Author Notes:

Huwooooo! #koprol sambil bawa lampion.

Ada yang revieeeew! Makasih, makasih, minna-san. #usap air mata pake kolor Akiteru

(Akiteru: Oi!)

Bener-bener makasih ya, udah direview. Kirain fic ini bakal ternistakan dan terbuang.

shigatsu-sanjyunichi: iyah, beneran, Si Saki bakal dipasangin ama Si Kei. Akiteru nggak akan ngungkit, kok. Kan ntar dikasih ramuan penghilang ingatan ama Author. Aduh, Akiteru, jangan lempar ulekan ke sini, dong! Makasih atensinya yah. Udah difollow juga. Author terharuuuu. Sini peluuuuk! #ditendang

Keitsurou Miyuna: Tsukki emang gitu mah, pedes di mulut tapi hatinya… juga pedes. Ahahah. Kasian ya si Saki (yg ngenistain kan Author juga #author labil). Thanks reviewnya yah. (Sungguh daku nggak menyangka ada yg review).

Thanks buat Koro-kun, Akane Kiku, dan Ashizuka11 yang udah fav dan follow ini story. All your supports are really matters to me.

Sebagai redemption, karena author lama apdetnyah. Dua chapters sekaligus buat minna. Cup-cup mmuah-mmuah.

Hectic hours, enjooooy.

.

.

Disclaimer: Haikyuu is not mine. Kalau Haikkyuu punya daku, tidak akan kubiarkan abang Tsukishima Kei dianggurin.

Genre: Romance, Humor

.

.

Kalau Kei bukan orang yang tenang dan penuh kontrol, dia pasti sudah berteriak-teriak tidak jelas saat ini. Bagaimana bisa, ibunya sendiri, yang melahirkannya dengan susah payah dan katanya menyayanginya bagai sang surya menyinari dunia, tega-teganya sudah memberikan kamar yang ditinggalinya sejak kecil kepada gadis itu?!

Garis bawahi itu!

Kamar Kei, anaknya. Kepada gadis itu, seorang gadis asing.

Namun titah Megumi adalah mutlak, absolut. Dia bahkan bawa-bawa gunting untuk menegaskan fakta itu. De fakto dan de yure, kamar Kei berpindah tangan kepada seseorang yang baru dikenalnya selama satu jam terakhir. Gimana nggak kesel, coba?

Kei hanya melongo saat gadis itu menjamah teritorinya. Padahal sebenarnya Saki hanya memasuki dan mengamati kamarnya saja, tidak lebih. Tapi tingkat kesensian Kei sudah sampai level merah.

"Oh, karena ini kamarmu berarti kau yang bantu beres-beres barang-barangmu, ya, Kei. Pindahkan ke kamar tamu. Sekalian bantu Saki merapikan bawaannya." Ibunya mengedip penuh ancaman dari balik pintu kamar. Kei bergidik. "Oh, ya, kalau nemu majalah porno bakar saja, ya, Saki."

"Oi, bu!"

"Siap, bibi!" Saki memberi hormat ala tentara.

"Apa-apaan kau, juga?" protes Kei pada Saki. Saki mengendikkan bahu. Cuek. Badannya lelah semenjak perjalanan dari rumah ke Miyagi. Karena itu, ketika melihat kasur dia segera meletakkan kopernya ke lantai dan menghempaskan pantatnya ke kasur tanpa sungkan. Sebenarnya Saki sungka, tapi derita dan bokek bisa menyebabkan seseorang melanggar prinsipnya sendiri. Dan Saki telah mengalami hal yang disebutkan pertama.

"Empuuuk…" desahnya nikmat sembari menutup mata.

"Tsk."

Ah, suara itu lagi. Saki menampakkan kilau hijau matanya.

Kenapa sih, cowok ini mukanya asam melulu. Seperti jamu saja.

Ih.

'Ganteng-ganteng muka jamu, hati sepahit empedu.' Saki mulai puitis kalau sudah bawa-bawa perasaan.

Gadis itu cemberut, soalnya capek kalau harus pasang tampang ceria terus. Lagipula remaja di depannya ini tidak merespon positif usahanya untuk berbuat ramah.

Sedangkan Kei dari tadi mengamati gadis yang masih duduk-duduk di kasur kesayangannya. Jangan salah. Bukan karena dia suka dengan kasur itu, tapi status sebagai kasur kesayangan disematkan oleh Kei hanya gara-gara dia tidak rela kasurnya dijamah oleh Saki seenaknya.

'Sudah seenaknya mengambil kamar orang, tidak minta maaf sedikitpun. Kau gadis dengan tipe seperti itu ya,' Kei mencibir dalam hati. Dia bukan orang yang suka meledak-ledak untuk menunjukkan emosinya. Kei lebih suka memakai kata-kata pedas dan berbisa untuk menyampaikan semuanya.

'Baiklah,' putusnya. Kilatan jenaka, tapi versi menakutkan, tampak di mata sewarna bulan milik Kei.

Melihat Kei yang sedang senyum-senyum sadis, Saki tiba-tiba teringat firasat buruk dalam bentuk penampakan boxer warna-warni milik kakaknya yang dilihatnya pagi ini.

"Hah. Merepotkan. Masa membereskan kamar sendiri harus dibantu, seperti anak kecil saja. Atau dia pikir dirinya tuan putri?" Kei melempar senyum miring, semiring rencananya.

"Oi. Aku bisa kok beres-beres sendiri," Saki membela diri mengawasi Kei yang kini menjamah kopernya, namun yang diajak bicara menganggapnya seolah-olah tidak ada.

'Anak ini apa-apaan sih?'

"Ya, ya, ya. Baiklah kalau itu kemauannya. Tinggal di sini silakan. Mau ambil kamarku juga silakan. Cukup tahu saja, deh, kalau tamu kami itu-"

Kei melirik sambil ber-smirk ke arah Saki. Seriusan, Saki merasa seram.

"-ternyata orangnya tidak tahu malu."

JLEB!

Sebuah panah menancap di punggung Saki. Bukan panah cupid, tapi panah pembunuh siluman milik pendeta wanita di anime Inuyasha. Walaupun cuma imajinasi, tapi rasanya tetap sakit, pemirsah.

'A-aku disindir. Sialaaan! Tanpa disindir pun aku juga sudah merasa tidak enak, tauuu. Kenapa harus bawa-bawa perasaan, Kei-teme!' sumpah serapah Saki dalam hati dalam posisi OTL. Sial, kalau begini terus-terusan, dia bisa masuk rumah sakit karena gak kuat mental.

'Eh, tapi tunggu dulu. Aku kan nggak salah apa-apa. Ibunya kan yang mengambil keputusan kalau kamarnya jadi punyaku. Bukan aku yang minta. Tapi kenapa dia bicaranya kasar begitu?'

Saki menatap Kei dari posisi OTL-nya. Beneran, deh. Kei yang tingginya kaya galah jadi makin mengerikan kalau dilihat dari bawah. Senyum miringnya masih tersemat cantik, tapi nggak enak buat Saki. Efeknya adalah kerontokan harga diri dan intimidasi yang luar biasa. Sudah tubuhnya kalah tinggi –jauh-, dia harus menerima bully dari cowok ini. Apa cowok ini mau main-main? Apa cowok ini cowok sadis?

Tiba-tiba sebuah kesadaran menyentak pemikiran Saki.

Tidak. Kei tidak mau balas dendam. Malah jauh dari itu.

'Jadi kau maunya begitu, ya?'

Kei menaikkan sebelah alisnya saat Saki bangkit.

'Baiklah,' pikir Saki. Kali ini ikutan ber-smirk ria.

'Challenge accepted!'

Berikutnya, Saki membuka kopernya yang tadi menganggur, mengeluarkan baju-bajunya sambil berdendang jingle Doraemon yang dimix dengan opening Crayon Shin-chan. Sedangkan Kei hanya mendesah bosan.

Rencananya memprovokasi gadis itu rupanya tidak berhasil.

"Nee, Farrel dan Raisa."

Kei menoleh, mendapati Saki sedang memegang dua buah boneka Engry Bird yang sama-sama buluk, sama-sama melotot, dan sama-sama hitam. Mana yang Farrel dan mana yang Raisa, Kei sungguh tidak paham.

"Tadi aku ketemu sama cowok berkacamata loh. Lumayan ganteng, sih. Tapi…." Saki melirik tajam ke arah Kei yang lagi bengong, "-sayangnya dia doyannya sama kakaknya. Ih."

'APAAA?'

Kemarahan Kei sudah sampai di ubun-ubun.

'Do-doyan sama kakak sendiri? Dia berpikir aku senista itu?' Kei misuh-misuh dalam hati.

Kucing tetangga sebelah sudah teriak-teriak 'SIAGA SATUUU!'.

Nggak mau kalah, Kei melengos. Dihampirinya replika mini dinosaurus yang ada di meja. Kalau Saki mainnya begitu, Kei juga bisa kok bermain dengan pola yang sama.

"Nona besar yang numpang tinggal di sini itu, sepertinya suka padaku ya."

Kaget, mata Saki sudah berbentuk segitiga tanpa pupil.

"Tapi cewek mesum yang sudah melihat 'barangnya' kak Akiteru selama lebih dari dua detik bukanlah tipeku."

'Uhuk! Aku dikatai mesum?!' Saki mulai batuk darah. Rasa-rasanya ada yang menjatuhkan harga dirinya ke kawah, dan tiba-tiba dia merasa jadi emo tingkat tinggi.

'Bertahan, Saki, bertahan. Defence! Defence!'

"N-nee, Farrel dan Raisa. Coba kalian lihat cowok berkacamata itu. Seram, kan? Preman, kan? Tampangnya tukang bully, kan? Tapi coba kalau kacamatanya dilepas, bentuk matanya pasti seperti Nobita yang kaya angka tiga! Cupu! Ahahahaha!"

Kei melepas kacamatanya, menampakkan bola mata keemasan miliknya kepada Saki.

Satu kata: ganteng.

'Asem,' Saki cuma kepikiran satu kata itu. Tapi dia harus berpikir cepat untuk membalas perbuatan Kei padanya.

Saki mengambil benda –apapun itu- dari dalam koper untuk cari ilham, sekalian untuk isu pengalihan, dikiranya kopernya itu kantong ajaib Doraemon, apa. Dan ternyata yang terambil adalah piagam penghargaan dari lomba memanah tingkat prefektur.

"Hooo, rupanya nona besar ini pernah dapat piagam, ya? Keren. Sekarang aku harus minta tanda tangan, gitu?"

"Huh, asal tau aja, aku hebat dalam membidik sasaran, nona Keiko-"

'Keiko?!' Kei merasa terhina. Dia punya otot, kok. Jangan panggil dia Keiko!

"-Aku juga pernah menembak pantat orang dari radius 200 meter karena mengataiku yang tidak-tidak."

"Itu ancaman?" sinis Kei.

"Menurutmu?"

Bukannya menjawab, Kei malah berjalan mendekati Saki yang duduk di samping boneka kumelnya, tingkahnya itu diikuti oleh Saki yang tak lupa membawa piagam kebanggaannya tersebut.

Muka tembok versus bibir manyun. Mata emas lawan mata hijau. Yang satu menatap ke bawah yang satu menantang ke atas. Jarak antara tubuh mereka hanya kurang dari sejengkal. Ada listrik di mana-mana. Kalau ini anime sport pasti badai dan petir sudah menyambar-nyambar dengan gagahnya.

Selama beberapa waktu pose mereka statis, tapi lalu tanpa diduga oleh Saki, Kei tersenyum. Masih sinis, masih menyebalkan di mata Saki.

"Ya sudah kalau itu maumu, tuan putri-"

Tanpa disangka, tangan Kei terulur mengambil piagam penghargaan panahan yang dibingkai oleh frame foto dari tangan Saki. Jemari panjang dan kasar menyentuh jemari kecil nan halus. Saki terkejut, tapi wajahnya tetap lempeng. Cuma matanya agak melotot sedikit. Selebihnya dia hanya mengamati sejauh apa pemuda ini akan bertindak.

Ternyata Kei menjauh, meletakkan piagam itu di meja belajarnya. "-kamar ini sekarang milikmu. Aku sudah puas mainnya."

Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, pemuda jangkung itu melenggang pergi dan menutup pintu.

Di dalam kamar, Saki rubuh. Pantat menyentuh lantai, dan napas yang ditahannya dari tadi terlepas.

Berhadapan dengan Kei itu rasanya nano-nano, nanodayo. Marah, takut, tersinggung, kesal, bingung. Semuanya dimix secara tidak karuan.

Tapi sekarang dia sudah lolos dari uji nyali. Sejenak, dia merasa senang karena lepas dari sosok Tsukishima Kei yang judesnya ampun-ampunan. Senyum Saki pun mengembang kemana-mana. Bahkan Farrel dan Raisa dipeluknya dan diciuminya. Sekarang tinggal acara beres-beres. Saki sungguh amat sangat TIDAK KEBERATAN kalau Kei tidak ikut membantu. Barang-barang Kei bisa dia antarkan ke kamar baru cowok itu nanti.

Habisnya Kei menyebalkan, sih.

Tapi-

Saki menunduk, melihat tangannya yang tadi sempat bersentuhan dengan jemari Kei.

Di kamar tamu yang kini akan didiami Kei, si bungsu Tsukishima juga melakukan aksi yang sama pada tangannya. Sorot mata tak mengerti terpancar dari mata mereka.

'Kontak fisik, ya?'

Anehnya, mereka juga tak sengaja berpikiran hal yang sama.

.

.

.

TO BE CONTINUED

(NEXT CHAPTER IS UP)