Title : Miss You
Author : Dae Lee Moon
Genre : Fantasy, Romance (maybe), sedikit Hurt.
Rate : T (GS)
Main Cast : D.O, KAI, and others!
Warning: GS (Genderswitch), Typo's, GAJE, Alur Kecepetan, OOC.
Summary :Kenapa kau pergi begitu cepat, bahkan disaat aku belum mengatakan padamu bahwa aku menyukaimu. MISS YOU. This is KaiDo/TWOSHOOT/GS^^
.
.
.
.
.
Don't be a plagiator!
.
.
.
.
Tidak terima bash
.
.
.
.
.
.
NO SILENT READER
.
.
.
.
.
.
YAKSOK?
.
.
.
.
.
.
Let's be a good reader and happy reading^^
.
.
.
.
.
.
Check it out
.
.
.
.
Miss You / Last Chap
.
.
.
.
.
.
Kai berjalan dengan membawa beberapa tas belanja sambil berjingkrak-jingkrak tidak karuan.
Kali ini lebih konyol daripada sekedar menghentak-hentakkan kakinya di lantai, seperti yang pernah ia lakukan saat talk show.
Dia sedang membayangkan kehidupan yang akan ia jalani selanjutnya bersama dengan DO.
Bukankah terlalu cepat jika memikirkan hal itu sekarang. Bahkan Kai tidak tahu apa yang sedang terjadi di apartemennya.
Begitu inginnya cepat sampai rumah, Kai sampai rela naik dari lantai satu sampai lantai empat belas dengan menggunakan tangga darurat. Dia tidak mau membuang-buang waktu untuk menunggu lift sampai di lantai dasar.
Senyum sumringah tetap ia pancarkan ketika sudah sampai di depan pintu apartemennya, tak apalah jika dia harus naik tangga. Anggap saja olahraga pagi.
"Kyung~" suaranya terdengar nyaring sampai di setiap sudut ruangan rumahnya.
Tiba-tiba ada dua buah tangan yang memeluknya dari belakang. Kai tersenyum, sepertinya DO ketakutan saat ia tinggal tadi pagi, pikirnya.
"Siapa yang kau cari Kai.." suara itu, bukan DO. DO tidak pernah memanggilnya seperti itu.
Kai membalikkan tubuhnya menghadap suara tadi sambil memegang kedua tangan yeoja yang telah bersuara.
"Mwoya. Kenapa kau ada di sini. Di mana dia!" tanya Kai sedikit membentak.
"Dia siapa?" Luhan melepaskan genggaman Kai padanya.
"Ahh... yeoja yang kau temui di pub dan tidur di rumahmu pagi ini?" tanya Luhan sinis.
"Dia bukan wanita seperti yang ada dalam pikiranmu!"
"Buktinya tadi dia ada disini. Menggunakan kemejamu. Lalu dia itu apa!" Luhan berteriak di depan Kai.
Kai mengepalkan tangannya. Rasanya ingin sekali membuat wanita ini berhenti berteriak padanya.
"Kau benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi Kai..." Luhan merendahkan suaranya.
"Kau yang tidak mencintaiku noona. Dari dulu kau hanya terobsesi padaku. Tapi aku tetap percaya bahwa kau mungkin benar-benar akan mencintaiku suatu saat nanti. Tapi ternyata tidak!" Kai terlihat marah.
"Kai, mianhae..."
Luhan meraih salah satu tangan Kai dan menggenggamnya erat. Ia sadar bahwa selama ini dia terlalu egois pada Kai.
"Gwaenchana. Mungkin ini yang terbaik untuk kita. Jadi, kemana kau menyuruhnya pergi?" tanya Kai menatap kedua mata Luhan.
"Eoh? Tadi aku hanya menyuruhnya keluar dari rumahmu sebelum kau datang. Kau tidak bertemu dengannya?" Luhan melepaskan tangan Kai darinya.
"Aniya."
Kai mengusak rambutnya ke belakang. Kai frustasi.
Tadi dia menggunakan tangga darurat, sedangkan DO mungkin menggunakan lift. Sehingga mereka berdua tidak sempat bertemu satu sama lain.
"Kalau begitu pulang dan istirahatlah di rumah. Kau terlihat tidak baik. Aku akan pergi, bye.."
Kai mengusap pundak Luhan beberapa kali. Kemudian pergi untuk mencari DO. Sepertinya dia masih berada di sekitar apartemennya. Semoga saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sreettt...
DO menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Dia berlari terlalu cepat hingga tidak tahu jika sekarang dirinya sedang berada di tengah jalan raya.
DO menyingkirkan kedua tangannya. Sedikit takut karena walaupun dia tidak terluka, mungkin DO akan kena marah pengguna jalan karena menyebrang sembarangan.
Hidup di bumi memang tidak seindah yang ia bayangkan. Terlalu banyak aturan.
Andai saja dia masih bisa menggunakan kekuatannya di bumi. Mungkin dia akan menghilang sekarang juga.
Tapi jika ia sampai menggunakan kekuatannya, keberadaannya di bumi akan terancam. Karena penghuni langit akan segera menemukannya.
"Gwaenchana?" seseorang bertanya sambil memegangi kedua tangan DO yang masih menutupi wajahnya.
DO memberanikan diri untuk membuka tangannya. Dan dia melihat ada seorang namja yang berdiri di hadapannya.
Namja itu melepas mantel tebalnya, lalu memakaikannya pada tubuh DO dan membawanya ke tepi jalan.
"Kau benar-benar tidak terluka?" tanya namja itu lagi.
"Ne, gwaenchana.. maaf karena mengagetkanmu" jawab DO.
"Ne.."
"Chogi.. kau mau kemana? Apa rumahmu berada di daerah ini. Kau tidak sedang lari pagi di jalan raya bukan?" tanya namja itu lagi.
Namja itu memandangi DO dari atas sampai bawah. Tidak mungkinkan lari pagi hanya menggunakan kemeja seperti itu. Pikirnya.
"Itu.. rumahku berada di lantai paling atas" jawab DO cukup lama.
Dia menunjuk ke atas. Bukan ke langit, tapi sebuah gedung.
Tidak mungkinkan jika DO mengatakan yang sebenarnya pada namja yang bahkan belum diketahui namanya.
"Ahh.. di sana. Temanku juga tinggal di sana" kata namja itu.
"Sebenarnya itu bukan tempat asliku.." ucap DO pelan.
"Ye?" namja itu sedikit bingung dengan ucapan DO.
Tapi sebelum DO menjawab kebingungannya, suara ponsel namja itu menghentingkan percakapan keduanya.
Namja itu menggunakan tangannya, mengisyaratkan pada DO untuk menunggunya menjawab telfon.
"Oh.. Kai. Ada apa? Aku baru saja akan ke rumahmu"
Kai.. samar-samar DO mendengar percakapan namja yang baru dikenalnya itu. Dan dia menyebut nama Kai.
"Kai?" DO tanpa sadar mengeluarkan kata-kata itu.
"Baiklah aku akan menemui Lu noona" namja itu sedikit menjauhkan ponselnya lalu mendekat pada DO.
"Tadi kau bicara apa? Kau kenal Kai?" tanyanya pada DO.
"Eh?" DO bingung harus menjawab apa.
"Itu.. bukankah kau tinggal di sana?" namja itu menunjuk pada gedung berlantai empat belas yang tak jauh dari sana.
"Temanku juga tinggal di lantai paling atas. Namanya Kai. Apa kau mengenalnya?" tanyanya lagi.
"Ahh.. ne" jawab DO.
Kali ini mulutnya benar-benar tidak bisa di jaga. Ia mengatakannya begitu saja.
"Ah.. baguslah kalau begitu..." ungkapnya senang.
"Kai-ya.."
"Jangan katakan apapun padanya!" pinta DO sambil memegangi lengan namja itu.
"Neo eoddiga?" tanya Kai dari dalam telfon.
"Yak! Oh Sehun neo eoddiga!" kali ini Kai berteriak. Suaranya bahkan dapat terdengar oleh DO.
"..."Sehun hanya diam. Dia masih bingung dan tidak tahu harus bertanya atau menjawab apa.
"Ahh aku tahu. Aku sudah melihatmu"
PIP. Kai memutuskan sambungan telfon mereka.
"Apa yang dia katakan?" tanya DO setelah melihat Sehun meletakkan ponselnya ke dalam saku kembali.
Sehun mengendikan bahunya, dia tidak mendengar perkataan Kai yang terakhir.
"Ahh.. siapa namamu dan bagaimana kau bisa mengenal Kai?" tanya Sehun kemudian.
Belum sempat DO menjawab pertanyaan Sehun tangannya sudah lebih dulu ditarik oleh seseorang, Kai.
"Ya Kyung~ gwaenchana? Kenapa kau lari dari rumahku!" tanya Kai sedikit membentak, dia benar-benar khawatir pada Kyungie-nya.
"Yak! Apa-apaan kau ini!"
Kini Sehun yang membentak Kai sambil menarik Kai agar dia melepaskan yeoja di hadapannya.
"Jangan menahanku Oh Sehun. Kau temuilah Lu noona. Dia membutuhkanmu sekarang"
Kai melepaskan mantel Sehun pada tubuh DO lalu mengembalikannya pada Sehun.
"Dan dia adalah tamuku, jadi aku yang harus mengurusnya" katanya kemudian sambil memakaikan mantel yang dia pakai pada DO.
"Terserah kau saja" kemudian Sehun pergi menggunakan mobilnya.
Kai menggandeng tangan DO lalu menuntunnya untuk berjalan. Baru beberapa langkah, DO menghempaskan tangan Kai darinya.
"Wae?" tanya Kai bingung.
"Kemana? Apa kau akan membawaku kembali ke rumahmu?"
"Memangnya kau mau pergi ke mana dengan pakaian seperti itu?"
Kai balik bertanya sambil memandangi DO yang masih menggunakan kemejanya. Walaupun sudah di tutup dengan mantel besarnya.
DO memandangi dirinya sendiri. Lalu menatap ke apartemen Kai yang terlihat dari sana.
"Dia sudah tidak ada di sana" kata Kai, seolah dia mengerti dengan apa yang sedang DO pikirkan.
Dan DO menatapnya dengan tatapan burung hantunya. 0_0
"Namanya Luhan, dia mantan kekasihku" lanjut Kai.
Kai menggandeng tangan DO dan mengajaknya untuk berjalan kembali.
"Lain kali kau tidak perlu takut jika dia datang ke rumahku. Karena kau adalah tamuku"
Dan beberapa perbincangan ringan mengiringi perjalanan mereka saat kembali ke rumah Kai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Luhan kembali ke tempat dimana dia menangis tadi malam, sungai han. Luhan duduk di tempat yang sama seperti terkhir kali.
Suasana di sungai han saat siang hari benar-benar berbeda. Lebih banyak orang yang datang ke tempat ini.
Entah itu memancing, atau sekedar mencari udara segar seperti yang Luhan lakukan saat ini.
Lagi-lagi saat dirinya sedang berpikir sambil mengamati sungai, Luhan dikejutkan dengan datangnya seseorang di sampingnya.
Dia adalah orang yang sama, Oh Sehun. Bedanya kini Sehun datang dengan dua buah bubble tea di tangannya.
"Gomawo.." kata Luhan setelah menerima satu bubble tea dari Sehun.
"Dari mana kau tahu aku berada disini?" tanyanya kemudian.
"Saat kau ingin menangis, pasti kau akan datang ke tempat ini. Aku benar kan? Tapi sepertinya kali ini kau datang bukan untuk menangis" jawab Sehun sambil sesekali menyedot/? Bubble tea-nya.
"Tentu saja!"
"Lalu kenapa kau pergi menemui Kai begitu bangun dari rumahku?" tanya Sehun heran.
"Aku hanya memastikan bahwa dia benar-benar ingin putus denganku. Dan ternyata benar. Ahh kau tahu, ini menyakitkan" jawabnya tanpa merasa sedih sedikitpun.
"Lalu kenapa kau tidak menangis sekarang"
Sehun mulai membubuhi Luhan dengan sederet pertanyaannya.
"Karena seseorang pernah mengatakan padaku... 'Jangan menangis lagi... jangan menangis karena namja lain..' dia berkata seperti itu"
Jawab Luhan dengan nada yang sama seperti saat Sehun mengatakan hal itu padanya.
Sehun menatap Luhan penuh arti. Kemudian kembali meminum bubble tea-nya sambil melihat ke arah lain.
"Sehun-ah.. tidak bisakah kau kembali padaku seperti dulu? Kembali mencintaiku..." kata Luhan tiba-tiba.
Ini benar-benar sangat memalukan baginya. Memohon pada orang yang dulu pernah ia tolak mentah-mentah.
"Sejujurnya mudah bagiku untuk melakukan itu noona. Tapi jika kau kembali padaku hanya karena Kai baru saja memutuskanmu, aku tidak akan menerimanya"
Sehun meletakkan bubble tea-nya lalu menatap Luhan tajam.
"Aku akan menerimamu jika kau datang dengan membawa hatimu untukku. Karena sejujurnya hatiku sudah menjadi milikmu sejak dulu" lanjutnya.
Luhan tertunduk diam. Dalam diamnya ia ingin menangis.
"Mianhae.." kata Luhan dengan suara yang sedikit serak.
"Gwaenchana noona, aku akan menunggumu.." kata Sehun sambil memeluk Luhan dengan erat.
.
.
.
.
.
.
.
"Jong! Ireona..!" DO mengguncang-guncangkan tubuh Jongin yang tidak mau bangun dari tidurnya.
Jika dihitung, DO sudah berada di bumi selama 4 hari. Dan ini adalah hari ke limanya. Itu berarti sudah lima kali Kai tidur di sofa ruang tamunya yang sempit itu.
"Ugh.. wae Kyung. Ini masih pagi"
Kai menarik selimutnya kembali. Baru kali ini ada yang berani membangunkannya saat matahari belum terlihat dari jendela rumahnya.
"Jong.. aku ingin pergi ke taman hiburan lagi" rengeknya.
Terhitung sudah dua hari terakhir ini Kai mengajaknya ke taman hiburan sebelum Kai pergi bekerja.
Dan hari ini DO menginginkannya lagi. Menjajal beberapa wahana, mengambil boneka di kotak permainan sampai memakan permen kapas sambil melihat binatang bersama-sama.
Dan di saat seperti ini Kai tidak akan bisa menolak keinginan DO.
"Ya! Jangan berlari" Kai berteriak pada DO yang berlari jauh di depannya.
Kali ini DO tidak mau pergi ke taman hiburan menggunakan mobil Kai. Karena itulah mereka harus berjalan beberapa meter untuk sampai di tempat pemberhentian bus.
Halte bus sudah ada di depan mata. Tapi mereka masih perlu menyeberang jalan untuk sampai di halte kosong itu.
"Kyung! Hati-hati! Hampir saja kau tertabrak!" Kai segera menarik tubuh DO yang sudah berada di tengah jalan lalu memeluknya.
Satu kebiasaan buruk DO yang sudah diketahui oleh Kai adalah dia tidak akan memperhatikan apapun ketika kemauannya belum terpenuhi.
Termasuk dengan seenaknya menyeberang jalan tanpa memperhatikan jalanannya.
Mereka melangkahkan kakinya untuk menyeberang jalan. Sangat bahaya memang karena ini bukan tempat penyeberangan.
Tapi saat mereka hampir saja tiba di unjung jalan, mereka malah melihat ada sebuah truk yang sedang berjalan ke arah mereka dengan kecepatan tinggi.
Suara klakson dari truk itu terdengar beberapa kali di telinga DO dan Kai.
Kai menutup wajahnya menggunakan salah satu lengannya karena tidak tahan melihat cahaya dari lampu truk itu yang semakin dekat dengannya.
DO melepaskan genggaman Kai lalu merentangkan kedua tangannya. Matanya terpejam seakan sedang membuat sebuah permintaan.
DO membuka matanya kembali, sepertinya permintaannya terkabul. Dia bisa melihat truk itu sudah berhenti beberapa mili darinya.
Tidak hanya truk itu, bahkan semua yang ada di sana berhenti. Termasuk Kai dan waktu. DO menghentikan semuanya.
Dan karena permintaannya, sekarang dirinya sudah berubah kembali. Menggunakan long dress putih dengan kedua sayap di punggungnya, cantik.
Sebelum semuanya kembali seperti sedia kala, DO segera membawa Kai pergi dari sana. Menghilang bersama dengannya.
Kai menerjap-nerjapkan matanya bingung. Sepertinya dia baru saja pergi ke halte bersama DO, kenapa sekarang sudah berbaring di sofa rumahnya, pikirnya.
"Kyung.." panggil Kai, sambil memegangi kepalanya. Sedikit pusing rupanya.
"Eoh? Wae? Kau sudah bangun?" DO menghadap pada Kai.
Sekarang dia tidak lagi bersayap. Sudah menjadi DO yang seperti manusia biasa.
"Bukankah tadi kita sedang dalam perjalanan ke taman hiburan?" tanya Kai bingung, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jeongmal? Pasti kau tadi bermimpi. Kalau begitu ayo kita ke taman hiburan, kau kan sudah bermimpi tadi"
"Ye? Sepertinya tadi aku tidak harus menceritakan mimpiku padamu" kata Kai sambil memanyunkan bibirnya imut.
"Aigoo.." DO juga memanyunkan bibirnya, tidak kalah imut dengan Kai.
"Baiklah, aku akan membeli makan sebelum kita pergi. Oke!" kata Kai sambil mencubit pipi DO sebelum ia pergi untuk membeli sarapan.
DO memandangi kepergian Kai dengan sendu, dia sedih dan juga takut.
Kai menapakkan kakinya memasuki lift apartemennya. Tangannya penuh dengan makanan yang akan ia makan bersama DO.
Entah mengapa hari ini ia begitu bersemangat.
Meskipun saat tadi terbangun kepalanya merasakan pusing yang luar biasa. Seperti baru saja menaiki wahana berbahaya yang pernah ia coba bersama DO di taman hiburan.
Deg.
Jantung Kai berhenti berdetak untuk beberapa saat. Ia masih tidak percaya ketika seseorang sudah mengacaukan rumahnya.
Lihatlah, barang-barangnya pecah semua dan berserakan di lantai.
Belum lagi DO yang sedang dijagal/? Oleh dua orang yang bahkan tidak dikenalnya. Tapi apa mereka manusia.
Sepertinya tiga makhluk yang terlihat seperti manusia ini berasal dari tempat yang sama seperti DO.
BRUKK
Kai membuang makanannya sembarangan.
"Yak! Lepaskan dia!"
"Diam disana!"
Baru saja dia mau mendekat pada DO, seseorang menahannya dengan sebuah tongkat.
"Kau harus dihukum karena berani kabur dari tempat tinggalmu!" kata orang yang menahan Kai dan sepertinya perkataan itu ditujukan pada DO.
DO tidak bisa melakukan apapun karena tubuhnya telah dikunci oleh orang-orang itu.
"Apa dia ayahmu? Suaranya seperti ahjussi di toko tadi" Kai tidak bermaksud untuk mengejek mereka.
"Diam kau. Kita tidak sama sepertimu" orang itu tampak marah pada Kai.
Kai menatap DO, seperti sedang menyusun sebuah rencana untuk melarikan diri bersama. Tapi pergerakan orang itu lebih cepat dari pada Kai.
Saat Kai hendak berlari mendekati DO, seolah-olah ada sesuatu yang melilit tubuhnya. Semakin Kai berusaha untuk bergerak, semakin erat pula lilitan itu pada tubuhnya.
"Arghhh...!" Kai berteriak hebat.
Sepertinya dia tidak tahan lagi dengan lilitan yang ada di tubuhnya dan berakhir dengan tubuhnya yang tumbang di lantai.
"Kai-ya!"
DO yang melihat Kai terjatuh langsung mengerahkan kekuatannya. Seperti beberapa saat yang lalu saat menyelamatkan Kai dan dirinya dari sebuah truk.
Mungkin karena itu pulalah, penghuni langit sampai bisa menemukan keberadaannya.
Tangan DO terlentang, kedua sayapnya pun ikut keluar bersamaan dengan cahaya yang tiba-tiba terpancar dari tubuhnya.
DO memejamkan kedua matanya dan seketika itu pulalah ia terangkat ke atas dan menghilang bersama cahaya putih itu. Bukan hanya DO, tapi semuanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kai menerjapkan matanya, menyesuaikan bias cahaya yang mengusik tidurnya.
Kai memegangi kepalanya yang terasa berat dan pusing. Seperti ada sesuatu yang sedang ia pikirkan.
Pakaiannya sudah rapi, tapi kenapa dia masih berada di atas ranjang.
Kemudian Kai berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri sambil membenarkan posisi jaket hitam yang sering digunakannya ketika bekerja.
KRING...KRINGG...KRIINGGGG...
Suara jam weker yang ada di nakas meja di samping ranjangnya mengintrupsi kegiatan berkacanya.
Kai berjalan mendekati meja itu untuk mematikan jam weker tersebut. Jam telah menunjukkan pukul 10.00 KST. Saatnya bagi namja itu untuk berangkat bekerja.
Derrrtttt... derrtttt...deeerrrttttt...
Namun getaran yang ditimbulkan oleh ponsel yang berada di saku celananya menghentikan langkah Kai saat hendak keluar dari apartemennya.
"Yeoboseyo..." sapa Kai.
"Chagiya... kapan kau akan menjemputku? Aku sudah menunggumu sejak tadi. Jika kau tidak datang juga, aku akan berangkat bersama Oh Sehun!"
Ancam seseorang yang membuat ponsel Kai bergetar.
"Tunggu sebentar lagi.." jawab Kai enggan.
"Baiklah jangan lama-lama. Chup~" Plip.
Selalu saja seperti ini. Menelfon dan memutuskan telfonnya kapanpun ia suka. Kai akan lebih cepat sampai jika yeoja tadi tidak menelponnya terlebih dahulu.
Gruuuhhhh...gruuuuhhhh...gruhhhh
Tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh. Seperti sedang terjadi gempa bumi. Tapi suara itu cepat sekali menghilangnya.
Kai segera kembali ke dalam kamarnya mengambil sebuah kamera yang ada di meja kerjanya.
Melihat beberapa foto yang ada di dalam sana. Dan ternyata benar, ada sebuah bola api berukuran besar yang sempat ia abadikan.
Kai keluar dari kamarnya, menuju sofa ruang tamunya. Tapi di sana tidak ada siapa-siapa. Dia hanya menemukan sebuah bulu putih yang ada di lantai ruang tamunya.
Kai terduduk diam sambil memegangi bulu itu. Ternyata ini bukanlah mimpi.
Dia, Do Kyungsoo benar-benar ada di sini sebelumnya. Bahkan Kai sendiri yang memberinya nama itu.
"Kenapa kau pergi begitu cepat, bahkan disaat aku belum mengatakan padamu bahwa aku menyukaimu"
Kai mencium bulu putih nan lembut itu. Dan dia menangis dalam diam.
'Kyung~ kau dimana? Apa kau bisa melihatku?' kata Kai dalam hati sambil melihat ke langit-langit rumahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku akan selalu melihatmu, karena hatiku milikmu. Aku merindukanmu dan aku mencintaimu. –D.O
KYUNG~ bidadariku. Bagaimana kau telah mencuri hatiku. Hanya kau satu-satunya yang ada di dalam hatiku. Dan aku tidak ingin menghiasnya dengan yang lain, selamanya... –KAI
.
.
.
.
.
END
'Jangan pernah mengejar kupu-kupu karena kupu-kupu itu akan semakin menjauh. Biarkan kupu-kupu itu terbang. Suatu saat nanti kupu-kupu itu akan datang kembali untuk mencarimu'.
TAPI KUPIKIR ITU SALAH. KARENA SAMPAI HARI INI... DETIK INI... KUPU-KUPU YANG TAK PERNAH KU KEJAR LAGI MENGHILANG ENTAH KE MANA. BAGAI DITELAN BUMI. TAK BERBEKAS. MUSNAH...
ASA! Akhirnya FF TWOSHOOT ini terpenuhi juga. Yeey~
Apakah ending-nya mengecewakan? –aku tahu.
Aku juga bingung kenapa harus sad ending / kenapa KAISOO pada akhirnya tidak bersatu.
Tapi mau gimana lagi. -,-
Haruskah aku buat SEKUEL-nya?
Menurut para viewer bagaimana?
Saya tunggu jawaban kalian saat review. ARRASEO^^
Kalau memang banyak yang menyarankan. Akan ku usahakan.
Tapi syaratnya HARUS BANYAK yang minta ne!
Sekali lagi gomawo buat yang udah review maupun yang udah baca.
***Happy Kyungsoo Day***
2015.01.12
***Happy KAISOO Day***
2015.01.13
Kado apa yang sudah kalian persiapkan untuk besok pagi?
2015.01.14
:* reru95 :* NopwillineKaiSoo :*
:* yixingcom :* Kim Kaisoo :* MbemXiumin :*
Khamshamida~
