Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei
Warning : SasuNaru's love (Of Course!) alwaayyss!, boys x boys, Sho-Ai, Au, OOC, TYPO abiiizz, bahasa ancuur, tidak sesuai EYD, GaJe. Mohon dimaklumi #bungkuk90derajat. N maaf terlambat update... maaf, ya.. Minna-chaan... X'(
Well, sebenarnya fic ini terinspirasi dari adik Miyu sendiri yang seorang karateka. Dan karakter Naru di sini sebagian besar Miyu ambil dari adik Miyu. Seperti halnya Naruto si karateka yang baik hati dan rajin menabung #PLAK! XP, ... Oh iya! bahkan adik Miyu pernah nendang lawan tandingnya, sampai pelindung kepala lawannya itu jatuh dua kali. Yup! Kalau sudah di arena pertandingan adik Miyu bisa OOC-bangetdddh. Jauuh beda saat ia belum pernah menang -_- , soalnya masih susah mengontrol emosi,ya.. jadinya ia kena pelanggaran terus niih... Yang sabar ya, adikkutercinta... :*
Oke, Miyu terlalu banyak omong, jadi... langsung saja...MET BACA readers... moga Minna suka. Oh iya, Ini BL (Boys Love) bagi yang nggak suka bisa klik tombol back... sebelum terlambat...
Happy Reading...
.
.
Meet Again
.
.
.
Seorang wanita paruh baya yang memiliki surai merah tampak duduk di meja makan dengan tenang bersama kedua anaknya. Suaminya yang seorang karyawan biasa sudah lama meninggal karena sakit kanker paru-paru yang dideritanya. Jadilah ia single parent yang berperan sebagai ibu sekaligus ayah untuk kedua anak mereka yang sudah tumbuh besar itu. Ia sebagai ibu dari mereka merasa sangat bangga karena telah melahirkan kedua putranya yang terkenal dengan prestasi segudangnya itu.
Si Sulung yang bernama Kyuubi Namikaze adalah seorang mahasiswa tingkat 4 di California Institute of Technology (Caltech) dan sekarang ia tengah liburan di negaranya tercinta. Ia bisa sekolah di negara paman sam itu karena beasiswa yang diterimanya dari pemerintah Konoha, sehingga ibunya sama sekali tidak mengeluarkan sepeser pun biaya untuk menguliahkan anak sulungnya yang sering dijuluki 'The Genius Orange' oleh teman kuliahnya itu. Si bungsu yang bernama Naruto Namikaze juga memiliki prestasi yang tak kalah dari kakaknya, hanya saja, ia tidak sejenius kakaknya dibidang teknologi, tapi jika sudah menyangkut Karate... He's the prince of princes! Biaya sekolahnya pun ibunya tidak ikut andil, karena ia mendapat beasiswa olahraga dari sekolahnya dan ia selalu mendapat Uang Tunjangan Olahraga (UTO) setiap bulannya karena bakatnya dalam bidang bela diri itu.
"Kaa-san, Naru mau ambil uang." Kata Naruto sambil tersenyum manis dihadapan ibunya itu.
Sang ibu yang memiliki surai semerah cabai itu mengerutkan dahinya, karena biasanya Naruto tidak pernah ingin mengambil uang tabungan dari UTO itu. Mungkin ini kali pertamanya selama 1 tahun terakhir ia ingin mengambil uang yang sengaja ia kumpulkan untuk persiapan kuliah itu.
"Untuk apa?" tanya ibu Naruto, Kushina Namikaze sambil menyipitkan matanya.
"Ehm... Naru harus mengganti barang teman yang sudah Naru rusak." Kata Naruto sambil menundukkan kepalanya. Tidak mungkin, kan kalau ia harus mengatakan kalau ia memecahkan properti untuk sulap karena kepolosannya? Ck, bisa-bisa kakaknya yang lumayan jahil itu menertawainya habis-habisan.
Kerutan di dahi Kushina semakin dalam, namun setelah itu ia kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi karena sedikit condong tadi.
"Kau butuh berapa?"
Naruto menggigit bibir bawahnya, merasa cemas jika saja ibunya tidak memberikan uang itu.
"Li..lima juta ryo." Kata Naruto sedikit gugup dengan ucapannya.
Kushina membelalakkan matanya.
"APAA?! Lima juta Ryo? Benda apa yang sudah kau rusak sampai kau harus menggantinya dengan uang sebanyak itu?" tanya Kushina karena begitu terkejut dengan bilangan yang disebutkan Naruto. Irisnya menatap tajam safir milik Naruto seakan-akan bisa mengorek isi di dalam otak anaknya itu.
"Naru mohon, Kaa-san... Naru tidak bohoong... Naru memang harus mengganti barang yang sudah Naru rusak. Ya.. ya... boleh, ya.. Kaa-san...?" pinta Naruto yang sejatinya masih manja dengan ibunya itu.
Kushina mendengus kasar, namun ia yakin jika Naruto tidak berbohong masalah merusak barang itu, mengingat jika Naruto masih polos dan tidak akan berani berbohong. #Naruanakbaik
"Hn, Baiklah. Lain kali berhati-hatilah, jangan sampai merusak barang temanmu lagi!" kata Kushina sambil menumpuk piring-piring kotor setelah mereka makan tadi.
"Terima kasih, Kaa-san... Sini, Naru bantu." Kata Naruto sambil mengangkat piring-piring kotor yang sudah ibunya tumpuk tadi untuk dicuci.
Kushina tersenyum manis melihat tingkah anaknya yang memang lebih manja dibanding Kyuubi, apalagi setelah suaminya meninggal, Naruto makin manja, tapi satu hal yang tidak ia mengerti adalah mengapa anaknya yang paling manja itu bisa berubah menjadi gorila jika sudah di arena pertandingan.
.
.
Other Side
Seorang pemuda berumur 23-an sedang duduk di kursi dengan tangan memegang buku tebal berwarna kecoklatan. Iris onyxnya yang sekelam malam itu menyapu tiap huruf di dalam buku yang berjudul 'Magic!' karya seorang pesulap wanita terkenal yang bernama . Ketika akan membalik halaman yang sudah ia baca itu, sebuah suara ketukan dari balik pintu ruangannya menghentikan gerakan tangan porselennya.
"Masuk." Kata Sasuke sambil membalik halaman itu dan kembali membaca isi buku sulap itu.
"Sasuke-sama, ada kiriman untuk anda." Kata laki-laki paruh baya yang memakai baju khas seorang pelayan. Tangannya yang sudah mulai hilang kekencangannya itu terulur ke depan, memberikan sebuah amplop coklat yang lumayan besar dan dapat di tebak dari luar kalau isinya uang.
"Hn." Sahut Sasuke sambil menerima amplop coklat itu dan mengisyaratkan pelayannya untuk keluar.
Pelayan paruh baya itu pun membungkuk hormat dan keluar dari ruang baca pribadi milik Sasuke.
CKLEK
Pintu ruangannya tertutup, menyisakan Sasuke, buku, teh dan amplop coklat yang sedang berada di tangannya. Dahinya berkerut heran, karena ia merasa tidak pernah meminta orang tuanya mengirimi uang. Lagipula, untuk apa ia minta dikirimi uang? Toh tanpa diminta uang akan datang padanya, mengingat jika ia juga punya perusahaan yang dihandle kakaknya. Tangan porselennya merobek bagian atas amplop itu dengan hati-hati dan mengeluarkan seluruh uang yang ada di dalam amplop itu, tapi... ada kertas putih yang terselip di antara tumpukan uang itu. Segera saja ia mengambil kertas itu dan membaca tulisan rapi itu dengan seksama.
.
Ini uang ganti ruginya, Uchiha-san. Jika kurang, anda bisa meminta lagi sisanya padaku.
Alamat :
Green Fukushi Apartement, Lt. 15 No.12A/3B, Konoha.
Ttd,
Naruto Namikaze
.
Sasuke langsung menyeringai melihat nama yang tertera di sana. Ah! tidak mungkin dia lupa orang yang berjanji akan mengganti rugi tabung kaca itu kemarin.
"Naruto Namikaze... hmm.."
.
.
Naruto sedang bersiap-siap pergi ke sekolah. Dasi yang sudah dikencangkan, tali sepatu yang sudah diikat. Yap! Semuanya sempurna. Ia pun melenggang keluar dari kamarnya untuk berangkat sekolah.
"Ingat! Jangan terlalu memaksakan diri kalau berlatih nanti, ya.." pesan ibunya sambil mengusap puncak kepala Naruto dengan lembut sebelum ia keluar dari apartemennya.
"Tentu Kaa-san..." kata Naruto sambil mengacungkan jari jempolnya dan tersenyum lima jari.
"Hey, Naru-chan... tolong periksa loker surat kita, ya... mungkin saja ada surat-surat penting." Teriak Kyuubi dari kamar mandi.
Naruto menganggukkan kepalanya dan keluar dari apartemen sederhana keluarganya dengan senyum mentari yang dapat menghangatkan siapapun. Setelah keluar dari lift yang menuju ke lantai 1, Kaki jenjangnya ia langkahkan menuju loker surat apartemen mereka dan menyapa penjaga loker surat yang ada di sana.
"Halo, Paman Bee! " sapa Naruto dengan senyum sumringah.
"Yo! Naruto apa kabarnya! Kau pasti ingin berangkat sekolah! Yoo..." serunya dengan nada rap yang membuat Naruto ingin terkekeh geli.
"Yosh! Benar, kira-kira ada surat untuk keluargaku, Paman Bee?" tanya Naruto yang tidak kalah semangat dari penjaga loker surat itu.
"Yo! Ada satu dan ini sangat spesial! Biar kuambilkan." Kata Bee sambil berjalan cepat ke arah loker surat milik keluarga Namikaze, setelah itu ia memberikan sebuah amplop besar kepada Naruto sambil menunjukkan sebuah seringai yang sulit diartikan.
"Terima kasih, Yo!" kata Naruto sambil tersenyum lima jari. Ia pun berlalu dan duduk di salah satu sofa yang ada di lobby apartemennya.
'Apa ini? Kenapa berat sekali?' batin Naruto sambil membolak-balik Amplop besar yang menggembung itu.
'Haaah?! Untukku?'
Naruto mengerjapkan matanya berkali-kali saat sadar jika amplop besar yang membuat ia penasaran itu ditujukan untuknya, karena ia melihat nama dan alamat apartemennya ada di sudut amplop itu. Tangan tannya mulai merobek bagian atas amplop itu dengan hati-hati agar isi bagian dalamnya tidak ikut sobek. Setelah selesai merobek bagian atas amplop itu, Naruto melongokkan kepalanya untuk melihat isi amplop itu. dan ternyata...
"WHAAT?!" Naruto berteriak kencang, membuat orang-orang yang berlalu lalang di sekitar lantai 1 tower apartemen itu menghentikan aktivitas mereka.
Bagaimana tidak? isi amplop itu ternyata uang! Uang dalam jumlah besar. Ia kembali memastikan jika kiriman itu benar-benar untuknya. Namanya Naruto Namikaze, check! Namanya terdapat di sana. Alamatnya di Green Fukushi Apartment, Lt 15 No.12A/3B, check! Alamatnya memang tertera di sana. Lalu... uang dari siapa ini? Seingatnya tidak ada turnamen yang ia ikuti minggu-minggu ini dan jika uang ini dari UTO, itu tidak mungkin, karena biasanya ia hanya mendapatkan sekitar 2-3 Juta Ryo perbulan. Dan uang yang ada dihadapannya ini ia taksir sebanyak 10 Juta ryo. Jadi, siapa orang yang mengirimkannya uang sebanyak itu?. Setahu Naruto, ibunya yang bermarga Uzumaki itu sudah hidup sebatang kara sejak remaja, jadi tidak mungkin keluarga ibunya.
"Aduuuh... dari siapa ini?" kata Naruto yang dilanda keheranan tingkat tinggi. Mungkin orang yang tidak sepolos Naruto akan menganggap jika itu rezeki nomplok di pagi hari, tapi... bagaimana dengan orang polos seperti Naruto yang tidak akan berani memegang uang banyak? 10 juta ryo akan menjadi perkara rumit baginya.
Dengan memberanikan diri, Naruto mengacak-acak isi amplop itu, berharap ada sesuatu yang dapat membantunya menemukan sang pengirim yang sudah berbaik hati memberikan uang yang setara dengan separuh biaya sewa apartemennya itu. Tiba-tiba matanya tertuju pada secarik kertas putih yang sengaja ditempelkan di dasar amplop yang penuh dengan tumpukan uang itu. Segera saja ia ambil dan baca isi kertas itu, setidaknya ia harus tahu tujuan sang pengirim mengirimkannya uang.
.
Aku sudah bilang padamu, dobe.. uang ganti rugimu tak akan ku ambil.
Ttd,
Sasuke Uchiha The Moonlight Magician
.
Naruto mengernyitkan dahinya, bingung.
"Lalu... kenapa ada 10 juta ryo di sini? Tidak! ini tidak boleh dibiarkan! Aku harus bertanggung jawab!" kata Naruto sambil mengemasi amplopnya dan ia masukkan ke dalam ranselnya. Setelah itu, ia beranjak dari sofanya dan bergegas pergi sebelum orang lain melihat jika ia tengah membawa uang sebesar 10 juta ryo di ranselnya. Meski karateka, ia juga harus tetap bersikap waspada dan hati-hati.
.
.
Di hari libur seperti ini paling nikmat jika duduk bersantai dengan ditemani segelas teh dan semangkuk ramen hangat, begitulah yang Naruto pikirkan. Tapi suara teriakan kakaknya sukses menghancurkan segala ketenangan pagi di hari libur ini.
"Naru-chaaan! Cepat keluar dari kamarmu! Ada surat!" teriak Kyuubi.
Naruto yang sudah pw dengan posisinya di kursi itu beranjak dengan malas-malasan untuk memenuhi panggilan kakaknya. Kakinya yang berwarna tan itu ia ajak untuk berjalan ke ruang tamu di mana kakaknya berada tadi, padahal berat sekali rasanya jika ia harus meninggalkan sedikit waktu liburnya hanya untuk sebuah surat. Setelah tiba di ruang tamu, Iris safir Naruto tertuju pada kakaknya yang tengah duduk manis sambil memegang sebuah amplop biru.
"Dari siapa?" tanya Naruto sambil menduduki sofa di ruang tamu itu.
"Lihat saja sendiri." Kata Kyuubi sambil menyodorkan amplop itu ke hadapan Naruto. Dengan malas-malasan Naruto membuka amplop itu dan menemukan kertas putih polos yang berukuran sekitar 18 x 10.
.
Dasar bodoh! Aku tidak akan mengambil sepeser pun uang darimu, dobe!
Sekarang, cek rekening bank-mu!
Ttd
Sasuke Uchiha The Moonlight Magician
.
Naruto mengerutkan dahinya melihat isi surat yang sekarang berada di tangannya itu.
"Tahu dari mana si teme itu rekening bank-ku? Lagipula... ada apa dengan rekening bank-ku?"
Ting... Tung...
Naruto langsung mengambil smartphone-nya dari dalam celana, kemudian ia mengamati notifikasi yang masuk ke smartphone-nya.
"UAPAAA?!" Seru Naruto saat melihat notifikasi dari aplikasi M-Banking miliknya. Bagaimana tidak? seseorang telah mentransfer uang ke rekening banknya sebesar 20 juta ryo, dan ia yakin siapa yang telah mentrasfernya uang sebesar itu. Sungguh! Naruto benar-benar gagal paham dengan kemauan pesulap itu. Ya... siapapun akan merasa senang jika diberi uang ganti rugi,tetapi si pesulap itu? Dia benar-benar aneh! Seumur hidupnya baru kali ini ia melihat orang yang diberi ganti rugi mengembalikan uang ganti rugi itu berlipat ganda.
"Cih, mentang-mentang kaya!" sungut Naruto sambil mengutak-atik handphone-nya bermaksud untuk mengirim balik uang tersebut. Meski tidak terlalu kaya, Naruto tahu, ia tidak boleh menerima uang dari seseorang yang tidak terlalu ia kenal ataupun uang yang bukan berasal dari hasil jerih payahnya. Mana mungkin ia mendapat gaji karena telah merusak properti pertunjukkan, kan? Ya... Hanya orang yang berotak miring jika berpikiran seperti itu.
"Khukhukhu..."
Naruto terkekeh geli saat uang yang baru saja sampai direkening bank-nya ia kembalikan lagi. Lagipula, siapa yang ingin menerima uang sebanyak itu tanpa alasan yang jelas (menurut Naruto, -_-)
.
.
Ting... Tung...
Iris Onyx seorang laki-laki bersurai raven mencuat terarah pada handphone canggihnya yang sedari tadi tergeletak manis di tempat ia membaca buku. Tangan pucatnya terulur untuk meraih smartphone itu dan melihat notifikasi yang sampai di sana.
.
Saldo rekening anda bertambah 20 Juta Ryo.
.
Sebuah seringai terpatri di bibir pemuda yang memiliki julukan "Moonlight Magician" itu setelah membaca notifikasi terbaru yang sampai di handphone-nya. Entah apa yang ada dipikirannya, namun terlihat jelas jika ia merencanakan sesuatu dengan handphone yang masih sibuk ia utak-atik.
To : Naruto-Dobe
Kenapa? Uang yang aku kirim belum cukup untukmu? Atau... kau ingin aku menambahnya menjadi 40 Juta ryo? Baiklah...
Sasuke Uchiha
.
Naruto langsung melotot melihat pesan yang baru saja sampai di smartphone-nya. Jujur, jika ia orang yang jahat, dan tidak rajin menabung, mungkin ia akan melempar smartphone-nya itu keluar jendela agar tidak melihat nama pesulap itu lagi. Naruto fans berat Sasuke, seharusnya ia merasa senang jika mendapat pesan dari pemuda nomor satu yang diincar para gadis itu, namun tetap saja, siapapun akan merasa takut, kan jika seseorang yang selama ini kau kagumi seperti seorang penguntit dan parahnya, ia menguntitmu! Haa... Naruto benar-benar pusing dengan semua kegilaan yang pesulap itu lakukan. Dari pengiriman paket uang sebesar 10 juta ryo, transfer uang sebesar 20 juta ryo bahkan mungkin 40 juta ryo akan masuk dalam saldo tabungannya dan... ia benar-benar tidak tahu! Darimana pesulap itu mendapatkan nomor rekeningnya dan handphone-nya. Naruto tidak mengerti apa yang diinginkan oleh pesulap itu.
Beberapa detik kemudian...
Ting... Tung...
Naruto langsung mengamati notifikasi pada handphone-nya dan...
.
Saldo rekening anda bertambah 40 Juta Ryo.
.
"HUAAA!" Naruto berteriak frustasi saat notifikasi dari aplikasi M-Banking-nya kembali terdengar dan lebih parahnya, si Uchiha itu mengiriminya uang sebesar 40 Juta ryo secara cuma-cuma. Ia yakin, Uchiha bungsu itu sudah miring otaknya.
"Baik, Uchiha! Aku menyeraaah!" Teriak Naruto tepat di depan handphone-nya yang ia bayangkan sebagai sosok pesulap yang tengah melambung namanya. Oh iya, jangan lupakan kalau ia memiliki pekerjaan baru, yaitu menguntit dirinya! Catat itu! Meng-un-tit seorang Naruto Namikaze!
.
.
Other Side
.
Sasuke benar-benar menyesal ikut dengan kakaknya saat ini. Kenapa?
FLASHBACK
"Sasuke, mobilmu aku yang pakai, ya?" kata Itachi sambil memainkan kunci mobil Sasuke yang berwarna hitam itu.
Sasuke langsung melotot tidak setuju dengan keinginan Itachi yang seenaknya.
"Ada apa dengan mobilmu, Aniki? Lagipula aku mau ke toko buku." kata Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari kartu remi yang tengah berjajar rapi di depannya. Ya.. ia mencoba membuat trik sulap yang baru.
"Ck, mobilku dipinjam teman. Hm... kau ikut saja denganku, otoutou.. aku jamin kau pasti suka. Setelah itu aku akan mengantarkanmu ke toko buku."kata Itachi sambil tersenyum senang, namun terdapat maksud dalam senyumnya tadi.
Sasuke diam sebentar. Iris onyx-nya menatap tajam laki-laki berambut panjang yang sedang berdiri di hadapannya itu.
"Hn."
Setelah bergumam singkat, Sasuke beranjak dari tempat duduknya kemudian meraih jaket hitam yang tersampir di sofa yang tadi ia duduki.
END FLASHBACK
Sasuke benar-benar tidak tahu jika kakaknya akan mengajak ke turnamen karate kelas bebas yang sebentar lagi akan dimulai ini. Ia mengira kalau kakaknya akan mengajaknya ke kafe atau semacam bar karena ia bilang mau bertemu temannya. Cih, Sasuke benar-benar tertipu mentah-mentah. Memangnya siapa orang yang mau ditemui oleh aniki-nya itu di tempat seperti ini?
"Sasuke! Kenapa kau melamun! Ayo, kemari!" kata Itachi yang ternyata sudah berada di sisi arena yang biasanya di pakai untuk pelatih mengawasi atletnya dan ia bersama dengan seorang pria berambut oranye cerah yang Sasuke tidak kenal wajahnya.
Sasuke menghela nafas, kemudian mengajak kaki jenjangnya menuju tempat kakaknya berdiri sekarang.
"Nah, Otoutou.. ini Kyuubi..."kata Itachi dengan antusiasnya memperkenalkan adiknya kepada seorang pemuda yang Sasuke yakini sebagai teman kakaknya itu.
"Kyuubi Namikaze." Kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya kehadapan Sasuke dengan wajah yang telihat sedikit dongakkan.
Tersentak!
"Tunggu, Namikaze?" Ulang Sasuke sambil menyipitkan matanya ke arah Kyuubi tanpa membalas uluran tangannya.
"Huh?"
Kyuubi mengangkat sebelah alisnya sebentar karena pertanyaan Sasuke yang terdengar meragukan ke-Namikaze'annya.
"Ya, Ada masalah?" tanya Kyuubi sambil memiringkan sedikit kepalanya.
"Hn."
Kyuubi makin heran saat melihat sebuah seringai khas Uchiha terpatri di bibir adik temannya itu. Entah mengapa ia merasa yakin jika keluarganya 'ada apa-apa' dengan si bungsu Uchiha ini.
"Hei, Siapa yang akan bertanding, Kyuu?" tanya Itachi sambil menepuk pelan bahu Kyuubi dengan sangat akrab.
Kyuubi sambil tersenyum miring di hadapan duo Uchiha itu.
"Lihat saja nanti. Ah iya,aku juga ingin memperkenalkan kalian pada seseorang, tetapi ia di ruang ganti sekarang. Mau ikut?" tanya Kyuubi sambil tersenyum yang tentu saja dibalas anggukan antusias oleh Itachi dan gelengan penolakan oleh Sasuke.
.
"Ck." Entah sudah berapa kali Sasuke berdecak kesal karena harus duduk berdesakan dengan penonton lain. Haaah... jika ia bukan Moonlight Magician mungkin ia akan melepas semua penyamaran yang ia kenakan. Mulai dari topi, syal serta masker, Oh! Jangan lupa pula dengan setelan bajunya yang panjang dan bagusnya lagi berwarna hitam! Sehingga hawa panas seperti menembus begitu saja pada permukaan kulitnya, padahal stadion tempat pertandingan karate itu terbilang tertutup.
"Ck! Si keriput itu malah asyik sendiri dengan kepala orange itu!" sungut Sasuke dalam hati saat melihat kakaknya yang tiba-tiba OOC saat berada di dekat laki-laki bermarga Namikaze itu. Sumpah! Sasuke sama sekali tidak cemburu dengan laki-laki yang bernama Kyuubi itu, hanya saja ia benar-benar kesal dengan kakaknya yang seenak jidatnya saja mengacuhkan Sasuke, padahal yang mengajaknya ke turnamen ini adalah Baka Aniki-nya itu. Jika tahu hasilnya begini, lebih baik ia tetap diam di rumah sambil mencari trik sulap yang baru atau pergi sendiri ke toko buku.
'Cih!'
"Pertandingan babak pertama akan dimulai... kepada atlet yang mendapat undian pertama bertanding silahkan menempati sudut Merah dan Biru." kata seorang pembawa acara bertubuh kekar dan berpakaian rapi.
PLAK!
"Hei, Otoutou... kau tidak akan menyesal ku ajak ke sini." Kata seseorang yang suaranya sangat Sasuke kenal. Siapa lagi kalau bukan Baka Aniki-nya. Tangannya menyenggol-nyenggol lengan Sasuke sambil tersenyum miring yang Sasuke sendiri tidak mengerti apa maksud dari senyum menjijikkan itu.
"Hn."
Sasuke menggumamkan huruf favorit-nya itu, lalu menerawang jauh ke arena pertandingan, sampailah ia mendapati seorang laki-laki bersurai kuning cerah tampak duduk ala karateka di sudut biru arena pertandingan itu. Tunggu! Kuning ceraah?
"Ya... aku tidak menyesal kau ajak ke sini." Kata Sasuke yang langsung menyeringai sendiri tanpa menatap aniki-nya yang sekarang ikut-ikutan menyeringai. (-_-)
.
"Dari Sudut Merah, Kisame Hoshigaki. Karateka Pro yang tak pernah jatuh di arena pertandingan sekaligus penyabet medali emas kelas bebas tahun lalu! " kata pembawa acara itu sambil mempersilahkan sang atlet masuk ke arena.
Sasuke dan Itachi langsung melotot horor saat melihat seorang laki-laki kekar yang mungkin memiliki tinggi 190 cm itu berdiri dan memasuki arena pertandingan dengan angkuh. Jangan lupakan pula wajah sangarnya yang dapat membuat semua orang bergidik ngeri melihatnya.
"Dan di sudut biru, ada Naruto Namikaze. Karateka muda yang dijuluki The Prince of Karate."
Laki-laki berambut kuning yang sedari tadi menjadi objek Sasuke tampak berdiri dan memasuki arena pertandingan dengan cengiran lima jarinya. Ya.. Meski lawan Naruto kali ini adalah seorang karateka pro yang Sasuke taksir berbobot 125 Kg, tak terlihat raut ketakutan ataupun gentar di wajah Naruto. Malah sebaliknya, cengiran manis miliknya ia persembahkan saat memasuki arena pertandingan itu.
"Ini tidak adil! Bagaimana mungkin si Dobe bisa menang melawan gorila itu?" desis Sasuke sambil menautkan jemari tangannya di depan wajah.
"Haah... ini kelas bebas, Sasuke, tapi lihat saja, kau akan tahu hasilnya dalam hitungan detik." kata Itachi sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menyeringai saat kekalutan tampak jelas di wajah adiknya itu.
"MULAI!"
Sasuke dan Itachi langsung fokus melihat ke arena pertandingan di mana berdiri dua orang karateka yang sudah siap dengan gerakan melompat-lompat kecilnya.
BUUUSHH...
Sebuah pukulan dilayangkan oleh laki-laki kekar bernama Kisame itu ke arah leher Naruto, namun Naruto dengan mudah menghindarinya dengan menggeser tubuhnya kesamping dengan rileks sambil...
DUAGH! DUAGH! DUESH!
Semua penonton melotot kaget saat menyaksikan karateka muda berwajah manis itu dengan mudahnya melakukan pukulan balasan sebanyak tiga kali, Oh tunggu!
DUAK!
Sebuah tendangan lutut melayang dan menghantam dagu karateka pro itu.
"POINT!"
Wasit mengangkat tangannya, lalu mengarahkannya pada Naruto, pertanda jika Naruto mendapatkan point.
"Cih." Kisame berdecih kesal saat karateka muda itu berhasil menghantam wajahnya dengan tendangan lutut tadi, -sampai-sampai bibirnya berdarah karena tak sengaja tergigit.
'Lihat Saja! Aku akan mengalahkanmu, bocah tengik!' Inner Kisame sambil menatap nyalang Naruto yang sudah memasuki serius-modenya.
"Mulai." Seru Wasit dan kedua atlet itu pun kembali melakukan gerakan seperti awal tadi.
"Hyaaaaahh!"Seru Naruto sambil melompat dan langsung mengapit leher Kisame. Setelah itu ia menjatuhkan dirinya sekuat tenaga disertai dengan ikut robohnya tubuh Kisame di arena pertandingan.
BRUGH!
Penonton hening seketika setelah menyaksikan adegan live jatuhnya sang karateka pro di arena pertandingan dalam hitungan detik itu.
Sedangkan Sasuke?
"APAA?!" seru Sasuke dalam hati saat melihat Naruto yang mungkin bobotnya hanya 50 Kg itu dapat dengan mudah menumbangkan Karateka pro berbobot 125 Kg.
"POINT! TKO!" Seru sang wasit akhirnya. Kedua tangannya teracung, lalu ia arahkan pada Naruto yang masih mengapit leher sang karateka pro yang entah mengapa langsung pingsan setelah teknik bantingan itu, padahal sebelumnya Kisame masih tampak memberontak. Ya... mungkin ia kehabisan nafas karena tercekik oleh apitan kaki Naruto.
"Babak Pertama dimenangkan oleh Naruto Namikaze!" seru sang pembawa acara sambil bersorak ria menambah kegemparan di stadion olahraga itu.
"57 Detik. Bagaimana menurutmu, Otoutou?" kata Itachi sambil tersenyum misterius ke arah Sasuke yang masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi beberapa menit yang lalu. Iris kelamnya masih mengamati sosok kuning cerah yang tersenyum malu saat pelatih dan seorang laki-laki berambut oranye menepuk bahunya pelan dengan kekaguman tertoreh di sana. Oranye?
"Itu temanmu, kan, Aniki?" tanya Sasuke datar sambil menunjuk ke arah seorang laki-laki berambut oranye yang tengah bercengkrama dengan Naruto.
Itachi menghembuskan nafasnya perlahan, lalu membuka mulutnya.
"Naruto itu adiknya Kyuubi. Ayo kita ikut ke sana." Kata Itachi dengan nada malas, kemudian ia berjalan menuju sisi arena pertandingan yang kini mulai ramai.
.
"Kau hebat, Naruto! Itu baru adikku. Aku heran kenapa Kau tidak takut dengan lawanmu tadi. Aku saja langsung berdo'a saat tahu lawan tandingmu orang sehebat itu." Kata Kyuubi sambil menepuk bahu adiknya dan tersenyum manis.
"Ya.. ini baru babak pertama, aniki jangan senang dulu... Apalagi, Naru tidak bisa mengakhiri pertandingan di detik ke-40. Ah iya! Maafkan saya Kakashi-sensei. Saya belum bisa mencapai target yang sensei berikan." Kata Naruto sambil berbalik dan membungkukkan tubuhnya di hadapan seorang pria dewasa yang sebagian wajahnya tertutup masker.
PUK..
"Tak apa, Kau sudah melakukan yang terbaik. Ingat ya, jangan pernah meremehkan lawanmu. Jika kau meremehkan lawanmu, kau akan bernasib sama dengan karateka pro tadi." kata guru Naruto yang bernama Kakashi itu sambil tersenyum manis dibalik maskernya.
Tiba-tiba..
"Wah, selamat, ya.. Naru-chan." Kata seorang laki-laki berambut raven panjang yang diikat kendur ke belakang.
"I..Itachi-nii, kan?" tanya Naruto sambil mengerutkan dahinya dan memiringkan kepalanya sedikit.
"Yup!"
"Loh? Siapa laki-laki yang di belakang, Ni-san? Kenapa memakai pakaian tertutup seperti itu. Hei!"
Naruto nyelonong dan langsung menepuk bahu laki-laki bertopi yang ada di belakang Itachi tadi dengan antusias. Ya.. karena Naruto pikir hanya orang aneh yang berpakaian tertutup di tempat yang terbilang panas ini.
"Itu.. Sasuke." kata Itachi dengan santai tanpa menyembunyikan seringainya saat melihat ekspresi terkejut yang terpatri di wajah Naruto.
"EH?! Sasuke? Moonlight Magician itu?" seru Naruto sambil menunjuk laki-laki yang sekarang tengah menyembunyikan seringainya di balik masker yang tengah ia kenakan.
"Hn, Kita bertemu lagi, dobe." Kata Sasuke sambil melepas maskernya, sehingga terpampang jelaslah wajah sang pesulap yang selalu dielu-elu-kan oleh kaum hawa itu.
Naruto yang sejatinya lebih pendek beberapa senti dari Sasuke hanya bisa menggeram kesal saat mendapati pesulap itu menyeringai ke arahnya.
"Cih, Dasar Teme! Nanti aku mau bicara denganmu, penguntit sialan!" kata Naruto sambil berbalik dan melenggang pergi dari hadapan Sasuke, namun langkahnya terhenti saat sebuah suara menginterupsinya.
"Bicaralah sekarang, mungkin setelah ini aku mau pulang." Kata Sasuke dengan nada datar sambil mengangkat bahunya acuh.
"Cih!"
Naruto makin kesal dengan cara bicara Sasuke yang terkesan angkuh itu. Ya.. seandainya saja ia bukan anak baik yang ingin membuat bahagia orang tuanya, mungkin ia sudah melayangkan pukulannya untuk si Teme ini!
"Baik, Mari kita bicara, Uchiha!" Kata Naruto sambil menatap tajam ke arah si pesulap yang sedari tadi memasang wajah datarnya yang menyebalkan.
"Hn."
Sasuke langsung menarik pergelangan tangan Naruto untuk menjauh dari tempat itu tanpa mengindahkan pandangan Itachi yang seperti berkata 'Kau memang cari mati, Otoutou.'
.
.
Di Luar Stadion
"Baik, aku sudah tahu, kau pasti ingin bicara masalah uangmu, kan?" kata Sasuke masih dengan nada angkuhnya.
"Bukan, Teme! Tapi ini masalah uangmu! Bukan uangku!" seru Naruto sambil menggeram kesal.
"Lalu?"
Naruto ingin meledak rasanya jika berbicara dengan pesulap ini dan ia rasa dirinya mulai menyesal karena sudah menjadi salah satu fans-nya.
"Baik, aku hanya akan mengambil uang milikku, dan sisanya akan ku kembalikan padamu lagi." Kata Naruto dengan tegas.
"Wah, kau ini mata duitan juga. Aku tahu, kau bermaksud mengembalikan uangku agar dapat kembali padamu dengan berlipat ganda, kan?" kata Sasuke asal dan itu sukses menyulut emosi si karateka pirang kita ini.
"Kaauu..." desis Naruto yang buku-buku tangannya sudah memucat karena mendapat tekanan atau rematan hebat dari pemiliknya.
Sasuke mendekati Naruto tanpa terlihat gentar, padahal ia sudah tahu kemampuan si bungsu Namikaze ini. Hanya saja, menggoda laki-laki pirang itu terlalu menyenangkan untuk dilewatkan.
"Jika kau mengembalikan uang itu lagi, aku akan mengirimnya padamu sebanyak 80 Juta Ryo. Kau tahu, kau itu aneh. Tapi..."
Sasuke langsung meraih dagu Naruto dan mengecup bibirnya tanpa memikirkan konsekuensi yang akan ia dapatkan jika berani macam-macam dengan atlet karateka kita ini, tapi anehnya.. setelah ia melepaskan pagutannya pada bibir Naruto, tak satu pukulan pun mampir di wajahnya, padahal Sasuke yakin, ia akan babak belur setelah ini.
.
.
TBC
To
Be
Continued...
Well, makasih udah baca Minna, jangan lupa kasih review ya..
Buat perbaikkan chapter selanjutnya.. :D
Oh iyaa! mAkasih banyak atas review, favorite dan follow-nya pada fic Miyu... karena review, favorite dan follow-an kalian adalah suplemen buat Miyu supaya cepet nyelesain ceritanya..
Sekali lagi, Doumo Arigatou... XD
