Kuroko dalam wujud perempuan yang diculik oleh Akashi, dan Mayuzumi yang sibuk mencari kakaknya.

Jujur, Mayuzumi tidak khawatir kakaknya itu akan diapa-apakan oleh Akashi. Ia yakin seratus persen, berani menyentuh ujung rambutnya saja Akashi pasti sudah tumbang di serang menggunakan pukulan legendarisnya.

Yang membuat Mayuzumi mengejar sosok kakaknya adalah—

Ia takut membuat kakaknya murka dan memotong uang bulannya hingga 75%.

.

.

Si Gadis Biru

Pt. 2

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Romance

T+++++

2/7

Warning:

Gaje. Typo. OOC. AkaKuro. Sibling MayuKuro with Older!Kuroko. Perhatikan rate sebelum lanjut baca /sip. Saya rasa ini romance failed banged.

.

.

Akashi masih menyeret Kuroko menjauh dari gedung aula, sementara Kuroko mengikuti langkah lebar Akashi dengan—sangat—kesulitan. Sepatu hak tinggi yang digunakannya membuatnya hampir terjatuh.

Pemuda bersurai crimson itu menghentikan langkahnya ketika mereka menginjakkan kaki disebuah taman yang begitu sepi—dan agak horor. Melihat kesempatan yang ada, Kuroko langsung menyentakkan tangannya—dan berhasil.

Ia mengusap tangannya yang terasa panas. Matanya memicing ketika mendapati pergelangan tangannya memerah. Gila. Pemuda didepannya ini monster.

"Mau kemana kau?" Seijuurou menatap Kuroko yang sudah balik badan. Dengan sigap ia kembali menahan tangan Kuroko.

Pemuda yang sedang dalam wujud gadis itu menatap tajam Akashi, "Bukan urusanmu. Lepaskan aku."

Akashi jelas tak menuruti permintaan—yang dimatanya—gadis manis tersebut. Ia justru menarik Kuroko mendekat, hingga tubuh mungil itu jatuh kedalam pelukannya.

'Kurang ajar. Remaja zaman sekarang memang kurang ajar,' batin Kuroko murka.

"Lepaskan aku," desisnya.

Akashi tak menjawab. Tangannya justru meraba tubuh ramping Kuroko—membuat Kuroko merinding tak karuan. Ia membulatkan matanya ketika merasakan pantatnya tengah diremas.

Ia menggeram marah. Kuroko tidak bisa dibeginikan! Pemuda itu pikir dirinya itu pelacur bisa seenaknya disentuh sana-sini?!

Diam-diam Kuroko menggerakan kakinya—mengangkat kaki kanannya yang berada diselangkan Akashi. Sementara itu, Akashi menyeringai senang ketika menyadari pergerakan Kuroko. Akhirnya gadis itu jatuh dalam pesonanya setelah disentuh—pikirnya.

Tangannya hendak meremas bongkahan kenyal itu sekali lagi, sebelum—

—selangkangannya ditendang sekuat tenaga oleh Kuroko.

"Apa yang kau lakukan bodoh!" umpat Akashi sembari memegang benda pusakanya yang kini linu bukan main. Serius. Tadi Kuroko menendangnya dengan sangat kuat. Ia berpotensi kehilangan masa depan.

Kuroko memandang tajam Akashi yang tengah meringkuk kesakitan. Biar saja, itu adalah hadiah yang impas untuk orang mesum semacamnya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia berbalik meninggalkan sosok Akashi.

"Kau! Lihat saja, kau akan bertekuk lutut padaku!" teriak Akashi.

Kuroko mengedikkan bahunya dan berlalu. Apa bocah itu bilang? Bertekuk lutut? Maksudnya ia tergila-gila pada orang mesum sepertinya? Jangan harap Kuroko akan naksir pada bocah. Tidak akan.

.-.-.

"Nii-san, kau tega padaku?" Mayuzumi menatap frustasi kakaknya yang tengah membuat sarapan.

Apa yang ditakutkan oleh Mayuzumi terjadi juga—bahkan lebih parah. Kuroko murka, dan Kuroko yang murka merupakan bencana. Seperti kata orang—marahnya orang sabar itu menakutkan.

Mayuzumi masih ingat, sepulang dari pesta ia langsung di ignite pass oleh kakaknya—yang sukses membuatnya tidak bisa tidur karena nyerinya masih terasa. Belum puas menyakiti fisiknya, kakaknya juga menyakiti batinnya dengan mengatakan.

"Tidak ada uang jajan untuk bulan ini."

Serius. Kenapa kalau sedang marah begini kakaknya itu senang sekali menjadikan uang jajan sebagai korbannya? Mirip sekali dengan ibunya, yang sedikit-sedikit uang saku dan light novelnya dijadikan sandra jika ia berbuat kesalahan.

Kuroko memandang sinis, piring berisi roti panggang, telur, bacon diletakkan dengan kasar dihadapan Mayuzumi, "Siapa yang lebih tega disini?"

Mayuzumi menatap datar, "Kau."

"Chihiro-kun, kemari. Sepertinya tanganku gatal," ucapnya sembari mengibaskan tangan—mengisyaratkan adiknya untuk mendekat, yang tentu saja tidak dituruti oleh Mayuzumi. Pemuda itu beringsut menjauh.

"Kalau tidak karena taruhanku dengan Akashi, aku juga tidak akan memaksamu berdandan cantik," celetuk Mayuzumi—kelepasan.

Kuroko yang tengah menyantap menyiapkan isi tas selempangnya memicing menatap sang adik, "Kali ini apa lagi?"

"Kalau aku kalah aku harus menjadi pacarnya. Aku tidak bisa, Nii-san. Aku belum siap menduakan istriku yang ada di dimensi lain," ujarnya dengan nada sedih dan wajah yang tetap datar.

Kuroko menghela napas, "Gara-gara taruhan konyolmu itu aku dilecehkan oleh bocah mesum itu."

Mayuzumi tersentak, ia menatap sang kakak.

"Wow, itu bagus. Berarti aku yang menang taruhannya."

Tetsuya menarik napas, berusaha menahan emosinya untuk tidak menyuntik mati adiknya saat ini juga, ia meraih tas selempangnya yang ia letakkan di kursi meja makan, "Aku berangkat dulu."

"Nii-san, kau benar-benar tidak memberi uang bulanan? Demi Tuhan, kau tega sekali pada adikmu satu-satunya ini."

Kuroko memutar kedua bola matanya bosan, "Sekali tidak tetap tidak, Chihiro-kun."

.-.-.

Jarum suntik dan beberapa botol kecil berisi cairan obat ditata diatas nampan. Loyang alumunium berisi beberapa gumpalan kapas alkohol diletakkan disamping botol kecil tersebut. Ia membawa nampan itu keluar ruangan menuju kamar tempat dimana pasien yang menjadi tanggung jawabnya dirawat.

Sesekali ia membalas senyum beberapa orang yang tersenyum kearahnya. Meski begitu, ia tetap menjaga langkahnya agar tidak melambat. Yah, profesinya sebagai perawat menuntutnya untuk selalu bergerak cepat dan tanggap. Kuroko jadi ingat, temannya semasa SMU dulu kaget ketika bertemu dengannya di rumah sakit. Ia bilang Kuroko sangat berubah—tidak selambat dulu.

Kuroko mengetuk kamar yang terletak diujung bangsal anak sebelum melangkah masuk. Ia mengulas senyum ketika pasiennya masih tertidur. Nampan berisi peralatan medisnya diletakkan dimeja nakas. Pipi gembil pasien ciliknya ditepuk pelan hingga tersadar.

"Masih ngantuk, Kuroko-nii~" gumam bocah itu sambil menarik lagi selimutnya.

Perawat muda itu menghela napas. Ia harus bergerak cepat—mengingat ia terlambat dari jadwal memberi obat. Selimut merah muda ditarik lagi oleh Kuroko, "Hana-chan harus bangun kalau ingin cepat keluar dari sini."

Gadis kecil itu menatap Kuroko dengan mulut mengerucut lucu, "Aku suka disini. Disini ada Kuroko-san, aku jadi tidak kesepian."

Lengan kecil diusap menggunakan kapas beralkohol, jarum suntik ditusukkan, mengirimkan obat yang harus dikonsumsi gadis cilik tersebut. Setelah selesai, bekas suntikan kembali diusap dengan kapas beralkohol.

"Memangnya Hana-chan tidak ingin bermain dengan teman-teman yang lain?" tanya Kuroko sembari memeriksa infus milik gadis kecil tersebut.

Gadis kecil itu menunduk, "Aku ingin bermain dengan teman-teman."

Kuroko tersenyum. Tangannya meraih nampan yang tadi dibawanya, tangannya yang terbebas mengelus puncak kepala Hana, "Kalau begitu Hana-chan harus cepat sembuh. Tidurlah lagi kalau masih mengantuk, Aida-san akan mengantarkan sarapanmu nanti."

Gadis kecil itu mengangguk. Ia menyamankan kembali posisinya dan kembali terlelap. Kuroko yang melihat pasien ciliknya sudah tertidur kembali langsung bergegas keluar kamar. Masih ada beberapa pasien lagi yang menjadi tanggungannya.

"Kuroko-san."

Kuroko sontak menoleh, ia membungkukkan badannya ketika maniknya menangkap sosok bersurai hijau—yang ia kenal sebagai Midorima Shintarou, putra dari dr. Midorima, sekaligus calon dokter tetap disini.

"Datanglah keruangan Otou-san jika semuanya sudah selesai nanodayo," ucap pemuda itu ketika telah berada dihadapan Kuroko.

Pemuda bersurai teal itmengangguk, "Baiklah."

Mendapatkan jawaban dari sosok yang dimintai tolong, Midorima langsung berlalu. Sepeninggal Midorima, Kuroko langsung mempercepat langkahnya dan menyelesaikan pekerjaannya secepat yang ia bisa. Bagaimana pun juga, Kuroko tidak suka membuat orang menunggu, apalagi itu adalah atasannya.

Pasien terakhir untuk pagi ini telah Kuroko tangani, meski susahnya bukan main, mengingat pasiennya adalah sepasang anak kembar yang aktifnya bukan main. Kuroko menghela napas, ia meregangkan badannya yang terasa agak pegal karena dijadikan kuda-kudaan oleh salah satu bocah itu—ia baru mau disuntik jika Kuroko mau menjadi kudanya—langsung melesat menuju ruangan dr. Midorima.

Ia mengetuk pintu bertuliskan 'dr. Midorima' beberapa kali. Baru ketika ada sahutan ia memutar kenop pintunya. Kuroko langsung membungkuk hormat ketika melihat sang dokter tengah duduk dimeja kerjanya lengkap dengan tumpukan map pasien yang tengah ditekuninya.

Pemuda itu melangkah mendekat, "Ada yang bisa saya bantu, sensei?"

"Ah ya, Kuroko-kun. Begini, putraku sebentar lagi akan menjadi salah satu dokter tetap disini. Aku mau kau membimbingnya mengenali seluk beluk rumah sakit—kau tau, kemarin dia tersesat saat harus ke ruang CT-scan," jelas dr. Midorima—yang disambut dengan protesan dari Midorima yang tidak terima karena aibnya disebarkan oleh ayahnya.

kuroko mengerjapkan sepasang azurenya, "Kenapa harus saya?"

dr. Midorima tesenyum, "Kau adalah perawat kepercayaanku. Jadi, aku menyerahkan putraku padamu. Apa kau keberatan?"

Kuroko menggelengkan kepalanya, "Tidak. Saya sama sekali tidak keberatan."

"Baiklah, kalau begitu sekarang kalian boleh pergi."

Kuroko pamit undur diri, diikuti dengan Midorima dan juga sesosok pemuda bersurai crimson yang sedari tadi memerhatikan Kuroko tanpa Kuroko sadari dari sofa yang berada diujung ruangan tersebut.

.-.-.

Dengan telaten Kuroko menjelaskan setiap ruangan yang mereka lewati. Tidak terlalu detail, ia hanya mengajak putra dr. Midorima itu mengunjungi bangsal-bangsal yang ada disini dan beberapa ruangan spesifik yang sulit untuk ditemukan seperti laboratorium uji narkoba yang terletak dipojok lantai dua, dekat dengan toilet.

Selama menjelaskan pula, Kuroko merasa ada sepasang mata yang menatapnya lekat—saking lekatnya Kuroko merasa punggungnya bisa berlubang. Ia tau siapa yang menatapnya lekat. Seorang pemuda bersurai crimson—yang Kuroko ketahui sebagai orang mesuk yang kemarin seenaknya menyentuh pantatnya.

Akashi Seijuurou—orang yang baru-baru ini Kuroko ketahui terlibat taruhan bodohnya dengan adiknya, dan juga kawan SMU dari Midorima Shintarou yang kebetulan ada urusan dengan pemuda bersurai hijau itu dan kebetulan pula harus ikut tour dadakan ini dengan alasan ingin melihat-lihat.

"Shintarou," suara yang sangat amat dibenci oleh Kuroko membuat tour mereka terhenti sejenak.

Pemuda bersurai teal itu memerhatikan Akashi yang tengah mengobrol dengan Midorima. Ia mengernyitkan alis ketika Midorima kini berjalan kearahnya—sambil mengumpat kecil.

"Cukup sampai disini saja kau membimbingku. Ada hal yang harus kulakukan nanodayo," ucap Midorima.

Baru saja Kuroko akan bertanya, pemuda itu lebih dulu menghampiri seorang perawat bersurai hitam—Takao Kazunari, suster yang baru magang sebulan yang lalu. Mereka berdua terlihat bercakap-cakap sejenak, sampai akhirnya Kuroko tidak sengaja mendengar bahwa Takao akan mengantarkan pemuda hijau itu berkeliling.

Kuroko hanya bisa berdoa dalam hati, semoga dua orang yang masih baru itu tidak tersesat di rumah sakit yang luasnya bukan main ini.

Sepeninggal Midorima Kuroko memutuskan untuk bergegas kembali ke bangsal anak, namun cengkraman pada tangannya membuatnya mengurungkan niatnya. Ia melemparkan tatapan tajam pada Akashi.

"Kau. Gadis biru kemarin 'kan?" tanya Akashi, ia membalas tatapan tajam yang dilayangkan Kuroko.

Pemuda bersurai teal itu berseru panik dalam hati—sial, bagaimana bisa Akashi mengenalinya? Tidak. Pemuda pasti hanya asal bicara. Ia memertahankan raut datarnya, "Apa yang kau bicarakan? Lepaskan aku Akashi-san."

Akashi tak bersuara, ia justru menarik sosok Kuroko menuju toilet yang berada dipojok lantai dua. Toilet yang sepi orang mengingat ruang rawat letaknya cukup jauh dari situ.

Kuroko? Tentu saja ia sudah panik duluan dalam hati—wajahnya tetap datar. Ia semakin panik ketika menyadari kemana arah tujuan mereka. Tidak. Firasatnya buruk—sangat. Berkali-kali Kuroko berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Akashi, namun percuma saja, genggaman pemuda itu terlalu kuat.

Sesampainya di toilet, Akashi menyeret Kuroko menuju salah satu bilik yang berada di pojok. Tubuh mungil perawat manis itu ia dorong begitu saja hingga jatuh terduduk diatas kloset, ia langsung mengunci bilik tersebut.

Kuroko meringis. Punggungnya yang baru saja terbentur kloset terasa menyakitkan. Reflek, ia langsung menatap Akashi dengan pandangan membunuh.

Akashi menatap lekat sosok Kuroko yang sekarang duduk dihadapannya. Pemuda yang tingginya tak lebih tinggi darinya itu kini tengah menatapnya dengan tatapan tajam. Seragam perawat yang dipakainya entah mengapa membuatnya nampak begitu seksi dimatanya.

Akashi menyeringai. Akhirnya dia menemukan sosok gadis birunya itu disini—dalam keadaan yang cukup membuat Akashi terkejut. Ayolah, siapa yang menyangka jika gadis seksi yang ia temui semalam itu ternyata seorang—laki-laki?

"Minggir," ketus Kuroko sembari mendorong tubuh Akashi untuk menyingkir dari pintu.

"Kau gadis biru yang semalam," ucap Akashi sembari mengenggam pergelangan tangan Kuroko.

Pemuda itu kembali melempar tatapan tajam, "Sudah kubilang kau salah orang. Aku bukan gadis biru yang kau maksud. Kau bisa lihat dengan mata kepalamu sendiri kalau aku ini laki-laki."

Seringai kembali terlukis diparas tampan Akashi, ia mengangkat tangannya yang masih mengenggam tangan Kuroko, "Tangan ini sama hangatnya dengan tangan yang kugenggam semalam."

Tangannya yang terbebas membelai sisi wajah Kuroko dan berhenti disamping mata beriris azure, "Tatapan tajam ini sama dengan tatapan tajam yang kudapatkan semalam."

Ia mendekatkan wajahnya, bibir merah dihadapannya langsung disantap. Rasanya lebih manis dari yang semalam, dan Akashi lebih menyukai yang ini.

Ia mendorong tubuh Kuroko hingga tubuh mungil itu sekali lagi terjatuh diatas kloset. Tangannya langsung menahan kedua tangan Kuroko yang hendak memukulnya, kaki yang hendak menendangnya pun sudah diatasi dengan cara menjatuhkan tubuhnya diatas pangkuan si perawat manis.

Akashi melepaskan tautan bibirnya, hanya sebentar—sekedar mengambil napas dan kembali mencumbu sosok didepannya habis-habisan. Kuroko yang dilecehkan tak tinggal diam, ia menggelengkan kepalanya, namun percuma. Akashi terlalu sulit untuk dikalahkan.

"Aku membencimu," desis Kuroko begitu Akashi melepas tautan bibir mereka. napasnya terengah-engah.

Akashi menyeringai, "Ya. ya. Aku juga menyukaimu."

Kuroko menatap tajam Akashi, tangannya yang sudah dilepaskan mendorong tubuh yang duduk diatasnya agar menjauh, "Menyingkir dariku orang gila."

"Aku gila karenamu—" dwiwarna bergulir menuju dada Kuroko, membaca name tag milik si perawat.

Ia menyeringai, "—Kuroko Tetsuya. Karena itulah mulai detik ini kau adalah kekasihku."

Azure Kuroko melebar. Ia hendak memukul Akashi, namun lagi-lagi tangannya ditahan, "Kau benar-benar gila. Menyingkir dariku bocah mesum!"

Akashi tertawa, tangannya melepaskan sabuk yang dipakainya. Kuroko yang melihat hal itu mengernyit heran—disisi lain, perasaannya sungguh tidak enak, "Apa yang kau lakukan?"

"Menidurimu. Mana mungkin aku melewatkan kesempatan ini, gadis biru."

Kuroko bergerak mundur, ia berontak ketika tangannya dengan mudah diikat dengan sabuk. Keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya, "Sudah kukatakan kalau aku ini bukan gadis biru bodohmu itu!"

Ibu jari Akashi menyentuh bibir Kuroko yang agak membengkak, "Bibir ini memiliki rasa yang sama dengan yang kucicipi semalam. Rasa yang membuatku ketagihan."

Belum semoat Kuroko protes, bibirnya lebih dulu dibungkam oleh Seijuurou. Sementara bibirnya sibuk menyesap manis dari sepasang ranum itu, tangannya dengan cekatan melucuti kancing seragam perawat Kuroko.

Ia melepaskan cumbuannya. Ia menyeringai menatap Kuroko yang terengah-engah dengan wajah memerah.

"Kita akan menyelesaikan ini dengan cepat."

.-.-.

Kuroko keluar dari dalam bilik toilet dengan tertatih, meninggalkan Akashi yang sibuk membersihkan kekacauan yang dibuatnya. Apanya yang menyelesaikannya dengan cepat? Bocah mesum itu tidak ada lelahnya menggempurnya. Ia bahkan tidak bisa menghitung sudah berapa kali bocah itu keluar didalam dirinya. Yang pasti, ia merasa penuh sekali.

Ia berjalan lesu kearah wastafel, azurenya memandang lekat pantulan dirinya sendiri.

Begitu berantakan.

Kuroko menggeram marah. Ia membasuh mukanya berkali-kali.

Ia membenci Akashi Seijuurou. Sangat membencinya.

Azure Kuroko menatap tajam sosok Akashi yang baru keluar dari bilik toliet melalui cermin.

"Aku membencimu," desisnya.

Akashi menyeringai, ia mendekati sosok Kuroko dan memeluknya dari belakang. Bibirnya mendekat kearah daun telinga Kuroko, mengecupnya pelan dan membisikkan sesuatu yang membuat Kuroko ingin membunuh Akashi saat itu juga.

"Aku akan menghilangkan perasaan bencimu itu, kalau perlu aku akan menidurimu setiap hari sampai bencimu itu hilang."

.-.-.

Ini sudah minggu kedua dimana Kuroko selalu pulang ke rumah dengan keadaan sakit pinggang. Jangan ditanya penyebabnya, karena sudah pasti jawabannya adalah Akashi.

Kuroko tak tau jika pemuda itu benar-benar melakukannya—menidurinya setiap hari. Setiap ia hendak pulang, Akashi pasti sudah mencegatnya dan langsung menggeretnya ke toilet ataupun ke mobilnya sendiri.

Berkali-kali Kuroko mencoba kabur, namun selalu gagal. Pernah pula Kuroko mencoba menghindar dengan pulang bersama dengan Kagami—teman seprofesinya, mendempel pemuda itu, dan hasilnya, tetap gagal, bahkan ia harus menerima hukuman dari Akashi yang cemburu, bocah itu hampir saja membuatnya pingsan.

Mayuzumi menatap kakaknya yang baru pulang dengan tatapan heran, lagi-lagi Kuroko pulang dengan keadaan susah berjalan.

"Akhir-akhir ini sepertinya kau susah berjalan. Apa kau selalu terjatuh di rumah sakit?"

Kuroko menatap tajam adiknya—yang ditatap mengangkat alisnya bingung. Tak mengerti kenapa tiba-tiab dirinya ditatap dengan tatapan membunuh seperti itu.

"Ini semua gara-gara kau, Chihiro-kun!" teriak Kuroko, ia menerjang Mayuzumi.

Jelas menahan terjangan dari tubuh kecil kakaknya bukan hal yang susah, "Kau ini kenapa?"

Kuroko mendelik galak, "Tidak ada uang bulanan untukmu selama setengah tahun!"

"HAH?!" Mayuzumi reflek membanting tubuh kakaknya keatas sofa. Ia menindih tubuh mungil itu. Kedua tangannya masih menahan tangan kakaknya.

"Apa lagi salahku?!" Mayuzumi berteriak frustasi tepat didepan wajah Kuroko yang menatapnya tajam.

"Gara-gara kau aku setiap hari harus berurusan dengan—"

"Ho, rupanya ada yang sedang bersenang-senang disini."

Mayuzumi reflek menoleh, ia mengernyit ketika menemukan pemuda bersurai crimson—Akashi Seijuurou tengah berdiri disampingnya. Ditangannya terdapat sebuah jaket hodie yang Mayuzumi kenali sebagai milik kakaknya. Berbanding terbalik dengan adiknya yang kini menatap heran Akashi, tubuh Kuroko kini sudah membatu.

Firasatnya mendadak tidak enak.

"Tadinya aku berbaik hati ingin mengembalikan jaket milikmu, Tetsuya," ucap Seijuurou. Jaket hitam milik Kuroko dilempar keatas sofa.

Ia melirik tajam Mayuzumi, "Sepertinya kau berulah nakal lagi."

"Chihiro, menyingkir dari tubuh Tetsuya," perintahnya.

Mayuzumi yang terlalu bingung mengikuti perintah Akashi tanpa banyak tanya. Ia menautkan alisnya bingung ketika Akashi langsung menarik tangan kakaknya, membuat pemuda mungil itu berdiri dan langsung menyeretnya ke dalam rumah.

"Tu-tunggu! Ini tidak seperti yang kau bayangkan Akashi-kun!" Kuroko panik. Ia berusaha menahan Akashi yang menyeretnya.

Matanya membulat horor ketika Akashi membuka sebuah pintu dengan sebuah gantungan bertuliskan 'Tetsuya's Room'. Tidak. Jangan lagi. Pantatnya masih sakit.

Mayuzumi yang berdiri tak jauh dar kamar kakaknya hanya bisa geleng-geleng kepala ketika suara-suara aneh—yang Mayuzumi tau suara apa itu—terdengar.

Ia mengulas senyum miring, kali ini ia yang memenangkan taruhannya. Lihat saja sekarang, Akashi sudah tergila-gila dengan kakaknya.

Ah, Mayuzumi tidak sabar ingin segera menyuruh tuan absolut itu macam-macam.

Tanpa ia sadari, sang kakak yang menjadi korbannya tengah mengirimkan seribu sumpah serapah untuknya.

.

.

.

END.