Story

Disclamer Masashi kishimoto.

Pair : Naruhina.

Genre : Romance, Conflik.

Rated : T.

Chapter 2.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Hinata-chan ! Apa yang kau lakukan disini ?!" Hotaru kakak ipar Hinata berteriak kepada Hinata yang masih menunduk menatap katananya. Hinata berbalik dan langsung berhambur kepelukan Hotaru.

"N-nee-san... istana kita diserang... nii-san... dan tou-san... mereka... hiksss" Hotaru mengusap punggung Hinata untuk menenangkan gadis itu.

"Aku tahu ini sangat berat untuk kita, terutama kau hinata-chan. tapi tenanglah... semuanya akan baik-baik saja, kau lupa ? Tou-san adalah petarung yang sangat tangguh, Neji-nii adalah jendral terbaik kerajaan Hyuuga, Utakata-kun adalah raja yang sangat tegas, Sai-kun adalah orang yang sangat mematikan. mereka semua tidak akan mudah untuk dikalahkan Hinata-chan"

Hinata memejamkan matanya berusaha untuk menenangkan dirinya. tapi apa daya, perasaan takut sudah menyelimuti hati hinata.

"Sekarang kita harus keaula utama istana, disana Tenten-nee sudah menunggu kita" Hinata mengangguk dan mengikuti langkah Hotaru yang menarik tangannya menuju aula utama. tapi ditengah-tengah perjalanan mereka melihat seorang pria yang mengenakan baju zirah dengan lambang bulat lingkaran bewarna merah dipunggungnya dengan sebuah sudut diujung kirinya.

Hotaru menatap tidak percaya kearah punggung pria itu.

'kami-sama... lambang itu adalah lambang kerajaan Konoha... apa jangan-jangan'.

"Ummm Hinata-chan pergilah dulu, nanti aku akan menyusul"

"T-tapi..."

"Pergilah, aku berjanji tidak akan lama" Hinata mengangguk dan berjalan dengan cepat kearah aula. karna Hinata mengenakan gelang kaki, suara gemercik gelangnya terdengar cukup keras karna dia berlari. Pria itu berbalik dan tampak terkejut dengan kehadiran Hotaru.

Tapi Hotaru langsung menarik katananya. tujuan utama Hotaru keruang persenjataan tadi adalah mengambil katananya, tapi tadi dia melihat Hinata.

"Hyaaaaa !" Hotaru berlari dengan susah payah karna dia mengenakan Kimono yang cukup berat. mengerti dengan maksud Hotaru, pria itu juga menarik katananya. sekarang dia sudah tidak peduli siapa lagi lawannya wanita atau pun pria, biarlah dia dikatakan pengecut karna melawan wanita.

Trangggg

.

.

.

.

.

Brakkkk

Hinata membuka pintu aula utama dengan kasar. dan langsung menguncinya disaat melihat tatapan terkejut para wanita yang berada diaula utama. jikat istana mereka diserang secara mendadak, seluruh wanita harus berkumpul diaula dan bersembunyi disana.

"Hinata-chan... kau kemana saja ? aku mencemaskanmu. dan dimana Hotaru-chan ?" Pertanyaan Tenten langsung menyemburnya disaat dia bersandar dipintu.

"Tenten-nee jangan berlari, kau sedang hamil besar" Ucap Hinata dengan nafas terengah-engah.

"jawab pertanyaan ku Hinata-chan, dimana Hotaru ?" Tanya tenten lagi. Tapi Hinata malah menarik tangan tenten untuk berjalan kearah singgasana ayahnya dan merekapun duduk disana. singgasana nya sangat besar, dan cukup untuk empat orang.

Hinata memeriksa denyut nadi tenten dan keadaan bayi yang dikandungnya.

"Apa yang kau pikirkan nee-san ? sehingga denyut nadimu tidak stabil dan bayimu banyak menegang" Ucap Hinata dengan tangan yang terulur kepada salah satu pelayan wanita untuk memberikan minyak urut. Tenten terdiam cukup lama hingga tangan lembut Hinata menyelusup kebalik kimononya dan memijit perut besarnya.

"Aku tahu kau sangat mengkhawatirkan neji-nii, tapi perhatikan juga kandunganmu nee-san. Setelah dua tahun menikah, menjadi seorang ayah adalah cita-cita terbesar nii-san. ini adalah titipannya dan kami-sama yang harus kau jaga" Tenten menunduk dan langsung tersiak.

"Hikksss... aku sangat takut karna istana kita diserang secara mendadak seperti ini Hinata-chan..." Ucap Tenten dengan isakan-isakan pilunya. Hinata memeluk tenten dan menenangkannya. tadi memang Hinata merasa sangat terpuruk dengan keadaan yang mereka hadapi, tapi sekarang dia harus menjadi orang yang tabah demi menguatkan wanita yang merasa putus asa didalam istana.

Pikiran Hinata kembali kepada Hotaru yang masih saja belum kembali. 'dimana Hotaru-nee san ? ini sudah setengah jam dari waktu dia menyuruhku menuju aula' Hinata melepaskan pelukannya dan menghapus air mata tenten.

"Semua akan baik-baik saja nee-san, sekarang tenangkan lah pikiran mu" Ucap Hinata sambil beranjak dari duduknya, tapi sebuah tangan menahannya.

"Kau mahu kemana

Hinata-chan ?"

"Aku hanya ingin melihat keadaan diluar istana nee-san, dari balkon sana" ucap Hinata sambil menunjuk sebuah balkon yang dibatasi oleh pintu geser. Tenten mengangguk dan melepaskan tangan Hinata.

Gadis dengan surai indigo itu tampak menggeser sedikit pintu dan mengintip kearah luar istana. Teriakan para petarung tampak beradu dengan beberapa busur api yang terus saja datang dari arah lawan. Hinata bisa melihat pemanah kerajaan Hyuuga tampak kwalahan menghadapi anak panah yang datang kedalam benteng.

Manik amnesty Hinata memincing, mencoba mencari keberadaan orang-orang yang sangat dia cintai. Kedua lavender Hinata sukses melebar disaat melihat kakak keduanya yang dipangku oleh kakak ketiganya. sedangkan kakak pertama tampak melindungi kedua adiknya. manik Hinata mencoba mencari keberadaan sang ayah. dan liquid bening tampak meluncur dengan deras dari amnesty Hinata disaat melihat Hiashi yang berusaha bangkit dengan tubuh yang bersimbah darah.

"Tou-san !" teriak Hinata dengan suara parau. runtuh sudah pertahanannya. Hinata terduduk dan tangan kirinya tidak sengaja menyentuh pintu geser sebelah kiri, hingga akhirnya pintu itu terbuka lebar.

"Hinata-sama !" para pelayan berteriak dengan serempak dan segera membantu Hinata berdiri dan menutup pintu yang terbuka. bisa gawat jika musuh mengetahui lokasi putri bungsu bersembunyi.

Tapi itu semua tidak luput dari pemimpin pasukan musuh.

Hinata akhirnya pingsan.

.

.

.

.

.

Perang sudah berlangsung selama 5 jam tanpa henti. Hal itu membuat sang pemimpin kerajaan yang diserang merasa sangat letih.

"Lapor Tenno-sama, pasukan tempur Hyuuga sudah berkurang sebanyak 78 %" Hiashi berbalik dan menatap tajam calon menantunya.

"Ck, kita gunakan rencana B"

"Hai' Tenno-sama"

'Maafkan Tou-san hinata...'

.

.

.

.

BRAK BRAKKK...

Hinata membelelakan matanya disaat mendengar suara yang sangat memekikan telinga. Dia pun akhirnya terduduk disinggasana ayahnya. Bisa Hinata lihat raut ketakutan dari seluruh wanita yang berada didalam aula. Terutama kakak iparnya, Tenten. mengenai kakak ipar, Hinata masih belum melihat tanda-tanda keberadaan kakak ipar keduanya, Hotaru.

Dia langsung bangkit dan menghampiri Tenten yang terduduk memeluk kedua lututnya.

"Nee-san... dimana Hotaru-nee san ?" Tenten tampak terkejut tapi dia berusaha setenang mungkin.

"Di-dia belum kembali"

"Nani ?!"

"Iya..."

Hinata memejamkan matanya untuk berpikir setenang mungkin, tapi suara memekikan itu kembali terdengar dengan suara seorang pria.

BRAKKK BRAKKK...

"BUKA PINTUNYA SEKARANG JUGA ! KERAJAAN HYUUGA SUDAH DIKALAHKAN, BENDERA KONOHA SUDAH DIKIBARKAN !" Hinata terperanjat.

"A-apa ?! tidak mungkin !" Pekik Hinata dan segera membuka kasar pintu geser balkon.

SRAKKK

Dan benar saja, bendera kerajaan Hyuuga yang setiap pagi Hinata hormati sebelum berangkat keperguruan Hiyasumi tampak sudah diganti dengan berdera warna merah berlambang kerajaan Konoha.

'i-ini tidak mungkin... berarti.. tou-san... nii-san...'

"TIDAKKK !"

BRAKKK

Seinging dengan teriakan Hinata, pintu pun terbuka dengan paksa. hingga membuat pintu itu rusak dan terlempar beberapa cm.

Tampak seorang pria masuk dan diikuti beberapa pria lainnya. Hinata langsung menghapus air matanya dan menarik katananya. begitu juga dengan pengawal wanita yang memang ditugaskan melindungi mereka.

Sontak seluruh musuh yang masuk memberhentikan jalan mereka dan menatap pria yang pertama masuk, yaitu pemimpin mereka.

"Masih berani mengangkat katana rupanya, padahal kerajaan Hyuuga sudah dikalahkan" Ucapnya sambil berjalan kedepan. Tenten tampak ketakutan dan berlari kebelakang Hinata. kejadian itu sukses membuat pemimpin musuh menatap kearah Hinata.

Hinata mengusap tangan Tenten yang memeluk lengan kirinya. Hinata tampak berjalan kearah depan, tapi Tenten menahan tangannya. Hinata menatap tenten kemudian tersenyum, meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Tenten akhirnya melepaskan tangan Hinata.

Dengan berani Hinata mengacungkan katananya kearah wajah pria yang kepalanya ditutupi topi perang.

Pengawal yang berada disamping sang pemimpin pun menangkis katana itu dan pertarungan pun tidak bisa dielakan.

"Lindungi Hidenka-sama !" Teriak Hinata dan dua orang pengawal wanita pun langsung menarik tangan Tenten untuk berlindung dibalik tubuh mereka.

Hinata menjauhi sasaran utamanya. dan melawan beberapa musuh yang mendekatinya.

Trang

Trang

Crasss

Suara tangisan tenten diiringi suara katana yang tampak beradu. Hinata terus berputar agar bisa kembali mendekati target utama, dan akhirnya katana yang ditempa langsung oleh sang ayah pun beradu dengan katana raja Konoha.

Trangg

Pancaran amnesty Hinata sarat akan dendam. sedangkan Saphire yang juga menatapnya, malah memancarkan aura bahagia.

Trangg

"Kau pikir, kau bisa mengalahkanku eh putri ?" Ucap sang musuh disaat katana Hinata menangkis katana sang raja.

"Aku sangat yakin bahwa aku akan menggantung kepalamu ditiang bendera kerajaan Hyuuga"

"Dengan para wanita-wanita

itu ?" Pria itu tampak melirik kawanannya yang tampak sedang melawan pengawal wanita kerajaan Hyuuga.

"Aku sangat yakin Tenno-sama"

Crass

Dan akhirnya Hinata bisa menggores lengan lawannya. darah segar tampak bercucuran dari lengan raja Konoha.

"Waw... ternyata katanamu sangat tajam putri, hingga bisa menembus baju besi yang kukenakan" Ucapnya tanpa rasa sakit dari kata-katanya.

Deg

'kenapa dia tidak merasa sakit sama sekali ?' Hinata tampak lengah dengan keadaan Pria itu. Sang pria pun memanfaatkan keadaan. Dia menarik tangan Hinata dan memeluk Hinata dari belakang, tangan kanannya digunakan untuk mengalungi leher Hinata sedangkan tangan kirinya digunakan untuk melemparkan katana Hinata dan mencengkam tangan Hinata erat.

"Akhhh... lepaskan aku

br*ngs*k !" Ucap Hinata kasar.

"Tidak kusangka putri Hyuuga yang sangat terkenal akan kecantikan dan kepintarannya bisa berkata kasar seperti itu"

"Lepaskan aku !"

"Sayangnya jika aku melepaskanmu aku akan mendapat kerugian yang sangat besar, oh ya namaku bukan br*ngs*ek tapi Naruto Namikaze"

"Terserah apa yang kau

katakan ! Lepaskan AKU !" Hinata berteriak dan seketika tenten pingsan karna melihat keadaan Hinata. Hinata semangkin panik dan semangkin memberontak.

"Putri Hyuuga sudah dikalahkan" Ucap Naruto dingin yang membuat semua orang menghentikan pertarungannya.

"Berhenti menyerang atau putri akan binasa" sambungnya.

Semua pengawal wanita kerajaan Hyuuga tampak menjatuhkan katana mereka dan prajurit kerajaan Konoha pun menahan mereka.

"Bawa mereka semua kedalam penjara bawah tanah" Semua prajurit mengangguk dan membawa tahanan keluar aula hingga menyisakan Naruto dan Hinata.

Hinata merasa dia sangat tidak berguna karna sudah membiarkan Tenten dibawa pergi oleh para prahurit Konoha. Sia-sia saja latihannya selama 13 tahun jika hanya untuk melindung kakak ipar dan calon keponakannya saja tidak bisa.

"Lepaskan aku !" Hinata terus memberontak, berharap bisa membebaskan diri. Tapi Naruto hanya diam dan membopong Hinata keatas bahunya.

"Kyaaaaaa ! Apa yang kau lakukan br*ngs*k ! Turunkan aku sekarang !" Hinata menendang-nendangkan kakinya dan memukul-mukul punggung Naruto. tapi tetap saja, diabaikan.

Naruto membawa Hinata keluar Istana dan memasukannya kedalam kereta kuda. Hinata bisa melihat Kedua kakak iparnya yang tampak saling berpelukan.

Brakkk

Pintu kereta kuda ditutup dengan kasar. Dan hal itu membuat Hotaru dan Tenten melihat kearah pintu.

"Hinata !" Mereka berdua berteriak dan segera memeluk Hinata yang jatuh tersengkur karna Naruto menghempaskannya sembarangan. Hinata hanya bisa menangis dan membalas pelukan kedua kakak iparnya.

'maafkan aku karna tidak bisa melindungi mereka berdua Neji-nii, Utakata-nii'

.

.

.

.

.

Hinata terbangun karna kepalanya tidak sengaja membentur dinding kayu kereta kuda yang dinaikinya. Hinata mengusap pelan kepalanya yang terasa berdenyut keras. Dia melirik kearah Hotaru dan Tenten yang tampak saling berpelukan. Tatapan Hinata menyendu kala itu juga. Jejak air mata mengering tampak terlihat dipipi keduanya.

'Aku pasti akan membalaskan dendam kalian Tou-san, Nii-san, Nee-san'

Hinata mengepalkan tangannya erat kala pintu kereta terbuka dengan lebar.

"Cepat keluar !" Bentak pengawal wanita kerajaan Konoha. dengan sangat tidak sabaran, pengawal itu menarik tangan Hinata dan menyeretnya dengan kasar masuk kedalam istana. Hinata menoleh dan memberontak disaat melihat Tenten yang diseret dengan kasar.

'kami-sama... berilah kekuatan pada hamba mu ini'

Hinata memejamkan matanya seiring dengan air mata yang mengalir deras dipipinya.

Sepasang saphire tampak memandangnya dengan tatapan intents..

"Bukankah ini adalah pagi yang indah naruto-kun" Naruto berbalik dan mendapati seorang gadis dengan surai pirang pucat berjalan dengan anggun kearahnya. gaun khas bangsawan yunani tampak sedikit menyapu lantai.

"Hn" jawab naruto datar dengan nada yang dingin.

"Kau dingin sekali Naruto-kun" Ucapnya sambil merangkul leher Naruto dari belakang. Naruto tampak terkejut dan menjauhkan dirinya dari Ino.

"Apa yang kau lakukan Ino ?" Tanpa menjawab pertanyaan Naruto, Ino malah kembali mendekatinyaa dan mengalungkan tangannya dileher Naruto.

"Tentu saja melakukan tugas seorang istri Naruto-kun" Naruto tampak tidak menanggapi perkataan Ino tapi malah mendorong Ino pelan agar menjauh darinya. Baru saja Naruto akan memperotes perkataan Ino, sebuah suara tampak mengintrupsi kegiatan mereka.

"E-eh... tampaknya aku datang disaat yang tidak tepat ya, hehehe... maaf aku akan keluar sekarang juga" Naruto menoleh dan mendapati teman masa kecilnya yang sekarang berstatus sebagai istri keduanya tampak gelagapan dan dia tampak menabrak tiang disaat akan beranjak.

"Shion, kau tidak apa-apa ?" Niat awal nya akan membantu Shion tapi dia malah mendapatkan cakaran Shion dipipinya.

"A-awww..."

"N-Naruto-kun ! G-gomen, aku tidak sengaja, a-aku akan mengambilakan mu obat" Shion berbalik tapi lengan kimononya yang panjang malah melayang dan menampar pipi Naruto.

"Aku minta maaf !"

"Jangan panik Shion-chan, aku akan mengobati Naruto-kun"

"Benarkah ? baiklah kalau begitu aku permisi dulu, hehehe..." Shion berjalan dengan cepat agar bisa meninggalkan kamar naruto. Naruto tampak memegangi pipi kanannya yang terdapat cakaran Shion dan pipi kirinya yang terdapat tanda kibasan kain tebal kimono.

Sebuah tangan yang lembut tampak menyentuh pipi kiri Naruto.

"Aku heran kenapa kau bisa sampai jatuh cinta kepadanya dan menikahinya. Apakah aku tidak cukup untukmu ?" Tanya Ino sembil mengusapkan obat dipipi Naruto. Naruto hanya diam dan menunduk.

"Jangan pikirkan perkataan ku naruto-kun, jelas saja kau bisa memiliki istri lebih dari satu, karna kau adalah seorang raja, raja penguasa seluruh Konoha"

.

.

.

.

.

Tbc...

Jeng jeng jengggg...

Naruto... naruto, baru jadi raja aja udah punya dua istri. Shion disini berperan sebagai istri yang baik bagi naruto. Watak Shion di story ini sengaja author buat baik, nanti dia yang akan membantu Hinata menghadapi sikap Naruto tanpa menentang Naruto.

mau tau selengkapnya.. ? tetap tunggu kelanjutannya yaaaaa...