Serius maafkeun ane kalo tulisannya masih ada beberapa yang kacau, kejar tayang soalnya sama ff sebelah. Hahaha
~oOOo~
Sehun sudah mengira sebuah penthouse. Pintu lift terbuka,dan dia melangkah keluar ke tingkat atas dari bangunan tinggi. Chanyeol tepat berada disisinya.
"Tidak ada yang bisa kesini tanpa melewati pengawal-pengawalku." Chanyeol memberitahu Sehun saat jari-jarinya melingkar disikunya.
Saat itu, Sehun pasti senang mendengar tentang keamanan itu. Mereka memasuki penthouse. Tatapan Sehun menyapu seluruh tempat tinggalnya. Semuanya tampak mahal. Semuanya berbau mahal. Dan pemandangan itu mengagumkan.
Jika saja Sehun tidak sedang mengahadapi ketakutannya, secara harfiah mengguncang ketenangannya, dia pasti akan menghargai lebih pemandangan lebih dari ini. Dia seperti ingin pergi ke suatu tempat dan hancur.
Pintu tertutup dibelakang mereka. Sehun mendengar suara alarm yang menyenangkan. Lalu...tangan Chanyeol menuruni kedua lengannya.
Lengannya telanjang karena yang dia kenakan keluar dari rumah sakit itu adalah pakaian olahraganya. "Kau aman, Sehun." Kata-kata Chanyeol berbisik ditelinganya.
Dan ketakutannya semakin memburuk. Karena ingatannya akan sosok laki-laki dalam gelap. Mulutnya ditelinganya. Bisikannya.
Aku akan menjadi satu-satunya.
Sehun menjauh dari Chanyeol dan menuju ke arah yang lebih luas,lantai ke balkon yang memandang keluar atas Seoul. Chanyeol tak mengikutinya. Suaranya yang melakukannya. Chanyeol memberitahunya, "aku mempunyai garis-paling-atas-untuk sistem keamanan yang sudah terpasang di studiomu. Dan tukang listrik akan masuk memeriksa lampumu."
Sehun mengusap lengannya. Tidak peduli apa yang ia lakukan, ia tampaknya tidak bisa mengusir rasa dingin dari tubuhnya. Pandangannya menatap kota. Ia sepertinya bisa melihat berjam-jam dari sudut pandang ini.
"Kau tidak harus mengorbankan hidupmu untukku," Sehun membuat dirinya sendiri berbicara ketika ia hanya ingin berdiri dalam keheningan. "Aku yakin dengan adanya diriku disini...dirumahmu...itu akan mengganggu rutinitasmu."
Sehun sudah membaca koran, ia sudah tahu banyak tentang Chanyeol, banyak eksploitasi. Chanyeol pasti bukan orang yang hidup dimasa lalu.
Chanyeol terlalu sibuk merayu saat ini.
Itulah sebabnya mengapa Sehun tidak memberitahu Jongin tentang Chanyeol. Ketika detektif telah meminta daftar pacar-pacar didaerah ini, siapa saja yang mungkin terpaku padanya, Chanyeol telah menjadi orang terakhir yang datang dalam pikirannya.
Chanyeol tidak terpaku pada dirinya, "Kau tidak mengganggu rutinitasku."
Sehun bisa melihat bayangannya dikaca. Ia tampak tersesat. Dengan hati-hati, ia menahan roman wajahnya sebelum ia berbalik untuk menghadapi Chanyeol. "Tidakkah seleramu dengan gadis-perminggu-benar begitu? Atau keberatan?"
Sehun pernah melihat Chanyeol dengan beberapa gadis berambut pirang minggu lalu diberbagai halaman—
"Persetan dengan orang yang berpikir seperti itu." Chanyeol berdiri menatap Sehun. Dibelakangnya, api berkobar. Kapan ia menyalakan api itu? "Ini bukan tentang siapapun kecuali kau dan aku."
Chanyeol bertindak seolah-olah sepuluh tahun terakhir tidak pernah terjadi. Tapi tidak sekalipun Chanyeol mencoba menghubungi Sehun.
Aku merindukanmu.
Sehun tidak akan mengatakan itu pada Chanyeol,bagaimanapun juga. Ia sudah merusak harga dirinya untuk Chanyeol berkali-kali.
Chanyeol mulai berjalan ke arah Sehun. Langkahnya pelan, tentunya. Sehun ingin berbalik, tapi disana tidak ada tempat untuk pergi baginya. Menghirup nafas dalam-dalam, Sehun mengangkat kepalanya dan menatap ke mata Chanyeol.
"Minseok menelponku ketika ia bergegas memasuki studio itu. Dia melihat lampunya gelap, dan ia khawatir. Hanya lima menit saja, aku siap datang menemuimu, dan aku tidak bisa sampai disana cukup cepat."
Ini bukan pertama kalinya Sehun berada dalam kesulitan. Kembali ke Jepang, Sehun berpikir pasti ia menghadapi kematian. Memori hujan yang dingin, nyeri yang konstan, melintas dibenaknya.
Dia tidak datang untukku kalau begitu.
"Sepuluh tahun adalah waktu yang lama," kata Sehun,sedikit benci kelembutan dalam suaranya. Kenapa Sehun tidak bisa bertindak seolah-olah masa lalu tidak penting baginya? "Banyak yang berubah selama bertahun-tahun."
"Dan banyak juga yang masih tetap sama." Jemari Chanyeol menangkup bawah rahang Sehun. "Aku ingin kau sama banyaknya seperti yang sudah aku lakukan dulu. Ketika aku melihatmu dikantorku,keinginan yang sama menghantamku. Nafsu yang sama menghancurkanku saat aku di dekatmu."
Tangan Sehun gemetar,mengangkatnya dan menempatkan telapak tangannya didada Chanyeol. Sehun tidak yakin apakah ia akan menariknya lebih dekat atau mendorongnya pergi.
"Nafsu tidak pernah menjadi masalah bagi kita, kan?" Sehun berbisik. Mata Chanyeol berada pada mulutnya.
Kenangan masa lalu mereka berkelebat dalam benaknya. Sehun hampir bisa merasakannya.
"Aku adalah orang pertamamu."
Pipi Sehun merah merona.
"Aku memikirkanmu selama bertahun-tahun..."
Pengakuan Chanyeol menyentak Sehun. "Aku bertanya-tanya apa yang kau lakukan...dengan siapa kau bersama..." Tatapan Chanyeol masih tetap pada mulut Sehun. Masih tetap seksi.
Kewaspadaan Sehun yang berlebih mendorong rasa sakit dan nyeri dari benaknya. "Kau tidak bisa bertanya-tanya tentang itu."
Tidak saat Chanyeol menjadi satu-satunya orang yang meminta Sehun untuk melupakannya. Dia tak punya hak.
"Ada beberapa hal yang tidak dapat kau kendalikan." Kepala Chanyeol menunduk kearah Sehun. "Perasaanku padamu adalah salah satu halnya."
Sehun menginginkan bibir Chanyeol. Dia ingin lari dari Chanyeol. "Chanyeol..."
Bibir Chanyeol yang tak bisa dikendalikan menguasai Sehun. Tidak memaksa. Tidak menuntut. Tapi, dengan lembut. Dengan hormat.
"Aku tidak bisa memiliki apa yang aku inginkan malam ini, aku tahu itu," kata-kata Chanyeol berbisik dibibir Sehun. "Tapi kau kembali padaku. Dan kau harus tahu...itu merubah segalanya. Aku membiarkanmu pergi sekali. Kau tidak bisa mengharapkanku untuk melakukan itu lagi."
Membiarkannya pergi? Sehun mendorong Chanyeol. "Kau memberitahuku untuk keluar dari hidupmu." Sehun tersandung saat Chanyeol menjauh darinya.
"Aku tahu apa yang kau impikan. Aku tidak akan menghalangi jalanmu. Kau ingin di panggung. Kau ingin menari." Kata-kata Chanyeol membekukan Sehun.
Sehun menatap Chanyeol.
"Aku memberimu apa yang kau inginkan." Sebuah otot tersentak dirahang Chanyeol. "Bukankah itu yang selalu aku lakukan? Memberimu setiap hal yang kau inginkan."
"Tidak. Kau tidak memberikannya." Karena ada satu hal yang Sehun inginkan mati-matian tapi tidak pernah didapatkannya.
Garis samar didekat mata Chanyeol mengencang. Wajahnya adalah topeng berbahaya dalam cahaya api. "Apa yang kau inginkan?"
Kau. Chanyeol adalah hal yang paling Sehun inginkan, lebih dari menari, lebih dari Jepang, lebih dari bisa keluar dari hidupnya saat Sehun sudah remaja. Tapi Chanyeol tidak memberinya sebuah pilihan. Sehun telah mengambil pilihannya untuk pergi.
"Apa. Yang. Kau. Inginkan?" Chanyeol berjalan menghampiri Sehun lagi.
Menjauh.
"Dimana kamarku?" Tatapan Sehun terbang panik melihat disekitar penthouse. "Ak—aku butuh untuk berbaring."
Chanyeol terus menghampiri. "Kau tidak bisa tidur. Aku harus membuatmu tetap terjaga. Itu adalah perintah dokter. Ia memberiku daftar seluruh aturan bagimu yang harus di ikuti."
"Aku tidak ingin tidur." Aku butuh ruang. Sehun berputar menjauh dari Chanyeol. Kepalanya berdenyut lagi. Sehun bergegas menyusuri lorong gelap. Chanyeol tepat berdiri dibelakang Sehun.
Sehun membanting pintu pertama yang ia lihat. Bukan kamar tamu. Kamar ini sangat maskulin. Dipenuhi dengan barang berat. Mebelkayu Cherry. Sebuah tempat tidur yang besar. Sehun bahkan bisa melihat mantel Chanyeol yang dilemparkan diujung tempat tidur— Sehun berbalik dan menemukan Chanyeol dibelakangnya. Kedua lengan Chanyeol naik ke atas menghalangi pintu.
"Kau harus tinggal dimana aku bisa mengawasimu,"
Sehun memberitahu Chanyeol, dengan suara gemetar. "K-kau setuju untuk menemukan siapa orang yang—yang—"
"Menguntitmu?" Chanyeol menyelesaikannya. "Karena itulah apa yang dia lakukan, Sehun. Dia fokus padamu. Dia mulai dengan memperhatikanmu, kemudian dengan menyelinap masuk ke apartemenmu. Malam ini, dia mengambil hal-hal ke tingkat berikutnya. Dia mendatangimu. Menyentuhmu—"
Sehun bernafas cepat.
"Dia berbahaya. Malam ini dia menyakitimu, dan aku tidak mau
membiarkannya menyakitimu lagi."
"Aku hanya ingin istirahat." Untuk berhenti mengenang masa lalu
rasa sakit dan segalanya.
Chanyeol meraih tangan Sehun dalam genggamannya. Menuntunnya ke kamar mandi. "Lepaskan bajumu. Kau akan menemukan jubah extra menunggu didalam."
Sehun ragu-ragu.
"Tidak ada rayuan malam ini. Aku janji."
Sehun pergi ke kamar mandi. Jubah menunggunya, baiklah. Berbahan dari sutra. Indah. Hijau zamrud. Sehun melepaskan baju olahraganya dan mengenakan jubah. Dia kembali pada Chanyeol beberapa saat kemudian, hampir membenci nuansanya sutra terhadap kulitnya.
"Sepertinya jubah ini sengaja ditinggalkan oleh-"
"Aku mengaturnya dibawa kesini untukmu. Sama seperti aku
memerintahkan anak buahku membawa pakaianmu kesini. Aku ingin kau merasa aman."
Chanyeol sudah berganti pakaian saat Sehun berada dikamar mandi. Membuang pakaiannya. Sekarang Chanyeol hanya mengenakan celana piyama hitam yang menempel rendah dipinggul. Tatapan Sehun melesat diatas Chanyeol. Bahu yang lebar. Dada yang kuat. Cara yang lebih dari six pack.
Jangan kesana, jangan!
Chanyeol mengangkat tangannya kearah Sehun. "Percayalah, Sehun."
Sehun mempercayai Chanyeol. Menempatkan jari-jarinya dalam genggaman Chanyeol yang kini membimbingnya keranjang, membaringkannya diatas kasur. Lalu Chanyeol membungkus tubuh Sehun memeluknya. "Aku tidak akan membiarkanmu tidur, tapi aku akan membiarkanmu istirahat. Jangan takut lagi. Tidak ada yang bisa menyakitimu di sini."
Sehun ingin mempercayainya. Dia ingin, sangat ingin mempercayai Chanyeol. Tapi ada sesuatu yang Sehun belum ceritakan pada Chanyeol. Dia sudah mencoba memberitahu pada polisi di Jepang dan para dokter disana, tapi tak ada satu orang pun yang percaya padanya.
"Aku akan menjagamu sepanjang malam." Jantung Sehun berhenti pada kata-kata itu. Itu bukan pertama kalinya Chanyeol mengatakan itu padanya.
Malam pertama saat ia bertemu dengannya, Chanyeol mengatakan padanya hal yang sama. Setelah Kris— Diamlah.
Sehun membanting pintu sebelum masa lalu bisa menghantamnya. Tapi ia ingat akan janji-janji Chanyeol. Pada malam dulu yang sudah lampau, Sehun begitu ketakutan. Dan Chanyeol mengatakan...
Aku akan menjagamu sepanjang malam.
Sehun tidak bisa memejamkan matanya, tapi ia bisa bernafas dengan mudah karena Chanyeol memeluknya dalam pelukannya. Ilusi keamanan itu bohong, jauh dilubuk hatinya, Sehun tahu itu. Secara fisik, Sehun bisa percaya pada Chanyeol—dia tidak akan menyakitinya. Tapi ada hal-hal buruk didunia ini lebih dari sekedar sakit fisik saja.
Jauh lebih buruk.
Kim Jongin melemparkan jaketnya di atas kursinya dan menyalakan komputernya.
Park Chanyeol.
Memiliki pria seperti ini dalam kasusnya telah merubah segalanya. Park Chanyeol memiliki banyak uang, banyak kekuasaan dan banyak rahasia.
Pria itu meledak kebagian keamanan beberapa tahun yang lalu, tampaknya datang dari antah berantah, tak jelas. Penglihatannya salah. Setiap kali Chanyeol melihat Sehun, mata orang itu telah berubah, disana ada kebutuhan dalam tatapannya, nafsu, kemarahan... Posesif.
Orang itu menatap Oh Sehun seolah-olah pria itu adalah miliknya. Ketika Sehun dengan yakin menceritakan cerita yang berbeda saat ia bertanya mengenai hubungan yang mungkin ada dikota.
"Aku mendengar tentang penyerangan terhadap Oh Sehun," rekannya berkata saat mendekatinya. Lee Donghae telah menjadi seorang polisi selama dua puluh tahun. Dia sudah banyak melihat
kekerasan selama bertahun-tahun. Wajahnya yang berubah mencerminkan kekhawatirannya. "Sial, aku yakin mengharapkan hal ini tidak akan buruk."
Meskipun mereka tak berdaya. Perasaan—insting—Sehun belum
cukup bagi mereka untuk melanjutkan kasus itu. Dan siapapun yang telah mengakses apartemennya dan menyelinap keluar masuk tanpa meninggalkan jejak apapun dibelakang. Kecuali tanda-tanda kecil yang sengaja ditinggalkan dengan maksud untuk menyiksa Sehun. Jongin menatap Donghae. "Dia punya keamanan sekarang. Park Securities."
Donghae bersiul. "Berapa banyak yang Sehun siapkan untuk membayarnya?"
Rekening bank pria manis itu kosong, jadi dia tidak akan sanggup
membayar apapun.
Jadi mungkin aku sudah memeriksa sedikit lebih dalam kehidupan
Sehun daripada rekanku menyadari.
Tapi... Ketika Oh Sehun berbicara dengannya, dia takut. Jongin benci melihat ketakutan dimata seorang Sehun.
"Aku tidak berpikir dia akan membayarnya," Jongin bergumam sambil membungkuk dan kembali mengetik dikeyboardnya.
"Sepertinya dia dan Park Chanyeol adalah teman lama."
Omong kosong. Mereka adalah mantan kekasih. Jongin tahu persis apa yang telah terjadi dengan mereka.
"Aku tidak percaya padanya," Kata Jongin datar.
Sehun tampak begitu kacau dirumah sakit. Sementara Chanyeol terlalu bersemangat untuk mengajaknya keluar dari sana. Dan jauh dariku.
"Hati-hati dengannya," Donghae memperingatkannya. "Ini bukan orang yang kau inginkan untuk seorang musuh. Bahkan, jika dia ingin, Park bisa memiliki lencanamu—dan memilikinya—dengan satu panggilan telepon."
Jongin tidak takut Park Chanyeol. Tapi dia bertekad untuk mengungkap rahasianya.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi di Jepang."
Sehun menatap sekilas wajah Chanyeol, mencoba menebak raut mukanya. Mereka berada didapur rumah Chanyeol, sebuah ruangan besar yang seolah menelan mereka berdua didalamnya. Kokinya –Chanyeol memiliki tukang masak pribadi! – telah membuatkan mereka sarapan, dan Sehun belum pernah mencicipi pancake yang terasa sangat lembut seperti ini seumur hidupnya.
Tentu saja, ketika masa jayanya di Jepang, Sehun mampu membeli beberapa barang mewah. Namun dia mulai menyadari bahwa Chanyeol telah lebih jauh dari dirinya. Anak lelaki yang dia ingat sudah lama hilang. Dan Sehun tidak yakin apakah ia masih mengenali lelaki yang berdiri didepannya ini.
"Sehun…"
Sehun menelan beberapa teguk jus jeruk. Di siang hari yang cerah, dia dapat berpura-pura bahwa kejadian buruk tadi malam tidak pernah terjadi. Nyaris. Namun rasa sakit di kepalanya meyakinkannya bahwa kejadian semalam merupakan kenyataan yang sangat menakutkan.
"Aku mengalami sebuah kecelakaan," ucap Sehun dengan hati-hati.
Sang koki sudah berpindah ke ruangan lain dengan tergesa.
"Mobilku meluncur keluar dari jalan. Aku….aku terjebak di dalamnya."
Hujan. Ketakutan. Rasa sakit.
"Selama dua belas jam."
Kata-kata itu menyentak pandangan Sehun bertumbuk dengan pandangan Chanyeol. "Y-ya, aku terjebak di dalam mobil selama dua belas jam."
Berita mengenai kecelakaan itu telah tersebar ke semua surat kabar. Sang penari terbaik telah kehilangan segalanya dalam sebuah kecelakaan tragis. Hanya saja itu bukanlah sebuah kecelakaan biasa. Chanyeol sangat yakin akan hal tersebut.
Rahang Chanyeol mengeras. "Ada banyak hal yang tidak kau ceritakan padaku. Hal yang tidak ada disurat kabar."
Chanyeol tidak memaksa Sehun bercerita tadi malam. Chanyeol hanya memeluknya, berbicara dengan lembut, dan sangat jelas menjaganya tetap tersadar. Tapi sekarang ia siap untuk menginterogasinya.
"Kau menduga lelaki itu mengikutimu di Jepang…" ujar Chanyeol sambil mengerutkan dahi.
"Aku-aku yakin iya. Seseorang masuk ke ruang gantiku."
Katakan padanya, Sehun. Katakan.
"Dan kukira…pada malam terjadinyakecelakaan itu, aku sedang diikuti oleh seseorang."
Chanyeol meletakkan pisau makannya dengan sangat pelan. Mata
cokelatnya berkilau menatap Sehun. "Kau baru memberitahukan ini padaku…sekarang?"
"Aku menceritakan itu kepada polisi di Jepang. Kepada para dokter yang memeriksaku. Tapi tidak ada seorangpun yang mempercayaiku."
"Aku percaya padamu."
Sehun mendorong piringnya menjauh. "Aku tak ingat semua hal yang terjadi persisnya pada malam itu. Aku sedang mengemudi ke arah luar kota. Aku-" Mengingat tentang saat itu. Sehun berdehem. "Aku baru saja keluar dari pom bensin. Ada sebuah mobil…sepertinya mengikutiku di setiap belokan…"Rasa takut masih sangat gampang untuk timbul bagi Sehun.
"Cahaya dari lampu mobil di belakangku terpantul dikaca spion. Menyorot bolak balik, lampu redup, kemudian lampu jauh." Membutakan Sehun.
Kedua tangan Chanyeol mencengkeram erat tepian meja.
"Sepertinya mobil itu menabrakku." Bagian ini tak dapat diingat Sehun, setidaknya dengan pasti. "Lampu depannya menyorot seluruh bagian dari mobilku. Aku berteriak –dan kemudian mobilku terhempas ke udara."
Setelah itu hanya sedikit yang dapat Sehun ingat. Potongan gambar berkelebatan. Rasa sakit. Lebih banyak teriakan.
Sehun menggelengkan kepalanya. "Tapi para polisi berkata tidak ada tanda-tanda bahwa ada kendaraan lain yang terlibat dalam kecelakaan itu. Mereka menduga aku hanya kehilangan kendali mobilku karena jalanan licin." Selera makan Sehun menghilang. Bahkan pancake super lembut itu tidak dapat mengembalikannya.
"Kau harusnya langsung menghubungiku."
Kemarahan bergejolak didalam diri Sehun saat mendengar kalimat Chanyeol. "Berita itu ada diseluruh surat kabar,Chanyeol. Aku mungkin bukanlah bagian dari sebuah perkumpulan orang-orang yang sangat kaya raya…" Sehun menunjuk ke sekeliling dapur, "sepertimu. Tapi aku yang dulu adalah seorang penari yang cukup terkenal."
Sehun menyandang status sebagai penari terbaik pada usia ke dua puluh dua. Menari merupakan hidupnya. "Mungkin…mungkin seharusnya kau yang menghubungiku."
Berapa kali ketika Sehun berbaring di tempat tidurnya, berharap akan mendengar kabar dari Chanyeol?
Sehun bangkit dan menjauh dengan perlahan dari meja. Dari Chanyeol. "Aku harus kembali ke studio. Kelas akan dibuka dalam dua hari, dan aku harus membereskan tempat itu."
Sehun tidak mungkin membiarkan murid-murid barunya menginjak pecahan kaca.
"Sudah dikerjakan."
Sehun menatapnya balik. Chanyeol bangkit dari duduknya.
"Cermin sudah diganti dengan yang baru," ujar Chanyeol, "pecahan kaca sudah dibersihkan, dan kau tak akan mengalami masalah lagi dengan korsleting listrik."
"Kau tak perlu –"
"Aku bukanlah anggota keluargamu, jadi, sialnya, mereka tidak membiarkanku masuk ketika kau di rumah sakit."
Kepala Sehun menggeleng, sebuah penyangkalan yang tiba-tiba karena Chanyeol tidak mungkin mengatakan –
"Namun aku menemukan cara untuk mendekatimu." Suara Chanyeol terdengar suram dan keras."Aku harus memastikan bahwa kau akan baik-baik saja."
Chanyeol bohong. Dia pasti berbohong. "Kau tidak di sana. Kau tidak ada di Jepang."
Pandangan Chanyeol membekukan Sehun, dan dia tak dapat memalingkan wajahnya ketika Chanyeol berkata, "Mereka menempatkanmu di UGD. Dokter yang menanganimu bernama Aerish."
Tidaklah sulit bagi seseorang untuk mencari tahu nama dokter yang menanganinya. Dan itu sangatlah mudah bagi Chanyeol dan sumber-sumbernya yang tidak terbatas.
"Jendela yang terletak di dekat tempat tidurmu mengarah ke halaman rumah sakit. Sinar matahari masuk melalui jendela tersebut, naik dengan cepat dan terik, dan akan menimpa wajahmu setiap pagi. Aku memastikan para perawat menjaga tirai jendela tetap tertutup karena aku tak mau kau terganggu dengan silaunya."
Kerongkongan Sehun mengering. Sebuah tangan tak kasat mata seolah-olah memeras jantungnya. "Ketika aku membuka mataku, kau tak ada di sana."
Mata Chanyeol yang berbingkai bulu mata tebal berkedip. "Aku tidak berpikir kau menginginkanku ada di sana."
Tangan Sehun mengepal. Kuku-kuku jarinya menekan telapak tangannya. "Aku tidak memahamimu, Chanyeol."
Chanyeol menyeringai dingin dan terlihat kejam. "Aku tahu."
"Apa yang kau inginkan dariku?"
"Semuanya."
Sehun mundur selangkah. "A–aku harus ke studio."
Sehun tidak memperhitungkan hal ini. Tindakan Chanyeol. Semua ini terlalu cepat. Terlalu banyak.
"Aku akan mengantarkanmu."
"Terserah…hanya saja…aku harus pergi, sekarang."
Chanyeol melangkah mendekati Sehun. Selalu tampak percaya diri. Sangat percaya diri. "Kau tak perlu takut padaku. Akulah orang yang akan menjagamu."
Sehun tidak tahu Chanyeol yang dulu. "Ketika aku pergi ke kantormu hari itu, kukira kau akan langsung menendangku keluar."
Mata Chanyeol menyipit mendengar kalimat itu, dan Sehun melihat kilatan amarah dimatanya. "Kau merendahkan dirimu sendiri…dan arti dirimu bagiku."
"Aku tidak memahamimu," Sehun berbisik sekali lagi.
Chanyeol memiringkan kepalanya. Bibirnya menyapu bibir Sehun dengan kelembutan yang singkat. "Nanti kau akan mengerti."
Dua penjaga memasuki studio tari bersama Sehun. Chanyeol bersikeras dengan penjagaan seperti itu. Sehun hanya ingin masuk dan menyiapkan studionya sendirian. Tapi ada para penjaga yang harus selalu mendampinginya setiap saat di sana.
Chanyeol duduk dikursi belakang dimobilnya, pandangannya menatap ke gedung apartemen. Mungkin dia seharusnya tidak memberitahukan Sehun mengenai perjalanannya ke rumah sakit di Jepang. Namun kebenaran akan segera terkuak, secepatnya. Terutama karena ia merencanakan untuk membawa Sehun ikut bersamanya ke Jepang dalam beberapa jam lagi.
"Pesawatnya sudah siap?" Chanyeol bertanya kepada Minseok.
Chanyeol memilih meninggalkan Jaguarnya dirumah dan membiarkan Minseok menyetir hari ini. Chanyeol harus membuat beberapa rencana, dan dia dapat melakukan beberapa hal sekaligus dengan lebih baik ketika Minseok yang berada dibalik kemudi.
"Ya, Tuan. Pilotnya sudah menunggu."
"Bagus." Chanyeol akan menunggu hingga Sehun menyelesaikan urusannya, dan kemudian mereka akan berangkat.
Tidak ada seorangpun yang mungkin akan mempercayai cerita Sehun, tapi Chanyeol tidak sama dengan orang lain. Jika Sehun berkata bahwa ia telah dipaksa keluar dari jalan….
Aku ingin mencari tahu apa yang terjadi di Jepang.
Dan Chanyeol tak dapat pergi kesana sendirian. Saat ini Sehun masih belum yakin pada dirinya. Chanyeol ingin Sehun untuk memberikan kepercayaannya, namun Sehun mungkin akan meragukannya.
Tidak, Chanyeol harus menjaga Sehun berada tetap di dekatnya. Tapi Chanyeol harus sangat berhati-hati. Sangatlah mudah baginya untuk tersandung saat di Jepang. Dan sangat mudah bagi Sehun untuk menemukan lebih banyak hal tentang kehidupannya. Tentang apa yang terjadi dengannya selama sepuluh tahun terakhir.
Ada beberapa hal yang lebih baik Sehun tidak mengetahuinya.
~oOOo~
"Aku butuh daftar nama kekasihmu," Chanyeol berkata kepada Sehun ketika ia kembali ke dalam mobilnya sore itu.
Chanyeol berhenti berbicara di saat yang sepertinya sangat tepat, namun Sehun tahu salah satu bawahannya pasti telah mengabari Chanyeol dan memberitahunya bahwa Sehun memutuskan untuk menyudahi hari. Rasa lelah menguasai Sehun, tapi suara geraman Chanyeol terdengar menuntut…
Aku butuh daftar nama kekasihmu.
"Ini bukanlah sebuah presentasi," Sehun bergumam saat dia merasakan pipinya merona. "Aku tidak meminta—"
"Detektif itu—Jongin—dia benar. Lelaki yang mengikutimu mungkin salah satu dari mantanmu. Seseorang yang pernah memilikimu, dan tidak menginginkanmu pergi darinya."
Sehun menatap sekilas keluar jendela. Menatap keramaian kota yang melewatinya dengan samar-samar. "Mungkin orang itu mantanku, atau hanya seorang gila yang pernah melihatku dijalan. Mungkin juga hanya seorang penonton yang pernah melihatku menari. Terkadang mereka keliru dengan menganggap para penari seperti karakter yang kami perankan."
Selama bertahun-tahun Sehun telah memerankan banyak karakter. Sang Putri Tidur, Penyihir Jahat, Si Angsa Cantik, seorang–
"Daftar nama para kekasihmu bisa menjadi titik awal pencarian buat kita. Kau akan mengetahui bahwa informanku lebih bagus daripada informan detektif itu. Aku bisa menemukan orang-orang ini sendirian, menegaskan status mereka –atau–"
"Mereka tidak bersalah."
Mobil berjalan memelan. Kemudian berbelok ke kanan. Minseok duduk dibalik kemudi. Sehun melongokkan badannya. Ini bukan jalan menuju apartemen milik Chanyeol. Kecuali jika Minseok mengambil jalan pulang yang berbeda.
"Katakan padaku nama-nama mereka."
Sehun menatap Chanyeol. "Ya ampun, mereka bahkan tidak tinggal di kota ini!"
Hanya ada satu mantan kekasih Sehun di Seoul, dan orang itu sekarang duduk terlalu dekat dengannya dan menguasai terlalu banyak ruang di dalam mobil ini.
Satu alis Chanyeol berwarna gelap terangkat. "Tidak sulit untuk mendapatkan satu tiket pesawat atau kereta ke Seoul."
Tidak, memang tidak sulit.
Hujan mulai turun, memercik ke jendela. Bahu Sehun menegang. Baiklah, jika Chanyeol meninginginkan daftarnya, Sehun akan memberikan padanya. Dalam keindahan yang manis dan singkat,
"Zhang Yixing. Dia…dia adalah seorang penata tari yang kutemui bertahun-tahun yang lalu." Sangat cerdas. Tekun. Sangat perfeksionis.
"Siapa lagi?"
Nada ketidaksabaran dalam suara Chanyeol terdengar sangat menjengkelkan. Seolah-olah Sehun memiliki daftar sepanjang empat halaman. Meskipun Sehun bertaruh Chanyeol juga punya.
"Kim Suho, seorang aktor." Seorang aktor yang cukup sukses saat ini. "Tapi dia berada di China sekarang, jadi aku tidak berpikir bahwa dia bisa–"
"Teruskan, Sehun." Chanyeol memotong kalimatnya. Tidak banyak yang Sehun bisa ceritakan.
"Huang Zitao."
Suasana di dalam mobil menjadi hening, sangat hening.
"Sebutkan nama itu lagi," Chanyeol menggeram.
"Kenapa? Kau mendengarku menyebutnya." Sehun menatap sekilas keluar jendela sekali lagi. Raut wajah Chanyeol berubah murung. Ini jelas bukan merupakan jalan menuju ke apartemen.
"Kau tidur dengan dokter yang memeriksamu?" Chanyeol menuntut. Nada suaranya sangat rendah dan dingin. Terkadang Chanyeol melakukannya. Ketika dia marah, nada bicaranya akan menurun drastis ke ketenangan yang mematikan.
"Dia bukan dokterku saat itu." Sehun selalu sangat sendirian, dan Zitao telah menjadi satu-satunya yang ada untuknya. Selalu tersenyum. Mampir ke tempatnya sembari membawakan donat dan bunga. Satu malam, acara minum-minum telah menjurus ke sesuatu yang….lebih.
"Kenapa kau sekarang tidak bersamanya?"
"Karena aku tak bisa tetap tinggal di Jepang." Sewanya sudah jatuh tempo, dan Sehun tidak punya uang untuk membayarnya. Tidak setelah tagihan rumah sakit menghabiskan uangnya. Asuransi hanya menunda tenggat waktunya selama mungkin.
"Dokter brengsek itu…"
Kepala Sehun tersentak ke arah Chanyeol. "Dengar, siapapun yang aku kencani seharusnya tidak masalah –"
"Bagiku itu masalah."Gertak Chanyeol. "Masalah besar."
Sehun tidak akan pernah bisa memahami Chanyeol. "Kau tidur dengan semua model atau aktris yang bisa kau temukan, jadi jangan bertingkah seolah-olah beberapa mantan kekasihku memberikan efek padamu. Kita berdua sama-sama tahu aku sudah menjadi bagian dari masa lalumu sejak lama."
Chanyeol memajukan tubuhnya ke arah Sehun. Dalam kegelapan ruang di dalam mobil, Sehun berharap dia bisa melihat raut wajah Chanyeol. Tapi Chanyeol masih tersembunyi di dalam bayangan.
"Hal itu ada efeknya padaku," Chanyeol berkata. "Hal itu membuatku sangat marah."
"Chanyeol?"
Tangan Chanyeol meluncur di atas pipi Sehun. "Aku ingin kau melupakan mereka. Aku ingin membawamu ke tempat tidur, dan aku ingin menghapus semua kenangan yang kau miliki dengan mereka."
Sehun tidak bisa bernafas dengan lega. "Kita sudah putus, Chanyeol. Kau tahu –"
"Bagaimana bisa kita putus ketika aku masih sangat menginginkanmu?" Tangannya turun menelusuri pipi Sehun, turun ke rahangnya, kemudian turun ke lekukan di lehernya.
Jari Chanyeol meregang di sekitar leher Sehun, meraba titik nadi yang berdetak gelisah di balik kulitnya. "Dan bagaimana bisa kita putus ketika kau masih sangat menginginkanku?"
Karena Sehun akan mencampakkan pria lain demi Chanyeol. Kenyataan yang memalukan dan menyedihkan. Hubungan seksnya dengan lelaki lain memang cukup baik, namun dengan Chanyeol…
Aku selalu membandingkannya dengan yang lain.
Bagaimana mungkin ini bisa adil? Mungkin itu sebabnya mengapa Luhan dan Zitao mengakhiri hubungan dengannya. Mereka berdua akan mengatakan yang sebenarnya, bahwa Sehun tidak membiarkan para lelaki mendekatinya. Bahwa ia membangun dinding pemisah antara diriku dengan mereka dan tidak membiarkan mereka masuk ke dalam hidupnya. Setelah hubungannya dengan Chanyeol, Sehun perlu membangun dinding tersebut. Karena ia tidak pernah ingin tersakiti oleh seseorang lagi.
Ketika Chanyeol meninggalkanku, aku merasa patah hati.
Butuh waktu yang sangat lama bagi Sehun untuk mengumpulkan kepingan hidupnya kembali.
"Jika aku bertindak salah, katakan sekarang." Jemari Chanyeol serasa membakar kulit Sehun. "Katakan padaku untuk mundur, dan akan kulakukan. Aku tidak mau memaksa meminta sesuatu yang tidak ingin kau berikan. Aku menginginkan semua hal dari dirimu. Semua atau tidak sama sekali."
Bukankah selalu seperti itu hubungan mereka selama ini? Sehun telah memberikan segalanya untuk Chanyeol.
Dan apa yang Chanyeol berikan untuknya?
Mobilnya berhenti.
"Semuanya atau tidak sama sekali, Sehun. Kau yang tentukan."
Kemudian Chanyeol menarik dirinya menjauh dari Sehun dan membuka pintu mobil. Sehun mencoba bernafas untuk menarik udara sebanyak-banyaknya. Memandang sekilas ke arah kirinya, dan kemudian ia sadar dengan gelisah bahwa mereka memang tidak menuju ke apartemen.
Pintu di sisinya terbuka. Bukan Minseok yang berdiri di sana dan
menahan pintunya terbuka, tetapi Chanyeol.
Sehun berkata dengan gugup. "Apa yang kita lakukan di sini?"
Di bandara.
"Kita akan terbang. Pesawat jetku sudah menunggu."
Chanyeol punya pesawat jet? Tentu saja. Seseorang sekaya Chanyeol pasti memiliki pesawat jet pribadi.
Sehun masih tetap duduk membeku di dalam mobil. "Kita akan pergi ke mana?" Firasatnya mengatakan bahwa ini akan menjadi percakapan yang sulit. "Studioku sebentar lagi akan dibuka. Aku tidak bisa begitu saja –"
"Kau ingin bajingan penguntitmu segera ditangkap, kan? Jika itu
yang kau inginkan, kita harus menelusuri semuanya dari awal. Jika orang itu mulai menguntitmu di Jepang, kita bisa mengetahui
lebih banyak tentang dirinya di sana."
Apakah Chanyeol pikir Sehun akan begitu saja ikut dengannya ke Jepang? "Aku tidak mau pergi ke–"
"Kau bisa membantuku mendapatkan informasi dari orang-orang yang ada di sana. Para penari, tetangga lamamu. Kehadiranmu akan mempermudah orang untuk berbicara. Mungkin seseorang melihat sesuatu. Mungkin ada seseorang yang pernah melihat bajingan itu."
Tangan Chanyeol masih memegang pintu mobil. "Aku membutuhkan kau untuk ikut denganku. Aku janji kita akan segera kembali sebelum kelas dimulai."
Dimasa lalu, Sehun sangat menyukai Jepang. Tapi sekarang ia telah melarikan diri dari sana, sangat ingin untuk menjauh dari sana. Hanya saja kemudian ia menjadi ragu. Benarkah ia melarikan diri dari negara itu? Atau sebenarnya ia melarikan diri dari orang yang menguntitnya? Dari bayangan gelap yang seolah selalu mengikutinya, dalam setiap langkahnya?
Sebelum kecelakaan itu,Sehun selalu merasa gugup. Berusaha melompat tanpa suara. Dia masih belum bisa menghilangkan perasaan bahwa tindakannya diawasi oleh seseorang. Setiap hal yang ia lakukan.
Selalu diawasi.
Dan bajingan itu sudah pernah masuk ke dalam tempat tinggalnya. Sehun tahu bahwa dia sudah pernah membobol masuk meskipun tidak pernah ada bukti pembobolan.
"Mari akhiri perdebatan ini," ujar Chanyeol dengan tidak sabaran. "Ikut denganku ke Jepang. Biarkan aku melakukan pekerjaanku. Akan kutemukan bajingan itu dan menghentikannya mengganggumu."
Sehun menatap sekilas ke arah bandara. Sebuah pesawat baru saja lepas landas, dan deru suara mesinnya menjalar di udara. "Baiklah, aku akan ikut denganmu."
Minseok membanting menutup bagasi. Sehun melongokkan kepalanya ke arah Minseok, dan Sehun melihat laki-laki itu membawa dua buah koper. Satu koper milik Chanyeol, namun yang satu lagi...miliknya.
"Kupikir kau mungkin bisa mencoba melihat dari sudut pandangku," Chanyeol menggerutu.
Chanyeol ini sangat sombong dan sangat percaya diri. Dengan perlahan dia meraih tangan Sehun. "Kau sudah tidak takut terbang, kan?"
Tentu saja Sehun masih takut. Sangat ketakutan. Tapi dia tidak mau mengakui kenyataan itu didepan Chanyeol. Chanyeol sudah bisa menebak bahwa banyak hal yang ditakutinya di dunia ini.
Tapi itu benar.
Pertama kalinya Sehun merasa takut ketika umurnya delapan tahun. Ketika orangtuanya tidak kembali ke rumah setelah makan malam diluar. Ketika pengasuhnya menyebutkan tentang kecelakaan. Ketika akhirnya ia berdiri di pemakaman dan menyaksikan karangan bunga ditaruh di atas dua nisan.
Sehun merasa takut ketika pertama kalinya dibawa ke panti asuhan. Ketika dipindahkan ke panti berikutnya. Dan berikutnya. Dia merasa takut ketika tangan-tangan kasar menariknya dimalam hari. Ketika ia disakiti. Rasa sakit yang terus menerus datang kembali. Satu-satunya pelariannya hanyalah menari.
Seorang pekerja sosial telah mengenalkan dunia tari pada Sehun.
Wanita itu sering membawanya ke pusat komunitas kota dan Sehun akan tenggelam di dalam musik dan tariannya. Dia akan terus menari. Hari demi hari. Namun ia tetap merasa takut…
Hingga satu hari ketika Sehun mendongak dan menatap sepasang mata berwarna cokelat cerah yang tampak marah. Rasa takut itu berhenti sesaat. Namun semua rasa takut itu telah kembali dengan sangat cepat.
Rasa takut itu pada akhirnya akan kembali.
~oOOo~
Kim Jongin menyaksikan dari jauh ketika pesawat jet itu menunggu di landasan pacu. Bepergian dengan pesawat pribadi….sepertinya sangat cocok dengan gambaran seorang Park Chanyeol.
Jongin telah menggali informasi mengenai Chanyeol hampir seharian ini. Seorang anak yang terlahir dari keluarga miskin dan mendaftar menjadi taruna pada usia ke dua puluh. Masa lalunya dapat dengan mudah diketahui sampai disaat ia masuk akademi. Setelah ia bergabung menjadi prajurit pembela tanah air, semua catatan mengenai Park Chanyeol menghilang tanpa jejak. Semua catatan selama empat tahun dia menjadi tentara. Nampak seolah tidak ada yang terjadi selama empat tahun tersebut.
Kemudian Chanyeol muncul lagi di Seoul. Muncul secara tiba-tiba
dan langsung memiliki koneksi yang kuat dengan beberapa pejabat pemerintahan yang menangani urusan luar negeri. Perusahaan jasa keamanannya telah meroket menjadi yang terbaik dibidangnya.
Chanyeol telah menjadi seorang jutawan. Bukan jutawan, melainkan milyuner berdasarkan laporan pajaknya. Jadi, mengapa seseorang seperti dia tertarik secara pribadi dengan
sebuah kasus penguntitan? Kasus tersebut bahkan bukan kasus yang biasa ditangani oleh perusahaannya. Kliennya selalu sebuah
perusahaan, bukan orang secara individu.
Jongin menarik tangannya keluar dari saku jaketnya. Dia telah menggunakan lencana kepolisiannya untuk masuk ke bagian
belakang bandara. Dan dia berencana menggunakannya lagi untuk membantu penyelidikannya. Orang-orang biasanya selalu berbicara lebih lancar ketika melihat lencana polisi.
Mata Jongin menyipit melihat seseorang berjalan tergesa dari landasan pacu. "Uh, permisi, sir…" panggil Jongin.
Seorang pria yang kira-kira lebih tua darinya dengan rambut yang
mulai menipis mengerutkan dahi ke arahnya. Orang itu mengenakan seragam biru muda yang biasa dipakai oleh kru landasan.
"Apakah kau orang yang tadi membantu penerbangan Park Chanyeol?" tanya Jongin sembari memperlihatkan lencananya.
Orang itu menatap sekilas pada lencana, kemudian menatap Jongin. "Tuan Park tidak memiliki masalah denganku. Aku hanya melakukan pekerjaanku, aku–"
"Aku tidak bilang kau punya masalah dengannya," Jongin berkata
menenangkan. "Aku hanya penasaran…"
Dan Jongin telah penasaran seharian ini. Dia telah sampai distudio milik Sehun tepat pada saat pria itu masuk ke mobil Chanyeol. Jadi Jongin mengikuti mereka dan menyaksikan mereka terbang ke luar kota. Aneh. Sebuah serangan di satu hari dan sebuah liburan keesokannya?
"Ke mana tujuan Tuan Park?" tanya Jongin sambil memiringkan
kepalanya.
Orang itu menatap sekilas ke balik bahunya. "Aku…kukira ia pergi lagi ke Jepang."
Ke negara tempat Oh Sehun pernah tinggal dalam waktu yang cukup lama.
"Apakah ia sering pergi ke Jepang?" Bisa saja itu merupakan perjalanan bisnis, atau untuk-
"Ya, dia sering pergi ke sana. Paling tidak seminggu sekali." Orang
itu mencoba berjalan melewatinya.
Jongin bergeser dan menghadang langkahnya. "Kru di landasan
terkadang mendengar beberapa cerita." Dan banyak gossip.
"Apakah kau pernah mendengar cerita tentang alasan Park Chanyeol pergi ke Jepang? Tentang perjalanannya yang dulu? Atau yang malam ini?"
Orang itu tersenyum, memperlihatkan gigi depannya yang bengkok. "Aku tak peduli dengan alasan penerbangannya. Aku hanya peduli dengan seberapa sering ia melakukannya. Aku mendapatkan uang dari situ."
Tentu saja. Informasi ini tak berguna baginya. Orang itu berjalan pergi. Jongin menatap langit. Hujan gerimis masih membasahi bumi. Pesawat itu sudah menghilang dari pandangannya. Mungkin semua perjalanan Park Chanyeol ke Jepang hanyalah murni untuk bisnis. Atau mungkin…mungkin dia telah ke sana untuk tujuan lain. Jongin telah mengambil laporan kecelakaan Sehun. Dia telah membaca pernyataan Sehun mengenai seseorang yang membuntutinya di jalan. Membuat mobilnya melaju keluar dari jalan. Semakin jauh ia menyelidiki, rasa kekhawatirannya makin meningkat.
Oh Sehun dalam bahaya. Jongin hanya berharap laki-laki itu tidak
mempercayai orang yang salah. Sebuah kesalahan seperti itu terbukti bisa berakibat fatal bagi Sehun.
~oOOo~
Chanyeol menjaga tangannya tetap disekeliling Sehun ketika mereka berjalan menuju lobi hotel. Lantai yang terbuat dari pualam memantulkan cahaya ketika petugas hotel memandu mereka menuju lift pribadi.
Sehun hanya diam membisu. Dia bahkan hampir tidak menatap mata Chanyeol, dan Chanyeol membenci itu. Chanyeol merindukan bagaimana hubungan mereka dahulu.
Aku akan mendapatkannya kembali.
Chanyeol akan mendapatkan semuanya kembali. Pintu lift tertutup, dan mulai bergerak naik. Liftnya mekuncur ke atas, naik makin tinggi.
"Uh, Tuan Park?" Yuka –si petugas hotel –berdehem. "Apakah ada yang Anda butuhkan untuk malam ini?"
Chanyeol bahkan tidak mencoba memalingkan pandangannya dari Sehun.
Sehun sempat tidur ketika dipesawat. Namun Chanyeol bahkan terlalu gugup untuk merasa ngantuk. "Aku sudah memiliki apa yang aku butuhkan." Suara Chanyeol bergemuruh.
Tatapan mata Sehun kini bertubrukan dengan Chanyeol. Pintu lift terbuka. Yuka berjalan keluar dengan tergesa. "K-Kamar Anda sudah disiapkan, sir. Tentu saja, sebuah plaza suite yang selalu Anda pesan ketika Anda mengunjungi –"
"Aku tahu kamar yang mana," potong Chanyeol sebelum Yuka bisa berbicara lebih banyak lagi. Orang itu sialnya jadi terlalu banyak omong malam ini.
Yuka bergegas membuka pintu kamar. Sehun melangkah masuk. Kepalanya tersentak ke belakang ketika ia melihat sebuah lampu kristal yang sangat besar di tengah ruangan megah tersebut.
"Anda…em…Anda yakin tidak menginginkan koki pribadi untuk melayani Anda?" Yuta berdiri dengan enggan didekat pintu ketika pelayan membawakan koper tamunya. "Malam sudah larut, tapi tidak untuk Anda, Tuan Park –"
Chanyeol tahu bahwa koki pribadi disediakan satu paket dengan kamar ini. Tapi Chanyeol sedang tidak ingin diganggu siapa pun saat ini. Chanyeol ingin hanya berdua saja dengan Sehun.
"Suruh dia datang besok pagi untuk membuatkan sarapan."kata Chanyeol. Matanya menatap ke arah pelayan.
"Semua koper ditaruh di ruang tidur utama."
Sehun telah berdiri didekat jendela yang menampakkan pemandangan dari Fifth Avenue. Bahunya nampak menegang. Sehun telah mendengar perintah Chanyeol mengenai koper-koper mereka. Tapi dia tidak membantahnya. Belum.
Pelayan dan petugas hotel telah pergi beberapa menit yang lalu. Pintu menutup pelan di belakang mereka. Sehun tetap menatap ke luar jendela. "Terkadang, aku lupa bagaimana rasanya tinggal di Jepang…"
Salju melayang pelan di luar. Mereka telah terbang menjauh dari
hujan di Seoul menuju hujan salju di Jepang.
Tangan Sehun terangkat dan menyentuh kaca jendela. "Ketika aku masih kecil, Jepang adalah segalanya bagiku. Orang-orang yang tinggal di sini….mereka tampak bahagia. Terkenal. Dicintai oleh banyak orang."
Ketika Sehun masih kecil, ia selalu berpindah dari satu panti ke panti berikutnya. Sehun menemukan takdirnya dalam menari berkat seorang pekerja sosial yang ingin menyalurkan bakatnya. Memberinya tempat kecil untuk manggung di pusat komunitas kota. Sehun pernah bercerita pada Chanyeol bagaimana gugupnya ia di hari pertama mereka pergi tempat itu. Chanyeol selalu merasa gugup, hingga akhirnya Sehun menari untuk menghiburnya.
Sehun berpaling dari jendela. "Sebuah suite, Chanyeol?"
Chanyeol berdehem untuk menjernihkan suaranya. "Kita hanya berdua di sini. Menurutmu kita benar-benar membutuhkan kamar yang…berapa luasnya?" Chanyeol menatap sekilas ke sekelilingnya dengan bibir terkatup rapat.
"Tebakanku….seribu dua ratus meter persegi?"
"Seribu tiga ratus." Chanyeol melepas jasnya. Melemparkannya ke samping dan berjalan mendekati Sehun. "Kamar manapun akan sama saja."
Tangan Chanyeol menangkup dagu Sehun. "Ketika aku masih kecil, aku berangan-angan untuk tidak akan kelaparan." Harusnya Sehun sudah bisa menduga ini. Dia harusnya sudah mengenal Chanyeol dengan lebih baik daripada orang lain. "Aku berangan-angan tidak memakai pakaian bekas orang lain. Tidak menjadi korban ejekan karena sepatuku bolong."
Orangtua Chanyeol tidak meninggal dalam kecelakaan seperti orangtua Sehun. Mereka hanya tidak mempedulikan Chanyeol. Mereka biasanya mengabaikan Chanyeol hampir setiap waktu. Membiarkannya berpakaian dan mencari makanan sendiri. Hari itu ketika pekerja sosial menemukannya…saat itu sudah berapa hari aku tidak makan?
Ayahnya sangat suka memukuli Chanyeol. Ibunya…seringkali dalam keadaan mabuk. Ibunya selalu melarikan diri dari kenyataan dan tidak mempedulikan ketika anaknya menangis.
"Aku sudah membuang masa laluku," ujar Chanyeol kepada Sehun, sembari menjaga genggamannya tetap lembut. Bersama Sehun, dia akan berusaha menjadi lembut. Hanya untuk Sehun. "Saat ini, aku bisa membeli apapun yang aku inginkan."
"Apapun yang kau inginkan…"
Jemari Chanyeol meluncur turun di leher Sehun. Dia memiliki leher yang sensitif. Dahulu, ketika Chanyeol mencium lehernya, Sehun akan meleleh karenanya. "Yang kuinginkan hanya dirimu."
Berada di dekat Sehun membuat Chanyeol hilang akal. Aroma tubuhnya –bau manis vanilla – membungkus di sekeliling Chanyeol. Merasakan kulit sehalus sutranya di jari Chanyeol.
Sehun tidak menolaknya. Tidak meminta Chanyeol menjauh. Sehun justru memberinya tatapan membutuhkan dari balik bola matanya yang kehijauan. "Aku kira…kukira kita datang kemari untuk mencari tahu siapa yang mengikutiku." Suara Sehun berubah menjadi sebuah bisikan.
"Memang itu tujuannya." Tapi sekarang sudah hampir pukul tiga
pagi. Jepang mungkin memiliki julukan sebagai kota yang tidak
pernah tidur, tapi tetap tidak mungkin bagi mereka untuk pergi dan mengetuk pintu orang satu persatu saat ini. Lebih baik menunggu hingga pagi untuk keluar dan mulai mencari tahu. Menunggu dan menghabiskan malam ini hanya berdua.
Jemari Chanyeol menyelinap dibalik rambut halus Sehun. Suara nafas Sehun yang sedikit parau terdengar sangat menggairahkan. Suara paling menggairahkan yang Chanyeol pernah dengar selama bertahun-tahun.
"Katakan bahwa kau tidak pernah memikirkan tentang kita."
Meskipun Sehun pernah bersama lelaki lain. Bajingan lain. Ketika Sehun menyebutkan nama mereka satu persatu, Chanyeol sudah mencoret mereka semua dari daftar. Laki-laki lain yang pernah menyentuh tubuh Sehun. Chanyeol ingin menghapus kenangan mereka dari tubuh Sehun. Chanyeol ingin Sehun hanya memikirkan dirinya. Sebelum malam ini berakhir, Sehun akan memikirkan hanya tentangnya.
"Aku akan berkata jujur." Salju turun perlahan dibelakang Sehun. "Aku telah memikirkan tentangmu lebih dari yang bisa kuhitung."
Bagus. Karena setiap malam ketika mata Chanyeol terpejam, hanya Sehun yang hadir dalam setiap mimpinya. Tangan Sehun terangkat. Melingkar dipergelangan tangan Chanyeol.
"Dan aku memikirkan tentang apa yang kau katakan padaku …. bahwa kau menginginkanku pergi menjauh dari hidupmu."
Chanyeol menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang.
"Kau berhenti menginginkan diriku, Chanyeol, bukan sebaliknya." Sehun menyentak tangan Chanyeol menjauh. Berjalan memutari Chanyeol.
"Karena kau menyuruh pelayan menaruh koperku diruang tidur utama, aku akan tidur disana." Sehun tidak berpaling untuk melihat Chanyeol. "Dengan kamar seluas seribu tiga ratus meter persegi, aku yakin kau bisa menemukan sudut lain untuk tidur."
Setiap otot ditubuh Chanyeol menegang. "Aku tak pernah berhenti menginginkanmu."
Kekuatan untuk mengendalikan dirinya ibarat setipis kaleng saat ini, dan itu sangat berbahaya. Chanyeol baru saja mencoba menggoda Sehun. Rasa lapar yang liar yang telah lama ditahannya tidak seharusnya ia bebaskan.
Belum saatnya.
Sehun tertawa pahit. Tidak seperti tawa yang biasanya. "Tentu saja. Karena itu kau mendatangiku, ha? Apakah itu sebabnya aku selalu melihat fotomu bersama dengan lusinan wanita berbeda selama bertahun-tahun? Karena kau…" Sehun menatap dari balik bahunya, "sangat menginginkanku."
Mungkin bukan hanya Chanyeol yang terbakar rasa cemburu. Mungkin memang masih ada harapan bagi hubungan mereka.
"Kau ingin bukti betapa aku sangat menginginkanmu?" Tidak ada satupun hal yang bisa membuat Chanyeol pergi menjauh dari Sehun saat itu. Chanyeol sudah berbicara kepada dokter yang menanganinya. Sehun sudah aman. Dia hanya kena gegar otak ringan dan diperbolehkan tidur. Dia diperbolehkan bercinta. Chanyeol hampir saja mengajak Sehun bercinta.
Sehun berbalik memutari Chanyeol. "Bukan seperti itu—"
Chanyeol mencium Sehun. Dan dia tidak menahan diri. Chanyeol sudah menunggu hingga mereka akhirnya sendirian. Menunggu hingga hanya tinggal mereka berdua di dalam kamar. Menanti….penantian panjang selama sepuluh tahun. Chanyeol tidak lagi ingin menunggu. Kecuali Sehun mengatakan tidak, atau tidak menginginkannya, Chanyeol akan memiliki Sehun.
~oOOo~
Sehun seharusnya mendorong Chanyeol menjauh. Sehun tahu bahwa tangannya harusnya bergerak mendorong dada Chanyeol. Sepasang tangan penghianat itu tidak seharusnya malah melingkari bahu Chanyeol.
Sehun harus mendorong Chanyeol menjauh. Bukan malah menariknya mendekat. Tapi Sehun menginginkannya lebih dekat. Dia. Menginginkan. Chanyeol.
Luapan emosinya terlalu liar. Mungkin karena suasana kotanya. Atau mungkin karena Chanyeol. Mungkin Sehun hanya terlalu takut dan terlalu lelah untuk merasa sendirian. Namun ketika lidah Chanyeol menekan memasuki mulutnya, ketika Sehun merasakan aroma maskulinnya, Sehun berhenti berpikir bahwa merupakan suatu kesalahan untuk berada bersama dengan lelaki itu.
Sebenarnya, Sehun ingin berbuat salah. Bibir Chanyeol menekan bibirnya dengan kuat dan buas. Seolah menuntut sesuatu yang memang ingin dia berikan. Chanyeol sangat mahir mencium, yang semakin mahir seiring bertambahnya usia. Bibir dan lidah Chanyeol bermain dengan sangat lihai didalam mulut Sehun. Dan tangannya. Tangan Chanyeol mulai meluncur menuruni tubuh Sehun. Jemarinya disekeliling pinggul Sehun, dan kemudian menggendongnya.
Sehun menarik nafas tersentak karena dia tidak mengharapkan gerakan itu, meskipun ia tahu pasti Chanyeol sangat kekar. Tarikan nafas Sehun membuat Chanyeol memperdalam ciumannya, dan Chanyeol melangkah maju dan menjepit tubuh Sehun ke dinding. Kaki Sehun terkunci disekeliling pinggul Chanyeol. Kejantanannya menekan kejantanan Sehun. Kejantanan yang panjang, keras dan tebal.
Pakaian mereka menghalangi tubuh mereka. Sentuhan kulit ke kulit. Sehun menginginkan itu. Berharap dengan putus asa akan sentuhan tersebut. Pinggul Sehun melengkung ke arah Chanyeol.
Chanyeol menarik bibirnya menjauh. Menciumi leher Sehun, kemudian turun ke bawah. Disana. Ya. Tepat disana. Tepat di lekukan leher dipangkal bahunya. Sehun menyukai ketika Chanyeol menciumnya –
"Kau tak akan melupakanku." Kata-kata Chanyeol menggeram menekan tubuhnya yang memanas. "Tapi kau akan melupakan mantan-mantanmu."
Chanyeol menggendong Sehun lagi. Membawanya melewati lorong. Sebuah lampu kristal lainnya berkelipan di atas kepala. Mereka berbelok, dan Chanyeol membawa Sehun ke kamar tidur. Tempat tidur yang besar itu memenuhi separuh kamar tidur yang luas. Tirainya terbuka. Salju masih turun di luar sana. Lapisan salju yang cantik menutupi dunia seperti selimut putih yang besar.
Chanyeol menurunkan Sehun diatas tempat tidur. Sehun pikir Chanyeol akan bergabung dengannya di tempat tidur. Sehun pikir Chanyeol akan menindih dan menekan tubuhnya ke kasur. Sehun menginginkan percintaan yang liar. Menginginkan kenikmatan yang mendesak yang dapat menghilangkan rasa takutnya dan masa lalunya. Namun Chanyeol hanya menatapnya.
"Sial! Kau bahkan terlihat lebih menawan saat ini."
Sehun tidak mempercayai itu. Dia hanya mengenakan legging jeans usang. Sebuah kaus. Rambutnya terlihat berantakan dikepalanya dan–
Chanyeol mulai melepas sepatu Sehun. Melemparnya ke samping.
Menarik legging jeansnya turun dan membuka kausnya. Tangan Chanyeol yang terampil menelanjangi Sehun, sepasang tangan yang sudah menelanjangi banyak orang yang diinginkannya. Rasa cemburu menggigit hati Sehun. Tidak, jangan berpikiran ke sana.
Dalam sekejap pakaian yang menempel ditubuh Sehun hanya tinggal celana dalam hitam yang sesuai. Kakinya merenggang terbuka diatas kasur. Chanyeol masih berdiri menjulang disampingnya.
Tatapan mata Chanyeol berkelana dengan perlahan, sangat perlahan, menyapu tubuh Sehun. Rahangnya tampak mengeras ketika tatapannya jatuh pada tubuh Sehun, "Sangat sempurna."
Tatapan mata cemerlang Chanyeol hanyut diatas perutnya yang rata. Turun ke lekuk pinggulnya Chanyeol menjilat bibirnya sendiri. Sehun membayangkan lidah itu menjilat bibirnya. Tapi…tatapannya terus turun. Dan gairahnya ikut menurun
mengikuti tatapan Chanyeol.
Kakiku. Aku tak mau dia melihat kakiku.
Sehun tidak ingin Chanyeol melihat bekas luka yang masih menutupi betisnya. Bekas luka yang akan selalu menutupi kulitnya. Mengapa tadi Sehun tidak mematikan lampunya? Sehun selalu mematikan lampu ketika bersama Zitao, dan Sehun harusnya ingat untuk mematikan lampu ketika bersama Chanyeol.
"Jangan," suaranya menajam ketika Sehun mencoba meraih Chanyeol.
Chanyeol menangkap kedua tangan Sehun. Mendorongnya kembali keatas kasur. Masih dengan berpakaian lengkap,Chanyeol menurunkan tubuhnya ke Sehun.
"Jangan apa, baby? Jangan menatapmu?" bibir Chanyeol terbuka – bibir panas yang menggairahkan – menyapu bibir Sehun. "Jangan mencium? Karena itulah yang aku ingin lakukan. Aku ingin mencium setiap inci dari tubuhmu."
Jangan mengasihaniku.
Itu yang ingin Sehun katakan. Tapi Chanyeol sudah tidak menatap betisnya lagi. Chanyeol menciumnya dan menahan kedua tangannya. Sehun menyukai sensasi ketika pakaian Chanyeol menekan kulitnya. Dia menyukai sensasi ketika tubuh yang keras dan kekar itu di atas tubuhnya.
Kakinya terenggang menjauh. Pinggul Chanyeol menekan dan sesekali menggesekkan pusat gairah Sehun, dan rasanya nikmat. Sangat nikmat. Chanyeol akan membuatnya merasa lebih baik lagi. Sehun tahu pasti itu.
"Itulah tepatnya yang sedang aku lakukan, baby," kata-kata Chanyeol bergemuruh dibibir Sehun. "Aku menciumimu, dan aku mengambil...semuanya."
Chanyeol mengangkat kedua tangan Sehun ke atas kepalanya. Memegangnya dengan satu tangan. Kemudian tangan kiri Chanyeol turun sambil berkelok menelusuri tubuh Sehun. Udara yang dingin menyentak putingnya, membuatnya makin
mengeras.
Lalu Sehun merasakan mulut Chanyeol diputingnya. Rasanya bukan dingin, melainkan panas. Rasa panas yang sepertinya membakar tubuhnya dan sentakan lidah Chanyeol di putingnya terasa sangat nikmat.
Penis Sehun basah. Dia dapat merasakan spermanya membasahi celananya, dan Sehun ingin melepasnya. Sehun menginginkan Chanyeol masuk ke dalamnya –
"Aku akan melepas tanganmu, tapi jangan bergerak. Aku ingin menyentuhmu. Mencicipimu." Tangan Chanyeol menjauh dari tangan Sehun. "Aku ingin mengambilnya untukku."
Sehun akan kehilangan kenikmatannya juga. Chanyeol suka memegang kuasa dikamar tidur, seorang dominan, pemaksa dan–Bibir Chanyeol berjalan turun menciumi tubuh Sehun. Lidahnya menjilati kulit Sehun. Jemari Chanyeol meluncur dibawah tepian celananya.
"F*ck, yes, " gumam Chanyeol. "Kau terangsang karena aku."
Sehun tidak ingin menunggu lebih lama lagi. "Chanyeol, sekarang."
"Tidak." Chanyeol menarik celana Sehun turun melewati kakinya. Kemudian jemarinya meluncur ke pahanya. Menggodanya. Menyiksanya dengan gairah. "Aku telah menanti terlalu lama. Sudah kubilang, aku ingin mencicipi dan mengambilnya."
Seluruhnya.
Tangan Sehun mengepal, mencegahnya meraih Chanyeol.
Ini hanyalah hubungan seks.
Hanyalah hubungan seks. Mantra itu terbang keluar dari kepala Sehun bersamaan dengan detak jantungnya yang meningkat. Sehun harus berkonsentrasi pada saat ini, bukan masa lalu. Semuanya menjadi tercampur aduk ketika dia bersama Chanyeol. Ini bukanlah tentang cinta.
Hanya hubungan seks. Kenikmatan.
Jemari Chanyeol meluncur ke pangkal paha Sehun. Menarik penisnya. Lalu mengocoknya. Pinggul Sehun melengkung di atas kasur.
Aku ingin lebih.
"Chanyeol…" Sehun hampir tidak dapat bernafas untuk menyebut nama Chanyeol.
"Kau terlihat sangat menawan seperti ini…" Kata-kata Chanyeol begitu gelap, begitu dalam. "Sangat bergairah, siap untukku… hanya untukku."
Chanyeol menarik tangannya. Tidak, sial, Sehun sudah hampir sampai.
"Katakan bahwa kau hanya untukku, Sehun."
Matanya membuka. Sehun bahkan tak ingat pernah menutupnya.
"Katakan." Mulut Chanyeol turun ke arah pusat gairahnya. Bibirnya menekan bibir bawah Sehun, dan jika saja tangan Chanyeol tidak menahan pinggulnya ke kasur, Sehun mungkin akan melompat keluar kasur saat itu juga.
Tersentak oleh aliran listrik yang ditimbulkan lidah Chanyeol di kejantanannya. Kenikmatan berdenyut di sekujur tubuhnya ketika lidah Chanyeol bergerak. Tubuh Sehun menggeliat diatas kasur. Dia tidak mencoba menjauh dari Chanyeol. Sehun menginginkannya lebih dekat lagi. Jarinya meregang, merenggut seprai tebal, menyatukannya menjadi gumpalan di tangannya. Orgasmenya sudah dekat, sangat dekat –
"Katakan padaku, Sehun," tuntut Chanyeol. Sebuah peringatan kecil tersirat dalam nada suaranya. Peringatan yang akan membuatnya meragu. Posesif...liar… "Hanya aku."
Sehun melayang ditepian orgasmenya. "Chanyeol, aku ingin lebih –"
"Sial! Akan kuberikan kau segalanya."
Terdengar suara ritsleting dibuka. Chanyeol menurunkan tubuhnya ke arah tubuh Sehun. Mendorong kejantanannya masuk ke dalam lubang anal Sehun. Dorongan yang sulit, namun mantap.
Chanyeol mendorong lebih dalam, mengisinya dengan sepenuhnya, dan Sehun berhenti melayang. Kenikmatan membanjiri tubuhnya,terengah-engah saat jantungnya berdegup kencang, seolah-olah akan meloncat keluar dari dadanya. Sekujur tubuhnya meregang ketika orgasmenya menjalar ke seluruh tubuh. Sangat nikmat...begitu sempurna…terus berlanjut tanpa henti.
Chanyeol terus mendorong. Memegang kedua kaki Sehun, mengangkatnya lebih tinggi. Memberikannya kenikmatan lagi dan lagi hingga ia gelisah karena orgasme berikutnya sedang mendekat. Sehun masih merasa lemas karena orgasme yang pertama. Namun Chanyeol terus mendorong gelombang berikutnya, dan akhirnya ia berteriak. Sebuah teriakan terputus karena gelombang kenikmatan menderanya begitu kuat. Kemudian Chanyeol datang didalamnya. Semburan yang deras dan panas.
"Hanya…" Chanyeol bergumam.
Sehun tidak dapat mendengar sisa kalimatnya. Jantungnya yang masih berdegup kencang menenggelamkan kata-kata itu. Namun Sehun tahu kelanjutannya.
Hanya aku.
Tubuh Chanyeol masih gemetaran diatas tubuh Sehun. Dia sudah mencapai orgasmenya, Sehun merasakannya didalam, namun Chanyeol masih terus mendorong penisnya.
Kenikmatan itu tidak berhenti.
Sehun tidak pernah merasakan hal yang sama dengan orang lain. Tidak pernah sangat sangat menginginkan dan merasakan tubuhnya meledak dalam gairah, sebuah klimaks yang meremukkan badan dan diikuti dengan klimaks berikutnya. Tidak ada yang pernah membuatnya merasakan itu.
Hanya Chanyeol.
Sehun belum memberikan janjinya pada Chanyeol. Tapi kemudian ia sadar, ia tak perlu menjanjikan apa-apa. Chanyeol sudah mengetahuinya.
Hanya aku.
~oOOo~
To. Be. Continued.
~oOOo~
Hahaha apa ini? Ada kipas gak? Panas nih. Hahaha
How? Jadi dugaan pertama menurut kalian siapa penguntit Sehun?
Chanyeol? Atau detektif Jongin? Atau Minseok bisa jadi kan? Hahaha
Chapter kedepannya bakal ada pemain tambahan yang tadi sempet disebut Sehun dalam cerita. Dan dari ketiga nama orang yang Sehun sebut juga nanti bakal jadi kandidat tersangka loh.
Ditunggu aja alibi mereka semua mana yang bener-bener jadi penguntit dan terobsesi sama Sehun. Hahaha
Gimana kelanjutannya?
Review please~
Silent readers, tunjukkan wujud kalian dong~ hihi
sampe ketemu dichapter selanjutnya. Pai~ pai~
Big Thanks buat para review dichapter 1,maaf belum bisa bales satu-satu *bow*,
haeri20412 , ChieYHanHun , ohmysehun , Guest , Blue68 , exo-l , Kim Momote , Sekar Amalia , mlz , sita2312 , rifqi , sehuniebooty , rytyatriaa , Ubannya Sehun , kim sehyun96 , sehunskai, auliavp , Zelobysehuna , Yessi94esy , nin nina , ohhhrika , exobabyyhun , WuSehunLu , , AkaSunaSparKyu , levy95 , Michelle Jung , dan beberapa readers yang aku tahu mereka udah review sekalian di FF Fifty Shades Of Kim Jongin.
