidurnya. Dengan satu gerakan cepat, Sasuke sudah terduduk di atas kasur kerasnya yang baru itu. Pandangan matanya segera tertuju pada teman sekamarnya, Sakura. "Dia tidur kan?" Perlahan Sasuke mendekati Sakura untuk memastikan gadis itu sedang terlelap. Diamatinya wajah Sakura yang kini sudah berada dekat dengannya. Mata gadis itu terpejam. "Sepertinya dia benar-benar sedang tidur," pikir Sasuke.
Karena yakin gadis di hadapannya tertidur pulas, Sasuke melepas wignya kemudian melemparnya ke ranjang barunya. "Ah, begini lebih enak," ucapnya sambil berlalu ke kamar mandi, meninggalkan Sakura yang sedang memeluk gulingnya.
Sasuke membasuh mukanya. Mencoba menghilangkan rasa gerah yang melanda dirinya. "Kenapa masih terasa panas? Masa aku harus mandi malam-malam begini?" keluh Sasuke sambil melangkah kembali ke kasurnya. "Hmmm..mungkin udara di luar lebih dingin."
Sasuke menata guling, wig dan selimutnya agar terlihat seolah-olah sosok Yuri masih tertidur di sana. Hanya sebagai langkah antisipasi kalau sewaktu-waktu Sakura terbangun.
Perlahan Sasuke membuka jendela kamar dan melompat melewati jendela itu. Untung saja kamarnya berada di lantai satu. Jadi Sasuke dengan mudah melompat ke halaman, tanpa menimbulkan suara yang keras.
Sasuke mengirup udara kebebasannya. "Hah... andai tiap malam bisa begini."
* * *
Tidur Sakura mulai tidak tenang. Sebentar-sebentar Sakura bergerak. Berguling ke kiri, berguling ke kanan, menjejak-jejakkan kakinya sampai selimutnya tersingkap, kemudian dengan cepat Sakura mengambil posisi duduk masih dengan mata tertutup.
Sakura mengucek-ucek matanya agar matanya mau terbuka. "Kebelet pipis," Sakura segera berlari ke kamar mandi.
Tak lebih dari lima menit, Sakura keluar dari kamar mandi dengan perasaan lega. Kesadarannya juga sudah hampir kembali seutuhnya. Matanya kini mulai memandang ke sekeliling kamar. Ada yang aneh dengan kamarnya kali ini. Kamar 111 yang biasanya terlihat luas kini menyempit. Ada banyak barang baru yang asing bagi Sakura. Lemari baru, meja baru, dan tempat tidur baru. Satu lagi yang baru ada di sana. Seorang gadis yang tidur di atas tempat tidur baru tersebut. Yuri.
Sakura tersenyum melihat cara tidur Yuri yang tenang. Meskipun terlihat cuek, sepertinya gadis itu adalah gadis yang anggun, baik, dan sopan..
"Udara panas seperti ini, kenapa Yuri memakai selimut yang tebal ya?" pikir Sakura ketika menyadari selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh Yuri.
Tiba-tiba saja Sakura merasakan hembusan angin yang menerpa kulitnya. Langsung saja Sakura menoleh ke arah angin berhembus dan mendapati jendela kamarnya terbuka. "Rasanya tadi sebelum tidur aku sudah menutupnya." Sakura berjalan ke arah jendela. Bermaksud menutupnya. "Pantas saja Yuri memakai selimut tebal itu." Sakura pun menutup jendela kamar 111.
* * *
Sasuke berjalan-jalan di halaman yang berada di sekitar kamar 111. Walaupun keadaan malam itu cukup gelap, tapi Sasuke bisa melihat dan merasakan apa yang ada di sekelingnya dengan jelas. Semilir angin dingin, rumput-rumput lembut yang menyelimuti setiap inchi tanah di halaman, pohon-pohon yang bergoyang tertiup angin, bunga-bunga kecil, bangku-bangku kosong.
Semua keheningan ini membuat Sasuke merasa tenang dan nyaman. Sasuke kembali berjalan tanpa tujuan. Dia hanya berjalan mengikuti kemana kakinya melangkah. Sampai Sasuke tiba di sebuah bangunan kecil yang sedikit jauh terpisah dari asrama. Sasuke yang penasaran mengamati bangunan kecil itu. Tidak ada jendela, hanya sebuah pintu yang cukup besar dan beberapa lubang fentilasi. Sasuke bisa menyimpulkan bawa bangunan itu adalah gudang.
Sasuke mengamati pintu gudang. Besar. Sasuke meraba-raba pintu itu dan menemukan kenop pintunya. Entah kenapa Sasuke menekan kenop pintu itu. "Tidak dikunci," ucapnya lirih saat terdengar suara pelan dari kenop. Langsung saja Sasuke membuka pintu itu.
Seperti dugaan Sasuke, bangunan kecil itu memang sebuah gudang. Banyak kursi-kursi dan meja-meja kayu bertumpuk. Di sisi lain bertumpuk alat-alat olah raga. Ada bola voli, bola basket, matras, meja pingpong, gulungan net, dan masih banyak lagi. "Benar kan?" Sasuke menutup kembali pintu gudang.
Sasuke berbalik. Hembusan angin yang tadi menyegarkannya sekarang mulai terasa dingin di kulit Sasuke. Sasuke yang mulai merasa kedinginan segera berlari ke arah asrama. Sasuke ingin kembali ke kamar barunya dan kembali tidur.
Akan tetapi sesampainya di bangunan samping asrama, Sasuke terkejut. Sepertinya tadi jendela kamarnya terbuka. Sedangkan yang dia lihat sekarang hanya bangunan dengan jendela dan fentilasi yang sama di setiap ruangan. Lalu dimana letak kamar 111?
Sasuke berusaha untuk tetap tenang. Dia mulai memutar otaknya. Menganalisis dan mengingat kembali setiap langkahnya. "Hmmm... sepertinya dari salah satu dari lima kamar ini." Sasuke menunjuk lima kamar yang dia curigai sebagai kamarnya. "Pasti angin yang menutup jendelanya," pikir Sasuke.
Sasuke mencoba membuka jendela-jendela dari lima kamar yang dicurigainya satu per satu. Jendela pertama tidak bisa terbuka. Jendela kedua masih sama. Jendela ketiga tidak berbeda. Jendela keempat tetap nihil. Fakta ini membuat Sasuke yakin jendela kelima ini adalah jalan masuk menuju kamarnya. Maka dengan segenap kepecayaan diri Sasuke mencoba membuka jendela terakhir itu. "Ng?" Sasuke bingung kenapa jendela ini juga tidak bisa terbuka. Sasuke kembali mencoba. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. "Sial!!!" makinya sambil mengebrak jendela kayu itu.
Sasuke berbalik arah dan kembali berjalan menjauhi asrama. "Cih, kalau begini mau tidak mau aku harus tidur di gudang itu."
* * *
Baru semenit Sakura memejamkan matanya, Sakura kembali terbangun. Kali ini bukan karena ingin ke kamar mandi, tapi karena suara berisik yang dari tadi mengusiknya. Sakura mendengarkan baik-baik suara berisik itu. Makin lama suara itu makin mendekat. Sakura semakin waspada. Terlebih suara itu sepertinya mendekat ke arah kamarnya.
Benar saja apa yang dipikirkan Sakura. Suara berisik itu kini telah sampai di jendela kamarnya. Seperti suara orang yang ingin membuka jendela kamar. 'Maling,' pikir Sakura. Perlahan, Sakura turun dari ranjangnya.
Suara berisik itu semakin menjadi. Sakura mengambil sapu yang tergantung dinding dekat pintu. "Sial!!!" Braakk!! Terdengar suara umpatan dibarengi dengan suara jendela digebrak.
Sakura panik. Ada maling di asrama. Sakura pun segera mengambil duplikat kunci asrama yang sengaja diberikan kepala sekolah padanya karena tugasnya sebagai ketua asrama di laci mejanya. Tanpa pikir panjang Sakura keluar dari kamarnya, kemudian berlari ke pintu samping asrama yang letaknya tidak begitu jauh dari kamar 111. Sakura sudah hafal kunci mana yang harus dia gunakan untuk membuka pintu besar itu hingga tak butuh waktu lama sampai pintu itu terbuka.
Sakura keluar dari bangunan asrama. Matanya menelusuri halaman samping asrama yang luas dan gelap. Tidak ada tanda-tanda seseorang ada di sana. Hanya keheningan malam, hembusan angin dingin, dan suara-suara daun yang saling bergesek karena tiupan angin.
Sakura memberanikan dirinya untuk terus berjalan maju dan memeriksa keadaan asrama. Sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai ketua asrama untuk menjaga keamanan asrama dan seluruh warga yang tinggal di tempat itu.
* * *
Dalam perjalanan menuju gudang, Sasuke menganalisis beberapa kemungkinan mengapa jendela kamarnya bisa tertutup hingga sekarang dia harus –dengan sangat terpaksa– tidur di gudang. Kemungkinan pertama, kelima kamar tadi memang bukan kamar 111. Kemungkinan kedua, ada orang yang sengaja menutup jendela kamarnya. Dan kalau kemungkinan kedua itu memang benar, Sasuke punya seorang tersangka utama. Siapa lagi kalau bukan Sakura?
"Cih, gadis sialan itu lagi. Sudah menjelek-jelekan orang tanpa merasa salah," Sasuke membuka pintu gudang, "sekarang dia membuat seorang Sasuke tidur di gudang." Sasuke menutup pintu gudang dengan keras karena emosi. "Besok apa lagi yang akan dia perbuat?"
Sasuke melihat ke sekeliling mencari apa pun yang bisa dia gunakan untuk tidur. "Hanya meja dan kursi?" ucapnya saat menyadari tidak ada kasur ataupun selimut di gudang pengap itu. "Cih! Aku akan membalas semua perbuatanmu, Sakura! Tunggu saja!"
* * *
Braaaakkk!!!
Sakura mendengar suara pintu ditutup dengan keras. Sakura sempat kaget. Akan tetapi dia segera sadar suara mencurigakan itu berasal dari gudang di dekat asrama. "Sial! Maling itu ada di gudang!" dengan langkah cepat Sakura berjalan menuju gudang.
* * *
Sementara itu, dua orang penjaga yang sedang bertugas berkeliling di sekitar asrama. Penjaga pertama membawa senter, sedang penjaga kedua membawa kunci-kunci yang bergemerincing ketika si empunya berjalan.
"Kenapa malam ini terasa begitu dingin ya?" penjaga kedua menghangatkan badan dengan menggesek-gesekan telapak tangan yang bersilangan pada lengannya. Gerakan itu menimbulkan suara gemerincing yang lebih keras.
"Iya. Malam ini dingin. Kita buat kopi saja!" ajak penjaga pertama.
Braaakk!!!
Keduanya berpandangan ketika mendengar suara yang mereka anggap mencurigakan itu. Dengan sigap keduanya berlari menuju arah suara keras tadi. Akibat gerakan cepat dari penjaga kedua, kunci-kunci yang dibawa olehnya juga semakin keras bergemerincing.
Krincing-krincing...
* * *
Saat ini Sakura sudah berada di depan pintu gudang. Akan tetapi dia masih ragu-ragu membuka pintu ini. Entah kenapa keberaniannya tidak seperti saat dia pertama kali mengejar maling itu. Kini saat Sakura sudah merasa dekat dengan 'target', nyalinya berubah menciut.
"Aku harus masuk!" Sakura bertekat. Maka perlahan Sakura membuka pintu gudang itu. Tangannya mengepal. Perlahan, dengan semua keberanian yang masih tersisa, Sakura masuk ke dalam gudang tanpa menutup pintu gerbang. Hanya untuk jaga-jaga saja. Kalau-kalau maling itu memang benar di dalam gudang lalu menyerang menyerang Sakura hingga Sakura harus menyelematkan diri atau meminta bantuan orang lain.
Krincing-krincing...
Dari kejauhan Sakura mendengar suara gemerincing yang sudah tidak asing baginya. Sakura yakin suara gemerincing itu berasal dari penjaga yang bertugas mengawasi keadaan sekitar asrama.
Krincing-krincing...
Suara itu makin mendekat. Sakura tersenyum. Ternyata bukan hanya dia yang menyadari adanya pencuri di asrama ini. Sakura berbalik, bermaksud memanggil para penjaga agar datang lebih cepat. "Pen....hhmmmmmppppp... mmmppp... mmmmppp...hhhhh..."
* * *
Sasuke yang baru saja akan menata meja-meja dan kursi yang ada di gudang itu untuk tempat tidur sementaranya, terdiam beberapa saat. Barusan Sasuke mendengar suara langkah-langkah kaki yang mendekat. "Cih! Apalagi sekarang?" Sasuke memutuskan untuk bersembunyi dalam di sela antara meja pingpong yang disandarkan dan tumpukan meja. Untung baginya, gudang pengap itu juga hanya mendapat penyinaran dari sinar bulan yang redup.
Tak lama berselang, pintu gudang dibuka dari luar. Sasuke tidak bisa melihat dengan jelas sosok yang membuka pintu gudang yang kini telah berdiri di mulut pintu.
Perlahan sosok itu melangkah ke dalam gudang dan melihat ke sekeliling. Saat itu juga, sinar bulan menerjang masuk ke dalam gudang melalui fentilasi dan mengenai wajah orang yang (mungkin) mengejarnya. "Cih, dia lagi!" umpat Sasuke dalam hati, menyadari bahwa orang yang (mungkin) sedang mengejar dirinya adalah Sakura.
Krincing-krincing...
Sasuke mendengar suara gemerincing dari kejauhan. Suara itu makin lama makin mendekat. Suara gemerincing itu juga dibarengi dengan suara langkah-langkah kaki yang cepat. "Cih! Sepertinya dia tidak sendiri!" Sasuke mulai panik. Tangannya mengepal. "Sial! Tidak ada cara lain!"
Krincing-kricing....
"Pen....hhmmmmmppppp... mmmppp... mmmmppp...hhhhh..."
* * *
Dua penjaga itu sudah berada di depan pintu gudang dan melihat pintu gudang yang terbuka. Keduanya hanya saling berpandangan. Masing-masing menyadari bahwa apa yang ada di pikiran mereka sama.
"Hah...lagi-lagi petugas gudang lupa menutup pintu," penjaga pertama nampak kesal.
"Dan lagi-lagi angin membuat pintu ini terpelanting," penjaga kedua menambahi.
"Dan lagi-lagi kita tertipu," uacap keduanya bersamaan. "Hahahahah..." keduanya tertawa menyadari kebodohan mereka sendiri.(?)
"Sudah, tutup saja. Besok kita tegur lagi petugas gudang ini."
"Hm." Penjaga kedua segera menutup pintu gudang. Tak lupa menguncinya dan memastikan pintu kudang itu tidak bisa dibuka.
"Ayo kita minum kopi saja!" Keduanya pun berlalu.
To be continued...
* * *
Hallo!!!!! Pada kangen ma Ji yap? Nunggu2 Ji muncul lagi yap? *narsis kumat-jitaked berjamaah*
Anooo...maaf ya!!! Ji tiba-tiba ngilang tanpa kabar (readers:ga peduli!!). Maaf juga buat yang uda repyu tapi ga Ji bales pada akhirnya... (maklumin ya? Ji lupa mana yang uda dibales, mana yang belom).
Maaf juga buat UchiHaruno SasuSaku yang sempat Ji janjiin bakal ngapdet pertengahan Januari. Prakteknya pertengahan Maret ini.. ToT
Maaf ya! Telat 2 bulan.
Btw, karena banyak yang tanya kenapa Sasuke harus masuk asrama putri padahal nantinya dia akan meranin Ueda yang notabennya cowok yang nyamar jadi cewek, maka akan dijawab Ji.
Jawabannya: Sasuke itu kan penyanyi. Bukan aktor. Dia ga tau dan ga da pengalaman kalo harus meranin Ueda yang nantinya juga bakal nyamar jadi cewek. Castingnya juga pasti bakal ada scene dimana Ueda (yang niatnya mau diperanin Sasuke) waktu nyamar jadi cewek. Jadi Itachi dan anggota East yang lain berniat baik(?) buat bantuin Sasuke biar dia dapet feel (nyamar) jadi cewek itu gimana.
Masi bingung ato tambah bingung?!
Ya sudahlah, review saja!
d(^.^)b
