3%

Semogaaa suka.. ;)

Malam ini walaupun langit malam sangat cerah dan dipenuhi bintang-bintang serta bulan purnama yang bersinar. Tapi tidak untuk suasana hati Baekhyun yang sedang suram dan kelam. Gadis itu sedang terduduk dibalkon kamarnya. Dengan jus jeruk yang ada dimeja, dan tab yang ada ditangannya. Ia sangat marah setelah membaca artikel tentang pertunangannya yang baru saja terjadi jam 7 malam tadi. Begitu banyak artikel yang muncul seperti

'Pertunangan antar kalangan golongan atas'

'Harga Saham Wu Coorp yang naik ketika pertunangan terjadi' dan masih banyak lagi, tapi yang paling menarik perhatian Baekhyun adalah artikel mengenai 'Park-Kim Coorp yang membeli 3% saham Wu Coorp' tentu Baekhyun paham akan hal itu. Itu artinya, ia sekarang ia merasa seperti dijual oleh Ibunya. Saham 3% dan pertunangannya, adalah alasan untuk menambah pundi-pundi uang ibunya.

Baekhyun mendengus kasar, ketika di scrool down banyak komentar yang menyakitkan yang ia baca,

"Lebih baik mati jika hanya dihargai 3%"

"Apa yang bisa didapat dengan 3% saham? Hanya rasa malu ahhaha"

Aarggh,, Baekhyun teriak karna tak tahan dengan ocehan-ocehan yang lebih buruk lagi jika dibaca olehnya. Apa yang akan terjadi besok?

Berbeda dengan Baekhyun yang menghabiskan malam dengan melihat-lihat komentar tentang pertunangannya. Chanyeol melajukan jaguar sport miliknya menuju sebuah Tanah lapang yang sudah dipenuhi oleh para lelaki dan perempuan yang seusia dengannya. Chanyeol duduk di kap mobilnya, menunggu temannya, Jaebum. Dia ada janji untuk mengikuti racing dengannya, dan ini adalah balap liarnya yang terakhir. Dulu sewaktu di Busan, Chanyeol memang terkenal tukang balap liar disana, dan sekarang karna sudah kelas XII dan dia harus pindah ke Seoul, ia ingin berhenti dan fokus ke urusan sekolahnya. Seakan ia tidak peduli dengan Pertunangannya itu.

"Wohoo, ada yang melamun disini,." seseorang memukul lengannya, dan itu Jaebum..

"Telat.." desis Chanyeol "Jadi mana lawanku itu.." tanya Chanyeol

"Haaa, kau ini,, sabar sedikitlah.." ucap Jaebum, lalu datanglah Jinyoung, gadis itu langsung memeluk Jaebum dari samping dan mengecupi lehernya. Chanyeol hanya geleng-geleng kepala melihat itu.

"Hai, Chanyeol.." sapa Jinyoung setelah urusannya selesai "kau menetap disini..? di Seoul?" tanya gadis itu setelah melihat Chanyeol. Dan memberikan sekaleng cola untuknya

"Thanks.. Yaa, uri eomma yang menyuruh..." balas Chanyeol sambil menyeruput colanya

"Yakin dengan keputusanmu berhenti balap?" sekarang Jaebum yang bertanya..

"Iyaa aku yakin, ini yang terakhir.." balas Chanyeol mantap

BaiXian SHS adalah salah satu aset keluarga Wu Coorp. SHS bertaraf internasional hanya diisi oleh anak-anak dari golongan elite, atau anak-anak berotak cerdas yang mendapatkan beasiswa. Sekolah ini termasuk sekolah swasta yang paling banyak diminati, karna kelengkapan fasilitas dan kelayakannya terjamin. Dan kegemparan terjadi di SHS ini karna pertunangan Baekhyun. Semua anak disekolah ini memegang gadgetnya dan saling bertukar informasi yang didapat.

"Jadi benar, dia ditunangin.. hiii.." ucap gadis berkuncir satu

"Lihat-lihat.. 3% hahaa.."

Begitu banyak celotehan yang ada, untungnya itu tidak didengar Baekhyun, atau belum didengar gadis itu.

"Jadi bagaimana Baek?" tanya Kim Taehyung, Saat ini Baekhyun, Sehun, Taehyung, dan Kai sedang ada dikelas, hanya ada mereka 4.

"Apaa?" Baekhyun balik tanya dan fokus kembali dengan membaca komik shinchan kesukaannya.

"PERTUNANGANMU" tegas Taehyung

"Ahh pastinya aku menolak.. tapi nenek sihir itu gak akan tinggal diam," ucap Baekhyun.

"Terus kenapa kau terlihata marah kemaren pas dia meninggalkanmu?" tanya Sehun

"Aku hanya gak terima ada yang menolakku itu aja.." jawab Baekhyun santai.

"Dasar aneh.. Masa maunya nolak mulu giliran ditolak balik gak terima.." dan Baekhyun langsung saja melemparkan komik yang ada ditangannya kekepala Kai yang mengucapkan itu.

Kai mengaduh kesakitan, dan berniat untuk membalasnya

"Sehuniiiee lindungi akuuu..."

Diparkiran yang begitu luasnya Chanyeol memarkirkan motor ninja merahnya. Ia membuka helm dan menaruhnya. Mengambil sebuah kartu pelajar miliknya. Disana tertera kelas XII-1, 'okee, ke kelas XII-1' batinnya.

Ketika Chanyeol berjalan di lorong, tiba-tiba ada yang menabraknya dari belakang, ingin sekali Simon memaki orang itu tetapi ketika dilihat orang yang menabraknya itu seorang perempuan, ia berusaha menahan amarahnya yang sudah ada ketika mamanya menyuruhnya untuk bersekolah ditempat sama dengan gadis jutek itu. Baekhyun tentunya.

"Hey,sadar..." ucap Chanyeol pada gadis itu karna Dia itu hanya melihati dirinya dengan tatapan kagum.

"Haiii,, aku . Aku kelas XII-1. Kau anak baru yaa? Kok aku baru melihatmu disini? Kelas berapa?" standard cara-cara berkenalan, dan gadis itu mengucapkannya dengan nada yang centil, membuat Chanyeol bergidik ngeri mendengarnya. Sebenarnya sudah banyak cewek yang selalu berlagak imut didepannya tapi entah kenapa dia malah terlihat jijik jika ada cewek centil model begini.

"Iya, aku anak baru disini, permisi aku mau ketoilet ya.." alasan Chanyeol dan pergi meninggalkan gadis itu, tapi cara itu tak ampuh karna nyatanya gadis itu masih mengikutinya.

"Tau letaknya..?" tanyanya, ia bertanya untuk mengetes Chanyeol, karna lelaki remaja itu hanya berjalan lurus, padahal toilet itu ada di belokkan.

"Hem, tidak sih. Ini lagi mencarinya..." jawab Chanyeol santai. Gadis itu terkikik mendengar jawaban Chanyeol,

"Kau mundur dari sini, di belokkan itu dipojoknya ada toilet.." ucap Gadis itu. "Kau yakin tidak akan nyasar pas kekelas?" Tanya gadis itu lagi, dan Chanyeol memantapkan hatinya, menilai bahwa gadis ini selain centil tapi juga cerewet.

"Oh gitu, thanks yaa.. Aku pasti bisa sendiri.." balas Chanyeol dan pergi kearah yang di tunjukkan gadis itu.

Dikelas, tiba-tiba segerombolan anak perempuan masuk dan langsung mengerubungi tempat duduk Baekhyun, sedangkan gadis itu sedang asik membaca komiknya.

"Hay 3%" ucap seorang gadis yang berdiri dipaling depan gerombolan ini, sambil tersenyum meremehkan, Baekhyun hanya menatap malas pada gerombolan itu.

"Aku tau, anak anak dari kalangan atas seperti kita ini, pasti ada yang salah satunya dijodohkan, tapi aku tak menyangka pertunanganmu itu, hanya demi 3% saham" ucap Gadis itu dan seketika anak-anak yang lain tertawa. Sehun, Taehyung dan Kai sudah mempersiapkan hati dan diri mereka jika sebentar lagi ada pertarungan Baekhyun dan gadis menyebalkan bagi mereka Zhang Yixing, dan ini lebih dari pada adu mulut.

"Ah, daripada kau sibuk memikirkanku, lebih baik urusi nilai remedialmu itu. Kurasa sekolah ini tak akan meluluskan anak-anak yang nilainya hancur sepertimu." balas Baekhyun dengan santai, padahal dalam hatinya ia sudah menahan marahnya itu

"Hey, sepupu 3%, jangan besar kepala. Aku sedang membicarakan pertunanganmu bukan nilai-nilaiku.." geram Yixing.

"Aku juga sedang membaca komikku ini bukan membicarakan pertunanganku.. Oh ya sepupu, seharusnya kau ikuti saranku itu, karna dikeluarga Wu tidak pernah ada sejarahnya remedial dalam semua pelajaran... meskipun kau lahir dari keluarga Zhang," Yixing kalah telak karena ucapan Baekhyun wajahnya sudah memerah karna malu.

.

.

Chanyeol masuk kekelas dengan malas karna yang ada dikelas itu sedang panas karna adu mulut Baekhyun dan seorang gadis centil yang membantunya menemukan toilet. Tanpa mempedulikan mata-mata yang menatapnya intens

"Apa tempat duduk ini kosong,?" tanyanya pada Seorang murid berkaca mata yang duduk dibelakang.

"Yaa, disana kosong." jawab pria culun itu sedikit tergagap karna ia dapat melihat bagaimana tajam dan menusuknya mata Baekhyun yang melihat kearahnya, tepatnya ke Chanyeol. Lalu tanpa dipedulikan Chanyeol, ia duduk dengan santai. Duduk dikursi didepan cowok berkaca mata itu. Dan berbalik kearah cowok itu lagi "Namaku Chanyeol, Park Chanyeol." ia mencoba ramah, setidaknya ia ingin mendapat teman.

Chanyeol yang merasa tidak dibalas mengikuti arah tatapan lelaki berkaca mata itu. Dan ditangkap oleh matanya bahwa Baekhyun sedang menatapnya. Ia balas melihati mata Baekhyun yang ditujukan padanya.

Baekhyun amat terkejut melihat Chanyeol yang ada dikelasnya, 'pencobaan apa lagi ini tuhan,' keluhnya dalam hati. Mata itu menunjukkan bahwa ia meminta penjelasan. Tapi mata Chanyeol mengartikan 'cari tahu sendiri' sambil tersenyum miring. Sedangkan Yixing, mata itu tetap memancarkan kekaguman dirinya kepada Chanyeol.

Mood Baekhyun langsung tiarap. Tanpa peduli bel yang sudah berbunyi, tanpa peduli tatapan khawatir dari Sehun, Taehyung dan Kai serta tatapan keingintahuan yang besar dari Yixing dan siswa yang lain. Gadis itu membawa Chanyeol lari, menggengam jemari lelaki itu.

"Ikut aku sekarang...!" desis Baekhyun, dan Chanyeol hanya ikut saja kemana Baekhyun membawanya. Entahlah, ia hanya malas berdebat dengan gadis yang dinyatakan sebagai tunangannya ini.

Baekhyun meluapkan semua kekesalannya pada sebuah samsak tinju. Dengan tangan yang hanya dibalut dengan kain Ia terus memukuli samsak yang tidak bersalah itu. Memukuli, dan menendang tiada henti dia lakukan, walau tangan dan kakinya sudah sakit, walau sekujur tubuhnya sudah mengeluarkan banyak keringat sampai baju sekolahnya basah.

Kekesalannya itu bermula ketika pagi tadi ia membawa Chanyeol ke ruang kepala sekolah BaiXian high school. Menemui kepala sekolah yang juga sudah dianggap paman olehnya.

Diruang kepala sekolah Baekhyun menatap tajam pada pria berumur 35 tahunan, bernama Cho Kyuhyun yang menjadi kepala sekolahnya.

"Ahjushii, kenapa dia bisa masuk kesekolah ini? Wae!" Teriak Baekhyun, Ia sangat marah. Cho Kyuhyun menatap Baekhyun dengan tatapan sedikit terusik. Dan jujur ia terganggu dengan kehadiran Baekhyun yang memang sudah dapat dipastikan akan marah-marah seperti ini.

"Buat apa kau disekolahkan kalau tidak mengerti peraturan, tak sopan. Ketuk pintu sebelum masuk.." Kyuhyun berbicara dengan santai.

"Haaah, jawab saja, kenapa dia bisa masuk ke sekolah ini? Kenapa bisa dikelasku?" balas Baekhyun, Chanyeol tersenyum miring melihat Baekhyun yang begitu kesal. Wajah gadis itu sampai memerah menahan amarahnya, dan sedari tadi Chanyeol perhatikan Baekhyun menggigiti bibir bawahnya sampai memerah juga.

"Kenapa kau menanyakan padaku kalau kau sudah tau jawabannya..." Kyuhyun mendelik tajam pada Baekhyun.

"Nenek sihir itu? Haaaa, sial. Keluarkan dia sekarang.. Ayolah Ahjushiii, keluarkan dia. Atau pindahkan kesekolah yang lain, Kau kan banyak koneksinya disekolah lain..."Baekhyun mencoba merayu, Chanyeol mendengus sambil tersenyum makin lebar mendengar nada manja yang keluar dari mulut Baekhyun.. 'Ternyata bisa juga dia merengek' Batin Chanyeol.

"Saya tau, sekolah ini nantinya akan menjadi milikmu. Tapi itu nanti, selama saya yang menjadi kepala sekolah disini, ikuti aturanku.."

Baekhyun makin kesaal sekali, mendengar jawaban itu.

"Ahjusshiiii, anda jangan membuat saya semakin kesal ya, Anda itu cuma pesuruh kakek, untuk jadi kepala sekolah disini.."

"Aah, saya terluka mendengar itu, tapi saya senang kamu mengetahui jabatan saya disini, jadi silahkan kau keluar, karena selain sudah jam pelajaran, saya harus bekerja" ucap Cho Kyuhyun sambil tersenyum manis, sambil tangannya menunjuk pintu, "Dan untukmu Chanyeol, cobalah untuk bertahan disini.." sekali lagi Kyuhyun mengucapkannya dengan tersenyum.

Baekhyun semakin gencar untuk memukuli samsak itu.

"AAARGGGGHHH DAMN IT...!" Teriak Shireen dan memberikan pukulan yang terkencang dan itu membuat pergelangan tangannya sakit yang amat sangat. Lalu ia menjatuhkan tubuhnya kelantai,

"Kenapa aku sial sekali sih,? sudah punya mama kayak nenek sihir. Dijodohin, pertunangan nya cuma dihargai 3%, dianya sekolah disini, sekarang tangan pun gak memihak, dia malah terkilir..." ia menggerutu saking kesalnya, Baekhyun sampai ingin menangis tapi ia tahan air matanya.

"Kalau kau menangis, kau kalah" ucap Baekhyun sambil menengadahkan wajahnya agar air matanya tidak keluar.

Ia tidak boleh kalah dari Heechul, dan semua orang yang menekannya pada pertunangan ini. Tapi tanpa Baekhyun sadari bahwa bukan hanya mereka yang menekan Baekhyun, bahkan benang merah itu terikat jelas bernama takdir diantara Baekhyun dan Chanyeol, tunggu saja.

Baekhyun keluar dari ruangan serbaguna disekolahnya itu dan bersiap untuk pulang. Ia tidak masuk di semua jam pelajaran pada hari ini, dengan kata lain ia membolos dan memilih diruangan itu berusaha menghilangkan rasa marahnya.

Sambil membalas chat dari Sehun yang menanyai keberadaannya,karna tangan kanannya terkilir ia agak kesulitan membalas chat itu dengan tangan kiri. Ia terus berjalan tanpa memperhatikan jalan. Sehingga ketika sebuah kaleng yang ada didepannya tak terlihat ia injak, ia kehilangan keseimbangan. Tepat waktu, ada sebuah tangan yang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh

"Gomaa..." ucapannya terhenti saat kepalanya mendongak dan melihat Chanyeol lah yang membantunya

"Lepass.." Chanyeol langsung melepaskannya setelah mendengar desisan Baekhyun. Ia sangat heran dengan mood Baekhyun yang selalu buruk jika bertemu dengannya, kalau begini bagaimana caranya ia bicara?

"Hey, tunggu.." panggil Chanyeol karena Shireen langsung ingin pergi, Baekhyun terdiam dan mencoba mendengarkan walaupun hatinya ingin sekali berteriak keras pada Chanyeol.

"Dari awal ketemu, kita udah kayak musuh bebuyutan, padahal kita belom kenal.."

Baekhyun berbalik dan menatap Chanyeol datar. Menekan egonya yang berkata 'Lari, Pergi dari sini'

"Oke, ke intinya aja,,, Pertunangan ini kenapa kau tak bias menganggap ini hal kecil..? Kenapa kau menyiksa diri sendiri?"

Baekhyun menajamkan ujung matanya, menatap Chanyeol dengan tajam, tapi Chanyeol terdiam tanpa ekspresi, sebenarnya lelaki itu menunggu jawaban Baekhyun.

"Memangnya kau bisa mengangap ini hal kecil haa? Kenapa kau bisa menganggap pertunangan ini hal kecil,? Ini menyangkut masa depan kita nantinya..." Chanyeol terdiam sejenak, menarik napas dalam dan,

"Yaa, aku bisa menganggap ini cuma hal kecil," ucap Chanyeol dengan mantap,

"Denger, mungkin ini akan berpengaruh sama masa depan kita, tapi itu nanti. Sekarang yaa kita lakuin aja yang bisa kita lakuin tanpa menyakiti diri sendiri.." ucap Chanyeol, yaa dia tau apa yang Baekhyun lakukan di ruang serbaguna tadi, karna ia pun ikut membolos. Perhatian matanya terfokus pada tangan kanan Baekhyun.

"Tangan ini, tak seharusnya kesakitan kan?" tanya Chanyeol sambil mengusap lembut tangan kanan Baekhyun yang entah sejak kapan sudah dipegangnya karna Baekhyun pun tidak sadar. Dan sepertinya itu juga gerakan refleks dari Chanyeol karna melihat betapa kerasnya Shireen memukul samsak pasir itu.

Baekhyun langsung menyentakkan tangan Chanyeol. Dan terdiam, ia benar-benar tak bisa menjawabnya. Ia lalu ingin bergegas pergi.

"15.000 orang" Baekhyun lagi-lagi terdiam ditempatnya ketika ia sudah ingin pergi meninggalkan Chanyeol.

"3% itu juga milik 15.000 orang yang bekerja untuk Park-Kim dan Wu Grup dan walau hanya 3% itu berpengaruh buat mereka.." ucap Chanyeol lalu dia melangkah pergi, meninggalkan Baekhyun yang seketika merasakan pusing yang amat sangat.

Baekhyun sekarang sedang duduk terdiam dibalkon kamarnya. Wajah cantiknya terlihat datar, matanya penuh kekosongan, pikirannya jauh melayang, mengingat perkataan Chanyeol.

"3% itu berpengaruh untuk 15.000 orang.. Aaaahh,," Baekhyun mendesah gelisah saat ini. Walaupun ia terlihat dingin dan tak tersentuh diluar namun ia memiliki kepedulian yang besar, apalagi menyangkut orang-orang yang bekerja diperusahaan yang didirikan kakeknya ini.

Ingin sekali rasanya Baekhyun membenturkan kepalanya kedinding, tapi itu bukan gayanya.

Baekhyun menengok kebelakang saat dia merasakan ada seseorang yang datang kekamarnya. Dilihatnya Heechul sedang menatapnya dengan dingin, tatapan yang selalu dia dapatkan dari wanita berumur 40 tahun itu ketika dia sedang marah padanya.

"Apa yang kau lakukan pada acara makan malam itu..?" tanya Heechul langsung

"Penolakan? Apa kau pikir kau bisa melakukan apa saja yang selalu kau mau lakukan, dan semua yang kau mau kau dapatkan.? Jangan seperti itu, ketika kau dilahirkan didunia ini, hidup kau seluruhnya milik Wu Coorp.." Ucap Heechul panjang lebar. Dan Baekhyun hanya menghela napas panjang mendengar ucapan itu.

"Bagian terakhir itu, udah ribuan kali aku denger sejak aku lahir.."

"Kalau kau sudah sering mendengarnya bahkan ribuan kali, seharusnya kau bisa lekatkan kata-kata itu dalam pikiranmu.. Aku sebagai ibumu tak pernah merasakan penolakan yang sangaat kurang ajar seperti kemarin, kau membuatku malu.," omel Heechul dengan nada yang lebih kencang. Ini adalah amarah yang Heechul tahan, dan reaksi Baekhyun? Ia hanya memandang Heechul dengan santai. Ia terbiasa dengan Heechul yang bahkan pulang hanya demi memarahinya.

"Eomaa tuh kalau marah bisa lebih ontime? kejadiannya itu udah 3 hari yang lalu.. Kalau kayak gini sih basi banget, eomaa.." ucap Baekhyun tanpa ada rasa takut sedikitpun dengan amarah Heechul yang memuncak mendengar itu. Padahal Baekhyun sangat amat tau bahwa Heechul pergi untuk urusan bisnisnya ke Singapore setelah malam itu.

"Kau tau bahwa banyak orang yang bergantung pada Wu Coorp, kenapa kau bersikap egois seperti ini Byun Baekhyun...?"

"3% itu, seharusnya pertunangan ini bisa menghasilkan lebih dari 3% kan, aku sudah lelah eomma, aku ingin tidur.." ucap Baekhyun, dan dia melangkah ke tempat tidurnya, menarik selimutnya dan mencoba tertidur.

Heechul menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak perempuannya itu.

"Aku akan membuat pertemuan ulang dengan keluarga Park, Aku harap kau merenungkan ini, banyak orang yang menggantungkan hidupnya padamu sejak kau lahir, saat kau terjatuh, bukan hanya kau yang merasakan sakitnya. Jadi berlakulah seperti anak konglomerat yang terpelajar." Ucap Heechul lalu berbalik pergi meninggalkan kamar Baekhyun.

Baekhyun membuka selimut yang menutupi wajahnya, rasanya pengap dan sesak, tapi rasa sakit didadanya lebih besar.

"Jangan nangis Baek..."

Dikediaman Park

Setelah makan malam, Chanyeol langsung kembali kekamarnya. Merebahkan tubuhkan dikasur yang sangat empuk itu. Pikirannya jauh melayang pada waktu pesta ulangtahun Baekhyun.

Sore itu Kim Jaejong dan Park Yunho mengajak Chanyeol untuk acara ulang tahun anak teman mereka, dan tentu saja menyembunyikan sebuah rencana besar yang ada. Didalam perjalanan Chanyeol hanya terdiam, sesekali berbicara jika ditanya. Rasa lelah terlihat jelas diwajah tampannya itu. Seketika ia berkomentar ketika ia ingin tau siapa anak teman orangtuanya itu.

"Mom, harus banget yaa pakai jas ini? Memang dia anak presiden harus memakai baju kayak gini" keluh Chanyeol ketika mereka sudah ingin sampai di tempat acaranya.

"Sayaang, emangnya kau mau pakai apa kesana? Kaos dan jeans belelmu?" tanya Jaejong disertai senyuman keibuan

"Itu lebih baik mom," jawab Chanyeol santai dan itu membuat Yunho berkomentar.

"Kau itu, walaupun tampan kau harus bisa menjaganya. Kalau cuma jeans belel andalanmu bagaimana bisa meneruskan perusahaan?"

"Dad, stop it.. Aku baru pulang dari Busan kemarin, I'm still tired okay dad..." Ia masih kesal karna dengan tiba-tiba kedua orangtuanya ini menyuruhnya pulang dan bersekolah di Seoul padahal ia sudah kelas XII hanya menunggu satu tahun lagi agar ia bisa terbebas dari masa SMA.

"Kami menyuruhmu pulang juga karna kami tidak ingin kau salah langkah Chanyeol, ikut balap liar tiap malamnya, memangnya kami tidak khawatir.." omel Jaejong

"Maafin Chanyeol mom, Mianhae jebal..." ucap Chanyeol dan tersenyum dengan manisnya.

"Maaf diterima, nah sekarang kita sudah sampai.." Ucap Yunho

Mereka masuk kedalam hotel berbintang lima yang sudah jelas-jelas sangat mewah dan megah bergaya klasik eropa. Mereka dibawa seorang pelayan untuk mengikutinya. Mereka masuk kedalam aula hotel itu. Elegan, glamor dan mewah serta mahal. Itulah pendapat Chanyeol tentang pesta ini.

Orangtuanya sedang mengobrol dengan relasi perusahaan mereka, Chanyeol hanya tersenyum ketika dirinya dibawa-bawa dalam percakapan antar orang dewasa itu. Meskipun dari kecil orangtuanya sudah memberitahukan bahwa jika sudah dewasa nanti perusahaan akan ada dibawah kuasanya. Tapi sejak kecil pula ia sudah tidak tertarik. Menurutnya bekerja dibalik meja, didepan komputer itu sangat membosankan. Tidak ada tantangannya. Adrenalinnya sama sekali tidak terpacu, Maka dari itu sejak JSH, ia memilih tinggal di Busan dirumah Kim Junsu, adik dari ibunya, tanpa pengawasan orangtua kandung, itulah yang membuatnya menyukai balap liar setiap malamnya. Dan hanya balap liar.

Chanyeol duduk terdiam saja, dia bosan dengan acara ini, Walaupun banyak artis yang diundang, tetap saja tidak menarik baginya, tetapi setelah ada seorang gadis bergaun merah berdiri diatas panggung dan meniup lilin. Entah kenapa matanya tidak bisa lepas dari gadis itu, terutama ketika gadis itu memainkan piano. Seolah diruangan ini kosong, tak ada yang mengisi, hanya ada Chanyeol dan gadis itu.

Pertemuan pertama mereka sangat tidak ditentukan. Dan Chanyeol tersenyum ketika mengingat itu, dalam hatinya ia sangat penasaran bagaimana Baekhyun, gadis yang ditunangkan dengannya itu tersenyum padanya. Karna selama 4 hari sudah bertemu dengannya gadis itu sama sekali tidak pernah bersikap ramah pada Chanyeol.

Lalu pikirannya teringat lagi ketika dirinya yang dengan sengaja mengikuti Baekhyun keruang serbaguna itu,

'Kalau kau menangis, kau kalah'

Ucapan Baekhyun itu walaupun seperti bisikan tapi sangat bisa terdengar oleh Chanyeol, Dia bingung pada gadis itu, kenapa Baekhyun bisa segitu keras kepalanya. Hingga sebuah pemikiran menyergap dikepala Simon..

'Bagaimana kalo Baekhyun si gadis 'sok' itu menangis?'

Tbc ^^

Iya maaf yaa, aku ceroboh sampe ada tokoh lainnya, ohya ini cerita sendiri, buatan aku. Buka nge-copas dari manapun.

Terimakasih buat yang udah ngereview : Mislah , Pcy's , bebek , Baekkiechuu , Light-B

Hehehe Review kalian berharga buatku, ^^ follow dan fav juga sih hehehehe love love love ^^