The Sandal Phone : Knight of The Embodiment Angels.

.

.

Disclaimer's : Naruto by Masashi Kishimoto and High School DxD BY Ichie Ishibumi.

Summery : kau adalah yang pertama yang mampu membuat ku merasakan apa itu kasih sayang, kau juga yang mampu membuat ku merasa nyaman saat berada di dekat mu tapi andai kau tahu makhluk apa aku sebenarnya aku takut kau akan menjauhi ku, kau akan meninggalkan ku dan pergi jauh dari hidup ku untuk selamannya! tapi aku bersyukur andai kami-sama tidak memberiku kesempatan kedua aku tidak mungkin mengenal mu dan merasakan semua ini! Warning: Strong! Naru BUT NOT Godlike!,Emotionless! naru.

Rate : [M]

[Dikutip dari Light Novel High School DxD jilid/volume 18 : Kau yang satu-satunya menyerupai "Tuhan'' diantara ke-tiga belas dari-NYA. Bahkan jika itu
merupakan seorang Tuhan palsu]

.

.

.

.
Chapter 1 -

.

.

.
Curiga, sebuah rasa yang membuat mu sangat sensitif dengan gerak-gerik sesuatu yang kau curigai, sebuah rasa yang membuat mu gelisah akan sesuatu yang mungkin saja dapat membahayakan nyawamu. Rasa curiga yang kini tengah melanda dan merangkak dihati sang pemimpin tertinggi Da-tenshi. Bukan karena terlalu paranoid atau sensi namun Bagi orang sekaliber Azazel yang telah hidup lebih lama dari siapa'pun, dan pernah tinggal di [eden] ini adalah suatu hal yang ganjil. Bukan tidak mempercayai keputusan Michael sang Archangel sekaligus sahabatnya, namun apakah keputusan ini benar? Dan tidak ada kesalahan? Mingirim seorang pemuda dari ras manusia untuk menjadi wakil fraksi malaikat?

Yang benar saja!

Bukan bermaksud merendahkan ras manusia atau apa! Namun Azazel tidak dapat menerima seorang manusia biasa bergabung dengan timnya. bukan karena ia sombong! Bukan karena ia tidak yakin tapi ia tidak mau mengambil resiko fatal terhadap semua ini karena kelompok ini juga bertujuan untuk melindungi manusia dari segala macam bahaya dan ancaman yang di timbulkan oleh ulah dari Khaos Brigade. Yah... Walaupun Azazel pernah beberapa kali melihat Michael bersama pemuda itu dan bisa merasakan sebuah kekuatan Holy dari pemuda bernama Uzumaki Naruto tersebut, tapi itu adalah kekuatan yang terasa asing namun familyar dalam waktu bersamaan... Ditambah ia juga tidak dapat merasakan aura Sacred Gear dari pemuda itu jadi? Apakah keputusan Michael bisa di pertanggung jawabkan?

Entahlah...

"Uzumaki-kun." Naruto mendongak dan mengalihkan indera pengelihatannya kearah sumber suara. Mata biru bak langit pagi itu memandang datar wajah paruh baya sang Gubernur Da-tenshi yang memancarkan raut kebinggungan. Pemuda itu mengangguk memberi isyarat terhadap sang Gubernur untuk melanjutkan ucapanya. "Apakah kau pemilik Sacred Gear?" pertanyaan bodoh terucap dari bibir sang Da-tenshi yang jelas-jelas ia tahu bahwa pemuda di hadapannya tidak sama sekali memancarkan aura Artifak suci tersebut. Tapi tampaknya pertanyaan itu mendapat respon dari semua orang yang ada di ruangan tersebut, dan sekarang semua mata menapat Naruto dengan tatapan penuh minat.

Dengan gelengan singkat pemuda itu menjawab sebelum ia membuka suara. "Maaf...~ tapi kurasa aku tidak memiliki Sacred Gear" Nada datar tak beremosi namun jujur dapat terdengar dari bibir tipis sang Uzumaki. Merambat, masuk melalui udara dan telinga semua orang.

Seketika dapat di temukan oleh pemuda bermata biru itu tatapan tidak percaya dari semua orang terkecuali Azazel yang menghela nafas. Apakah dia salah? Apakah jawabanya mengecewakan? Entahlah... Namun Naruto tidak tahu mengapa tapi yang jelas ia menyadari ada sedikit tatapan kecewa dari semua orang minus Azazel. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Pertanyaan itu berputar-putar dalam otaknya sampai sekarang, tetapi Naruto masih belum bisa mendapat jawaban atas tatapan kecewa dari semua.

Apakah salah tidak memiliki Artifak suci itu?

Apakah mereka sangsi dengan kekuatannya?

Atau apakah mereka kecewa karena Naruto hanyalah manusia biasa?

'Ck, selalu saja melihat buku dari sampulnya' umpatnya dalam hati tapi ia masih setia dengan memasang raut datar bak tembok pembatas di wajahnya dan tidak memperdulikan tatapan dari semua orang, apa lagi untuk meladeni itu. Menyadari atmosfir canggung yang berlangsung cukup lama di tempat tersebut Azazel mengambil inisiatif. Berdehem rendah untuk mencairkan ludah di tenggorokanya Azazel berdiri sebelum angkat suara. "Baiklah, Uzumaki Naruto~" Azazel menjeda ucapanya sejenak sebelum melanjutkan kembali.

"Selamat datang [DxD] / [DyD]"

[DxD] atau [DyD] Sebuah tim anti-teroris yang di bentuk dua pekan lalu, tepatnya pasca invasi [OSF] Old Satan Faction cabang kedua kelompok teroris Khaose Brigade, saat Rating Game iblis muda antara kelompok Rias Gremory melawan Diodora Ashtaroth. Beruntung dalam invasi tersebut tidak menimbulkan korban jiwa dari pihak tiga Fraksi, karena sang Sekiryuutei lepas kendali atas kekuatanya dan memasuki mode terlarang dari Sacred gear yaitu; [Judgernaut Drive] mode tingkat paling tinggi, dan bisa di kategorikan dalam tekhnik terlarang atau Kinjutsu yang mampu membahayakan nyawa penggunanya sekalipun itu iblis yang notabene-nya memiliki umur hidup yang rata-rata mendekati keabadian.

Berkat itu'pula pemimpin dari [OSF] Old Satan Faction; Salba Belzebuub meregang nyawa dan mati di tangan sang sekiryuutei. Namun bukan hanya karna itu tim Anti-Teroris [DxD]/[DyD] di dirikan, Tapi karena sepak terjang Khaos brigade yang makin meresahkan, maka dua pekan lalu diputuskan oleh aliansi tiga fraksi, yokai dan beberapa dewa mythologi, untuk membenuk tim anti-teroris yaitu [DxD]/[DyD].

Nama [DxD] diambil dari singkatan kata; Dragon X Devil X Down fall(Fallen Angels) dan [DyD] Dragon X Yokai x Demi-God/God, yang berarti dalam tim itu tidak hanya satu jenis makhluk yang menjadi anggotanya tapi dari beberapa jenis atau fraksi lain. Namun karena belum lengkapnya personil dalam tim tersebut maka di putuskan untuk sementara Azazel sebagai pembina sekaligus jendral tertinggi dari tim Anti-teroris tersebut.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Melangkahkan kaki dengan perlahan untuk keluar dari area Kuoh akademi, masih dengan fikiran-fikiran yang membut kepala terasa berjuncang. Pemuda Uzumaki itu menatap lurus jalan sepi nan gelap, ingin rasanya cepat-cepat ia membaringkan tubuh lelahnya ke hamparan kasur empuk di apartermen sederhananya, tapi tampaknya angan-angan itu sirna dalam sekejap mata. Insting prajuritnya berteriak pertanda ada bahaya yang mengintai. Naruto menghentikan langkah kakinya, direksi indera pengelihatanya ia edarkan kesegala arah untuk menangkap pergerakan mencurigakan yang mungkin saja dapat membahayakan nyawanya.

Bettzz!

Bersalto kebelakang tiga kali untuk menghindar dari sebuh tebasan vertikal yang hendak membelah tubuhnya, Naruto memasang sikap siaga. Dari mata biru tanpa emosi yang kini menajam, Naruto mendapati sesosok makhluk yang mengenakan jubah hitam hingga menutupi seluruh tubuhnya.

"Siapa kau?" pertanyaan lumrah terucap dari bibir sang Uzumaki. Hal yang wajar ketika kau berjalan sendiri ditengah malam yang sepi kau mendapati seseorang dengan pakaian aneh yang tiba-tiba menyerang mu dan sekarang masih berdiri di hadapan mu.

Tapi alih-alih menjawab orang itu malah bergerak dengan cepat ke arah Naruto sembari mengayunkan sabit besarnya mencoba untuk memenggal kepala sang target, Namun dengan sigap Naruto mengubah posisi tubuhnya dengan berkayang sehingga sabit tajam itu hanya menebas udara hampa, merasapi holy power ke kaki kanan secukupnya Naruto menendang keras dagu orang aneh itu, menyebabkan orang itu terpental mundur beberapa meter hingga hody yang menutupinya seluruh kepalanya terlepas.

Wajah hancur dengan rembesan darah disana sini yang keluar dari setiap luka dipipi dan kening, mata sebelah kiri yang peceh dan sudah tak berbentuk, sedangkan mata kanannya tampak seperti mulai mengalami pembusukan. Hanya satu kata yang dapat mendeskrifsikan wajah orang yang berada dihadapan Naruto.

Mengerikan!

Ya mengerikan bahkan sangat mengerikan sampai-sampai membuat tubuh Naruto merinding, tapi sekarang bukanlah saatnya untuk merasa ngeri atau jijik, karena bagi Naruto orang yang berada dihadapanya bukanlah sesuatu yang harus di takuti tetapi harus di musnahkan karena telah berusaha membunuhnya. Mencabut sebuh pisau dapur-yang entah sejak kapan ada disakunya-dari saku celana, memutar pisau dapur itu untuk membalikan peganganya, dengan kecepatan yang ia punya Naruto berlari menerjang orang yang berada di hadapannya yang sudah siap dengan sabit besarnya.

"dasar hantu jelek, Heyaaaa"

.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.
"Grim reaper?" sepatah kata berkonotasi datar namun memikiki makna tertentu terucap dari bibir sang Uzumaki. Dengan gerakan perlahan pemuda itu menarik pisau dapur yang ia gunakan untuk menggorok leher sosok makhluk tak bernyawa yang beberapa menit lalu berusaha merenggut nyawanya. Darah hijau kehitaman mengalir deras dari leher sang Grim Reaper yang kini telah menjadi bangkai dan perlahan terurai menjadi abu. Membuang pisau dapur itu ke tong sampah yang berada di pinggir jalan Naruto kembali menghampiri abu bekas Grim reaper malang yang telah musnah dari alam dunia.

"Setidaknya aku mendapat oleh-oleh yang cukup bagus" ucap pemuda itu puas dengan hasil jarahan yang ia dapat. Mengambil sabit merah sang Grim reaper dan menaruhnya di punggun, pemuda bersurai emas itu melanjutkan langkah kakinya yang lelah menuju apartermennya tercinta untuk melepas lelah di tubuhnya. "Hades... Jadi kau ingin bermain kotor eh? Baiklah kalau itu kemauan mu" dan pemuda itu menghilang dalam tikungan gang yang gelap gulita.

Tanpa pemuda itu sadari dari balik tiang listrik tepatnya bayangan tiang listrik keluar sesosok makhluk, mata merah berpupil vertikal kuning itu menatap datar abu bekas Grim reaper yang berada di trotoar jalan, sebuah seringai jahat tampak terliahat jelas dari balik hody yang menutupi wajah sosok itu "Menarik... Pantas saja Hades-sama menginginkannya" dan sosok itu menghilang dalam bayangan tiang listrik terurai menjadi kegelapan yang membawa kabar atas arah niat jahat.

.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.
Merebahkan tubuh lelahnya dihamparan kasur putih empuk nan hangat, mencoba untuk menghilangkan rasa letih di tubuhnya yang lelah, mata bulat kecoklatan itu menerawang jauh keatas langit-langit kamar berwarna senada kasurnya. Hyodouh Issei nama pemuda itu; ia masih saja berkutat dalam fikiranya yang berputar-putar mencari titik terang. Bukan memikirkan sesuatu yang berbau-bau hentai atau sesuatu yang tak penting, tetapi fikirannya masih berkutat dengan suatu masalah, ya suatu masalah yang membutnya tidak habis fikir hingga sekarang.

"kenapa kau merahasiakannya dariku Naruto?" Gumam pemuda itu lirih, bukan karena ia MAHO atau penyuka sesama jenis, demi nenek moyang Iblis! ia masih normal dan juga masih terobsesi dengan Oppai extra Jumbo milik sang Buchou. Tapi kali ini pemuda pemilik Longinus itu memikirkan kebenaran jatidiri dari seorang Uzumaki Naruto, seorang pemuda yang ia anggap sebagai sahabat terbaiknya dan seseorang yang sudah menyelamatkan hidupnya.

Tanpa sadar ia jadi teringat pertemuan pertamanya dengan sosok pemuda Uzumaki itu.

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.
Tiga Bulan Yang Lalu.

Kala itu Hyodouh Isse tengah berjalan pulang menuju rumahnya selepas jam pelajaran usai. biasanya pemuda itu pulang melintasi jalan raya yang biasa ia gunakan untuk menuju rumahnya, namun karena suatu hal dan ia ingin segera samai di rumahnya, Ise mengambil jalan pintas melalui gang-gang sepi nan gelap yang jarang sekali di lewati oleh pejalan kaki. Berlari-lari kecil melintasi gang sempit nan sepi itu agar segera mencapai tujuan, bukan karena ia takut dengan hantu atau'pun penakut, tapi ia hanya ingin segera sampai dikediamanya.

Kyaaaaa!

Langkah kaki pemuda itu terhenti seketika, tubuhnya berguncang hebat menahan gajolak emosi, tatapan mata coklatnya mulai menajam dan raut wajahnya mulai mengeras.

"Oi... BRENGSEK! Lepaskan gadis itu!" Ise berteriak murka kepada segerombolan pria-pria sampah di hadapanya yang tengah mencoba memperkosa seorang gadis remaja berambut kuning bergaya twintile yang kira-kira seumuran dengannya.

Namun alih-alih menghentikan aksi busuknya segerombolan preman kampung itu malah terus mencoba menelanjangi sang korban dengan menyobek-nyobek pakaian sekolah gadis itu. Ise yang merasa teriakanya tidak ditanggapi oleh preman-preman itu dan merasa jijik dengan perlakuan mereka terhadap gadis itu mulai kalut dalam emosi. Walaupun otak mesumnya mulai aktif dan membuat nafsu birahinya bergejolak, tetapi dia adalah pria sejati yang tidak terima dengan adegan pelecehan seksual, apa lagi itu terjadi secara Live di hadapannya. Jadi jiwa kesatria dalam dirinya berteriak lantang memerintahkan ia untuk menolong sang gadis! Yah... Walaupun dalam hati kecilnya ada sedikit rasa kecewa karena tidak bisa 'menonton' secara live kejadian menggairahkan di depannya.

Mengepalkan tangannya kuat-kuat Ise berlari sekuat tenaga dan langsung menghantam wajah seorang yanke dengan kepalan tangannya. Yanke bertubuh kekar itu terpental beberapa meter dan menabrak dinding gang dengan kuat.

Dalam keadaan hening yang berlalu sepersekian detik pemuda keturuna Hyodouh itu dengan sigap menarik lengan sang gadis dan menyuruhnya untuk pergi melarikan diri dari tempat tersebut.

Rasa syok akan tarikan kuat yang gadis itu rasakan membuatnya membisu, namun selang beberapa detik akal sehat dan insting untuk menyelamatkan kehormatanya kembali keraganya. Dengan sekuat tenaga gadis itu berlari keluar dari gang sempit nan gelap tersebut, dalam hati yang bimbang gadis itu melantunkan sebuah do'a harapan, berharap pemuda yang tidak dikenalinya sekaligus pemuda yang telah menyelamatkan kehormatanya itu, agar baik-baik saja dan selamat dari para Yanke bajingan yang telah membuatnya merasakan rasa hampa yang disebut; keputus asaan.

.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.
"Hahahaha, dasar bocah SIALAN! sekarang rasakanlah akibat dari ulah mu yang sok jadi PAHLAWAN!" pria bertubuh kekar itu berteriak gembira di hadapan pemuda yang kini tengah kerepotan karena dikeroyok oleh anak buah pria kekar tersebut.

Hyodouh Issei kini harus menanggung konsekuensi dari tindakan heroik tanpa strateginya, walaupun ia tahu apa akibat dari tindakanya namun ia tetap melakukan hal tersebut, karena rasa keprimanusiaan pemuda kelas 11 SMA itu tidak bisa menerima dan tidak bisa tinggal diam untuk menyaksikan 'adegan' pelecehan seksual yang hendah terjadi dihadapannya! Oleh karena itu ia memberanikan diri untuk menolong sang korban walaupun ia tahu! Ia tidak ada kesempatan untuk menang dalam acara baku hantam dengan sekelompok Yanke yang telah merasakan asam manisnya pertarungan.

Liquit kental berwarna merah kehitaman mengalir deras dari luka di pelipis dan sudut bibirnya, entahlah... berapa kali pemuda itu memuntahkan darah segar dari mulutnya, rasa asin dan amis khas darah kini sangat terasa di kerongkongannya setiap kali Ise menelan ludah. Tapi ia tidak boleh kalah di sini! Ia masih ingin hidup dan masih terobsesi dengan Oppai-Oppai liar diluar sana yang menanti untuk ditaklukan olehnya, namun lepas dari hal tersebut, pemuda keturunan Hyodouh itu masih memegang teguh impian mulia-menurutnya- yang ia dambakan yaitu menjadi raja Harem! Jadi... Bolehkah ia mati ditangan berandal-berandal ini?

Jawabanya... Tidak!

Ia tidak boleh dan tidak akan pernah menyerah! Apa lagi menyerah hanya karena yanke-yanke sialan ini! Memegang teguh impiannya itu didalam hati, Ise yang kini terkapar diatas kerasnya aspal, mencoba bangkit untuk terus melawan musuh-musuh dihadapannya.

Namun... Apa daya? Stamina ditubuh lemahnya telah mencapai batas maksimal, jangankan untuk berdiri? untuk sekedar menggerakan ujung jarinya saja ia sudah sangat kelelahan, stamina dalam tubuhnya benar-benar terkuras ditambah dengan luka-luka yang ia terima itu membuat sekujur tubuhnya terasa sakit!.

Melihat musuhnya sudah sangat kelelahan. Pria bertubuh kekar pemimpin dari gerombolan yanke itu menyeringai jahat. Merogoh sesuatu dari balik mantel tebal yang ia gunakan, pria itu berjalan mendekati Ise sembari menodongkan sebuah benda dari balik mantelnya yang ternyata adalah sebuah Revolver.

Iris kecoklat itu melebar pupil bulat yang berada di tengah iris kecoklat itu mengecil. Organ vital yang bertugas memompa darah kesekujur tubuh itu mempercepat pacu detakannya, Sebuah sensasi yang memacu adrenalin menggetarkan tubuh lemah yang terkapar di atas kerasnya aspal. Hyodouh Issei kini benar-benar merasa hidupnya tengah berada diujung tanduk, saat direksi pandangannya menatap lurus kearah benda yang mampu merenggut hidupnya dalam hitungan detik. Tepat satu meter dari wajahnya sebuah Revolver berwarna perak telah siap merenggut segala yang ia punya dalam hidupnya.

Kreek!

Suara khas gesekan yang tercipta dari putaran selongsong amunisi revolvel itu terngiang-ngiang ditelinganya. Pertanda bahwa sebuah peluru telah siap ditembakan dari selongsong revolver yang kapan saja dapat menembus batok kepala dan mengakhiri hidupnya. Hanya butuh satu kali tariakan jari yang menempel dengan pelatuk dan... door! Segalanya berakhir.

Akankah hidupnya... berakhir disini?

"hahaha mati kau Boc-"

Syuut!

Door!

Ise hanya dapat membuka matanya lebar-lebar dan entah harus berbuat apa saat sebuah benda yang ia yakini berupa pisau dapur, melesat dalam kecepatan tinggi dan mengenai pucuk senjata perenggut nyawa itu, hingga membuat arah laju peluru terganggu. tapi anehnya dalam keadaan gelap, ia bisa melihat laju pisau dapur yang agak bercahaya itu walaupun melesat dalam kecepatan super.

"BANGSAT, SIAPA YANG MENGGANGU KU!" Pria bertubuh kekar itu berteriak geram, ia tidak suka ada seseorang yang mengganggu aktifitas kesukaannya. Dalam direksi pandangannya pria pemimpin yanke itu melihat jelas, sosok seorang pemuda berambut emas yang berdiri tidak jauh dari tempatnya, memandang dirinya dengan tatapan datar tak beremosi.

Ise yang saat ini telah terbebas dari rasa syoknya mengalihkan indera pengelihatanya kearah yanke bertubuh kekar, yang kini sedang menodongkan revolvernya ke arah depan . "U-Uzumaki... Na-naruto?" Ise tertegun. tidak diduga dan tidak dapat dikira bahwa sosok yang telah menyelamatkan hidupnya, adalah seorang pemuda yang sekelas dengannya. Pemuda yang terkenal sebagai pangeran es karena selalu memasang wajah datar bak tembok pembatas itu adalah yang telah menyelamatkan hidupnya.

"BANGSAT! satu lagi bocah tengik yang mau sok jadi Pahlawan! Kita apakan bocah satu ini, Boss?" tanya salah satu pria kepada pria bertubuh kekar yang disebut boss. Merapihkan kerah kemeja hitamnya yang agak kusut, pria bertubuh kekar itu menyeringai sadis sebelum memberi perintah.

"Baiklah kalau begitu... habisi juga dia sekalian!" dan dengan itu ke empat anak buah sang boss yanke, berlari menuju satu tujuan yaitu; menyerang Naruto dengan frontal.

Kelopak yang menutupi jendela dunia itu terbuka, menampak'kan sepasang iris biru berpupil sedingin es, yang dapat membekukan siapa saja yang berani menatapnya. Tangan kiri yang terbalut sarung tangan kulit berwarna hitam, ia gerakan kebagian belakang tubuhnya untuk mengambil sesuatu yang berada dibalik sabuk kulit yang melingkar disekitar pinggangnya. Dalam kecepatan sedang Naruto berlari menuju sekelompok pria yang juga berlari kearahnya.

Gerakan awal untuk memulai awalan dari sebuah tusuk'kan dilakukan oleh salah satu pria pengguna tanto saat jarak antaranya dan Naruto kurang dari tiga meter. Memperlambat kecepatan larinya, Naruto memutuskan untuk memanfaatkan keadaan sekita. Merubah laju larinya ke kiri, kaki kananya ia gunakan untuk menjejak dinding gang agar tubuhnya terlontar keatas untuk bersalto dan dapat menghindar dari sebuah tusukan. Saat masih di udara pemuda keturuna Uzumaki itu menggunakan posisinya yang berlawanan dengan musuh untuk mencengram kepala pria pengguna tanto dengan kedua tangannya dan langsung melempar pria itu dengan kekuatan sedang.

Duakh!

Pria pengguna tanto itu terlempar jauh kebelakang dan kepalanya menabrak dinding dengan sangat keras, darah kental mengalir deras dari kepala pria pengguna tanto, saat kepalanya retak akibat bentururan keras yang ia alami.

Dalam posisi berjongkok Naruto melakukan sapuan bawah dengan kaki kirinya. Ketiga pria tersisa itu terjatuh karena kaki yang menjadi keseimbangan mereka dilengkas oleh Naruto. Tanpa menciptakan cela pemuda bermarga Uzumaki itu mengambil pisau cutter yang berada di balik ikat pinggangnya.

Crash!
Crash!
Crash!

Darah segar mengalir deras dari leher yang tersayat hingga kerongkongan. Ketiga pria yanke itu mati seketika dengan luka gorokan.

Door!

"Ukh" Naruto meringis saat sebuah timah panas menembus telapak tangan kirinya yang terbalut sarung tangan hitam.

"BRENGSEK! Mati KAU" pria bertubuh kekar itu berjalan mendekati sosok pemuda pirang yang terlentang diatas aspal. Hanya satu kali tekan maka ia bisa memusnahkan pemuda sial yang telah membunuh anak buahnya.

"Ada permintaan terakhir?" pria itu menyeringai sadis di depan sang pemuda kuning. Naruto masih tampak tenang tidak ada rasa takut sediki pun yang terlihat dari wajah rupawannya. Genggaman pada pisau cutternya ia kendurkan, iris biru kusamnya menatap datar wajah sang pemimpin yanke.

"jangan pernah memberi celah pada musuhmu" Naruto berguma lemah namun masih bisa didengar oleh pemimpin yanke.

dan...

detik berikutnya leher sang pemimpin yanke telah putus dari tempatnya, darah segar memuncrat deras dari bekas luka itu "ba-bagai...ma-mana?"

Bruk!

Dan pria itu ambruk kebawah saat nyawa dalam raganya benar-benar pergi meninggalkannya.

Hyodouh Isse hanya dapat menatap ngeri plus jijik. Baru kali ini dalam hidupnya ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, sebuah pembunuhan sadis yang berlangsung dihadapannya. Pemuda itu mematung saat Naruto-sang pembunuh-berjalan menghampirinya. Darah segar mengucur deras dari telapak tangan pemuda itu. Ise tidak tahu mengapa, namun ia yakin melihat asap mengepul dari luka tembak-di telapak tangan kiri- pemuda penyelamatnya.

"Apa kamu baik-baik saja Ise-san?"

"A-aku baik-baik saja Na-naruto-san" dan entah mengapa setelah itu Ise kehilangan seluruh kesadarannya.

.

.

To be Continue

.
A/N: Halo jumpa lagi dengan saya. Ok di fic ini saya mengubah semua gaya tulisan saya jadi saya mohon kepada para reader atau senpai untuk mengoreksi kesalahan di fic ini, karena Saya ingin membuat fic saya berkualitas :D

Sebelumnya saya akan jelaskan di fic ini saya mengambil alur dari LN volume dewa jahat Loke/Loki, jadi maaf kalau kesannya terburu-buru namun saya tegaskan fic ini tidak akan menjadi sangat cepat. Saya akan mencoba untuk membuat devlopment dari para char agar cerita ini lebih berkualitas :D

Jadi saya mohon kritik dan saran dari para senpai agar saya tahu dimana letak kesalahanya. :D

Arigatou~ Mind to RnR?