Finaly! Ini adalah chapter 2 nya! Ceritanya tetap sama, namun cerita kali ini diambil dari sudut pandang Cloud, setelah sebelumnya yang dilihat dari sudut pandang Tifa. Hope you enjoy it! And also, please give critics and don't forget to RnR!
"Permisi tuan Fukasaku! Ada kiriman paket untuk anda!", teriak Cloud di depan sebuah rumah.
Seorang pemuda tampan dengan rambut spike kuningnya yang unik, matanya yang berwarna biru, badannya tinggi tegap, dan selalu mengendarai fenrir baik ketika dan tidak bekerja. Dialah Cloud Strife, yang bekerja sebagai seorang pengantar barang.
"Wah terima kasih Cloud-kun! Wah terima kasih ya, sudah sejak lama aku menantikan barang ini", ucap si pelanggan.
"Sama-sama paman, permisi, aku ingin mengantar barang lagi", ucap Cloud sambil tersenyum dan menaiki fenrirnya.
Inilah rutinitas yang dilakukan oleh Cloud setiap harinya, mengantar barang, meminta cap stempel, dan pergi mengantar barang lagi. Cloud memilih untuk membuka usaha ini karena ingin meringankan beban 'keluarga'nya, terutama 'anak-anak'nya yang masih kecil. Eits, jangan salah sangka dulu, yang dimaksud adalah anak-anak yatim piatu yang diasuh olehnya bersama Tifa. Bisa dibilang, Cloud dan Tifa bagaikan suami istri yang memiliki banyak anak, meski aslinya mereka bukan suami istri.
"Huff... mungkin lebih baik aku latihan", gumam Cloud.
Rutinitas lain yang biasa dilakukan Cloud jika sudah bekerja adalah... berlatih! Meski Sephiroth sudah dia kalahkan, meski Kadaj cs juga sudah dibasmi(emangnya serangga apa?), Cloud tetap melatih dirinya sendiri. Para pembaca yang nonton Advent Children tahu tempat Cloud melawan Kadaj cs pertama kali, jika tahu, tempat itulah yang menjadi tempat latihan Cloud. Cloud biasanya latiham selama 3 jam, latihan yang dilakukan Cloud? Yah, dia hanya mengulang-ulang saja gaya-gaya menebas, menangkis, menebas sambil berputar, dan lain sebagainya. Pokoknya, teknik yang biasa dilakukan dengan pedang.
Setelah Cloud selesai latihan, Cloud duduk di fenrirnya. Kemudian ia merogoh sesuatu dari kantong celananya, sebuah dompet kuno berwarna hitam. Ia membuka dompet itu, isi dompet itu bukan hanya uang, melainkan... foto Tifa. Ya, Cloud sangat mencintai Tifa dari lubuk hatinya, meski Cloud sudah sangat lama menyukai Tifa selama beberapa tahun, namun Cloud tidak berani mengungkapkan perasaannya. Selain karena malu, juga karena takut Tifa menolaknya.
Saat Cloud masih belasan tahun, Cloud ingat dia pernah berjanji dengan Tifa bahwa ia akan selalu melindunginya kapanpun. Karena perasaan itu jugalah, Cloud ingin menjadi soldier, tetapi ia gagal menjadi 1st class soldier dan hanya menjadi seorang soldier biasa. Sephiroth yang dikaguminya juga akhirnya menjadi seorang 'psycho' setelah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Cloud juga tak mampu melindungi Tifa yang sempat diserang oleh Sephiroth. Bisa dibilang, masa-masa itu merupakan masa yang paling berat untuk Cloud. Penyesalan, kesedihan, dua rasa itu bercampur dalam hati Cloud. Meski akhirnya perasaan itu berakhir karena Tifa yang selalu mendukung dan menemani Cloud.
Yang disukai Cloud dari Tifa bukanlah wajah cantiknya atau tubuh seksinya, yang disukai Cloud dari Tifa adalah sifatnya yang sangat perhatian, baik, dan selalu menerima orang lain apa adanya. Cloud masih ingat betul saat ia keracunan berat Mako sehingga ia harus dirawat di Mideel, selama dia sakit, Tifalah yang selalu menemani dan merawatnya, meski waktu itu Cloud hanya bisa bicara-bicara tak jelas. Meski hatinya pernah bingung memilih antara Tifa atau Aerith, namun pada akhirnya Cloud tetap memilih cinta pertamanya, yang dia harapkan menjadi cinta sejatinya.
"Tifa, apakah kau juga menyukaiku?", gumam Cloud yang murung.
Kemudian, Cloud menaiki kembali fenrirnya untuk ke Midgar, lebih tepatnya, mau pulang. Cloud pikir dia harus pulang sekarang, karena takut Tifa khawatir nanti. Saat Cloud sedang mengendarai fenrirnya dan memasuki kota, tiba-tiba Cloud berpikir untuk memberikan kejutan berupa hadiah untuk Tifa. Berhubung Cloud selama ini tak pernah memberikan Tifa kejutan. Tapi, kira-kira apa ya hadiah yang cocok untuk Tifa? Kalau glove sih Tifa sudah koleksi sampai 2 lemari (hahaha). Coklat? Kurang cocok, lagipula Tifa takut makan yang begituan karena takut gendut. Saputangan? Terlalu sederhana kayaknya. Bando? Hmmm... sepertinya jangan. Anting? Tifa sudah punya. Kalung? Sudah punya juga. Kalau begitu apa ya? Cloudpun makin pusing. Kalau bunga? Hm... sepertinya boleh juga. Apalagi, Tifa lumayan menyukai bunga, jadi Cloud pikir lebih baik dia membelikan bunga saja. Tetapi, bunga di gereja sudah habis karena pertarungan dengan Kadaj dan Loz di gereja, jadi Cloud harus mencari di toko. Tetapi(lagi), bunga cukup langka di Midgar, karena tidak banyak orang yang cukup berminat pada bunga, selain itu kemajuan teknologi membuat tanah habis dipakai untuk membangun gedung-gedung, pabrik, dan lain sebagainya, intinya sih sama kok dengan dunia asli kita (curhat). Namun, keinginannya untuk memberikan kejutan pada Tifa membuatnya pantang menyerah, dan dia pun pergi mencari bunga itu.
Sejak kepergian si 'Flower Girl' alias Aeris, jadi jarang sekali ada orang yang menjual bunga. Karena itu Cloud cukup susah mencarinya, apalagi Cloud sudah hampir mengelilingi Midgar(lebai hahahaha). Tetapi saat Cloud sedang bingung dan pusingnya harus mencari dimana lagi, Cloud melihat sebuah toko kecil yang tulisannya 'Flower Shop', akhirnya! Cloud pun langsung bergegas menuju toko itu.
"Ng, permisi", kata Cloud sambil membuka pintu.
"Selama da... Cloud?", si pemilik toko membalikkan badan, alangkah kagetnya bahwa ternyata si pemilik toko itu adalah Elmyra, ibunya Aeris!
"Oh... kau, ibunya Aeris kan?", kata Cloud.
"Benar, syukurlah kau masih ingat...", kata Elmyra.
"Kau sudah pindah sejak lama?", tanya Cloud.
"Begitulah, sejak 2 tahun lalu", kata Elmyra lagi.
"Oh...", jawab Cloud, singkat.
"Cloud, kau mau beli bunga?", tanya Elmyra.
"Oh iya, aku ingin beli bunga ini", kata Cloud sambil menunjuk bunga mawar yang berwarna merah.
"Kau mau beli itu? Kau mau beli berapa?", tanya Elmyra lagi.
"Em... beli sebuket saja", jawab Cloud sambil memerah wajahnya.
"Beli sebuket? Kau mau melamar ya?", tanya Elmyra sambil tersenyum kecil.
"Ng, anu... itu..", Cloud jadi bertambah malu.
"Ya, sepertinya dari wajahmu pun aku sudah tahu jawabannya", jawab Elmyra sambil menata bunga yang dibeli Cloud. Cloud hanya terdiam.
"Ini Cloud, totalnya 500 Gil", kata Elmyra sambil menyodorkan buketnya.
"Oh, ya... ini uangnya", kata Cloud.
"Semoga lamaranmu berhasil ya Cloud hihihi", goda Elmyra, Cloud hanya membalasnya dengan senyuman kecil.
Tak sadar, ternyata dari jam 2 siang dia mencari-cari toko bunga, sekarang sudah jam... setengah sepuluh malam! Tak sadar Cloud mencari-cari toko bunga sampai 7,5 jam lamanya, dan saat Cloud melihat HandPhonenya, ternyata Tifa sudah misscall sampai 8 kali, sepertinya memang sudah seharusnya Cloud pulang, takut Tifa khawatir. Karena biasanya Cloud jam 5 sore sudah pulang. Suasana Midgar malam hari memang cukup indah, lampu-lampu jalan menyala, ada juga yang berwarna warni. Meski sudah malam, tapi masih ada juga toko dan restoran yang buka. Di pusat kota, tepatnya Memorial Statue, banyak sekali pasangan yang berkencan dan bermesraan disana. Cloud pikir, entah kapan dia dan Tifa bisa berjalan-jalan seperti itu. Bisa bermesraan, bergandengan tangan, dan... berciuman. Mungkin hal ini terdengar aneh bagi Cloud yang dingin, namun yah... namanya juga masih manusia, apalagi seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, Cloud sudah mencintai Tifa sejak lama. Tetapi perasaan suka itu baru menguat akhir-akhir ini.
Akhirnya, setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, Cloud sampai juga di 7th Heaven, tempat yang menjadi rumahnya sekarang, bersama Tifa, Marlene, Denzel, dan anak-anak yatim piatu lainnya,
"Cloud, kenapa kau baru pulang?", tanya Tifa.
"Maaf Tifa aku pulang terlambat, tadi aku membeli ini", kata Cloud sambil menunjukkan barang yang dibawanya, sebuah buket bunga.
"Bunga? Kau mencari bunga?", tanya Tifa.
"Ya, kau tahu sendiri di Midgar sangat sulit mencari bunga, jadinya aku pulang terlambat untuk mencari ini", kata Cloud.
"Bunga itu untuk siapa Cloud?", tanya Tifa.
"...", Cloud pun terdiam sejenak. Dalam hati ia berpikir bahwa ia harus mengatakan bahwa bunga ini adalah untuknya.
"Cloud?", tanya Tifa terheran.
"Bunga ini untuk...", jawab Cloud.
"Untuk?", tanya Tifa yang terheran.
"Aeris...", jawab Cloud, yang ternyata membuat Cloud sendiri kaget.
"Aeris?", jawab Tifa yang terheran.
"Ya, aku ingin mengunjungi tempat itu lagi, aku ingin berziarah", entah kenapa Cloud malah mengatakan sesuatu yang malah di luar tujuan semulanya, yang membuatnya makin bingung.
"... begitu", jawab Tifa.
"A... Anak-anak sudah tidur?", tanya Cloud.
"Sudah, barusan aku menidurkan mereka, kapan kau mau pergi ke forgotten city?", tanya Tifa lagi.
".. Mungkin besok, aku ingin libur kerja", kata Cloud.
"Oh... Cloud kau mau minum? Biar kubuatkan", tawar Tifa.
"Tidak usah Tifa, aku ingin ke kamarku untuk istirahat dulu", jawab Cloud sambil menaiki tangga.
Saat Cloud memasuki ruangannya, ia langsung duduk di kasurnya, sambil bergumam kesal, ia berkata, "Sial... kenapa aku berkata seperti itu pada Tifa? Padahal seharusnya aku memberikan ini untuk Tifa, tapi aku malah...", gumamnya sambil menggertakkan gigi.
Esok pagi pun tiba, waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi, tapi Cloud sudah bangun karena tak bisa tidur, karena itulah dia bangun, sambil menunjukkan wajah kecewanya. Saat Cloud baru membuka pintunya, tiba-tiba ada Marlene menunggu di depannya.
"Pagi Cloud!", kata Marlene.
"Marlene... pagi", jawab Cloud.
"Cloud, kau semalam bicara sesuatu dengan Tifa", tanya Marlene yang membuat Cloud kaget.
"... Kau tahu dari mana?", tanya Cloud sambil jongkok.
"Semalam aku ingin ke toilet, dan aku melihat kalian, kenapa mukamu terlihat sedih Cloud?", kata Marlene.
"...", Cloud terdiam.
"Bicaralah Cloud... kita kan satu keluarga", kata Marlene.
"... Baiklah, kau lihat buket bunga itu Marlene?", tanya Cloud.
"Itu...? Waw, bagus!", kata Marlene sambil memegang buket bunga itu.
"Tadinya aku ingin memberikan bunga ini ke Tifa, tapi...", Cloud tiba-tiba terdiam.
"Tapi apa Cloud?", tanya Marlene.
"Aku malah mengatakan kalau bunga ini kubeli untuk makam Aeris...", jawab Cloud.
"Loh? Kenapa begitu?", tanya Marlene yang terheran-heran, Cloud hanya terdiam.
"Cloud, aku sangat menyukai kalian berdua... aku juga ingin sekali melihat kalian menikah nanti. Karena itu Cloud, kau harus berani", kata Marlene sambil menghampiri Cloud.
"... Marlene", jawab Cloud.
"Kau harus berani Cloud! Seperti waktu aku baca cerita di buku dongeng, waktu itu ada seorang pangeran yang berjuang untuk melamar orang yang dicintainya, mirip sekali denganmu...", kata Marlene dengan polosnya.
"Berjuang...", Cloud pun merenungkan kata-kata ini, dan tiba-tiba ia seperti sudah dapat ide mengenai hal ini, "Marlene... bisakah kau membantuku sebentar?"
"Aku harus apa?", tanya Marlene.
"Katakan pada Tifa kalau aku ingin mengajaknya pergi jam 12 siang nanti, kau bisa kan mengurus bar selama aku mengajak Tifa pergi?", tanya Cloud.
"Ya! Aku bisa kok!", kata Marlene.
"Baiklah, kalau begitu aku ingin menyelesaikan sisa pekerjaanku dulu, terima kasih Marlene", kata Cloud sambil memegang pipi Marlene.
"Ya, hati-hati Cloud!", kata Marlene.
Rasa percaya diri mulai berkumpul di hati Cloud, dan setelah itu dengan fenrirnya, ia pergi menuju ke toko bunga waktu itu yang dikelola oleh Elmyra. Berhubung jaraknya cukup jauh, Cloud pikir seharusnya toko bunga itu sudah buka ketika dia sampai disana. Jaraknya sejauh apa? Ditanya sejauh apa juga gak tau, yang pasti sih jauh hahahaha, yah... kan gak perlu dijelaskan sampai sedetail itu ( kok authornya malah ngomong sendiri?). Yah, pokoknya kita percepat saja ya, sesampainya di 'Flower Shop',
"Oh, selamat datang Cloud, kau mau beli bunga lagi?", tanya Elmyra.
"Ya, aku ingin membeli bunga mawar merah muda itu", kata Cloud.
"Sebuket lagi?", tanya Elmyra.
"Ya!", kata Cloud.
Setelah membeli buket bunga kedua, Cloud segera menyelesaikan sisa pekerjaannya sampai waktu yang ditentukan, yaitu jam 12 siang nanti. Dan akhirnya waktu itupun tiba, Cloud pun meneguhkan hatinya sambil berkata, "Ayo, kau pasti bisa", dalam hatinya. Cloud menunggu Tifa di luar bar dan Tifa keluar tak lama kemudian, sambil tersenyum, Tifa pun menaiki fenrir itu. Akhirnya, Cloud bersiap menyatakan isi hatinya kepada Tifa.
Tapi di perjalanan, Tifa dan Cloud malah diam tanpa kata, seperti suasana di sekeliling mereka yang sepi. Namun, tiba-tiba Tifa memulai pembicaraan,
"Cloud, kita mau ke Forgotten City?", tanya Tifa yang sedikit membuat Cloud kaget.
"... ya", jawab Cloud, singkat.
Sebenarnya selama Cloud diam, Cloud terus mengatakan, "Ayo Cloud, jangan tegang, tenanglah", dalam hatinya.
"Kau tadi habis beli bunga lagi?", tanya Tifa lagi.
".. ya", jawab Cloud, yang lagi-lagi singkat.
Akhirnya sepanjang perjalanan, Tifa dan Cloud terus diam-diaman dan dipenuhi suasana nggak enak. Dan akhirnya sesampainya di Forgotten Capital, tepatnya di danau tempat Aeris dimakamkan, Cloud memarkirkan fenrirnya dan mengambil salah satu buket bunga itu.
"Selama 4 tahun ini, aku belum pernah berziarah ke makammu. Dan baru sekaranglah aku baru mengunjungimu. Maafkan aku, andaikan aku bisa lebih kuat", kata Cloud, sambil menenggelamkan buket bunga itu.
"Cloud, ternyata kau masih bersedih juga?", tanya Tifa sambil menghampiri Cloud. Sementara Cloud diam sambil berpikir, "Doakan aku Aeris, semoga aku bisa mendapatkan hati Tifa."
"Cloud, itu semua bukanlah salahmu... aku yakin Aeris juga tak menyalahkanmu", kata Tifa sambil memegang pundak Cloud.
"Tifa... kuharap begitu", jawab Cloud, sambil berusaha untuk tetap tenang tentunya.
Lalu, Cloud membalikkan badannya dan mengambil buket bunga yang tersisa di fenrir, saat mengambil buket itu, Cloud memejamkan matanya dan menghela nafas, "Aku harus bisa mengatakannya", bisiknya. Kemudian, Cloudpun menghampiri Tifa.
"Cloud, kalau boleh aku tahu, untuk siapa buket bunga ini?", tanya Tifa.
".. Tifa, aku ingin membicarakan sesuatu padamu", kata Cloud.
"Tentang apa?", tanya Tifa lagi.
"Selama ini, apa kau hanya menganggapku sebagai teman masa kecilmu?", tanya Cloud, yang membuat Tifa kaget.
"Selama ini perasaanku bercampur aduk, dan aku juga tak tahu sebenarnya siapa seseorang yang sangat penting bagiku, apakah itu Aeris, kau , Marlene, atau apakah anak-anak lainnya", kata Cloud. Tifa hanya terdiam.
"Aku selalu memikirkan hal itu. Tetapi selagi aku bingung memikirkan itu, ada seseorang yang menarik perhatianku...", kata Cloud.
"Seseorang? Siapa dia?", tanya Tifa.
Pertanyaan inilah yang ditunggu oleh Cloud, dan dengan kesiapan hatinya, iapun akhirnya berani menjawab.
"... dia seorang perempuan yang baik hati, lembut, dan sangat perhatian. Sejak dulu, aku ingin sekali bisa melindunginya, dan aku juga ingin bisa menikahinya suatu saat nanti, kau tahu? Aku sangat mencintainya... namun, aku tak tahu apakah dia memiliki perasaan yang sama denganku", kata Cloud.
"Cloud... siapa dia?", tanya Tifa.
Suasana pun menjadi hening sesaat, sambil memejamkan matanya sekali, Cloud pun terus berpikir, "Ayo katakan Cloud, inilah saat penentuannya!", akhirnya iapun memberanikan dirinya untuk berbicara ,"Kaulah yang kumaksud... Tifa."
Satu kalimat itu membuat Tifa sangat kaget, tetapi Cloud tetap berusaha untuk mengatakannya,
"C... Cloud, jadi...", kata Tifa yang kaget.
"Ya Tifa, aku ingin sekali mengatakan ini sejak lama... ", Cloudpun memberikan buket bunga itu di tangan Tifa, dan tanpa ragu ia juga berkata,"Aku mencintaimu Tifa."
Tifapun kemudian memeluk Cloud dengan eratnya sambil menangis bahagia, dengan sedikit terisak ia menjawab,"Aku juga mencintaimu Cloud, aku juga sangat mencintaimu sejak dulu, aku senang sekali... *sniff*, ternyata perasaanmu sama denganku", reaksi Tifa ini sungguh di luar dugaan Cloud, namun dalam hati Cloud merasa sangat senang dan terharu.
"Ya Tifa, dan aku juga harus berterima kasih pada Marlene untuk hal ini", kata Cloud sambil membalas pelukan Tifa.
"Marlene?", tanya Tifa yang terheran.
"Ya, mungkin kau tak tahu, tapi aku sengaja menyuruh Marlene memberi tahu kalau aku ingin mengajakmu keluar, karena... aku tak sanggup untuk bicara sendiri", kata Cloud.
"Ya ampun, kau ini... ternyata sifat pemalumu belum berubah ya", kata Tifa sambil menghadapkan wajahnya pada Cloud, Cloud hanya tersenyum ketika mendengarnya.
Wajah merekapun saling bertatapan, dan perlahan-lahan semakin mendekat. Dan akhirnya, merekapun berciuman di samping danau itu dengan erat. Akhirnya impian Cloud pun terwujud, dan akhirnya Cloud berhasil menemukan cinta sejatinya.
Dan diseberang danau itu, terlihatlah Zack dan Aeris yang sedang melihat momen bahagia mereka. Sambil mengacungkan jempolnya.
STILL CONTINUED, MAAF KALO KURANG BAGUS, RnR PLEASE!
