Langit begitu gelap, pukul 4.30 waktu Magnolia setempat. Matahari masih tertidur nyenyak di ufuk barat, belum mau menyingsingkan fajar menampakkan sinar kemerahan. Jellal yang paling anti dengan kata bangun pagi, mendadak rajin bahkan sudah bersiap-siap memakai seragam. Hanya saja, karena terlalu dini untuk untuk pergi ke sekolah, dia terlebih dahulu menyalahkan televisi guna mengusir bosan. Saluran berita menjadi pilihannya mengawali hari Selasa, tanggal 3 November X791.

"Tumbenan bangun lebih pagi. Apa yang membuatmu bersemangat?" tanya sang ibu dari arah dapur. Tengah menggoreng telur dadar di atas panci penggorengan

"Ya, aku ingin bertemu seseorang di kelas tambahan"

Siswa kelas sembilan wajib mengikuti kelas tambahan, diadakan setiap hari Selasa sampai Jumat, dan dimulai jam 6.20. Biasanya Jellal sengaja membolos, lalu datang ketika bel masuk nyaris berbunyi. Kalau bukan karena Erza, pasti kebiasaan buruk itu akan terus berlanjut. Rencananya untuk modus telah dibuat sejak kemarin, yakin seratus persen mampu membuat semburat merah itu muncul ke permukaan pipinya yang mulus.

Tap…tap…tap….

Halaman depan nampak sepi tanpa adanya aktivitas, jauh berbeda jika dibandingkan dengan suasana rumahnya sekarang ini. Pasti ibu tengah bersenandung riang, menyadari Jellal berubah seratus delapan puluh derajat, dari yang awalnya malas mendadak rajin. Namun siapa yang tau, mungkin hanya awet satu hari saja. Pak Droy terlihat sibuk mengepel di sepanjang koridor sekolah, sesekali tersenyum riang mendapati hasil pekerjaannya yang membuat lantai berkilau.

"Selamat pagi, Droy-san" sapa Jellal kemudian berlalu. Yang dipanggil membalas dua menit kemudian, tetapi kenapa terasa aneh, ya?

"Selamat pagi, Jellal-san. Eh tunggu, anak badung itu ikut pelajaran tambahan?! Mimpi apa aku semalam?"

SREKK….!

Puluhan pasang mata tertuju pada Jellal yang berjalan menuju bangku belakang. Semua pun heran melihat kedatangannya, ada apa gerangan? Dia sendiri kurang peduli, cuek merogoh isi tas mengambil buku tulis kosong, meski tidak dipakai karena Yajima-sensei berkata, untuk mengeluarkan latihan minggu lalu, dan bagi yang lupa membawa, diharuskan mencari teman duduk guna membahas lima belas butir soal bersama-sama.

Baiklah, kita lihat sisi baiknya. Jellal memanfaatkan kesempatan ini untuk modus, menarik kursi di sebelah kiri Erza yang kebetulan masih kosong, atau garis takdir sengaja melukiskan demikian di atas lembaran hari baru?

"Ke-kenapa kamu duduk di sini?!" tanya Erza menghiraukan penjelasan Yajima-sensei. Mengusir Jellal adalah yang terpenting sekarang

"Tidak apa-apa, kan? Lagi pula kamu membawa kertasnya. Tempat lain juga sudah penuh" ucap Jellal memikirkan macam-macam alasan agar Erza luluh. Meski dari iris hitam itu terpancar, dia belum mau mengalah

"Kata siapa? Di sebelah Natsu kosong!"

"Aku tidak mengenalnya. Dia kan yang menghajarku kemarin, kami masih perang dingin. Ya, anak sebaik Jellal Fernandes mana mau, berteman dengan berandalan" menyanjung diri sendiri bukanlah kebiasannya, dia benar-benar out of character

"Hah….? Padahal kamu sendiri berandalan, tetapi tidak punya teman. Aneh dasar"

"Jawaban nomor tujuh salah" sebilah pulpen Jellal ambil tanpa meminta izin terlebih dahulu. Menarik garis miring mencoret angka yang dimaksud. Erza mendadak histeris, menarik kertas tersebut menjauh dan nyaris robek

"Jangan sembarangan! Hanya aku yang boleh mencoretnya"

"Silahkan, hime-sama"

BLUSH!

'Sial, lagi-lagi gombal murahan dari anak badung', batin Erza melampiaskan amarahnya pada secarik kertas, diremas menggunakan tenaga penuh, hingga menimbulkan bekas kusut yang mustahil dihilangkan. Jellal menunjukkan seringai kemenangan, melihat si scarlet gelagapan sendiri. Tak lama kemudian bel masuk berbunyi, secepat kilat kaki Erza berjalan meninggalkan kelas, juga lelaki yang cekikikan tidak jelas, dibuat tertawa oleh tingkah ketua OSIS.

Pelajaran pertama di hari Selasa yaitu matematika, diajar Laxus-sensei dengan julukan 'killer', nomor satu paling mengerikan di SMP Fairy Tail. Jellal merasa apes, setelah bertemu tiga tahun berturut-turut seakan murid dan guru itu terikat benang merah. Mengingat PR halaman 78 membuatnya semakin malas mengikuti pelajaran. Jelas, karena dia belum mengerjakan satu soal pun. Namun yang berbahaya adalah, jika disuruh maju ke depan lalu menulis jawaban di papan tulis! Kurang menyebalkan apalagi?

"Nomor absen tiga belas, Jellal Fernandes. Tulis jawaban nomor lima"

Mau tidak mau dia diminta menurut. Laxus-sensei menyodorkan spidol bertinta hitam, yang akan digunakannya untuk menulis. Hingga tiga menit berlalu, Jellal tak kunjung menorehkan sedikit tulisan atau angka di atas permukaan papan berlatar putih. Bukan hanya mereka yang kesal menunggu, melainkan juga sang guru.

"Wendy. Bantulah Jellal mengerjakan…."

"Erza saja, sensei. Tangannya gatal begitu ingin menulis jawaban" ledek Jellal tersenyum seramah mungkin, membuat Erza bertambah kesal kembali dilibatkan dalam 'permainan' anenya

"Majulah Erza. Bantu Jellal mengerjakan soal"

Kalau Laxus-sensei sudah memberi perintah, maka wajib dilaksanakan. Jari telunjuk Erza memberitau setiap letak kesalahan yang Jellal perbuat, seperti salah mengkali atau membagi angka desimal. Sebenarnya cukup keterlaluan karena dia sudah kelas sembilan. Bayangkan saja, di bulan April mereka akan menghadapi ujian sekolah. Soal yang lebih sulit, pasti dikeluarkan oleh guru bidang studi masing-masing. Ingatlah, SMP itu adalah Fairy Tail. Ujian masuk dan ujian kelulusan sebanding sukarnya.

"Yap. Jawabannya benar. Jadi…."

Oke, Jellal sangat puas berhasil menahan Erza sepuluh menit lamanya, sedangkan yang menjadi korban harus menahan emosi, sebelum pukulan melayang telak mengenai pipi si murid badung. Pukul 8.30 bel pergantian pelajaran berdering, selanjutnya Bahasa Jepang yang baru-baru ini diajar oleh Jenny-sensei, seorang guru muda mirip Levy-sensei : baru mengajar dua minggu lalu. Namun, cobaan yang dihadapi sudah begitu berat dan bikin stres. Siapa penyebabnya kalau bukan Jellal, dia menyusahkan karena sering kali tidak mengerjakan PR.

"Fernandes-san, cepat kerjakan tugas cetak halaman lima puluh lima yang saya suruh!"

"Setelah pulang sekolah akan saya kerjakan" bantah Jellal memainkan pensil kayu yang tingginya berkurang banyak. Jenny-sensei merasa dipermainkan sekarang, melayangkan ujung buku bermaksud menjitak helaian surai birunya sekeras mungkin

"Memangnya sensei akan tertipu?!" kesabaran guru muda itu benar-benar habis sekarang. Jellal yang sadar kepalanya dalam bahaya segera menulis serangkaian kalimat asal. Jenny-sensei pun berhenti sambil mesam-mesem gembira

"Begini baru benar. Selesaikanlah soalnya"

"Hahaha….hanya bercanda kok, Sensei"

"Be-be….beraninya kau! Baiklah, Sensei tidak peduli terhadapmu. Erza, awasilah Jellal supaya dia mengerjakan tugas"

"Kenapa harus saya?" apa tidak bisa, sehari ini saja terlepas dari Jellal? Erza bergidik ngeri melihat death glare Jenny-sensei yang dilayangkan padanya. Sebatas mengawasi saja, kan? Tugas ini mudah dan menyebalkan, karena orang itu adalah Jellal Fernandes

Kursi kosong di samping kanan, Erza duduki dengan terpaksa. Membawa buku cetak dan tulis bahasa Jepang-nya, untuk menyelesaikan soal yang baru dikerjakan setengah jalan. Mereka terdiam sejenak, Jellal masih asyik memutar-mutar pensil melewati sela jari, menyebabkan iris hitamnya gerah, melihat tingkah laku yang sangat kekanak-kanakan tersebut.

"Cepat kerjakan soalnya, bodoh! Kau mau dimarahi Jenny-sensei?" tanya Erza menaikkan volume suara, dia tau membuat Jellal menurut tidaklah semudah membalik telapak tangan. Sikapnya pun memang kasar terhadap makhluk adam ini

"Gampang saja kan. Kamu hanya perlu memberi jawabannya, lalu aku tinggal menyalin"

"Tidak akan pernah, Jellal Fernandes" tolaknya tegas. Memang dia pikir mudah apa, menemukan jawaban dari sepuluh soal berbeda? Erza menghela nafas panjang, tidak tega melihat Jellal yang sedari tadi diam tanpa membalas ucapan pedasnya

"Baiklah, aku sebut halamannya saja. Nomor satu cari di halaman lima puluh dua. Nomor dua cari di halaman lima puluh empat bagian rangkuman. Nomor tiga cari di halaman empat puluh tiga. Nomor empat…." Erza berhenti sejenak, menyadari kesadaran Jellal melayang-layang di udara, berada di tempat yang tidak seharusnya

"Hoi. Kamu mendengarkanku tidak?!"

"A-ah, maaf. Biar aku cari sendiri jawabannya"

Empat siku melekat di kening Erza, menandakan kemarahannya sudah berada di puncak. Terselamatkan oleh bunyi bel istirahat, dia langsung melesat pergi menuju kantin tanpa mempedulikan apapun, termasuk wanita yang menjadi pengawas dadakan. Seseorang duduk menggantikan posisi Jellal. Meletakkan kotak bekal di atas meja cokelat menanti sahabatnya terlepas dari lamunan. Sesekali tangan ringkih itu bergoyang di depan wajah Erza walau tidak membuahkan hasil.

"Erza, Erza!"

"O-oh, Lucy ternyata. Maaf"

"Apa yang kamu lamunkan? Sepertinya sangat serius"

"Ini gara-gara Jellal. Tadi aku diminta Jenny-sensei untuk mengawasinya. Dia ingin meminta jawaban, dan aku memberi tau halamannya, tetapi anak itu malah berkata 'biar aku cari sendiri jawabannya'. Mengesalkan sekali"

"Aku yakin Jellal itu orang baik. Dia yang menyelamatkanku dari Natsu dan kawan-kawan. Tanpanya pasti mereka menghajarku habis-habisan" ucap Lucy mengenang kejadian kemarin, dimana pahlawannya datang ketika dia hampir meneteskan air mata

"Cih! Anak badung itu telah mencuci otakmu rupanya"

Di mata Erza, kebaikan Jellal tidaklah berarti selain sampah. Nakal tetap nakal, sifat itu buruk dan patut dirubah. Percakapan mereka berlangsung sampai bel masuk berbunyi. Membuat waktu berjalan sangat cepat yang membuatnya semakin malas untuk bertemu dengan Jellal. Pelajaran bahasa Jepang berakhir pukul 10.15, dilanjut Ilmu Pengetahuan Sosial materi perang dunia I dan II. Erza tengah mempersiapkan diri, sebentar lagi gilirannya maju presentasi. Dia harus tampil sebaik mungkin demi nilai tertinggi.

"Selanjutnya, Erza Scarlet"

Semua berjalan lancar, dimulai dari menyebutkan penyebab umum perang dunia I, dilanjut penyebab khusus, bagaimana keadaan politik dan ekonomi saat itu, dan yang terakhir, upaya dalam memperbaiki kondisi tersebut. Erza mulai mengambil jeda satu menit, tengah mengingat-ingat kembali bahan yang dipresentasikannya. Ini mengundang banyak pertanyaan murid lain, jarang melihat ketua OSIS dengan segala kesempurnaannya, mendadak mati kutu seperti sekarang.

"Psst…psst….! Dibentuknya Liga Bangsa-Bangsa oleh Presiden…."

"O-oh, iya! Untuk mendamaikan negara yang berperang, dibentuklah Liga Bangsa-Bangsa oleh…." potong Erza melanjutkan kalimat Jellal. Tepuk tangan menggema meriah disebabkan presentasinya yang terbilang sempurna, seakan jeda satu menit itu tidaklah penting, begitu juga bantuan mendadak barusan

"Hey. Terima kasih atas bantuanmu" ujar Erza setelah duduk di kursinya. Meja mereka memang bersebelahan, sih, sejak awal semester satu. Namun, baru pertama kali dia mengajak Jellal mengobrol

"Ya, sama-sama"

"Ta-tapi, bagaimana caramu tau, kalau perang dunia I adalah materi presentasiku?" jelas aneh. Jellal jarang mendengarkan penjelasan guru, mungkin bagian mana yang harus diafalkannya pun dia tidak tau

"Ada-ada saja pertanyaanmu. Aku melihat buku cetak tadi"

"Benar juga, ya, tidak mungkin Jellal afal"

"Memalukan sekali jika memberitau yang sebenarnya. Aku mengafalkan materi perang dunia I jika ada bagian yang Erza lupakan. Kenapa pula hal ini ku tanyakan pada Lucy? Meski tanpa bantuanku pasti dia bisa mengingatnya"

Gumaman hati Jellal membuatnya risau bukan main. Sebagai pelampiasan meremas celana gelisah. Tindakan bodoh memang, hanya merendahkan dan mempermalukan diri sendiri. Erza nampak heran, menilik gerak-gerik si badung yang berbeda jauh dari kepribadian aslinya. Kemana sosok usil nan dingin itu pergi? Kini wajah cuek Jellal digantikan raut kegelisahan, menularkan hal serupa yang ikut dia rasakan walau sekilas. Erza merasa sakit, sangat sakit bahkan….

"Apa yang aku pikirkan, bodoh?! Jellal pasti sengaja melakukannya!"

"Kau tidak akan bisa menipuku, dengan sandiwara murahanmu" celetuk Erza ketus. Jellal yang mendengarnya sebatas tersenyum tipis. Menganggukan kepala pelan bahwa dia mengiyakan perkataan tersebut

Biarlah dipendam, cukup aku yang tau.

-ll-

"Anak-anak. Pergilah ke ruang seni dan bawa peralatan kalian. Seperti perkataan ibu minggu lalu, hari ini kita akan melukis berpasangan untuk menggambar wajah teman. Cepat cari dalam waktu dua menit!" perintah Evergreen-sensei. Guru seni budaya kelas sembilan sekaligus maniak patung. Terbukti karena sejak semester satu dimulai, beliau terus bercerita mengenai koleksi patung di rumahnya

"Lucy. Bagaimana kalau…."

"Maaf Erza. Aku sudah berpasangan dengan Gray" bagus, sekarang siapa yang tersisa?

"Biarkan aku melukis wajah cantikmu, hime-sama" ucap Jellal seraya mengenggam tangan Erza erat. Langsung menjadi pusat perhatian terutama reporter majalah dinding, bagian gosip tentunya

"Bo-bodoh! Apa yang kamu lakukan? Aku bisa jalan sendiri"

"Hanya takut kamu terjatuh, karena terlalu terpesona dengan ketampananku" percaya dirimu kelewat batas! Erza tertawa kecil di kala Jellal justru memuji diri sendiri, lalu menghadiahinya jitakan keras tanpa alasan jelas di akhir moment singkat itu

"Ayo segera mulai. Nanti dimarahi Evergreen-sensei"

Entah apa yang terjadi, tetapi atmosfir di sekitar mereka terasa beda seratus delapan puluh derajat. Pensil runcing milik Erza berkali-kali patah, sewaktu menggambar tampang rupawan Jellal yang mungkin...err….ganteng? 'Tobat, tobat! Kamu sudah termakan gombal murahannya sebanyak tiga kali! Bodoh, dasar bodoh!' umpat Erza dalam hati. Memejamkan mata setiap kali wajah pemuda itu menyelinap masuk membayangi pikirannya.

Lagi-lagi, seringai kemenangan Jellal terukir jelas di bibir kemerahannya.

Pulang sekolah….

"Lama sekali menggambarnya. Aku ingin pulang!" seorang perempuan bersurai scarlet, tengah duduk manis menghadap ke depan, melipat tangan rapi di atas rok abu-abu yang dia kenakan, atas permintaan absurd sang pelukis alias Jellal Fernandes. Kalau bukan si biru laut ini biang keroknya, maka siapa lagi?

"Karenamu aku harus pulang sendiri nanti. Padahal Lucy mengajakku jalan-jalan ke pusat perbelanjaan"

"Dan kamu menyetujuinya, karena ingin mencoba kue stoberi berukuran large diskon lima belas persen"

"Da-darimana kamu mengetahuinya?! Dasar stalker, penguntit!"

"Baiklah. Aku sudah selesai menggambarmu, mau lihat?" tawar Jellal yang ditolak mentah-mentah oleh Erza. Membanting pintu keras untuk memberitau, bahwa dia sangat, sangat kesal

'Kapan-kapan aku harus balas budi', batin Jellal memperhatikan hasil karyanya yang begitu 'maha'. Dia selalu menyukai setiap ekspresi milik Erza, pemalu, sedang marah, tersenyum, hanya satu hal yang dibenci untuk dilihat iris kehitaman itu : kesedihan. Kertas berukuran A4 dikumpulkan bersama tumpukan gambar lainnya. Jellal meninggalkan ruang kesenian, setelah langit berwarna orange terang.

Rencana modus yang berakhir sukses besar.

Bersambung….

A/N : Untuk update Fairy Tail High School dan Sampai Menutup Mata, mungkin author tunda dulu karena mau pergi ke Sukabumi selama tiga hari. Jangan lupa review ya!

Balasan review :

Fic of Delusion : Thx ya udah review. Maksudnya kalau kata Elfman? Jellal emang laki super kan, wkwkw. Semoga suka ya dengan chapter dua-nya.

Titania Princess : Thx ya udah review. Kamu juga semangat ya untuk fic True Love XD

Lady Bloodie : Oke deh, pasti dilanjut sampai tamat. Thx ya udah review.