Mansion Uchiha, Kamar Sasuke
Sasuke merasa gugup. Sasuke sungguh merasa gugup. Ia tak pernah merasakan segugup ini semasa hidupnya.
Ia gugup dan sungguh sangat gugup. Di makannya dan ditelannya buah tomat bulat-bulat.
Ia pun berdiri di depan cermin di kamar rumahnya.
Wajah tampan, cek
Rambut melawan gravitasi, cek
Three piece suit, cek
Cincin?? Di mana ia meletakkan cincinnya ya??
Dia pun melihat-lihat ke ruangan kamarnya sambil mencoba dipikirnya dimana ia meletakkan kotak kecil merahnya itu. Setelah mengubrak-abrik kamarnya, tak kunjung juga ditemukannya kotak merah kecil miliknya. Dengan jelas ia tadi menaruhnya di depan cermin, sebelum ia pergi ke kamar mandi untuk mandi.
Melihat kamarnya yang berantakan, maka dirapikannya kamarnya. Siapa tahu kotak kecilnya ada ditumpukan barang-barang yang berserakan itu, tapi setelah dirapikannya masih juga belum ketemu.
Karena belum ketemu kotak merah itu, diobrak-abriklah kamarnya lagi. Dan begitu seterusnya. Diberantakannya kamarnya untuk mencari benda merah itu kemudian dirapikannya lagi siapa tahu benda merah itu ada di tumpukan barang-barang yang tadi diberantakannya. Begitu seterusnya..
Itachi, yang tidak sengaja melihat adik tersayangnya dari pintu kamarnya yang sedikit terbuka hanya mengamati dari kejauhan. Melihat perilaku 'normal' adiknya dengan wajah yang datar.
"Kau mencari sesuatu, Ototou??" Kata Itachi pada akhirnya setelah bosan melihat tingkah 'normal' adiknya itu.
'Diamlah kau Aniki, jelas-jelas aku sedang mencari sesuatu. Atau jangan-jangan kau yang mengambilnya ya??' duga Sasuke kemudian.
"Ambil apa?? Hatimu??"
Sasuke hanya membalasnya dengan tonjokan di muka jeleknya itu.
'Ambil kotak kecil merah yang kugeletakkan di depan cermin ini, selain kau tak ada yang berani masuk tanpa seijin aku terlebih dahulu.'
"Oohh kotak kecil merah itu.."
'Kau mengambilnya??'
"Tidak, aku tidak mengambilnya."
'Terus mengapa barangnya tidak ada kalau kau tidak mengambilnya, Keriput Jelek.' kata Sasuke yang kini telah yakin kalau Kakaknya lah dalang dari semua ini.
"Aku tidak mengambilnya, buat apa aku mengambil kotak kecil merah tak berguna itu. Kalau aku mau aku bisa mendapatkan kotak merah yang lebih besar, tidak kotak kecil merahmu itu."
'Jadi..??' kata Sasuke masih belum mempercayainya.
"Jadi aku membuangnya. Melihatnya hanya membuatku kesal."
'Kau tidak mengambilnya, tapi kau membuangnya??'
Itachi hanya menganggukan kepalanya tak bersalah, sambil membuat ekspresi seperti mengatakan "Knapa emangnya ada yang salah??"
Seperti tak menyadari kalau aura adiknya telah berubah dari keadaan normal menjadi mode killing at sight, ia pun mengatakan,
"Benda merah kecil itu hanya mengingatkan aku kepada Kyu-can. Sungguh benda yang benar-benar tak berguna. Aku tak suka ada warna merah di rumah ini. Mereka hanya mengingatkanku pada Kyu-can ku yang manis dan baik hati itu. Jadi aku membuangnya. Sapa suruh kau tak mengunci pintumu dan membuatnya terbuka sehingga aku bisa melihat benda merahmu itu??
Selain tomat tak boleh ada benda lain yang berwarna merah di pandangan mataku. Simbol clan yang bertebaran di rumah ini saja sudah membuatku ingin menculik Kyu-can dan mengrapenya." kata Itachi dengan wajah manisnya yang selalu ia keluarkan kalau iya menceritakan tentang rubah merah manisnya itu.
Duaggg.. Pukulan telak datang tepat mengenai wajah keriput Itachi, yang entah dari mana datangnya.
'Aniki, sebelum kesabaranku habis segera kau cari kotak merah itu. Jangan harap kau bisa mengrape rubah merahmu kalau kau tidak mempunyai lagi burung kecilmu itu' kata Sasuke yang entah kapan mengeluarkan pedang kusanagi miliknya.
Melihat Itachi yang tak kunjung pergi dari tempatnya, Sasuke pun mengayunkan pedangnya ke arah Itachi. Tapi Itachi berhasil menghidar dari tebasannya di detik-detik terakhir.
Suasana di mansion Uchiha yang tadinya sepi menjadi gaduh dan ramai. Terdengar bunyi barang pecah dan barang yang berjatuhan. Terdengar pula suara teriakan minta tolong dari Itachi.
"Sasuke-sama sedang mengejar Itachi-sama dengan membawa pedang dan mengayunkannya kepada Itachi-sama dengan tatapan yang membunuh, Nyonya. Perlukah kita menghentikan mereka Nyonya??" kata Kepala Pelayan kepada Mikoto, ibu dari Itachi dan Sasuke.
"Tidak perlu, aku tak mau merusak kesenangan mereka. Jangan khawatir mereka hanya main kejar-kejaran. Kau tahu permainan anjing dan kucingkan atau polisi dan pencuri?? Kurasa mereka sedang memainkan itu. Dasar anak muda, memang tak tahu tempat." kata Mikoto sambil melanjutkan acara minum tehnya di ruang makan. Tak dihiraukan siluet kedua anaknya yang lalu-lalang saling kejar-kejaran.
Kepala Pelayan yang mendengarnya hanya mengangguk-angguk tanda mengerti. Kemudian menyuruh para pelayan yang lain untuk melanjutkan tugas mereka seperti biasa.
Sini, mendekatlah Itachi, jangan kau lari.. aku akan menebasmu..
Tenanglah.. Aku akan melakukannya dengan cepat.. Akan kuusahakan itu tak akan sakit..
Ayolah kenapa kau lari, bukankah kau ingin memberi hadiah kepada rubah kecilmu itu..
Dia akan senang dapat kiriman potongan burung kecilmu di depan pintu rumahnya, Itachi.. Iya kan?? tak ada salahnya dicoba..
Itulah beberapa hal dari banyak hal yang dikatakan Sasuke dalam mode gilanya. Dan Itachi hanya menjawab semua pertanyaan adik manisnya itu dengan jawaban yang sama,
Tidaaakkkkk... Seseorang tolonglah aku.. Kyu-can burung kesayanganmu diambang kepunahan..
Tidaaakkkk.. Aset berhargaku..
Sambil terus berlari mengindari setiap tebasan yang selalu hampir mengenainya.
