NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
"Donuts, Mess, and Truth"
By: Setshuko Mizuka
Rate: nggak jauh dari rate T
Genre: Friendship and Romance
Pairing: NaruHina selalu… ^^ nyelip juga pair lainnya
Inspirate from Mizuka's life
Warning: GaJe, OOC, OC, AU, Typo (s)!
Summary:Berawal dari donat dan berakhir jadi kejujuran. Konflik yang membuat kekacauan dan kebimbingan dalam hati, tak luput menyertainya. Bisakah hanya dengan membuat donat bisa membawa keajaiban bagi pembuatnya? Three-shoot.
~_~ Chap2: Mess~_~
Hinata POV.
'Ugh! Ayo masuk sebelum dia sadar keberadaanmu, Hinata!' Tanpa aba-aba lagi, aku langsung membuka pagar rumahku yang terbuat dari kayu jati. "Hei!" Reflek tubuhku membeku di tempat. 'Aih… Ketahuankan!'
"Kau Hinata Hyuuga 'kan?"
Aku menengok ke samping kanan lalu tersenyum kikuk. "I-iya."
"Apa ini rumahmu?" tanyanya lagi sambil menatap rumahku yang bertingkat dua. Melihat mata sapphire-nya itu, aku jadi malu-malu sendiri. "Iya, i-ini rumahku, Uzumaki-san." Lagi-lagi gugup menyerangku. "Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Apa kau ingin memompa b-ban di bengkel?" Aku bertanya seperti itu karena aku melihat dia menuntun sepedanya.
Naruto Uzumaki, nama orang yang ada dihadapanku ini lalu menatapku setelah aku bertanya. "Hahaha, tentu saja tidak. Aku sedang jalan-jalan saja."
Aku menunduk menatap ujung sepatuku karena malu melihat tawanya. Inilah yang aku suka dari Naruto, mudah tertawa dan suka menghibur orang dengan sifatnya yang polos. "O-oh, begitu."
"Apa tadi mobilnya Sakura?"
Aku mengangguk.
"Pantas, rasanya aku pernah lihat plat nomornya di sekolah. Oh iya, habis dari mana? Nggak mungkin 'kan dari sekolah?"
"A-ah! Aku habis dari rumah Sakura untuk buat donat." Aku tersenyum kecil.
Terlihat semburat merah tipis di kedua pipi Naruto. 'Naruto m-malu?' kagetku dalam hati. Ia pun ber-oh ria sambil memalingkan wajahnya. Aku menatapnya dengan heran.
Hening seketika, aku bingung mau bicara apa sementara dia juga diam.
"A-apa kau mau-!"
Kami saling pandang. Aku kaget karena kami sama-sama bicara di waktu yang sama dan dengan kata-kata yang sama pula. "Kau duluan, Hinata." Aku menggeleng cepat. "Tidak, k-kau saja duluan yang berbicara," ujarku sambil menggelengkan kepala dan tersenyum.
Ia menggaruk kepala belakangnya. "Kau saja."
"Uzumaki-san saja," tolakku halus.
"Baikah, apa kau mau jalan-jalan ke sawah di ujung komplek denganku? Kalau tidak mau juga tidak apa."
Aku melongo sebentar, mencoba me-loading ucapan Naruto tadi. 'Jalan-jalan ke sawah… dengan Naruto? Dengan Naruto… berdua? Kyaa!' Kupastikan wajahku memerah seketika. Sudah lama aku ingin berjalan berdua dengan orang yang kusukai, bukan! Bukan suka, tapi cinta. Walaupun hanya ke sawah, tapi aku senang.
"Hinata?"
Aku tersentak begitu melihat tangan tan Naruto melambai-lambai di depan wajahku. "A-ah, iya! Maaf, aku melamun. B-baiklah, aku mau. Lagipula, di rumah juga nggak ada orang," ujarku dengan buru-buru. Kulihat ia tersenyum lalu tertawa pelan. "A-apa ada yang lucu?"
"Wajahmu lucu, mudah sekali panik ya?" candanya.
Aku merenggut dalam hati.
"Ya sudah, ayo! Keburu sore nantinya." Ia pun mulai berjalan mendahuluiku yang masih berdiri di depan pagar. "Ayo!" ajaknya lagi sambil menengok padaku. "Iya! T-tunggu!" Aku menyusul Naruto lalu berjalan di belakangnya. Tak henti-hentinya aku mengucapkan rasa senangku dalam hati. 'Mimpi apa aku semalam ya? Bisa jalan berdua dengan Naruto.'
"Hinata, jangan jalan di belakangku. Kau tak mau 'kan disangka stakler oleh orang lain?"
"I-iya!"
Hinata POV end
"Wah! Sawahnya luas ya kalau dilihat dari sini?"
Naruto tersenyum mendengar suara kagum dari mulut si gadis yang berdiri di sampingnya. Saat ini, kedua sejoli Naruto dan Hinata tengah berdiri di atas bukit hijau, tepat di perbatasan komplek tempat tinggal Hinata. Bukit itu biasa Naruto datangi ketika ingin melihat sawah yang ada di bawahnya. Di bawah pohon jambu tak jauh dari tempat Naruto dan Hinata berpijak, ada sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu. Hinata yang melihat itu pun, mengajak Naruto untuk duduk di sana.
"Indah tidak pemandangannya?" tanya Naruto setelah menyenderkan sepeda gunungnya pada pohon jambu.
"Sangat, Uzumaki-san!" jawab Hinata seraya tersenyum pada Naruto.
"Jangan panggil aku Uzumaki, panggil Naruto saja."
Hinata mengedipkan kedua matanya beberapa kali, "ah, i-iya maaf, Uzu-. Mmm, Naruto-san." Terlihat jelas semburat di wajah chubby Hinata. Ia pun menunduk lalu menatap pemandangan di depannya lagi. "Jangan pakai suffix –san juga ya?"
Naruto menahan tawanya ketika melihat Hinata mulai panik.
"Hahaha, dasar kau ini," ujar Naruto gemas seraya mengacak-acak rambut Hinata.
Hinata sekali lagi merenggut.
"Kelasku juga disuruh buat donat, dan lain-lainnya yang cara pembuatannya membutuhkan fermentasi," cerita Naruto. "Benarkah? Lalu apa yang kau buat?" Naruto lagi-lagi tersenyum. "Sama sepertimu, donat!" Kemudian ia pun menengok pada Hinata, yang ditengok malah menunduk.
Dalam hati Hinata bersorak sorai karena Naruto juga disuruh membuat donat.
Naruto menyenderkan bahunya ke sandaran bangku panjang tersebut. Melihat itu pun, Hinata menunduk. "Kau bawa apa saja ditasmu?" tanya Naruto. Hinata menengok ke tasnya yang tengah dipangku. "Bawa kamus, air minum, dan buku-buku lain pastinya," jawab Hinata.
"Rajin banget bawa kamus," puji Naruto.
Hinata tertawa pelan. "Dari pada dihukum seperti Naruto dulu."
Naruto jadi ingat tiga hari yang lalu, saat ia dihukum di depan kelasnya hanya karena tak membawa kamus bahasa Inggris. "Guru Anko memang sadis," gumam Naruto sambil mengingat-ingat. Wajahnya sedikit terangkat, seperti baru mengingat sesuatu. "Dari mana kau tau, aku pernah dihukum karena tidak bawa kamus?" tanya Naruto.
Hinata menengok. "Kau lupa ya? Aku 'kan pernah sekelas denganmu di kelas 10."
Naruto baru ingat, ia pernah dihukum juga gara-gara kamus saat kelas 10. "Ah, aku lupa soal itu." Ia melirik gadis berambut indigo yang tengah duduk di sampingnya. Mata sapphire-nya terus tertuju pada gadis itu seolah tak ingin membiarkannya pergi jauh. Namun yang dilirik diam tak berkutik.
Hinata menghela napas cukup panjang dari mulutnya.
"Kenapa?" tanya Naruto dengan nada khawatir.
Hinata tersenyum kecil tanpa sedikit pun menoleh. "Nostalgia."
"Kelas 10 dulu 'kah?" tanya Naruto pada Hinata. Hinata mengangguk dengan lemahnya. "Menurutmu, lebih seru sekarang atau kelas 10 dulu?" Kini giliran Hinata yang bertanya pada pemuda berambut spike di sampingnya. "Tentu saja… kelas 10."
"Kenapa?"
Naruto menunduk dan tak lagi menyender pada sandaran bangku. Kedua tangannya ia tautkan seraya menaruh sikutnya pada kedua paha. Sebelum menjawab, ia tersenyum tulus. "Karena saat itu, aku bertemu dia." Andaikan kau tahu, Naruto. Gadis di sampingmu itu menatapmu kecewa dengan sedikit berharap.
"Siapa gadis itu?" tanya Hinata lembut walau dalam hati meringis.
Naruto menengok pada Hinata. "Ra-ha-si-a."
"Ah iya deh, itu 'ka privasi," ujar Hinata. Hinata merasa ada hawa panas dari dalam tasnya. 'Aku lupa, donatnya masih panas,' ujarnya dalam hati. Ia melirik Naruto yang tengah menatap pemandangan sawah dengan senyuman yang terus terukir di wajah manisnya. "Mmm, Naruto." Yang dipanggil menengok. Tanpa disuruh pun Hinata mulai bicara. "Kalau aku buatkan donat untukmu, a-apa kau… mau?"
Naruto memandang wajah gadis yang sudah merona di sampingnya lama.
"N-Naruto?" Naruto tersenyum, "jika itu tidak membuatmu repot, aku mau-mau saja." Jawaban dari Naruto terdengar terpaksa bagi Hinata. Ia pun menunduk sambil meremas tali tas selempangnya. "Donatnya juga harus enak ya, kalau kau mau membuatkannya untukku," ujar Naruto lagi.
Hinata tersenyum dengan wajah malu-malunya seraya mengangguk.
"Kapan kau akan membuatnya?"
Hinata menaikkan alisnya sebelah, lalu memalingkan wajahnya ke depan lagi. "Mungkin… lusa besok. Tapi, maaf kalau donatnya nggak enak nantinya," ujarnya sambil memainkan kedua jari telunjuknya. Melihat tingkah Hinata membuat Naruto gemas sendiri.
"Drrttt! Drrrttt!"
Si gadis pemilik mata amethyst itu pun mengambil ponsel flip-nya dari kantung rok. Dari wajahnya terlihat sekali ia sedang kecewa. Ia pun menyimpannya lagi di saku rok sambil berdiri dari bangku yang ia duduki dengan lelaki yang dicintainya itu. "Maaf Naruto, aku harus pulang sekarang."
Naruto hanya mengangguk setelah melihat jam digital yang terlingkar di pergelangan tangan kirinya. "Baiklah, biar kuantar," ajaknya sambil berdiri dan menarik sepeda gunung miliknya yang ia senderkan di pohon jambu.
"E-eh! M-maksudnya?" heran Hinata.
"Kugonceng biar cepat sampai."
Hinata diam sebentar. "B-baiklah."
~ MESS ~
Esok pagi. Seuntaian senyum manis terus terparkir #Reader: mobil kali diparkir# di wajah seorang gadis bernama lengkap Hinata Hyuuga. Hal itu tentu saja sudah biasa dilihat oleh teman sekelasnya, namun ketiga sahabatnya yang tengah mengobrol di bangku tempat Ino dan Tenten itu merasakan ada yang berbeda dengan senyuman Hinata.
"Wih, ada yang lagi senang nih! Cerita dong!" seru Tenten.
Hinata yang baru saja menaruh tas di mejanya langsung menghampiri mereka. "Hehehe, rahasia ah!" ujarnya riang sambil duduk di kursi kosong tepat di samping Sakura. "Huuu! Curang!" Hinata tersenyum girang setelah mendengar gerutuan Ino.
"Kasih tau dong, penasaran nih," desak Sakura.
"Baiklah, k-kemarin aku d-digonceng Mr. N."
"Cieee, ciek, ciek, ciek." Sakura, Ino, dan Tenten menggoda Hinata. Yang digoda malah merona sambil memainkan kedua jari telunjuknya seperti biasa. "Hinata-chan, tau nggak-."
"Nggak," ujar Hinata sambil memotong ucapan Sakura.
"Ugh! Jangan dipotong kenapa?" rengut Sakura. Hinata hanya tersenyum kecil. "Adonan donat yang sudah kita buat kemarin busuk tau! Tapi sudah kubuat lagi kok adonannya tadi pagi," cerita Sakura.
"Benarkah? Kok bisa?" kaget Hinata.
"Nggak tau tuh, kenapa bisa sampai busuk. Gara-gara itu, aku dimarahi Kaa-san karena kulkasnya jadi bau." Sakura memasang wajah merajuk sambil menekan asal tombol ponsel miliknya yang ia letakkan di atas meja Tenten dan Ino.
"Oh iya, bagaimana donat yang ingin dikasih ke Sasuke?" tanya Hinata. "Hubunganku dengan Sasuke memburuk setelah itu, Hinata-chan. Sepertinya, dia ingin putus denganku." Hinata melongo mendengarnya. "Kok bisa, Sakura-chan?"
"Mungkin memang dia ingin putus juga awal setelah tau kalau Hime itu aku. Lagipula, donatnya sudah kumakan karena terlalu kesal pada Sasuke."
Awalnya Sakura mendekati Sasuke bukan dengan nama asli tapi nama samaran, Hime. Hanya dengan waktu seminggu pendekataan, Sasuke nembak Sakura lewat e-mail. Tentu saja Sakura menerimanya. Namun dua hari setelah itu, Sakura mengaku kalau Hime itu adalah dia.
Hinata menengok ke arah Sasuke yang sedang mengobrol dengan Suigetsu, teman segengnya. Lalu menatap Sakura lagi, "aku nggak tau apa masalahnya. Tapi aku punya saran untukmu, lebih baik kau minta maaf padanya."
"Iya tuh, betul!" setuju Ino.
Sakura diam sebentar. "Minta maaf?" ulang Sakura.
Hinata mengangguk dengan mantapnya. "Kau lupa ya, setelah kalian jadian kau selalu menghindarinya dan hanya berani lewat e-mail saja?" Kini Tenten ikut menimpali, "tau nih, Sakura-chan. Kasihan Sasuke yang terus saja menghampirimu."
"Aku 'kan malu, lagipula aku sering menghampirinya, tapi dia malah cuekin aku."
Ino menepuk pelan tangan Sakura yang ada di mejanya. "Mungkin kau harus minta maaf seperti yang Hinata-chan bilang tadi."
"Gimana caranya?" tanya Sakura.
Ino, Tenten, dan Hinata berpikir sebentar.
"Besok saja, saat pulang sekolah!" seru Ino.
Tenten pun menyusul, "jangan malu, aku yakin dia mau mendengarmu."
"Katakan semua yang ada di hatimu, jangan ada lagi yang perlu kau sembunyikan darinya. Sebuah hubungan dapat berjalan dengan lancar jika saling terbuka satu sama lain. Y-ya, hanya itu pendapatku, Sakura-chan," ujar Hinata melengkapi kedua sahabatnya yang duluan sudah berpendapat.
Sakura menatap ketiganya dengan tatapan berkaca-kaca. "Arigatou na," lirihnya seraya tersenyum tulus.
"Aku yakin kau pasti bisa melakukannya," ujar Tenten menyemangati.
"Lalu bagaimana denganmu, Tenten-chan?"
Pertanyaan dari Sakura sukses membuat Tenten membeku. Tenten menggigit bibir bawahnya lalu menunduk. "Sudahlah, jangan bahas soal itu. Aku sedang tak ingin membahasnya. Aku muak dan benci pada Neji!" Tiba-tiba saja Tenten marah dan hal itu tentu saja membuat ketiga sahabatnya kaget.
"Teng, tong, teng, tong!"
"Ya~h, sudah masuk," keluh Sakura.
Hinata menatap Tenten lama sebelum kembali ke tempat duduknya. 'Kenapa Tenten jadi marah sama Neji? Nggak mungkin 'kan Neji hanya memanfaatkan kepintaran Tenten saja,' ujar Hinata dalam hati setelah mengingat-ingat ucapan Tenten saat di rumah Sakura.
~ MESS ~
Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaringnya. Sorak kegirangan terdengar jelas dari dalam kelas Hinata dan kawan-kawan. Kurenai, guru Matematika muda itu pun menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum. Ya~h, ia maklumi sifat anak-anak kelas 12 itu. Walaupun terkadang tingkahnya terlalu kekanak-kanakan.
Sasori, sang ketua kelas bertanya pada Ino. "Jadi nggak?"
Ino mengangguk dengan cepat.
Hinata yang melihat kejadian itu pun bertanya pada Sakura. "Sakura-chan, Sasori jadi mau bantuin Ino?" Melihat Sakura mengangguk, Hinata hanya tersenyum. Ia pun memakai tas selempangnya sambil nunggu Tenten dan Ino.
"Ayo cepat! Keburu Sai-kun pulang," ajak Tenten.
"Sasori sudah menahannya kok," ujar Ino kalem.
Hinata hanya tertawa pelan sambil mengekori Ino dan Tenten. Mata amethyst-nya tak sengaja bertemu pandang dengan mata sapphire di ujung koridor. "Naruto…," gumamnya pelan sambil menaruh tangan kanannya di depan dada. Detak jantungnya makin tidak beraturan saat melihat Naruto, si pemilik mata sapphire itu tersenyum. Hinata tak mampu menahan senyuman manisnya lagi.
"Hinata-chan, ayo!" ajak Tenten sambil menyeret Hinata untuk menuruni tangga.
Hinata sedikit tersentak saat Tenten menariknya. "I-iya, Tenten-chan!"
Tak butuh waktu lama untuk Hinata menuruni tangga sampai lantai dasar. Ia pun terus mengekori kemana Ino dan Tenten pergi, sementara Sakura sudah pergi duluan karena sudah dijemput ibunya dan memang rumahnya tak searah pula.
"Ino-chan, itu Sai," tunjuk Hinata ke arah pemuda yang sedang berdiri di samping Sasori dan gengnya. #Author: sejak kapan Sai satu geng dengan Sasori?# #plak!#
"Aduh! Malu nih, kasih donatnya." Ino bersembunyi di balik punggung Tenten.
"Oh ayolah, Ino-chan! Dia sudah menagihnya tadi," ujar Tenten.
Ino menaikan sebelah alisnya, "menagihnya?"
Tenten mengangguk. "Sudah sana kasih, keburu pulang si Sai-nya," ujar Tenten sambil mendorong tubuh Ino untuk mendekati Sai. Hinata juga ikut menimpali. "Ayo semangat, Ino-chan!" Tak lupa tangan gadis bermata amethyst itu mendorong Ino seperti apa yang dilakukan Tenten barusan.
"B-baiklah, jangan dorong aku terus dong!" serunya.
Tenten dan Hinata hanya tersenyum melihat Ino yang menghampiri Sai.
"Sai-kun?" panggil Ino dengan penuh keraguan. Yang dipanggil menengok dan tak lupa senyum manis mengikutinya. "Oh, kau Ino. Mana donatnya? Jadi 'kan?" tagihnya dengan wajah merona, walaupun samar-samar Ino bisa melihatnya.
"I-ini, m-maaf kalau rasanya kurang m-manis," ujar Ino gugup sambil menyerahkan donat yang sudah dibungkus plastik transparan putih pada Sai.
Sai terlihat sedang mengamati donat itu setelah menerimanya.
"Haha, lucu ya donat buatanmu, Ino," ujar Sai.
Ino menatap Sai bingung. "Lucu?"
Sai mengangguk. "Kau sengaja membuatkan donat untukku sejak awal. Lihat, donatnya saja berbentuk alphabet S-A-I," ujarnya. Melihat Ino menunduk, membuat Sai yang melihatnya gemas. "Arigatou gozaimasu, Ino." Sai pun berlalu setelah mengacak-acak rambut Ino sebentar sebelum ia pergi. Tak lupa senyum manis terus terukir di wajahnya.
Ino tersenyum tulus memandangi kepergian Sai, sampai ketika ia melihat seorang gadis tak dikenal berambut pirang panjang seperti Hinata menghampiri Sai. Hatinya mencelos seketika ketika tangan gadis itu bergelayut dengan manjanya di tangan Sai.
"Oi, Ino-chan! Jangan melamun!" Tenten melambaikan tangannya tepat di depan wajah Ino.
Ino tetap tidak bergeming.
Hinata yang penasaran langsung menengok ke tempat Ino lihat sedari tadi. "A-astaga…," gumamnya pelan. Tak lupa tangan kanannya yang terkepal pelan ia taruh di depan mulutnya. "I-itu, siapa?" tanyanya entah pada siapa.
Tenten ikut menengok. "Itu siapa?" ulang Tenten.
"Itu yang di samping Sai," bisik Hinata.
Tenten yang mengerti langsung menatap Ino. Yang ditatap hanya diam tak bergerak, tatapannya pun kosong ke arah depan. "Apa dia pacar Sai-kun?" Pertanyaan itu meluncur dengan mulusnya dari bibir mungil Ino. Tenten lalu menengok pada Hinata. Yang ditengok hanya menggigit bibir bawahnya, pertanda Hinata tengah bingung.
Tiba-tiba Ino berlari keluar dari gerbang sekolah sambil menangis pelan.
"Ino-chan, c-chotto matte!" seru Tenten dan Hinata.
Namun usaha mereka untuk mengejar Ino terhalangi karena siswa-siswi ikut berjalan juga keluar gerbang. Saat di depan gerbang, keduanya menengok ke kanan dan ke kiri. "Ha~h! Kemana tuh si Ino!" kesal Tenten.
"Pasti dia sudah naik bis tadi," ujar Hinata sambil mengatur napas.
Tenten pun akhirnya mengajak Hinata untuk pulang.
~ MESS ~
"A~h! Capeknya!" keluh Hinata sambil menjatuhkan dirinya di atas kasurnya. Tas selempang kesayangannya ia buang dengan asal ke kursi belajar, alhasil tas itu jatuh ke lantai. "Ino nangis, Tenten marah, dan Sakura galau. Lalu aku?" gumamnya tak jelas sambil mengingat-ingat kejadian yang terjadi di sekolah.
Hinata merubah posisinya menjadi duduk.
Tak lama suara berdencak terdengar dari mulut Hinata. "Ah! Kenapa semuanya jadi seperti ini?" tanyanya sambil menunduk. "Hinata! Makan siang dulu baru tidur!" Suara sang ibu membangun Hinata dari lamunannya. "I-iya, Kaa-san!" Ia pun berganti baju sebelum keluar kamar.
"Kaa-san masak apa?" tanyanya begitu sampai di ruang makan.
Si ibu hanya tersenyum, "makanan kesukaanmu, sushi."
Hinata tersenyum langsung duduk di kursinya. Mata amethyst-nya melirik ke samping kirinya. "Hanabi-chan kemana?" tanya Hinata begitu mengetahui si adik belum ada di kursinya.
"Dia masih ada urusan di sekolah."
Hinata mengangguk. "Mmm, Kaa-san…."
"Ya?"
Hinata sedikit ragu-ragu menanyakan soal ini ketika diingatnya janji yang ia ucapkan pada Naruto. "Ada apa, Hinata?" Hinata menatap piring yang sudah diisi nasi oleh ibunya lalu menengok pada sang ibu yang duduk di depannya. "Apa… aku boleh pinjam dapurnya nanti malam?"
"Untuk apa?"
Hinata diam sebentar. "Aku ingin buat donat untuk sahabat-sahabatku."
Ibunya tersenyum. "Tentu saja, asal kerjakan PR-mu dulu sebelum masak."
Di sinilah Hinata berada, di dapur. Seperti yang ia janjikan, Hinata akan membuat donat untuk Naruto. Ia juga berniat untuk memberikannya pada ketiga sahabatnya yang tengah badmood hari ini. Tentu saja Hinata akan membedakan donat untuk Naruto dan untuk sahabatnya. Ia takut Naruto kecewa kalau misalnya Hinata membuatnya sama seperti donat untuk Ino, Tenten, dan Sakura.
"Yosh! Kita mulai!" serunya.
Pertama-tama, ia siapkan dulu bahan-bahan yang sudah dibelinya tadi sore, seperti setengah kilo tepung terigu, seplastik kecil farmitan untuk mengembangkan adonannya, segelas air putih, beberapa butir telur ayam, sebungkus mentega, satu bungkus susu bubuk rasa coklat, dan gula putih.
"Mmm, pertama satu sendok makan farmitan dilarutkan dengan air putih," ujarnya sambil mengingat-ingat.
Setelah itu, ia mulai memasukan tepung terigu, dua telur butir telur ayam, sebungkus susu, satu sendok makan mentega dan beberapa sendok makan gula ke dalam baskom. Tak lupa ia masukan pula farmitan yang sudah dilarutkannya. Sambil bersenandung kecil, Hinata mulai mengaduk adonan yang belum jadi itu dengan tangan kanannya. Sudah beberapa menit Hinata mengaduk karena lelah berdiri, ia pun memilih untuk duduk di lantai tepat di depan kulkas.
"Akhirnya…," gumamnya.
Dengan susah payah, ia mengaduk. Akhirnya adonan itu pun jadi. Hinata menekan sedikit adonannya, dan gotcha! Adonannya tidak lengket lagi. itu berarti adonan itu siap untuk mengembang. Hinata pun membentuk adonan dengan berbentuk bulat dan menaruhnya di tengah-tengah baskom.
"Lap bersih mana ya?" tanyanya entah pada siapa.
"Hinata-neechan!"
Hinata menoleh ke belakang ketika dirasakannya sepasang tangan memeluk pinggangnya. "Hanabi-chan? Belum tidur?" tanyanya pada si adik yang tengah memeluknya dari belakang itu. "Aku ingin tidur dengan Hinata-neechan mala mini, boleh 'kan?" Hinata tersenyum kecil sambil melepaskan tangan Hanabi dari pinggangnya. Ia pun berbalik menatap Hanabi.
"Tentu saja boleh," ujarnya seraya mengacak-acak rambut Hanabi.
Hanabi tertawa pelan karena perlakuan Hinata padanya.
Hinata menengok ke ruang tengah dari tempatnya berdiri. "Kemana Tou-san dan Kaa-san?" tanyanya karena tiga puluh menit yang lalu, Hinata masih melihat keduanya tengah duduk di sofa panjang sambil menonton televisi.
"Ada rapat mendadak dan Kaa-san juga harus ikut."
Jawaban dari Hanabi membuatnya sweatdrop.
"Kau terlalu percaya pada Tou-san, Hanabi-chan," ujar Hinata. Hanabi memiringkan kepalanya ke kiri sedikit. "Mereka hanya ingin menikmati malam berdua. Lagipula, sejak kapan Kaa-san ikut mengurusi urusan kantor?" ujar Hinata dengan nada malas.
"Oh, gitu ya?" tanya Hanabi.
Hinata mengangguk. "Oh ya, kau tau dimana lap bersih?"
"Lap? Di atas kulkas itu kalau nggak salah," jawab Hanabi.
Hinata pun dengan cepat mengambil satu lap dari atas kulkas. "Hinata-neechan buat apa?" Pertanyaan Hanabi dijawab Hinata setelah menutupi baskom tersebut. "Buat donat, kau mau 'kan?" tawar Hinata dan dibalas anggukan cepat dari Hanabi.
"Neechan, aku ke kamar sebentar ya?"
Hinata mengangguk. Sepeninggalnya Hanabi, Hinata melamun terus sambil menatap baskom yang sudah ditaruhnya di atas meja makan. Sementara ia sendiri, sudah duduk di kursi tempat biasanya Hiashi, sang ayah duduki. Helaan napas panjang keluar dari mulutnya. Ia pun mengambil ponsel dari saku piayamanya lalu memasuki aplikasi Java. Tak lama kemudian, Hinata menekan tulisan Facebook.
Pemberitahuan dari beranda Hinata lumayan banyak, namun bukan itu yang ngin dilihat Hinata melainkan beranda seseorang yang belum terdaftar menjadi temannya. Dengan lincahnya ia menekan tombol di kotak pencaharian.
'Naruto Phion'
Tak lama kemudian, sebuah info data diri dari Naruto Phion muncul memenuhi layar ponsel Hinata. Mata Hinata tertuju pada foto yang ada di ujung kiri halaman tersebut.
"Naruto…," lirihnya.
Senyum manis juga tersungging di wajah chubby-nya ketika melihat wajah pemuda yang dicintainya tersenyum manis di foto. Background sawah hijau sangat terlihat cocok dengan Naruto. Tak pelak membuat Hinata terpesona lagi dengan si pemuda manis itu. Namun sebuah memori kembali masuk dalam otaknya.
Flashback mode on
"Hinata-chan!"
Hinata menengok dan terlihat gadis yang tingginya hanya sedadanya itu. "Ada apa, Tsuki-chan?" #Author: maaf OC lagi. hehehe…#
"Beli apa?" tanyanya.
"Beli burger, kebetulan perutku sedang lapar," ujarnya.
"Oh iya, kamu kenalkan sama yang namanya Naruto Uzumaki?" Hinata mengangguk. Dalam hati ia merasa ada firasat buruk yang akan terjadi. "Kalian sekelas 'kan saat kelas 10?" Hinata lagi-lagi mengangguk. "Memangnya kenapa, Tsuki-chan?"
Tsuki tampak ragu mengatakannya. "Mmm, masa' dia bilang dia nggak kenal sama kamu, Hinata-chan."
JDUAAAR! TIDAAAK!
#Author: maaf, itu jeritan Mizuka# #Author ditendang karena ganggu#
Bagaikan belati menusuk dengan cepat ke hatinya, Hinata merasakan sakit yang amat sangat luar biasa. Bagaimana bisa orang seramah dan sebaik Naruto tidak mengenalinya yang notabene pernah sekelas dengannya? "Benarkah itu, Tsuki-chan?" tanya Hinata tak percaya. Melihat Tsuki mengangguk membuat Hinata makin sakit hati mengingat ia pernah bilang, walaupun dalam hati, Hinata menyukai Naruto.
Flashback mode off
"Oh, geez!"
Hinata menutupi wajahnya di balik kedua tangannya yang di tumpuk di atas meja makan. "Bodoh! Kenapa kau masih mau membuatkannya donat, Hinata! Dia saja tak mengingatmu dulu!" gumam Hinata kesal. Beberapa menit kemudian, menyusul pula isakan kecil dari Hinata tanpa tau bahwa baru saja ada yang meminta pertemanan dengannya di pemberitahuan. Siapa ya, kira-kira? Tunggu jawabannya di chap selanjutnya (chap terakhir)!
To Be Continued
Maaf, kelamaan update! Mizuka harus melanjutkan fic pertama Mizuka dulu kemarin-kemarin dan harus belajar demi UAS Ganjil. Pertama-tama, Mizuka minta maaf pada sahabat-sahabat Mizuka karena kejadian yang waktu itu Mizuka buat fic. Hontou Gomenasai!
Yang kedua Mizuka minta maaf karena banyak typos dimana-mana. Huhu… maaf, Mizuka baru belajar buat fic. Jadi maaf kalau banyak kesalahan Mizuka perbuat dalam memilih kata. Oh iya, Mizuka nggak nyangka ada yang nge-review fic Mizuka yang ancur bet ini. hehehe… Mizuka mau bales review-nya nyo~!
Salt no Pepper: Arigatou sudah mampir ke sini dan review-nya! Sudah kejawab 'kan pertanyaannya? Hehehe… Tebakan Salt-san benar semua, yeee! #plok plok# Nggak tau kenapa bisa kayak gitu, Mizuka nya juga sih yang nggak nge-edit dulu sebelum publish. Hontou ni gomenasai! Makasih atas pujiannya. ^_^
Hwang Energy: Salam kenal, Hwang-san! Arigatou atas pujiannya. ^_^ Haha, Mizuka suka banget memang sama Hinata. Hinata Mizuka jadikan favorit chara kedua dari semua anime. Oh, Tenten. #ngangguk-ngangguk# Kereeen! Hehe… Mukanya juga imut-imut gimana gitu. Maaf ya, update nya kelamaan. ^_^
Terakhir dari Mizuka, Review Please… hehehe… Bagi yang gak login juga sudah bisa... ^_^
