Bagaimana Jika…
Chapter 2 : Minggu, Part 2
(Warning: Include XXX content, Lemon, Mpreg. Kalian sudah diberitahu, jadi jangan salahkan aku!)
-Lee's POV-
Berlari ke jalan bawah, aku tetap tidak percaya aku mengatakan itu dengan sangat keras:
'Wow, kamu menarik'.
Wow, aku ini orang yang bodoh! Tapi kebenarannya, dia benar-benar menarik; tapi dia terlalu jauh untuk menjadi milikku. Dia mungkin seperti laki-laki yang menjadi pemimpin para cheerleader yang ingin menjadi pacarnya, bukan tomboy, aku yakin dia pasti sudah mempunyai pacar … seseorang yang selalu menjadi juara umum. Dia mungkin pirang dan sangat menyukai…kesenangan di department store… dia juga mungkin lebih pendek dari dia.
Mengeluh, aku berhenti di bangku taman Konoha, dan duduk disana. Ini jalan pintas ke rumahku sendiri, tapi aku tidak butuh istirahat, tidak peduli seberapa jauh aku berjalan. Aku membalik kakiku dengan gerakan memutar untuk mengurangi sakit di pergelangan kakiku. Hak sepatu ini benar-benar menyakitiku! Aku tidak percaya aku berjalan menggunakan ini. Apa ini yang wanita cantik selalu gunakan seharian? Aku kira, cantik itu menyakitkan… Aku melempar sepatu pink hak tinggiku dan bermaksud menikmati pemandangan, dan langsung menghiraukannya. Pasangan orang tua sedang duduk berlawanan dariku. Disana, sekumpulan pasangan remaja tertawa, beristirahat di bawah pohon, berbagi ciuman di bawah matahari. Melihat sekeliling dengan panic, aku menyadari kalau aku tidak ada pasangan… apa aku terlalu buruk sampai aku tidak mendapatkan perhatian para laki-laki?
Aku berdiri, merasakan agak ditolak. Dengan selop yang kuayunkan menggunakan dua jari yang lelah, aku memulai perjalananku ke rumah. Sebuah angin yang tidak nyaman mengangkat gaunku dan saat aku merasakan dingin di pahaku, aku cepat-cepat memutuskan untuk merubah gaunku menjadi baju biasa dan celana jeans. Jika aku tidak bisa menarik perhatian laki-laki dengan gaun dan sepatu itu, lalu merubah menjadi sesuatu yang nyaman tidak salah kan? Nyeri kurasakan saat aku berjalan di di tanah yang berbatu. Aku melompat kearah rumput untuk meristirahatkan kakiku. Hari ini tidak berjalan seperti yang kurencanakan.
Berjalan melewati pasangan orang tua, aku tersenyum dan melambaikan tangan dan mereka membalas sapaanku. Aku suka melihat pasangan orang tua, meskipun pemandangan mereka menghapus rasa kesepianku, aku menemukan kalau itu membesarkan hati mengetahui mereka berdua bisa saling menemukan satu sama lain dan menyimpan cinta selamanya sampai mati. Aku berharap aku bias menemukan cinta yang seperti itu… tapi itu tidak mungkin, suatu hari nanti, mungkin…
Rasa terkejut berlari di belakang leherku : aku sedang diawasi! Aku melihat ke belakang secara perlaha-perlahan, supaya tidak mengejutkan orang yang mengawasiku. Pasangan tua itu tertawa melihat tupai memakan apa yang mereka lempar ke arahnya, tapi mereka tidak melihat ku dan tidak seorang pun yang berada di belakangku… Rasa ini belum juga meninggalkanku, siapa yang sedang mengawasiku? Kali ini aku membalikkan tubuhku, mencoba melihat apa ada orang selain diriku berada di sampingku; tidak ada kecuali rumput, pohon, dan trotoar. Aku menedipkan mataku. Sangat aneh…
"Hei, lihat gadis rambut bob itu! Hei, saying, tidak ada yang mau menghabiskan waktu mereka mengawasimu. Tidak usah terlalu takut!"
"Yeah, kecuali seseorang yang mencari ingin mencari badut!"
Aku bisa merasakan wajahku memerah karena malu saat kumpulan remaja yang berad di bawah pohon mulai mentertawakanku. Apa aku terlihat ketakutan… Apa aku benar-benar terlihat seperti badut? Tidak bias menahan diriku, aku melihat penampilanku. Ini disebut gaya terlama yang disebutkan di majalah mingguan ini! Aku ragu kalau seorang designer menginginkan orang-orang berpenampilan seperti badut. Aku memberikan pandangan sekilas. Oke, mungkin aku menggabungkannya terlalu banyak style.
Aku tersentak sedikit pada rasa yang menyengatku sekali lagi. Aku tidak pernah salah tentang seseorang yang mengawasiku. Tidak pernah! Rasa ini masih ada di leherku.
"Sayang, kamu sangat lucu untuk dilihat, tapi kamu bisa jalan sekarang."
Aku tidak percaya pada mereka! Aku berjalan pergi meninggalkan mereka yang sedang tertawa kepadaku. Tapi, rasa ini tetap ada…
-Gaara's POV-
Ini tidak memakan waktu terlalu lama untuk menemukan dia. Walaupun jarak taman ke mall setengah mile, orang yang tidak bisa melihat kecepatan gadis itu adalah orang bodoh…atau tidak peduli. Melihat dia berjalan memasuki taman, aku mengikutinya. Saat dia berjalan, aku mengikuti suara langkah selopnya dan mendengar dia menggerutu. Aku tidak langsung menatap dia sampai menyapa pasangan orang tua yang sedang duduk di bangku taman. Dia bahkan mempunyai kelucuan untuk menyapa orang.
Ketika dia berhenti berjalan, aku segera menyembunyikan diriku di belakang pohon dan tetap disana. Ketika dia melihat tepat ke arahku dengan melirik kesamping tanpa membalikkan kepalanya, aku yakin dia melihat siapa yang mengikutinya, tapi ironisnya, dia melanjutkan berjalan. Aku tahu dia menyadari mataku mengawasi dia. Benar-benar hadiah yang istimewa…
"Hei, lihat gadis rambut bob itu! Hei, saying, tidak ada yang mau menghabiskan waktu mereka mengawasimu. Tidak usah terlalu takut!"
"Yeah, kecuali seseorang yang mencari ingin mencari badut!"
Sebuah tawa yang kurang ajar sebenarnya menyakiti telingaku. Warna merah muncul di wajahnya yang menggunakan make-up, tapi aku tahu wajahnya menyimpan rasa ketakutan. Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya, bedri berlawanan arah dari kumpulan remaja itu, dan kali ini aku sumpah dia melihatku, tapi ternyata tidak. Dia tetap berdri disitu untuk sementara, lalu;
"Sayang, kamu sangat lucu untuk dilihat, tapi kamu bisa jalan sekarang."
Dia mengumpulkan harga dirinya yang hancur menjadi tameng yang akan melindunginya dari ledekan mereka. Kenapa orang-orang sinting itu mencoba untuk menghancurkan dia…aku tidak akan pernah tahu. Tapi, aku juga tidak akan membiarkannya, dia adalah gadis yang akan ku ajak ke pesta sekolah, lagipula. Aku melangkah keluar dari bayangan pohon setelah dia menghilang di bukit. Melangkah ke tempat dimana orang-orang sinting itu tertawa, aku memberikan mereka waktu untuk melihat siapa diriku. Aku tahu mereka ini, mereka orang-orang sinting dari sekolah pribadiku, dan mereka sangat tahu siapa aku ini,
"YA TUHAN!"
"OH, GILA! Tidak tahu kalau kau berjalan disini…setelah, uhmm, setelah pulang sekolah…"
"…" Yang lain ketakutan ketika aku menatap mereka.
Pasangan orang tua itu melihat ke arahku dengan pandangan menghina. Aku membalas tatapan mereka sampai suaminya mengangkat tangan istrinya perlahan untuk pindah tempat. Aku tidak peduli dengan mereka. Remaja ini, sayangnya, masalah yang berbeda. Laki-laki berambut hitam dengan mata yang sangat hitam dan kulit yang sangat pucat menatap kearahku. Pelacur berambut pink itu duduk diantara kaki si rambut hitam itu dan memegangnya erat-erat, mengra aku ini adalah iblis yang ingin menarik si pink itu. Dia hanya berharap kalau aku pasti akan melakukannya, tapi tidak bagiku. Mata ungu menatapku dengan pandangan yang sangat menghina seperti pasangan tua itu lakukan, dia membungkus lengannya menggunakan lengan pacarnya yang berambut coklat dan di bundle ke atas. Wanita pirang dengan mata biru langit melekat ke tangan si rambut hitam, si rambut hitam mendengar semua kata-kata sumpahan dari si pelacur pink.
"Jadi begitulah, mahluk ini termasuk dari luar sekolah. Hn. Apa maumu?"
"Neji brengsek! Kamu menyakiti perasaan Lee! Dia membutuhan teman sekarang!" si rambut coklat bundle itu menggerutu untuk sementara dan mulai memegang tangan si mata ungu itu. "Aku tidak percaya aku nongkrong bersamamu sinting!"
"Tenten, tenangla-"
"Oh, diamlah!"
"Ino, lepaskan Sasuke-ku!"
"Kenapa tiddak kau coba, pelacur."
"Diam."
Kediaman menutupi mereka semua seperti Tuhan yang memerintahkan mereka untuk diam. Sekarang aku tahu nama gadis yang akan ku ajak. Apa yang harus kulakukan adalah meyakinkan idiot-idiot itu untuk tahu. Tapi total dari orang-orang seperti ini akan membuatnya semakin sulit…
*Waktu sekarang 3 jam kemudian*
Rumahnya sedang, tapi mengejutkannya rasa hangat terasa di tubuhku. Apa 3 anak kecil berpikir bisa mengalahkanku? Pernah Naruto tidak datang dalam penyelamatan mereka, merka tidak akan kabur dari pertarungan. Dan para gadis? Sangat menyedihkan, bagaimana mereka mengira bisa menghentikanku dari pertarungan. Mereka pikir aku akan menjaga mereka dengan baik-baik, Naruto berharap seperti itu juga. Yang belum pernah bertarung denganku hanya si kulit coklat dengan tato gambar panah di kedua pipinya, dan setelah bertarung, aku berhasil mendapatkan alamatnya dari dia dimana Lee tinggal. Tentu saja, dia curiga apa yang aku inginkan,dan aku memastikan dia kalau aku tidak akan menganiaya Lee…yah, tidak cepat-cepat lagipula…
Dan disinilah aku berdiri. Ring basket yang meempel di atas garasi mobil dan gawang bola di depan lapangan. Walau dia memiliki garasi, dia pasti tidak memiliki mobil. Jarak dia 3 mile dari taman , dan jika tebakanku dia sedang menaiki bus atau taksi tepat, kalau begitu dia mendaki bukit ini dalam beberapa menit. Walau menghentikan pertarungan dan mengusir Naruto dari motorku, aku sudah tiba disini sebelum gadis itu, sejak aku mengendarai motor dan, saat Naruto mengatakan, 'Kau gila dalam kecepatan!'
"WAA! Apa yang kamu lakukan disini?"
7 yard dariku, arah yang berlawanan dari jalanan, melangkah keluar gadis yang waktu itu mengatakan aku ini menarik, yang terindetifikasikan sebagai Lee. Dan dia bebas dari make-up yang awalnya dihapus olehnya. Kenapa dia terganggu dengan itu? Lee menjadi semakin menarik dari biasanya… Dan dia berjalan mundur dariku. Dengan selop di satu tangannya,matanya mencari-cariku dan perasaannya, seperti ingin mencari jalan keluar. Dia tidak akan menemukanya, terutama dengan waktu yang kugunakan untuk mencari dia. Aku tidak bisa berhenti tersenyum sinis, atau rasa tersipu yang muncul di wajahku. Jika dia ingin lari, aku akan mengejarnya. Apa yang dikatakan kakak laki-lakiku tiba-tiba terngiang di kepalaku, 'jangan menakuti mereka, karna aku bisa janji padamu mereka akan kembali ketika kau memohon dengan sangat agar kembali.' Aku lebih baik menjelaskan situasinya terlebih dahulu, tapi itu tidak menyakitkan untuk menggoda dia sedikit. Dia melangkah mundur dan aku melangkah maju, berulang-ulang. Aku membuka mulutku, memilih untuk tidak terlalu kaget, dan-
Di belakangku, pintu terbuka dan 4 kali yang memaksa sampai sekeliling pintu 'terbuka'. Aku tahu karena aku mendengar suara pintu itu terjatuh. Melihat kesamping, ada seseorang yang berpakaian celana hijau gym ketat, baju ketat gym hijau dan penghangat kaki berwarna oranye. Aku piker aku akan buta setelah itu, sampai aku melihat warna hijau menghantam wajahku sampai jatuh ke tanah.
"Siapa kau yang sampai menakuti anak perempuanku yang cantik? Apa kau ingin melakukan penyiksaan? Jawab aku, pengecut keji yang muda!"
Aku menyadari kalau orang hijau itu yang melemparkan tinjunya kearahku. Dengan alis tebal dan rambut style bob itu… dia mungkin ayah Lee. Heh, aku sudah banyak bertemu dengan banyak orang tua ternyata. Aku menatap dia, dia berwaran merah, merah kemarahan. Dia membalikkan wajahnya ke arah Lee, yang memerah dengan sangat.
"Ayah! Kita bahkan tidak tahu apa yang dia lakukan disini! tidak mungkin ini seperti kelihatannya!"
Aku menolak untuk membiarkan dia percaya dengan hal lain, "Tidak, ini tepat dengan apa yang kelihatannya."
"KAU ANAK TERCELA! BERANINYA KAU INGIN MEMBUAT LAYU ANAK PEREMPUANKU YANG BERHARGA!"
"…!" Lee tidak mengatakan apa-apa. Dia menaruh tangannya di mulutnya dan menatapku dalam-dalam, tidak percaya.
Merasa sombomg melihat orang itu, aku mengangkat diriku dari tanah dan membersihkan pakaianku dari rumput. Aku tidak memberinya salam atau jabat tangan karena itu hal yang tidak aku biasa lakukan.
"Aku sedang mengejar dia, dan mengatakan untuk mengatakan jam berapa aku harus menjemputnya pergi ke pesta sekolah. Aku percaya kalau kami sekolah di sekolah yang sama-" Aku mengingat perkataan si kulit coklat. "-,lalu salah satu cara untuk tidak sampai memegang tangannya adalah dengan menjebaknya di suatu tempat; yang pasti tidak ada jalan keluarnya."
Aku memberikan senyum sinis ke orang itu, "Kamu tidak bisa menghentikanku untuk mengambil anak perempuanmu."
TO BE CONTINUE…
