Hanya sebuah perjuangan yang entah tak berujung..

Penuh liku-liku tajam yang menyesatkan orang-orang..

Namaku Kim Kibum, seorang namja yang berumur sekitar ¼ abad..

Seorang kim yang mencintai kekasih kakaknya sendiri, tolong jangan katakan

aku kurang ajar karena mencintai kekasih kakaknya sendiri.

Aku juga tidak tahu, harus menyalahkan siapa.

Takdir, cinta atau diriku sendiri.

Tenggelam dalam pesona seorang Choi yang mengagumkan, aku MUAK! Aku LELAH ingin membuang rasa ini!

Rasa ini tak normal, mana ada seorang namja mencintai namja lain! Aku ABNORMAL!

Pernah ingin ku buang rasa ini, memulai dengan lembaran baru yang bersih dan menyobek lembaran lama yang kotor.

Mencoba mencintai seorang yeoja pada umumnya, tapi mana ada yang mau dengan seorang namja yang lemah?

Yah inilah aku, KIM KIBUM yang lemah!

Lemah dalam pelajaran olah raga,

Lemah dalam membalas bully-an,

Lemah dalam segala tindak tanduk seorang namja umumnya, dan-

Lemah dalam membuang pesonanya, pesona seorang Choi Siwon.

.

0

.

'Cklek'

"aku pulang.." namja tampan itu tertunduk lesu, tanganya memijit plipisnya yang berkerut. Jangan sampai dia tua di umur 24 tahunnya ini.

"aahh menantuku baru pulang ternyata.." sebuah suara lembut nan agung itu membuat pemuda tersebut mendongak.

"umma.." suaranya terkesan kaget, hei bagaimana ummanya yang bisa di bilang cantik walaupun sudah uzur itu bisa di sini? Di rumahnya?

Sosok yang di panggil 'umma' itu mengangguk "dari mana saja kau?" lanjutnya sambil mendudukan dirinya di sofa ruang tengah.

Siwon –nama pemuda tadi- ikut berjalan menuju sofa, mendudukan diri di samping ummanya yang sudah di anggap umma itu. Menyenderkan kepalanya di pundak ini?

"dari kantor umma.." sofa di sampingnya bergerak

"kau harus meluangkan waktumu untuk kibummie siwon,usia kandungannya sudah 5 bulan. Sering-seringlah kau di rumah, kasihan kibummie setiap hari sendiri dan apa kau tidak kuatir dengannya? Bisa saja dia ada apa-apa saat kau tidak ada di rumah" ceramah panjang ala mulai, dia sungguh kawatir dengan keadaan menantunya yang manis itu.

Siwon mendengus lirih. "kalau umma menghawatirkannya kenapa umma saja yang tidak menjaganya?" siwon bangkit dari duduknya, melangkah pergi meninggalkan ummanya.

"kau bodoh atau bagaimana sih! Rumah kita ada di gwangju sedangkan rumahmu di seoul. Jika saja rumah kita berdekatan umma dengan senang akan menjaga menantu umma!" gertak marah, kenapa bisa anaknya seperti ini?

'aissh dia seperti bukan siwonku' batin yeoja cantik itu.

"terserah umma sajalah, aku capek."

'Blam'

Bunyi pintu di tutup menyadarkan Boa –umma siwon- dengusan kecil menambak puncak kemarahanya.

"kenapa anakku jadi seperti itu?" gumam Boa samar melihat pintu di depannya di tutup.

.

O

.

"dasar tidak normal!" pekik siwon setelah menutup pintu kamarnya, ingat KAMARNYA! Apa kalalian tau kata 'NYA' berarti posesive?

"kenapa umma selalu membela namja itu! Jika dia naksir aku ya sudah, jangan harap aku bakal naksir dia! Huh dasar Fujoshi!" melemparkan sembarang tas kerjanya, menyopot satu persatu yang menempel di tubuhnya.

Jas, Dasi, Kemeja, Jam Tangan, terus sampai tubuhnya telanjang bulat, menarik handuk baju yang di letakkan di sudut kamarnya.

'mandi kurasa menyegarkan pikiran..' pikir siwon

.

O

.

"ada apa umma..?" tanya seorang namja buncit pada sosok yeoja yang sedang menggerutu tidak jelas di depan TV.

"eh, terima kasih kibummie." Sosok yeoja yang di panggil 'umma' itu menghentikan aktifitas menggerutu tidak jelasnya dan mengambil minuman yang sudah di bawa namja manis di depannya.

Kibum terseyum "ne, umma" kibum beralih duduk di samping yeoja itu. Tempat duduk yang sama siwon tadi duduki.

"apa siwon selalu seperti ini?" tanya umma Choi –Boa- pada namja manis di sampingnya.

"maksud umma?" dahi kibum berkerut.

'Tek'

Bunyi sedikit keras gelas yang baru jaejoong taruh, matanya melirik kibum.

"apa seperti ini siwon setiap hari? Bersikap dingin padamu?" kibum tersenyum.

"umma pasti tau"

'Haaah'

Boa menghela nafas, dasar Choi!

"sudah ku duga, apa kau tak lelah sayang?" Boa mengelus surai hitam sebahu kibum, prihatin sekali dengan menantunya.

Hidup sendiri, cintanya tidak terbalaskan, menikah karna perjodohan yaa walaupun awalnya tidak berjalan mulus tapi di akhirnya Boa dan Kangta –suaminya- bisa berbahagia. Saling mencintai hingga mempunyai anak tunggal yang sangat tampan.

Dan tolong ingatkan Boa dia hidup sendiri bukan karena bernasib sama seperti kibum, hanya saja Boa ingin hidup sendiri dan itu lain dengan kibum.

"lelah? Menghadapi sikap siwon umma?" tanyanya lagi dan di balas senyum dan anggukan Boa.

"kalau di bilang lelah ya pasti umma tau, tapi kibum tidak pernah bisa mengeluh" jawab kibum sambil menyenderkan bahunya pada Boa.

Ia sangat ingin di belai oleh tangan ummanya sendiri, ingin menceritakan keluh kesahnya pada seorang yang di panggil umma ataupun appa.

Kibum ingin, tapi tidak bisa.

"berapa umurnya kibum?" tanya Boa membelai perut kibum yang buncit.

Gerakkannya memutar, kibum terkekeh geli apa yang Boa lakukan padanya.

"5 bulan, minggu depan 6 bulan umma" ucap kibum sambil bangkit dari senderannya dan mengambil cookies yang ada di meja. Memutar tutupnya dan mengarahkannya pada Boa.

"umma mau?" tanya kibum menawarkan cookies coklat pada Boa. Boa hanya menggeleng

"anii, makanlah biar cucu umma sehat dan Choi Kibum apa kau lupa umma tidak makan manis-manis" ucap Boa. Kibum hanya tersenyum malu. Selalu seperti ini, ummanya yang cantik ini selalu memanggilnya Choi Kibum.

Boa hanya terkekeh, mencolek dagu kibum.

"kau malu hmm?" ledek Boa pada kibum.

"Umma~" suara manja kim kibum aish maksudnya Choi Kibum itu sangat lucu.

Anyyeong^^

Hai hai hai hai shfly9 comeback..

Ada yang nunggu ff ini?

Saya berniat ngelanjutin lagi nih ;)

Berapa bulan ff ini terbengkalai?

4 bulan? 5 bulan?

Kajja kajja

Review pliss *puppy