CHAPTER 2
Han Yu Ra masih menjerit-jerit kesakitan. Dokter sekolah yang memberikan pertolongan pertama terlihat kewalahan menenangkan Han Yu Ra.
Han Yu Ra tak mau ditinggal sendirian di ruang kesehatan. Ia bersikukuh supaya Kyuhyun menemaninya. Gadis itu bahkan memegang erat tangan Kyuhyun hingga Kyuhyun tak bisa berbuat apa-apa selain merelakan tangannya yang mulai memerah terkena kuku-kuku Han Yu Ra.
Setelah membersihkan bagian tubuh Han Yu Ra yang terkena siraman air keras dengan air mengalir, dokter kemuadian mengoleskan vaseline petroleum jelly. Dokter berusaha agar kerusakan kulit itu tidak meluas ke bagian kulit yang lain sambil menunggu ambulans datang.
Cho Kyuhyun menatap gadis itu dengan tatapan ngeri. Kakinya yang terkena air keras terlihat melepuh. Gadis itu masih saja menangis merasakan sakit yang teramat sangat.
Kyuhyun tak bisa berbuat apa-apa untuk menenangkan gadis itu. Ia tak terbiasa menenangkan orang. Well, biasanya kan dia yang lebih sering merajuk dan mengeluhkan tentang banyak hal.
Berulang kali ia menatap Kim Kibum yang masih saja berdiri terdiam di seberang ruangan. Kyuhyun ingin meminta bantuan pada Kibum. Namun, sepupunya yang luar biasa pendiam itu hanya balik menatapnya dalam diam. Tak tanggap dengan arti tatapan Kyuhyun yang meminta pertolongannya.
Tak berapa lama, petugas medis dari rumah sakit terdekat datang. Mereka membawa tandu dan beberapa peralatan medis yang dibutuhkan. Perlu waktu yang cukup lama untuk menenangkan dab membujuk gadis itu sebelum petugas medis membawa pergi Han Yu Ra dengan tandunya.
Kyuhyun duduk terpekur di kursi panjang yang ada di dekat ruang kesehatan. Membayangkan hal yang baru saja terjadi membuatnya bergidik ngeri. Ia tak bisa membayangkan rasa sakitnya bila mengalami kecelakaan yang sama dengan Han Yu Ra.
Kyuhyun tersentak dari lamunannya saat seseorang mengangsurkan sebotol air mineral ke arahnya. Kyuhyun menerima botol yang diberikan Kim Kibum padanya itu dan meneguk isinya.
"Mengerikan sekali," kata Kyuhyun pada Kibum yang sekarang sudah duduk di sampingnya.
Kim Kibum tak menyahuti kata-kata Kyuhyun itu. Namun, ia juga tak menampik kebenaran ucapan Kyuhyun itu.
"Kau lihat kulitnya tadi? Sampai memutih dan berkerut seperti itu," lanjut Kyuhyun tanpa sadar bulu romanya sudah berdiri.
Kim Kibum masih tetap diam membiarkan sepupunya itu menumpahkan segala yang ia rasakan dalam hatinya. Ia tahu sepupunya itu tengah menenangkan dirinya dari peristiwa mengejutkan hari itu.
"Apa dia bisa sembuh seperti semula, Kibum?" tanya Kyuhyun lagi.
"Mungkin saja. Sekarang operasi plastik sudah sangat umum dan canggih. Han Yu Ra bahkan bisa lebih cantik dari sebelumnya," jawab Kim Kibum.
"Yak, bicaramu seperti tak punya simpati pada penderitaan Han Yu Ra! Merasa khawatir pun kau juga tidak," kata Kyuhyun sengit.
Selama berada di ruang kesehatan tadi, sepupunya itu bahkan tak mengatakan apa pun untuk menunjukkan rasa ibanya pada Han Yu Ra. Benar-benar patung hidup yang tak punya perasaan, umpat Kyuhyun dalam hati.
Wajahnya juga masih tak menunjukkan emosi apa pun, seperti biasanya. Benar-benar orang aneh. Kyuhyun saja masih bergidik ngeri kalau mengingat kejadian tadi. Kalau tak ingat harga dirinya sebagai laki-laki, Kyuhyun lebih memilih melarikan diri daripada harus melihat keadaan Han Yu Ra seperti itu.
"Dia sudah dibawa ke rumah sakit. Dokter pasti sudah menanganinya di sana. Jadi, buat apa khawatir?" imbuh Kim Kibum.
Kyuhyun ternganga mendengar perkataan Kibum itu. Benar-benar alien yang entah berasal dari planet mana. Antisosial yang tak punya perasaan sama sekali. Mirip psikopat dengan wajah tanpa dosa.
"Kau masih mau di situ? Aku mau ke kelas," kata Kibum sambil beranjak meninggalkan Kyuhyun.
Kyuhyun pun beranjak mengikuti langkah kaki Kibum. Ia cukup menjaga jarak dengan Kibum. Ia mencoba menilai dalam hati tentang Kim Kibum. Bukan hanya pendian, namun sepupunya itu juga terlihat misterius dan menakutkan. Hhhh, tanpa sadar tubuh Kyuhyun merinding ngeri.
"Cho Kyuhyun-ssi, terimalah cokelat dariku!"
Kyuhyun baru saja menginjakkan kakinya di lorong yang menghubungkan lobi dengan tangga menuju ruang-ruang kelas yang ada di lantai atas tatkala seorang gadis manis tinggi semampai mencegatnya dan mengulurkan kotak yang dibungkus dengan kertas kado merah bergambar hati padanya.
"Aigoo, Cha Eun Seok Sunbaenim, kau pun terpesona pada Kyuhyun kami juga?" tanya Kim Yesung, teman sekelas Kyuhyun yang tingkat keberisikannya juga setara dengan Kyuhyun.
Cha Eun Seok, yang dipanggil sunbaenim oleh Yesung itu tersenyum malu-malu. Kedua tangannya masih menyorongkan kotak cokelat itu pada Kyuhyun yang tak juga segera menyambutnya.
Kim Yesung sampai harus menyodok pinggang Kyuhyun dengan sikutnya karena anak itu hanya tertegun memandang gadis yang berdiri di depannya dan mengejutkan paginya itu. Kyuhyun yang lantas tersadar pun lalu tersenyum dan menerima kotak cokelat pemberian Cha Eun Seok.
"Terima kasih, Sunbaenim!" kata Kyuhyun lirih, antara senang dan malu.
Meskipun suka dengan perhatian seperti ini, tapi mau tak mau Kyuhyun juga merasa malu. Bagaimana tidak karena lorong itu saat ini penuh dengan siswa lain yang bahkan sudah bersiul-siul dan bersorak menggodanya.
"Kau makin terkenal," bisik Kim Yesung pada Kyuhyun setelah gadis itu meninggalkan mereka dengan pipi yang bersemu merah.
Hati Kyuhyun mau tak mau merasa berbunga-bunga. Siapa juga yang tak suka menerima banyak perhatian dari gadis-gadis cantik. Bukan hanya satu, namun banyak gadis yang sudah terjerat dalam pesona seorang Cho Kyuhyun.
Cho Kyuhyun memang tampan, batin Kyuhyun narsis. Mungkin itu bawaannya sejak lahir. Anugerah Tuhan untuknya karena terlahir sebagai primadona. Setiap saat, di depan cermin, Kyuhyun selalu bersyukur pada Tuhan karena anugerah-Nya yang luar biasa itu.
"Berhenti senyum-senyum sendiri seperti itu, mirip orang gila!" kata Kibum membuyarkan lamunan Kyuhyun.
"Yak, dasar alien tanpa perasaan!" sungut Kyuhyun kesal.
"Kau beruntung, Kyu, bahkan Cha Eun Seok Sunbaenim pun rela meruntuhkan harga dirinya hanya untuk memberimu cokelat," kata Kim Yesung mencoba menengahi dua saudara sepupu itu yang nampaknya salah satu di antaranya sebentar lagi akan meledak.
"Maksudmu?" tanya Kyuhyun tak mengerti tapi atensinya berhasil beralih pada Yesung.
"Dia senior, tapi dia tanpa malu-malu memberimu cokelat sepagi ini. Bukan secara pribadi, namun di depan umum. Ia tak malu jika nanti jadi bahan ejekan orang lain. Sepertinya dia benar-benar jatuh cinta padamu," terang Kim Yesung.
"Berarti dia memang tak tahu malu," sela Kibum lagi yang membuat mood Kyuhyun langsung jatuh ke dasar jurang.
"Bilang saja kau iri!" bentak Kyuhyun sebal.
"Kata iri tak pernah ada dalam kamusku," sahut Kibum santai sambil melenggang pergi meninggalkan Kyuhyun dan Yesung.
"Dasar, Hitler!" gerutu Kyuhyun kesal.
"Hitler?"
"Dia mirip Hitler kan? Jenius, tapi tak punya perasaan," kata Kyuhyun.
Kim Yesung tertawa lebar mendengar sebutan Kyuhyun untuk sepupunya itu. Kibum memang terlihat tak punya perasaan meskipun cerdas. Beda sekali dengan sepupunya itu yang juga cerdas namun penuh perasaan.
"Ayo, naik! Tuan Hitler sudah memandangmu dari ujung tangga menunggumu," ajak Yesung pada Kyuhyun yang kemudian ikut naik ke lantai dua dengan perasaan dongkol dan bibir merengut sebal.
Cha Eun Seok, merapikan kembali alat-alat musik ang tadi digunakan ke tempatnya semula. Hari sudah senja saat ekstrakurikuler musik berakhir. Sore ini Cha Eun Seok mendapat tugas piket merapikan ruang musik. Jadi, ia pulang lebih lambat daripada yang lain. Ia tidak sendiri. Ada seorang siswi lagi yang ada bersamanya membenahi ruang musik.
Cha Eun Seok bersenandung riang. Hatinya merasa senang apalagi saat mengingat apa yang dilakukannya pagi tadi. Akhirnya ia punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya pada Cho Kyuhyun.
Sudah hampir setengah tahun ia memendam perasaannya itu. Eun Seok tak bisa mengalihkan pandangannya sejak pertama ia melihat Cho Kyuhyun memasuki ruang musik ini. Apalagi saat mendengar suara merdu Kyuhyun untuk pertama kalianya, Eun Seok semakin terpesona dan mengagumi Cho Kyuhyun.
Suara Kyuhyun yang lembut dan manis semakin membuat hati dan perasaan Eun Seok dipenuhi dengan nada-nada cinta. Sebelumnya Eun Seok merasa ragu Kyuhyun akan membalas perasaannya mengingat betapa banyak pengagumnya.
Eun Seok hanya salah satu yang berani mengungkapkannya secara terang-terangan, pengagum rahasia Kyuhyun bahkan jauh lebih banyak. Namun rasanya lega juga bisa mengungkapkan sesuatu yang hanya bisa dipendamnya sendiri meskipun Eun Seok harus menulikan telinganya pada godaan dan sindiran teman-temannya. Eun Seok merasa ia lebih baik daripada pengagum lain yang hanya bisa diam dan meratapi perasaannya sendiri.
"Eun Seok-ah, jangan lupa mengunci pintu sebelum kau pergi. Aku duluan," kata salah seorang siswi yang piket sore itu pada Eun Seok.
"Nde, Eonnie. Hati-hati di jalan!" kata Eun Seok pada siswi yang satu tingkat di atasnya itu.
Tinggal Eun Seok seorang diri kini. Hari ini memang tak banyak siswa yang ikut ekstrakurikuler musik. Semua sibuk dengan kegiatan yang lain. Cho Kyuhyun bahkan sudah dua minggu tak ikut karena disandera Lee Jong Suk, Guru Matematika mereka.
Ruang musik sangat sepi sekarang. Eun Seok lama-lama merasa merinding sendirian di sini. Eun Seok cepat-cepat membereskan tugasnya dan cepat-cepat keluar dari ruang musik yang sepi.
Cha Eun Seok meletakkan biola terakhir di atas rak. Namun tak lama kemudian ia merasakan ada seseorag yang menatap punggungnya.
Mata Eun Seok menjelajahi seluruh ruanngan. Tapi, taka da siapa-siapa di sana. Ah, mungkin hanya perasaannya saja. Ia tadi sudah merasa takut karena sendirian. Jadi, ia membayangkan yang tidak-tidak.
Eun Seok berbalik hendak mengambil tasnya yang ada di meja dekat jendela di sampingnya. Ia baru saja melangkah untuk mengambil tasnya, namun rak terakhir yang dilewatinya tiba-tiba saja roboh. Rak itu roboh dan menimpa tubuh Eun Seok. Meninggalkan bunyi derak nyaring dan rintihan pelan Eun Seok sebelum gadis itu kehilangan kesadarannya.
"Kau sudah dengar peristiwa kemarin sore di ruang musik?" tanya Kim Yesung saat bertemu Kyuhyun di lobi sekolah pagi itu.
"Peristiwa apa?" tanya Kyuhyun tak mengerti.
"Cha Eun Seok Sunbaenim tertimpa rak di ruang musik. Petugas kebersihan sekolah yang menemukannya. Untung saja ada yang menemukannya. Kalau tidak, tak akan ada yang tahu bagaimana nasibnya," kata Kim Yesung.
Kyuhyun kaget mendengar penuturan Yesung barusan. Baru kemarin pagi gadis itu memberinya sekotak cokelat, tapi sekarang ada kabar mengejutkan bahwa gadis itu tertimpa musibah.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Kyuhyun.
"Parah. Dari berita yang kudapat, ia bahkan belum sadarkan diri sampai sekarang. Kepalanya memang menderita luka yang cukup parah. Ruang musik sampai sekarang juga dikunci rapat dan tak ada seorang pun yang boleh memasukinya," jelas Yesung.
"Kau dapat berita dari mana?" tanya Kyuhyun sangsi dengan kebenaran cerita Yesung.
"Anak-anak sudah ramai membicarakannya di media sosial sejak semalam. Ada beberapa yang datang ke sekolah untuk mengecek kebenarannya juga. Ke mana saja kau sampai tak tahu berita penting seperti itu?" kata Yesung.
"Kau tahu aku bukan penggila media sosial. Semalam aku juga membantu ibuku menyiapkan acara amal gereja akhir pekan nanti. Jadi, aku tak sempat mengecek berita," keluh Kyuhyun.
"Tak heran kalau kau tak tahu apa-apa. Eh, ngomong-ngomong, ke mana sepupumu tadi? Tadi dia kan ada bersamamu," tanya Yesung.
Kyuhyun celingukan mencari keberadaan sepupunya itu saat disadarinya Kibum tak ada bersama mereka padahal Kyuhyun yakin Kibum tadi turun dari mobil yang sama dengannya dan berjalan menuju lobi bersamanya.
"Molla, mungkin ia sudah naik duluan," jawab kyuhyun.
"Sepupumu itu sangat aneh kau tahu? Ia tak pernah menunjukkan reaksi apa pun pada suatu kehebohan yang terjadi. Saat kejadian yang menimpa Han Yu Ra minggu lalu pun ia juga terlihat tenang. Tak sedikit pun menunjukkan kepanikan. Sepertinya ia sudah sering mengalami atau melihat hal-hal seperti itu," ucap Kim Yesung yang menimbulkan tanda tanya di benak Cho Kyuhyun.
"Melihat apa?" tanya Kyuhyun tak mengerti.
"Melihat hal-hal mengerikan seperti yang baru saja terjadi. Coba kalau itu kau, aku yakin kau sudah merinding atau berteriak panik. Tapi tidak dengan Kibum. Ia terlalu bersikap tenang," celoteh Yesung panjang lebar.
"Begitukah? Aku tak memperhatikannya. Kupikir malah dia orang yang antisosial dan cuek dengan sekelilingnya," ucap Kyuhyun.
"Tapi tetap saja aneh."
Kim Yesung tak meneruskan lagi ceritanya pagi itu pada Kyuhyun. Ia sekarang asyik dengan ponselnya. Mengecek berbagai grup media sosial yang diikutinya. Memperoleh berbagai versi cerita tentang kecelakaan yang menimpa Cha Eun Seok sehari sebelumnya.
Kim Kibum berdiri di depan pintu ruang musik yang kini terkunci rapat. Jendelanya juga terkunci dan ditutup gorden berwarna gelap.
Satu lagi orang yang celaka tanpa sebab. Dari cerita singkat yang didengarnya dari Kim Yesung sekilas tadi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Kibum pernah sekali masuk ke ruang musik saat mengantarkan sepupunya itu mengambil harmonikanya yang tertinggal. Rak-rak metal berderet rapi di sepanjang dinding dengan berbagai peralatan musik tergolek di antara rak-raknya.
Rak-rak yang ada di situ bukanlah rak dari bahan yang ringan atau bahkan juga keropos dan bisa jatuh kapan saja. Apalagi gadis itu hanya sendirian sewaktu kecelakaan itu terjadi. Jadi, tak mungkin rak itu akan jatuh dengan sendirinya dan kebetulan menimpa Cha Eun Seok.
Kim Kibum menolehkan pandangannya di sepanjang lorong sepi itu. Terlihat tak mencurigakan tapi terkesan menyeramkan. Belum surut ingatannya pada kejadian lampau di laboratorium yang menimpa Han Yu Ra. Sekarang ditambah lagi dengan peristiwa Cha Eun Seok.
Dua peristiwa tragis terjadi di sekolah tak sampai seminggu berselang. Dua kejadian itu tak mungkin kalau hanya sebuah kebetulan. Namun jika disengaja malah lebih mustahil lagi karena tak ada seorang pun yang dengan sengaja menumpahkan air keras ke tubuh Han Yu Ra dan tak ada seorang pun bersama Cha Eun Seok dan dengan sengaja merubuhkan rak metal yang berat.
Misteri. Semuanya itu masih berupa misteri.
TBC
Annyeong, readerdeul, sudah sebulan lebih sejak update terakhir. Dua bulan terakhir memang lur biasa sibuk bahkan sampai bulan Juli kesibukan tak juga berkurang. Everlasting work-lah pokoknya. Lagipula selama liburan, aku mudik ke kampung yang tak ada wifi dan jaringan lemot jadi lambat banget deh update-ya. Hari ini update chapter yang kedua. Semoga suka. Review ne. Gomawo.
