Author: aurorarosena

Cast: GOT7, BTS, iKON, Seventeen, etc.

Pairing: MarkBam

Rate: T

Genre: School-life, mystery/horror, romance

Disclaimer: Casts aren't mine, storyline/plot is mine

Warning: typo(s), boyxboy, indonesian, bahasa amburadul/?, etc.

Please leave this story quickly if you don't like the casts, story, and author :)

.

.

.

.

Bambam POV -

Ayahku seorang jenderal di tingkat kepolisian, dia punya banyak bintang di bahunya. Namun, semakin banyak bintang yang ada di bahunya, semakin banyak pula tugas berat yang harus ia selesaikan tentang kriminal dan berbagai macam hal mengerikan yang tidak ingin kuketahui.

Ayah dan ibuku bercerai saat umurku masih dua belas tahun. Tadinya, aku akan dibawa dan hidup bersama ibuku ke Thailand, namun ayah menolak karena dia takut bahwa pergaulanku di Thailand tidak akan menjadi lebih baik daripada di Korea, maka dari itu sampai sekarang aku tinggal berdua bersama ayahku di Korea, sementara ibu memilih untuk kembali ke Thailand.

Sebenarnya itu menjadi hal yang paling menyedihkan, tapi sebagai seorang anak, aku hanya dapat menerima keputusan mereka.

Mungkin itu yang terbaik.

"Jadi appa akan pulang besok pagi?" tanyaku.

"Iya. Sepertinya begitu. Kasus ini sangat mendadak sehingga appa harus turun ke lapangan."

"Tapi ini pukul sebelas malam."

"Appa tahu. Kau sebaiknya tidur saja, appa akan datang besok pagi."

"Oke."

Dengan pasrah, aku membiarkan ayahku pergi bersama para pengawalnya ke tempat di mana sebuah kasus terjadi. Bukan hanya aku takut bahwa sesuatu yang lebih buruk akan terjadi kepada ayahku, namun aku juga tidak ingin ia terus berada di luar mengerjakan segala tugasnya yang berbahaya, aku ingin dia berada di rumah dan menghabiskan waktu bersamaku. Kedengarannya mungkin egois, tapi aku juga ingin ayahku ada untukku.

Author POV -

Selama Bambam sendirian di rumah, hal yang ia lakukan hanyalah mengotak-atik handphone seraya merebahkan dirinya di ranjang. Dirinya berusaha untuk memejamkan matanya dengan harapan agar segera tertidur, namun otaknya tidak berhenti bekerja, alhasil Bambam tetap terbangun.

Nyaris pukul satu dini hari, Bambam masih belum tertidur juga, padahal dia harus bangun pagi-pagi sekali dan pergi ke sekolah.

"Hft... kenapa tidak bisa tidur?" keluhnya seraya menutup wajah dengan bantal untuk beberapa saat.

Ketika Bambam menyingkirkan bantal dari wajahnya lagi, matanya seketika tidak sanggup melihat apapun. Seluruh ruangan menjadi gelap hingga Bambam sempat berpikir bahwa dirinya buta. Bambam panik, ia tidak tahu harus berbuat apa dan memilih untuk bersembunyi di bawah selimutnya.

"Kenapa mati lampu segala, sih?!" protesnya.

Bambam sudah berkali-kali mencari posisi tidur yang tepat, namun selalu saja ada hal yang mengganggunya. Ia membungkus tubuhnya sendiri dengan selimut karena setiap kali ada celah sedikitpun yang terbuka, angindingin selalu bertiup menusuk kulitnya yang mulus itu. Bukan hanya karena merasa tidak nyaman, Bambam juga takut bahwa angin yang berhembus di pundaknya itu bukanlah sekedar angin.

Sudah nyaris setengah jam, lampu belum juga menyala.

Tik.. tik.. tik..

Hujan rintik-rintik pada di dini hari. Seoul memang sudah lama tidak diguyur hujan dan semua orang mulai mengharapkan datangnya hujan membasahi dataran mereka, namun untuk hujan yang satu ini, sepertinya Bambam menyesal telah meminta hujan.

Guntur dan petir bersama-sama membuat musik yang mengerikan di telinga Bambam, suaranya nyaring dan membuat atap rumah Bambam bergetar. Tidak ada pilihan lain bagi Bambam selain kembali memandangi handphone nya di kegelapan, karena aliran listriknya tidak berfungsi untuk menyalakan televisi.

Scroll, scroll, scroll...

Bosan. Tidak ada hal yang menarik di sosial media, apalagi di waktu yang seperti ini, semua orang tengah nyenyak tertidur dan bermimpi.

201 FAKTA TENTANG DUNIA LAIN

73) ...

74) ...

75) Pukul dua hingga tiga dini hari adalah waktu di mana hantu, penyihir atau iblis yang lainnya menampakan diri. Mereka menjadi sangat kuat di waktu tersebut hingga dapat menampakkan dirinya dengan jelas.

76) ...

77) ...

Iseng-iseng berhadiah, Bambam melihat jam digital yang terpasang dan muncul di ujung kanan atas layar ponselnya.

Pukul 2.40 AM

Deg. Hilang sudah nyawa Bambam. Penyesalan pun muncul di dalam dirinya setelah membaca artikel bodoh di media sosial, yang seharusnya tidak perlu dibaca itu. Mungkin hari ini Bambam tidak akan pergi ke sekolah karena butuh pengganti waktu tidurnya yang terbuang.

Perlahan Bambam muncul dari bawah selimutnya seraya memejamkan mata, tetap tidak berfungsi, sementara suara hujan, petir dan juga guntur tidak kunjung berhenti menakuti Bambam.

Paranormal Activity...

The Exorcist...

Mama...

Annabelle...

Woman in Black...

The Ring...

Huuu~~ berbagai macam cuplikan dan adegan dari film hantu yang pernah Bambam tonton tiba-tiba muncul di kepalanya. Apa yang terjadi jika ada hantu di lemari Bambam? Apa yang terjadi jika ada mayat yang tersimpan di bawah tempat tidur Bambam? Apa yang terjadi jika ada hantu yang keluar dari televisi di kamar Bambam?

Sesuatu yang aneh mulai menggemparkan perasaan Bambam, ia merasa seperti ada orang yang mengawasinya, namun entah siapa. Padahal, tidak ada siapapun di kamarnya kecuali Bambam sendiri, tapi Bambam merasakan sesuatu yang berbeda, hawa di kamarnya terasa jauh lebih dingin, Bambam tidak berani melirikkan matanya ke satu titik, yaitu ke sebelah kanan, di mana ada jendela dan juga kaca cermin.

Appa, cepat pulang! rengek Bambam dalam hati.

Rasanya memang menakutkan, tapi dengan begitu Bambam malah jadi penasaran dengan perasaannya sendiri. Bambam berpikir keras kenapa dia bahkan tidak berani untuk melirik ke sebelah kanan...

oh, ternyata tirainya belum di tutup.

Bambam bahkan dapat mendengar detak jantungnya sendiri walau hujan seakan berteriak di telinga Bambam.

Demi memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang janggal, Bambam menyiapkan mental dan hatinya hanya untuk sekedar melirik ke sebelah kanan. Napasnya tak beraturan dan mempercepat. Seraya meremas ujung selimutnya, Bambam menarik napas dalam-dalam lalu dengan cepat ia melirik ke arah sebelah kanan, tepat ke jendela yang tidak ditutup oleh tirai.

GLEGAARRRRR!

"AAAAAAAAA!"

Suara guntur dan kilatan petir yang bersamaan membuat Bambam terkejut sekaligus ketakutan ratusan kali lipat.

"Appaaa... cepat pulang! Appaaaa!"

Kembali ke bawah selimut, Bambam menangis tak tertahan layaknya bayi yang merengek meminta untuk kembali ke dekapan ibunya, dan kini Bambam benar-benar menjadi bayi itu. Tidak pernah Bambam menangis sehebat ini hanya karena ketakutan atau petir dan guntur.

Bukan, bukan karena guntur dan petir yang seketika meledak hingga mengejutkan Bambam. Hanya saja... wajah yang Bambam kenal itu muncul dengan mengerikan di balik jendela Bambam tepat saat petir menyala di langit luar sana.

..

..

School

..

..

"Semuanya, datang ya ke pesta ulang tahunku!"

Banyak orang yang terpesona sekaligus girang ketika mereka menerima selembar kertas dari seorang yeoja cantik, tepatnya sangat cantik. Siapapun yang menerima selebaran itu, tandanya mereka adalah orang yang terpilih untuk datang ke pesta (yang pastinya) sangat keren dan juga terkini.

Dua hari lagi, bidadari cantik dari sekolah mereka yang bukan lain adalah Park Jiyeon, akan mengadakan pesta perayaan ulang tahunnya yang ke delapan belas. Karena menurutnya acara itu sangatlah spesial, ia sengaja mengundang nyaris semua siswa dan siswi di sekolah agar pesta ulang tahunnya menjadi sangat ramai dan menyenangkan. Maka dari itu, ia membagikan undangan dengan selebaran kepada seluruh sekolah.

"Kalian bertiga! Datang ya ke pesta ulang tahunku!" seru Jiyeon kepada trio Jungkook, Mingyu dan Junhoe. Sebenarnya mereka adalah quartet, hanya saja Bambam belum datang.

"Ne, nuna." jawab Mingyu.

"Satu lagi... ke mana?" tanya Jiyeon seraya mencari-cari sosok namja bertubuh kurus dan (agak) tinggi, maksudnya adalah Bambam.

"Oh, Bambam, dia akan datang sebentar lagi. Akan kusimpan satu undangan untuknya." jawab Junhoe.

"Oke!" Jiyeon memberikan selembar undangan lagi kepada Junhoe untuk diberikan kepada Bambam. "Ingat ya! Pukul delapan malam di rumahku, yang keren!"

"Siap nuna!" jawab Jungkook, lalu Jiyeon pergi untuk membagikan undangan kepada yang lainnya.

"Aku benci yeoja itu." kata Junhoe tiba-tiba.

"Wae? Dia cantik, kan? Mana bisa kau membencinya?" tanya Mingyu terheran-heran.

"Apa sih yang tidak bisa dilakukan seorang Goo Junhoe?" Jungkook tertawa.

"Yeoja itu centil sekali, dia mungkin merasa bahwa dirinya adalah yang paling hebat, tapi tidak... yeoja itu biasa saja seperti yeoja yang lainnya." balas Junhoe.

"Mmm, mungkin yang satu ini cocok untukmu, Jun." Jungkook tersenyum jahil seraya menunjuk sesuatu dengan dagunya. Aneh namun penasaran, akhirnya Junhoe mengikuti arah pandang Jungkook dan melihat seorang namja pendek berambut hitam dan berponi yang berjalan melewati mereka seraya membawa setumpuk buku.

"Siapa? Dia?" tanya Junhoe.

Jungkook mengangguk.

"Jadi katamu... aku ini gay, begitu?"

"Bukannya kau yang bilang sendiri kalau kau tertarik dengan namja pendek itu?"

"Kutubuku memang menarik sih... tapi kan aku ini laki-laki."

"Hey..."

"OMO! HANTU!"

Junhoe melompat begitu melihat sosok Bambam di belakang Mingyu. Si Junhoe ini memang labay, tapi kali ini sepertinya hal itu memang wajar ia lakukan karena Bambam tidak berbeda dengan mayat hidup atau zombie yang terbangun dari dalam makamnya.

Bibir pucat, mata memerah, kantung mata hitam yang besarnya sama dengan tas Prada milik ibunya Junhoe, rambut berantakan dan juga punggung Bambam yang membungkuk, ini bukan seperti Bambam yang biasanya; yang selalu cerah setiap pagi dan banyak bicara. Ini hanyalah "mayat" Bambam, mungkin nyawanya tengah berada di dunia yang lain.

"Bam! Kau jelek sekali." kata Mingyu.

"Sudah tahu."

"Kau hidup kan, Bam?" Junhoe mencolek-colek lengan dan pipi Bambam demi memastikan bahwa Bambam bukanlah zombie.

"Aku hidup kok."

"Jangan-jangan kau sakit." Jungkook menaruh punggung telapak tangannya di dahi Bambam. "Kau sudah minum obat?"

"Belum, aku tidak sakit." jawab Bambam lemas, selemas gerakan Sloth.

Niat ingin menjahili di benak Junhoe seketika sirna saat melihat sahabatnya terlihat depresi dan putus asa akan hidup ini, bahkan mereka berpikir bahwa belakangan ini Bambam memang tengah menghadapi suatu masalah yang serius dikarenakan raut wajahnya yang selalu melemah setiap harinya.

"Waduh, Bam, matamu bengkak." ujar Mingyu.

"Kenapa bisa begini? Kau seperti mayat hidup."

"Hft..." bahu Bambam jatuh, tidak ada niat sama sekali untuk menjawab semua pertanyaan yang bertumpuk.

"Kenapa Bam? Kau bisa bercerita kepada kami."

"Kalau bercerita pun kalian sudah pasti akan menganggapku gila lagi."

"Sepertinya untuk yang kali ini tidak."

Bambam menatap keenam mata yang ada di hadapannya, mereka semua memang terlihat meyakinkan walaupun Bambam sendiri tidak begitu yakin untuk menceritakan segalanya kepada mereka. Satu hal, sahabat-sahabat Bambam tidak akan percaya dengan satu hal jika mereka tidak merasakannya sendiri. Tapi bagaimana pun mereka adalah sahabat, hal yang paling Bambam harapkan dari mereka hanyalah pengertian.

.

.

.

.

"HAHAHAHA." tawaan memecah keheningan di lapangan yang kosong itu. Mungkin masih akan tetap hening karena tak ada seorang pun yang mendengar tawaan geli itu.

Kecuali satu orang yang lainnya, yang berada di sana, mendengarkan sebuah cerita bodoh dari makhluk yang tak nampak. Itu membuatnya merasa sangat bodoh bahwa dia harus mendengarkan sebuah cerita yang sangat tidak mengesankan dari sesosok hantu.

"LALU LALU LALU..." suara itu terdengar sangat antusias, "...ketika dia berteriak, wajahnya sangat lucu. Dia benar-benar ketakutan saat melihat wajahku. Lalu dia bersembunyi di bawah selimutnya seraya memanggil ayahnya terus menerus. Hahaha, aku bisa mati kegelian melihatnya."

"Bodoh. Kau sudah mati!"

"Maksudku mati lagi."

"Listen." orang yang satunya terlihat sangat jengkel. "Kau pikir lucu mengerjai orang dengan cara seperti itu, huh? Kau pikir itu menyenangkan?!"

"Itu memang menye-"

"Kau bisa membunuhnya dengan cara seperti itu, dia bisa gila! Mungkin bagi arwah yang tidak tenang sepertimu itu adalah hal yang menyenangkan, tapi bagi dia yang manusia biasa, kau bisa mencabut nyawanya dengan cara seperti itu!"

"..."

"Hah! Kan... aku mulai gila karena terlalu sering bicara denganmu."

"Dulu juga saat pertama kali-"

"Dia tidak seberani aku, Jackson! Dia tidak seberani aku!"

"..."

"Jangan mengganggu dia, atau siapapun yang tidak bisa melihatmu! Jangan pernah lakukan lagi!"

"Maafkan aku.. Mark."

"Kau tahu!? Aku melihatnya berjalan dengan gontai kemarin, dia terlihat seperti orang gila keturunan zombie."

"Mungkin karena dia tidak tidur semalaman...?"

"KAU MEMBUATNYA TIDAK TIDUR SEMALAM!?"

"Hhe..."

"JACKSON!"

"Ya habisnya aku harus bagaimana..."

"Seharusnya kau tidak perlu menganggunya, kau lebih baik kembali ke makam, ke tempat di mana kau seharusnya berada atau tetap berada di toilet sekolah! Itu yang seharusnya kau lakukan!"

Saking emosinya, wajah Mark memerah seperti dibakar oleh api, bulir keringat juga bercucuran mengaliri pelipis dan rahangnya yang sexy. Untung saja di sana tidak ada manusia yang lainnya selain Mark, jika di sana banyak orang, mungkin Mark sudah ditertawai dan dicap sebagai orang gila karena berbicara sendirian.

Di hadapannya, ada arwah yang sedang merasa sangat bersalah (padahal juga merasa puas dan bahagia) karena dimarahi Mark habis-habisan.

Ada banyak sekali hantu di lapangan luas, kotor, dan sepi itu, Mark dapat melihat mereka dengan indera keenamnya, Mark juga diam-diam menilai hantu-hantu itu dari mulai paras, hingga penyebab kematian mereka.

"Aku minta maaf deh." Jackson memelas.

"Sekarang..." Mark mencoba untuk menahan emosinya dalam-dalam, "...sekarang...apa yang kau inginkan darinya?! Apa?!"

"Aku hanya ingin kalian membantuku."

"Katakan!" sentak Mark.

"Tapi janji kau akan mengabulkannya untukku." dari apa yang Mark lihat, Jackson telah membuat pout di bibirnya.

"Katakan dulu!"

"Hmm... begini," raut wajah Jackson yang pucat terlihat ragu-ragu, "aku ingin kalian membantuku mencari arwah."

"Excuse me?"

"Iya." lanjut Jackson. "Ceritanya panjang, mungkin aku akan menjelaskannya lebih lengkap lagi jika Bambam sudah mengenalku dengan baik." jelas Jackson.

"Tapi... arwah siapa?"

"Seseorang yang hidup di masaku juga. Aku ingin kalian mencarinya untukku, karena aku yakin hanya kalian yang dapat membantuku untuk masalah ini."

Sebelumnya, Mark telah menyesali bahwa ia ternyata memiliki indera keenam yang tiba-tiba terbuka di matanya, kini Mark dapat melihat berbagai macam hantu di hidupnya walaupun hantu yang pertama kali Mark lihat adalah Jackson. Hal itupun sudah cukup membuat hidup Mark berubah seratus delapan puluh derajat, hidupnya dipenuhi oleh syok dan sosok mengerikan yang muncul setiap saat. Jika harus ditambah untuk suatu misi yang tidak masuk akal, Mark merasa bahwa dirinya akan pergi saja ke paranormal dan memintanya untuk menutup indera keenam yang sudah terlanjur terbuka itu.

"Kau tahu kan... kami ini... manusia?"

"Justru karena kalian manusia. Aku sebagai arwah tidak dapat berkomunikasi dengan arwah yang lain dengan baik, kami memiliki keterbatasan. Tapi kau, kau dapat berkomunikasi dengannya seperti kau berkomunikasi denganku saat ini."

"Kukira selama ini kalian sesama hantu dapat saling berbicara layaknya teman."

"Tidak, kami membutuhkan media yang lain untuk saling berkomunikasi, dan satu-satunya media yang paling ampuh bagi kami adalah manusia." jawab Jackson.

Mark menghembuskan napasnya dengan berat, "sekarang aku tahu kenapa banyak orang kesurupan di dunia ini."

"Tolong, yaa! Please!"

"Hft," Mark melirik Jackson sinis, "kita bicarakan lagi tentang hal ini setelah ulang tahun pacarku selesai. Intinya, aku tidak mau kau mengganggu siapapun selama acara ulang tahun pacarku berlangsung! Setelah itu, aku akan membawa Bambam bersamaku untuk bicara enam mata."

"Siap bos!"

"Yah, kan... sekarang aku punya peliharaan hantu."

"Di Asia banyak yang memelihara hantu, lho! Kau tidak mau menjadi tuanku?"

"Aku ingin sekali membunuhmu, tapi sayangnya kau sudah mati duluan."

.

.

.

- Jiyeon's Birthday Party -

.

.

.

"Untuk kalian semua yang sudah hadir, kuucapkan terima kasihku yang sebesar-besarnya. Untuk orang tuaku, terima kasih atas segalanya, aku cinta kalian." dari atas panggung yang megah, bidadari bernama Park Jiyeon tengah mengatakan speech nya yang ditujukan untuk semua orang yang telah membantu acara ulang tahunnya yang ke-delapan belas terwujud. Banyak orang yang kagum padanya, selain cantik, Jiyeon juga punya banyak sisi menarik yang lainnya.

"Dan yang special bagiku, Mark Tuan, kekasihku yang selama ini sudah setia selalu bersamaku dan menyayangiku. Aku mencintaimu." ucap Jiyeon seraya menatap ke arah sang kekasih di sampingnya, Mark.

"I love you too, chagi." balas Mark dengan lembut, lalu mencium dahi Jiyeon dengan penuh kasih sayang.

Banyak orang yang menyoraki mereka karena turut bahagia melihat sepasang kekasih yang sempurna itu melakukan interaksi yang begitu romantis.

"Aku mencintaimu, I love you too chagi, oh chagi, jangan tinggalkan aku, nanti aku tidak famous lagi, elelelelele~~~"

"Ssshhh! Junhoe, kau ini apa-apaan, sih!?"

"Habisnya aku geli."

"Ya tapi tidak perlu menjadi seperti itu!"

"Yak! Mingyu! Kau bahkan bisa menjadi pacar yang lebih baik untuk Mark hyung!" kata Junhoe.

"Kau cemburu, ya?" balas Jungkook. "Makanya, cepat-cepat nyatakan perasaanmu kepada si kakak kelas kutu buku itu, kalau dia diambil orang lain bagaimana?"

"JUNHOE SUKA SAMA SIAPA!?" Bambam seketika membuka suaranya setelah sekian lama bungkam.

"Kau tahu kakak kelas yang bernama Jinhwan itu, Bam? Yang kutu buku dan manis?" tanya Mingyu.

"..."

Hal yang tidak pernah Bambam duga selama ini.

"Kenapa!? Kau mau mengejekku gay, huh?! Ejek saja, aku tidak perduli."

"Sejak... kapan..."

Bambam tidak tahu masalah apa lagi yang akan muncul di antara mreka selanjutnya, dia bahkan tidak tahu masalah mana yang lebih parah; Bambam yang dapat melihat hantu dengan tiba-tiba atau Junhoe yang menjadi seorang gay tiba-tiba.

"Memangnya tidak ada yeoja yang menarik lagi di dunia ini, Jun?" tanya Bambam heran.

"Tanya saja kepada hatiku! Kalau kau bertanya kepada otakku, sudah pasti jawabannya: ada." jawab Junhoe seraya membuang lirikkannya. "Intinya cintaku ini cinta buta... sudahlah, tidak usah dibahas! Dia juga tidak akan menerimaku."

"Jangan pesimis begitu!" Jungkook merangkul pundak lebar Junhoe. "Apapun yang terjadi, setidaknya kau tidak membohongi perasaanmu sendiri."

Hari ini, sang sahabat baru saja mengatakan hal yang sejujur-jujurnya tentang perasaan. Entah bagaimana Bambam harus bereaksi, tapi Bambam juga yakin bahwa Junhoe membutuhkan pengertian yang sama dengan Bambam yang membutuhkan pengertian dari teman-temannya tentang kemampuannya melihat sosok gaib di dunia ini.

Ketika semua orang menikmati pesta, makanan, musik dan juga tarian, quartet itu malah duduk di kursi yang sama dan menyaksikan ramainya pesta yang Jiyeon buat; megah, mewah, dan keren. Sebagian anak kelas sepuluh yang lain pun melakukan hal yang sama karena mereka terlalu malu untuk bergabung dengan para senior mereka.

"Hft... kapan ya, bisa pulang?" tanya Mingyu.

"Ekhm." deheman seseorang memecah suasana canggung mereka. "Bambam, kau sedang sibuk?"

"Hyung?" Bambam dikejutkan oleh kemunculan Mark.

"Maaf menginterupsi." kata Mark. "Kau sedang sibuk."

"Enngg... aniyo."

"Boleh ikut hyung sebentar? Ada hal yang harus hyung bicarakan?"

"Tentang-"

"Nanti juga kau akan tahu." tanpa berbasa-basi, Mark begitu saja meraih tangan Bambam dan menariknya dari teman-temannya dan meninggalkan jejak keheranan di benak teman-teman Bambam.

Bambam dibawa ke suatu tempat yang kosong, yaitu taman yang berada di depan rumah Jiyeon, sementara mereka mengadakan pesta di halaman belakang, jadi Mark merasa bahwa berada di halaman depan akan menjadi tempat yang man untuk mengadakan suatu perbincangan pribadi.

Semoga Bambam tidak melihat apapun di sini, ucap benak Mark. Karena di sana, Mark dapat melihat beberapa makhluk yang sedang bersemayam di tempat mereka masing-masing.

Di awal perbincagan, mereka terlihat gugup dan canggung, Mark pun merasa belum pernah bicara sedekat ini dengan seorang namja.

Begitu banyak pernyataan yang mencengangkan dari perkataan Mark, apapun, segala hal tentang apa yang Bambam alami selama ini, belakangan ini. Tentang arwah berambut blonde bernama Jackson, segalanya Mark ceritakan secara rinci kepada Bambam. Takut, penasaran dan rasa bingung menjadi satu di benak Bambam, sulit dipercaya, seperti cerita fiksi, ternyata Bambam bukanlah satu-satunya, ada orang yang mengalami masa mengerikan jauh lebih dulu daripadanya.

"Jackson ini bukan arwah biasa, yang kerjaannya hanya menakut-nakuti orang lain, dia juga bukan jin atau iblis semacam itu. Dia ini arwah yang memang belum tenang dan masih punya tujuan untuk berada di dunia ini."

"Tapi..."

"Aku tahu. Ini pasti berat untukmu. Tapi Jackson sudah menjadi temanku, aku juga tidak ingin dia terus-terusan berada di dunia ini, aku ingin dia berada di alam yang lain menikmati hidupnya yang baru."

"..."

"Aku janji, kau akan aman bersamaku."

Bingung.

Dilema.

Semuanya menjadi satu.

"Datanglah bersamaku untuk menemui Jackson besok, oke? Aku sudah mewanti-wantinya untuk tidak menakutimu di masa depan."

"Tapi..." Bambam menggigit bibirnya. "Aku takut hyung."

"Aku akan berada di sampingmu. Tidak akan ada hal yang terjadi. Aku berjanji, aku akan menjagamu."

"..."

"Ikutlah bersamaku dan kita bicarakan segalanya baik-baik, oke? Tidak akan ada hal apapun yang terjadi padamu selama aku ada di dekatmu."

.

.

.

.

- To be continued -

WOOOY AIR MANI WKWKWK ATULAH AUTHORNYA JUGA NGAKAK xD padahal mah bilang aja urin gitu yak ribet amat wkwkw author peler. GIMANAA? Suka nggak chapter duanya? Yaah ini FF memang pasaran yahh gampang ketebak gitu setannya Jackson. Terima kasih review nyaaa, makasih udah diingetin kalo aku typo wkwk makasih :* chapter ini juga di review yaah. Sampai ketemu di chapter selanjutnyaa x) fyi maap pendek ini author ngerjainnya mau ke tengah malem ngantuk ini xD