The Superhuman Powers

Kuroko no Basuke Fujimaki Tadatoshi

AoKise, AkaKuro, MidoTaka, MuraHimu

Chapter 1

The Encounter

.

.

.

Kagami menapakkan kakinya di SMA barunya. SMA Teiko. Mata merahnya menatap ke seluruh penjuru dari gerbang depan. Dia menghela nafas dan masuk ke sekolah dengan penampilan bak anak baru selesai berkelahi dengan baju yang setengah dimasukkan ke dalam celana dan blazer yang tidak rapi terkancing. Jangan lupa dasi yang dipasang sedemikian rupa sehingga terkesan acak acakan. Semua orang menatap pria yang memiliki tinggi 190 cm itu berjalan dengan menenteng tas warna hitam yang dibalikkan ke punggungnya.

Kagami merasa malas. Ayahnya mengirimnya kembali ke Jepang yang dia rasa itu sangat sangat menyebalkan. Hanya gara gara ayahnya ingin dia memperoleh pendidikan yang lebih baik di Jepang daripada di Amerika. Padahal, Kagami tidak suka belajar karena menurutnya belajar itu membosankan dan memeras otak. Lebih baik bermain basket lebih menyenangkan daripada duduk di ruangan tertutup dengan meja dan buku yang terbuka dan harus menghafal bait demi bait tulisan tak berguna. Itu memuakkan.

"Oi! Bakagami! Apa apaan dengan baju macam orang habis seks?" terdengar suara bass yang terdengar malas dari belakang Kagami. Dia merasa pernah mendengar suara itu. kontan, dia membalikkan badannya dan menemukan pria berkulit tan yang merupakan teman selama 3 bulan semenjak kepindahan Kagami ke Jepang.

"Aomine!? K-kau bersekolah sini juga?" tanya Kagami tidak percaya. Pria tan yang berposisi sebagai lawan bicaranya mengerutkan dahi. Dia merasa tersinggung.

"Hei! Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, baka!" suara pria yang dipanggil Aomine itu terlalu keras sehingga membuat orang orang disekitar menhentikan aktivitas mereka untuk sementara hanya untuk mengetahui sumber suara.

"Oi! Ahomine! Kecilkan suaramu," ucap Kagami setengah berbisik kepada di biru bersuara kuat itu. Aomine yang menyadari itu langsung membungkam mulutnya supaya tidak menjadi pusat perhatian lagi kemudian dia berdehem dan melanjutkan omelan tadi yang sempat tertunda.

"Apa yang kau lakukan disini, Kagami? Ku kira kau akan bersekolah di Seirin," tanya Aomine. Kagami hanya mendegus kesal sambil memandang ke arah lain. Aomine mengerutkan dahi.

"Ayahku yang seenaknya mengatakan bahwa dia sudah mendaftarkan namaku disini," Kagami berpaling kembali ke arah Aomine.

"Dan kau?" tanya Kagami balik. Aomine mengangkat bahunya.

"Aku sudah disini sejak SMP dan gedung SMP tidak jauh dari sini," jawab Aomine santai dan kemudian segera berjalan masuk kedalam gedung sekolah dengan ekspresi malas. Kagami terkadang berpikir mengapa si bodoh ini bisa masuk ke sekolah yang ketentuan nilai rata ratanya cukup tinggi. Aku pun sama payahnya dengan orang ini, pikirnya.

"Oi! Aomine! Tunggu aku," teriak Kagami dari pintu masuk. Aomine yang baru saja memakai sepatu khusus dalam sekolah itu melirik ke arah Kagami.

"Cepatlah, baka. Upacara penyambutan siswa akan dimulai sebentar lagi dan aku tidak akan mencarikan tempat duduk untukmu," ucap Aomine yang bersiap siap menuju ke papan kelas. Banyak siswa saling berebutan tampat paling depan untuk bisa melihat nama dimana kelas mereka. Karena tinggi badan, Aomine hanya cukup berdiri tak jauh dari papan pengumuman.

1-A

Aomine menemukan namanya di kelas tersebut.

"Oi! Aomine, kau temukan kelasku?" tanya Kagami yang baru saja sampai ke arah Kagami. Aomine mengangguk tanda ya kemudian menunjuk salah satu tabel disana.

1-C

Kagami membelalakan mata tak percaya. Dia sudah menerka bahwa dia bakal masuk 1-F tetapi ini diluar perkiraan. Sedikit dia merasa sudah sangat pintar. Kagami cengar-cengir sendiri.

"Jangan merasa sok pintar, baka!" ucap Aomine sambil meninggalkan Kagami yang maish berfantasi tentang seberapa menakjubkannya dia sampai ke langit 7 sedangkan Aomine berjalan meninggalkannya.

"Oi! Teme! Tunggu aku,"

.

.

.

"Apa kau yakin Akashi-kun?" ucap pemuda beriris azure itu sambil memegang sebuah kantung file yang berisi data data siswa. Dia cukup terkejut mendengar keputusan sang kepala. Pria yang disebut 'Akashi' itu hanya menyergai dan sibuk membolak balik file miliknya.

Nama: Kagami Taiga
Kelas: 1-F *coret* 1-C
Umur: 16 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Golongan darah: A
Tanggal lahir: 2 Agustus
Hobbi: bermain basket
Latar belakang: anak orang kaya, ayahnya adalah salah satu kepala cabang di New York, Amerika Serikat. Ayahnya bernama Kagami Makoto dan ibunya Kagami Kotori sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Taiga dulunya bersekolah di Amerika tetapi ayahnya menyuruhnya untuk pindah ke Jepang.

Akashi tersenyum sambil membaca biodata siswa itu dengan seksama dan muncul senyuman misterius.

"Tetsuya, tolong berikan file selanjutnya tentangnya," ucap Akashi. Pemuda itu, Kuroko Tetsuya, memberikan lembaran ekstra untuk Akashi. Akashi melihat lembaran itu lagi sambil membolak balik kertas putih tersebut.

Kenal dekat dengan seseorang sebelum pindah ke Jepang. Tidak diketahui secara pasti orangnya tetapi mereka menjalin hubungan sebagai sepasang saudara. Ayahnya, Kagami Makoto, bekerja sama dengan perusahaan saham di Jepang dan Kagami Kotori meninggal karena kanker payudara, setelah itu Makoto tidak menikah ataupun menjalin hubungan dengan wanita lain.

Lagi lagi Akashi tersenyum. Kuroko yang berdiri disampingnya sudah terbiasa dengan sikap sang surai merah.

"Bagaimana, Akashi-kun?" tanya Kuroko untuk meminta kepastian dari sang surai merah darah. Akashi mendongak, memamerkan mata dwi warnanya yang indah. Dia tersenyum.

"Dia akan membantu banyak dari peran ini."

Kuroko menghela nafas melihat tingkah orang satu ini. Selalu saja misterius. Akashi tidak pernah membocorkan rencananya kecuali kepada orang dalam dan semua rencana itu berjalan lancar. Terkadang, Akashi bisa menjadi pribadi yang sangat menyebalkan karena sifat misterius miliknya itu, tetapi itulah yang membuat seorang Akashi Seijuurou itu seseorang yang unik dan menarik sebab dia tahu segalanya bahkan jika peristiwa itu akan terjadi.

Terdengar suara pintu terbuka. Kuroko dan Akashi menolehkan pandangannya ke arah pintu berbahan dasar kayu mahoni tersebut. terdapat banyangan seseorang dan dia itu laki laki.

"Akashi, Kuroko, upacara penyambutan sudah mau dimulai. Apa kau masih lengket dengan berkas tak berguna milikmu itu," ucap orang itu dari pintu dnegan nada malas.

"Baiklah kami akan segera kesana, Aomine-kun," ucap Kuroko sekaligus mewakili sang surai merah menyala tersebut. Akashi segera membereskan berkas miliknya dan disusun di samping bersama berkas file yang dipegang Kuroko tadi.

'Oi! Ahomine… tunggu aku,'

"Ayo Tetsuya, mari kita pergi," ucap Akashi menuju pintu keluar dari ruangan dan Kuroko mengikutinya dari belakang.

.

.

.

Aomine berjalan menuju aula yang dipenuhi oleh siswa siswi yang merupakan murid baru di SMA Teiko. Aomine menoleh ke kanan dan kiri—sekalian melihat payudara E-cup—untuk mencari tempat duduk kosong. Dari ujung pintu sampai ke depan sepertinya tidak ada yang kosong. Aomine meruntuki dirinya sendiri.

'Harusnya kutinggal saja si Bakagami brengsek itu.' batin Aomine kesal. Aomine sibuk menoleh kanan kiri hanya untuk mencari dan apa apa pula si brengsek Akashi itu menyuruhnyan untuk memanggilnya hanya untuk datang pada ucapan sambutan sampah itu. Aomine mendecih kesal. Dia memasukkan tangannya kedalam saku celana. Sejujurnya, jika bisa, Aomine akan meninggalkan upacara sambutan yang membosankan itu dan pergi ke atap untuk tidur.

Iris biru tuanya menagkap sosok berwarna merah muda yang duduk di depan. Kaki kekarnya langsung berjalan menuju wanita sakura tersebut. hitung hitung lumayan ada bangku kosong disebelahnya.

"Oi! Satsuki, ada orang disini?" tanya pemuda tan itu. wanita yang tadi menghadap depan, kini membalik ke sumber suara. "Dai-chan, tidak ada sih," jawab wanita sakura itu.

"Aomine! Kau tinggalkan aku di lorong gelap dan sempit, teganya kau!" ucap Kagami hiperbola. Aomine melirik teman one on one. "Habis kau lama sekali," jawab Ahomine singkat. Kagami melirik tempat duduk di sebelah Aomine.

"Disini tidak ada orang kan?" tanya Kagami.

"Nee, tidak ada," kali ini suara wanita yang menjawab.

"Hajimemashite, Momoi Satsuki desu." Ucapnya memperkenalkan diri. Sebenarnya Kagami tidak perduli, toh terakhir nanti pura pura tidak kenal. Kagami sudah bosan dengan kehidupan seperti ini.

"Kagami Taiga desu," Kagami akan meras tidak enak jika tidak membalas wanita pink tersebut.

Iris merah muda terbelalak ketika mendengar nama Taiga kemudian dia tersenyum. Untung Kagami tidak melihatnya, bisa bisa dia lari terbirit birit karena senyum aneh Momoi mirip hantu Sadako.

"Hentikan senyum anehmu, Satsuki."

"Diamlah Dai-chan! Kau ribut," balas Satsuki sewot. Pandangan semua siswa tertuju kepada podium ketika kepala sekolah SMA Teiko memberi acara sambutan. Pidato berlangsung selama beberapa menit saja Aomine mulai merasa mengantuk. Dia bertanya tanya apakah ada klub tidur siang di atap di SMA Teiko. Jika ada Aomine mau mendaftar. Beberapa kali Aomine hendak tidur tetapi Satsuki segera memukulnya jika dia tidur. Sekarang Aomine berharap dia duduk di belakang.

Ucapan pidato kepala sekolah telah selesai dan diiringi oleh tepuk tangan malas dari para siswa baru di SMA Teiko tak terkecuali Aomine Daiki.

"Untuk perwakilan dari murid, kami persilahkan siswa yang paling berprestasi dengan nilai tertinggi, Akashi Seijuurou," Aomine yang mendengar nama Akashi langsung membuka matanya lebar lebar supaya tidak ngantuk. Aomine masih sayang nyawa, dia tidak mau hanya gara gara tidur saat si merah sialan itu berpidato dia akan di lempar gunting keramat yang entah muncul darimana. suara tepukan tangan memenuhi ruangan. Lampu sorot menyenter ke arah sang Emperor yang berjalan ke arah podium.

Sepanjang pidato Akashi yang berlangsung selama 1 jam membuat Aomine tidak bisa menahan rasa kantuknya. Dia menutup matanya sebentar hanya untuk sekedar menghilangkan ras kantuk.

"Apa kau mau di lempar gunting maut, Aomine-kun?"

Aomine tersentak mendegar suara dari belakang telinganya. "UAHH! KUROKO!"

"Kecilkan suaramu, Akashi-kun sedang berpidato," jelasnya sambil menunjuk Akashi yang sedang berdiri si podium. Mata Akashi menatap ke arahnya dan Aomine tahu akan hal itu. Mata dwi-warna yang mengisyaratkan kau-akan-mati-setelah-ini-Daiki . Aomine langsung shock luar dalam. Aomine segera meminta pertolongan kepada Kuroko.

"Oi! Kuro—," ucapan Aomine terpotong saat ia tdak melihat Kuroko dibelakangnya lagi. Aomine mendecih kesal.

'Mampus aku,' batin Aomine melipat tangannya kesal sambil kembali memandang depan.

.

.

.

Segerombolan siswa kembali ke kelas masing masing untuk mengetahui wali kelas. Satsuki berjalan bersama Aomine dengan wajah ngantuk. Satsuki tampak berpikir sesuatu. Matanya menunjukan ekspresi yang sulit terbaca. Aomine yang setengah mengantuk menyadari akan hal itu.

"Tumben kau diam sekarang, Satsuki." Aomine menyerocos duluan. Satsuki menoleh ke arah Aomine.

"Dai-chan," panggilnya.

"Apa?"

"Aku tidak mengerti," ucap Satsuki kembali merunduk. Aomine memasukkan tangannya kedalam saku celananya dan mendesah.

"Apa yang kau tahu rupanya?" ejek Aomine.

"Bukan itu! aku hanya tidak bisa melihat bakatnya," ujar Satsuki putus asa. Selama ini, dalam menjalankan tugasnya sebagai pelacak bakat, Satsuki tidak pernah gagal sekalipun dalam melacak. Namun, tugas kali ini Satsuki gagal alias tidak bisa melihat bakatnya. Lantas, mengapa Akashi tertarik padanya? Akashi memang tidak bisa ditebak.

"Huh? Kau yakin? Mungkin Akashi salah orang," jawab Daiki nadanya terkesan malas dan tidak perduli, tetapi dia tetap penasaran siapakah anak Taiga itu sebenarnya. Selama ini, dia tidak pernah menang melawan Aomine karena kelincahan Aomine jauh berada diatasnya.

"Menurutku dia itu aneh," suara misterius muncul di sebelah Aomine.

"UAHH! OI! Kuroko! Hentikan gaya mu itu!" bentak Aomine. Kuroko mendongakkan kepala dan menatap Aomine dengan ekspresi datar lalu kembali meluruskan pandangan. Mereka bertiga menghentikan tapak kaki mereka dan menemukan kelas mereka.

First Year, Class A (plus)

Aomine mengeser pintunya dan menampakkan suasana ruang kelas yang rapi dan bersih. Memang, kelas plus menerima perlakuan baik dari kepala sekolah. Anak anak yang masuk kelas plus tidak perlu membersihkan kelas dan langsung diizinkan pulang tepat pukul 4 sore agar mereka lebih bisa belajar dirumah. Anak plus juga tidak dianjurkan ikut ekstrakulikuler karena dapat menggangu nilai akademik kecuali yang bersih keras ingin masuk ekskul. Kelas plus hanya menampung sekitar 20 orang.

Aomine memutar matanya ke segala penjuru ruangan yang bersih itu dan mendapati seseorang sedang mengasah gunting merah darah. Aomine merinding dan mundur selangkah. Akashi Seijuurou.

"Siapa yang berani menjerit saat aku berada di depan?" tanyanya dengan nada seram. Aomine mulai berkeringat dingin.

"Daiki," panggilnya.

"Satsuki, apakah kau sudah menemukan bakatnya?" tanya Akashi . Momoi menggeleng tanda tidak.

"Tidak bisa dilihat dan ini baru pertama kalinya aku seperti dilarang untuk menembus," ucap Satsuki. Akashi mengerutkan dahi. Dia lalu menyimpan gunting keramat miliknya kembali ke dalam tas. Kedua tangannya memopang kedua tangannya layaknya seorang atasan yang sedang memikirkan hukuman yang pantas untuk mereka berdua.

"Tetsuya, Satsuki, Daiki, duduk ke tempat duduk masing masing. Nanti kita biacarakan ini di ruang." Ucap (Baca:perintah) Akashi yang super absolut.

Tak lama kemudian, seluruh siswa kelas A (plus) sudah sampai di kelas dan tempat masing masing dan guru bahasa inggris yang ditetapkan menjadi wali kelas A.

"Good Morning, My name is Nekota Kou." Ucap Guru bahas Inggris memperkenalkan diri. Mata guru itu aneh.

"Now, I would like you to introduce yourself one by one," ucap guru berdada D-cup itu dengan bahasa Inggris yang Fasih. Semua siswa pintar disini memperkenalkan diri tanpa dilalui hambatan lalu sampailah ke arah Aomine.

"My name is Aomin—," ucapak Aomine terhenti karena terdengar suara pintu yang tergeser.

"Sumimasen sensei, tadi saya dikejar fans gila," ucap surai pirang di balik pintu smabil ngos-ngosan. Si pirang itu masuk ke dalam kelas. Dia hendak duduk tetapi dicegat oleh guru, lengannya tersentuh sedikit oppainya yang membuat Aomine iri.

"So, due your lateness I have to set a punishment for you, introduce yourself in front of the class," suruh guru Nekota. Kise dengan pervaya diri kembali ke depan.

"Hello everyone, My name is Kise Ryota," senyum sang pirang.

.

.

.

Kagami berjalan di lorong yang dipenuhi murid aneh yang berdesak desakan. Jujur saja, dia cemburu meliat Aomine yang masuk kelas A dan tentunya mereka punya jalan khusus jadi mereka tidak harus berdesak desakan dengan lautan manusia yang mengurangi supply O2 di sekolah ini. Kagami mendesah putus asa.

Cukup memakan banyak waktu untuk sampai di kelas 1-C. ruang kelas yang cukup luas dan dingin. jendela yang memperlihatkan lapangan Track Field. Kagami duduk di kursi baris ke 3 dekat jendela. Kagami memandang malas teman sekelasnya yang selalu mementingkan diri sendiri. Tidak ada yang mengajaknya sekedar kenalan atau apalah. Tidak seperti di Amerika, jika kau satu staunya orang Asia di sana maka mereka langsung mendekatimu. Kagami berasumsi bahwa orang Jepang memang begitu, toh dia tidak bisa menyamakan Jepang dengan Amerika.

"Seandainya ayah tidak menyuruhku pindah, pasti aku akan bersama Tatsuya disana!" gumam Kagami kesal kemudian kepalanga di dongakkan ke langit biru.

Matanya memandang lurus ke langit biru di musim semi bulan April. Segambaran awan awan tipis yang hampir membuat Kagami ngantuk jika wali kelas tidak datang memasuki ruangan.

Guru laki laki dengan tinggi sekitar 187 cm memasuki ruangan. Guru itu langsung tersenyum cerah.

"Ohayou Gozaimasu, watashi no namae wa Kawashi Hayato desu," ucapnya memperkenalkan diri.

"Ohayou Gozaimasu," balas murid serentak.

Kagami berasumsi bahwa guru itu bakal menyenangkan.

"Nah, saya walikelas kalian dan saya membawa pelajaran Bahasa Jepang. Sebelumnya mari perkenalkan diri," ucap guru itu sambil menyegir kuda. Masing masing memperkenalkan diri lalu sampailah giliran Kagami.

"Hajimemashite, Kagami Taiga desu," ucap Kagami.

"Oh kau murid pindahan dari Amerika itu ya," ucap sang guru sambil tersenyum aneh. Kagami menyadari akan hal itu. mata sang guru berbeda ketika menatapnya dan cengiran nya juga menjadi aneh.

"Kau boleh duduk, Taiga."

….atau mungkin tidak…. Dia cukup aneh.

Kau harus segera menyadari hal itu.

.

.

.

Continue or Delete?


hehe...terima kasih yang sudah mau menyempatkan membaca fic absurd ini...TT... masih menyempatkan diri untuk menulis karena tidak ada yang menemani di malam minggu yang sepi ini #JOMBLO haha... tapi tuan Aomine mau kok jadi pacar aku... g jadi ah!

Okey! terima kasih atas Reviewnya minna...kalian memberiku motivasi untuk membuat lebih lanjut... oke sekian dari daya

Konbanwa!