previously

Momoi Satsuki namanya. Gadis berambut merah muda panjang itu menoleh. "Ya Tuhan, kenapa ada pot pecah di sini?"

"Ini gara-gara kau!"

"Kenapa kau menyalahkan orang lain? Jelas-jelas kau yang menabrakku." Sela siswi yang baru berdiri sambil mengusap lututnya yang terbentur.

Furihata berdiri kaku. Sebagai seorang laki-laki dia memang kurang pantas jika menyalahkan Momoi, tapi masalahnya... dia, Momoi Satsuki, gadis beriris fuschia itu memang sudah terkenal dengan gerak-geriknya yang bisa merugikan orang. Percuma dengan wajah cantiknya, percuma dengan senyuman bidadarinya, percuma juga dengan tubuh sempurna di balik seragamnya. Bagaikan kucing hitam berkedok bulu merah muda, kemalangan akan menyertai orang yang berada di dekatnya.

Karena Momoi Satsuki, gadis berambut susu stroberi ini, adalah seorang gadis pembawa sial.

.

.

Pagi ini, pintu geser kelas 11-2 terbuka dan menampakkan sesosok siswa berambut hijau yang memasuki kelas. Kacamata di pangkal hidung ia naikan dengan ujung jari, kaki panjang yang melangkah tegas, serta mata tajam yang menatap bangkunya tanpa acuh.

Midorima Shintaro orangnya. Dia sama sekali tidak memedulikan tatapan orang yang otomatis meliriknya begitu ia memasuki ruangan kelas yang sedikit ramai. Oke, belakangan ini Midorima memang termasuk siswa populer, apalagi sejak orang-orang mengetahui kepiawaiannya dalam memainkan bola basket. Namun hari ini rasanya cukup berbeda. Mungkin karena ada sebuah boneka merah muda yang menyembul dari saku kemeja seorang Midorima.

Tentu saja semua orang terkejut, terutama para siswi yang terbiasa memujinya. Walau Midorima dikenal menyukai benda keberuntungan dan sering membawa berbagai macam barang yang aneh, baru kali ini ia menjumpai Midorima yang membawa boneka kelinci super imut, terlebihnya berwarna pink.

Setelah Midorima duduk di bangkunya yang berada di deretan tengah, ditaruhnya Luccie ke permukaan meja dengan posisi terduduk. Boneka bertelinga panjang itu disengajakan untuk menghadap ke arah Midorima. Banyak siswa-siswi yang melihatnya. Ada beberapa yang bahkan tertawa. Lucu saja jika ada pria serius sepertinya yang membawa boneka anak perempuan.

"Shin-chan..."

Mendadak ada sebuah suara lucu yang lumayan mencolok untuk didengar. Asing bagi mereka, beberapa murid menoleh ke asal suara, yang nyatanya dari Luccie—boneka tersebut. Ia angkat tangan kecilnya dan menunjuk para siswi di barisan terbelakang yang terlihat masih bergerombol.

"Masa mereka mengejek Shin-chan..." Adu Luccie, yang langsung disertai pelototan orang-orang yang dia maksud. "Kata mereka masa Shin-chan keren-keren banci? Jahat sekali ya mereka?"

Mendengar hal itu, perlahan Midorima menoleh ke belakang dan mendapati sosok empat siswi yang minggu lalu pernah sok manis di depannya untuk minta belajar bersama. Sebagai reaksi, Midorima tidak berkomentar banyak—cukup diam dan mengembalikan pandangannya ke depan. Tampaknya dia tidak terlalu peduli. Sungguh berbeda dari empat siswi tadi yang kini berdiri kaku sambil menatap was-was boneka yang tadi mengadu ke Midorima. Bukannya tadi mereka hanya bisik-bisik? Kenapa kelinci itu bisa mendengar? Dan juga... bagaimana bisa sebuah boneka, yang seharusnya menjadi benda mati, malah berbicara seperti itu?

Boneka macam apa coba?

.

.

.

LUCKY LUCK

Kurobasu by Tadatoshi Fujimaki

AR—Alternate Reality

Pieree Present...

(Midorima Shintaro—Momoi Satsuki)

.

.

two of five

-si pembawa sial-

.

.

Satu minggu terlewat, sudah tak ada lagi yang mengomentari kehadiran boneka manis itu di samping Midorima Shintaro.

Selama pelajaran, mau itu teori atau praktik di luar kelas, Midorima selalu membawa Luccie. Kadang boneka kelinci tersebut ia pegang, atau dia taruh begitu saja di saku kemejanya. Mereka benar-benar menempel dan tak terpisahkan. Saat ada guru wanita yang ingin melihat Luccie saja boneka itu seperti tidak mau melepaskan diri dari Midorima—malah seperti tersangkut di sakunya padahal tak ia kasih lem apa-apa. Luccie kelihatan lumayan pemilih jika ada orang yang mau memegangnya.

Midorima tampaknya juga nyaman dengan Luccie. Dia baru sadar bahwa boneka ini ternyata bisa membantunya dalam banyak hal. Seperti membantunya memilih pena yang sekiranya bisa melancarkan isi kepalanya untuk menghadapi ujian, membawa payung karena taunya saat sore ada hujan deras, bahkan menyuruhnya membeli parasetamol di minimarket sebelum pulang—karena sesampainya di rumah ibunya sakit kepala dan tidak bisa meninggalkan toko.

Mereka benar-benar seperti perangko dan amplop. Midorima jelas sangat membutuhkannya.

Begitu pula hari ini, saat ia baru menyelesaikan pelajaran olahraganya. Jadwal piket untuk membereskan bola tenis yang bertebaran sedikit menyita waktunya dan alhasil dia berada di ruang ganti seorang diri—bersama Luccie tentunya. Mengusap peluh dengan ujung lengan seragamnya, ia berjalan menuju loker dan berganti baju setelah menaruh Luccie di loker.

"Shin-chan..."

Boneka itu bersuara.

"Hm?"

"Aku merasa gadis pembawa keberuntunganmu berada di dekat sini."

Midorima mengangkat salah satu alisnya; ia menoleh ke belakang dan menyapu pandangan sekitarnya.

"Ini ruang ganti khusus lelaki. Lagi pula di jam seperti ini siapa lagi yang masih olahraga?"

"Bukannya ini masih jadwalnya anak tingkat satu berolahraga?"

"Tingkat satu?" Midorima yang sudah lengkap dengan pakaian seragamnya menoleh heran. "Maksudmu gadis pembawa keberuntunganku adalah seorang junior?"

"Kemungkinan besar." Luccie tersenyum. "Lebih baik kau segera keluar. Siapa tahu nanti bisa bertemu dengannya."

Menghela napas, Midorima melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya dan menggeleng. "Aku tidak punya banyak waktu untuk beristirahat. Aku mau ke kelas."

Midorima menyimpan baju dan sepatu ketsnya di sebuah tas olahraga lalu menaruh Luccie di saku. Sambil berjalan ke luar ruang ganti, ia benahi kemejanya yang masih berantakan. Kepalanya yang tertunduk serta tatapan mata hijaunya yang tidak fokus ke depan membuatnya sedikit terkejut kala ada benturan dari seorang gadis yang tiba-tiba menabraknya.

Well, ia sama sekali tidak terluka dengan adanya insiden ini, namun gadis yang menabraknya itulah yang justru terpelanting ke belakang dan menarik seragamnya sebagai refleks. Midorima nyaris menimpa gadis itu kalau saja tangannya tak berpegangan pada tembok.

Lalu Midorima menatapnya, masih dengan kedua mata yang terbelalak lebar.

Di bawahnya, bersandar dengan tembok, gadis itu juga hanya menengadahkan wajah dengan raut panik. Matanya merah fuchsia yang bulat, dadanya besar, serta rambut panjangnya yang kini di cepol tinggi. Tangannya menggenggam handuk yang sudah melorot, dan memperlihatkan sebagian tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian renang biru dongker yang ketat dan juga mini. Mungkin dia baru saja mau berlari dari tempat ganti perempuan—yang terletak tak jauh dari sini—ke tempat renang di ujung koridor.

"Ah, gomen ne, Senpai!" Gadis itu berdiri dan membenahi tatanan handuknya dengan malu. "Aku buru-buru..."

Dia pun langsung berlari pergi.

Setelah di sini hanya ada Midorima seorang, Luccie bersuara lagi. "Itu dia orangnya, Shin-chan."

Tanpa merespons Midorima menghela napas malas dan menegakkan badan. Baju yang sudah dia rapikan kembali berantakan. Ia lanjut membenahi ujung pakaiannya dan melirik ke arah Luccie yang memukul-mukulnya beberapa kali dengan tangan gulingnya.

"Shin-chan, kenapa kau terlihat tidak peduli? Padahal kau baru saja menemui gadis pembawa keberuntunganmu."

Midorima menghentikan langkahnya, lalu berbalik untuk melihat ke sebuah pintu di ujung koridor memanjang ini. Itu tempat orang-orang berenang—dapat dilihat dari ikon air di permukaan pintunya—tempat dimana gadis itu hilang dari pandangan. "Karena aku tidak merasa dia sebagai gadis pembawa keberuntungan."

"Jangan langsung menilainya buruk karena dia baru saja menabrakmu, Shin-chan. Coba deh lihat lagi ke sana."

Awalnya enggan tapi apa daya, Luccie telah banyak membantunya. Dia pun menghampiri ruangan itu dan melihat pemandangan di mana murid-murid perempuan sedang melakukan peregangan di tepi kolam. Sepertinya ada lomba kecil-kecilan yang sebentar lagi akan dimulai—hal itu dapat dilihat dari guru renang yang menaruh peluit di jepitan bibirnya.

"Momoi Satsuki-san, ayo cepat masuk ke barisan!"

"Iya, Sensei!"

Mata Midorima kembali terarah ke gadis yang baru saja menjawab itu. Dia terlihat masih sibuk dengan penutup kepala dan kacamatanya. Dengan terburu dia berlari ke arah barisan, namun nyatanya ia tidak bisa menahan laju kakinya sehingga menabrak seorang siswi lain yang berada di hadapannya.

Momoi jatuh di tempat (lagi), sedangkan siswi yang dia tabrak itu oleng ke arah kolam dengan membawa temannya yang berada di samping. Dua orang jatuh ke kolam, dan satu orang yang tertawa jadi juga ikut terpeleset akibat tubuhnya yang membungkuk ke depan.

"MOMOI!"

"Ah... maaf, ya. Aku tidak sengaja."

Gadis itu memberikan senyum termanisnya dengan sedikit usaha. Sedangkan yang lainnya sibuk menyebuti namanya dengan luapan emosi.

Midorima yang melihat itu pun hanya menaikkan kacamatanya dan berbalik.

"Lihat dia? Dia gadis pembawa sial, bukan keberuntungan."

.

.

pi-e-ree—lu-cky—lu-ck

.

.

Jam satu siang atau lebih tepatnya ketika bel baru saja berdering, Midorima bersama Luccie—yang berada di selipan saku kemejanya—mengisi keramaian kantin. Sudah menjadi sistem tersendiri di sekolah ini untuk mengambil makanan dengan cara mengantri, mengambil nampan, piring, dan juga mangkuk, lalu membiarkan petugas kantin hari ini untuk memberikan mereka makanan sesuai porsi masing-masing. Karena itulah Midorima berada di salah satu barisannya untuk mendapatkan makan siang, yang mungkin tak beda jauh dengan menu minggu kemarin.

Dan kebetulan dia dapati lagi sesosok gadis yang lumayan mencolok tepat di depannya—sebaris antrian. Rambut siswi itu panjang sepinggang. Berwarna merah muda yang amat terasa familiar. Bukannya rupa itu mirip dengan siswi yang sempat ia temui sehabis jam olahraga tadi pagi?

Jika diingat-ingat, Momoi namanya. Momoi Satsuki. Midorima tau sejak nama gadis itu dielu-elukan saat pelajaran renang. Pun gadis yang sebelumnya Luccie sebut-sebut sebagai pembawa keberuntungan—tapi jelas tidak bagi Midorima. Luccie yang juga sadar atas kehadirannya langsung menengadah.

"Ah, kalian bertemu lagi. Mungkin ini takdir."

Pria itu tidak menjawab, tapi Luccie yakin bahwa Midorima telah mendengar. Ia tarik-tarik lagi bajunya.

"Coba sapa deh."

"Tidak."

"Sebentar saja. Seperti hai, misalnya."

"Aku tidak mau kena sial cuma karena sebuah sapaan."

Momoi yang merasa ada bisikan-bisikan kecil di belakangnya lantas menoleh. Ia temui lagi si senpai berkacamata yang (katanya) cukup terkenal di kalangan angkatan atas. Awalnya hanya sekedar mencari tahu asal suara, namun ketika melihat sebuah boneka pink di sakunya, matanya seolah tertambat dan senyuman manis mulai merekah pelan. Sembari mengambil mangkuk nasi dan menaruhnya ke nampan geser, ia mengomentari boneka kelici itu dengan muka ceria.

"Yang tadi berbicara itu boneka Senpai, ya? Kok lucu?"

Midorima tidak menjawab, malah pria itu memalingkan wajah. Jahat memang. Tapi kelihatannya pria itu sudah percaya bahwa gadis di depannya adalah pembawa sial. Karena khawatir owner-nya membuat gadis cantik itu kecewa, Luccie pun mengayunkan tangannya. "Hai, aku Luccie, setting-an dari produk Lucky Luck. Boneka peramal yang amat canggih."

"Ah, dia benar-benar berbicara... kawaii..." Momoi mengelus kepala empuk Luccie dengan jari telunjuk. "Beli di mana? Harganya pasti amat sangat fantastis."

"Daripada kau mengajakku mengobrol, lebih baik kau cepat bergeser dan mengambil makan siangmu."Midorima menyahut dengan nada dingin. Sontak saja Momoi langsung menoleh ke samping, ternyata barisan di depannya sudah maju jauh. Ia terkekeh pelan dan segera menuruti perintah sang kakak kelas.

Di tempatnya berdiri, Midorima mengambil jatah daging dan juga sayur, lalu dilihatnya Momoi yang sudah menenteng nampan yang berisi makanan lengkapnya. "Dadah, Luccie... dan juga, siapa namamu, Senpai?"

"Midorima Shintaro."

Malah Lucccie yang menjawabkan.

"Aku Momoi Satsuki, salam kenal dan sampai jumpa, Luccie-chan... Midorima-senpai..."

"Ah, Momoi-chan..."

Luccie menahan Momoi dengan panggilannya. Midorima mendadak mendapatkan firasat buruk ketika ia baru saja mengambil sekotak susu.

"Kau sedang sendirian, kan? Bagaimana kalau makan bersama kami saja?"

Midorima mengernyit sendiri saat mendengarnya. Ia hendak menolak namun sayangnya Momoi sudah terlebih dulu tersenyum lebar dan mengangguk.

"Aku mau!" Dia menahan senyum bahagianya sampai pipinya memerah. Dia benar-benar terlihat senang. "Tempatnya biar aku yang tentukan, ya?"

Midorima menarik napas dan menghelanya dengan teramat sangat pelan. Ia berjalan mengikuti Momoi—pasrah sajalah kalau sudah begini.

"Kalau di kantin aku biasanya menempati meja terujung. Setidaknya itu bukan tempat yang dimonopoli oleh senior tingkat tiga—dan buatku itu tempat paling nyaman."

"Baguslah kalau begitu..."

Di sela perjalanan menuju meja yang Momoi maksud, Midorima membiarkan Luccie dan gadis itu mengobrol panjang. Ia cukup diam dan berjalan, tak perlu repot-repot untuk sekalian menyimak.

"Aku senang sekali ada yang mau mengajakku makan bareng, habisnya sudah tidak ada lagi yang mau bersamaku sih."

"Kenapa seperti itu? Kurasa kau gadis yang baik..." Luccie berkomentar.

"Ada yang bilang aku ini seperti kucing hitam; pembawa sial."

Dalam hati, Midorima mengiyakan.

"Awalnya aku tidak mengerti, tapi kata mereka, sejak berteman denganku sering muncul kejadian aneh yang cukup membuat sial. Dan itu tidak hanya dialami oleh satu orang." Momoi cemberut. "Padahal aku berani sumpah aku tidak pernah mengerjai mereka atau apa. Tapi kalau saja saat bersamaku ada yang payung teman bolong atau tiba-tiba jatuh dan terluka, mereka pasti langsung menyalahkanku begitu saja."

"Jahat, ya..."

"Iya, karena itulah saat ini aku termasuk siswi di kelas yang paling dijauhi teman-teman—ah!"

Akibat terlalu fokus ke Luccie—yang berada di saku Midorima yang berjalan di belakangnya—ada sebuah kaki yang membuat Momoi tersandung. Awalnya gadis itu akan jatuh ke depan, namun kakinya berpijak dan bukannya berdiri tegak mempertahankan keseimbangan, dia malah miring ke kiri dan menjatuhkan nampannya ke meja orang.

Ada bunyi bantingan nampan plastik yang mengejutkan kala itu.

Ternyata nampan yang Momoi pegang menabrak pundak seorang senior tingkat tiga yang sedang duduk di bangku kantin. Makanannya berjatuhan dan separuh isi mangkuk sup miso-nya tumpah ke kemejanya. Pria berambut ungu gelap itu kaget dan lantas berdiri. Bangku terbanting ke belakang sesaat dia mundur sambil menepuk cairan panas yang mengenainya.

Sambil menggeram ia melotot ke arah Momoi yang sedang panik mencari sapu tangan.

"G-Go-Gomen, gomen ne, Senpai..."

"Apa-apaan kau ini? Punya masalah denganku, hah?" Pria berkulit tan itu menggeram sambil menepis tangan Momoi. Kerutan di keningnya semakin membuat sang gadis takut.

"A-Aku tidak sengaja... k-kurasa tadi aku tidak melihat ujung sepatumu... jadi aku—"

"Dari tadi kakiku di sini! Kau mau menyalahkanku!?"

"Aomine, tenanglah. Dia perempuan, dan ini masih di kantin sekolah..." Seorang temannya yang berambut pirang mencoba menenangkan sekalipun Aomine mendorongnya menjauh.

"Jangan ikut campur!"

Di tempatnya berada Luccie tak bisa diam. Dia memanjat kemeja Midorima yang masih mematung di tempat dan menepuk-nepuk pipinya agak keras. "Shin-chan! Bantu dia!"

Midorima memandang lantai—kali ini sedikit ragu. "Dia... benar-benar pembawa sial."

"Shin-chan!"

Di sana, Aomine yang masih emosi pun mencengkeram salah satu tangan Momoi yang tadinya masih berusaha membersihkan makanan dari kemejanya. Lalu dia berdesis sinis. "Jangan mentang-mentang dengan tampang memelas kau bisa mendapatkan maaf dariku! Bilang saja kalau kau sengaja!"

Momoi yang terkejut mengerjap. Dia gemetar antara takut dan minta dilepaskan. Tampaknya pria itu cukup mengeluarkan tenaga—pergelangan tangannya seperti mau patah. Lalu saat Aomine akan lanjut mengeluarkan gertakannya, tiba-tiba hadir telapak tangan seseorang yang di antara Aomine dan Momoi. Sang gadis yang menelusuri tangan itu dan menemukan Midorima sebagai pemiliknya. Pria berkacamata itu kini menjadi penengah.

"Sudahlah. Dia tidak sengaja. Lagi pula bukannya dia sudah minta maaf?"

Aomine awalnya terdiam, lalu senyuman tipisnya lama-lama muncul. "Oh, jadi ini pacarnya?"

Tak ada jawaban untuk kalimat tadi. Entah itu pertanyaan atau sekedar tuduhan semata. Hanya ada pandangan datar yang diberikan Midorima untuk Aomine.

"Kau tak malu? Orang-orang masih melihat kita."

Mata pria itu bergilir ke sekitar. Benar saja. Dalam radius lima meter semua orang terfokus kepada mereka—atau mungkin langsung memalingkan wajah saat sadar Aomine akan balas menatapnya. Dengan kepala yang sudah lebih dingin ia lirik Momoi dan Midorima sekali lagi dan berjalan pergi. "Terserah. Yang jelas aku belum memaafkan tumpahan ini."

Ditinggal pergi Aomine dan teman pirangnya, Midorima yang merasa menjadi pusat perhatian langsung menarik tangan Momoi agar bisa keluar dari area kantin dan menempati bagian meja-meja outdoor yang kini sedang kosong. Ia lepaskan juniornya yang satu itu dan duduk sambil meletakkan nampan makanannya. Matanya menyipit saat melihat wajah Momoi yang masih berdiri di depan meja—tak heran sepi; teriknya matahari amat terasa jika duduk di sini.

"Dasar..."

Midorima berkomentar menyalahkan, tapi nada dan raut wajahnya yang terlihat lega telah menghadapi permasalahan barusan malah membuat gadis itu terharu. Momoi segera duduk dan menundukkan kepalanya.

"Te-Terima kasih banyak, Senpai..." Matanya berkaca-kaca. "Maaf karena telah merepotkanmu... aku mungkin memang pembawa sial seperti kata yang lain."

Midorima tak tau juga harus membalas apa. Momoi sedang menangis di hadapannya, dan dia tidak punya tisu ataupun sapu tangan untuk diberikan. Mau marah atau mengeluh pun juga tak bisa. Jadilah ia menghela nafas, lalu mengusap puncak kepala gadis itu dengan perlahan. "Tenangkan dirimu dulu. Ini bukan seluruhnya kesalahanmu."

Walau 95% kesalahannya bermula karena Momoi yang tidak berjalan sambil melihat depan.

"Tapi... b-baru saja kita berkenalan aku sudah menyeretmu ke sebuah masalah... bagaimana bisa aku tidak menyesal?"

Dalam hati sebenarnya Midorima mengiyakan, tapi entahlah, perasaan menyudutkan Momoi dari isi kepalanya mendadak terganti oleh rasa simpati. Sedikit rasa kasihan, mungkin.

"Kau bukan pembawa sial." Lalu saat Momoi menatapnya, Midorima memalingkan wajah. Entah ini akan menjadi penyesalan buatnya nanti atau tidak. "Cuma gadis yang sedikit kurang beruntung."

Diam-diam Luccie tersenyum lebar.

"Nah, setelah kejadian seperti ini, ada baiknya kita mengambil sisi positifnya. Barangkali mulai sekarang kita bertiga bisa berteman? Iya kan, Shin-chan?"

Midorima memberikan tatapan tajamnya ke Luccie, namun diabaikan.

"Oh, ya, bagaimana kalau aku memanggilmu Midorin? Boleh kan, Senpai?"

"Kenapa setelah ditolong kau jadi kurang ajar?"

"Aku kan... hanya ingin lebih akrab denganmu..."

Momoi mengerucutkan bibir. Inginnya mempertahankan wajah bersalah, namun di detik berikutnya berganti ke senyuman geli.

"Eh, pasti Midorin malu-malu..." Katanya. "Iya kan, Luccie?"

"Iya, pasti."

.

.

see you

.

.

my note

Di sini aku sengaja ngebuat Midorima ngga ngeluarin kata 'nanodayo'-nya. Ngga ada alasan khusus—aku cuma sedikit kurang nyaman menggunakan kekhasan itu di cerita berbahasa Indonesia. Maaf jika ada yang kurang suka, mohon pengertiannya juga. Ini ngga kulakuin cuma ke chara Midorima doang kok.

.

.

warm regards,

Pieree...