.

.

.

Naruto is belong's to Masashi Kishimoto

I Miss You © Miss Spearsza

(Naruto. U x Hinata. H)

AU, OOC

If you don't like this? Klik back, please

.

.

.

Waktu terus bergulir tanpa bisa terhenti. Siang dengan cepat berganti malam. Begitupun hari yang terus berganti menjadi bulan. Menjadikan hari yang telah lalu sebagai pelajaran untuk memperbaikinya di hari mendatang. Tiga bulan sudah sejak Hinata memutuskan hubungannya dengan Naruto juga kepergian pemuda itu ke Skotlandia. Dan sudah tiga bulan pula tak ada komunikasi antara mereka. Selain karena perbedaan waktu, Hinata berpikir tidak ada yang perlu dikatakan lagi hingga komunikasi itu harus terjalin. Semua usai seiring kandasnya hubungan mereka.

Musim dingin berada dalam puncaknya. Hinata tak berniat untuk pergi kemanapun selain mendekam di dalam kamarnya yang didominasi dengan warna abu muda. Tirai putih gading itu dibiarkan tersibak, menampilkan jutaan kapas jatuh menghiasi taman di kompleks perumahannya.

Liburan semester hampir tiba. Ia berniat mengajak Hanabi untuk berlibur ke beberapa tempat wisata. Sekaligus melepas penatnya yang selalu disuguhi oleh buku-buku sastra yang tebal. Ah, ia jadi merindukan kebersamaan antara dirinya dan adik kesayangannya tersebut. Hinata bahkan lupa kapan kali terakhir mereka pergi bersama-sama.

Gadis berambut panjang itu hendak mengisi kembali teh yang sudah mendingin ketika mendengar ponselnya berbunyi. Nomor tidak dikenal. Awalnya ia ragu untuk mengangkat, khawatir jika itu hanya kerjaan orang iseng. Tapi ia terkesiap saat ponselnya bergetar menandakan pesan masuk.

Kumohon angkat teleponku. Ada yang perlu aku bicarakan.

Saara.

Hinata sempat dilema ketika ponselnya kembali berbunyi, menampilkan nomor milik Saara. Haruskah diangkat atau tidak? Setelah pergulatan antara hati dan pikirannya, Hinata memilih untuk mengangkat telepon tersebut.

"H-halo?"

"Hai Hinata, um ... sebelumnya, apa aku mengganggumu?"

Hinata mengurungkan niat awalnya untuk mengisi kembali teh hangatnya dan memilih menyamankan diri di atas kasur. "Aku tidak sedang mengerjakan apapun,"

"Syukurlah ..."

Hening menghampiri mereka untuk beberapa saat sebelum Saara membuka suara. "Hinata?"

"Ya?

"Aku ingin membicarakan suatu hal padamu. Tentang Naruto,"

Hinata telah menduga sejak gadis itu mengiriminya pesan beberapa menit yang lalu. Hinata menghela napasnya perlahan, "Ada apa?"

"Sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu jika akulah penyebab putusnya hubungan antara kau dan Naruto,"

"Kau tidak perlu meminta maaf. Hubungan kita memang sudah seharusnya berakhir—"

"Tidak, tidak! Kau dan Naruto tidak mungkin putus jika tidak ada kesalahpahaman diantara kalian,"

"Salah paham?" alis Hinata mengkerut heran.

"Jujur, Hinata. Aku dan Naruto memang dekat. Terlampau dekat malah. Hampir sepanjang waktu selama dua bulan terakhir kemarin kami menghabiskan waktu bersama. Tak ayal hal itu mengundang desas-desus dari beberapa pihak yang mengatakan bahwa kami memiliki hubungan.

Awalnya Naruto membiarkan dan mengatakan padaku kalau kau tidak akan terpengaruh. Tapi nyatanya tidak. Kau marah besar dan memutuskan hubungan dengan Naruto begitu saja,"

Hinata memejamkan matanya. Berusaha meredam perasaan yang berkecamuk. "Saara-san. Kau tidak perlu repot-repot untuk menjelaskannya. Sudah kubilang sejak awal bahwa hubungan kita memang sudah seharusnya berakhir. Hanya saja dengan cara yang kurang baik,"

"Tidak, Hinata. Kedekatanku dengan Naruto bukan tanpa alasan. Kami dituntut untuk saling bekerjasama dan membangun chemistry sebaik mungkin. Demi Tuhan tidak ada niatanku untuk merebut Naruto darimu,"

Hinata lebih memilih diam sejenak kali ini. Berkali-kali ia mencoba menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia tidak marah, hanya saja enggan untuk membahas persoalan ini. "Aku tidak menuduhmu merebut Naruto dariku—"

"Tapi kau menuduhnya selingkuh."

"A-aku ..."

"Hinata. Satu yang harus kau tahu bahwa Naruto masih sangat mencintaimu. Ia kerap kali melamun ketika kami tengah mendiskusikan bahan presentasi, tidak jarang ia tidur larut malam hanya untuk menyelesaikan studi kasus yang Profesor Kakashi berikan padanya, bahkan dua hari terakhir ini ia kehilangan konsentrasinya akibat lelah. Untuk itu Profesor Kakashi mengundur jadwal pertemuan kami hingga lusa nanti,"

" ... "

"Aku pernah bertanya padanya mengapa ia begitu membanting diri. Ia hanya mengatakan ada hal yang menjadi tujuan terbesarnya jika ia diterima untuk kuliah hingga S3 di sini. Tujuan yang menjadi penyemangatnya selama ini. Pernah sekali waktu aku menemukannya tertidur di ruang pertemuan. Dia mengigaukan namamu, Hinata. Aku mulai berpikir jika tujuannya itu ada hubungannya denganmu,"

" ... "

"Hal itu lantas membuat rasa bersalah terus menghantuiku sepanjang hari. Kedekatanku dengan Naruto membuat semuanya menjadi rumit. Aku harus meluruskan kesalahpahaman ini dan berbicara padamu. Aku tahu kau masih mencintainya, Hinata. Pikirkanlah baik-baik,"

Hinata tak berniat untuk mengeluarkan suara. Tidak ada satupun kata yang melintas di otaknya. Hatinya terasa kebas dan hanya satu nama yang mengawang di benaknya. Naruto.

"Itu saja yang ingin kusampaikan. Maaf mengganggu waktumu. Sampai jumpa," sambungan telepon itu terputus. Menyisakan keheningan yang kini melanda seorang Hinata. Membuat pikirannya kembali melayang ketika ia memutuskan hubungannya secara sepihak. Menutup telinganya dengan keras seolah menolak penjelasan apapun yang hendak Naruto lontarkan. Membabi buta di apartemen pemuda itu.

Iris seindah bulan itu kembali bersembunyi dibalik kelopak matanya yang besar. Berkali-kali Hinata meyakinkan bahwa keputusannya selalu bulat meskipun itu secara spontanitas. Ia bukan tipe gadis yang memiliki egois tinggi, hanya saja ia terdidik untuk memiliki prinsip yang kuat. Namun untuk pertama kalinya ia merasa tidak yakin. Amarah menguasai pikiran serta hatinya. Api cemburu menulikan pendengarannya kala itu.

Hinata berjalan menghampiri jendela besar di sudut ruangan. Salju masih berjatuhan layaknya beberapa menit yang lalu. Lampu-lampu kompleks perumahannya masih berpendar cahaya kekuningan yang terang. Jalanan semakin sepi mengingat jam telah menunjukan pukul sebelas lewat lima belas menit. Pikirannya tertuju pada Sakura, hendak menghubungi gadis gulali itu namun urung. Takut-takut Sakura telah jatuh terlelap dan Hinata tidak ingin mengganggunya.

Pikirannya menerawang jauh ketika menatap langit yang tidak begitu cerah. Benarkah Naruto masih mencintainya? Masih berarti tidak pernah berhenti? Apa ia salah telah menunduhnya berselingkuh? Lalu tujuan terbesar pemuda itu. Tujuan yang seperti apa? benarkah tujuan itu berkaitan dengannya?

Terlalu banyak pertanyaan yang melintasi otaknya saat ini. Bahkan udara dingin maupun penghangat ruangan tidak lantas membuat pikirannya menjadi lebih rileks. Ponselnya masih setia berada dalam genggaman. Menimang-nimang haruskah Hinata menghubungi Naruto. Membicarakannya dengan pikiran yang lebih terbuka.

Jemarinya yang lentik menari di atas layar ponsel, mencari kontak nomor Naruto. Ibu jarinya mengambang di udara. Ragu untuk memencet tombol berwarna hijau atau mengabaikannya dan memilih untuk terlelap. Namun dengan nekat yang dipaksakan, ia membiarkan layar ponselnya menampilkan sambungan telepon pada nomor yang dituju.

1 detik

2 detik.

3 detik.

"Maaf nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi."

Hinata tak patah semangat selagi rasa nekatnya sedang membara. Ia mencoba menghubungi kembali.

1 detik.

2 detik.

3 detik.

"Maaf nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi."

Hinata mendesah kecewa. Bahkan sampai yang ketiga kalinya pun Naruto tidak dapat dihubungi. Atensinya kembali jatuh pada langit yang kelam. Apa yang sedang dilakukannya? Mengapa ia tidak bisa dihubungi?

Disudut hatinya terasa hampa. Perasaan bersalah mulai menyeruak sedikit demi sedikit. Dadanya seperti sesak ketika rasa khawatir mulai membanjiri benaknya secara perlahan. Pikirannya penuh oleh kegiatan Naruto yang padat. Mungkin saja hari ini ia tidur larut malam untuk yang kesekian kalinya. Gundah gulana memikirkan presentasi esok hari. Apakah berhasil atau justru sebaliknya. Dan seharusnya Hinata ada untuk menyemangati.

Matanya terpejam. Setitik air mata jatuh membasahi kusen jendela.

"Naruto-kun,"

.

.

.

.

.

Yamato mengamati dengan teliti lembaran kertas yang telah dijilid menjadi satu itu. Terkadang bolpoin merahnya menari indah membentuk lingkaran pada kalimat atau kata yang menurutnya perlu diperbaiki. Lalu pria itu menyerahkannya kepada Hinata.

"Ini bagus sekali, Hyuuga. Rumusan masalah yang kau gunakan pun sangat menyinggung tema. Kajian teori yang kau cantumkan pun cukup mendetail hanya saja penjabarannya kurang dapat dipahami. Kau bisa mengantinya dengan penjelasan yang lebih mudah,"

Kedua netra Amethys itu berbinar ketika Yamato memuji hasil pekerjaannya dua minggu belakangan ini. Pertemuan terakhirnya—sebelum liburan semester cukup membuatnya bersemangat untuk melanjutkan skripsi.

"Kau bisa melanjutkannya ke bagian data penelitian. Tidak usah terlalu banyak, namun penelitian itu harus mendetail. Perbaiki juga yang ku lingkari barusan. Jadwal pertemuan selanjutnya bisa kau informasikan padaku seminggu setelah jadwal masuk semester. Aku berharap tidak terlalu sibuk untuk itu." Pria berwibawa itu menepuk pundak Hinata kemudian pamit untuk bergegas menuju Universitas lainnya. Meninggalkan Hinata dengan sejuta kegembiraannya dimana jika ia dapat menyelesaikan skipsi dengan cepat, maka jadwal sidang sudah di depan matanya.

Oh, Tuhan ...

Dengan wajah berseri ia memencet beberapa nomor di ponsel pintarnya. Menunggu nada sambung dengan senyum yang terkulum manis.

"Sakura, kau ada waktu sore ini? ... temui aku di kedai kopi dekat kampus pukul lima sore nanti ... haha, sudahlah kau datang saja. Ah! Kau bisa ajak Ino ... baiklah, sampai jumpa,"

Setelah memutus hubungan telepon dengan sahabatnya itu, Hinata merapikan kertas jilid dan beberapa buku lainnya untuk dimasukan kedalam tas. Ia melirik arloji ditangannya. Pukul tiga sore. Maka ia memilih perpustakaan sebagai tempat persinggahan sebelum pertemuannya dengan Sakura dan Ino sore nanti. Memanfaatkan waktu yang ada untuk memperbaiki skripsinya yang baru saja di revisi.

Kedua kakinya yang terbalut flatshoes berwarna hitam mengkilat melangkah cepat menuju perpustakaan utama Universitas tersebut. Ia bersemangat penuh.

"Hinata?"

Langkah cepat itu terhenti. Hinata menolehkan pandangan kepada seorang pemuda jangkung berperawakan tegas. Ia tersenyum simpul kemudian menundukan kepalanya sebagai salam. "Selamat sore, Gaara-san,"

Pemuda dengan surai merah bata itu tersenyum tipis kemudian menghampiri dengan langkah yang terbilang santai. Gaara merupakan teman sekelas Hinata. Sikapnya yang cukup tertutup namun berlogika tinggi itu memang sudah menjadi pembicaraan umum dikalangan gadis-gadis single dikampusnya. Kharismanya tajam, itulah yang mereka katakan ketika tidak sengaja Hinata mendengar rumpian sekelompok gadis di samping mejanya. Tapi Hinata tetaplah Hinata. Tidak akan terpengaruh hanya karena pemuda itu begitu populer. Jika dibandingkan dengan Naruto mungkin tidak setara, tapi ketika hatinya menjatuhkan pilihan pada pemuda bersemangat itu, apa yang bisa di perbuatnya. Cinta yang tulus tidak pernah memandang apapun.

Lamunannya hilang ketika merasakan tangan besar menepuk pelan bahunya yang kecil. "Kau melamun." Ujarnya. Hinata hanya tersenyum malu dan kembali melanjutkan jalan dengan Gaara disampingnya.

"Hendak pulang?" lelaki itu bertanya tanpa mengalihkan pandangan yang tertuju lurus kedepan. Kedua tangannya tersembunyi di balik celana bahan berwarna coklat tua.

Hinata menggeleng. "Perpustakaan. Memperbaiki beberapa revisi yang Profesor Yamato berikan," jawab Hinata.

Gaara mendengus geli. Seringai kecil tersungging di bibirnya. "Cum laude, eh?" Hinata tersenyum dengan rona merah menghiasi bibi gembilnya. "Kau membuatku kalah satu langkah dari seorang gadis," dan keduanya pun tertawa kecil.

"Apa yang akan kau lakukan setelah lulus?"

Hinata terlihat berfikir sejenak. "Tidak ada target khusus sebenarnya. Aku pun belum memiliki bayangan akan melakukan apa setelah lulus nanti. T-tapi mungkin akan menyelesaikan draf-draf naskah novel yang sempat kutelantarkan demi skripsi," setelahnya ia terkikik kecil.

"Itu cita-citamu?"

"Semacam impian besar ketika cerita yang kau buat bisa dibaca jutaan orang diluar sana."

"Jadi alasanmu kuliah sastra karena kau ingin menjadi seorang penulis?"

Hinata meringis. Gaara adalah makhluk dengan sejuta pemikiran kritisnya. "T-tidak juga, sih," Ia mengusap tengkuk jenjangnya yang tertutup rambut. "Aku bingung bagaimana menjelaskannya,"

Ia tidak tahu jika pembicara mereka menjadi cukup akrab mengingat mereka tidak kenal begitu dekat. Gaara dengan dunia silentnya dan Hinata yang pada dasarnya memang kalem.

Gedung perpustakaan sudah didepannya. Gadis itu menoleh pada Gaara. "Kau ingin ke perpustakaan?"

Gaara menggeleng pelan. "Aku harus menjemput seseorang," ujarnya. Membuat Hinata mengangkat alisnya tinggi kemudian tersenyum ramah dengan maklum. Tidak banyak yang tahu jika adik dari pemilik butik ternama di kotanya itu sedang dekat dengan gadis fakultas Ekonomi. Seingat Hinata namanya adalah Matsuri. Manis dan dewasa. Bukan berarti dia senang bergosip. Salahkan Ino yang menjadikan topik pembicaraan setiap mereka berkumpul sebagai ajangnya untuk bergosip. Anggaplah Hinata itu kuper dan lugu. Maka Ino menjadi makhluk dengan segala informasinya.

Seusai Gaara pergi, Hinata melangkah memasuki gedung perpustakaan. Setelah memberi tahu nama serta fakultasnya pada penjaga perpus untuk di data, ia memilih meja di barisan tengah dari deretan bangku yang jumlahnya cukup banyak. Alasannya mudah, dekat dengan rak buku sastra yang biasa menjadi incarannya. Gadis lembut itu mengeluarkan laptop serta merta kertas dan jilidan skripsi yang telah di revisi. Mengeceknya tiap lembar. Memastikan bagian mana saja yang harus dia perbaiki.

Hinata tersenyum. Tidak banyak dan sebagian besar hanya salah pada penggunaan kata dan kalimat yang ditambah maupun diubah. Mengganti beberapa teori dengan teori yang telah diusulkan oleh Profesor Yamato. Kini ia pun mulai mengetiknya.

"Hyuuga Hinata?"

Suara seseorang menginterupsi kegiatannya. Hinata mendongak, alisnya mengkerut. Bukan. Bukan karena ia tidak mengenali siapa yang memanggilnya. Justru karena ia kenal betul siapa gadis yang rela merombak penampilan menyerupai dirinya. Shion.

Hinata menampilkan senyum ramah seperti biasa. Shion menyamankan duduknya di samping Hinata berikut dengan buku-buku tebal nan kuno khas fakultas Sejarah. Bibir yang dilapisi lipgloss merah basah itu ikut mengulum senyum penuh arti. "Bolehkah aku duduk disini?"

Mata Hinata bergerak tidak nyaman. Bagaimanapun gadis ini sudah lama mengincar Naruto dengan agresif bahkan sejak kali pertama mereka menjadi sepasang kekasih. Kira-kira sekitar dua setengah tahun yang lalu. "Kursi itu kosong sejak tadi, jadi ..."

Mengabaikan Shion yang mulai mengeluarkan laptop serta membuka buku tebalnya, Hinata kembali meneruskan kegiatannya. Agak menyesali mengapa gadis itu harus menemukan dia dari banyaknya kepala di perpustakaan. Apakah Hinata begitu mencolok? Entahlah.

"Makalah?"

Lagi-lagi. Baru saja Hinata megetik serentetan kalimat, Shion kembali menghentikan kegiatannya tersebut. Menggeleng lembut. Membuat rambutnya yang terurai di sisi wajah bergoyang halus. "Skripsi."

"Oh, ya!?"

Hinata meringis mendengar beberapa mahasiswa yang duduk dekat mereka mendesis. Mengapa juga Shion harus berteriak? Oh, astaga. Dengan sopan Hinata mengucapkan kata maaf. "Kupikir perpustakaan terlalu sunyi untuk berteriak, Shion-san,"

"Ups, maaf. Aku refleks," gadis itu cengengesan. "Jadi, bagaimana bisa? Kau cum laude?" tanyanya antusias. Lihat saja manik ungunya memandang Hinata dengan sedikit membesar. Dan anggukan Hinata membuat wajahnya semakin sumringah. Tangannya menepuk bahu Hinata cukup keras. "Kau hebat,"

Dan setelahnya gadis itu mulai berkutat dengan segala tugas serta keyboard laptop yang beradu dengan jari lentiknya. Begitupun dengan Hinata.

Sedikit aneh sebenarnya. Ia dan Shion sama sekali tidak pernah berbincang sebelumnya mengingat fakultas mereka yang berbeda. Hinata mengenal Shion karena gadis itu begitu populer di Universitas Konoha. Sementara Shion mengenal Hinata karena gadis itu menjadi saingan terbesarnya dalam mendapatkan hati Naruto—menurutnya. Hinata sendiri tidak tahu pesona apa yang ada dalam diri Naruto yang membuat Shion sangat terobsesi. Hingga rela merombak penampilan menjadi lebih cantik dan serupa dengan Hinata, meski tidak akan pernah sama.

Shion kenal cukup dekat dengan Naruto. Mereka berada di organisasi yang sama di kampus. Entah Naruto yang tidak peka atau berpura-pura tidak peka dengan segala tindak-tanduk gadis itu. Yang lantas membuat Hinata ketar-ketir. Bukannya posesif, ia tahu sebagian besar teman Naruto adalah perempuan. Sikapnya yang ramah membuatnya menjadi tempat kenyamanan bagi para gadis-gadis. Hanya saja untuk beberapa orang mampu membuatnya kelimpungan.

Sejujurnya ia kalah cantik dengan Saara. Hinata mengakui itu. Baik, anggun, pintar, cantik dan sikapnya yang ramah itu bagaikan gravitasi. Idaman para pemuda di kampusnya. Berhasil membuat lima orang sekaligus menyatakan cinta secara terang-terangan. Namun ditolak dengan alasan yang tidak ingin Hinata ketahui.

Hinata tahu Naruto adalah pribadi yang setia. Tapi dibalik kesetiaannya, pemuda itu tetaplah seorang laki-laki. Gadis itu hanya takut kehilangan Naruto dan sakit hati. Ia tahu tindakannya yang cukup brutal—yang sama sekali tidak mencerminkan pribadinya yang kalem—sangat diluar batas dan keterlaluan. Tapi bukankah orang konyol dapat marah jika sudah pada batasnya?

Hinata tersentak. Lamunannya sudah terlalu jauh dan cukup mengganggu pikiran. Tangannya terangkat menutupi wajah. Akhir-akhir ini ia menjadi begitu kacau. Momen yang sangat tidak baik untuk kegiatannya menyelesaikan skripsi.

"Kau putus dengan Naruto?"

Bagaikan petir di siang yang cerah, pertanyaan Shion menghantam hatinya telak. Hinata bahkan tidak ingin mendefinisikan bagaimana nada gadis itu ketika menanyakannya. Biasakah? Setengah mengejekkah?

"Kuanggap diammu adalah iya,"

Shion mengetik rentetan kalimat pada laptopnya. "Sayang sekali ya ... padahal menurutku kalian pasangan yang serasi,"

"Kudengar dia mendapat rekomendasi dari Profesor Kurenai untuk melanjutkan pendidikan di Skotlandia bersama si cantik Saara. Apa itu alasan kalian putus?"

"Shion-san, maaf tapi i-itu bukan urusanmu,"

Shion sedikit terkekeh. "Aku tidak mungkin melewatkan bagaimana kalian putus karena Naruto terlihat dekat dengan Saara. Itu sudah menjadi pembicaraan umum bagiku,"

"J-jika kau duduk disini hanya untuk membahas masalah itu, a-aku tidak punya waktu,"

Shion menatap jenaka Hinata. "Kenapa? Kau merasa menyesal?"

Pandangan Hinata teralihkan. Tidak ingin gadis pirang pucat itu membaca reaksi yang berusaha sembunyikan.

"Kukira kau mencintainya. Hanya karena mendengar desas-desus yang tidak jelas kepercayaanmu menjadi hancur," Shion menyamankan posisi duduknya. Membuka-buka halaman buku Sejarah. Tenang, namun berhasil mengacaukan pikiran gadis di sampingnya. "Aku berpikir bahwa sebenarnya Naruto melakukan itu secara terpaksa jika bukan karena kesungguhannya mengejar impian—ah, tidak tidak. Aku tidak tahu ia terpaksa atau tidak yang pasti jika aku menjadi dirimu, aku berusaha mendukungnya keras.

"Aku berani bertaruh jika apa yang Naruto perjuangkan sekarang tidaklah mudah. Tapi kau menuduhnya yang tidak-tidak—"

"A-aku memang mencintainya. Untuk masalah aku menyesal atau tidak, i-itu sama sekali bukan urusamu dan tidak akan pernah menjadi urusamu. Permisi,"

Dengan cekatan adik Hyuuga Neji itu merapikan seluruh barangnya kedalam tas. Keadaan sangat tidak mendukung untuk mengerjakan revisi. Bahkan ia langsung pergi tanpa mengucapkan apapun lagi kepada Shion.

Hinata sangat sadar jika Shion baru saja menjatuhkannya. Mendeskripsikan bagaimana tidak pengertiannya dia terhadap Naruto. Dadanya sesak luar biasa. Setetes air mata jatuh. Ia menangis dengan perasaan yang perih. Hinata berlari sejauh yang dia bisa.

Hinata meronggoh saku terdepan tasnya. Mencari ponsel dan mencoba menghubungi Naruto. Masa bodoh dengan tatapan heran beberapa mahasiswa-mahasiswi yang kebetulan melintas. Ia sungguh tidak perduli.

"Maaf. Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi."

Hinata tak kuasa. Wajahnya menungkup diantara lipatan tangannya. Tangisnya pecah saat itu juga. Tidak ingin menyangkal lagi bahwa kini ia menyesal. Sungguh sangat menyesal. Seharusnya ia tidak bertindak egois. Seharusnya ia mampu untuk percaya. Seharusnya ia tidak terpengaruh dan seharus lainnya lagi. Kini ia merindukan sosok itu. Pemuda yang sama yang selalu mengisi relung hati serta jiwanya. Uzumaki Naruto.

"Hinata, ada apa denganmu?"

Usapan lembut terasa di puncak kepalanya. Ketika mendongak ia mendapati Tenten—kekasih Neji—menatapnya khawatir. "Kenapa kau menangis?" tanyanya lembut.

Hinata hanya bisa memeluknya erat.

.

.

.

.

.

Senyum kebahagiaan terpancar begitu Profesor Kakashi serta kolega dosen lainnya memuji hasil presentasinya bersama Saara. Dan tidak ada yang lebih membahagiakan lagi ketika Direktur Utama kampus itu menerimanya sebagai mahasiswa kedokteran Universitas Edinburgh. Kerja keras tidak akan mengkhianati, Naruto memegang teguh peribahasa itu. Hampir satu bulan setengah jerih payahnya menyelesaikan bahan presentasi sebaik mungkin untuk di ujikan.

"Pihak kampus memberikan waktu satu bulan bagi kalian untuk mempersiapkan diri. Informasi berkaitan dengan jadwal atau hal lain akan aku sampaikan melalui email. Sekali lagi, selamat untuk kalian," Profesor Kakashi menjabat tangan keduanya dengan bangga.

"Thank you. Thank you so much. I just ..." pria bermasker itu hanya bisa terkekeh melihat reaksi yang Naruto berikan kepadanya. Lantas ia berdiri dan mengikuti para kolega lainnya keluar ruangan. Hanya tersisa dua anak muda.

Saara tertawa lepas. "Kau berlebihan, sungguh." Wajah Naruto yang—apa-ini-mimpi—itu sangat berbeda dengan beberapa menit lalu ketika pemuda itu menjelaskan presentasi. Jika beberapa menit yan lalu wajah itu terlihat penuh beban, maka kini otot-otot wajahnya mengendur seiring kelegaan yang menghampiri.

"Aku berlebihan? Kau bercanda. Ini sangat membahagiakan. Aku bahkan berpikir apa aku sepintar itu?"

"Ya. Kau sepintar kantung mata besar yang menggantung di bawa matamu, hahaha ..."

Naruto menggaruk pipinya dengan malu.

"Jadi, kapan kita bisa pulang?" tanya gadis itu sambil merapikan buku-buku, beberapa kertas dan laptop yang digunakannya selagi presentasi.

"Astaga. Aku belum memesan tiket untuk keberangkatan besok pagi!"

Saara mengernyit. "Are you crazy? Kita tidak mungkin berangkat besok pagi. Paling cepat adalah besok sore," terdengar suara retsleting tas yang ditarik tertutup. "Tapi aku akan mencoba memesan tiket keberangkatan siang. Aku tahu kau sudah terlalu rindu,"

Naruto berjengit. Pipinya memerah samar. "A-aku ... rindu? Kau ... ada-ada saja,"

Saara mendecak. "Ah, kau terlalu banyak bicara. Cepat bereskan barangmu. Kita bisa bersiap-siap lebih awal agar kau memiliki waktu istirahat yang cukup,"

Naruto segera merapikan segala berkas-berkas yang berserakan di meja untuk di masukan kedalam tas. Ia sungguh bahagia. Impiannya seperti selangkah lebih dekat. Bayangan wajah manis Hinata terus mondar-mandir dalam pikirannya. Degup jantungnya meningkat. Setelah sampai ke Jepang ia akan menjelaskannya pada gadis itu. Meluruskan apa yang menjadi tonggak pemisah antara mereka. Berharap Hinata mau memaafkannya. Sebelum benar-benar mematikan laptopnya, ia mengetik sesuatu disana.

"Apa yan kau lakukan?"

Naruto tersenyum miring, "Mengirim email."

"Untuk?"

"Ah, kau terlalu banyak bertanya,"

Saara memutar bola matanya, "Whatever."

.

.

.

.

.

"Heiii Hinataa~"

Hinata tersentak kaget ketika sebuah tangan mengibas-ngibas di depan wajahnya. "Ehh, y-ya, Ino?"

Ino memandangnya dengan lelah. Ia menghela napas. "Akhir-akhir ini kau jadi lebih pendiam dari biasanya. Kau juga jadi sering melamun," tatapan Ino melembut, "Ada apa?"

Hinata tidak menjawab. Menyeruput minuman bersodanya menggunakan sedotan dengan gelisah. Tatapan itu masih kosong seperti hampa. Sudah hampir sepuluh hari revisi skripsinya teronggok begitu saja. Semangatnya menurun seiring pikirannya yang semakin tak menentu.

"Sesuatu mengganggu pikiranmu?"

Tatapannya menyendu. Sudah hampir sebulan Naruto sulit dihubungi. Selalu tidak aktif. Rasa rindu dan bersalah beradu satu dalam hatinya. Memutar-mutar kaleng soda dengan hampa. "A-aku hanya merasa sudah melakukan kesalahan yang besar,"

"Naruto?"

Hinata tidak menjawab. Manik indah berwarna lavender itu tidak menampakan ekspresi apapun. "Jika saat itu dia tidak benar-benar selingkuh, m-mungkin kini dia sudah berpaling. Aku mencintainya selama hampir dua setengah tahun, tapi tidak cukup mempercayainya. B-bukan salahnya jika kini dia mendapatkan tambatan hati yang baru—"

"Apa yang kau bicarakan, Hinata?" Ino menyela. Mengapa sahabatnya ini berubah seratus tiga puluh enam derajat menjadi melankolis? Dia bahkan tidak mengerti kearah mana pembicaraan Hinata. Sejak tadi Ino hanya berbicara sendiri sementara Hinata terus saja melamun.

Wajah Hinata semakin murung. Kedua tangannya menutupi wajah. "A-aku merindukannya, Ino," bahu itu bergetar. Ino segera merangkulnya sayang. Tidak pernah ia melihat Hinata semenyesal ini.

"Mengapa kau berpikir Naruto berpaling, hm?" Tidak ada jawaban. "Jika kau tau sebesar apa dia mencintaimu, kau tidak akan berkata seperti ini,"

Tidak ada isak tangis namun sela-sela jemari itu basah. Hinata menangis dalam diam. Bahkan sebelum ini Sakura mengatakan pagi tadi kedua mata Hinata sembab dan memerah. Rindunya memuncak tapi tidak ada yang mampu dilakukannya. Ia tidak tahu kapan Naruto akan pulang. Ia juga tidak tahu pemuda itu akan menghubunginya atau tidak. Harapannya seolah melebur.

"Tidak ada yang perlu kau sesali jika kau mau untuk merubahnya."

Hinata merasakan kedua tanganya ditarik lembut. Sosok cantik Haruno Sakura tersenyum padanya. Binar dari sorot matanya mampu membuatnya tenang. Gadis ini bagaikan kakak perempuan baginya. Selain sosok Ino yang menghibur dan pengertian, Sakura adalah pribadi yang dewasa namun periang. '

Ino memutar bola matanya, "Dari mana saja kau?"

Sakura tersenyum miring, "Kau terlalu ingin tahu, Ino-pig." Atensinya kembali berpaling pada Hinata. Menghapus sisa-sisa air mata yang menganak di sudut mata. Lagi-lagi senyum menenangkan itu tersungging. "Kalau kau berniat merubahnya, aku bisa membantumu,"

Hinata mengerjap beberapa kali. Sejujurnya ia masih belum mengerti. Namun ia mengangguk entah untuk apa.

"Baiklah, ikut aku." Secara lembut tangannya dituntun untuk berdiri oleh Sakura. Begitupun Ino yang tidak melepas rangkulannya. Mengikuti Sakura menuju taman belakang kampus.

Memasuki hari kedua sebelum liburan semester, kampus terlihat lengang dari mahasiswa-mahasiswi maupun dosen. Hanya beberapa yang kebetulan memiliki jadwal yang padat hingga hari terakhir kuliah, atau memang menggunakan kampus sebagai ajang kumpul bersama teman atau sahabat.

Sore itu pukul empat. Udara dingin mulai menusuk meski berada dalam balutan mantel yang tebal. Begitupun Hinata yang menggunakan mantel selutut berwarna putih gading. Rambutnya dibiarkan terurai menutupi syal dongker yang melilit lehernya. Meski dengan pakaian yang sesuai, tak ayal dia mulai merasa kedinginan. Tubuh Hinata lemah terhadap dingin.

Namun rasa menggigilnya seolah sirna digantikan oleh rasa beku yang justru membuat seluruh tubuhnya sulit di gerakan. Napasnya memburu seiring jantungnya yang berpacu cepat. Bukan. Bukan karena Sakura yang secara tiba-tiba berlari ke arah Sasuke. Melainkan seseorang yang tengah berbincang begitu akrab dengan kekasih Sakura.

Uzumaki Naruto.

Tersenyum padanya.

Melambaikan tangan padanya.

Terlihat tampan dengan balutan almamater khas Universitas Udinburgh yang digunakannya.

Mengabaikan gerutuan Ino yang ditujukan pada Sakura serta rasa dingin yang mulai melemaskan kakinya, Hinata berlari. Menubruk Naruto dengan pelukan meski ia sendiri terjatuh di pelukan pemuda itu karena kakinya yang mulai mati rasa. Baik oleh dingin yang menyengat atau hal lain.

"Tadaima, Hinata,"

Tangis itu pecah bersamaan dengan pelukannya yang semakin erat. Tidak ada kata yang keluar, hanya isakan rindu yang terbayar. Tangan Naruto terangkat mengelus lembut kepala Hinata sementara tangan yang lainnya melingkari pinggang gadis itu guna menopang tubuhnya.

"G-gomenasai ... gomenasai ... g-go-gomenasai,"

Naruto terkekeh, "Kau seperti anak kecil saja, haha." Ia menggendong Hinata untuk duduk dikursi taman terdekat. Naruto melepas pelukannya. Tatapan itu mengarah lurus pada Amethys Hinata yang memerah. Menyelami tatapan yang selama ini Naruto rindukan. Begitu merindukannya.

Ino melirik sadis Sakura yang mesem-mesem melihat pemandangan dihadapannya. "Kau tidak memberitahu apapun padaku, jidat."

"Agar Hinata tidak curiga. Lagipula Sasuke-kun yang memberitahuku,"

"Apa-apaan kau!"

Sakura mendelik, "Apanya yang 'apa-apaan'? Sasuke-kun mendapat kiriman email dari bocah ramen itu kalau pagi ini dia pulang setelah berebut tiket penerbangan pagi dengan penumpang lain," Selanya kesal. Mengabaikan Sasuke yang berdiri acuh tak acuh di sampingnya. Malas mendengar perdebatan tidak penting antara kekasih dan sahabat kekasihnya itu.

"Aku tidak peduli dengan tiketnya. Kau tidak solidaritas denganku!"

"Astaga, Ino ..." Sakura memijat pangkal hidungnya.

Naruto menghapus air mata yang membasahi pipi Hinata serta bulu mata lentik gadis itu. Ia tersenyum kemudian mengecup singkat hidung bangir Hinata. "Kenapa kau meminta maaf?" tanyanya lembut.

Masih dengan sisa isakan yang membuat napasnya tersengal-sengal, Hinata buka suara. "K-kau ... t-tidak marah padaku?"

"Kesalahan apa yang sudah kau perbuat memangnya sehingga aku harus marah padamu?"

"A-aku telah menuduhmu yang tidak-tidak, d-dan ..."

Naruto tersenyum kembali ketika kedua tangan Hinata meremas pelan kemeja dibalik almamater miliknya. Tidak sanggup melanjutnya kalimat akibat sesegukan yang membuatnya sulit berbicara. "Aku yang seharusnya meminta maaf karena telah membuatmu salah paham. Salahku karena tidak memberitahu sejak awal padamu,"

Jemari Naruto mengelus pipi Hinata. "Namun juga bukan tanpa alasan mengapa aku tidak memberitahumu sejak awal. Karena aku ingin memberikan paman Hiashi dan Hyuuga Hinata sebuah kejutan,"

Hinata bingung. "A-ayah?"

Sementara Naruto mengangguk. "Selain cita-citaku menjadi seorang dokter, aku tidak ingin berhadapan dengan ayahmu dengan 'tangan kosong'. Dengan kata lain, aku harus bisa memegang kepercayaan serta jaminan kau akan bahagia bersamaku di depannya," tangannya memainkan poni Hinata. "Intinya adalah aku berusaha menggapai impianku serta membangun kepercayaan ayahmu padaku untuk membahagiakan putrinya,"

"N-na-naruto-kun—"

"Hinata, setelah kau menyelesaikan skripsimu dan wisuda ..." rona merah samar menghiasi pipi bergarisnya. "Menikah denganku, ya? Kau mau kan jadi istri seorang dokter? Aku pun yakin ayahmu senang memiliki menantu seorang dokter, ehehe ..." kini ia menggaruk belakang kepalanya dengan gugup, "Hitung-hitung juga temani aku disana. Untuk tanggungan hidup mungkin tidak seberapa tapi aku berusaha agar kita tidak hidup susah," dan setelahnya ia tertawa canggung.

Sakura maupun Ino menganga tidak percaya. Sasuke menaikan sebelah alisnya meski tak dipungkiri sudut bibirnya tertarik keatas. Sedangkan Hinata menghentikan tangisannya dengan wajah tanpa ekspresi. Bibirnya sedikit terbuka, remasan tangannya pada kemeja Naruto mengendur drastis. Kepalanya pusing seolah dunia berputar-putar. Sesuatu menggelitik perutnya sehingga ia merasa sedikit mual.

Naruto memberikannya kejutan?

Semuanya sengaja ia rahasiakan hanya untuk memberi Hinata kejutan. Berjuang keras meraih impiannya dan untuk mendapatkan pernyataan Hyuuga Hiashi agar merestuinya. Memberikan jaminan pada sang ayah jika Hinata pasti bahagia sebagai istri seorang dokter.

Hingga ke negara seberang? Sejauh itukah cinta Naruto padanya?

Sesuatu yang hangat secara tiba-tiba menghampiri bibirnya. Membuat Hinata tersentak dari lamunan. Naruto menatapnya gemas. "Kenapa kau diam saja?"

Blush

"K-kenapa kau sulit dihubungi, N-naruto-kun?" Hinata bertanya dengan suara parau dan pipi yang merona.

Naruto merengut sebal. Ia menunggu jawaban tapi Hinata justru menanyakan hal lain. "Ponselku hilang," jawabnya singkat. Namun, seperti mendapat penerang di atas kepalanya yang mengingatkan akan suatu hal, wajah Naruto kembali sumringah. "Ah, ya aku lupa. Selama ulang tahun, Hyuuga Hinata. Berhenti menuduhku yang tidak-tidak, ya, hehe. Aku mencintaimu. Maaf sedikit terlambat," Naruto tersenyum lebar.

Wajah Hinata memerah sempurna bahkan sampai ke bagian telinga. Seolah menemukan kembali kehidupan, jantungnya berdegup kencang. Rasa hangat menjalari hatinya walaupun dingin membekukan kakinya. Kepalanya menjadi pusing dan pandangannya menjadi kabur. Seketika dunianya menjadi gelap.

Brukk!

"E-eh? Kenapa kau pingsan-ttebayou!"

Terlalu banyak kejutan hari ini untuk seorang Hyuuga Hinata. Tapi setidaknya ia mendapat satu pelajaran penting. Terkadang, ada beberapa hal yang jika dijelaskan baru dapat di mengerti.

.

.

.

.

.

I don't wanna feel the way that i do

I just wanna be right here with you

I don't wanna see, see us apart

I just wanna say it straight from my heart

I miss you ...

.

.

.

Satu Rindu Untukmu

.

.

.

.

.

End


Notes :

Terima kasih sebanyak-banyaknya buat para silent readers terutama yang menyempatkan diri meninggalkan jejak di kotak review. responnya bikin moodbooster buat lanjutin cerita dan rela muter otak usaha biar endingnya ngena dan pas.

Terima kasih tiada tara buat yang kasih saran. Terutama yang benerin grammar b inggris aku yang sebenernya ancur parah tapi nekat soksokan T.T thanks banget yaa :*

maaf kalau alurnya kecepetan dan terkesan di buru-buruin, agak ngejar deadline xD

fic ini aku dedikasiin buat seseorang meskipun dia ga bakalan pernah baca. Jauh banget dari cerita, ga sama samasekali. intinya cuma satu, rindu.

Untuk saran, perbaikan cerita atau alur atau apapun di terima lewat kotak review ya, tapi usahakan jangan flame. Belajarlah untuk menghargai karya orang lain :)

Sign,

Miss Spearsza