"Khas dari seseorang yang memiliki gelar 'Ratu terkuat'." Gumam Alfred, "seperti Ace of Club katakan sebelumnya, mungkin saja wanita itu akan memukul sahabat lamanya dengan wajan panasnya jika 'dia' kembali dengan wajah idiotnya itu." kekehnya.
Yang sendari tadi mendengarkan hanya bisa mengernyitkan dahinya, lalu akhirnya ikut terkekeh pelan, "benar juga."
Well, seandainya saja itu benar—
"Kita akan menyelesaikan ini"
.
.
THE WHITE JOKER
.
Hetalia : Axis Power © Himaruya Hidekaz
Saya tidak mengambil keuntungan dalam kisah ini.
.
.
.
.
.
Summary :
Tidak ada yang mengetahui secara pasti tugas apa yang selama ini telah diemban para 'Joker'. Tetapi sebagian besar orang percaya, bila mereka telah menjaga kestabilan dari keempat kerajaan yang menguasai belahan bumi ini sejak dunia ini lahir. Namun, sayangnya tidak ada yang mengetahui wujud ataupun keberadaan mereka. Sehingga, sebagian besar dari mereka hanya menganggap 'Joker' sebagai mitos belaka.
.
.
Warning!
CARDVERSE!AU, Cerita akan melenceng dari yang diduga pembaca, OOC mungkin? IC mungkin?, Yaoi, Pair tidak diduga, Typo bertebaran, dan bahasa yang membuat sakit mata. OC hanya digunakan untuk 'memperpanas' cerita saja.
.
.
.
Pair : Ruspruss, AusHun, USUK, dan pair lainnya.
.
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
Chapter 2 : Gilbert
.
.
Dunia ini terbagi atas empat kerajaan yang menguasai seluruh daratan dan lautan dimuka bumi ini, keempat kerajaan tersebut yakni 'Kingdom of Heart', 'Kingdom of Spade', 'Kingdom of Club' dan 'Kingdom of Diamond.
Masing-masing dari keempat kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang 'King', 'Queen', 'Jack', dan 'Ace'. Mereka adalah orang-orang yang dianugerahi oleh Tuhan untuk melindungi masing-masing kerajaan.
Dan mereka dapat dikenali dengan melihat sebuah simbol Negara dan sebuah huruf bertuliskan 'K' untuk King, 'Q' untuk Queen, 'A' untuk Ace, dan 'J' untuk Jack yang muncul dibagian tubuh mereka.
.
'King' merupakan orang yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan sebuah Negara dengan kekuatan 'misterius' mereka. Setiap 'King' bertanggung jawab atas kerajaan, dan merupakan kepala Negara itu sendiri. 'King' memiliki item/senjata khusus yang mereka bawa kemana-mana juga memiliki kekuatan luar biasa ketika mereka dalam keadaan terdesak. Mereka tidak harus menikahi 'Queen' untuk memimpin kerajaan.
'Queen' merupakan seseorang yang bertanggung jawab sebagai pendamping Raja dalam memimpin kerajaan. 'Queen' merupakan penasihat penting bagi seorang 'King', dan penguasa kedua setelah 'King'. Seperti 'King', seorang 'Queen' tidak harus menikahi 'King'.
'Jack' merupakan seseorang yang menjadi tangan kanan dari seorang 'King', bekerja sebagai seorang 'Duta besar' untuk kerajaan mereka dengan kerajaan lain. Ia bertugas melindungi 'King' dan 'Queen' dalam keadaan terdesak.
'Ace' adalah seseorang yang bertugas mengawasi jalannya pemerintahan. 'Ace' merupakan tangan kanan dari 'Queen' dan bertindak sebagai 'polisi kerajaan'
.
.
—Dan 'Joker'?
Tidak ada yang mengetahui secara pasti tugas apa yang diemban para 'Joker', tetapi sebagian besar orang percaya bila merekalah yang menjaga kestabilan dari keempat kerajaan yang menguasai belahan bumi ini. Namun, sayangnya tidak ada yang melihat, ataupun mengetahui secara pasti dari keberadaan mereka sehingga menganggap 'Joker' sebagai mitos belaka. Namun, kenyataannya, 'Joker' yang telah menciptakan senjata yang digunakan para 'King', 'Queen', 'Jack', dan 'Ace' dan mampu melihat masa depan dan masa lalu secara bersamaan.
Berbeda dengan 'King', 'Queen', 'Jack', ataupun 'Ace' yang berdiri tegak mengawasi kerajaan mereka didepan layar, para ' Joker' mengawasi keempat kerajaan dari balik bayang-bayang kegelapan.
Tanpa 'Joker', keempat kerajaan akan mengalami 'kehancuran' dalam endless time.
.
.
.
.
.
.
"aku memang sangat merindukannya, tetapi dia lebih—tidak, justru ia membutuhkannya."
—Ludwig to Elizaveta
.
.
Tap-tap-tap
"Ludwig! Ivan! Jangan tinggalkan aku!"
"Kalau kau takut, sebaiknya kau kembali ketempat Francis saja, Alfred!"
"Aku t-tidak t-takut,kok! Hantu itu tidak nyata, Haha! Aku kan HERO!"
"kalau kau adalah hero, kenapa kakimu bergetar!? Dan jangan tarik bajuku, bodoh!"
Ludwig mendengus kesal melihat Alfred sendari tadi terus menerus berteriak memanggilnya, bahkan menarik bajunya. Pemuda berkacamata itu terus menerus menatap sekitar dengan waspada. Setiap ia menarik lengan baju Ludwig, semakin kasar pula Ludwig menepisnya, "dasar penakut!"
"aku tidak takut!" Jawab Alfred dengan kesal, " Bisa saja ada mahluk-mahluk asing yang muncul dari balik bayangan gelap itu!" Alfred kembali terhasut seraya menunjuk kearah lorong tak berujung didepannya, "tidak mungkin aku menghancurkan tempat ini dengan kekuatanku! Kita bisa terkubur hidup-hidup disini!"
"Kita berjam-jam melewati lorong tak berujung ini, mungkin saja ini jebakan hantu!" tambahnya mencoba meyakinkan kedua sahabatnya.
"Tidak ada yang namanya hantu disini, Alfred! Atau, aku tidak akan segan-segan mengikatmu dan meninggalkanmu sendirian!" ancam Ludwig, "lagipula, Francis akan menghubungi kita lewat transmisi pikiran bila ia dan Arthur menemukan sesuatu."
"Tapi—"
Aura membunuh begitu terasa dibelakang mereka.
"bisakah kalian diam? Kita tidak akan menemukannya jika kalian seberisik ini." Tukas Ivan dengan nada datar, namun aura disekelilingnya mengatakan 'Aku akan membunuh kalian jika kalian lebih berisik dari ini.'
"Dan Alfred, tidak ada hantu disini." Tambahnya.
Keduanya mengangguk ragu sembari kembali berjalan mengekori Ivan. Suasana hening yang hanya diisi oleh suara langkah kaki dari tiga raja tersebut. Berbeda dengan Ivan yang tenang dan Ludwig yang sendari tadi menerangkan sekitar mereka dengan sihir apinya, Alfred justru memandang waspada sambil menggenggam sebuah handgun.
Ini benar-benar tidak ada habisnya,hanya ada tangga menuju kebawah, serta lorong gelap yang seakan tidak memiliki ujungnya. Mereka seakan terus turun memasuki perut bumi—
"honhonhon, Apa kalian bisa dengar aku?" suara baritone pria memecahkan keheningan sekitar mereka
Wajah pucat serta berkeringat dingin, Alfred menodongkan handgun miliknya kesegala arah,"—H-H-H-H-HANTUNYA BERSUARA SEPERTI FRANCIS?!"
"H-H-HAN….HANTU?!" ucap Alfred dengan gagap.
"BLOODY HELL, ALFRED! KAMI BERBICARA LEWAT TRANSMISI PIKIRAN, BODOH! INI KAMI, ARTHUR DAN FRANCIS!" Suara baritone pria sebelumnya berubah menjadi suara yang lebih ringan, dengan sedikit bentakan kasar
"Arthur?" ucap Ivan heran tidak mengubris Alfred, "ada apa?"
"aku menemukan sebuah pancaran sihir miliknya." Jawab Arthur, "dan semakin kuat, kalian sudah dekat!"
"benarkah?" Ludwig memastikan.
"—menurut eyebrow demikian. Apa kalian lupa, aku hanya sebagai penghubung saja." Suara berubah menjadi milik Francis, "Lalu—"
"—YOU FROG! AKU BELUM SELESAI BERBICARA!" suara Francis kini berubah menjadi suara Arthur dan menggema dikuping ketiganya. Suara yang begitu kencang sampai-sampai membuat ketiganya terkejut bukan main. Lalu berubah menjadi adu sumpah serapah yang dilontarkan dengan sangat indah oleh 'Queen of Spades' dan 'King of Diamond'
"BISAKAH KAU TIDAK TERIAK, ARTHUR?!"
"KAU DULUAN YANG MEMOTONG PEMBICARAAN, GIT!"
"BUKANNYA KAU DULUAN, YA?!"
"KAU DULUAN, FROG!"
"EYEBROW!"
"MESUM!"
"PENGHANCUR CITA RASA MAKANAN!"
"A—"
"Artie! Francis! Kalian ingin membuat kuping kami sakit, ya?!" potong Alfred Lalu pandangannya kini beralih kearah Ludwig yang tengah menghela nafas dan kearah Ivan yang tengah memasang wajah serius, "—Ivan?"
Tidak merespon, Ivan segera berlari menjauhi Alfred dan Ludwig. Langkah kakinya terus tertuju kearah lorong gelap didepannya, seakan akal pikirannya dikalahkan oleh sebuah wajah yang terus-menerus menghantuinya setiap nafasnya.
"IVAN!" teriak Ludwig mencoba mengejar Ivan, "ALFRED, JANGAN DIAM SAJA!" tukasnya tanpa menengok kearah Alfred yang masih terdiam lalu berakhir ikut mengejar juga.
.
.
.
.
.
Ivan terus berlari sekuat tenaga sembari membayangkan sesosok bermata merah yang sangat ia rindukan, nama yang tidak pernah sekalipun keluar dari bibirnya. Serta sekelebat dari pecahan saat-saat terakhirnya bersama sang pemilik mata merah itu.
-flashback-
"TIDAK, GILBERT! AKU MELARANGMU UNTUK LENYAP! TIDAK, KUMOHON JANGAN LAGI. SUDAH CUKUP AKU MENDERITA LEBIH DARI INI! TUHAN BOLEH AMBIL APAPUN DARIKU, TAPI JANGAN DIRIMU!" Bentak Ivan sembari memeluk erat sesosok pemuda albino yang tubuhnya kini sayup-sayup menghilang. Ruang rahasia tempatnya bersembunyi bersama pemuda tersebut menjadi satu-satunya saksi bisu keberadaan mereka. Kedua bola mata merahnya sudah menampakkan kehampaan.
Ivan sangat takut, dan ketakutannya akan hari ini benar-benar terjadi. Ia sangat ketakutan.
Kenapa ia harus hidup ditengah-tengah peperangan? Kenapa ia dan pemuda itu harus terlahir sebagai seorang musuh? Kenapa ia selalu diselubungi ketakutan?
"—Kenapa? Kenapa kau sangat menginginkan kematian, Gilbert? Aku sudah katakan berkali-kali, aku tidak akan membiarkanmu mati!" ucapan sedingin es, menusuk hati pemuda albino tersebut.
"kenapa?! Kenapa kau menerima hukuman King?! Kenapa kau tidak menghindar?! Kenapa?!"
Kenapa? Kenapa harus dia yang mengalaminya?
"K..Kenapa… Kau peduli?"
"Aku tidak ingin kehilanganmu!"
Gilbert merasa seperti berhadapan dengan Ludwig kecil, dimana ia selalu merengek meminta perhatian lebih kakaknya,"i..itu tidak… beralasan, I—"
"Aku tidak peduli!" potong Ivan dengan cepat., "Aku hanya ingin dirimu!" ia kembali mengeratkan pelukkannya layaknya seorang anak yang kehilangan ibunya.
"I-idiot." Gumam Gilbert, "Ja.. Jangan…. Me…nyia-nyiakan wak…tu..mu… untuk mu..suhmu sen…diri." Suaranya semakin mengecil, tangannya berusaha menyeka air mata yang keluar dari mata 'penerus tahta 'King of Club'. Nafasnya semakin melemah, ia tahu sebentar lagi saatnya ia terlepas dari penjara kerajaan bersaju 'Kingdom of Club' sebagai tahanan perang.
Gilbert dapat melihat gelagat Ivan yang menjadi aneh. Mulutnya mencoba mengatakan sesuatu, mencoba melirik Gilbert sekali lagi dan akhirnya mengeluarkan suara.
"I—"
-end flashback-
Lamunan Ivan terhenti ketika la memasuki sebuah ruangan cukup besar yang dikelilingi oleh Kristal merah yang menyala menerangi ruangan tersebut.
"I-ini?"
Ruangan yang tampak seperti sebuah aula istana, dengan huruf-huruf bercahaya dengan aksen unik yang nampaknya merupakan sebuah mantra ditiap-tiap dinding ruangan tersebut. Pilar-pilar yang dipenuhi Kristal merah bercahaya, dan lima singasana mewah yang mengitari sebuah altar ditengah-tengah ruangan tersebut.
Ruangan yang aneh. Sangat aneh.
Ivan melangkahkan kakinya mendekati altar tersebut, dan menemukan sesosok yang sangat ia rindukan terbaring dengan tenang. Kulit porselen yang masih seperti terakhir ia ingat, tubuhnya terbalut jaket berwarna merah dan hitam serta jeans yang melekat dikakinya. Helaian rambut putihnya tampak tidak pernah tersentuh oleh siapapun, dan kedua mata yang ia yakini berwarna merah kini tampak tertutup.
Ia terlihat sangat damai. Tampak sangat tidak terusik sama sekali.
Tertidur selama ini—
Ivan terdiam, lalu sedikit tersenyum seraya menyentuh pipi sang albino dengan pelan, ia berusaha meyakinkan dirinya bila dia ada dan nyata.
"akhirnya aku menemukanmu — kelinci kecilku."
"IVAAAAAAAAAAN!"
Teriakan Alfred diiringi dengan panggilan Ludwig membuat Ivan menghentikan kegiatannya sejenak.
"oh Tuhan, apa yang kau pikirkan,huh?" seru Alfred diikuti Ludwig sembari mendekat kearah Ivan, "Berlari begitu saja, bukan seperti dirimu sa— Gilbert?!" ucapannya terhenti begitu ia melirik kearah altar.
"B-Bruder?!" seru Ludwig seraya mendekat kearah Altar, badannya bergetar mencoba menyentuh kedua pipi Gilbert, seakan takut bila-bila ini hanyalah mimpi belaka,"Bruder! Bruder!—ini benar k-kau? I-ini nyata? D-dia tidak m-mati kan?"
"Ludwig! Tahan dirimu! Gilbert tidak mati! Dia hanya menghilang saat itu, tenanglah! Gilbert itu Joker yang kuat! Dia tidak mati semudah itu!" sahut Alfred mencoba menenangkan Ludwig yang kehilangan ketenangannya.
"Aku tahu ini membahagiakan, tapi kita harus menghubungi Arthur dan Francis! Suruh 'Ace of Heart' menjemput kita!" tambah Alfred, "Ludwig, lebih baik kau Hubungi Francis!"
"kau tidak perlu memerintahkanku! Akan kulakukan!"
.
.
.
.
.
"Francis! Arthur!"
"GIT! Ada apa?"
"Perintahkan Feliciano untuk mengirim kami kembali ke istana, secepatnya!"
.
.
.
TBC
Terima kasih atas riview sarannya, aku sangat menghargainya. Jika berkenan, aku mengharapkan saran dari para pembaca sekalian untuk memperbaiki kualitas dari tulisanku. Maaf aku tidak bisa membalas riview satu-persatu dikarenakan kurangnya waktu yang aku miliki. Setelah ini, mungkin aku akan mempublish chapter selanjutnya setelah UN bulan april mendatang. Mohon maaf sebesar-besarnya.
