Dua hari berlalu sejak pertemuan tiba-tiba mereka.

Keduanya tampak sangat akrab, persis seperti sepasang kakak beradik yang saling menyayangi, dengan Yifan kecil terus-terus-dan terus mengunjungi ruang rawat milik Tao—bocah bermata panda yang selalu menyanyikan lagu kesayangannya menjelang tidur, bahkan Yifan kecil tidak ingin walau hanya beberapa jam saja tidak sekedar menyapa anak lelaki manis tersebut. Wu muda itu akan merengek dan kabur, dan lagi-lagi kabur ke ruang Tao sedang tertidur memeluknya di atas ranjang.

Dan sejak saat itu, para perawat yang mendapat kepercayaan dari tuan nyonya Wu untuk menjaga sang buah hati, sedikit bernafas lega karena Yifan kecil tidak lagi merengek-rengek untuk keluar dari gedung rumah sakit hanya karena ingin melepas rasa bosan tak ada teman—sebab Tao kecil kini ada bersamanya.

Selama itu pula, Yifan kecil selalu bertanya-tanya akan jawaban warna mata Tao kecil yang tidak sepertinya, warna matanya kelabu pucat, tampak tidak serasi dengan wajah manis anak itu. Tetapi, ia malu untuk bertanya kepada yang bersangkutan, jadi ia hanya bisa memendam pertanyaan tentang itu, menunggu bahwa mungkin suatu saat nanti Tao kecil akan bercerita kepadanya.

Hanya saja, kesabaran Yifan tidak sebagaimana yang ia harapkan, rasa penasaran terus menyelubungi sifat ingin tahunya. Itu membuatnya jengkel sendiri. Karenanya, ketika mereka berdua sedang tidur-tiduran di atas ranjang sambil Tao kecil yang sedang asyik menyanyikan lagu-lagu kesayangannya yang lain, Yifan kecil memberanikan diri untuk bertanya diiringi kegugupan yang mencekik kerongkongan.

"Uh, Tao-er," panggilnya. Ia memposisikan tubuhnya yang semula terlentang menjadi miring ke kanan, melihat wajah Tao yang saat itu menolehkan wajahnya sekilas. "boleh gege bertanya sesuatu padamu?"

Awalnya Tao kecil bingung dengan nada suara Yifan kecil yang terdengar takut-takut, namun ia hanya bisa mengangguk dan memamerkan senyum menawannya. "Iya, boleh. Gege mau bertanya apa pada Tao?"

Hening semu sesaat diantara mereka. Tao kecil masih setia menunggu akan pertanyaan yang ingin disampaikan Yifan kecil, tidak lagi menyanyi melainkan menggumam-gumamkan melodi secara asal-asalan yang terdengar harmonis, sementara dengan Yifan kecil, ia terus menerus menelan rasa gugup yang seolah tidak ingin pergi menggelantung di kerongkongannya, bahkan tangan kanannya yang menggenggam erat tangan kiri Tao kecil mulai berkeringat dingin, cukup membuat Tao kecil khawatir dengan gege-nya.

Akhirnya, setelah melewati proses yang panjang bagi Yifan kecil untuk menguatkan diri bertanya kepada Tao kecil, ia membuka mulut perlahan-lahan dan bertanya dengan lirih, "Matamu yang abu-abu pucat itu jelek sekali. Kenapa bisa seperti itu?"

Sekejap, Yifan kecil terkesiap begitu Tao kecil terdiam tiba-tiba dari gumamannya, lalu menarik tangannya yang digenggam sang bocah Wu, untuk kemudian membalikkan tubuhnya memunggungi Yifan kecil. Bocah bermata panda itu menyembunyikan tubuhnya di balik selimut dengan agak susah payah, dan ia tidak menyahut panggilan maupun guncangan Yifan kecil yang panik karena tingkah laku Tao kecil yang tiba-tiba berubah padanya.


.

.


A Tale of Two Kid in Hospital © Akai Momo

.

Screenplays!Kristao

.

Yaoi/ Alternative Universe/ Typos

.

I don't own anything, except this storyline

.

Warning!Very-very-very slowly plot!

.

No like, don't read, please!


.

.


Sinopsis!: Sepenggal kisah dua anak lelaki di rumah sakit, anak lelaki yang hanya memiliki sisa hidup enam hari lagi dan anak lelaki yang tidak bisa melihat indahnya dunia dan gagal organ dalam karena sisi lain kehidupan yang kejam luar biasa.

(9 years old!Yifan and 6 years old!Tao/ Slice of Life – Drama)

.

.


1] Panggil aku Akai atau Momo.

2] Special Thanks!Readers, reviewers, favers and followers.

3] Aku tidak tahu ff ini selesai sampai bab berapa, tapi tetap Rnr!please untuk menghargai karya ini dan fast update-nya.

.

.


[Tuhan, aku hanya ingin paling tidak menemani sepanjang hidupnya, meskipun kita tidak bisa bersama-sama lagi.]

.

#NowPlaying:

1] Never Leave You Alone © Kajiura Yuki

3] M17 © Kajiura Yuki

4] Alice Theme © Kajiura Yuki


.

.


Saat itu nyonya Wu yang sedang berkunjung dan mengupas buah apel bawaannya mengerutkan kening tatkala melihat sang buah hati masuk ke ruang rawatnya dengan wajah lesu. Sepasang mata coklat kemerahannya yang diwariskan dari sang ayah tidak lagi berbinar-binar penuh semangat, bahkan terdapat samar bengkak di kantung matanya. Langkahnya tidak segagah biasanya, dan Yifan kecil bahkan tidak tertarik untuk membalas tatap sang ibu meskipun anak lelaki itu tahu ia ada di sana mengamatinya.

Memilih untuk duduk di single sofa merah beludu yang tersedia di ruang rawat VIP miliknya.

Cukup membuat kerutan terbentuk lebih banyak di dahi sang nyonya Wu.

Maka, setelah ia meletakkan pisau buah dan sebutir apel yang kulitnya masih melekat di tubuh pada mangkuk di nakas samping kanan ranjang, pria dewasa berparas cantik itu menghampiri anaknya yang kini sedang tidak bersemangat. Pria dewasa itu berjongkok di hadapan sang buah hati, mengusap-usap sayang punggung dan helai-helai rambutnya, dan sambil itu, ia bertanya: "Ada apa, jagoan mama?" awalnya yang membuat Yifan kecil sudi melirik sejenak. "Mama ingat waktu datang kemari, perawat Kwon bilang kalau kamu sangat dan selalu bersemangat untuk mengunjungi Tao. Tetapi kenapa sekarang kamu kembali—bahkan di waktu yang tidak biasanya, dengan muka seperti ini?"

Yifan kecil menggeleng. Tetapi nyonya Wu tetap pada pendiriannya, ia ingin tahu alasan kenapa putra tampannya seperti ini. Berkali-kali pria dewasa cantik itu merayu sang buah hati untuk berbagi cerita atau masalah yang membuatnya bermuram durja, dan berkali-kali pula Yifan kecil hanya diam seribu kata tidak ingin membuka suara. Hingga pada akhirnya, ketika nyonya Wu mulai menyerah dan menunggu mood baik anaknya, Yifan kecil lantas bertanya dengan wajah memelas penuh rasa bersalah.

"Mama," panggilannya membuat nyonya Wu tersenyum kecil. Ia mengangguk dan menunggu perkataan selanjutnya sang buah hati. Maka, begitu pria cantik yang telah membuatnya lahir ke dunia itu mau mendengarkan dan menunggu, Yifan kecil lantas bertanya, "apa aku salah bilang kepada seseorang jika mata orang itu jelek sekali?"

"Kamu berkata begitu kepadanya?" Yifan kecil mengangguk samar dan nyonya Wu terkejut. Terkadang kejujuran anaknya cukup membahayakan perasaan orang-orang yang mendengarnya, walaupun tidak ada maksud untuk menyinggung. "Kenapa kamu melakukannya? Apa kamu tahu, sayang, kalau perkataanmu yang seperti itu melukai perasaannya."

"Ta-tapi aku tidak bermaksud," bela Yifan kecil. "aku hanya sangat penasaran, mama, tentang mata Tao-er yang berwarna kelabu pucat. Itu terlihat jelek untuk wajahnya yang manis." Akunya malu.

Nyonya Wu menganga kecil, mendengar pengakuan anaknya tentang masalah itu membuat jantungnya berdetak kencang meskipun sekali saja saat itu. Ia kaget, dan agak tidak percaya, maka dari itu, ia mencoba mengorek informasi lebih dalam soal bocah yang selama ini menjadi teman baru buah hatinya di rumah sakit.

"Maksud Yifan apa? Mata kelabu pucat?"

"Iya, mama." Yifan mengangguk. "mata Tao-er kelabu pucat aneh. Lalu, mama tahu tidak, waktu aku berkenalan dengannya, dia menoleh ke segala arah untuk mencariku, padahal aku tepat tidak jauh di depannya. Ya, walaupun kami dihalangi oleh jendela dan jarak beberapa langkah."

Pria dewasa itu membisu. Ia tidak bisa merespon apapun kecuali hanya mengusap-usap sayang tubuh anaknya yang kini berada dalam dekapan hangat. Pandangannya jatuh melayang, cukup terpukul dengan cerita lengkap tentang teman baru anaknya yang ternyata sama-sama memiliki kondisi memprihatinkan.

Hening semu diantara mereka. Suara detak jam dinding, desau angin yang berkali-kali datang menyambangi ruangan meski sesaat, suara nguuung! Dari air conditioner ruangan yang menggantung indah tepat diatas ranjang rawat, dan suara blub!-blub!-blub! Dari akuarium yang berdiri manis tak jauh dari keduanyalah yang menyela hening tersebut.

Sementara itu dengan Yifan kecil, ia mulai termakan oleh buaian lembut dan hangat pria yang merengkuhnya kini, bahkan menyamankan diri di dalamnya sambil sekali-kali menguap kecil. Dan terkadang pula, kepalanya berdenyut-denyut kembali karena terlalu berpikir keras tentang kondisi Tao kecil, namun ia tetap diam dan berusaha untuk menahan rasa sakitnya. Bocah Wu itu tidak mau membuat mamanya panik, lalu memanggil dokter dan membiarkan dokter mengeceknya, berlanjut dengan pelarangan untuk bermainnya dan diharuskan untuk istirahat. Yifan kecil tidak ingin begitu, karena kalau begitu, mungkin hari ini ia tidak bisa bermain dengan Tao kecil.

Meskipun Yifan kecil tidak yakin apakah Tao kecil mau bermain dengannya, mengingat perubahan tingkah lakunya yang diam mendadak padanya.

Kala itu Yifan hampir-hampir terlelap dalam buaian sang mama, "Sayangku," hingga lirihan pria dewasa itu berhasil memecah keheningan diantara mereka. Dan Yifan kecil membalasnya dengan gumaman tidak semangat, masih seperti itu sambil memikirkan mengapa Tao kecil tiba-tiba tidak ingin menyahut panggilannya beberapa menit lalu dan rasa kantuk yang menyerangnya. "apakah kamu ingin mengetahui alasan Tao seperti itu?"

"Tidak," jawabnya. "kenapa, ma?"

Berusaha sekuat mungkin agar suaranya tidak parau Kemudian nyonya Wu melanjutnya dengan samar-samar, "Itu mungkin karena Tao tidak bisa melihat, sayang. Tao buta permanen sejak lama, karena itu matanya berwarna kelabu pucat."


.

.


Di sisi lain, setelah beberapa menit suara blam! dari pintu ruang rawat yang tertutup rapat, Tao kecil keluar dari persembunyiannya. Bocah bermata panda itu melirik sekilas ke belakang tubuhnya, meskipun ia tidak bisa melihat, tetapi ia tahu dimana letak pintu berada—sebab para dokter dan perawat selalu lalu lalang di ruangannya tepat melalui pintu di sebelah sana.

Lalu menunduk lesu dan kembali menyamankan diri dalam posisi tidurnya, sambil memeluk sebuah boneka panda kumal teman sepermainannya sejak dulu. Tangan mungilnya mengusap-usap sayang bulu bonekanya, sambil bibirnya kembali mengumamkan kata samar-samar tak berarti. Pandangannya jatuh sayu dan sedikit demi sedikit bulir-bulir menggenang di pelupuk matanya yang kelabu.

Bibirnya yang terkatup rapat mulai bergetar, dan sedetik kemudian terbuka untuk menyuarakan isak tangisnya yang pilu sekali. Terutama mengingat perkataan terakhir Yifan kecil, sebelum akhirnya bocah Wu itu pamit setelah memberikan pelukan hangat perpisahan.

"Ayah," paraunya diselingi isak tangis. "ternyata Tao memang jelek dengan bola mata ini."

"Siapa yang bilang begitu?" kata ayahnya, beberapa hari sejak Tao divonis buta permanen oleh dokter klinik. Pria dewasa itu memeluk anak tersayangnya yang berjalan lunglai sambil memeluk boneka panda hadiah ulang tahunnya yang kedua. "Tao-er tetap kesayangan ayah yang manis meskipun kedua bola matanya berwarna kelabu."

"Mereka," adu Tao kecil yang berusia tiga tahun dengan aksen cadelnya yang lucu. Bulir-bulir mata saling terjun bebas menyusuri pipi gembilnya yang merona pilu. "mereka bilang Tao jelek dan mereka tidak mau bermain dengan Tao, ayah." Jeda diantara mereka, sejenak merasakan hembusan angin malam yang mampir ke gubuk sederhana tempat mereka bernaung selama ini. "se-sekarang," isaknya menyedihkan. "sekarang Tao tidak punya teman lagi, ayah. Ti-tidak ada yang mau berteman dengan Tao."

Pria dewasa yang tampan itu semakin merengkuh sang buah hati tercinta tatkala mendengar keluh kesahnya. Berusaha menahan tangis dalam diri, dan terus menerus berdo'a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk meminta kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani hidup yang mereka dapatkan. Hidup yang tidak sebaik dan seberuntung orang-orang luar di sana, hidup yang membuat pasangannya berang dan mulai menunjukan sikap luar biasa buruk sebagai istri dan ibu.

Sisi lain hidup yang luar biasa kejam, hingga anak tercintanya terkena imbas yang memilukan dan mengancam hidup baiknya ke depan.

Di bawah langit malam dengan bintang-bintang yang berkelip cantik untuk menemani sang ratu malam menggantung di sana, di balik kemewahan kota yang seolah berlomba-lomba untuk angkuh dan membuat pesimis mereka yang tidak dapat menjangkaunya, pasangan ayah dan anak itu hanya bisa saling menguatkan satu sama lain untuk bertahan hidup. Untuk bertahan hidup walaupun hanya satu hari ke depan saja.

"Tidak apa-apa," ucap ayah Tao kecil kemudian. Tangannya menepuk-nepuk sayang punggung mungil sang buah hati, yang kini telah tertidur masih dengan air mata yang mengalir di sudut-sudutnya.

"Tao-er masih mempunyai ayah dan boneka pandamu. Tao-er masih mempunyai rasa sayang dan cinta ayah yang hanya untukmu." Bisik pria itu tepat di sebelah telinga Tao kecil, berharap bahwa apa yang diucapkannya adalah sebuah do'a untuk yang terkasih.

"Dan bersabarlah, sayang. Suatu hari nanti Tao-er akan mendapatkan teman yang benar-benar menerimamu apa adanya, walaupun itu hanya satu."

Malam itu, keduanya kembali tidur berpelukan. Saling menghantarkan hangat tubuh dan cinta-kasih sayang seorang ayah kepada buah hati kebanggaannya—meskipun ia tidak dalam kondisi sempurna seperti kebanyakan orang di luar sana.


.

.


(Bersambung)