Halo.. Sesuai janji, aku bawa lanjutannya malam ini.. Hm.. Spesial buat Lee Sunmiina deh.. Karena tadi udah ingetin aku, yang katanya udah sakau gara-gara kehabisan stok Kyumin Mpreg. Enjoy ya..

~*Rn*~

We are different..

Our love story is not same as others..

Believe me, we are in a journey to the happiness.

~*Rn*~

"Ya Tuhan.. Kenapa ini harus terjadi.." seorang namja yang tengah memegang sehelai kertas itu meremas rambutnya frustasi. Dia sudah hampir menangis, namun dia sadar kalau dia adalah lelaki. Ya, lelaki itu tidak boleh menangis kan? Tidak boleh.

"Padahal hanya sekali.. Lagipula, dia itu laki-laki! Selama ini aku selalu menahan agar tidak sampai terjadi pembuahan, tapi karena sekali itu saja.. Arrgghh..." dia menjambak rambutnya lebih kencang, pertanda dia sedang dalam masalah yang sangat pelik. "Ya Tuhan.. Bagaimana ini? Bagaimana dengannya?"

Hal inilah yang ditakutkan Kyuhyun selama ini. Sebagai dokter pribadi bagi Sungmin, Kyuhyun tahu kalau ternyata Sungmin adalah satu dari sedikit laki-laki yang memiliki rahim. Namun, tidak seperti wanita kebanyakan, setiap bulannya dinding rahimnya tidak menebal, dan tidak meluruh. Dengan kata lain, tidak terjadi menstruasi. Sungmin hanya memiliki satu sel telur saja.

Sejujurnya, Kyuhyun tidak tau apakah sel telur milik Sungmin bisa dibuahi atau tidak. Selama ini, saat Kyuhyun memaksa Sungmin bercinta, dia tidak pernah cum-in. Dengan kata lain, dia tidak pernah membiarkan spermanya keluar di dalam tubuh Sungmin. Dan kejadian waktu itu adalah pertama kalinya dia menebar benihnya di dalam Sungmin. Siapa sangka sel telur tunggal milik Sungmin dapat dibuahi semudah itu?

Inilah hasil dari kecerobohan Kyuhyun. Mentang-mentang Sungmin sudah merelakan tubuhnya, dia seenaknya untuk cum di dalam Sungmin tanpa memikirkan resiko apa yang terjadi. Sepertinya saat itu Kyuhyun lupa bahwa semua hal memiliki kemungkinan, sekecil apapun itu. Dan seorang laki-laki hamil, ternyata juga mungkin.

Kenyataan itu akan semakin meyakiti Sungmin. Bukan menyakiti rohaninya, tapi jasmaninya. Kyuhyun merasa semakin bodoh saja. Bukannya mengurangi penderitaan Sungmin, dia malah menambahnya. Tidak cukupkah penderitaan fisik dan psikis yang selama ini Sungmin alami?

Dari awal Kyuhyun menangani Sungmin, tepatnya dua tahun yang lalu, Kyuhyun selalu berusaha mencari tau latar belakang Sungmin. Bukan bermaksud untuk mencampuri urusan pribadinya, melainkan karena sejak pertama kali Kyuhyun melihat Sungmin, Kyuhyun menemukan alasan kenapa dia tetap bertahan pada profesi dokternya. Sejak pertama kali dia melihat Sungmin, Kyuhyun memiliki tekad untuk menyembuhkan pria itu. Kenapa? Love at first sight, begitulah kira-kira.

Bukan karena kasihan, melainkan Kyuhyun memang benar-benar baru merasakan apa yang namanya rasa takut. Takut untuk kehilangan. Yah, meskipun apa yang telah dilalui Sungmin memang selalu akan membuat orang yang mendengarnya kasihan, namun Kyuhyun tidak begitu.

Bagaimana tidak. Sungmin dibuang orangtuanya sejak kecil, dan dititipkan di panti asuhan. Kenapa dia dibuang? Kabarnya karena dia terlahir dari hubungan gelap. Anak haram, begitulah kasarnya. Dia hidup di panti asuhan sampai berusia delapan belas tahun. Setelah dia tamat dari sekolah menengah, dia memutuskan keluar dari panti dan mencari kehidupan sendiri.

Sungmin sempat bekerja sebagai pelayan di restoran, kasir, bahkan bartender. Mungkin karena kehidupan Sungmin yang menyedihkan itu, dari kecil dia tidak sempat memikirkan tentang apa itu pemenuhan gizi. Sampai suatu hari di musim dingin tiga tahun yang lalu, karena banyak keganjilan dan rasa sakit yang dia rasakan pada tubuhnya, Sungmin memeriksakan dirinya ke Rumah Sakit. Dan seolah penderitaannya saat itu belum cukup, dia divonis mengidap Leukimia stadium dua.

Awalnya Sungmin tidak terlalu ambil pusing dengan penyakitnya. Toh, baru stadium dua. Dia terus bekerja seperti hari-hari sebelumnya, bahkan lebih giat. Dan dalam waktu setahun saja, Leukimianya sudah berkembang jadi stadium empat.

Sejak saat itu dia tidak bisa bekerja banyak lagi. Dia hanya mengobati penyakitnya sekedarnya saja. Seperti dengan transfusi darah merah dan platelet, atau pengobatan dengan tablet. Baru di tahun berikutnya, kondisinya memburuk dan harus dirawat di Rumah Sakit dalam waktu yang lama.

Dengan kondisi keuangannya yang serba pas-pasan, Sungmin tidak banyak memiliki tabungan untuk membiayai pengobatan. Untunglah teman-temannya serta ibu panti asuhan yang ditempatinya dulu menyayanginya, jadi mereka ikut membantu.

Karena lagi-lagi masalah biaya, hampir saja semua pengobatan Sungmin terhenti. Alat-alat yang menopang kehidupannya hampir saja dicabut. Di saat itulah Kyuhyun, seorang dokter lulusan terbaik dari Universitas Seoul yang kaya raya, datang dengan segala keajaiban yang dia bawa untuk Sungmin.

Saat pertama kali melihat Sungmin, dia jatuh cinta. Dia bersedia menanggung semua biaya pengobatan Sungmin, bahkan dia sendiri yang akan menangani Sungmin. Dia juga membawa Sungmin ke rumahnya agar bisa mengawasi Sungmin 24 jam dalam sehari. Dan mulai saat itu, kehidupan Sungmin di bawah aturan Kyuhyun dimulai.

Kondisi Sungmin memang selalu naik turun. Mungkin karena merasa dia hanya sebatang kara di dunia ini, Sungmin berpikir bahwa hidupnya tidak pantas untuk diperjuangkan. Memang, dia menjalani pengobatan dari Kyuhyun, namun kemauannya untuk sembuh sangatlah kecil. Karena itulah selama Kyuhyun merawatnya, dia tidak menunjukkan perkembangan yang berarti.

Miris bukan? Kyuhyun saja hampir meneteskan airmata saat dia mendengar cerita ini dari dokter yang menangani Sungmin sebelumnya. Dan saat ini, kondisinya yang parah itu masih harus ditambah dengan derita yang akan dibawa oleh anak yang ada dalam kandungannya.

Kyuhyun melirik lagi benda yang ada di tangannya. Dia lalu merasakan badannya melemas karena depresi, lalu merebahkan kepalanya di atas meja kerjanya. Ruangan itu remang-remang, hanya lampu di meja kerja saja yang menjadi penerang dalam kegelapan itu membuat cat ruangan yang berwarna krem itu tidak jelas terlihat. Dia meremas kertas yang ada di dalam genggamannya.

"Kenapa aku sebodoh ini! Aku bodoh! Sungmin hamil sekarang, itu karena kebodohanku! Arrgghh..."

Duk.

Duk.

Dia membenturkan kepalanya ke meja kerjanya yang terbuat dari kayu itu. Benda-benda yang ada di atas meja seperti laptop, figura foto, hiasan meja, dan vas bunga ikut bergetar. Tak henti-hentinya dia berharap kalau dengan seperti itu, tulisan POSITIF yang tertera pada kertas yang dia remas tadi secara ajaib akan berubah jadi NEGATIF.

"Sungmin-ah.. Maafkan aku.." dia memejamkan matanya, menghindari kalau-kalau airmata yang sedari tadi dia tahan akan meluncur begitu saja. Lama, dia terhanyut dengan pikirannya sendiri, sampai akhirnya dia tertidur.

Krieett..

Perlahan pintu ruangan kerja itu terbuka. Sesosok pria berbadan mungil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Remang-remang. Yang terlihat hanya sofa dengan susunan setengah lingkaran di belahan kiri, dan meja kerja Kyuhyun yang cukup besar di bagian kanan. Meja kerja Kyuhyun itu menghadap ke bagian cekung susunan sofa. Di sebelah kanan meja terdapat rak buku yang cukup tinggi dan berisi buku yang tebal-tebal.

Sungmin masuk ke dalamnya dengan gerakan berjingkat, karena takut mengganggu orang yang punya ruangan. Dia menengok ke arah meja kerja Kyuhyun dan mendapatinya tengah tertidur dengan berbantalkan kedua lengannya yang dilipat di atas meja.

Sungmin segera menghampiri orang yang dicintainya itu, sebisa mungkin tidak membuat sedikitpun suara. Dia berdiri di seberang Kyuhyun, dipisahkan oleh meja yang yang cukup besar. Dia membelai rambut Kyuhyun dengan sayang, lalu tersenyum.

"Kau lelah ya.." dalam hatinya, dia sangat berterima kasih pada Kyuhun, karena seolah-olah dia memiliki semangat hidup yang baru. Ya. Cinta Kyuhyun yang membuatnya bertahan, berperang dengan segala rasa sakit yang harus dia derita.

Kyuhyun bahkan tidak pernah sama sekali mengeluh atas kondisi Sungmin. Dia tidak pernah mengeluh saat menemani Sungmin yang tidak bisa tidur semalaman suntuk karena menahan sakit. Jika Sungmin terjaga, maka dia juga. Bahkan saat Sungmin tertidur pun dia tetap terjaga, waspada bila suatu waktu Sungmin membutuhkan sesuatu.

Sungmin mengecup puncak kepala Kyuhyun. Saat ini dia bahagia. Ya, tidak pernah sebahagia ini. Menyadari bahwa Kyuhyun mencintainya, dan seperti yang dikatakan Kyuhyun, dia tidak mencintai Sungmin hanya semata-mata untuk kepuasan dirinya, namun karena ketulusan dan keinginannya untuk menjaga Sungmin.

Sosok yang sedang tertidur itu sangatlah tampan. Kulit putih agak pucat, mata sipit yang maniknya berwarna hitam pekat, hidung mancung, bibir merah yang agak tebal dan dagu yang tajam. Suaranya pun sangat merdu, terdengar bagaikan sesuatu yang bisa menghilangkan rasa sakit Sungmin meskipun sebentar. Sungmin menggilai Kyuhyun, begitulah cerita kasarnya.

Sungmin lalu menyadari bahwa ada sesuatu yang tengah digenggam Kyuhyun. Kertas. Secarik kertas. Sungmin mengambil kertas yang telah berbentuk bola itu, lalu membuka dan sedikit merapikannya. Dia berusaha membaca tulisan yang ada di kertas kusut itu.

Dia agak terkejut saat membaca namanya tertera di sana. Dia membaca kertas itu sampai ke paragraf yang paling bawah. Perlahan, senyum merekah di bibir tipisnya. Meskipun airmata juga ikut turun membasahi pipinya, namun dia tahu kalau itu adalah efek dari rasa bahagia yang tengah melanda hatinya.

Dia membaca kertas itu berulang-ulang, tepat di bagian yang tercetak tebal dengan huruf kapital. POSITIF. Entah kenapa saat ini sepertinya itu menjadi kata-kata favorit Sungmin. Positif, dia hamil. Benar-benar hamil. Anak Kyuhyun, anak orang yang dia cintai. Sedikitpun dalam hidupnya dia tidak pernah berpikir dia akan hamil. Bagaimanapun dia adalah laki-laki. Tidak ada yang bisa membuatnya lebih bahagia daripada ini.

Sungmin terisak pelan. Entah kenapa, padahal dia bahagia, namun yang keluar adalah isakan. Saking bahagianya sampai dia tidak bisa menghentikan isakannya. Dia tidak peduli lagi apakah Kyuhyun akan terbangun karenanya.

Benar saja, perlahan Kyuhyun membuka matanya. Dia mendengar isakan Sungmin, dan secara reflek dia menegakkan kepalanya. Dia terkejut saat melihat Sungmin menangis, namun lebih terkejut lagi saat menyadari kertas apa yang sedang ada dalam genggaman Sungmin sekarang.

Kyuhyun segera menghampiri Sungmin, lalu merangkul bahu namja yang lebih pendek darinya itu. Sungmin mengalihkan tatapannya dari kertas itu ke wajah Kyuhyun. Wajah Sungmin sarat dengan kebahagiaan, walaupun airmata terus saja mengalir dari kedua mata kelincinya.

"Kyu.. Aku.. Aku.." Sungmin belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat Kyuhyun langsung menariknya ke dalam sebuah pelukan yang erat. Sungmin membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya di dada bidang kekasihnya.

"Aku hamil, Kyu.. Aku.." Kyuhyun membelai punggung Sungmin. Kyuhyun semakin mengutuk dirinya sendiri, karena kebodohannya, hal yang seharusnya dia sembunyikan dari Sungmin akhirnya ketahuan langsung oleh objeknya.

Kyuhyun semakin frustasi. Kalau Sungmin tidak tau akan kehamilannya, dengan mudah Kyuhyun bisa melakukan operasi untuk mengangkat janin yang ada di perut Sungmin. Tapi dengan kenyataan bahwa Sungmin tau kehamilannya? Hal itu mustahil, bahkan hanya untuk sekedar diucapkan.

"Aku senang sekali, Kyu.. Aku laki-laki, dan aku hamil anakmu.. Tidakkah kau pikir kita ini berbeda? Ini anak kita.. Anak kita, Kyu.." Kyuhyun hanya bisa diam atas segala kebahagiaan sementara yang dirasakan kekasihnya itu. Ini kesalahan. Kesalahan fatal. Bagaimana mungkin Kyuhyun juga bahagia menyadari bahwa Sungmin hamil anaknya, sedangkan kondisi Sungmin sangat sangat lemah.

"Kyu.. Katakan sesuatu.." kata Sungmin yang masih dalam pelukan Kyuhyun. Kyuhyun menghela napas berat, lalu memejamkan mata dan menengadahkan kepalanya.

Apa yang harus dia katakan? Mengatakan kalau dia berniat untuk menggugurkan kandungan Sungmin? Atau berbohong kalau dia juga senang atas kehadiran anak itu? Ah.. Ingin rasanya Kyuhyun membenturkan kepalanya ke tembok agar rasa menyesal atas kebodohannya berganti dengan rasa sakit tiada tara yang bisa membunuhnya dengan cepat.

"Sudah malam, Min.. Ayo tidur.." ajak Kyuhyun, berusaha mengalihkan pembicaraan. Tapi Sungmin tidak semudah itu dikelabui. Dia merasakan gelagat aneh dari Kyuhyun.

"Kenapa, Kyu?" Sungmin melepaskan pelukannya dan menatap Kyuhyun dengan tatapan menyelidik.

"Tidak kenapa-kenapa. Ayo, Min.." Kyuhyun akan menarik tangan Sungmin, namun Sungmin menolak. Dia menarik tangannya lagi dari genggaman Kyuhyun. Dia sepertinya kesal, tidak terima.

"Kenapa, Kyu? Kau tidak senang?" tanya Sungmin. Kyuhyun hanya menundukkan pandangannya, tidak ingin menatap Sungmin.

"Kyu, jawab aku! Kau tidak suka dengan bayi ini? Katakan!" Sungmin mulai merasa ganjil dengan perlakuan Kyuhyun. Dia tidak suka dengan tindakan Kyuhyun seolah-olah tidak peduli dengan anak yang sedang ada dalam perutnya.

"Kita bicarakan ini besok, Min.. Sekarang kau harus istirahat.. Kau tidak boleh terlalu lelah, kau melakukan banyak hal hari ini.."

Tangis Sungmin pecah. Dia tidak terima dengan perlakuan Kyuhyun. Yang ada dalam perutnya adalah anak Kyuhyun. Bagaimana bisa Kyuhyun menunjukkan perilaku yang seperti itu? Seperti tidak menerima anaknya. Dan Sungmin benci itu.

"Kau menyakitiku, Kyu.. Kau harus tau kalau perlakuanmu itu menyakitiku! Aku benci itu, Kyu! Aku benci!" Sungmin menutup wajahnya dengan kedua tangan. Perlahan dia merosot ke lantai dan menangis terisak-isak. Dia tidak mengerti kenapa Kyuhyun tidak menginginkan anak itu. Padahal Sungmin malah sebaliknya.

Kyuhyun berjongkok di dekat Sungmin lalu berusaha menarik Sungmin ke dalam pelukannya lagi. Dengan sigap, Sungmin menolak. Dia menepis tangan Kyuhyun dengan kasar.

"Min, aku punya alasan untuk ini.. Min, dengarkan aku.." Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah-olah mencegah Kyuhyun mengucapkan kalimat yang sudah dia beri prolognya.

"Min.." Kyuhyun tetap memanggil nama itu walaupun Sungmin bersikeras untuk tidak mendengarkannya.

Sungmin tiba-tiba merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya. Dia langsung mengusapnya dengan tangan, dan agak kaget melihat warna merah menyala di jarinya. Dalam sekejap, vertigo menyerang Sungmin. Pandangannya berputar, membuatnya merasa mual.

Kyuhyun yang melihat hal itu segera mengangkat dagu Sungmin sehingga kepalanya menengadah, agar darah dari hidungnya berhenti. Sungmin tidak menolak, mengizinkan Kyuhyun membantunya. Setidaknya untuk menghilangkan vertigonya saja.

"Kyu~.. Aku pusing.." adu Sungmin. Kyuhyun segera membopong tubuh Sungmin ke kamarnya, karena semua peralatan medis Kyuhyun ada di kamar itu.

Sungmin melingkarkan tangannya ke leher Kyuhyun, merasakan pusing di kepalanya semakin menjadi-jadi. Dadanya mulai terasa tercekat, jalan napasnya tersumbat.

"Kyuh~ Kepalaku.. Ah.. Kyu.." Setibanya di dalam kamarnya, Kyuhyun langsung membaringkan Sungmin di tempat tidur, lalu membersihkan darah dari hidungnya. Sungmin sudah menutup matanya meski dia masih meringis menahan sakit.

Dengan segera Kyuhyun menyuntikkan painkiller ke lengan Sungmin, setidaknya dia harus membuat Sungmin tertidur agar dia tidak bertanya lagi apakah Kyuhyun menerima anak itu atau tidak. Dalam hitungan menit saja, Sungmin tertidur. Kyuhyun juga menidurkan kepalanya di samping Sungmin.

Kyuhyun sudah terbiasa dengan hal ini, tapi tetap saja kekhawatiran selalu menyerangnya. Penderita leukimia memang sering seperti itu. Tiba-tiba mengalami pendarahan karena jumlah sel darah putih yang berlebihan dapat menyebabkan platelet yang berfungsi untuk membekukan darah tidak bekerja, susah bernapas seperti asma karena sel darah merah untuk mengikat oksigen jumlahnya sedikit, dan banyak kejadian-kejadian mengkhawatirkan lainnya.

"Maaf, Min.. Ini berbahaya untukmu.. Sangat berbahaya.." kata Kyuhyun sambil memandang sedih ke arah Sungmin. Dia mengecup kelopak mata kanan Sungmin, lalu kelopak mata kirinya. Ritual yang selalu dia lakukan untuk mengantarkan Sungmin ke alam mimpi.

"Jaljayo, Min.. Aku mencintaimu.." Kyuhyun mendekatkan kepalanya ke kepala Sungmin, dan tidak lama kemudian menyusul Sungmin ke alam mimpi.

~*Rn*~

Tengah malam Kyuhyun terbangun karena mendengar isakan Sungmin. Dia menegakkan kepalanya, dan memandang Sungmin yang meringkuk di atas kasurnya dengan memeluk kedua kaki. Dia miris melihat kekasihnya seperti itu. Padahal, Sungmin adalah orang yang sulit untuk menangis, tapi hal ini mungkin sangat menyakiti hatinya hingga airmatanya keluar tanpa bisa dihentikan.

"Sssh.. Min.. Jangan menangis lagi.." Kyuhyun membelai kepala Sungmin dengan segenap rasa sayangnya. Sungmin masih saja menangis meski tanpa suara. Isakannya juga sesekali keluar walaupun sudah dia tahan.

"Aku menginginkan anak ini." Kata Sungmin, yang meski sedang menangis tetap terdengar penuh keyakinan. Kyuhyun menghela napasnya berat. Sungmin tidak mengerti apa yang akan terjadi, dan saat ini Kyuhyun masih mencari kalimat yang tepat untuk menjelaskannya pada Sungmin.

"Bahaya, Min.." kata Kyuhyun berusaha selembut mungkin agar Sungmin bisa sedikit mengerti. Tapi sepertinya usahanya sia-sia.

"Aku tidak peduli!"

Kyuhyun kembali menghela napasnya. Dia menangkup wajah Sungmin dengan tangannya, membuat sepasang mata bermanik hitam itu menatap matanya.

"Dengarkan aku, Min.." namun Sungmin menutup matanya, tidak mau menatap mata Kyuhyun yang menatapnya dengan lembut itu.

"Aku tidak mau." Kyuhyun lalu melepaskan tangannya dari wajah Sungmin. Dia beralih ke tangan Sungmin lalu menggenggamnya erat.

"Dengar.. Kau menderita leukimia, Min.. Ini penyakit berat. Penyakit yang parah. Tanpa janin dalam perutmu pun kau sangat rapuh, apalagi bila janin itu tetap di sana," jelas Kyuhyun lembut, berusaha sesabar mungkin. Namun Sungmin hanya berusaha menulikan telinganya.

"kau laki-laki, Min.. Memang, sangat istimewa bila laki-laki bisa mengandung. Tapi apa kau tau, Min? Laki-laki yang mengandung tidak dilengkapi dengan hormon-hormon yang sama dengan yang ada pada wanita hamil.. Fisikmu tidak sepenuhnya siap untuk menerima kehidupan lain yang akan tumbuh di dalam perutmu," tambah Kyuhyun. Sungmin memejamkan matanya makin erat, tidak mau mendengar kenyataan yang dia tau akan menyakiti hatinya.

"pada orang yang sedang hamil, tubuhnya akan bekerja semakin berat. Jantungnya akan memompa darah dua kali lebih cepat, paru-parunya akan memerlukan oksigen yang lebih banyak, gizi yang dibutuhkannya akan semakin banyak pula. Sedangkan penderita leukimia.. sel darah merahmu kalah jumlah dari sel darah putihmu. Sel darah merah yang diproduksi oleh sumsum tulang belakangmu sedikit, otomatis zat pengikat oksigen juga sedikit. Bagaimana dengan kebutuhan oksigenmu yang nantinya akan meningkat? Itu tidak bisa terpenuhi, Min..,"

"tulang dan sendimu akan semakin sering terasa nyeri. Belum lagi nantinya bayi itu nantinya akan semakin berat. Kau akan kesulitan untuk bergerak, Min..," isakan Sungmin menjadi-jadi. Pandangan itu menyakiti Kyuhyun, meyalurkan rasa sakit langsung ke ulu hatinya. Tanpa terasa airmatanya jatuh.

"kelenjar limpamu bisa membengkak, karena sel darah putih yang berlebih akan terkumpul pada limpa. Itu akan sangat sakit, Min.. Aku tidak mau melihatmu lebih menderita lagi..," Kyuhyun menyeka airmatanya.

"belum lagi kalau nanti bayi itu tumbuh besar dalam perutmu, kau akan sering merasa sesak di dadamu. Bayi dalam kandunganmu itu akan meyesak ke paru-parumu. Tanpa bayi itu saja kau sering susah bernapas, apalagi dengan adanya bayi itu, Min?" Kyuhyun mengakhiri penjelasan panjang lebarnya dengan menyeka airmata di pipinya. Dia mendudukkan tubuh Sungmin, lalu naik ke kasur itu dan memeluknya.

Sungmin benar-benar terlihat rapuh dengan airmata yang terus-terusan mengaliri pipinya. Isakannya itu terdengar sangat pilu, bahkan Kyuhyun tidak pernah mendengar Sungmin menangis sesedih itu. Bukan karena Kyuhyun kejam pada anak yang bahkan mungkin baru berupa gumpalan darah itu, namun karena dia tidak mau mengambil resiko besar, yaitu kehilangan Sungmin selamanya.

"Bagaimana.. kalau aku katakan bahwa aku.. tidak peduli, Kyu?" kata Sungmin di antara tangisannya. Kyuhyun tertegun, hatinya semakin merasa sakit. Sebegitu inginkah Sungmin akan anak itu?

"Aku.. tidak punya siapa-siapa, Kyu.. Aku ingin memiliki seseorang.. yang punya hubungan darah denganku.. Aku menginginkan anak ini.." bahu Sungmin bergetar hebat, dan Kyuhyun memeluknya semakin erat.

"Kau memilikiku, Min.. Selamanya kau memilikiku.. Dengan adanya aku, kau tidak perlu orang lain lagi.." kata Kyuhyun, berusaha mematahkan argumen Sungmin.

"Aku tau.. Aku tau, Kyu.. Tapi aku.. juga ingin punya sesuatu yang bisa aku miliki berdua denganmu.. Aku ingin anak ini untuk jadi pengikat kita.."

"Aku tidak perlu kau ikat dengan apapun.. Tanpa hal itu aku tidak akan meninggalkanmu.. Mengertilah, Min.. Aku mohon.."

"Kau yang kali ini harus mengerti, Kyu.. Jika aku mati nanti.. akan ada sesuatu yang bisa mengingatkanmu padaku.. Akan ada sesuatu yang bisa mengikat jiwamu dengan jiwaku.. Dan itu anak kita.. Dia akan menghubungkan kita, meski apapun yang terjadi, Kyu.. Aku tak pernah mau meninggalkanmu sepenuhnya.."

Kyuhyun tertohok. Kata-kata itu seolah-olah memberikan rasa sakit tiada tara pada setiap detakan jantungnya. Sungmin sudah memikirkan sampai sejauh itu. Dan fakta kalau Sungmin sudah memikirkan kematiannya itu meruntuhkan kepercayaan yang selama ini susah payah Kyuhyun bangun. Kepercayaan bahwa Sungmin suatu saat pasti akan sembuh.

"Nantinya, kalau aku sudah tidak ada, anak kita bisa menemanimu kan, Kyu? Karena itulah aku sangat ingin anak ini.. Agar anak ini bisa menguatkan cinta kita, Kyu.. Jebal.."

Permohonan Sungmin merapuhkan hati Kyuhyun. Dia tidak tega dengan permohonan Sungmin yang sangat tulus itu. Ataukah malah dia setuju dengan alasan Sungmin untuk tetap menjaga bayi itu? Kyuhyun tidak mengerti. Dia hanya memeluk kekasihnya lebih erat, pertanda bahwa hatinya kini sedang galau.

Dia menyesap aroma yang menguar dari tubuh Sungmin, mencoba menguatkan hatinya. Namun yang dia dapati hanyalah tetesan airmata lagi dan lagi.

"Aku mohon, Kyu.. Anak ini memberiku semangat hidup yang baru.. Semangat untuk berjuang demi dia.. Aku ingin hidup, Kyu.. Aku ingin sembuh untuk merawat anak ini bersamamu sampai dia besar nanti.. Aku janji aku akan sehat, Kyu.. Demi kau dan anak ini.. Tolong kabulkan permohonanku, Kyu.."

Harapan perlahan kembali merayapi Kyuhyun. Sungmin yang selama ini tidak punya semangat untuk sembuh, menjanjikan kesembuhannya demi anak itu? Apakah memang seharusnya Kyuhyun memberi Sungmin kesempatan? Apa seharusnya Kyuhyun percaya pada janji Sungmin?

Sungmin melepaskan pelukannya pada Kyuhyun. Dia menagkup wajah Kyuhyun dengan kedua tangannya, lalu menatap bola mata beriris hitam itu dengan segenap cintanya.

"Lihat aku, Kyu..," Kyuhyun lalu menatap Sungmin dengan tatapan yang sama dengan yang Sungmin berikan. "apa di dalam mataku terlihat kalau aku berbohong?" tanyanya.

Kyuhyun menggeleng bagaikan anak kecil yang tidak mengakui kesalahannya. Sungmin lalu tersenyum lembut.

"Aku kuat, Kyu.. Bertahun-tahun aku bisa melewatinya kan? Sembilan bulan saja, kenapa aku tidak akan bisa? Ya kan? Aku pasti bisa, Kyu.. Aku butuh dukungan dan kepercayaanmu.."

Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin yang menangkup wajahnya, lalu memejamkan matanya. Dia berusaha merasakan kesungguhan Sungmin dari sentuhannya. Dan entah mengapa, hati Kyuhyun hangat, bagaikan diselimuti sesuatu yang tidak kasat mata. Janji Sungmin bagaikan sebuah takdir yang menurutnya akan benar-benar terjadi. Apakah salah kalau dia mencoba percaya? Kalau Sungmin sanggup menanggungnya, mengapa Kyuhyun tidak bisa untuk sekedar menyemangati Sungmin?

Hati Kyuhyun melunak. Pertahanannya runtuh sudah. Dia membuka matanya, menatap mata Sungmin dengan lembut.

"Berjanjilah akan berusaha bertahan, Min.. Apapun yang terjadi.." kata-kata itu menunjukkan kalau Kyuhyun benar-benar sudah menyerah atas kekerasan hati Sungmin.

Sungmin tersenyum tulus. Senyum yang sudah lama sekali ingin dilihat Kyuhyun. Yang benar-benar berasal dari dalam hati Sungmin. Sepintas, Kyuhyun berpikir kalau keputusannya benar-benar bukan sebuah kesalahan.

"Terima kasih, Kyu.. Aku mencintaimu.." Sungmin kembali memeluk Kyuhyun, lebih erat dari yang tadi. Kyuhyun membalas pelukan itu, lalu mencium puncak kepala Sungmin.

"Aku juga, Min.. Aku juga.."

~*Rn*~

If it makes you feel better, why can't I smile?

You say you are strong, should I believe in you?

At least, give me hope that you will always be here..

May I believe?

~*Rn*~

-TBC-

Chapter dua selesai.. Maaf ya yorobun.. aku gak bisa bales review satu-satu.. Tapi kalian harus tau kalau review kalian memberiku semangat untuk nulis lagi.. Apalagi setelah dapat tentangan dari emakku.. hiks.. *curcol*

Tapi ada seseorang yang kepengen aku bales reviewnya, yaitu HUMAN FLAMES.

Aku mau berterima kasih. Benar, dan ini tulus *percaya deh..*

Sebelumnya aku udah baca review kamu di fanfic author lain, dan jujur aja—bilang aku pengecut atau apa—aku takut di-flame. Aku takut kalau aku bakal down dan berhenti nulis saat itu juga. Setiap kali aku ngetik fanfic, aku selalu memperhatikan ejaan, EYD (kalau bisa), tanda baca, huruf kapital, dan struktur kebahasaan lainnya. Tapi kalau ada di FF aku yang salah, aku mohon maaf. Aku memang masih harus banyak belajar.

Review kamu di FF ini sebelumnya bikin aku tau di mana kesalahan aku, kelemahan aku, dan di FF ini aku berusaha lebih baik lagi. Makasih karena udah bilang FF aku layak, aku seneng bacanya. Hehe..

Tapi aku mau kasih saran, kalau kritikan kamu diperhalus. Kritikan kamu membangun, dan alangkah baiknya kalau disampaikan dengan cara yang lebih halus. Itu aja sih..

Beneran, makasih atas kritik untuk FF ini. Aku udah berusaha memenuhi kesalahan aku di chapter sebelumnya dengan chapter yang ini.. Aku juga gak keberatan direview lagi, untuk kebaikan di masa datang. Hehe..

Dan yorobun.. Semoga suka ya.. Aku sudah mencari informasi di buku biologi dan internet tentang leukimia dan kehamilan. Jadi yang ada di dalam chapter ini tidak mengada-ada (memang ada sumbernya). Tapi kalau masih ada juga kesalahan medis dalam FF ini, aku mau minta maaf lagi.. *minta2 terus* hihi..

Sign,

Rn.