A / N : Berhubung di chapter 1 kemarin belum Rizu taruh keterangannya, jadi akan Rizu jelaskan sedikit tentang jalan ceritanya. Di manga, Ichigo ama Rukia emang gak ketemu selama 17 bulan, tapi di fic ini Rizu buat gak ketemunya selama 9 bulan. Kenapa? Ya itu emang tuntutan skenario-lah, supaya pas Ichigo ketemu ama Rukia, itu pas Rukia lagi hamil tua. Oh iya, di sini ceritanya Ichigo juga sudah kelas XII sewaktu bertemu pertama kali dengan Rukia sekaligus waktu perpisahannya dengan Rukia.
Disclaimer : BLEACH © TITE KUBO
Warning : OOC, maybe modified canon, AR, AT
Genre : Family, Hurt/Comfort
Rated : T
Pair : Ichi-Ruki
NO RAIN, NO RAINBOW
Chapter 2
By : Rizuki Aquafanz
# Flashback #
# Kurosaki's House, Sunday at 5 p.m #
Di dalam salah satu kamar yang tidak terlalu luas itu, berkumpullah tiga orang teman dari si pemuda berambut jingga—yang merupakan putera pertama keluarga Kurosaki. Selama hampir sebulan ini, mereka bertiga secara bergantian menunggui teman mereka yang 'tertidur' di atas ranjang di depan mereka ini.
Salah satu dari mereka bertiga adalah seorang gadis beriris violet. Di mana, dia merupakan 'kekasih' dari sosok yang 'tertidur' itu. Hatinya begitu mencemaskan kondisi sang kekasih yang tak kunjung membuka mata itu. Berkali-kali sudah dia menghela nafas panjang—berusaha untuk menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang berkecamuk dalam otaknya.
"Ku-Kuchiki-san, lihat. Tangan Kurosaki bergerak-gerak."
Ucapan dari pemuda berkacamata di belakangnya, sontak membuat gadis itu mengalihkan perhatiannya kembali pada tubuh pemuda berambut jingga di depannya—setelah tanpa dia sadari, dia telah cukup lama melamun menatap langit sore.
Akhirnya kedua kelopak mata itu terbuka dan menampilkan iris hazel dari si pemuda berambut jingga—yang langsung memposisikan tubuhnya untuk duduk. "Eh? Apa ini rumahku?" tanyanya kebingungan.
"Ya." Jawab gadis itu singkat. "Kau tertidur selama hampir sebulan." Lanjut gadis itu lagi.
"Satu bulan? Ah, iya, kekuatanku?" tanya pemuda itu dengan ekspresi yang susah dijelaskan.
"Ichigo..." panggil gadis itu pelan. Pemuda yang dipanggil Ichigo itu menolehkan kepalanya ke arah kanan—menatap 'kekasihnya' yang sedang menatap wajahnya.
"Kami dengar dari Urahara-san. Katanya kau kehilangan kekuatan shinigami—" Gadis itu memotong kalimatnya sendiri. Iris violetnya menatap iris hazel Ichigo. Raut muka gadis itu mulai berubah. Iris violet yang biasanya terlihat tegar, sekarang terlihat rapuh. Dan Ichigo menyadari perubahan raut muka gadis itu. Segera dipalingkan wajahnya dari tatapan si gadis ke luar jendela. Terlihat dari jendela—semburat jingga semakin jelas terlihat di ufuk barat.
"Oh, jadi kau sudah dengar? Ya begitulah. Kelihatannya aku harus menyerahkan posisiku sebagai shinigami pengganti. Hehe..." guraunya—kaku.
Hening menyelimuti kamar yang ukurannya tidak terlalu luas itu. Ichigo lalu kembali mengalihkan pandangannya pada si gadis. "...Boleh aku keluar? Ada yang ingin aku bicarakan berdua denganmu, Rukia. Ishida, Chad, bisakah kalian pulang ke rumah kalian?" pinta Ichigo pada dua sosok di belakang Rukia—pemuda berkacamata dan pemuda yang berbadan besar.
"Tapi, Kurosaki, kau kan—" baru saja si pemuda berkacamata—Uryuu Ishida—hendak mengeluarkan argumennya, perkataannya sudah dipotong oleh sebuah tangan yang menepuk bahu kanannya.
Ishida lalu menolehkan kepalanya ke arah kanan. Ternyata Yasutora Sado a.k.a Chad yang menepuk bahunya. "Chad?"
Pemuda yang dipanggil 'Chad' hanya menggelengkan kepalanya sekali, lalu menganggukkan kepalanya sekali. Ishida yang mengerti maksud Chad, langsung mengambil nafas panjang dan menghembuskannya dengan keras. "Hah~ baiklah, kami akan pulang. Kuchiki-san, kami titip Kurosaki ya. Kurosaki, awas kalau kau melakukan sesuatu pada Kuchiki-san! Bersiaplah mati di tanganku!" Setelah mengeluarkan ancamannya, Ishida dan Chad lalu keluar dari kamar Ichigo.
Tinggallah di dalam kamar, sepasang sejoli itu—yang saling terdiam seribu bahasa. Angin sore berhembus pelan, menyibakkan tirai jendela kamar Ichigo.
"Ayo kita pergi jalan-jalan Rukia." ajak Ichigo pada gadis yang berdiri tidak jauh darinya.
Karakura Town. Pemandangan sore hari di kota ini benar-benar indah. Gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi tampak terlihat semakin indah dengan background langit senja. Di salah satu sudut kota itu, berdirilah sepasang kekasih yang sedang asyik menatap langit yang semakin gelap. Semenjak keluar rumah, keduanya sama sekali belum mau untuk mengeluarkan suara.
Si pemuda sibuk mengamati sekeliling. 'Keberadaan roh-roh itu mulai tidak terasa. Bahkan reiatsu Rukia juga semakin tidak terasa. Kekuatanku benar-benar akan menghilang.' batinnya.
"Ini adalah perpisahan Ichigo." ucap si gadis, berusaha untuk mencairkan suasana di antara mereka.
Si pemuda menolehkan kepalanya ke belakang. "Kelihatannya begitu. Berapa lama lagi kekuatan ini bertahan, Rukia?" tanya si pemuda, Kurosaki Ichigo.
Si gadis, Kuchiki Rukia, hanya bisa menundukkan kepalanya. "Tinggal satu jam lagi."
SRET
"Ekh?"
Rukia hanya bisa melotot tajam pada Ichigo yang tiba-tiba menggendongnya ala bridal style. Sementara Ichigo sendiri hanya nyengir kuda. "Karena waktuku tidak banyak, kau harus mengabulkan permintaanku 'midget'. Jangan memberontak. Mengerti?" ucap Ichigo dengan nada ancaman plus sebuah seringaian di sudut bibirnya.
GLEK
Menyadari seringaian Ichigo yang terlihat sedikit 'mesum', Rukia langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban—takut kalau tiba-tiba Ichigo melakukan sesuatu di 'luar kesadaran' padanya.
"Hehe..." tawa Ichigo sebelum dia mulai berlari menuju ke suatu tempat. Sepanjang perjalanan, Rukia tak henti-hentinya mengamati Ichigo. 'Apa kita masih tetap bisa seperti ini, Ichigo?' batin Rukia.
Merasa terus menjadi 'obyek pengamatan' Ichigo lalu melirik sekilas pada Rukia. "Ada apa Rukia? Apa ada yang aneh denganku?" tanyanya di sela-sela kegiatan 'larinya'.
Bukannya menjawab, tapi Rukia malah mengeratkan pelukannya pada tubuh Ichigo. "Tidak ada apa-apa."
TAP
TAP
"Hosh... Hosh... Nah, kita sudah sampai Rukia." ucap Ichigo sambil menurunkan tubuh mungil Rukia dari pelukannya. Setelah dapat berdiri dengan benar dan mengamati sekeliling, Rukia langsung mengernyitkan kening. "Ini kuil Ichigo? Untuk apa kita ke sini?" tanya Rukia penuh keheranan.
"Untuk menikahimu, midget." jawab Ichigo dengan innocent-nya. Tak lupa dengan seringaian yang kembali bertengger di wajahnya.
"HAH?"
"Rukia?"
"Hmm?"
"Apa kau senang?"
"Tentu saja Ichigo. Sekarang aku sudah menjadi milikmu seutuhnya kan? Jadi tidak ada yang perlu kau khawatirkan."
"Tapi, kita nanti akan berpisah Rukia. Aku takut, kita tidak akan bisa menjadi sebuah keluarga yang utuh."
Gadis, eh ralat, wanita beriris violet itu mendelik tajam pada sosok yang sedang memeluknya itu. "Kau ini kenapa sih Ichigo? Dengar ya, walau kau tidak bisa lagi melihatku, tapi aku masih bisa melihatmu kan?" bentak wanita itu, Kurosaki Rukia.
Yah, mereka, Ichigo dan Rukia memang sudah menikah satu jam yang lalu. Kedengarannya memang seperti 'seorang lelaki yang harus bertanggung jawab pada si gadis, karena telah membuatnya berbadan dua'—mengingat usia Ichigo yang baru tujuh belas tahun. Tapi itu sama sekali bukan masalah untuk Ichigo. Karena dia terlalu menyayangi dan mencintai Rukia—sekaligus dia takut akan kembali kehilangan Rukia.
Dan di dalam kamar yang tak terhias oleh sedikitpun cahaya, semua hal yang membatasi mereka selama ini terhapus sudah. Lengan kekar Ichigo semakin erat memeluk pinggang 'wanita'nya. Kulit mereka kembali bergesekan satu sama lain. Ingin Ichigo untuk kembali memulai 'permainan' yang sempat dilakukannya tadi dengan Rukia, tapi apa daya, waktu untuknya semakin menipis. Perlahan bibir Ichigo kembali menuju leher jenjang Rukia dan kembali meninggalkan 'tanda' di sana—di antara 'tanda-tanda' lainnya yang sudah dia ciptakan sebelumnya.
"Bilang ke semuanya, aku sudah mencoba yang terbaik." pesan Ichigo pelan—sebelum pelukannya pada tubuh Rukia mulai melonggar.
"Iya." Balas Rukia. Perlahan tubuhnya mulai memudar. Dengan menahan air mata dan senyum yang dipaksakan, dikecupnya singkat bibir Ichigo. Dalam hitungan detik, Rukia sudah menghilang seutuhnya.
"Sayounara, Kurosaki Rukia. Arigatou..."
# Monday at 7 a.m #
# Ichigo P.O.V #
"ICHIGO! SUDAH PAGI! BANGUN!"
Uh, berisik! Otou-san tidak tau apa kalo aku sudah bangun dari tadi? Ngantuknya... Hah~
DEG
Eh, apa itu tadi? Sekelebat memori tiba-tiba terlintas begitu saja di benakku. Tunggu dulu, memori itu tadi...
Mataku tidak berkedip untuk beberapa saat. Wajahku terasa panas sekarang. Aku ingat sekarang, memori itu adalah memori tentang 'permainan'ku semalam dengan Rukia. Rukia ya... Midget, aku berjanji padamu, aku akan berjuang untuk kembali mendapatkan kekuatanku. Saat aku sudah mendapatkan kembali kekuatanku, kita pasti akan bertemu kembali. Lalu kita akan—
"ICHIGOOOOO! CEPAT TURUN!
"ONII-CHANN, CEPAT TURUN!"
Argh, berisik sekali mereka berdua. Gak tau kalo aku lagi bayangin kehidupan rumah tanggaku dengan si midget dan anak-anakku apa? Huh, baiklah, baiklah! Sepertinya aku harus segera turun ke bawah.
"Tampaknya setelah ini, hari-hariku akan semakin berat... Bukan begitu, Midget?" ucapku lirih—sambil memandangi sebuah lemari kecil yang terletak tidak jauh dari tempat tidurku—sebelum keluar dari kamar. Biasanya lemari itu menjadi tempat istirahat untuk Rukia. Tapi, sekarang lemari itu sudah kosong tak berpenghuni.
Hari pertama kembali masuk sekolah setelah libur yang lumayan lama kemarin. Tidak terasa aku sudah menginjak semester terakhir di Karakura Senior High School. Meski sempat ketinggalan pelajaran karena aku tertidur selama sebulan, tapi saat pembagian raport semester kemarin, nilaiku tidak terlalu buruk. Paling hanya ada beberapa nilai yang harus diperbaiki di semester ini.
Huah~ Membosankan sekali. Walaupun sudah berada di atap sekolah dan menikmati susu kotak, tetap saja aku merasa bosan.
"Apa kau sudah memutuskan apa yang akan kau lakukan setelah besar nanti? Dan semacamnya?"
Eh? Kutolehkan kepalaku ke kiri. Sejak kapan si biang mesum ini ada di sini? Pake gelantungan di pagar pembatas lagi.
"Karirku?" tanyaku sedikit bingung.
"Iya itu! Memangnya apa lagi?" sahutnya.
"Apa tidak terlalu cepat memikirkannya?" Sejujurnya, harapanku untuk masa depanku hanyalah—
"Akan ada panduan karir di akhir semester nanti. Kau harus segera memikirkannya! Ah iya, aku ingin tahu apa yang dilakukan Rukia-chan sekarang ya?"
—Rukia. Eh, tadi Keigo bilang apa? Rukia?
"Rukia?"
Keigo mulai memposisikan tubuhnya untuk tiduran. Kedua tangannya memeluk kedua lututnya erat. "Iya. Apa menurutmu bukan hal yang bagus kalau dia sesekali ke sini? Apa menurutmu tidak dingin? Dia belum ke sini sejak saat itu kan? Apa kau tak kesepian?" ucapnya—entah itu sebuah igauan atau memang itulah isi hati Keigo.
Aku tersentak. Baru kali ini ada yang berani bertanya seperti itu padaku. Bahkan otou-san, Yuzu, dan Karin saja tidak pernah bertanya seperti itu padaku. Kesepian? Itukah yang aku rasakan selama Rukia tidak di sisiku?
"Kau kenapa Ichigo? Apa kata-kataku tadi salah?"
"Ah! Tidak. Tidak ada yang salah kok. Mungkin, kata-katamu tadi memang benar. Sudahlah, aku kembali dulu ke kelas. Bye, Keigo."
Itu benar. Aku memang sangat kesepian tanpa Rukia di sisiku...
# End of Ichigo P.O.V #
# End of Flashback #
Waktu terus berputar...
Tapi ikatan ini tidak akan putus...
WUSSSHHH
BLAARRR
Dalam sekejap, kabut putih menyelimuti Summer Snow Building. Dan setelah kabut itu memudar, tampaklah pemuda berambut sore hari dengan 'kostum' barunya. Tangan kanannya memegangi dadanya yang bidang—merasakan kembali kekuatan yang pernah dimilikinya. Pandangan matanya lalu ia alihkan ke sebelah kirinya. "...Rukia." ucapnya.
"Ya. Sudah lama ya Ichigo. Kau sudah semakin tangguh, sejak terakhir kali aku bertemu denganmu." ucap sosok wanita di sebelah kiri pemuda itu.
"BAKAMONO!" bentak sosok itu—sambil melancarkan tendangannya pada pipi kanan pemuda itu.
"OUCH!" jerit si pemuda berambut sore hari—Kurosaki Ichigo.
"KAU MENANGIS SEPERTI PEREMPUAN! SEMENJAK KU TINGGAL PERGI, KAU JADI PENGECUT? SEPERTI ITUKAH SIKAP SEORANG CALON AYAH? AHH, MEMALUKAN! MENYESAL AKU KARENA TELAH MENGANDUNG ANAKMU, ICHIGO!" Kembali sosok wanita itu membentak Ichigo.
Sementara yang dibentak, hanya bisa meringis kesakitan—sambil mengusap pipi kanannya yang memar. Tapi, detik selanjutnya ia tersadarkan oleh sesuatu. "NANI?" Segera dibalikkan tubuhnya menghadap sosok wanita yang telah 'menganiayanya'.
"Tadi kau bilang apa Rukia? Kau—"
"NANI? KUCHIKI-SAN / RUKIA-CHAN HAMIL?" Dua suara dari belakang sosok wanita itu sukses memotong kalimat yang hendak dikeluarkan Ichigo.
Ichigo mendelik sebal ke arah dua sosok itu. Mereka—Kurosaki Isshin dan Uryuu Ishida—tampak sedang mengamati sosok wanita berambut hitam pendek di depan Ichigo. Pandangan mereka terfokus pada satu titik—perut wanita itu.
Seketika bola mata mereka membulat dengan sempurna—begitu mendapati perut wanita itu yang buncit. "ICHIGO, APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADA KUCHIKI-SAN / RUKIA-CHAN?" teriak mereka bersamaan—lagi.
Spontan Ichigo langsung menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Sementara wanita di depannya—Kurosaki Rukia—hanya menyunggingkan sebuah senyum hangat—khas seorang ibu. Tangan kirinya mengelus-elus pelan perutnya yang sudah semakin besar. 'Nah, anak baik, jangan marah lagi ya. Sekarang otou-san sudah bersama kita.' ucap Rukia dalam hati sambil tetap mengelus perutnya.
To be continued...
Rizu : Yay~ akhirnya chapter 2 selesai juga... Bagaimana readers, chapter kali ini? Apa sudah lebih baik dibandingkan chapter 1 kemarin? Semoga begitu ya... Dan Rizu minta maaf *bungkukin badan* atas kesalahan di chapter sebelumnya, maklum Rizu lagi stress gara-gara UTS... *readers : gak ada yang tanya, oy*
Dan semoga chapter kali ini, bisa memuaskan readers sekalian. *baca ulang naskah, begitu sampai pada bagian Ichi yang lagi –sensor- Ruki, langsung tepar*
Ichigo : Dasar author tidak bertanggung jawab! *muncul entah dari mana*
Rukia : Eh, Ichi, ini ada titipan dari Rizu-chan sebelum dia tepar tadi. *nyerahin secarik kertas ama Ichi*
Ichigo : *baca pesen Rizu* Apa-apaan ini? Dasar author geblek!
Rukia : *ikut baca pesen Rizu* Udah, terima aja. Yosh, pertama dari Owwie Owl susah log in, hehe, Owwie-san tau aja kalo aku lagi hamil. Nii-san gak bilang apa-apa kok. Pernah tanya sekali, siapa ayah dari janinku, tapi belum aku jawab sampe sekarang, hehe. Iyalah anaknya si Kepala Jeruk itu. Kalo selain dia aku tidak mau *lirik Ichi yang mukanya udah semerah kepiting bakar* Ini sudah update Owwie-san, review lagi ya...
Ichigo : *mukanya udah gak merah lagi*Yo, selanjutnya dari Ray Kousen7, itu udah Rizu kasih penjelasan di atas, Ray-san. Moga dah gak heran lagi ya... Enak aja bilang aku nyentuh anak orang, orang Rukia udah jadi istriku juga, ya ga papa kan? *sewot* Ini udah update. Review lagi ya...
Rukia : Terakhir dari Vigilante. *nyuruh Ichigo bacain review*
Ichigo : *terima dengan setengah hati* Hehe, maafkan kedodolan author geblek itu dalam membuat fic ini ya, Vi-san. Tapi, sekarang Vi-san udah paham kan dengan jalan ceritanya? Vi-san tau aja kalo si author geblek itu kurang latian, hehe *watados* Review lagi ya, Vi-san...
Rukia dan Ichigo : *bacain pesan terakhir Rizu di kertas* Nah, seperti biasa, saran, kripik singkong, kripik jengkol -?-, maupun flame (asalkan tidak terlalu kasar) akan Rizu-chan / author geblek terima demi kelancaran fic gaje ini... Ja ne in next chapter...
~ Rizuki Aquafanz~
