Latihan Klub Voli hari ini terasa membosankan karena beberapa anggota izin untuk mengikuti kelas tambahan, jadilah Minhyun menghabiskan sisa waktu latihan dengan melatih servis berkali-kali sampai tangannya memerah.

"Hyung, kau bodoh atau apa?" tanya Hyunbin, merebut bola voli dari tangan Minhyun sebelum mendorongnya keluar dari lapangan. "Aku bisa melihat lecet terbentuk di tanganmu! Jika kau sedang bosan, jangan menyiksa bola voli kesayanganku!"

Refleks Minhyun menjitak kepala Hyunbin. "Pantas saja kau tidak mendapat pacar, kau lebih menyayangi bola voli daripada hyung-mu sendiri."

Hyunbin tertawa. "Apa urusannya hyung dengan aku yang tidak mendapat pacar?" Hyunbin menyerlingkan pandangannya pada tangan Minhyun. "Hyung ke ruang kesehatan saja, kompres tanganmu. Rasanya menyedihkan jika mendengar kabar bahwa wakil ketua OSIS tidak bisa menulis karena terlalu asik bermain voli."

"Konyol," dengus Minhyun namun tetap menuruti perkataan Hyunbin. Ia meraih ranselnya dan berjalan meninggalkan lapangan voli, melambaikan tangannya singkat ke rekan-rekan setimnya—mengatakan bahwa ia undur diri lebih dulu.

Ruang kesehatan terletak di dalam gedung sekolahnya, membuat jarak yang harus ditempuh Minhyun tidak terlalu singkat. Hanya saja Minhyun termotivasi untuk berbaring sejenak di kasur ruang kesehatan sambil mengompres tangannya yang lecet, dia merasa sangat lelah hari ini. Dua kali ulangan berturut-turut dan seluruh anggota OSIS berulang kali dipanggil untuk mengurus proker akhir tahun, Minhyun rasanya bisa ambruk kapan saja.

Begitu Minhyun membuka pintu ruang kesehatan, ia disambut oleh pemandangan Jonghyun yang sedang duduk di atas salah satu kasur sambil membalut kakinya dengan perban.

"Apakah kita soulmate?" Kali ini Jonghyun yang membuka mulutnya terlebih dahulu. Ia menyelesaikan pembalutannya dan menatap Minhyun dengan heran. "Rasanya seperti kemana pun aku pergi, kau selalu ada."

"Mungkin di kehidupan sebelumnya, kau adalah budakku," jawab Minhyun singkat, menutup kembali pintu ruang kesehatan dan membuka lemari pendingin yang ada di dekat pintu. "Kau ngapain di sini?"

"Kau jelas-jelas melihatku membalut kakiku tadi, seharusnya aku yang bertanya padamu, Hwang." Jonghyun terdengar sedikit merajuk dari nada suaranya, dan itu berhasil membuat kening Minhyun berkerut. "Mengapa kau ada di sini?"

Minhyun hanya mengangkat tangan kanannya. "Lecet. Bermain voli."

Jonghyun bergumam lalu mengangguk tanda mengerti. Dia melompat pelan dari kasur sebelum meringis. "Haish, sebaiknya aku pergi dari sini," gumam Jonghyun lalu berjalan tertatih pelan menuju pintu. "Berada seruangan denganmu tidak pernah menjadi ide yang baik."

Ujung mata Minhyun memperhatikan Jonghyun yang terlihat 'agak' menyedihkan saat ini. "Kau cidera?" tanya Minhyun singkat. Tangan kirinya sibuk membungkus beberapa bongkah es batu dengan handuk kecil.

Langkah Jonghyun terhenti. "Kok tahu?" tanya Jonghyun. Ekspresi polos yang ditunjukannya pada Minhyun membuat Minhyun mendengus menahan tawa.

"Orang bodoh pun bisa mengetahuinya." Minhyun mendudukan dirinya di sofa ruang kesehatan dan menepuk tempat kosong di sampingnya. "Sini, kau duduk dulu. Bukan begitu caranya mengobati cidera."

Mulut Jonghyun terbuka, dan dalam sepersekian detik kemudian wajahnya memerah—Minhyun bisa mengerti bahwa pemuda itu merasa dipermalukan. Minhyun senang bisa melihatnya. "Aku sudah menanganinya sendiri," gerutu Jonghyun pelan, tetapi tetap mendekati Minhyun. "Ini bukan kali pertama aku cidera karena menari ja—"

"Kau masih mengikuti Klub Tari?"

Mata Minhyun bertemu dengan mata Jonghyun dalam jarak kurang dari satu meter.

Ini bukan kali pertama Minhyun menatap langsung ke dalam mata Jonghyun, namun tetap saja Minhyun merasa aneh saat ia melakukannya.

"Aku ketuanya," jawab Jonghyun pelan meski dengan nada licin. Dan mendadak, aura otoriter khas pemimpin yang selalu Minhyun kesampingkan itu mulai terasa.

Ah, ya, Minhyun lupa, manusia ini selalu menjadi ketua.

Jonghyun akhirnya mendudukan diri di samping Minhyun. Dia mengangkat kakinya rendah untuk melihat balutannya. "Aku sudah membalutnya, tidak ada gunanya mengobati lagi."

Dan begitu Minhyun menempelkan handuk berisi bongkahan es batu ke kaki Jonghyun, pemuda itu memekik keras.

"Kau gila?!"

"Bisa tidak berisik?! Aku sedang membantumu!"

Jonghyun mencebikan bibirnya, namun diam. Dia memperhatikan tangan Minhyun yang masih setia menempelkan es batu ke kakinya.

Jangan tanya Minhyun apa motivasinya membantu musuh besarnya sendiri.

"Hwang Minhyun."

Minhyun melirik Jonghyun. "Ya?"

Bibir Jonghyun terulas membentuk senyum kecil yang tipis. "Terima kasih," ucapnya, nyaris seperti bisikan.

Mata Minhyun kembali terarah ke kaki Jonghyun. "Sebenarnya menyenangkan melihat ketua Komite Disipliner kesakitan."

Jonghyun mendengus tetapi bibirnya tetap membentuk senyum. "Aku tetap tidak menyukaimu, sayangnya," tanggap Jonghyun. "Tetapi tetap saja, terima kasih."

Rasanya memang aneh, menghabiskan waktu dengan seseorang yang selalu membuatmu menjadi pribadi yang amat berbeda dengan yang orang lain ketahui. Meski tidak banyak lontaran penuh ajakan perang untuk saat ini, tetap saja aneh.

Keanehan pun bertambah begitu Minhyun menyadari, bersama dengan Jonghyun tidak terasa secanggung itu.


Get the Jackpot

.

Minhyun bukan tipikal orang yang suka menindas, tetapi Ketua Klub Tari Kim Jonghyun merupakan pengecualian untuknya.

[Hwang Minhyun / Kim Jonghyun (JR) – Nuest x Wanna One x Produce 101. AU.]

.

Program kerja festival akhir tahun makin terasa dekat seiring menurunnya suhu di luar, membuat seluruh siswa diwajibkan menggunakan pakaian yang hangat untuk menjaga metabolisme tubuh mereka.

Minhyun baru selangkah memasuki ruang Komite Disipliner (bukan maunya, dia terpaksa memasuki ruangan tersebut karena ingin mengembalikan speaker yang dipinjam Youngmin tempo hari) begitu hidungnya terasa gatal dan ia bersin dengan sangat keras.

Minhyun mengusap hidungnya dengan kasar lalu melirik ke arah pendingin udara. Komite Disipliner gila, mana ada orang waras yang menyalakan pendingin udara di hari yang sudah sedingin ini?

"Ah maaf, tampaknya Donghyun lupa mematikan pendingin udara. Tadi ruangan terasa panas."

Suara Jonghyun terdengar dari ujung ruangan. Minhyun menoleh, menemukan pemuda itu tengah mengerjakan sesuatu di meja ketuanya tanpa mengangkat kepalanya sedikit pun untuk melihat siapa yang diajaknya berbicara.

"Dan kau sama sekali tidak kedinginan?"

Jonghyun baru mengangkat kepalanya, terkejut begitu menemukan Minhyun berada di hadapannya. "Sedang apa kau di sini?!"

Minhyun menatap Jonghyun dengan datar sebelum menyeringai. Ia meraih kursi di samping Jonghyun, mendudukan dirinya di sana dan mendekatkan jarak antara Jonghyun dengannya.

"Menurutmu apa, jika ada dua orang anak muda berduaan dalam suatu ruangan yang sepi ..."

Jonghyun langsung menendang kursi Minhyun, berhasil membuatnya tertawa karena puas melihat muka panik Jonghyun.

"Aku membencimu, Hwang Minhyun!" seru Jonghyun sambil memegangi dadanya sendiri. "Bisa tidak, sih, untuk tidak membuatku selalu merasa seperti ingin kehilangan jantungku?!"

Dan Minhyun hanya menyeringai. "Aku ke sini hanya ingin mengembalikan speaker milik organisasimu yang dipinjam Youngmin, kok."

Kening Jonghyun berkerut. "Mengapa tidak Youngmin sendiri yang mengembalikannya?" tanya Jonghyun.

Ada sedikit perasaan mencelos yang tidak terdefinisi di dalam hati Minhyun, namun Minhyun tidak ambil pusing. Ia mengangkat alisnya. "Kau kecewa pada fakta yang mengantarkannya aku?"

Jonghyun menghela napas. "Tidak juga, sih."

Ujung bibir Minhyun tertarik ke atas. "Jadi kau mengharapkan aku?"

Pipi Jonghyun langsung memerah tanpa alasan yang jelas dan pemuda itu menggigit bibirnya. "T-Tidak juga. Aku tidak mengharapkan siapa-siapa. Lagipula jika Youngmin yang mengantarkannya, aku ingin membicarakan beberapa hal padanya."

"Lalu kau tidak memiliki apapun yang ingin dibicarakan padaku?"

Jonghyun menatap Minhyun lekat-lekat, Minhyun sedikit merasa canggung ditatap seperti itu namun ia menutupinya.

"Hidungmu keluar ingus, tuh."

Sialan.

Minhyun baru saja akan kelabakan mencari tisu atau apapun yang sejenisnya, tetapi Jonghyun sudah menyodorkannya terlebih dahulu. Minhyun menerimanya dengan buru-buru dan menyeka lendir di hidungnya.

"Ngomong-ngomong, memakai jaket lagi tidak akan membuatmu kehilangan ketampananmu."

"Hah?"

"Urusi saja dulu hidungmu baru berbicara denganku, Hwang."

.

Seongwoo menyenderkan kepalanya di bahu Minhyun sejenak sebelum mengangkatnya lagi (karena Minhyun langsung menggerakan bahunya tanda tidak suka) dan memilih untuk menatap Minhyun dengan intens. "Ceritakan padaku, sejak kapan kau menjadi dekat dengan Kim Jonghyun?"

"Sejak kapan aku dekat dengan pemuda aneh semacam dia?"

"Kau lebih sering menghabiskan waktu dengannya akhir-akhir ini," terang Seongwoo, mengetuk-etukan jemarinya di dagu. "Aku bisa paham jika kalian membicarakan program kerja, tapi hebat sekali ada anggota OSIS yang bisa tahan dekat-dekat dengan Kim Jonghyun selain Im Youngmin."

Minhyun terdiam sejenak sebelum menarik napas.

"Aku tidak benar-benar dekat dengannya. Kau tahu, hanya saling mengejek saja," jawab Minhyun, menepuk bahu Seongwoo. "Masih menjadi pertanyaanku mengapa Youngmin dan Jonghyun bisa dekat."

" ... bisa jadi mereka pacaran?"

"Im Youngmin dengan Kim Jonghyun ...? Pasangan yang mengerikan." Minhyun mengarahkan pandangannya ke jendela kelas Jonghyun. "Tapi bisa jadi. Mereka terlalu dekat. Sangat dekat."

Setelah Minhyun menyelesaikan ucapannya, Seongwoo hanya mengangguk dan hening pun menyusup di antara mereka.

"Minhyun."

"Ya."

Seongwoo terkekeh pelan. "Jika saja aku tidak tahu seberapa bencinya kau dengan Komite Disipliner, aku akan mengira kau cemburu dengan Youngmin karena dekat dengan Jonghyun."

Cemburu? Minhyun tertawa, menganggapnya hal yang remeh.

"Intinya, kau hampir mengira aku ingin dekat dengan Jonghyun dan iri pada Youngmin yang bisa dekat dengan Jonghyun?" tanya Minhyun sambil menepuk-nepuk bahu Seongwoo. "Aku tidak seabnormal itu, Ong."

"Ya, ya, terserah kau saja Hwang," jawab Seongwoo dengan nada malasnya yang dibuat sebercanda mungkin. "Tapi bukankah permusuhanmu dengan Jonghyun sudah berlangsung terlalu lama? Mengapa kalian tidak berdamai saja?"

"Kau sendiri bagaimana, tidak mau berdamai dengan keseluruhan anggota Komite Disipliner?" tanya balik Minhyun. Seongwoo mendengus.

"Aku tidak punya masalah apapun selain tidak suka pada mereka. Namun masalahmu dan Jonghyun jauh lebih serius," kata Seongwoo, tatapan matanya kini melembut. "Alasannya masih sama seperti kelas sepuluh lalu?"

Minhyun terdiam, merasa seperti ada yang mencelos di dalam dirinya.

"..."

"Minhyun?"

"Kupikir alasannya masih sama seperti yang dulu, Seongwoo." Minhyun menarik napas dalam-dalam. "Irasional, ya?"

Bibir Seongwoo hanya membentuk garis tipis sebagai balasan.

.

Mata Minhyun teredar ke sepenjuru ruang OSIS dengan senyum bangga karena telah berhasil membersihkan ruangan ini dalam waktu singkat. Mumpung hari ini tidak ada kegiatan apapun, Minhyun menyempatkan dirinya untuk membersihkan ruangan tempat anggota OSIS melaksakan pekerjaannya.

"Youngmin-ah, kupikir kau melakukan kesalahan dalam penulisan na—Oh."

Jujur saja, suara itu mengagetkan Minhyun dan membuatnya hampir menjatuhkan dispenser selotip yang ada di ujung ruangan. Dia menoleh seketika, berniat memarahi siapapun yang berhasil masuk ke ruang OSIS tanpa mengetuk terlebih dahulu dan memberi tanda-tanda keberadaannya.

Sosok Kim Jonghyun yang berdiri di ambang pintu sambil memegang satu clear folder membuat Minhyun menyesal telah mengalihkan pandangannya.

"Tidak ada Youngmin?" tanya Jonghyun tanpa basa-basi sama sekali. Minhyun bisa melihat rambut ketua Komite Disipliner itu yang kini tertata sedikit berantakan dan peluh yang mengalir di keningnya. Minhyun mengambil kesimpulan bahwa Jonghyun telah berlari untuk menuju ruangan ini.

"Tidak ada sopan santun?" tanya balik Minhyun dengan sarkatik.

Jonghyun terkekeh. "Hehe, maaf. Aku terbiasa begitu jika dengan Youngmin."

Minhyun memicingkan matanya. "Jangan bilang kalian berdua sering berdiskusi bersama di dalam ruangan ini."

"Kunci ruangan Komite Disipliner selalu dibawa guru, aku tidak bisa menggunakan ruangan dengan seleluasa itu. Youngmin menawarkan ruang OSIS dan membantuku," jelas Jonghyun tenang.

Ini membuat Minhyun muak.

Apa yang membuat Komite Disipliner begitu menyebalkan? Apa yang membuat Youngmin begitu baik dengan Jonghyun yang notabene ketua dari Komite Disipliner? Apa yang membuat Minhyun kini maju langkah demi langkah sampai ia menyadari bahwa kini dirinya berada tepat semeter di hadapan Jonghyun dan menatapnya dengan lekat?

Apa yang membuat Im Youngmin dan Kim Jonghyun dekat?!

"Aku, Hwang Minhyun, Wakil Ketua OSIS, tidak memberi izin untuk hal itu."

Jonghyun mengadahkan kepalanya untuk melihat Minhyun yang lebih tinggi darinya. Minhyun ingin mengelak fakta bahwa Jonghyun terlihat menggemaskan sekarang.

"Kau hanya wakil ketua." Suara Jonghyun memang hanya terdengar seperti gumaman, tetapi cukup untuk membuat tensi Minhyun langsung naik ke ambang batas.

Dan semuanya berlangsung dengan cepat.

Minhyun mendorong tubuh Jonghyun sampai membentur dinding, mengabaikan ringisan pemuda itu karena tindakannya. Dia bisa melihat mata Jonghyun yang membesar karena terkejut, bisa merasakan dada Jonghyun bergemuruh di bawah lengan kanannya yang digunakan untuk menahan Jonghyun, bisa mendeteksi rasa takut yang perlahan mulai menggerayangi tubuh Jonghyun.

Bagus, memang itu yang Minhyun butuhkan.

"Jika saja kau tidak ada, aku bisa berada di posisimu." Minhyun mengacak-acak tatanan rambut Jonghyun dengan sembarang dan melonggarkan dasi pemuda itu, membuat Jonghyun memekik tertahan. "Aku tidak menginginkan posisimu lagi, namun tetap saja rasanya menyebalkan.

"A-Apa yang ka-kau lakukan?' tanya Jonghyun tergagap, salah satu tangannya menahan tangan Minhyun yang terarah ke celananya. "H-Hwang Minhyun?"

"Aku tidak ingin melakukan apa-apa," gumam Minhyun pelan, mengeluarkan ujung kemeja Jonghyun dari dalam celananya. Jonghyun berusaha menahannya, namun energi Minhyun lebih besar. "Hanya ingin bermain sejenak."

Jonghyun hendak membuka mulutnya begitu mulut Minhyun langsung terarah ke lehernya, menghisapnya kuat. Jonghyun melonjak.

Minhyun tidak tahu apa yang ia pikirkan. Kulit halus Jonghyun yang menyapa mulutnya berhasil membuat Minhyun lepas kendali, ia menghisapnya terus. Mengganti titik hisapnya, menggigitnya dengan tidak terlalu keras, lalu hisap lagi. Salah satu tangannya bermain di pinggang Jonghyun, mengelusnya dengan seduktif. Jonghyun meronta-ronta, meminta dilepaskan. Memohon ampunan dengan nada suara bergetar pada Minhyun.

Namun Minhyun telah menjadi tuli untuk saat ini.

Begitu mulut Minhyun menjalar semakin ke atas leher dan hampir mencapai dagu, Minhyun baru menyadari apa yang ia lakukan itu salah.

Minhyun mundur selangkah, mendapati Jonghyun menatapnya dengan mata dan pipi yang basah. Kedua tangan Jonghyun bergetar di sisi tubuhnya dan Minhyun benar-benar bisa melihat beberapa bercak kemerahan di leher dan tengkuk Jonghyun dari jarak ini.

"M-M-Minhyun-ssi."

Getaran kuat pada kalimat Jonghyun membuat otak Minhyun terasa macet. Minhyun hanya menatap Jonghyun dengan datar, tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya sendiri.

"M-Maaf jika aku mengganggumu, Hwang M-Minhyun."

Jonghyun melesat pergi dari ruang OSIS dengan kepala tertunduk dan Minhyun langsung mengerang keras—menyadari kebodohannya yang telah terlanjur ia lakukan.

Ini parah. Sangat parah. Bahkan Minhyun mengakuinya.

.

Keesokan harinya, Jonghyun masuk ke sekolah dengan syal merah melilit lehernya tanpa pernah terlepas sekalipun.

Minhyun melihat Jonghyun berlari pasrah ketika guru memarahinya karena tetap menggunakan syal di dalam pelajaran olahraga. Minhyun mengerti alasannya, dia bertanggung jawab atas itu semua.

Ketika Minhyun berpas-pasan dengan Jonghyun di koridor kelas, Jonghyun langsung berjengit dan melesat pergi. Tidak meledek atau hal lainnya. Hanya diam tetapi terkejut. Tidak ada kalimat sapaan beralias sindirian, tidak ada. Malahan tidak ada kontak verbal apapun.

Ketika seluruh anggota OSIS dan Komite Disipliner tengah bersiap untuk rapat koordinasi hari ini, Minhyun sayup-sayup bisa mendengar bentakan dari dalam ruang Komite Disipliner. Beberapa saat kemudian, Jonghyun keluar lalu menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha memenangkan dirinya.

Minhyun baru saja akan menghampiri Jonghyun dan meminta maaf begitu Youngmin masuk ke indra penglihatannya, mendatangi Jonghyun dan melempar tatapan bertanya padanya. Minhyun tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, namun beberapa detik kemudian Jonghyun langsung membenamkan wajahnya pada bahu Youngmin dan bahunya sendiri bergetar tak karuan.

Ekspresi wajah Youngmin terlihat mengeras—benar-benar tidak seperti Im Youngmin—untuk beberapa saat sebelum ia melingkarkan salah satu tangannya di pinggang Jonghyun dan satu tangan lainnya mengelus surai pemuda yang menangis di bahunya.

Baiklah, kini Minhyun mengerti masalah yang ia perbuat kemarin berefek lebih besar daripada yang ia kira. Secara tidak disengaja, Minhyun telah 'menandai' seseorang kepunyaan Im Youngmin karena tersulut emosi.

Ini ambang kehancuran dari ketenangan OSIS.

.

Dua minggu setelah kejadian, banyak hal yang berubah dalam hidup Minhyun.

Permusuhannya dan Jonghyun mendadak terhenti. Jonghyun selalu menghindari kontak dalam bentuk apapun dengan Minhyun, bahkan ketika Minhyun memanggilnya saat rapat koordinasi tiga hari lalu. Bahkan ketika Jonghyun mendapati bahwa Minhyun adalah orang terakhir di dalam ruangan, Jonghyun langsung meraih ranselnya dan pergi.

Youngmin mulai melakukan hal yang sana, namun tidak seekstrim itu.

Youngmin berhenti bertegur sapa dengan Minhyun, dia hanya mengangguk jika Minhyun menyapanya di koridor sekolah. Dia berhenti berkumpul di penghujung sekolah bersama Minhyun dan anggota OSIS lainnya—Minhyun mendapati pemuda Im itu malah berjalan pulang bersama Jonghyun dan satu anggota Komite Disipliner lainnya yang tidak terlalu Minhyun kenal.

Tidak hanya Minhyun yang menyadari perubahan pada Youngmin.

"Katakan padaku, hal bodoh apa yang telah kau lakukan dengan Youngmin?"

Pertanyaan dari Daniel di suatu hari sukses membuat Minhyun mengalihkan pandangannya dari soal-soal Geografinya. "Apa?" tanya balik Minhyun, tidak mengerti.

Daniel mencebikkan bibirnya. "Ada sesuatu yang terjadi antara kalian berdua. Apa?"

Baiklah, Daniel sudah menyadarinya. Minhyun menghela napas. "Mengapa kau mengira demikian?"

"Karena terakhir kali aku mengecek, Youngmin masih menjadi Ketua OSIS dan bukan salah satu dari anggota Komite Disipliner. Aku sampai lelah melihatnya terus-terusan masuk ruang Komite Disipliner." Alis Daniel terangkat sebelah. "Dan ekspresinya selalu datar jika sudah melihatmu. Aku memperhatikannya."

Minhyun kembali menghela napas sebelum menenggelamkan wajahnya ke atas meja. "Entahlah," jawab Minhyun, mendadak merasa lelah. "Aku melakukan kesalahan fatal."

"Tidak lucu jika ketua dan wakil ketua tidak memiliki hubungan yang baik, Min."

"Menurutmu, apakah Youngmin dan Kim Jonghyun merupakan pasangan yang serasi?"

Minhyun mengadahkan kepalanya untuk melihat reaksi Daniel. Pemuda bermarga Kang itu tampak terkejut dengan pertanyaan Minhyun.

"Mereka ... berpacaran?" tanya Daniel dengan lambat, masih dengan ekspresi terkejut. "T-Tapi kukira mereka hanya d-dekat. Kau tahu, m-mereka datang dari SMP yang sama dan Youngmin adalah teman pertama Jonghyun saat Jonghyun pindah ke Busan. Dan keduanya sama-sama pindah ke sini karena beasiswa."

Kening Minhyun berkerut. "Jonghyun murid beasiswa?"

"K-Kupikir kau, sebagai orang yang sering mengerjainya, tahu akan hal itu." Daniel tampaknya belum lepas dari keterkejutannya. "Youngmin dan Jonghyun benar-benar berpacaran?"

"Mengapa kau tidak bertanya langsung pada mereka berdua?! Aku menanyakan itu bukan berarti aku tahu keduanya berpacaran atau tidak," dengus Minhyun gusar. "Ngomong-ngomong, kau jauh-jauh dari kelasmu hanya menanyakan apakah aku memiliki masalah dengan Youngmin?!"

Daniel langsung tersenyum polos. "Hehe. Sudah tugasku sebagai bendahara untuk tahu, kan?"

Minhyun berdecak.

.

Saat Youngmin mengatakan "temui aku sehabis rapat selesai" pada Minhyun dengan tatapan tajam, Minhyun tahu Youngmin akan mulai mengungkit masalah Jonghyun.

Ngomong-ngomong Jonghyun, pemuda itu masih sama. Jaraknya dengan Minhyun semakin menjauh, seperti tidak meninggalkan bekas bahwa mereka berdua adalah musuh besar terpopuler di sekolah. Minhyun memang tidak berniat mengusik kehidupan Jonghyun lagi, namun ketika Minhyun menyadari bahwa sorot mata Jonghyun berubah—rasanya ia rindu saat-saat ia masih beradu mulut dengan Jonghyun.

Sorot mata Jonghyun kini terkadang berubah menjadi kosong dan tak teraih, itu menakutkan.

Begitu rapat OSIS selesai, Minhyun tetap diam di tempat duduknya. Youngmin pun juga, hanya saja pemuda Im itu tengah mengetik sesuatu di ponselnya. Mungkin sebuah pesan untuk Jonghyun bahwa ia akan pulang lebih lama.

Minhyun baru menyadari, hubungan mereka manis sekali.

"Minhyun," panggil Youngmin dan Minhyun bergumam mengiyakan. Youngmin menghela napas dan beranjak bangkit dari tempat duduknya. "Aku bingung harus memulai dari mana."

"Hmm, aku juga," jawab Minhyun datar.

Youngmin menatap ke arah jendela yang menunjukkan langit sore sebelum kembali berkata, "mengapa kau melakukan itu pada Jonghyun?"

Ini terlalu to the point.

Ujung bibir Minhyun sedikit berkedut ke atas. "Karena aku membencinya."

"Apa kesalahannya sampai kau membencinya?" tanya Youngmin, terdengar sedikit getaran di suaranya. Getaran menahan amarah, Minhyun tahu itu.

Minhyun menarik napas, membiarkan bibirnya membentuk senyum kecil yang sarkas. "Aku hanya benci mengapa semua orang selalu tertuju padanya," jawab Minhyun. "Bahkan ketika aku lebih kompeten, guru-guru lebih memilihnya."

Hening sejenak sebelum Youngmin melebarkan matanya.

"Kau membahas pemilihan anggota Komite Disipliner setahun yang lalu?!"

"Seharusnya aku berada di ruangan itu dengan badge Komite Disipliner yang sangat bagus jika saja Kim Jonghyun tidak menyertakan aplikasi pendaftarannya."

Mulut Youngmin terbuka, menatap Minhyun yang masih tersenyum dengan tatapan tidak percaya.

"Jonghyun ... Jonghyun sebenarnya—" Suara Youngmin tercekat. Dia tampak bingung, namun akhirnya ketua OSIS-nya itu menarik napas dalam-dalam. "Dia lebih membutuhkan posisi itu daripadamu."

Dan Minhyun tertawa pelan. "Ya, sekolah ini jauh lebih baik jika memiliki ketua Komite Disipliner sepertinya. Iya, kan?"

Sepersekian detik kemudian, sebuah bogem mentah melayang keras ke rahang Minhyun.

"Aku sudah menahan amarahku sedari tadi tapi kau yang memancingnya sendiri. Kau tidak bisa berkata seperti itu mengenai Jonghyun. Kau tidak tahu apa-apa soal dirinya." Mendadak Youngmin menatap Minhyun dengan sangat dingin dan tajam. "Mau tau alasan mengapa Jonghyun memilih masuk ke Komite Disipliner dan bukan menyusulku menjadi anggota OSIS?"

"Apa?"

"Selain karena dia membutuhkan jabatan organisasi untuk menunjang beasiswanya, Jonghyun sebenarnya ingin bekerja sama denganmu. Dia tahu kau mendaftar untuk anggota Komite Disipliner saat kelas sepuluh, maka dari itu ia memilih Komite Disipliner."

Hati Minhyun mencelos.

"Jika namanya tidak ada di posisi satu pada hasil seleksi, kau masih bisa menjadi anggota Komite Disipliner. Iya, kan? Itu yang membuatmu berganti untuk mendaftar OSIS." Youngmin terkekeh dalam. "Kau membencinya sejak saat itu, namun Jonghyun tidak. Dia selalu mencari kesempatan untuk meminta maaf padaku, bahkan terkadang menggangguku hanya untuk mengetahui apakah kau baik-baik saja di OSIS."

Minhyun mendadak seperti tidak mengenal seisi dunia lagi. Otaknya kosong bahkan ketika ia berusaha berpikir keras.

Pada akhirnya, ia menemukan suatu kejanggalan.

"Kenapa ia ingin bekerja sama denganku?"

Youngmin mendengus sebelum beranjak pergi. Minhyun tidak memaksa Youngmin untuk menjawab pertanyaannya, dia bahkan tidak peduli jika pertanyaannya diacuhkan begitu saja.

"Mudah saja. Dia menyukaimu sejak awal masuk ke sekolah ini."

Youngmin menutup pintu ruang OSIS dengan bunyi debam keras. Minhyun membatu di tempat.

Tidak ada rasa sakit dari rahangnya yang terkena jotos Youngmin. Tidak ada rasa dingin karena ditinggal sendirian di ruang OSIS yang dingin.

Minhyun hanya merasakan hampa.

.

.

A/N : Aku pikir akan twoshot, tapi ternyata plotnya merenggang sangat banyak XD Jadinya threeshot deh, janji kok cuma threeshot doang.

Dan ya, seisi Justice League (selain Hyunbin) dan beberapa orang lainnya seumuran. Aku gak bisa mastiin kapan lagi aku update final chapter YANG BENAR-BENAR FINAL wkwkwk. Bisa jadi minggu ini atau minggu depan. Tapi aku udah mulai proses pengerjaannya. Bagian terakhir gak akan sepanjang ini, karena ini memang bagian klimaks jadinya panjang.

REVIEW KALIAN SEMUA SANGAT MENYENANGKAN UNTUK DIBACA XD . Thanks for my fellow cute!JR stans, love love u banget.

Mind to review? :9

N. B : wHY THE FUCK PLEDIS RELEASED JR'S TEASER WITHOUT ANY CAUTION?! AND H, I GUESSED IT'S FOR H(wang) (min)H(yun) BUT THE THEORY SAID IT'S FOR HERE AH SABODO TEUINGLAH POKOKNA AING GASABAR.

N. B : Sorry for the Sunda kasar wkwk I lived in Bogor 3 years ago.