Let's Play Truth or Dare!
.
.
.
Warning:
OOC berlebihan, EYD ga bener, typo everywhere, penistaan karakter ugha
.
.
.
"Kak Putra~!"
Indonesia yang baru saja bangun tidur itu menguap pelan, keluar dari kamarnya dengan baju kaos dan celana pendeknya. Ia berjalan menuju pintu depan rumahnya, dan menemukan dua sosok yang dikenalnya disana.
…Wait.
Kok dua?
"Indonesiya~!"
Putra langsung membatu ketika tubuhnya dipeluk oleh orang yang lebih tinggi darinya, dan ia menyadari ada Rin didepannya tengah memegang kamera.
"Heheh, ini akan menjadi referensi yang bagus." Gadis itu tertawa setan.
"…Ivan, lepaskan aku. Berat." Ucap Putra dengan nada malas, dan pria Russia itupun melepaskannya.
"Kalian datang pagi amat sih. Aku baru bangun tidur…" Indonesia kembali menguap pelan.
"Pagi darimananya kek? Udah jam 10 pagi tau!" Rin mengucap kesal, menarik pipinya pemuda bersurai coklat itu dengan kuat.
"Haa? Uhah ham hehuluh?" Tanya Putra dengan bingung dan mengedipkan matanya, sebelum ia melepaskan tangan Rin dari pipinya.
"Sakit woi! Gausah main cubit napa." Dengusnya kesal, dan mengusap tengkuknya.
"Ung. Kalian masuk saja dulu. Aku mau mandi sebentar."
"Pinjam Wii-U kakak ya~"
"Iya dah, iya…"
Rin langsung bersorak girang. Ia berlari masuk kedalam istana negaranya Putra, bersamaan dengan Ivan yang baru mau melepas sepatunya.
"Jangan rusak apapun ya. Atau tidak ga kukasi main lagi." Ancam sang Indonesia.
"Iya, iya. Dasar kakek pelit." Rin mengerucutkan bibirnya, lalu menarik Ivan ke ruangan yang ada permainannya.
"…Dasar anak-anak jaman sekarang." Putra menghela nafas panjang, lalu berjalan ke kamarnya kembali.
"Bayonetta, Bayonetta~"
Ivan hanya bisa tersenyum simpul melihat kelakuan gadis yang lebih kecil darinya ini, tengah mempersiapkan untuk menyalakan Wii-U milik temannya itu.
"Rin... Aku boleh tanya beberapa hal?"
Rin menolehkan kepalanya kearah Ivan dengan bingung.
"Kenapa kau mengundangku kesini? Tidak mungkin kan alasannya cuma main-main saja?"
"Tapi memang faktanya kita akan main-main kok nanti." Rin tersenyum cengengesan.
"Gak Cuma kak Ivan aja yang datang. Nanti ada Amerika, England, Ja—"
"Tunggu, Amerika?!"
"Da?"
"Kenapa kau mengundang Amerika?!" Ivan mencengkram pundaknya sang dara.
"Habisnya kalau gaada dia nanti ga heboh, hehe."
"Riiiiiiiiinnnn-chaaaaann!"
Kedua orang ini berkedip bingung. Gadis itu pergi kearah asal suara, menemukan Kiku yang terlihat bingung.
"Kiku-san, Kiku-san!"
Kiku menolehkan kepalanya, menemukan gadis yang dicarinya tengah melambaikan tangan kearahnya. Japan pun berlari kearah Rin, dan segera memeluknya.
"Aku pikir aku akan tersesat tadi!"
"Ya, sekarang aku sudah disini, jadi tenanglah—"
Rin hanya bisa menepuk-nepuk pundaknya Kiku dengan lembut, sebelum ia menyadari sosok yang dikenalnya lewat.
"Mas Indonesie!"
Yang dimaksud menolehkan kepala. Kiku melepas pelukannya, dan segera bersembunyi dibelakang Rin ketika sosok yang dipanggilnya tadi mendekat.
"…Oh, rupanya kau. Kenapa Japan ada disini? Tadi juga kulihat ada sepatunya Rusia." Ucap Indonesie dengan datar.
"Nanti kita mau main-main. Ikut ga?" Ajak sang gadis. Indonesie terdiam seribu bahasa, memutar bola matanya.
"Jadi host aja kek si Putra. Gua males mau ikutan main."
"…Kak Agus doyan ya nyiksa orang." Rin hanya bisa sweatdrop.
"Dah ya. Gua mau mandi. Oiya, tadi Kirana ada bikin sarapan nasi goreng, jadi kalau lapar ke dapur aja ya." Ucap Agus dengan santai, lalu berjalan pergi.
"N-nasi goreng?" Ivan sedikit memunculkan kepalanya, telinga anjing imajinernya bisa terlihat.
"Makan aja dulu kalau lapar. Nanti kalau ada tamu, aku saja yang bukain pintunya~"
"Ta-tapi, ruang makan kearah mana?" Kiku berkedip bingung. Rin terdiam seribu bahasa, dan menepuk jidatnya sendiri.
Sekarang Russia, Japan, Netherland, America, dan England sudah berkumpul di ruang tengahnya Indonesia. Putra tengah duduk santai diatas sofa, sedangkan lima negara lainnya duduk agak jauh darinya sambil mengelilingi sebuah meja bundar. Rin pun berjalan masuk kedalam ruangan bersama Kirana dan Agus, sambil membawa sebuah botol bir yang kosong.
"Ayee~! Saatnya permainan akbar Truth or Dare akan dimulai!" Ucap sang gadis dengan riang, berjalan kearah 5 negara itu dan meletakkan botol itu di tengah-tengah meja tersebut.
"Peraturannya mudah. Siapa saja yang ditunjuk oleh botol ini harus melakukan dare apapun dan menjawab jujur truth apapun. Dan! Tidak boleh minta ganti." Jelasnya.
"Maksudku jika sudah pilih dare ya dare aja, jangan ganti ke truth. Nanti dare-nya akan diberi pilihan kedua, kalau ga lakuin…"
Agus menanggalkan dasi hitamnya, sebelum dibalut tangannya dengan ujung dasinya dan dicambuknya lantai rumahnya itu.
"Algojo akan menghakimi kalian ala BDSM."
'Seriusan nih anak?!' Pekik kelima negara ini dalam pikiran mereka secara bersamaan, langsung berkeringat dingin.
"Aku dan Kirana akan jadi Host-nya. Jadi kami sudah mempersiapkan truth dan dare apa yang akan dilakukan bagi siapapun yang ditunjuk." Ucap Putra, berdiri dari sofa dan berjalan kearah teman-temannya itu.
"Dan dare harus dilakukan, dalam bentuk apapun itu."
Kelima negara ini langsung memucat melihat wajahnya Indonesia, menenggak ludah mereka sendiri.
"Kalau begitu, permainan dimulai!" Rin segera memutar botol tersebut dengan cepat.
.
.
.
.
.
Dan…
.
.
.
.
.
Botolnya menunjuk…
.
.
.
.
.
.
Kearah…
.
.
.
.
.
.
"Kak Ivan, Truth or Dare?!"
Russia mematung. Hari ini sepertinya bukan hari yang baik untuknya.
"Uh… Truth."
"Baik. Truth untuk Russia dari salah satu pembaca setianya Rin, yang dimana tidak kusebut namanya." Putra berdehem.
"Di ruangan ini, siapakah negara yang paling kau sukai?"
Krik.
"…Ada option kedua ga?"
"Tidak. Ayo jawab pertanyaannya." Indonesia menyilangkan tangannya setelah membaca isi truth-nya.
"…Uh."
"Hayo, siapa?" Rin mempersiapkan kameranya sambil nyengir kuda.
"…Indonesia."
Krik.
.
.
.
.
Krik.
.
.
.
"…Ya, kalau itu Ivan sih ga heran dia pilih Indonesia kan."
"Jangan ditanya dia mah."
"Ivan-san tentu saja jawabannya Putra-san…"
"Aku takkan terkejut jika Russia memilih Indonesia."
Russia langsung menutup wajahnya karena malu. Putra kembali berdehem pelan dengan wajah yang agak memerah.
"Oke! Kak Ivan, putar botolnya~!"
Ivan menurunkan tangannya, meraih botol itu dan segera memutarnya.
.
.
.
.
.
Dan…
.
.
.
.
.
Botol itu…
.
.
.
.
.
.
.
.
Menunjuk…
.
.
.
.
.
"Netherland, Truth or Dare?"
Mampus.
Kirana langsung nyengir setan. Nether terdiam seribu bahasa.
"Ayo, Neth~"
"D-dare."
"Bacain dong dek." Putra menyodorkan kertas lain kearah adiknya itu. Kirana berdehem, berusaha untuk menahan senyumannya.
"Dare untuk Nether. Lakukan tari Jaipong lengkap dengan pakaian adatnya."
"Pfft—"
Nether langsung menatap Rin yang menahan tawanya.
"U-uh… Option kedua?"
"Dare selingan. Lakukan strip dance."
"Bfft—" Amerika langsung menahan tawanya dan menundukkan kepalanya. England memegangi perutnya, berusaha untuk tidak tertawa lepas.
"Dare-nya kenapa ga bener semua coba?!" Pekik Nether dengan kesal, menggebrak mejanya.
"Ayo kak Neth~ lakuin atau di-BDSM sama algojo~" Rin tertawa setan, sambil tersenyum ala Koro-sensei.
"Tari jaipong atau strip dance? Pilihanmu." Ucap Putra sambil nyengir.
"Udah, lakuin aja. Daripada kena BDSM." Ucap Alfred dengan wajah yang memerah karena menahan tawanya.
"Urgh— baik, baik! Mana bajunya?" Netherland bangkit dari tempat duduknya.
"Disini. Nanti kembali kesini sambil nari ya~" Kirana tersenyum polos, lalu menarik tangan pemuda belanda itu keluar dari ruangan.
"Oke, karena nunggu Nether bakal lama, kita lanjut~" Rin memutar botolnya lagi.
.
.
.
.
.
.
Dan…
.
.
.
.
.
Botol itu…
.
.
.
.
.
.
.
Berhenti pada…
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
—To Be Continued—
