Love You My Beauty Dragon
By
Zevatus
Warning: SasuFemNaru, typo, gaje, bahasa aneh, alur kecepetan, OOC, latar dan waktu berganti-ganti sesuka author gaje, serta feel kurang…
Summary: Manusia? ia menyangkal jika dirinya adalah manusia. Ia adalah Naga, seperti ibunya. Namun, kenapa ibu naganya mengusirnya? Bukankah ibu naganya mengatakan kalau dia menyayangi gadis itu? Kenapa juga ia harus bertemu pangeran Uchiha itu? Bagaimana jadinya kehidupan gadis itu ditengah-tengah manusia?
Untuk para readers maupun author yang menyempatkan diri membaca fanfic saya bahkan memberikan review, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak. Saya tidak menyangka fanfic gaje saya akan mendapatkan respons yang baik. oh ia, saya ingin meminta maaf karena chapter sebelumnya banyak sekali kata yang typo dan karakternya OOC Hehehe…
Langsung saja deh daripada banyak bicara, selamat membaca…
Don't like, please don't read…
Chapter Two
Ruang makan keluarga kerajaan Uchiha saat itu sangat sepi hanya terdengar suara benturan antara piring-piring keramik dengan peralatan makan dari perak diruangan itu, belum ada yang membuka suara deluan sampai sang kepala keluarga –sang raja- itu sendiri lah yang membuyarkan keheningan di ruangan itu.
"Apa kau tahu maksud ayahanda menyuruh kita sarapan bersama pagi ini, Sasuke?" Kata sang raja dengan nada datar khas keluarga Uchiha.
"Tidak, ayahanda…" Kata Sasuke yang tidak kalah datarnya.
"Kita akan membahas pertunanganmu…" Ucap sang raja lagi.
Sasuke memandang ayahnya seakan meminta penjelasan. Kenapa baru sekarang mereka membahas masalah ini?
"Ada masalah apa, Ayahanda?" Tanya Itachi –putra mahkota, sekaligus kakak dari Sasuke-.
"Kita tidak bisa lebih lama mempertahankan pertunangan ini. Dari pihak tunangan Sasuke juga sudah menyetujui hal ini, mengingat usia Sasuke yang sudah seharusnya menikah, dia tidak mungkin menunggu tunangannya lebih lama lagi." Kata Uchiha Fugaku tenang, menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
Yah, kemarin sang raja kerajaan Uchiha pergi ke kerajaan putri yang menjadi tunangan putra bungsunya, Sasuke. Kedua pemimpin kerajaan itu membahas tentang masa depan anak-anak mereka. Mengingat Sasuke yang sudah berusia 22 tahun yang seharusnya sudah menikah dengan seorang putri lalu pergi meninggalkan istana Uchiha bersama istrinya agar keseimbangan kerajaan Uchiha dapat dipertahankan tidak bisa diundur lagi. Ingat, kerajaan hanya membutuhkan seorang pewaris.
Lalu kenapa pertunangannya dibatalkan? Hal itu karena tunangan Sasuke tidak diketahui keberadaannya dan umur Sasuke yang sudah dekat 22 tahun harus secepatnya menikah agar tidak semakin terikat dengan kerajaan Uchiha.
"Hn…" gumam Sasuke. Dia sih setuju-setuju saja, lagipula dia tidak pernah melihat bagaimana rupa tunangannya, jadi itu tidaklah masalah jika pertunangan yang sudah sangat lama itu untuk diakhiri. Lagipula dengan batalnya pertunangan itu, bukankah dia bisa semakin dekat dengan gadis bernama Naru?
"Apa kau tidak masalah dengan hal ini, sayang?" Tanya permaisuri kerajaan Uchiha kepada anak bungsunya dengan lembut.
"Hn…" lagi-lagi hanya dibalas dengan sebuah gumaman tidak jelas.
"Dan ada satu lagi yang ingin ayahanda sampaikan padamu…" Kata Fugaku lagi saat Sasuke akan pergi meninggalkan ruang makan itu.
"Sakura akan menjadi tunanganmu…" dan kata-kata itu berhasil membuat sang raven berbalik kembali menghadap keluarganya.
"Kau setuju bukan?" Tanya ibundanya.
"Tidak… Aku tidak akan pernah setuju…" jawab sang raven saat ia kembali ke tempat tempatnya tadi. Sampai matipun dia tidak ingin berpasangan dengan perempuan menggelikan berambut seperti permen karet seperti putri Haruno itu.
Melihatnya sehari setiap minggu saja sudah membuat mood pangeran bungsu itu sangat buruk, bagaimana jika dia harus melihatnya setiap hari?
"Kenapa? Bukankah kalian sangat sering bersama?" Kata sang raja yang bahkan tidak mengerti perasaan putra bungsunya.
"Sudah cukup pembicaraan ini, aku tetap tidak mau bertunangan dengan putri Haruno itu…" Kata Sasuke yang langsung berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Tidak memperdulikan tatapan keluarganya yang terus saja menatapnya.
Keluarga kerajaan Uchiha tidak dapat percaya bahwa anak termuda pasangan raja dan ratu Uchiha itu akan menolak dengan sangat tegas seperti saat ini, mengingat Sasuke tidak pernah menentang keinginan ayahanda dan ibundanya. Sedangkan sang pangeran mahkota hanya menatap adiknya sambil tersenyum karena dia tahu alasan kenapa sang adik bersikap membangkang seperti saat ini.
#Zevatus#
Sasuke berjalan cepat meninggalkan ruang makan, tanpa memperdulikan tatapan tajam kedua orang tuanya. Sayup-sayup dia mendengar kakanya mengatakan sesuatu pada kedua orang tua mereka.
Sasuke tidak mau ambil pusing, sekarang dia ingin mengasingkan diri dahulu di arena panah kerajaan. Yah, itulah satu-satunya kegiatan yang selalu bisa memperbaiki mood-nya yang sedang buruk.
Sepanjang koridor yang ia lewati, setiap pelayan akan menundukkan kepala mereka untuk memberi hormat kepada sang pangeran bungsu. Sedangkan Sasuke hanya melangkahkan kakinya melewati mereka dengan langkah cepat.
Sesampainya di arena panahnya, ia mengambil posisinya seperti biasa yaitu 90 meter didepan target. Ditatapnya target yang ada didepannya. Secara perlahan Sasuke mengangkat tangannya lurus dengan bahu. Tiba-tiba, bola-bola cahaya berwarna biru bermunculan, mengelilingi pemuda itu dan mulai membentuk busur ditangan kiri sang pangeran. Sedangkan dipunggungnya terbentuk tempat dia menyimpan anak panahnya.
Sasuke mengambil anak panahnya lalu membidikkannya ke target yang ada didepannya tanpa rasa ragu, mencoba menghilangkan mood buruknya pagi itu.
#Zevatus#
Naru menatap pantulan dirinya di cermin dan disampingnya terdapat kotak, gaun berwarna merah dengan motif bunga yang disulam dengan benang emas menghiasi gaunnya, membuatnya semakin terlihat menawan. Rambutnya juga telah tertata sangat rapih. Ia tinggal menunggu sang pangeran Uchiha itu datang agar dia dapat segera pamit dan meninggalkan istana itu.
Kalian pasti bertanya-tanya, darimana Naru mendapatkan gaun yang ia kenakan? Nah, gaun itu berasal dari kotak yang ada disampingnya. Kotak berisikan baju-bajunya yang selalu ia bawa didalam kotak yang saat ini berada di sebelahnya. Ia memang sengaja meminta ibunya memberikan kekuatan itu. Paling tidak ia bisa menyimpan barang-barang yang mungkin akan ia perlukan suatu hari nanti, nggak ada yang tahu bukan apa yang akan terjadi di masa depan?
Naru memutar tubuhnya, manatap penampilannya di cermin tersebut.
Sebenarnya ia cukup suka menggunakan gaun yang manis, mengingat ibu naganya membiasakannya menggunakan gaun-gaun seperti itu sejak kecil. Tapi, mengingat dia suka bermain di hutan, gaun-gaun itu hanya dapat mengganggunya. Itulah kenapa ia lebih banyak menggunakan baju berburu seperti yang ia kenakan saat pertama kali Sasuke menemukannya.
Tanpa sadar, air mata mulai menyusup keluar menembus pertahanannya dan mulai mengalir membasahi pipi mulusnya saat kembali mengingat sang ibu yang dengan teganya melemparkannya keluar dari 'rumah' mereka. Namun, suara ketukan pintu langsung mengambil alih perhatiannya. Menyadarkan Naru dari kesedihan gadis itu. Segera ia menyeka air matanya lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Didepannya saat ini berdiri seorang wanita berambut raven panjang sedang menatapnya dari atas kebawah dengan mata yang mirip dengan sang Uchiha bungsu. Melihat wanita tersebut, Naru berhipotesis sendiri jika wanita itu adalah permaisuri kerajaan Uchiha.
Flashback
Itachi menceritakan kepada kedua orang tuanya bahwa tadi malam Sasuke membawa seorang gadis. Sang raja dan ratu langsung bertanya-tanya bagaimana gadis itu, meski sang raja tetap saja memasang wajah stoic ala keluarga Uchiha tapi sang ibu sudah menggebu-gebu mempertanyakan gadis itu. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya Sasuke mau menolong orang tak dikenal apalagi terang-terangan mengutarakan perasaannya kepada sang kakak. (meski sebenarnya kata terang-terangan itu hanya bumbu yang itachi taburkan untuk memeriahkan suasana saja).
penasaran dengan gadis yang berhasil membuat putra manisnya menjadi pembangkang seperti saat ini membuat Mikoto melangkahkan kakinya kearah kamar yang Itachi katakan. Berharap gadis itu masih berada disana.
Ia ingin memastikan bahwa putranya tidak jatuh cinta pada orang yang salah dan gadis itu tidak akan menjadi ancaman untuk keluarga dan kerajaannya. Ia bertekat jika gadis itu adalah gadis baik, dia akan mendukung putranya, bahkan jika sang suami tidak menyetujui hubungan putra bungsunya nanti.
Flashback end
"Maaf, apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya Naru dengan sangat sopan.
Sang wanita hanya terdiam dan langsung melangkah memasuki kamar tersebut tanpa memperdulikan Naru. Sang wanita menatap seluruh ruangan dan matanya tertuju pada tempat tidur yang berserakan gaun dan sebuah kotak dekat cermin yang terbuka menampakkan beberapa gaun didalamnya.
Naru yang melihat itu langsung bergegas membereskan gaun-gaunnya. Dari gaun berburu sampai gaun biasa dan dengan cepat ia masukkan kedalam kotak lalu menjentikkan jarinya menghilangkan kotak tersebut.
"M-maafkan saya…" Kata Naru sopan.
"Hmnn, jadi kau yang bernama Naru?" Tanya wanita itu ragu.
Pasalnya, menurut anak sulungnya, Naru adalah gadis yang ditemukan Sasuke didalam hutan. Saat dibawa masuk ke dalam istana pun, gadis itu menggunakan baju yang dapat dikatakan tidak sopan serta terbuat dari kulit hewan layaknya orang yang tidak pernah keluar dari hutan.
Tapi sekarang…
Lihat, gadis ini sangat cantik. Pakaiannya juga sangat menawan. Mikoto yakin kalau gaun itu terbuat dari kain sutra. Dan lagi corak pada gaun tersebut sama sekali bukan corak dari kerajaan Uchiha. Ditambah dengan kotak penuh gaun-gaun tadi, dapat Mikoto pastikan bahwa gadis ini bukanlah gadis sembarangan. Sihirnya mungkin dapat dikatakan sihir tingkat rendah, yaitu sihir penyembunyi barang. Tapi tidak masalah soal itu karena mereka memanglah tidak bisa memilih kemampuan apa yang mereka bawa sejak lahir bukan? Meski hanya satu kemampuan, tapi itu adalah berkat dari dewa. Itulah yang ada dipikiran Mikoto.
"Ia, dan anda sendiri?" Tanya Naru dengan lembut. Menunjukkan sopan santunnya pada lawan bicaranya.
"Aku Mikoto. Ibu dari Sasuke…" Jawab Mikoto. Ia senang dengan sikap sopan perempuan didepannya. Meskipun bukan seorang putri, Naru nampak cocok dengan putranya. Jika putra kesayangannya itu menyukai Naru, kenapa tidak dia restui saja… Tapi jika boleh jujur, Mikoto sedikit curiga dengan Naru karena menurut cerita Itachi, kemunculan gadis itu dapat dikatakan sebuah misteri.
"Oh… Maaf atas ketidak sopananku, yang mulia…" Kata Naru lalu menundukkan sedikit kepalanya. Benar saja pemikirannya kalau wanita didepannya adalah ibu dari si pangeran Uchiha itu. Segera Naru mengambil kursi dan mempersilahkan Mikoto duduk. Jujur dia merasa agak canggung untuk berbicara dengan manusia, apalagi 2 orang pertama yang mengajaknya bicara setelah diusir oleh sang ibu adalah orang-orang yang cukup penting.
"Terima kasih…" Kata Mikoto tersenyum lembut pada Naru lalu duduk di kursi tersebut, sedangkan Naru duduk dikursi yang lain.
"Ada apa yang mulia permaisuri datang menemui hamba?" Tanya Naru dengan cara bicara yang sangat formal.
"Siapa kau sebenarnya?" Tanya Mikoto langsung.
"Maksud yang mulia?"
"Kau tidak terlihat seperti anak terlantar dari hutan, juga tidak terlihat seperti gadis desa maupun kota mengingat sutra adalah kain yang sangat mahal saat ini. Jadi, siapa kamu? Dan apa yang kamu inginkan dari kerajaan kami?" Tanya Mikoto. Dia harus memastikan dahulu latar belakang gadis dihadapannya sebelum memberikan restu untuk Sasuke.
Yahhh, walaupun dia harus berargumen dengan raja kerajaan Haruno nanti…
Naru hanya menatap Mikoto bingung. Jujur dia sama sekali tidak mengetahui tentang perkembangan pada manusia. Ibu naganya hanya mengajarkannya kebijaksanaan, kemampuan, keahlian dan semua yang ia butuhkan untuk bertahan hidup. Bukan ajaran mengenai barang apa yang harganya sedang naik maupun apa yang dapat memperlihatkan status seseorang.
"Maaf yang mulia, aku hanyalah gadis biasa. Selama ini aku tinggal di hutan bersama ibu dan juga kakakku jadi aku tidak terlalu mengetahui masalah di luar hutan seperti harga sebuah kain atau apapun. Sedangkan gaun ini aku buat dari kain yang ibu berikan…" Kata sang gadis memberikan jawaban jujur kepada Mikoto.
"Jika itu benar, bagaimana ibumu mendapatkan kain sutra itu?" Tanya sang permaisuri dengan penuh minat.
"Di hutan terdapat banyak kepompong sutra di musim gugur. Ibu menggunakan sihirnya untuk membuatkanku kain dan benang agar aku dapat menjahit gaun-gaunku sendiri…" Kata Naru sambil mengingat kembali masa lalunya bersama sang ibu naga.
"Kau dapat menjahit?" Tanya Mikoto takjub.
"Ia, yang mulia. Ibu mengajariku…" Kata Naru sambil tersenyum.
"Wah… ibumu pastilah orang yang hebat. Aku jadi ingin bertemu dengannya…" Kata Mikoto tersenyum.
Namun seketika wajah Naru menampakkan raut wajah sedih, membuat Mikoto bingung. Apalagi melihat gadis itu mulai berlinang air mata.
"Ada apa?" Tanya Mikoto cepat, sedikit panik melihat gadis itu menangis.
"N-nggak… hanya saja aku tidak pernah berbicara dengan orang-orang sampai seperti ini. Selama ini aku hanya berbicara seperti ini bersama ibu. Pasalnya orang-orang diluar sana sangat jahat… jadi aku berusaha berbicara seminimal mungkin." Kata Naru sambil menyeka air matanya.
"Ya ampun… sudahlah. Jangan menangis lagi ya." Kata Mikoto sambil memeluk Naru.
"Terima kasih…"
"Oh ia, kenapa bisa sampai Sasuke menemukanmu dihutan?" Tanya Mikoto penasaran.
"Ibu mengusirku… ia mengatakan sudah saatnya untuk berpisah…" Kata Naru dengan nada sangat sedih. Naru memang mengatakan hal yang jujur meski ada beberapa hal yang tidak ia katakan. Lebih baik mengatakan sedikit asalkan jujur dari pada banyak bicara tapi pada akhirnya hanya akan membuatnya berbohong.
"Kenapa? Apa kau membuat kesalahan?" Tanya Mikoto. Sedangkan Naru hanya menggeleng pasrah.
"Lalu kau akan kemana?" Tanya Mikoto. Ia kasihan pada gadis didepannya. Ibu macam apa yang tega mengusir anak gadisnya? Padahal baru saja ia memuji ibu Naru.
"Aku tidak tahu… aku akan berkeliling mencari tempat tinggal…" Kata Naru sambil tersenyum menenangkan kepada Mikoto.
"Bagaimana kalau kamu tinggal disini?" Tanya Mikoto membuat Naru membola kan matanya.
"A-apa anda serius?" Tanya Naru. Ia tidak menyangka Mikoto akan mengizinkannya tinggal disini.
"Ia… Kamu bisa menempati kamar ini seterusnya…" Kata Mikoto. Saking senangnya, Naru langsung memeluk Mikoto. Ia tidak menyangka bahwa ada manusia yang sangat baik seperti perempuan didepannya.
Mikoto hanya tersenyum dan menyambut pelukan Naru dengan sangat lembut.
"Terima kasih…" Kata Naru sambil terisak. Sedangkan Mikoto hanya tersenyum. Ia akan mendukung Sasuke untuk mendapatkan gadis blonde ini.
"Berapa usiamu?" Tanya Mikoto.
"18 tahun, yang mulia…" Jawab Naru.
"Bagus, kau ingin membantuku?" tanya Mikoto.
Awalnya Naru ragu tapi akhirnya ia mengangguk lalu Mikoto menjelaskan apa yang ia inginkan dari Naru.
#Zevatus#
Di salah satu gua di gunung Orientes…
"Aku senang, Naru mulai mempercayai manusia… tapi, kenapa anak itu memilih untuk tidak kembali ke orang tuanya?" Terdengar suara lembut dari seekor naga.
"Itulah manusia, ibu… Mereka akan sangat sulit untuk kembali ke orang yang sangat ia benci…" Kata seseorang dibalik bayangan. Hanya matanya yang bersinar yang nampak dari balik bayangan.
"Aku yakin Naru akan tahu apa yang seharusnya ia lakukan… kebijaksanaan yang kuturunkan padanya akan membuatnya menjadi manusia yang bijak. Aku harap keputusanku ini tidaklah salah, aku ingin dia meraih kebahagiaannya…" Kata Naga itu sekali lagi.
"Aku berharap hal yang sama, ibu… meskipun dia bukan naga, tapi dia tetaplah adikku." Kata sosok itu sekali lagi.
"Pergilah… Lindungilah Naru. Berikan kabar kepadaku jika ada hal penting." Kata sang Naga.
"Baik, ibu…" Kata orang tersebut lalu menundukkan kepalanya kemudian meninggalkan tempat itu.
#Zevatus#
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Fugaku yang sedang duduk sambil menatap dokumen-dokumen Negara yang harus ia periksa. Didekatnya duduk seorang wanita cantik yang kita ketahui bernama Mikoto.
"dia anak yang baik…. Tidak ada satupun kata-katanya yang merupakan kebohongan. Bahkan tindakannya juga tidak ada yang mencurigakan… kita bisa tenang jika memang benar itu adalah gadis yang diinginkan Sasuke…" Kata Mikoto sambil tersenyum sangat manis.
Inilah kekuatan yang dimiliki oleh permaisuri kerajaan Uchiha. Ia bisa membedakan, mana yang merupakan kebohongan dan mana kejujuran. Bahkan melihat gerak-gerik lawan bicaranya pun dia bisa mengetahui jika ada hal aneh pada lawan bicaranya. Tapi, Naru berbeda. Dia menjawab pertanyaannya tanpa melebih-lebihkan apapun. Mikoto cukup senang dengan hal itu.
Inilah rahasia yang membuat kerajaan Uchiha menjadi kerajaan yang tidak pernah dapat diperdaya oleh kerajaan lain.
"Hn…"
"Tapi aku tidak mau membuat semua berjalan mudah untuk Sasuke… Apakah kau ingin membantuku?" Kata Mikoto pada suaminya. Sedangkan Fugaku hanya menatap istrinya dengan tatapan bingung.
"Aku ingin melihat bagaimana perjuangan anak kita. Lagipula, aku tidak ingin ada dari anak-anakku yang menjadi seorang tak tau moral yang akan menyakiti perasaan seorang gadis…" Kata Mikoto menjelaskan kepada suaminya.
Ya, Mikoto ingin mengetes Sasuke. Seberapa besar keinginan anak itu untuk mendapatkan gadis sebaik Naru…
#Zevatus#
Perlahan Sasuke menurunkan tangannya. Busur serta anak panahnya sudah kembali menjadi bola-bola cahaya, kemudian menghilang. Ia sudah cukup lelah, dan lagi mood nya yang buruk sudah menghilang. Namun Sasuke tiba-tiba mengernyitkan dahinya, dia seakan melupakan sesuatu. Tapi dia lupa apa…
Saat onyx nya menatap kelangit biru diatasnya, dia terdiam. Tiba-tiba wajah seorang gadis muncul didalam kepalanya.
'Kuso… kenapa aku melupakannya!' Jerit sang raven dalam hati meski dia masih memasang wajah datar tanpa ekspresinya.
Dengan langkah besar, pemuda raven itu segera menuju ke kamar sang blonde. Dia benar-benar melupakan gadis itu tadi.
Sekarang yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana keadaan Naru, apa gadis itu sudah makan, ataukah gadis itu sudah meninggalkan istana? Sunggung Sasuke merasa ingin gila memikirkan itu. Entah mengapa ada perasaan aneh saat memikirkan Naru akan pergi meninggalkannya. Poor Sasuke…
Saat Sasuke tiba didepan kamar sang blonde, ia melihat pintu itu sedikit terbuka membuatnya penasaran lalu mulai mengintip sedikit.
Nampak di bingkai jendela, sang blode sedang duduk dengan sangat santai. Rambutnya disinari oleh matahari, membuat rambut itu nampak seperti emas yang sangat berharga. Gaun merahnya yang merupakan mini dress memperlihatkan sedikit pahanya yang mulus. Membuat sang pangeran harus meneguk ludah untuk menahan diri agar tidak dikuasai oleh nafsu.
"Sampai kapan seorang pangeran Uchiha terhormat akan mengintip seorang gadis seperti itu?" Tanya Naru tiba-tiba lalu berbalik menatap Sasuke yang mengintipnya sedari tadi.
Sasuke sedikit terlonjak saat ketahuan mengintip, membuatnya langsung berdiri tegap dan berjalan memasuki kamar Naru.
"Kukira kau sudah pergi…" Kata Sasuke datar.
"Maaf jika aku tetap berada disini …" Kata Naru yang sudah berbalik.
Mata sapphire nya menatap lurus ke arah Sasuke. Beberapa detik kemudian, jantung Sasuke seakan akan berhenti berdetak saat senyuman itu terukir diwajah cantik Naru.
"Tapi mulai sekarang aku akan tinggal disini, Nii-sama…" Kata gadis itu lembut.
#Zevatus#
Sasuke menatap kearah orang tuanya dengan tatapan yang sangat tajam, meminta penjelasan dari raja dan ratu kerajaan Uchiha tersebut tak terkecuali dengan sang kakak yang tersenyum menyebalkan kearahnya.
Apakah ayahanda dan ibundanya setega ini pada anak mereka? Memaksanya menerima pernikahan denga Sakura menggunakan cara seperti ini?
Naru duduk di salah satu bangku di ruang makan itu sambil menatap bingung kearah Sasuke serta sang raja dan ratu. Ini pertama kalinya ia ikut makan malam bersama para manusia, namun kenapa suasana sangat mencekam?
Sedangkan Fugaku, Mikoto dan itachi berusaha menahan tawa mereka dan tetap memasang wajah stoic ala keluarga Uchiha. Merupakan hal langka untuk seseorang agar dapat mempermainkan si bungsu Uchiha tersebut, dan mempermainkannya adalah hal yang sangat menyenangkan untuk keluarganya…
Flashback
"Bagaimana cara ibunda akan melakukannya?" Tanya Itachi yang tiba-tiba muncul membuat kedua orang tuanya mengernyitkan dahi merasa tidak suka dengan sikap Itachi yang masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Itachi yang memahami sikap kedua orang tuanya tidak mau mengambil pusing. Dia langsung mengambil tempat di salah satu bagian sofa yang ada di dekat kedua orang tuanya.
"Aku ingin tahu apa rencana ibunda pada adik tersayangku…" Kata Itachi lagi.
Bukannya marah, Mikoto malah tersenyum dengan sangat lembut membuat Itachi yakin jika ide sang ibu benar-benar akan menyusahkan adiknya. Namun dalam hatinya, dia juga ingin terlibat dengan rencananya itu. Sepertinya akan sangat menyenangkan mengganggu adiknya itu.
"Aku meminta Naru untuk menjadi anak angkat kita…" Kata Mikoto masih tetap tersenyum. Namun berbeda dengan ekspresi yang diberikan oleh sang raja. Ia menatap tajam ke arah istrinya meski tak ada satupun kata yang dilontarkan oleh pria itu.
"Fuga-kun… jangan menatapku seperti itu. Lagian tidak akan ada pengangkatan resmi. Lagipula, aku sangat menginginkan seorang putri. Aku juga sudah membicarakannya dengan Naru dan dia setuju saja meski tidak ada pengangkatan secara resmi… jadi tidak papah kan?" Kata Mikoto dengan nada memelas kepada sang suami.
"Hn…"
"Kalau seperti itu, bagaimana Sasuke bisa mendapatkan Naru?" Tanya Itachi.
"Entahlah, kita lihat bagaimana perjuangan anak itu…" Kata sang ibu.
Flashback off
Itulah hal yang sebenarnya terjadi yang tidak diketahui oleh Sasuke dan membuat moodnya yang baru saja baik langsung menguap. Namun egonya pun membuatnya tidak bisa mempertanyakan secara langsung kepada keluarganya.
Poor Sasuke…
"Nah, Naru… besok akan ada lomba berburu. Kamu bisa berburu tidak?" Tanya Mikoto langsung kepada Naru dengan sangat lembut membuat Sasuke mengernyitkan dahi.
"Bisa, yang mulia…" Kata Naru sedikit canggung…
"Bagus… Untuk mewakili pihak istana, biar kamu dan Sasuke saja yang pergi. Kamu tidak keberatan bukan?" Kata MIko ceria.
"Nggak apa-apa, yang mulia…" Kata Naru.
"Nggak! Nanti yang ada dia hanya mempermalukan keluarga istana. Aku tidak mau dipermalukan di depan umum!" Kata Sasuke langsung dan dengan nada datar.
"Apa maksudmu mengatakan itu?!" Kata Naru berusaha menahan amarah.
"Tentu saja aku tidak mau berpasangan denganmu, kau pasti hanya akan mempermalukanku. Aku tidak percaya kau bisa berburu. Memegang busur pun pasti tidak bisa…" ejek Sasuke membuat keluarganya mengernyitkan dahi karena mendengar sang pangeran bungsu untuk pertama kalinya berbicara seperti itu.
"Aku bisa berburu, Teme! Jangan mengejekku…" Kata Naru yang mulai terbawa emosi.
Melihat itu, Mikoto tersenyum samar… Dalam hati dia sangat senang melihat anaknya seperti ini, tidak seperti boneka yang selalu menurut padanya.
"Sudah! Ini sudah diputuskan, dan kalian akan pergi besok!" Perintah mutlak dari sang raja sudah dikeluarkan dan Sasuke hanya bisa menelan kembali semua ejekan yang tadi mau ia lontarkan.
Sebenarnya sih bukan maksud Sasuke mengejek Naru,tapi moodnya yang memang sudah jelek memaksa untuk mencari pelampiasan. Dan sampailah pada Naru yang menjadi pelampiasan kekesalan Sasuke…
Tidak ada yang kembali melanjutkan pebicaraan, ruang makan menjadi hening dan mereka menikmati makan malam bersama.
ToBeContinue
Please review
Maaf ceritanya makin gaje saja… oh ia, terima kasih untuk yang sudah membaca fanfic ini. Saya sangat bersyukur ada yang mau membaca bahkan memberikan review pada fanfic ini.
Sampai jumpa di chapter berikutnya…
