"Menikahlah denganku! Tidak, kau harus menikah denganku, Haruno Sakura!"
"Apa kau sudah gila, Uchiha Sasuke?!"
.
.
.
Naruto by Masashi Kishimoto
Marry Me!
By chocoaddicted
.
.
.
Chapter 2
Marry me!
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
"Kau sedang mabuk ya, Uchiha?"
Mata Sakura terbelalak memandang aktor tampan di hadapannya. Ia tidak mengerti mengapa lelaki itu tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa Sakura adalah kekasihnya. Tidak mungkin aktor yang sedang terlibat skandal ini tiba-tiba jatuh cinta pada Sakura karena lemparan kulit pisang kemarin. Jika memang benar, berarti Sasuke termasuk pria yang aneh.
Tiba-tiba saja Sakura menyadari sesuatu. Gadis itu menolehkan kepala ke sepenjuru arah seolah mencari sesuatu. Kemudian ia kembali menatap Sasuke dengan wajah serius membuat Sasuke menatapnya bingung.
"Apa ada kamera tersembunyi di sini?"
Sasuke menahan tawa melihat wajah konyol Sakura. Gadis di hadapannya ini benar-benar polos. Ia pasti berpikir jika Sasuke sedang syuting acara TV di mana ada kamera tersembunyi yang berniat menjahili gadis itu.
"Ikut aku,"
Sasuke tidak menjawab pertanyaan konyol Sakura. Ia menggenggam tangan Sakura dan menariknya masuk ke dalam restoran. Sakura yang masih tidak mengerti situasi hanya menuruti Sasuke, ia berpikir jika ada kamera tersembunyi yang sedang merekamnya. Gadis bermata emerald itu bahkan sempat merapikan rambut ketika Sasuke membawanya ke sebuah ruangan khusus tamu VVIP. Sasuke terdiam sesaat di depan pintu geser dan menyempatkan diri memandang Sakura.
"Jangan bicara apapun. Kau hanya perlu tersenyum. Biarkan aku yang menjawab semua pertanyaan nanti. Kau mengerti?" ucap Sasuke tegas menatap gadis di hadapannya.
Oh, mungkin nanti ada kuis berhadiah. Ya sudah aku biarkan saja si sombong Sasuke yang menjawab.
"Baiklah," Sakura menyahut enteng. Sasuke menghela napas lega.
Pria bersurai hitam itu mengetuk pintu dan menggesernya. Terlihat Fugaku masih duduk tenang memandang kehadiran Sasuke bersama dengan seorang gadis manis bersurai merah muda. Seketika Fugaku mengingat mendiang istrinya. Pasti Mikoto akan menjerit senang melihat gadis yang memiliki rambut berwarna merah muda ini.
Sasuke menyenggol lengan Sakura pelan memberi kode dengan mata. Seakan mengerti, Sakura membungkukkan badan memberi salam kepada pria asing yang duduk tenang di atas lantai tatami.
"Duduklah," Fugaku menyuruh Sasuke dan Sakura duduk di hadapannya.
Sasuke tersentak melihat Fugaku tersenyum tipis menatap Sakura. Mungkin rencana Sasuke akan berjalan lancar. Sepertinya ayah menyukai gadis ini, syukurlah. Semoga saja gadis ini tidak membuatku repot.
"Siapa namamu?" Fugaku bertanya lembut meski wajahnya terlihat datar. Lagi-lagi Sasuke dibuat terkejut melihat tingkah sang ayah.
"Ya?" Sakura bergumam kaget mendengar pertanyaan Fugaku yang diarahkan padanya.
Seingat gadis itu, Sasuke menyuruh untuk diam dan membiarkan pria itu menjawab semua pertanyaan. Jadi, apa Sakura tetap harus menjawab pertanyaan dasar itu? Sakura jadi bingung. Tiba-tiba ia merasa senggolan di lengan. Sakura melirik Sasuke dan dijawab tatapan tajam Sasuke yang seolah berarti 'Cepat jawab pertanyaannya!'.
"Nama saya Haruno Sakura. Senang bertemu dengan anda," Sakura cepat-cepat menoleh pada Fugaku dan memperkenalkan dirinya dengan sopan.
Fugaku tersenyum tipis seolah puas dengan sikap sopan Sakura. Pria yang usianya menginjak lima puluh tujuh tahun itu mengambil cangkir dan meletakkannya di hadapan Sakura. Fugaku menuangkan teh hijau ke dalam cangkir itu dengan hati-hati. Sasuke duduk mematung memerhatikan tingkah laku ayahnya yang tidak wajar.
"Minumlah, Sakura. Tidak usah terlalu formal denganku. Toh nanti kau akan menjadi bagian Uchiha, bukan?" Fugaku berucap lugas seolah hal yang ia ucapkan akan menjadi kenyataan. Berbeda dengan Sakura yang terkejut mendengar ucapan pria di hadapannya.
"Ya?" Sakura tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Sasuke merasa alarm bahaya mulai berdengung.
"Tentu saja Sakura akan menjadi bagian Uchiha, ayah," Sasuke menjawab dengan yakin. Fugaku tersenyum tipis mendengarnya.
"A—" baru saja Sakura hendak protes pada Sasuke, tapi pria itu menggenggam tangannya dengan erat di bawah meja menyuruh gadis itu diam, "aargh!"
"Kenapa, Sakura?" Fugaku bertanya khawatir karena melihat ekspresi Sakura yang menahan sakit.
"A, aku tidak apa-apa," Sakura tersenyum meringis memandang Fugaku. Sasuke tidak main-main mencengkeram tangannya. Ia akan memukul lelaki itu nanti.
"Kau yakin?" Fugaku menatap cemas calon menantunya.
"Sakura memang sedang tidak enak badan. Makanya aku tidak mengajaknya ke sini. Tapi, ayah memaksaku membawanya ke sini," Sasuke menyahut sebal.
Apalagi ini? Kenapa Uchiha Sasuke sombong ini berakting seolah-olah mengenalku dengan baik? Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apa kami sedang syuting parodi sebuah drama? Tapi, kenapa tidak ada kamera sama sekali? Sakura membatin bingung mencerna situasi yang sedang ia hadapi.
"Aa... Maafkan ayah kalau begitu," Fugaku tidak bicara pada Sasuke, melainkan Sakura.
"A, ayah?" Sakura membeo tidak mengerti.
"Ya, mulai sekarang kau bisa memanggilku ayah. Bukankah kalian nanti akan menikah juga?" Fugaku menjawab dan meneguk tehnya dengan pelan.
Sasuke berusaha memasang ekspresi datar meski sebenarnya ia terkejut melihat sikap sang ayah yang dingin menjadi ramah pada Sakura. Ia bahkan sempat berpikir jika yang diminum Fugaku saat ini adalah sake, namun melihat warna minuman itu Sasuke yakin itu adalah teh hijau kesukaan ayahnya.
"Me, menikah?" Sakura membuka mulutnya terkejut.
"Ayah kenapa mengatakan hal itu pada Sakura? Aku bahkan belum melamarnya. Jika seperti ini lamaran itu tidak bisa menjadi kejutan," Sasuke berakting seolah kesal dengan sang ayah.
"Kau belum melamarnya?" Fugaku bertanya bingung.
"Belum. Rencananya besok aku ingin melamarnya. Tapi, karena ayah sudah mengatakan aku akan menikahinya ya sudah," Sasuke mengangkat bahu tak acuh.
Sakura semakin bingung dengan alur cerita parodi drama ini. Ia tidak tahu harus berakting seperti apa karena dua pria lawan mainnya ini berakting sangat natural. Jadi, ia memilih untuk diam dan menyimak sambil melirik Sasuke dan Fugaku bergantian.
"Kau tetap harus melamarnya dengan cara yang romantis. Jangan memalukan Uchiha," Fugaku menasehati Sasuke.
"Ya, ya, aku tahu,"
"Kapan kalian akan menikah?"
"Kami belum memutuskan tanggal yang tepat,"
"Minggu depan saja. Ayah masih ada di Jepang sampai minggu depan. Setelah itu ayah harus ke Thailand mengunjungi kantor cabang di sana,"
"Mi, minggu depan?" Sasuke terkejut mendengar ucapan Fugaku. Sakura menatap Sasuke dengan bingung.
Akting kagetnya lumayan juga. Sakura bicara di dalam hati.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan meminta Kimimaro menyiapkan segalanya. Kalian tinggal mencari gaun pernikahan dan juga cincin," Fugaku berucap enteng.
"Jika ibumu di sini, ia pasti merasa sangat bahagia," Sasuke terdiam mendengar ucapan ayahnya. Fugaku menyumpit sepotong sushi dan menempatkannya di piring kecil Sakura, "makanlah yang banyak, Sakura. Aku ingin menantuku selalu sehat," ujarnya dengan senyum tipis.
"Terima kasih," Sakura tidak mengerti, namun ia membalas senyuman Fugaku. Ia merasa pria paruh baya di hadapannya ini begitu hangat meski wajahnya tanpa emosi seperti Sasuke.
Sakura memakan sushi yang diberikan oleh Fugaku sementara otaknya penuh dengan berbagai macam pertanyaan akibat situasi aneh yang sedang ia hadapi. Sedangkan Sasuke makan dalam diam. Otak pria itu sedang berpikir keras bagaimana caranya agar Sakura mau menjadi pengantin wanitanya. Gadis di sampingnya ini memang polos, tapi ia kelihatan keras kepala. Jadi, apa yang harus dilakukan Sasuke?
Setelah makan malam yang aneh itu selesai, Sasuke berinisiatif mengantar Sakura pulang. Gadis itu masih terlihat bingung dan menuruti begitu saja apa yang diminta oleh Sasuke. Sampai akhirnya pertanyaan konyol yang keluar dari gadis itu membuat Sasuke menepikan mobil untuk tertawa geli.
"Aku sama sekali tidak melihat kamera tadi," Sakura menatap Sasuke dan semakin bingung ketika pria di sampingnya tertawa geli.
"Kenapa kau tertawa seperti itu?!" Sakura menjadi kesal melihat Sasuke tidak berhenti tertawa.
"Apa aktingku sangat buruk?" Sakura bertanya hati-hati membuat Sasuke semakin tertawa keras melupakan bahwa ia adalah seorang Uchiha yang selalu stay calm.
"Berhenti tertawa, Uchiha bodoh!" Sakura semakin kesal dan memukul bahu Sasuke dengan keras.
"Aw! Kau kasar sekali sih!" Sasuke mengusap bahunya dan berhenti tertawa.
"Habisnya kau tertawa seperti orang gila!"
"Kau benar-benar lucu, Haruno Sakura," Sasuke mendengus menahan tawa. Saatnya ia memberitahu hal yang sesungguhnya pada gadis itu, "jadi, kau benar-benar berpikir kalau tadi ada hidden camera?"
"Bukannya kau sedang syuting parodi drama?" Sakura bertanya bingung.
Sasuke kembali mendengus, "Aku tidak sedang syuting tadi. Itu tidak direkayasa,"
Sakura terbelalak, "Apa maksudmu?! Jadi, jadi itu bukan sandiwara?"
"Tidak sepenuhnya sandiwara. Kau dan aku yang berpura-pura, sedangkan ayahku bersikap tanpa rekayasa," Sasuke menatap gadis di sampingnya dengan ekspresi tenang.
"Apa?! Jadi, jadi yang di hadapanku tadi itu Uchiha Fugaku CEO Uchiha Corp?!" Sakura memekik kaget.
"Kau pikir siapa lagi ayahku?"
Sakura menggeram dan membuka sabuk pengaman, ia mencengkram kerah kemeja Sasuke dengan erat membuat pria itu terpaksa mencondongkan diri padanya.
"Apa maksudmu melakukan ini padaku? Dan, dan apa maksudnya menikah yang dibicarakan kau dan ayahmu tadi?!"
Sasuke menatap iris emerald di hadapannya yang menatap penuh amarah dengan tenang. Meski cengkraman Sakura terasa mencekik leher, ia rasa memang pantas mendapatkan hal itu setelah membodohi Sakura selama makan malam tadi.
"Menikahlah denganku! Tidak, kau harus menikah denganku, Haruno Sakura!" Sasuke menatap kedua mata Sakura dengan serius.
"Apa kau sudah gila, Uchiha Sasuke?!" Sakura melepas cengkraman tangannya dan mendorong Sasuke hingga pria itu membentur pintu mobil.
"Aku harus pergi dari sini!" Sakura hendak membuka pintu mobil, namun mobil itu terkunci, "hei! Aku ingin keluar dari sini!" Sakura berteriak kesal menatap Sasuke yang duduk dengan santai sambil merapikan kerah kemeja.
"Kau tidak akan bisa pergi kemana-mana," Sasuke menyahut.
"Kau benar-benar gila. Buka pintu ini atau aku akan berteriak!" Sakura mengancam karena sudah tidak tahan berada satu mobil dengan aktor gila macam Sasuke.
"Coba saja. Mobil ini kedap suara, lagipula jalanan sangat sepi, jadi tidak akan ada yang mendengarmu," Sakura segera memandang jalanan yang memang sudah sangat sepi karena Sasuke sengaja melewati jalan yang jarang dilalui kendaraan. Sasuke menyeringai menang.
"Apa maumu, Uchiha Sasuke?" Sakura terpaksa duduk kembali dan menatap geram Sasuke.
"Bukankah ini lebih baik? Bicara dengan kepala dingin?" Sakura menatap sinis Sasuke yang bicara dengan santai, "aku hanya ingin kita menikah dalam jangka waktu tertentu hingga skandal itu hilang,"
"Jadi ini semua karena skandal gay itu? Kenapa kau melibatkanku dalam skandal yang kau buat sendiri?" Sakura kembali mengomel membuat kepala Sasuke pusing.
"Hanya ini jalan terbaik yang bisa aku lakukan. Kau pikir aku juga ingin menikah denganmu?" sahut Sasuke ketus.
"Kenapa kau tidak menikah dengan pasangan gay-mu saja?" Sakura kembali terpancing emosi melihat kesombongan Sasuke.
"Menikah dengan Sasori? Yang benar saja! Aku ini masih normal tahu!" Sasuke jadi terbawa emosi.
"Jangan bawa-bawa Sasori-kun! Ia terlalu tampan buatmu!" Sakura tidak terima aktor idolanya memiliki hubungan khusus dengan Sasuke.
"Kau menyukai Sasori?" Sasuke dapat menangkap dengan cepat bahwa gadis di sampingnya ini tergila-gila dengan sahabatnya itu.
"Ke, kenapa kau bertanya seperti itu? Aku ini hanya penggemarnya," Sakura menatap malu-malu Sasuke seperti sedang ketahuan mencuri sesuatu.
Sasuke memiringkan bibir dan mendekat pada gadis itu. Sakura segera merapat pada pintu mobil ketika merasa Sasuke semakin menghimpitnya.
"Aku bisa membuatmu dekat dengan Sasori asal kau membantuku menyelesaikan skandal ini,"
"Benarkah?"
"Aku bisa membuat kalian berpacaran asal kau mau menikah denganku selama tiga bulan. Setelah itu kita bercerai dan kau bisa bersama Sasori. Bagaimana?" ucapan Sasuke terasa bagaikan madu. Begitu mendengar nama Sasori disebut, telinga Sakura langsung bergerak merespon.
"Kau benar-benar akan melepasku setelah tiga bulan?" Sakura menatap onyx di hadapannya yang terlihat sungguh-sungguh.
"Benar," Sasuke mengangguk.
"Baiklah, aku akan menikah denganmu," Sakura tidak mengerti mengapa ia mau melakukan hal gila ini bersama Sasuke. Namun, senyum tulus pria itu membuat dada Sakura berdebar-debar.
"Terima kasih,"
Sakura menatap kosong monitor di hadapannya. Kejadian semalam bagaikan mimpi. Dalam waktu satu malam ia sudah menjadi milik Uchiha Sasuke dalam konteks status palsu. Ia merasa telah melakukan sebuah dosa besar karena mempermainkan ikatan pernikahan. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Semalam ia dan Sasuke sudah menandatangani surat perjanjian di apartemen Sasuke. Jika salah satu pihak melanggar, maka akan dikenakan sanksi satu milyar yen. Sakura jadi merasa ada banyak tangan imajiner yang mencekik lehernya.
Naruto terkejut ketika melewati meja kerja Sakura dan gadis itu terlihat bengong dengan penampilan berantakan. Rambut gadis itu kusut seperti tidak disisir. Benar-benar terlihat seperti orang yang baru saja ngebut naik motor tanpa menggunakan helm.
"Astaga! Sakura, kau baik-baik saja?"
Sakura menoleh dengan malas memandang sahabat sejak bayi yang berdiri di hadapannya. Pria itu terlihat rapi dengan kemeja biru, dasi biru dongker dan celana hitam.
"Ya, aku baik-baik saja," Sakura menatap kosong wajah Naruto.
"Aku rasa tidak begitu,"
"Kau tidak perlu mencemaskanku. Sebaiknya kau mencemaskan dirimu sendiri karena Itachi-sama sudah menunggumu sejak tiga puluh menit yang lalu,"
"Astaga! Aku lupa!" Naruto berseru dan segera masuk ke dalam ruangan Presdir yang tepat berada di samping meja kerja Sakura. Gadis itu adalah sekretaris baru Itachi sejak satu bulan yang lalu.
"Dasar bodoh," Sakura berdecak. Begitu ia melirik cermin yang ada di atas mejanya, gadis itu berseru kaget, "ya ampun!" gadis itu buru-buru berdiri dan pergi ke toilet untuk merapikan penampilannya.
Sakura merapikan rambut yang tidak ia sisir tadi pagi dan memakai lipstik saat mendengar dua orang gadis bicara di dalam bilik toilet. Sakura mendengarkan pembicaraan kedua gadis itu dengan seksama.
"Kau sudah dengar berita skandal baru Uchiha Sasuke?"
"Memang dia membuat skandal apa lagi? Sepertinya dia semakin ahli membuat skandal,"
"Sepertinya Uchiha Sasuke itu biseksual,"
"Apa?!"
"Semalam dia makan malam dengan seorang gadis dan berciuman di dalam mobil! Ini pasti pengalihan isu dari skandal gay itu!"
"Tapi, kau memang percaya kalau Sasuke itu gay? Dia terlalu tampan untuk menjadi seorang gay. Jutaan gadis pasti menangis karena hal itu,"
"Kau tahu sendirilah, pria tampan itu pasti sudah memiliki kekasih, jika belum pasti mereka gay!"
"Hahaha!"
Sakura buru-buru merapikan alat make up dan keluar dari toilet. Jadi, semalam paparazzi berhasil menggambil gambar dirinya dan Sasuke. Sakura segera mengambil ponsel dan membuka situs media sosial. Ia mengetik nama Sasuke dan muncul berita skandalnya yang masih panas.
Sakura memperbesar foto yang ia yakini adalah dirinya dan Sasuke, untunglah foto itu gelap sehingga tidak kelihatan jika itu adalah dirinya. Dan syukurlah semalam Sasuke memakaikan ia topi sehingga rambut merah mudanya tidak terlihat. Sakura bisa menghela napas lega saat ini.
"Hidupku pasti tidak akan tenang setelah ini," Sakura bergumam pada dirinya sendiri.
"Minggu ini?"
Kakashi tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Sasuke baru saja mengatakan bahwa ia akan menikah dengan seorang gadis akhir pekan ini, yang berarti tinggal empat hari dari hari ini.
"Ya, ayah sudah menyiapkan semuanya. Aku tidak bisa menghindari hal ini lagi," Sasuke menangkup kepalanya di atas meja bar. Hari masih sore, namun lelaki Uchiha ini sudah berada di bar hotel mewah.
"Apa gadis itu menyetujui pernikahannya?" Kakashi meneguk bir sambil memerhatikan Sasuke yang terlihat frustrasi.
Sasuke mengangguk, "Aku memaksanya untuk menyetujui pernikahan ini," ia meneguk bir dalam satu kali tegukan, "sebenarnya aku tidak ingin melibatkannya, tapi entah kenapa begitu melihat Haruno Sakura melintas di hadapanku, aku merasa ia bisa membantu,"
"Kenapa kau tidak serius saja dengannya dan tidak perlu membuat perjanjian kontrak itu?" Kakashi menatap Sasuke yang terlihat sudah mulai mabuk.
"Tidak tahu. Lihat saja nanti," gumam Sasuke yang sudah meletakkan kepala di atas meja bar.
"Hah... Dasar Uchiha," Kakashi menghela napas panjang dan meminum birnya.
Sakura sedang asyik berjalan di taman Uchiha Corp sambil menendang batu kerikil. Kepalanya terus menunduk dan langkahnya berhenti ketika melihat sepasang sepatu nike abu-abu berdiri di hadapannya. Begitu ia mengangkat wajah, Sakura langsung mengenali bahwa yang berdiri di hadapannya adalah Sasuke meski pria itu memakai masker dan topi hitam.
"Ikut aku,"
"Kemana?" Sakura bersikap defensif. Sasuke jadi gemas melihatnya.
"Ke apartemenku,"
"Tidak mau. Aku mau pulang, aku lelah!" Sakura berjalan hendak melewati Sasuke, namun pria itu menarik tangannya dan menyeret Sakura menuju mobil mewah berwarna hitam milik Sasuke.
"Jangan membantah dan ikuti saja apa kataku!" Sasuke memaksa Sakura duduk di dalam mobil membuat gadis itu menggurutu kesal.
"Selalu saja seenaknya!" Sakura menatap tajam Sasuke yang memutari moncong mobil, lalu duduk dengan manis di belakang kemudi.
Sasuke hendak menyalakan mobil, namun ia menghentikan gerakannya ketika menoleh pada Sakura. Pria itu melepas topi dan masker. Ia juga melepas sabuk pengaman yang sudah terpasang.
Sakura memerhatikan Sasuke yang melepas sabuk pengaman dan mencondongkan tubuh padanya. Refleks, gadis itu mundur dan menempel di pintu mobil. Tiba-tiba saja ia berdebar-debar saat Sasuke semakin dekat menghimpitnya dan terlihat seperti ingin memeluk Sakura.
"A, apa yang kau lakukan?"
Klik.
"Tentu saja aku memasang sabuk pengaman jika kau tidak ingin kepalamu benjol," melihat ekspresi bodoh Sakura yang bengong, Sasuke menyeringai, "apa yang kau pikirkan? Kau pikir aku akan menciummu? Dasar mesum,"
"A, apa katamu?! Aku tidak berpikir seperti itu!" Sakura merasa wajahnya panas. Ia segera memalingkan wajah menghadap jendela dan mengipasi wajahnya dengan tangan.
Sasuke mendengus menahan tawa, "Sangat berbanding terbalik dengan ekspresimu,"
"Bisa diam tidak?!" Sakura menatap sengit Sasuke yang dibalas sikap acuh tak acuh pria itu, "untuk apa sih kita ke apartemenmu?"
Sakura menunggu jawaban Sasuke, tapi setelah lima menit berlalu pria itu tidak kunjung menjawab. Ia semakin kesal dan menatap Sasuke dengan sinis.
"Kau tidak bisa bicara ya? Aku bertanya padamu!"
"Tadi kau menyuruhku diam," sahut Sasuke cuek sambil memutar kemudi mobil ke arah kanan.
"Kau benar-benar menguji kesabaranku," Sakura menepuk dadanya seolah kesabarannya akan habis.
Sasuke melirik Sakura sekilas dan menyunggingkan senyum miring, "Kita akan mencoba gaun pengantin,"
Sakura menggigit bibir bawahnya gugup, "Bisa tidak jika perjanjian itu dibatalkan? Aku merasa berdosa jika mempermainkan pernikahan," Sakura melirik Sasuke takut-takut.
Ckit!
Pria bersurai raven itu mengerem di tampat parkir bawah tanah apartemen. Ia menatap Sakura dengan onyx-nya yang tajam membuat gadis itu menciut seketika.
"Jangan bercanda! Undangan sudah tersebar, gedung pernikahan sudah siap, cathering pun sudah di pesan. Kau ingin mempermalukan Uchiha? Kau ingin dipecat dari pekerjaanmu?"
"Kenapa kau membawa-bawa pekerjaanku?" Sakura menjadi kesal mendengar ancaman Sasuke.
"Kau memang bekerja di Uchiha Corp 'kan? Menurutmu apa Itachi akan diam saja jika salah satu pegawai yang ternyata calon pengantin adiknya melarikan diri dari pernikahan dan membuat malu klan Uchiha?" Sasuke mengatakannya dengan tajam membuat Sakura terdiam tidak bisa menjawab.
Pria itu menghela napas lelah dan memilih keluar dari mobil. Sakura menggigit bibir bawahnya menahan tangis. Mengapa takdir mempermainkannya seperti ini? Kenapa bukan Haruno lain saja yang bertemu dengan Sasuke malam itu? Sakura masih punya tanggungan kedua orangtuanya di desa, jadi ia tidak boleh kehilangan pekerjaan.
Gadis itu akhirnya keluar dari mobil dan menyusul Sasuke yang sudah masuk ke dalam gedung apartemen. Mungkin hari-harinya akan berat setelah ini, tapi Sakura cukup memikirkan orangtuanya saja sehingga ia yakin bisa melewati ini semua.
Sakura, kau pasti bisa! Semangat! Gadis itu mencoba mengumpulkan semangatnya agar kesedihan tidak muncul.
Sakura berdiri di samping Sasuke ketika pria itu menekan password apartemennya. Ia memang berdiri di sana karena Sasuke memaksa gadis itu untuk menghapal password apartemen. Ini dilakukan Sasuke hanya sekadar untuk menguatkan alibi dan mencegah hal-hal yang akan muncul ke depannya yang entah apa itu. Sasuke tipe pria yang selalu berpikir panjang, bahkan terlalu panjang sampai membuat kepala Sakura tak habis pikir.
"Kau tidak takut aku mencuri barang-barangmu?" Sakura menatap Sasuke dengan aneh.
"Sebelum kau melakukannya, satpam di bawah sudah membawamu ke polisi," Sasuke menyeringai dan membuka pintu apartemen. Sakura mendengus mengikuti Sasuke masuk ke dalam apartemen.
Gadis itu terpesona melihat interior elegan apartemen Sasuke. Apartemen mewah memang jauh berbeda dengan apartemen miliknya bersama Ino. Pasti harga apartemen Sasuke ini sepuluh kali lipat dari apartemennya.
"Ikut aku," Sasuke menggerakkan jari telunjuk agar Sakura mengikuti pria itu.
Gadis itu menghentikkan kegiatan noraknya memerhatikan ruang tamu apartemen dengan mulut menganga. Ia mengekori Sasuke di belakang punggung pria itu. Sasuke membuka pintu sebuah ruangan yang berisi pakaian-pakaiannya yang ditata dengan sangat rapi. Sakura tidak heran kenapa pria di depannya itu begitu perfeksionis, ruang pakaiannya saja sangat rapi begini. Apa jadinya jika Sakura membuatnya berantakan? Mungkin Sasuke tidak segan-segan menendang bokongnya dari apartemen.
"Kau coba gaun yang ada di sana," Sasuke menunjuk deretan gaun putih yang terlihat menawan di tengah ruangan.
"Wow! Gaunnya sebanyak ini? Apa aku akan memakai semuanya?" Sakura menghampiri gaun itu dengan mata berbinar-binar.
"Memangnya kau peraga busana ingin memakai semuanya?" Sasuke menyahut ketus membuat Sakura mencebikkan bibir, "aku tunggu di luar. Jangan lama-lama. Aku paling sebal menunggu," Sasuke memberi tatapan tajam sebelum keluar dari ruangan.
"Gayanya itu seperti bos saja. Padahal dia sangat membutuhkanku untuk sandiwara ini," Sakura mengepalkan tangan seolah meninju Sasuke, "tapi, gaun ini sangat cantik. Jika aku tidak menikah dengannya, aku tidak yakin sanggup membeli gaun secantik ini," Sakura tersenyum lebar menyentuh gaun pernikahan yang disiapkan Sasuke.
"Hm... Aku mulai dari yang mana dulu ya?" Sakura memilih salah satu gaun tanpa lengan yang menonjolkan bahu yang terbuka.
Gadis cantik itu mulai membuka pakaiannya dan memakai gaun pertama. Setelah merasa gaun itu tidak akan turun dari dadanya, Sakura keluar dari ruangan. Gaun itu tampak cantik dengan pita berwarna ungu di bawah dada dan menyampir hingga belakang pinggang. Bagian bawahnya terbuat dari bulu-bulu yang lembut. Rasanya Sakura ingin memotong bagian bawah gaun tersebut untuk dijadikan selimut.
Begitu Sakura membuka pintu, sosok Sasuke langsung menyambutnya di depan pintu tersebut. Pria itu duduk di kursi dengan kaki yang bersilang dan kedua siku diletakkan di atas tangan kursi. Tatapan matanya mengernyit memerhatikan Sakura.
"Ganti,"
"Hah?" Sakura berdecak mendengar satu kata dari Sasuke. Ia pun berbalik dan menutup pintu.
Gadis itu kembali menghampiri gantungan berisi gaun-gaun. Ia memilih gaun dengan model rok bagian depan pendek dan memanjang di bagian belakang hingga menyentuh lantai. Bagian bahunya terbuka dan ada pita putih yang menjadi penghias di bagian bawah dada. Sakura melepas ikatan rambutnya.
Pintu kembali terbuka menampilkan sosok Sakura yang terlihat manis dan menggemaskan. Sasuke kembali mengernyit menilai penampilan Sakura. Onyx-nya bertatapan dengan mata Sakura. Ia menggerakan telapak tangan menyuruh Sakura kembali masuk dan mengganti gaunnya.
Sakura mendengus dan memutar bola mata. Gadis itu kembali masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu dengan kasar.
"Dia pikir memakai gaun-gaun ini mudah apa? Seleranya itu yang seperti apa sih?"
Sakura mengomel seorang diri sambil menghentakkan kaki mencari gaun yang sekiranya disukai oleh Sasuke. matanya menangkap sebuah gaun yang terlihat cantik dan paling menonjol. Gaun tanpa lengan dengan brokat bagian bahu yang sepertinya dipakai menyampir dari sisi bahu. Bagian roknya menggembung dengan bahan yang sangat halus, Sakura bahkan takut jika kukunya bisa merusak bahan gaun tersebut.
Dengan hati-hati Sakura memakai gaun itu seorang diri. Dia sangat kesulitan, namun akhirnya gaun itu terpasang pas di tubuhnya. Gaun berwarna putih gading itu membuat Sakura tak berkedip memandang dirinya di depan cermin. Gadis itu mencepol rambutnya asal dan membalikkan badan melihat punggungnya yang terbuka membentuk V line. Seketika itu juga Sakura jatuh cinta pada gaun yang ia kenakan.
Sakura agak kesulitan ketika berjalan dan membuka pintu. Ia memegang rok gaunnya yang panjang menutup lantai karena takut tersangkut dan menyebabkan robek. Gadis itu berdiri di depan pintu membuat Sasuke terdiam dan tidak berkedip selama tiga detik. Gadis di hadapannya terlihat sangat cantik seperti putri di negeri dongeng. Sedangkan Sakura yang ditatap intens oleh Sasuke menjadi malu dan mengeluarkan semburat merah.
"Ja, jangan melihatku seperti itu," Sakura memalingkan wajah menatap ruang makan.
Sasuke berdiri dan bersedikap tangan, "Coba berputar,"
Mendengar perintah Sasuke, Sakura segera berputar perlahan dan kembali menatap pria itu. Sasuke terlihat puas karena ia belum menyuruh Sakura untuk mengganti gaunnya.
"Kau seperti putri dari negeri dongeng,"
Sakura terkejut mendengar pujian Sasuke. Wajah gadis itu semakin memerah akibat dipuji oleh aktor tampan. Sasuke sendiri tersentak dengan apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Ia tidak percaya bahwa dirinya bisa memuji seorang gadis.
"Ehm!" Sasuke berdeham merasa canggung, "cepat ganti bajumu, setelah ini kita membeli cincin pernikahan,"
"Ba, baiklah," Sakura berbalik hendak masuk ke dalam ruangan, namun rok gaun itu sedikit menghambatnya.
"Kalau butuh bantuan seharusnya kau bilang," Sasuke segera membantu Sakura dan mengangkat ujung gaun yang menyapu lantai.
"Ya, tolong bantu aku," Sakura sedikit memalingkan wajah menghindari tatapan Sasuke. Sasuke tersenyum tipis melihat sikap malu-malu Sakura.
Mereka berdua sudah masuk ke dalam ruangan dan Sasuke hendak meninggalkan Sakura sendiri berganti baju, tapi Sakura menahan tangan pria itu.
"To, tolong bantu aku," Sakura menatap Sasuke memelas.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya bingung, "Aku sudah membantumu masuk ke dalam kamar ini,"
"Bu, bukan itu," Sakura terlihat salah tingkah dan memandang lantai, "a, aku tidak bisa membuka gaunnya seorang diri,"
Sasuke terbatuk mendengar ucapan Sakura. Lelaki itu menatap langit-langit kamar dan tubuh Sakura. Wajah Sasuke tiba-tiba memanas dan ia menyadari jika gadis di hadapannya juga merasa tidak nyaman. Pria itu memutuskan untuk segera menyelesaikan perasaan canggung tersebut.
"Baiklah," ucapnya sedikit ragu.
Sakura sedikit mendongak dan menatap Sasuke. Gadis itu segera mengalihkan tatapannya begitu mata mereka bersirobok. Sakura membalikkan badan dan merasa jantungnya berdetak kencang.
"Tutup matamu saat membuka resletingnya!" seru Sakura tiba-tiba membuat Sasuke yang sedang menggerakkan tangan meraih resleting gaun Sakura mengambang di udara.
"Bagaimana aku membukanya jika menutup mata?" Sasuke menyahut cepat.
"Pokoknya tutup matamu! Awas kalau kau membuka mata!" Sakura sedikit menoleh ke belakang dan menatap tajam Sasuke.
"Aku mengerti!" seru Sasuke malas.
Sasuke menggapai resleting gaun Sakura membuat Sakura secara refleks menutup erat matanya. Pria itu menurunkan resleting dan matanya masih terbuka menatap punggung Sakura yang terlihat putih bersih. Saat gaunnya terbuka sampai pangkal pinggang secara refleks Sasuke memejamkan mata. Wajahnya sudah memanas sejak tadi dan sekarang makin panas. Sasuke mendengar Sakura menahan napas saat jarinya semakin turun menarik resleting gaun hingga sampai batas. Baru saja ia akan membuka mata ketika tiba-tiba Sakura berseru panik.
"Jangan buka matamu!"
Seketika Sasuke mengerti seruan panik Sakura karena tiba-tiba ia mendengar suara gaun yang terjatuh di lantai. Ia yakin sekali gaun yang dikenakan sudah terlepas dari tubuh gadis itu. Membayangkan ada gadis di depannya memakai celana dalam saja membuat sesuatu di bawah milik Sasuke berdenyut. Apalagi saat ini pria itu memejamkan mata dan tidak diizinkan untuk membukanya. Sensasi tersebut membuat jantung Sasuke berdebar-debar.
Astaga! Apa yang aku pikirkan?! Sasuke membatin merutuki pikiran kotornya.
Pria itu mencoba mengintip dan mungkin saja darah akan keluar dari hidung ketika pemandangan pertama kali yang ia lihat adalah bokong Sakura yang padat berisi. Sakura sangat seksi dengan celana dalam berwarna merah. Bentuk tubuh gadis itu sangat ideal dan merupakan idaman Sasuke. Sasuke sama sekali tidak berkedip memandang Sakura. Begitu gadis itu bergerak mengambil pakaian kerjanya, Sasuke segera memejamkan mata.
"Ka, kau boleh membuka mata,"
Sasuke membuka mata dan di hadapannya Sakura sudah memakai pakaiannya, sebuah blouse biru dan rok span di atas lutut. Gadis itu bergerak dengan gelisah. Sasuke memerhatikan gaun yang masih tergeletak di atas lantai, lalu kembali terbayang tubuh belakang Sakura yang setengah telanjang.
"A, aku akan membereskan ini semua. Ka, kau bisa menunggu di luar," Sakura melirik Sasuke dengan malu.
"Hn, baiklah," Sasuke berdeham dengan canggung dan keluar dari kamar pakaian.
Setelah mendengar suara pintu yang ditutup. Sakura berjongkok dan menutup wajahnya yang memanas dengan telapak tangan.
"Sakura baka! Kau mempermalukan dirimu sendiri!" Sakura memukul kepalanya sendiri, "tapi, dia tidak mengintip 'kan? Aku sangat malu!" Sakura kembali panik dan menutup wajahnya kembali dengan telapak tangan.
Sementara itu, Sasuke berdiri di depan pintu dengan dada berdebar-debar. Ia terlihat bingung ingin melakukan sesuatu. Akhirnya pria itu menghela napas panjang dan mengusap wajahnya yang masih panas.
"Sial!"
Sasuke tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi tiga bulan mendatang jika ia tinggal satu atap bersama gadis polos, namun begitu seksi seperti Haruno Sakura. Akankah ia merasa biasa saja jika ada sosok seksi Sakura yang akan membayanginya setiap malam? Tidak ada yang tahu.
To be continue
Aku nggak nyangka tanggapan readers sangat baik di chapter 1. Thanks a bunch~^^
Oleh karena itu, aku update secepat yang aku bisa.
Oh ada yang sadar Radio Star ya? Hahaha...
Soal novel So, I'm married the antifan, aku emang punya novelnya. Tapi, ide ini murni dari otakku yang terlalu memimpikan Park Seo Joon untuk jadi suami masa depan. wkwkwk...
Ditunggu review readers untuk chapter 2 ini ya~
Happy new year 2016! ^^
