Chapter 2. The Second Meet
Preview chapter...
"Setelah ini, aku akan membentuk organisasi kelas yang belum sempat dibentuk dan memperkenalkan teman baru kalian sebelumnya." Lanjut Kakashi-sensei.
"Sensei, apa dia anak baru yang sedang banyak dibicarakan itu?" tanya salah satu murid perempuan. Entah siapa, aku belum mengenalnya. Ehm, kalau tidak salah.. oh, Shion Miko! Sepertinya, Ino agak kesal karena keduluan Shion. Raut wajahnya sangat bosan.
"Begitulah kira-kira.." jawab Kakashi-sensei, "Oh, kau sudah disitu? Masuklah." Ucap Kakashi-sensei entah kepada siapa di depan pintu kelas yang membuat seisi kelas berusaha melongok keluar.
"Ore wa, Uchiha Sasuke desu. Yoroshiku." Ucap sosok di depan pintu itu saat berdiri di depan kelas. Pemuda dengan postur tinggi tegap, kulit putih, rambutnya.. unik. Dan mataku nyaris keluar melihatnya, jantungku berdebar keras. Suaranya sangat mirip saat aku bertemu dengan.. Astaga! Di-dia.. ?!
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
My © Videra r'mais Utahella
Warning : Bad typos, AU, Gaje, Ngebosenin akut, Aneh, dkk.
Rated : T
Yosh, tanpa basa-basi lagi dan babibu lagi dan cacicu lagi dan tanpa *dibekep* langsung saja,
Happy Reading, Minna! ^^
.
.
.
Sakura.
Aku masih terkejut-kejut kalau Uchiha Sasuke adalah 'Mr. Dream' yang kutemui dalam mimpi itu, sungguh. Rasanya tidak percaya kalau mimpiku langsung terwujud begitu saja tanpa proses lebih lama lagi tapi, aku benar-benar bersyukur akhirnya aku bisa bertemu dengannya langsung. Di kelas Ia duduk persis di belakangku. Jujur, sudah beberapa kali aku berusaha membuat alibi agar bisa meliriknya dan selalu mendapati dirinya sedang membaca buku atau mengerjakan tugas dari sensei. Haah.. wajahnya tampan sekali! Bahkan, aku benar-benar gugup saat menyapa 'ohayou' padanya. Walaupun, hanya ditanggapi dengan trademarknya yaitu, 'Hn'. Oh ya, Sasuke menjadi wakil ketua kelas dan ketuanya adalah Shion. Ino jadi sekertaris sedangkan, aku menolak jadi pengurus kelas. Karena aku adalah tipikal orang yang tidak mau repot.
"Sa-sakura-chan?" aku terhenyak saat Hinata mengguncang tubuhku sampai aku merasa nyaris terjatuh dari kursi kantin, untung aku cepat sadar.
"A-ah.. Maafkan aku." Gumamku sekenanya. Sedangkan, Hinata hanya menatapku bingung. Aku belum bercerita sama sekali soal mimpi itu padanya jadi wajar saja.
" Ka-kau melamuni a-apa, Sakura-chan?" tanya Hinata.
"Ehm.. Bukan apa-apa, tenang saja. Hehe.. Mau nitip salam untuk Naruto?" dan tentu saja Hinata mendidih mendengarnya sedangkan, aku hanya terkekeh melihatnya. Lucu sekali temanku ini. Haha..
Kriiiing~!
Aku mendesah mendengar bel masuk kembali berbunyi. Cepat sekali waktu berjalan atau ini karena efek aku melamun terlalu lama? Ah, sudahlah. Tapi, bersyukur juga jadi Hinata tidak sempat mengintrogasi diriku. Setelahnya, kami pun membereskan kotak bento dan bergegas menuju ke kelas. "Jaa, Hinata-chan!" seruku sebelum melangkahkan kaki ke beda arah dengan Hinata.
"Jaa, Sakura-chan!" sahut Hinata sambil melambaikan tangannya. Aku pun membalasnya sampai aku tidak melihat sosok gadis indigo itu dan karena kecerobohanku, aku nyaris terjatuh di depan umum kalau saja sebuah tangan yang cukup kekar menahan tubuhku. Sedangakan, bentoku sudah terjatuh lebih dulu.
" Ck, hati-hati kalau jalan!" rutuknya.
Aku pun segera membenahkan caraku berdiri dan membungkuk 90 derajat ke arahnya, "Maaf, aku memang agak ce.. ceroboh. Te-terima kasih." Mendapati Uchiha Sasuke yang menolongku entah kenapa, aku jadi agak takut. Takut kalau tidak bisa berdiri di hadapannya. Wajahku saja sudah panas, tubuhku gemetar karna gugup, dan tentu saja jantungku sudah berpacu sangat cepat. Dengan kecepatan kilat, aku pun setelahnya langsung mengambil kotak bento yang terjatuh dan juga mengambil langkah lebar menuju kelas. Percuma memang, karena kami pasti berpapasan lagi di kelas. Sudahlah..
~My Mr. Dream~
Uchiha Sasuke hanya memutar matanya bosan sepanjang pelajaran. Untuk apa diperhatikan? Ia sudah mengerti. Ia juga tidak bisa konsentrasi memperhatikan kalau keadaannya seperti ini, dipelototi oleh gadis-gadis kurang sehat di kelasnya. Lihat saja, mereka terkekeh geli saat membicarakannya. Apa di pikirannya pendidikan tidak kalah penting daripada melototinya? Rasanya yang normal hanya gadis pink di depannya. Gadis pinky itu hanya menoleh kebelakang saat ada keperluan yang menurut seorang Uchiha Sasuke tidak penting dan tidak perlu dilakukan, seperti meminjam penghapus. Itulah contoh yang paling sering. Dan yang terakhir jalan dengan tidak memperhatikan arah depan. Oh, kalau tidak salah namanya Sakura Haruno. Hey, kenapa Ia jadi memikirkan gadis bersurai aneh di depannya?
"Ada pertanyaan?" tanya Kakashi-sensei setelah selesai menjelaskan materi fisikanya. Kemudian, Sakura mengangkat tangannya. "Ya, Sakura?"
"Ehm, sensei.. Aku kurang mengerti dengan contoh nomor 2. Bisa diulang?" pinta Sakura hati-hati.
Kakashi menghela nafas sebelum akhirnya berkata, "Baiklah, setelah ini tidak ada pengulangan ya? Perhatikan baik-baik."
Sakura mengangguk. Kemudian, Ia mengamati penjelasan yang diberikan Kakashi-sensei untuk kedua kalinya. Beberapa kali Ia melihat ke arah papan tulis lalu buku catatannya. Tangannya juga sesekali menulis ke dalam bukunya mungkin, untuk meralat catatannya yang salah. Haruno Sakura memang termasuk siswi yang cerdas, banyak juga guru yang pernah mengajarnya bilang kalau kelebihannya terletak pada kecerdasan dan ketangkasannya tapi, sayang kelemahannya adalah emosian.
Kakashi meletakkan spidol di atas meja gurunya setelah penjelasannya selesai, "Bagaimana Sakura? Sudah mengerti kan'?" tanya Kakashi.
Sakura mengangguk, "Ha'i"
"Baiklah, kalau begitu selesaikan uji kompetensi halaman 93." Ucap Kakashi-sensei memberi tugas kepada kelasnya.
"Ha'i!" seru seluruh murid 8.F. Dan seperti biasanya, Kakashi-sensei keluar kelas setelah selesai memberi penjelasan.
~My Mr. Dream~
Sakura.
Haah! Ya ampun, kepalaku nyaris pecah! Kami-sama.. Apa ini pelajaran kelas 8? Susahnya. Lalu, bagaimana nasibku saat sudah kelas 9 yang harus mengulang materi dari kelas 7?! Astagaa! Daritadi aku hanya bisa mengerjakan 2 nomor soal dari 6 soal yang harus diselesaikan. Aduh, bagaimana ini? Aku melirik ke sekelilingku dan seperti dugaanku, yang lain hanya bisa memegang kepala frustasi. Yang tenang mengerjakan sepertinya ti.. oh, hanya Uchiha Sasuke. Tangannya terus menggerakkan pensilnya di atas buku. Mata kelamnya terus fokus pada buku. Ya ampun, jangtungku. Dan aku nyaris terlonjak dari kursiku saat mataku bertatapan dengannya. Matanya terus menatapku datar. Oh, sepertinya aku tertarik kedalam manik Onyxnya.
"Apa?" tanyanya datar.
Aku memutar otak sampai akhirnya aku menyahut, "E-etto.. Ka-kau sudah selesai?" akh, kenapa aku tergagap!? Aku kan' bukan Hinata!
"Hn, sudah. Kau?" Jawabnya masih datar.
Di-dia bertanya tentangku!? Aduh, jantungku makin gila! Dan sesuai kemampuanku sekarang, aku hanya dapat menggeleng. Kemudian, Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela.
"U-uchiha!" hey, mulutku tidak bisa dikendalikan!
Ia menoleh. Ya ampun, matanya masih datar dan.. sangat keren. Sadar aku memandanginya terlalu lama, akhirnya aku mengambil buku latihanku. "E-ehm, Aku boleh bertanya tidak? Aku masih tidak mengerti." Ungkapku jujur. Yaah.. salahkan sensei yang menjelaskan menggunakan kecepatan kereta shinkasen.
"Yang mana?"
Ya Tuhan! Berarti dia akan mengajariku!?, "Ehm.. yang ini.." jawabku menunjuk buku. Aku jadi berpikir kalau Ia sengaja bertanya apa aku sudah selesai karena tau kalau aku kesulitan dan akan bertanya. A-apa artinya Ia peduli padaku? Ah, sudahlah. Sudaah!
Ia mengambil buku latihanku dan memperhatikannya dengan cermat. Bukuku disentuhnya! Ya ampun, kenapa aku jadi tambah gila begini?! Kan' yang disentuh itu bukuku. Belum tanganku.. hey! Kenapa aku jadi seolah berharap tanganku akan disentuhnya?! Ya ampun, berhenti menjadi gila Haruno Sakura.
"Kau kurang teliti. Ini satuannya saja yang salah."
"E-eh?! A-apa?" ya ampun, telingaku sampai tuli begini menatapnya terus.
"Satuannya, Haruno. Kau salah." Ulangnya sambil menyodorkan bukuku. Aku mengambil bukuku dan mencermati ulang. Oiya, benar. Satuannya salah, ya ampun.
"Oh.. Ya ampun." Ucapku refleks. Aku pun menoleh kembali ke arahnya dan seperti yang lainnya setelah dibantu, aku mengucapkan "Terima kasih.." tidak lupa dengan tersenyum manis.
~My Mr. Dream~
KRIIIIING~!
Sang penyelamatpun datang, yaitu bel pulang sekolah. Para murid Konoha Junior High School tentu sangat gembira mendengarnya. Begitu juga para guru yang menghelas nafas lega karena bisa beristirahat mengajar murid yang cukup bengal. Contohnya, Iruka. Guru dengan hati terbaik di sekolah, tidak pernah menghukum murid dengan sadis. Guru favorit seorang Uzumaki Naruto yang sering tekena hukuman dari guru lain. Yaaa, sepertinya semuanya hampir tau soal itu.
"Hei, Sasuke!" seru Naruto yang sedang menyamakan langkah dengan Sasuke. Mereka akhir-akhir ini sering bersama. Tapi, sayang jika sudah bersama selalu bertengkar. Apa bisa disebut teman dekat Sasuke?
Sasuke hanya menoleh bosan. 'Urusaii' batinnya.
"Kita pulang bersama ya!" ujar Naruto sambil menyengir kuda. Sedangkan, Uchiha Sasuke hanya memutar matanya bosan. "Ne, sepertinya kau cuek sekali sih. Kenapa? Kau tidak boleh seperti itu Sasuke, kau kan' pengurus kelas. " ucap Naruto membuka topik pembicaraan mereka. Dan tanpa sadar telah menceramahi Sasuke.
"Bukan urusanmu." Sahut Sasuke acuh.
Naruto berdecak, "Sekarang kau cuek. Tapi, saat dengan Sakura tadi kau berbeda sekali. Kau suka dengannya ya?" tuduh Naruto dengan tampang tidak senang sama sekali.
"Aku hanya ingin tau kemampuannya."
"So desuka? Aku tidak percaya." Ungkap Naruto curiga sambil terus memandangi wajah datar Sasuke.
"Terserah." Sepertinya Sasuke harus bersabar agar mendapat teman yang cocok. Sulit sekali mencari teman disini. Apalagi, kelasnya terkenal berisik. Walaupun kelasnya memang sengaja dibuat seperti itu. Maksudnya apa juga Ia tidak mengerti. Apalagi, membuatnya sekelas dengan pemuda berisik macam Naruto. Apa maksudnya? Agar dirinya jadi banyak omong? Ia tidak akan menimpali omongan Naruto yang panjang x lebar itu. Sangat ceriwis untuk ukuran anak laki-laki. Biarkan saja pemuda kuning itu mengoceh sendiri, Ia mendengarkan saja. Toh, pasti mereka akan pisah arah pulang.
~My Mr. Dream~
"Sakura, cepat makan malam!" titah Mebuki di depan pintu kamar anak satu-satunya. Sakura sudah telat dua jam dari jam makan malam biasanya. Ia tidak mau anaknya memaksakan diri tanpa Sakura sendiri sadari.
"Sebentar lagi, Kaa-san." Sahut Sakura dari dalam kamarnya.
Mebuki berdecak, dengan tidak sabar Ia pun akhirnya mencoba mendobrak pintu kamar putrinya diawali dengan ketukan super. Sedangkan, Kizashi yang mendengarnya hanya dapat berharap agar pintunya tidak rusak dari bawah. "Sakuraaa! Ini sudah jam 9!" ucap Mebuki setengah teriak.
Sakura berdecak, Ia pun membereskan buku-buku di mejanya dan bergegas keluar kamar. "Iyaa!" sahutnya tidak mau kalah volume dengan ibunya. Ia pun segera turun ke lantai bawah untuk makan malam dengan rasa terpaksa luar biasa.
"Kau tidak boleh lupa dengan cara menjaga kesehatan, Haruno Sakura." Kata Kizashi tegas saat Sakura menempati salah satu kursi. Sedangkan, Sakura hanya mendengus dalam hati. Memang kata ayahnya benar tapi, yang tadi itu sangat tanggung. Hanya tinggal dua nomor lagi latihannya selesai.
"Sakura.." ucap Mebuki membuka topik pembicaraan makan malam.
Sakura yang sedang mengunyah makanan hanya menoleh ke arah ibunya.
"Kenapa kau belajar sampai lupa waktu?"
Sontak Sakura langsung menelan makanannya cepat dan menyahut, "Kaa-san, aku kan-"
"Ssst! Maksud Kaa-san, apa ulangan ini begitu penting?" sela Kizashi mencegah pertengkaran mulut antara anak dengan istrinya. Sedangkan, Mebuki yang berniat menasihati Sakura hanya mendengus.
"Tentu, Tou-san! Aku harus mendapat nilai sempurna apalagi, saingan di kelas sangat pintar!" jawab Sakura menggebu-gebu.
Kizashi membulatkan mulutnya, "Memangnya siapa sainganmu?"
Sakura hening sejenak, "Ehm.. Ino Yamanaka, Shion Miiko, daan.."
"Daan..?" Mebuki membeo kalimat terakhir Sakura, meminta penjelasan.
"Sa.. Sasuke Uchiha! Ya, dia sangat pintar!" lanjut Sakura gugup. Tentu saja, Mebuki menatap anaknya curiga sedangkan, Kizashi hanya mengangguk sambil fokus menghabiskan makan malamnya. Sakura yang dipandangi aneh oleh Ibunya langsung bergegas meninggalkan meja makan, "Selesai, aku akan belajar lagi." Ucapnya sebelum berdiri dari kursi. Sedangkan, Mebuki masih diam menatap aneh putri tunggalnya sampai hilang dari pandangan. Matanya terus memperhatikan gerak-gerik anaknya dan pada akhirnya senyum penuh arti tercipta di wajahnya.
"Dia sudah besar ya.." gumamnya tanpa sadar.
"Ha? Kau mengatakan sesuatu?" tanya Kizashi.
"Tidak, tidak apa-apa." Jawab Mebuki sambil tersenyum. Sedangkan sekarang, yang memandang aneh adalah Kizashi.
~My Mr. Dream~
Sakura.
Aaaakh! Kenapa Kaa-san menatapku begitu sih!? Bodohnya juga aku sampai gugup! Padahal, hanya menyebutkan namanya. Haah! Ya ampun, kenapa pikiranku jadi kurang fokus dengan pelajaran? Aku menggeleng kuat. Tidak, Tidak, kendalikan dirimu Sakura Haruno. Fuh! Memang benar dia saingan paling pintar di kelas, yaa.. walaupun aku yakin nomor dua dari Shikamaru Nara yang terkenal IQ 200nya itu. Untung aku tidak sekelas dengannya, pasti susah merebut posisi tiga besar saja. Haha..
Aku melepas sepatuku dengan Uwabaki yang ada di lokerku. Setelah selesai, kupastikan lokerku terkunci rapat sebelum menuju kelas. Di dalamnya ada barang berhargaku ehm.. Diary. Aku takut dibaca Kaa-san, setiap sekolah aku bawa juga pulangnya. Mungkin berlebihan, tapi, percayalah Kaa-san sangat berbahaya saat aku gagal menutupi sesuatu. Contohnya, kado untuk Kaa-san tahun kemarin. Aku jadi memberikannya lebih awal karena Kaa-san curiga dengan gelagatku. Yasudahlah, lupakan. Aku harus tetap fokus, Harus bisa!
"Sakuraa..."
Aku terjengit melihat siapa yang memanggilku seperti hantu, "Astaga, Ino! Kenapa kau loyo sekali?"
"Pusing, Sakuraa.." keluhnya masih dengan suara yang menurutku menggerikan untuk anggota chearleaders. Langkah kakinya juga sangat gontai, jadi meragukan kalau anggota chearleaders begitu.
"Memangnya kenapa sih?" dan Ia sukses mengangkat kepalanya ke arahku setelah aku bertanya.
"Kau tidak merasa pusing?" tanyanya balik.
Aku menggeleng.
"Ya ampun, otakku rasanya ingin pecah tau! Rumus no teme!" kali ini Ino mengumpat dengan suara seperti biasanya. Sedangkan aku hanya sweatdrop sedikit. Ternyata.. "Hey, Sakura. Apa kau tidak merasa pusing yang sama?"
"Tidak, sepertinya kau-"
"Oia.. Dahimu kan' lebar, pasti pelajaran juga masuk dengan mudah ya? Forehead?"
Aku reflek menutup dahiku lalu mendengus keras, "Pasti kau susah memahami pelajaran karena otakmu kurang oksigen kau tau? Ino-pig?" balasku. Ya, dia langsung memegangi hidungnya.
"Forehead!"
"Pig!"
Dan julukan aneh pun kami dapatkan. Forehead dan Pig. Ya ampun, tidak hentinya Ino mengejekku sampai kelas. Dan tentu saja, aku membalasnya juga sampai kelas.
"Aakh.. Sudahlah! Kau berisik sekali, Forehead!"
"Bukan aku, kau Pig!" tepisku tidak terima. Yang benar saja, yang memulainya kan' dia duluan. Hm.. Sepertinya Ia sudah lelah, dengan kasar Ino meletakkan tasnya di atas mejanya.
"Berisik." Mataku langsung menatap sumber suara yang kuhafal betul pemiliknya siapa. Uchiha Sasuke. Aku hanya menggigit bibir bawahku.. rasanya.. menyeramkan. Mata Onyxnya menatap tajam seperti mata elang mencari mangsa. Kemudian, matanya kembali ke buku di tangannya.
"Ma-"
"Oh, Pagi, Sasuke. Maaf ya tuan Uchiha!" ah, Ino lebih cepat dariku. Ia tersenyum jahil ke arah Sasuke, sedangkan yang diberi senyum hanya memberi isyarat untuk diam lewat tatapan matanya. Setelahnya Ino pun akhirnya diam dan membuka buku. Entah kenapa, rasanya dadaku terasa aneh melihatnya. Mungkinkah aku.. Tidak! Aku harus fokus ulangan..
KRIIING! Ya, Sekarang!
Setelah mengerjakan 15 soal essay dengan hening, akhirnya selesai juga. Kalau saja bukan pelajaran Kakashi-sensei mungkin, semuanya sudah menodong jawaban. Walaupun, tidak ada pengawasan seperti mata yang was-was dari Kakashi-sensei, tetap hening suasana kelasnya. Kenapa? Karena dipercaya Kakashi-sensei sedang mengawas dibalik bukunya yang sedang dibaca. Sekarang, tinggal memeriksa ulang saja. Saking leganya aku menghela nafas dan meletakkan kembali pensilku. Satu lagi, akhirnya aku fokus! Yaaa, walaupun dengan susah payah. Bagaimana dengan.. oh, dia sudah selesai daritadi sepertinya. Matanya sudah sibuk menatap keluar jendela. Astaga! Kenapa aku menoleh padanya lagi!? Bagaimana aku tadi? Apa terlihat aneh? Ya ampun, bodoh! Bodooh! Dan dengan hati-hati aku melirik yang lain, belum semua. Fuuh, syukurlah. Sebaiknya aku memeriksa kembali jawabanku.
"Ck, bukan urusanmu." Dan seperti mantra, kepalaku menoleh lagi ke belakangku tepatnya, sumber suara tadi berasal.
"Baiklah, aku kan' hanya bertanya, Sasuke. Maaf."
"Hn."
Oh, rupanya sedang bicara dengan Ino. Dan entah kenapa, aku merasa.. seperti sebelum ulangan tadi. Yaa, walaupun kuakui yang paling sangat supel di kelas memang Ino tapi, kalau sudah dengan Sasuke rasanya.. supelnya berbeda. Hh.. Apa mereka Ino itu jangan-jangan.. Hey! Aakh, sudahlah. Kenapa aku sampai harus begini sih? Ino ya Ino, kenapa aku harus curiga?
"Sudah selesai, Forehead?" tanyanya kepadaku kali ini.
"Sudah, bagaimana denganmu, Pig?" sahutku senormal mungkin. Aku jadi mengerti betapa susahnya memasang tampang 'baik-baik saja' sedangkan, aku tidak sebaik itu.
~My Mr. Dream~
Sudah menjadi kebiasaan dan tradisi bagi mereka-Itachi dan Sasuke-untuk berkunjung ke kantor perusahaan keluarga setiap minggunya. Sekedar untuk mengenal perusahaan, menurut Fugaku Uchiha dan bagi Uchiha Sasuke ini adalah kegiatan yang paling membosankan, berbeda dengan Itachi yang akan mengelola perusahaan beberapa tahun lagi tepatnya, setelah kuliahnya selesai. Sasuke sendiri juga sepertinya akan terkena imbasnya menyangkut perusahaan yang sudah diturunkan dari kakeknya ini tapi, Ia akan menghindar sebisa mungkin. Ia ingin berkerja sesuai dengan keinginannya tanpa paksaan.
Kali ini, sang pemilik perusahaan -Uchiha Fugaku- sedang berbicara mengenai perusahaan di mejanya kepada anaknya yang juga notabene sebagai ayah dari Uchiha Itachi, pemuda yang sedang duduk santai di sofa panjang dengan laptop di pangkuannya dan Uchiha Sasuke, yang sedang berdiri di depan view kota Konoha di ruang tersebut dengan headset terpasang ditelinga. Tidak sopan? Sudah menjadi kebiasaan untuk sabar menghadapi sang bungsu yang kurang bisa diatur. Walaupun begitu, Ia tetap bangga dengan anak bungsunya.
"Oh, ada suatu hal lagi tentang perusahaan yang ingin kusampaikan sebelum...Sasuke?" Fugaku memotong perkataannya sendiri saat melihat putra bungsunya beranjak dari ruangannya.
"Aku ingin ke toilet." Ujar Sasuke sebelum menutup pintu ruangan ayahnya. Kemudian, tanpa kata tambahan lagi dengan segera Ia melancarkan aksi kaburnya yang diawali buat kebohongan kecil. Ia tidak tahan diceramahkan tentang sejarah 'Uchiha Corp'. Dan itu berhasil, Ia sukses melenggang kangkung keluar gedung. Walaupun, banyak yang melempar pertanyaan padanya, Ia tetap dengan sifatnya yang tak acuh. Matanya memendang jalanan yang penuh kendaraan di hadapannya, Sekarang lebih baik kemana?
~My Mr. Dream~
Sakura.
Haaah.. Akhirnya datang juga hari minggu! Fyuh, ada waktu untuk menormalkan diri karna yang kurasakan waktu itu. Dan aku tidak akan membahasnya lagi. Hm.. suasana yang seperti inilah aku suka, penuh rasa tenang. Mendudukkan diri di bawah pohon yang rindang sambil menikmati hembusan angin. Tadinya, Ino mengajakku untuk keliling konoha sambil lihat-lihat barang tapi, aku sedang tidak tertarik juga yaa.. tau sendiri bagaimana aku kemarin saat hari ulangan jadi, kutolak dengan alasan ingin ke rumah bibi. Benar sih memang, tapi itu hanya untuk mengantar buku kedokterannya yang ketinggalan saat berkunjung ke rumah. Isi bukunya tentang tubuh manusia. Menarik juga sepertinya jadi dokter, bisa membantu orang banyak juga tidak begitu rumit pelajarannya seperti fisika. Tapi, entahlah.
Aku jadi berpikir kalau sepertinya aku harus bisa menikmati waktu luangku di taman ini, selain suasanya yang aku suka ada kedai yang menjual makanan kesukaanku yaitu, anmitsu. Dan rasanya enak sekali! Hoho.. Aku akan membelinya lagi nanti untuk di rumah sebelum pulang. Oh tentu, yang banyak! Mumpung Kaa-san dan Tou-san sedang tidak di rumah jadi, aku tidak diomeli. Hehe..
"Hh.. Nyamannya." Gumamku puas akan posisiku sekarang. Tapi, sepertinya.. sekarang tidak seperti itu pemandangan mataku dirusak. Aakh! Ada juga orang kencan disini!? Aku cemburu? Tentu saja tidak tapi, aku kan' sudah nyaman disini dan mereka seenaknya merusak pemandangan. Huh, yasudahlah. Setidaknya tidak mengambil tempatku juga. Eh? Jadi kelihatan kalau aku seperti orang iri tidak punya pasangan lama-lama disini. Ya ampun aku menyerah, pindah sajalah. Sebelumnya, bereskan sampah dulu.
"Haruno?"
Tunggu, jangan-jangan yang memanggilku.. Astaga. "He? U-uchiha?"
Dan entah kenapa rasanya aku seperti punya alasan kuat untuk tetap duduk di taman ini. Karena aku jadi terlihat seperti tengah menunggu.. pasanganku? Da-dan dia adalah.. Sasuke? Kami-sama.. apa kami akan be-berkencan? Ya ampun! Apa yang harus kulakukan!?
-TBC-
ACA :
Aloha, Minna-saan! ^^/ sudah lama tak berjumpa.. berapa bulan ya? Aduh, saya lupa saking lamanya gak update. Habis, tugas sekolah menggunung sih ._. *lempar bakiak* Aaa.. gomen, gomeen. Sumimaseen! Saya emang gak bisa update kilat jadi, maaf sebesar-besarnya. _ _*bungkuk-bungkuk* tapi tenang, alur ampe ending udah ada kok' tinggal ngetik aja. Hehe.. Oiya! Terima kasih buat yang udah baca,review , juga yang sudi mengefave fic ini! Saya seneng banget loh! Arigatou Gozaimasu.. ^/^
Oke, tak usah berlama-lama. Mari saya tutup ceriwisan saya dengan Maukah anda sekalian meninggalkan review lagi? Review minna itu semangatku. Karena tanpa review sebuah fanfic adalah hampa dan tanpa review juga saya hidup di dunia 'ini' (baca : dunia fanfic) *lebaynya mulai-_-* yosh, lupakan yang tadi. Hehehe.. Jaa! See you next chapter. ^^/
Sekian.
Videra r'mais Utahella.
