Chapter 2 : Akashi x Shiroyumi (OC) part 2.

Normal P.O.V

Disebuah gedung tua daerah kota Tokyo bagian Timur

Didalam sebuah ruangan kumuh, terdapat 3 pria umur 43 – an disana termasuk Shiroyumi yang sekarang masih pingsan. Salah satu dari mereka mendekati Shiroyumi.

" Gadis ini manis ya?" orang itu mengelus pipi lembut Shiroyumi yg masih pingsan. Orang – orang didalam ruangan tersebut, langsung menoleh ke sumber suara.

"hentikan Yamori. Bos menyuruh kita untuk tidak menyentuhnya dan menjaganya agar tidak kabur. Kau ingin di bunuh oleh Bos?" ucap seorang (panggil saja Tonori) sambil menghisap rokoknya, mereka semua tertawa karna kebodohan rekannya.

"hei ayolah! Aku hanya menyuarakan pendapatku!" ucapnya kesal. Salah satu dari mereka menghampiri Shiroyumi juga, memandangi tubuh mungil Shiroyumi yg terkesan manis.

"hmm, benar juga sih." Ucapnya. (panggil saja dia Takagi).

"tuh kan?" – ucap Yamori sumringah senang karna ada setuju dengan pendapatnya.

"aku harap si mesin pembunuh itu telat dan kita bisa mencicipinya." – ucapnya kembali, yg lain hanya mengangguk mantap.

"Ukhh.." Shiroyumi terbangun, membuat laki – laki disana menatapnya.

"dia bangun." – ucap yamori.

"hei bagaimana jika kita memperkosanya sekarang?" – ucap Takagi.

"hei, bukankah.." – ucap Tonori trepotong oleh Takagi.

"Ayolah! Kita mencicipinya sebentar." Mereka bertiga saling pandang meyakinkan satu sama lain. Mereka langsung tersenyum dan mengangguk.

"baik! Buka penutup mulut dan matanya!" perintah Takagi seenaknya. Yamori menurutinya, Shiroyumipun menampilkan manik biru lautnya.

"aku dimana?" ucap Shiroyumi. Mereka bertiga hanya bengong, terpesona dengan kecantikan Shiroyumi. Shiroyumi mengeryit alisnya heran, ia menggerakkan tubuhnya tapi tak bisa, ia mencoba mengingat kembali apa yg terjadi dan tak butuh waktu lama ia sudah mengingatnya, wajah Shiroyumi kembali semu. Sedangkan 3 orang didepannya masih diam dan..

"HAHAHAHA!" Yamori tertawa keras, membuat rekannya bingung. Sedangkan Shiroyumi tak mengubris sama sekali.

"Dia memang sangat manis! Aku sudah tak tahan lagi!" Yamori langsung menyerang Shiroyumi, dan mendorong Shiroyumi sampai jatuh dengan bangku yg terikat dengannya, yamori mulai melumat leher Shiroyumi. Rekannya juga ingin mulai tapi bingung dengan sikap Shiroyumi yg hanya diam dan pandangannya kosong saat diperlakukan seperti itu. Yamori juga bingung dan senang karna mangsanya tak memberontak sama sekali..

"heh~ kau sudah pasrah Nona?" tanya Yamori menatap Shiroyumi, Shiroyumi hanya diam. Entah mengapa rekannnya mengurungkan niatnya dan merasakan firasat buruk.

"Hei Yamori, hentikan kegiatanmu. Kita biarkan saja dia." – ucap Takagi, Yamori mengeryitkan heran.

"ada apa dengan kalian? Bukannya kalian ingin mencicipinya juga?" – tanya Yamori tanpa menoleh kearah rekannya. Tanpa disadari Yamori, bos mereka sudah di depan pintu dengan shotgun ditangannya.

"entahlah. Lebih baik kau.." – ucap Tonori gemetar,

"sedang apa kau?" Yamori langsung merinding, Shiroyumi masih diam dengan pandangan kosongnya. Sang bos mengarahkan Shotgunnya kearah yamori dan..

JDARRR! Kepala Yamori musnah, isi otak dan darahnya mengotori lantai dan wajah Shiroyumi. shiroyumi membulatkan matanya, menunjukkan kaget dan ketakutan yg luar biasa, dia mulai shock.

"lepaskan ikatannya sekarang." Perintah bos. Takagi dan Tonori menghampiri Shiroyumi gemetaran dan melepaskan semua ikatan Shiroyumi. bos menghampiri Shiroyumi yg masih tergeletak, menginjak mayat Yamori. Shiroyumi ingin teriak tapi tertahan saat si bos mencekik lehernya sampai tak menapak.

"ukhh!"

"kalian, tinggalkan kami berdua." Perintah Bos, Takagi dan Tonori keluar tanpa mengatakan apa – apa.

"ayo kita mulai."

.

.

.

.

.

.

Duagh! Syat! Beberapa suara pukulan menggema di ruangan itu, tembok juga sudah terlukis oleh darah. Disana Shiroyumi terlihat mengerikan, tangannnya terikat keatas membuatnya menggantung, menjadi samsak tinju oleh sang Bos. Mulutnya mengeluarkan darah, pelipisnya lecet, Tubuhnya sudah di penuhi goresan - goresan mengeluarkan darah.

"Hahahahaha! apa kau menikmatinya gadis jalang!?" sang bos memacut tubuh Shiroyumi membuat goresan baru di betisnya. Shiroyumi hanya diam dan tak merespon membuat sang bos agak bosan. Ia mengeluarkan pisau kecilnya, mendekati Shiroyumi. ia menarik dagu Shiroyumi dengan kasar,

"Kau itu benar – benar membosankan. Kau sama sekali tak berteriak, mengeluarkan suara teriakan – teriakan yg indah untukku." Shiroyumi hanya diam dan menatap pandangan kosong, membuat sang bos marah. Ia melepaskan tangannya yg menarik dagu Shiroyumi, Buagh! Meninju perut Shiroyumi sangat keras sampai Shiroyumi mengeluarkan darah dari mulutnya, Shiroyumi tak sama sekali bergeming atau berteriak, membuat sang bos memukul Shiroyumi berkali – kali, iapun menikam paha Shiroyumi dengan pisau kecilnya mengeluarkan cairan merah segar tapi Shiroyumi tak merespon sama sekali. Tak puas dengan paha, ia menikam lengan atas Shiroyumi, tapi hasilnya juga nihil.

"Berteriaklah berengsek!" teriak sang Bos. Saat ia ingin memukul wajah Shiroyumi, anak buahnya datang.

"Bos! Orang itu datang." Sang bos hanya menggeram kesal, dan mulai mengambil Shootgunnya.

"kepung dia, bunuh lalu penggal kepalanya." Jawabnya sambil menyeringai mengerikan, meninggalkan Shiroyumi yg sudah babak belur. Apa Shiroyumi masih hidup?

.

.

.

Akashi kini sudah sampai di gedung tua yg menyekap Shiroyumi, mengambil Samuranya, mengambil langkah untuk masuk ke Gedung tersebut, berdebu, gelap, pengap, dan kotor itulah yg ia rasakan saat masuk kedalam gedung.

"kalian semua, keluar. Kalian tak bisa bersembunyi dariku!" ucap Akashi. Lalu beberapa orang muncul dari kegelapan. Ada laki – laki dan juga perempuan, terlihat mereka membawa senjata masing – masing, jumlahnya juga banyak tapi itu tak mengubris Akashi.

"kau takkan bisa melewati kami." Ucap salah satu dari mereka. Akashi menyeringai,

"benarkah? Kalau begitu beri aku pertunjukkan yg menarik Dasar Serangga!" mereka semua langsung menyerang Akashi secara bersamaan, akashi mengeluarkan samurainya dan mulai menyayati mereka satu persatu. Menebaskan Samurai sepanjang 1 meternya, menggores setiap kulit dan bahkan ada yg terpotong. Akashi mengamuk? Tentu. Ia menyeringai mengerikan dan menebaskan Samurainya cepat dengan penuh perhitungan, tak peduli laki – laki atau perempuan, tak peduli Tua atau muda, ia hanya perlu menyelesaikannya dengan cepat agar bisa membawa Shiroyumi.

"Di..Dia ini apa!?" ucap salah satu dari mereka.

"Dia Monster!"

"ayo Kabuur!" Duaarrr! Kepalanya pecah, orang – orang yg berniat kabur ia bunuh dengan tembakannya yg selalu jitu. Akashi bukanlah orang bodoh yg tak membawa senjata cadangan/rahasia.

"kalian takkan kabur kemana – mana." Ucap Akashi sinis. Akashi melanjutkan kegiatannya, menghindar dan menebas.

'Bersabarlah Tsuyuki.' Batin Akashi. Akashi menebaskan pedangnya berkali – kali, memperlihatkan organ – organ manusia yg keluar dari tubuhnya masing – masing, membunuh semua yg ada dihadapannya.

"apa ini? Ternyata kalian Cuma besar omongan." Ucap Akashi yg diterangi cahaya rembulan, dari ventilasi tua gedung. Kini bajunya penuh corak darah, wajah tampannya juga terdapat tetesan darah, lantai yg ia pijak kini menjadi genangan darah dengan ratusan mayat yg menhiasinya, samurai terselimuti banyak darah. Akashi menoleh kesampingnya, melihat gadis SMA terduduk yg bergemetar ketakutan.

"ja..jangan..sakiti aku! Ampuni aku!" ucapnya gemetar. Akashi menatapnya sinis, ia menyodorkan samurainya keleher gadis tersebut.

"apa kau tahu dimana Bosmu berada?" tanya Akashi, Gadis itu hanya mengangguk.

"bagus. Sekarang berdiri dan antar aku kesana." Gadis itu berdiri dan mulai berjalan membelakangi Akashi berniat menunjukkan jalan, Akashi mengikuti gadis itu dengan masih menodongkan samurai ke gadis tersebut dari belakang. Sampailah mereka kesebuah ruangan yg lengkap dengan sofanya, di sana terlihat sang bos sedang duduk santai dengan puntung rokok dimulutnya. Zleb! Akashi menusuk gadis itu tepat pada jantungnya, sang bos hanya diam menyaksikan adegan tersebut lalu terkekeh pelan.

"kau benar – benar tak pernah main – main ya?" ucap sang Bos.

"dimana gadis itu?" tanya Akashi langsung to the point.

"hei santai saja, dia masih hidup kok." Jawab Sang Bos.

"aku tak punya banyak waktu." Akashi menyerangnya, mengayunkan pedangnya kearah Sang Bos. Pria tua itu menhindarinya, dan mulai menembakkan shootgunnya berkali – kali ke arah Akashi tapi hasilnya nihil, sama sekali tak mengenai Akashi.

'Sial! Ia cepat sekali!' batinnya panik. Zlleebb! Terlambat menghindar, pundak Bos itu tertusuk samurai Akashi.

"dimana dia?" tanya Akashi, sang bos gemetar, ia menunjuk ke arah ruangan.

"jawab yg jujur." Perintah akashi.

"dia memang ada disana! Mo..mohon A..ampuni aku! Biarkan aku hidup!" ucap sang bos. Mereka berdua hening, Akashi menatapnya, membuat yg ditatap ketakutan.

"kau tahu? Gadis tadi juga memohon sepertimu. Jadi kau tahu jawabannyakan?" akashi melepaskan samurainya dan menusuknya kembali ke kepala sang bos.

"butuh seratus tahun kalian bisa mengalahkanku." Akashi melepaskan pedangnya, melangkahkan kakinya kearah ruangan yg mengikat Shiroyumi. akashi membulatkan matanya, badannya bergemetar melihat pemandangan yg mengerikan.

"TSUYUKI!" akashi menjatuhkan samurainya dan berlari mendekati Shiroyumi yg menggantung, melepaskan semua ikatan yg mengikat Shiroyumi. memeluk tubuh Shiroyumi yg dipenuhi luka.

"Tsuyuki! Tsuyuki! Tsuyuki! Bangun!" Akashi panik, urat nadinya melemah, ia mengguncangkan tubuh Shiroyumi, tak ada respon. Mata Akashi mulai mengeluarkan air matanya, ia menangis, Ia takut Shiroyumi mati, ia tak mau Shiroyumi mati, ia tak ingin kehilangan wanita yg selalu memberikan senyumannya setiap waktu, ia tak ingin kehilangan wanita yg sangat ia sayangi lagi, seperti ibunya.

"Tsuyuki, kumohon bangunlah! Aku mohon. Maafkan aku, kumohon bangunlah" Akashi memeluk tubuh Shiroyumi. berharap Shiroyumi membuka matanya dan memanggil namanya. Kini ia menyesal dengan apa yg ia ucapkan 1 minggu yg lalu, seharusnya ia juga mengucapkan kata hatinya bukan kata – kata yg menyakitkan, lalu melindungi Shiroyumi dan selalu disisinya, menemaninya.

"aku..mohon..maafkan aku.." lirih Akashi, ia tak tahu lagi apa yg harus ia lakukan, ia hanya memeluk Shiroyumi dan berharap semua ini hanya mimpi.

"a..kashi..-kun.." Akashi membelakkan matanya, ia langsung menatap wajah Shiroyumi. Mata mereka saling bertatap, Shiroyumi mengelus pipi Akashi, akashi mengenggam tangan yg mengelus pipinya.

"a.. pa ini..kau..Aka..shi – kun?" tanya Shiroyumi lemah. Akashi mengangguk dan tersenyum lembut, Gyuut! Shiroyumi memeluk erat Akashi tak memperdulikan lukanya, Akashi membalasnya.

"maafkan aku Tsuyuki. Aku benar – benar bodoh, waktu itu aku juga sangat merindukanmu dan malah menyakitimu. Maafkan aku Tsuyuki, aku juga mencintaimu, sangat." Shiroyumi mulai menangis, Akashi memeluknya erat, menenggelamkan wajah Shiroyumi ke dada bidangnya..

"Bodoh!" ucap Shiroyumi, Shiroyumi mulai menangis keras dalam dekapan Akashi, menangis sepuasnya di dada bidang Akashi.

"menangislah sepuasnya Tsuyuki." mulai malam ini Akashi Seijuuro, berjanji dalam hidupnya untuk selalu disamping Tsuyuki

.

.

.

.

.

Akashi P.O.V

Malamku ini sama seperti malamku kemarin, genangan darah, mayat, organ dalam dan samurai. Aku mengambil handphone disakuku, mengetik sebuah pesan ke pusat markasku.

From : Momoi

Aku sudah selesai.

Aku mengirim pesan singkat itu sambil melangkahkan kakiku pergi dari pabrik tua itu yg sebelumnya sudah ku pasang bom waktu. Aku melihat satu sms dari seseorang.

To : Tsuyuki

Sei – kun, kau sudah selesai?

Aku tersenyum, perhatian sekali dia. Aku membalas pesannya.

From : Tsuyuki

Iya, aku sudah selesai. Ada apa?

Handhoneku bergetar lagi, tertera panggilan dari markasku.

"Mosh.."

~AKASHI KAU SERIUS!? ngingggg... telingaku berdenging.

"kenapa kau berteriak hah!?" bentakku

~hehehehe..Akashi – kun Gomen ne, habisnya kau..

"apa? Yg penting aku sudah membereskan semuanya, jadi jangan telepon jika tak penting." PIIP! Aku langsung memutuskan panggilan dan menatap layar kembali. Ada satu pesan dari Tsuyuki.

From : Tsuyuki

Tidak kok! :D

Balasnya singkat sekali, aku membalas pesannya sambil melangkah ke mobil dan mengganti baju yg kotor dengan baju yg bersih. Setelah selesai, aku menghidupkan mobilku, melaju meninggalkan pabrik tua itu.

To : Tsuyuki

Aku mencintaimu..

Balasku..DUAARRR! Suara ledakan terdengar dari pabrik, kalian pasti tahu..

From : Tsuyuki

Aku juga

Terlalu singkat. Aku mengeryit heran, kenapa ia jadi agak...cuek? aku mencari kontaknya dan menelponnya, menunggu dia mengangkatnya..

~Moshi – moshi

"Tsuyuki. Kau kenapa?" tanyaku langsung to the point.

~apanya? tanyanya

"pesanmu singkat sekali dari biasanya." Ucapku singkat. Kenapa aku jadi berlebihan seperti ini? Masalah seperti ini bukan hal yg patut dipermasalahkan..bukan?

~ano..Sei – kun, apa kau lupa kalau aku..

"apa?" jawabku tenang, aku menunggu kata berikutnya

~cedera..?

1

.

.

2

.

.

3

.

.

baiklah sejak kapan seorang Akashi menjadi pikun seperti ini?! Aku sangat malu! Aku lupa jika lengan Tsuyuki sedang terluka, Jika ayah menyadap handphoneku dan mendengar percakapanku, ia pasti tertawa bahak – bahak.

~Sei – kun?

"ah iya! Aku akan segera kesana! Dagh!" aku langsung menutup telponnya cepat dan langsung melaju ke apartemenku. Yah perlu kalian ketahui, semenjak kejadian mengerikan itu, aku dan Tsuyuki menjalin hubungan sebagai pasangan kekashi dan aku juga memaksa Tsuyuki untuk tinggal bersamaku dengan alasan keselamatannya, bahkan Tsuyuki sama sekali belum keluar dari appartemenku semenjak itu karena aku memang tak memperbolehkannya. Pengobatannya? Aku meminta Midorima untuk mengobatinya. Pekerjaan gelapku? Ia sudah tahu. Awalnya, ia memang tak bisa menerimanya tapi aku berusaha meyakinkannya dan akhirnya ia menyetujuinya. Aku menggenggam saku kananku, menggenggam sesuatu yg kecil, tapi bisa mengubah segalanya. Jantungku berdetak lebih kencang, terlalu senang dan takut, tunggu sejak kapan seorang Akashi menjadi penakut seperti ini?

Tanpa kusadari, aku sudah sampai di depan gedung Apartemen tempatku, Luas dan bergaya modern. Aku melangkahkan kaki ke lift dan menuju lantai 14, lantai dimana apartemenku berada. Aku menunggu dalam keheningan, menggenggam erat sakuku.

TING! Aku sudah berada dilantai 14, aku melangkahkan kakiku dengan tenang dan berjalan tegas, membuat beberapa perempuan yg berhalulalang di lorong itu menatapku dengan wajah merahnya, tapi aku tak peduli.

TING! TONG! Aku memencet tombol bel pintuku, menunggu ada yg membukanya dari dalam.

"iya! Tunggu sebentar!" Cklek! Pintunya tak lama terbuka, menampakkan seorang perempuan bersurai hitam yg sangat kucintai, Tsuyuki.

"Ah! Sei – kun!" sapanya ceria. Aku membalasnya dengan senyuman lembut yg hanya biasa kuberikan kepada Tsuyuki seorang.

"Tadaima.." ucapku, aku melihat penampilannya memakai rok hitam panjang dan apron abu – abu. Apa dia sedang memasak?

"Okaerinasai.." balasnya dengan suara khasnya, ia mempersilahkanku masuk dan aku masuk kedalamnya.

"Sei – kun lebih baik kau mandi, aku sudah menyiapkan air panas untuk kau mandi! Setelah itu, kita makan malam." Ucapnya.

"kau belum makan? Inikan sudah jam 9 malam, Kenapa kau belum makan?" tanyaku, aku tak mau ia sakit karena maag.

"hehehe..karena aku ingin makan bersama Sei – kun." Aigh, Manisnya. Aku merangkulnya dan membimbing wajahnya kearahku, aku melumat pelan bibr mungilnya yg manis itu, tangan mungilnya berusaha medorongku tapi sepertinya sia – sia. Aku melepaskan ciumanku, menatap wajahnya yg sudah merah dan berkeringat, sangat terkesan imut menurutku.

"Se..Sei – kun jangan menciumku tiba – tiba ah!" omelnya, aku hanya tertawa kecil melihat wajah kesalnya yg lucu dan menggemaskan.

"lebih baik makan dulu, aku lapar." Ucapku sambil mengecup pipi kenyalnya, ia hanya tersenyum. Apa ia sudah tak marah lagi terhadapku? Sudahlah tak usah kupikirkan. Ia menuju kedapur dan menata makanannya lalu kami makan bersama. Setelah itu aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan badan..

Beberapa menit kemudian..

Aku berjalan keluar kamar menuju ruang makan dengan handuk yg mengantung dikepalaku, mengusap kepalaku untuk mengeringkan rambutku yg basah. Aku melihat Tsuyuki sedang mencuci piringnya, aku tersenyum, ini seperti pasangan suami istri ya? Aku melangkahkan kakiku mendekatinya.

"Ah Sei – kun! Kau sudah - ..Kyaaa! Sei – kun! Kenapa kau tak pakai baju!?" ucapnya sambil menutup wajahnya. Aku mengeryit heran, aku tak telanjang bulat, aku memakai celana panjang putih dan tak memakai baju atasan sih. Tapi apa masalahnya?

"apa maksudmu Tsuyuki?" tanyaku heran sambil mendekatinya

"Apanya yg apa! Cepat pakai bajumu!" perintahnya sambil membelakangiku.

"tidak. Rambutku masih basah, nanti bajuku juga ikutan basah." Jawabku

"pokoknya pakai baju dulu! Jika Sei – kun tak memakai baju, aku takkan menoleh kearahmu!" aku hanya sweatdrop, Tanpa sengaja aku melihat wajahnya yg sudah memerah. Heh~ sangat imut, aku menyeringai dan mendekatinya yg masih membelakangiku

"Benarkah Tsuyuki?" tanyaku. Ia masih membelakangiku dan aku semakin dekat

"Ten..tentu saja!" jawabnya gugup, aku kini tepat dibelakangnya, aku masih melihat ia masih menutup wajahnya. Aku memeluknya dari belakang, meraih pinggang kecilnya, merengkuh pundaknya, dada polosku bersentuhan dengan punggungnya. Aku menenggelamkan kepalaku ke perpotongan lehernya, mengecup pelan dan menjilatinya, ia mengeluhkan namaku dan menyuruhku untuk berhenti tapi aku tak memperdulikan itu, aku malah menghujaninya kecupan dan tanda merah dilehernya, bukti bahwa ia adalah milikku, ia meremas lenganku dan mendesahkan namaku yg membuatku semakin jadi bernafsu. Aku menangkapnya dari belakang saat ia kehilangan keseimbangan, aku melanjutkan kegiatanku dan memeluknya semakin erat.

"aku mencintaimu Tsuyuki. Menikahlah denganku." Ucapku dengan kepalaku masih tenggelam dalam lehenya. Ia tak bergeming,

"Se..Sei – kun?" tanyanya bingung

"menikahlah denganku Tsuyuki." Aku mengeratkan pelukanku. Aku bisa merasakan jika ia sedang melepaskan tanganku dari pinggangnya. Aku melepaskan pelukannya, ia membalikkan tubuhnya kearahku, menjadi berhadapan, ia menatap manik crimsonku, akupun juga menatap manik oceannya, tangannya mulai mengelus pipi dan rahangku.

"aku ingin menikah denganmu. Tapi bukankah terlalu cepat?" tanya sambil mengantungkan tangannya keleherku, aku meraih pinggangnya.

"kalau begitu, ayo kita bertunangan Tsuyuki." Ucapku, ia hanya tersenyum dan mengecupku sekilas.

"Ayo!" jawabnya. Aku tersenyum lebar, tanpa sadar aku menarik pinggangnya dan mulai menghujaninya ciuman di bibirnya, lalu masuk kedalam mulutnya mengabsen setiap gigi disana. Aku menggendong tubuh Tsuyuki ke kamar, malam ini akan kubuat ia mendesah namaku berkali – kali, aku mulai menjamah tubuhnya memberikan kecupan – kecupan merah di setiap tubuhnya. Akupun menjamah tubuhnya sampai ke permainan inti.

Kini kami telanjang bulat, nafas kami tersenggal – senggal karena ciuman panas yg kami lakukan.

"Tsuyuki, kau sudah siap?" tanyaku lembut sambil menyisir poninya kesamping, ia mengangguk lemah. Aku pun berada diatasnya, mengarahkan punyaku kearah kewanitaannya yg sudah basah. Aku memulai proses penyatuan, Ia mencengkram spray kasur dengan kuat.

"tahan, ini akan terasa sakit." Ucapku menenangkannya. Sleeb! Aku langsung memasukinya membuat tsuyuki berteriak menandakan bahwa ia mengalami kesakitan yg luar biasa, sedangkan aku mendapatkan kenikmatan yg luar biasa. bisa kurasakan jika miliknya mencengkramku dengan kuat. aku menenangkannya dengan meremas dadanya dan mengecup bibirnya. Aku bisa merasakan ada cairan yg mengalir, itu darah keperawanannya. Pasti sakit sekali ya? Aku diam, menunggu Tsuyuki menjadi lebih tenang.

"Se..Sei – kun bergeraklah." Ucapnya.

"sesuai keinginanmu my lady." Aku mulai menggerakkannya perlahan, membuat Tsuyuki terbiasa dengan punyaku. Lama kelamaan kecepatanku bertambah, ia mendesah namaku membuatku menjadi bergairah, menghunjamnya berkali – kali sampai ia klimaks berkali – kali dan akhirnya akupun juga klimaks, mengeluarkanya di dalam Tsuyuki. Malam ini, adalah malam yg berbeda dari biasanya, malam ini adalah malam yg bersejarah untuk hidupku, aku dan wanita yg kusayangi sudah saling memiliki satu sama lain. Aku menatapnya sejenak, ia sudah tertidur pulas. Aku mengecup keningnya dan merengkuhnya kedalam pelukanku.

"aku mencintaimu Tsuyuki." Aku menyelimuti tubuhku dan tubuhnya yg tanpa sehelai benangpun yg menempel di tubuh kami berdua dan diriku mulai menutup mata untuk melepas lelah.

.

.

.

.

.

Shiroyumi P.O.V

Aku membuka mataku perlahan, apa kau tahu apa yg kulihat pertama kali? Mata Crimson yg indah menatapku lembut.

"Ohayo, Tsuyuki." Sapanya, aku mengumpulkan kesadaranku.

"Sei – kun.." aku memanggil namanya, ia menarik pinggangku dan memberikan morning kiss terhadapku. Ia tersenyum kembali, wajahnya sangat dekat denganku, aku bisa merasakan hembusan nafasku menerpa wajahku. Aku mencoba untuk bangun, tapi daerah kewanitaanku terasa sakit sekali. Sei – kun juga membantu untuk duduk.

"Pelan – pelan." Ucapnya, ia merangkul pundakku. Ah~ aku mengingatnya, tadi malam kami – kan bercinta. Kami berdua hening, walaupun kami berdua sudah bangun dan sudah sadar sepenuhnya.

"Tsuyuki." Sei – kun memanggilku.

"ada apa?" ucapku. Ia mendekatkan bibirnya ketelingaku, membisikkan sesuatu.

"Tsuyuki. Aku ingin mengulang yg tadi malam sekarang." Sontak wajahku langsung memerah.

"Tunggu! Kau ingin melakukannya lagi?" tanyaku Shock. Ia mengangguk pelan, dan mulai berada di atasku.

"Ittadakimasu.." ucapnya, iapun melakukan hal yg sama seperti tadi malam. Hah~ sepertinya ini akan menjadi pagi hari yang panjang..

(Akashi x Shiroyumi) END

.

.

.

.

.

Mind to Reviews?

Author Side.

Wah..terimakasih banyak telah membaca fanfic matsu dan yg mengajari Matsu mempublish cerita, matsu begitu senang karna Matsu kira nggak akan ada yg baca TvT..silahkan dinikmati ceritanya.