[Squel-Chap2]Kesukaan Boboiboy terhadap permen membuat Fang gemas melihatnya. "Aku bosan lah, mau bermain?"/Sho-ai/FangBoy/OOC.

.

Permen

Warning : Summary gak nyambung. Sho-ai. OOC. Maenstream. Boring. Gaje. Typo. Dll

Disc : Animonsta

.

Fang berjalan santai dilorong sekolah yang menghubungkannya dengan taman belakang. Sekolah sudah sepi sejak lima belas menit lalu. Salahkan guru Papa Zola yang menyuruhnya membereskan gudang olahraga sendirian –dia ulangi lagi, SENDIRIAN! Dan membuatnya telat untuk menemui rival –ralat pacarnya untuk belajar bersama ditempat biasanya mereka berduaan. Mungkin kedengaran aneh, tapi setelah insiden dia mencium salah satu pecahan Boboiboy, tepatnya yang paling pemarah, Halilintar. Dia memberanikan diri, menyatakan perasaannya setelah para pecahan itu bersatu, dan siapa sangka jika cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.

Sungguh saat itu Halilintar benar-benar terlihat mengemaskan sampai-sampai tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencium bibir mungil itu –meski berakhir dengan tubuh hangus akibat serangan Halilintar. Dan sudah setahun ini mereka menjalin hubungan Break Streat alias diam-diam. Boboiboy sendiri yang memintanya, dan sebagai pacar yang baik tentu saja dia menyanggupi. Begitulah, cerita singkatnya.

Fang menatap sekeliling, manik violetnya menangkap sosok familiar duduk dibawah pohon rindang. "Hoi.." sapanya, yang disapa menoleh dan memberikan senyum lebar. Fang duduk disampinya, "Berpecah lagi huh?"

Pemuda bertopi miring itu tertawa menatap Fang. "Ehehe –Kedai sedang ramai waktu aku ambil buku tadi, tidak apa kan?"

"Sudahlah. Ayo mulai, mana yang tidak kau mengerti?" tanya Fang menyandarkan punggungnya pada batang pohon. Boboiboy Taufan mengangguk, segera mengeluarkan buku tulisnya dengan tangan kanan memegang pensil. Fang menjelaskan soal yang ditunjuk Boboiboy secara singkat dan jelas, walau begitu sesekali dia harus menghela napas karena mendapat gelengan tidak paham. "Bukan begitu, tapi begini" katanya mengambil alih pensil yang dipengang Taufan, membenarkan beberapa tulisan yang salah.

Boboiboy Taufan merengut, "Jelasin lebih detil dong, aku gak paham!" protesnya mengembungkan pipi chubbynya. Fang mencubit pipinya gemas. "Jangan memasang wajah imut kalau tidak ingin ku rape, ku ulangi lagi kalau tidak mengerti" kata Fang lalu menuliskan rumus. Mungkin jika Boboiboy didepannya tidak berpecah, sudah dipastikan Fang terkena serangan keris petir plus teriakan yang mengatainya mesum.

Tapi tidak untuk Boboiboy Taufan, entah kenapa mendengar perkataan Fang malah memunculkan ide–cukup ekstream–dikepalanya. Dia merogoh tasnya, Fang berhenti menjelaskan soal yang tidak dia mengerti dan menatapnya heran. Taufan menunjukkan permen pada Fang disertai kedipan jahil. "Aku bosan lah, mau bermain?" tanyanya membuka bungkus permen. Taufan mengigit permen itu sebelum memasukkanya kedalam mulut, mendekatkan wajahnya pada Fang.

Butuh beberapa detik bagi Fang untuk menyadari maksud dari pecahan Boboiboy yang paling ceria itu, seringai tipis muncul diwajahnya. Sungguh, bagi Fang, wajah Boboiboy yang makan permen itu sangat mengemaskan. Dia meraih tengkuk Boboiboy mengelusnya sejenak sebelum menarik kepala bertopi itu hingga bibir mereka bersetuhan. Ciuman yang awalnya hanya kecupan berubah menjadi lumatan sampai Fang menjilat bibir bawahnya. Dengan senang hati Taufan memberi akses, lidah mereka bergelut saling membelilit untuk memperebutkan permen. "Ukh.."

Taufan bisa merasakan tangan Fang mengerayanginya, membuka rompi dan melepas satu-persatu kancing seragamnya. Panik, Boboiboy Taufan mencoba mendorong tapi karena ciuman Fang yang semakin menuntut membuatnya kekurangan pasukan oksigen untuk mengeluarkan tenaga. Ciuman itu berhenti saat tubuh Taufan tertarik, membuat benang saliva terbentuk lalu putus karena jarak yang semakin jauh. "Dasar! Sudah kuduga," Halilintar selaku sang pelaku penarikan mendengus kesal. Sedangkan Taufan mencoba meraup banyak oksigen dengan mulut yang masih terdapat permen, wajahnya memerah dan pakaiannya sudah tidak karuan.

Fang menyeka mulutnya, mengganti posisinya menjadi berdiri. Dia menatap dengan seringai tipis pada Halilintar yang memberinya deathglare. "Hm? Kalau mau kucium tinggal bilang saja bukan?"

Semburat tipis terlihat diwajah Halilintar, tapi hanya sebentar karena tidak lama perempatan muncul dikeningnya. "Ggrr –kau benar-benar ingin dihajar!" seru Halilintar, terlihat kilatan petir ditangannya.

"KYAAA! ALIEN!"

Teriakan itu mengalihkan atensi ketiganya ke asal suara. Ada dua orang, berdiri didepan semak yang sebelumnya kosong. Gadis berambut diikat asal itu terlihat gelagapan, disampingnya gadis berambut tergerai menyembunyikan sesuatu dibelakang tubuhnya. Halilintar menatap curiga dengan mata menyipit. "Kami cuma numpang lewat kok," gadis berambut tergerai itu bicara santai. "Benar! Kami pergi duluan! Ayo, Shiro!" sahut satunya, menarik lengan gadis yang dipanggilnya Shiro hingga mereka menghilang dibalik pintu.

Taufan yang tadinya bengong segera membenahi pakaiannya. "Mereka Kakak kelas yang kembar itu kan? Kalau tidak salah.. Emm.." Taufan mencoba mengingat nama kedua orang tadi tapi nihil, dia benar-benar lupa meski sempat mendengar salah satunya menyebut nama. Sepertinya efek berpecahnya mulai terlihat.

"Aku curiga dengan mereka," kata Halilintar lalu mendengus, melupakan amarahnya tadi. Fang angkat bahu tidak peduli, bersyukur tidak jadi kena serangan Halilintar. "Sudahlah, ayo pulang."

"Eh? Tunggu, mereka tadi teriak alien kan?" kata Taufan, alisnya mengkerut. Halilintar mengangguk membenarkan. "Dan alien di Pulau Rintis cuma ada si Adu Du." lanjut Halilintar dengan pose ibu jari dibawah dagu menatap kearah semak-semak yang kosong.

Fang terdiam, menatap tanpa minat. "Kurasa mereka mengigau," sahutnya acuh sambil mengambil tas miliknya dan juga milik Boboiboy. "Sudahlah.. Ayo,"

"Ish, kau ini.."

"Hm, Apa? Mau bilang aku tampan huh?"

"Dasar Narsis,"

.

"Uwah, aku tidak tahu kalau ada pasangan sho-ai disekolah. Kau merekamnya kan, Shiro?" tanya seseorang pada kembarannya tanpa mengalihkan tatapannya, mengawasi kalau-kalau mereka ketahuan. Oh, ayolah siapa juga yang mau berurusan dengan para super hero itu, yang ada mereka langsung K.O sekali serang, plus ada Boboiboy Halilintar lagi. Kembarannya tersenyum puas, tidak lupa menekan tulisan save dilayar handycamenya. "Tentu saja, Hiko~ Ini akan jadi koleksi sho-ai real kita!" sahutnya senang.

"Hu? Kita? Kamu aja kali, aku bukan penggemar sho-ai" kata Hiko dengan watadosnya, membuat Shiro cemberut. Dasar Fujo gak ngaku, batin Shiro kesal. "Ah, kamu gak asik. Eh, kira-kira ada yang mau beli videonya gak ya?"

"Eh, mana-mana? Aku mau beli!" suara familiar yang bersemangat itu membuat mereka seketika merinding, dengan gerakan slow mereka menoleh kebelakang. Terlihat robot ungu mirip laba-laba yang mereka ketahui adalah bawahan Adu Du si alien kotak. "Boleh, kan? Kan? Kan?" kata Probe meniru logat bicara Yaya dengan wajah berseri(?).

"KYAAA! ALIEN!"

Yah, begitulah, beruntung mereka masih bisa mengelak tanpa luka –utuh men. Tapi.. Tunggu dulu, sejak kapan si Probe jadi Fujoshi?

-Fin-


A/N : Haduh, entah knp malah bikin nih sequel padahal uda niat buat fic bru*mewek*/Shiro : Lebay ah lu, siapa suruh bkin fic rated M –pkek lemon lgi, punyeng sndiri kan?*dilemparpanci*/

Ahahaha, abaikan yg diatas. Squel pun masih ada hubungannya sma permen jdi sekalian aja jdi stu dan fin dgn gaje(lagi), :3. Btw maunya ada interaksi Fang sma Gempa sih, tpi.. kyaknya gak cocok deh, klu posisi Halilin diganti sma Gempa, aneh2 gmna gtu :v #plak. Mungkn klu ada ide buat squel lagi. Dan maafkan daku jika ada typo nyempil sma crita yg gaje bin luar binasa. Oke. Trimksih buat yg udah baca dan susah2 review sma fav/fol. Trimksih,

Oh iya, maap gk bsa bls review, ternyata bka ffn di warnet itu gak enak :9