Alphabet
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
AkashixKuroko
Warning:
Gaje. Typo. OOC. Incest. Kumpulan beberapa drable(?)
Special late birthday fict for siucchi
.
.
Insomnia.
Suara jarum jam menggema dalam ruangan temaram tersebut. Tak ada tanda kehidupan disana—tentu saja, jarum jam sudah menunjukkan pukul satu malam dan itu adalah waktunya bagi manusia untuk tidur, termasuk Akashi bersaudara.
Tapi jika dilihat lebih dekat lagi, hanya Tetsuya saja yang tengah sibuk mengarungi alam mimpi. Seijuurou yang tidur disampingnya masih sibuk menatap langit-langit kamar yang dipenuhi dengan stiker hasil karya adiknya.
Pemuda bersurai crimson itu menghela napas. Lagi-lagi diserang insomnia—dan ini merupakan yang ketiga dalam kurun waktu seminggu ini. Seijuurou tak tau kenapa ia bisa insomnia begini. Mungkin ini efek dirinya yang sudah mulai lelah dengan segala urusan OSIS yang membuat waktunya habis hingga ia jarang menghabiskan waktu dengan Tetsuya.
Jadi, bisa disimpulkan bahwa Seijuurou terserang penyakit kurang asupan kasih sayang dari Tetsuya.
Seijuurou berguling menyamping hingga ia bisa berhadapan dengan sosok tetsuya yang tengah tertidur menghadapnya. Sepasang rubynya memandang lekat paras manis Tetsuya.
Seijuurou akui, Tetsuya itu sangat manis—meski pemuda itu menganut paham kuudere, yang membuat Seijuurou kadang merindukan masa dimana Tetsuya kecilnya masih ekspresif.
Jemari Seijuurou bergerak menyingkirkan helai biru muda yang menutupi kelopak mata Tetsuya yang tengah terpejam. Seijuurou menyukai sepasang azure yang tersembunyi dibaliknya. Sepasang mata yang akan selalu menjadi favoritnya.
Jemarinya turun menuju bibir semerah cherry. Bibir manis yang lebih sering mengeluarkan kata-kata tajam—namun tak jarang disaat-saat tertentu bibir itu merajuk manja.
Dimatanya Tetsuya itu begitu sempurna—pantas saja ia bisa tergila-gila seperti ini. Keberadaan Tetsuya sudah seperti oksigen baginya, yang apabila tak ada disekitarnya ia bisa mati.
Seijuurou tersenyum kecil. Ternyata tak ada ruginya ia terserang insomnia seperti ini. Jika tidak dalam keadaan seperti ini, bisa-bisa Seijuurou dihujani tatapan tajam oleh Tetsuya karena terus menerus memandanginya.
.
.
Jadwal.
"Kau mau kemana?"
Seijuurou yang baru saja selesai mandi mengernyit heran melihat Tetsuya tengah bercermin. Tubuh mungil itu terbalut celana jeans hitam yang dipadu kaos berlengan panjang bergaris putih biru. Penampilan yang terlalu rapi untuk hari minggu.
"Aomine-kun mengajakku untuk menemaninya nonton dan mentraktirku vanilla shake," jawab Tetsuya tanpa mengalihkan pandangannya.
Dahi Seijuurou berkedut kesal. Manusia biadab satu itu rupanya tak kapok untuk mendekati adiknya. Sepertinya berbagai upaya yang selama ini Seijuurou lakukan kurang menggebrak.
"Batalkan."
"Hah?" Tetsuya menoleh. Ia menatap tak mengerti kearah Seijuurou yang tengah mengeringkan rambutnya.
"Batalkan janjimu dengan Daiki," ulang si sulung, matanya menatap tajam sepasang azurenya yang tengah menatapnya datar.
Tetsuya menggeleng, traktiran vanilla milkshake terlalu berharga untuk ditolak begitu saja. Meski Seijuurou menghalangi, ia akan terus maju. Demi vanilla milkshake.
"Kalau kau membatalkan janjimu dengan Daiki sekarang, aku akan membelikanmu vanilla milkshake premium. Sekarang juga," ucap Seijuurou sembari menyeringai.
Dan ya—siasat Seijuurou berhasil. Adiknya itu langsung melesat mengambil ponselnya dan melakukan sesuatu disana. Seijuurou yakin pemuda mungil itu kini tengah menghubungi Aomine untuk membatalkan janjinya.
Ah, vanilla milkshake memang senjata paling ampuh.
Seijuurou beranjak keluar kamar, sebelum menutup pintu, ia menoleh kearah Tetsuya yang masih sibuk dengan ponselnya, "Turunlah ke ruang tengah jika urusanmu dan Daiki sudah selesai."
Pemuda bersurai crimson itu langsung beranjak menuju ruang tengah dan menyamankan dirinya duduk disofa setelah menyuruh salah seorang maidnya membelikan vanilla milkshake untuk adiknya tersayang.
Seijuurou tersenyum melihat adiknya yang kini telah berganti pakaian dengan baju rumahan, kaos lengan panjang berwarna putih polos yang dipadu dengan celana pendek berwarna coklat susu. Pemuda itu menepuk pahanya, mengisyaratkan Tetsuya untuk duduk dipangkuannya—dan langsung dituruti begitu saja.
Tangan Seijuurou melingkari pinggang ramping adiknya, sementara Tetsuya bersandar pada dada Seijuurou. Pemuda mungil itu bahkan tak protes ketika Seijuurou menyandarkan dagunya pada bahunya.
Keduanya larut menonton tayangan dilayar kaca. Maid yang mengantarkan minuman keramat untuk Tetsuya dan melihat posisi kedua Tuan Mudanya itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Baru kali ini maid itu melihat sepasang saudara yang sangat akur sampai duduk saja berpangkuan, padahal tempat lowong juga masih banyak.
"Tetsuya," suara lembut seorang wanita membuyarkan konsentrasi mereka yang semula tertuju pada layar kaca.
Akashi bersaudara itu menoleh kearah sumber suara dan menemukan sosok ibunda mereka tengah berjalan mendekat.
Wanita anggun itu terlihat terburu-buru. Ia beranjak mendekati si bungsu dan memegang tangannya. Nampaknya Nyonya Akashi tidak terganggu dengan keintiman kedua putranya—sesungguhnya wanita itu sudah biasa. Sangat terbiasa.
"Tetsuya, bisa kau temani Okaa-sama keluar hari—"
"Tidak."
Dua manusia bersurai senada itu sama-sama terkejut ketika Seijuurou memotong ucapan Tetsumi—dengan nada dingin pula.
Tetsumi menatap heran putra sulungnya, "Seijuurou?"
Seijuurou mengeratkan pelukannya pada Tetsuya, "Hari ini jadwalku seharian penuh dengan Tetsuya. Tidak akan kuizinkan seorang pun menganggunya."
Tetsuya melongo, sementara Tetsumi hanya bisa geleng-geleng kepala.
Seijuurou yang katanya dewasa itu ternyata bisa kekanakan juga jika menyangkut Tetsuya.
.
.
Kamar.
"Okaa-sama, Otou-sama aku minta kamar sendiri!"
"Tidak, jangan dengarkan dia Otou-sama, Okaa-sama. Dia sedang mabuk vanilla milkshake."
Pasangan Tuan Besar dan Nyonya Akashi itu saling berpandangan satu sama lain. Keduanya lalu beralih pada anak kembar mereka yang sedang beradu tatapan tajam.
Keduanya tak tau apa yang tengah diributkan oleh anak kembar itu. Akashi Masaomi dan Akashi Tetsumi masih asyik bermesraan ditemani secangkir teh di gazebo halaman belakang rumah mereka ketika Seijuurou dan Tetsuya tiba-tiba datang dan berbicara seperti itu.
"Vanilla milkshake tidak bisa membuat orang mabuk," Tetsuya buka suara, membela belahan jiwanya yang baru saja difitnah oleh sang kakak.
Seijuurou menatap meremehkan, "Oh? Kalau kau tidak mabuk kenapa kau tiba-tiba minta pisah kamar?"
Pemuda bersurai baby blue itu mendengus, ia mengalihkan atensinya pada kedua orang tuanya, "Otou-sama, Tetsuya sudah besar. Tetsuya ingin punya kamar sendiri."
Masaomi meletakkan cangkir tehnya. Ia menatap si bungsu. Ah, benar juga. Putra bungsunya itu sudah cukup besar untuk tidur sendiri, "Baiklah, Tetsuya bisa—"
"Tidak. Kau akan tetap satu kamar denganku," potong Seijuurou cepat.
Tetsuya menatap tajam kakaknya, "Aku sudah lelah sekamar denganmu Sei-kun!"
"Hah?"
"Kau selalu memaksaku begadang. Aku juga butuh tidur, belum lagi seluruh badanku yang serasa remuk karenamu. Kau kasar," Tetsuya mendadak curhat.
"Aku sudah lembut. Kau saja yang terlalu lemah," Seijuurou jelas tidak terima disalahkan begitu saja, padahal seingatnya Tetsuya juga selalu menyukai kegiatan begadang mereka.
"Kalau kau lembut tidak mungkin pinggangku sakit selama seminggu," si bungsu tak mau kalah.
Begadang?
Kasar?
Lembut?
Lemah?
Sakit?
Mereka berdua ini sebenarnya melakukan apa?—batin Masaomi dan Tetsumi heran.
Keduanya asik berdebat sendiri, tidak mengindahkan keberadaan kedua orang tuanya yang tengah terdiam. Nyonya Akashi memijat pelipisnya. Kepalanya tiba-tiba pening melihat si sulung dan bungsu yang biasanya selalu akur itu kini justru bertengkar sendiri.
"Suamiku, tolong jauhkan mereka sebentar dariku. Kepalaku mendadak pusing," ucap Tetsumi menyadarkan Masaomi yang masih tercengang dengan perang diantara kedua putranya.
Akashi senior itu berdehem, namun tak didengarkan. Beliau pun memutuskan untuk buka suara, "Seijuurou, Tetsuya—"
"Kau mesum, cabul, tidak bertanggung jawab!"
"Ho, tapi kau tidak keberatan 'kan?"
Ucapan Masaomi sama sekali tak didengarkan, dan itu merupakan penghinaan terbesar untuknya.
"Seijuurou! Tetsuya! Kembali ke kamar kalian! Dan untukmu Tetsuya, kau tidak akan mendapatkan kamar sendiri sampai sifat kekanakanmu hilang!"
.
.
Love Letter.
Kertas berwarna kuning cerah dengan harum lemon samar digenggam oleh Tetsuya. Manik azurenya membaca rangkaian kalimat yang tertulis disana. Alisnya bertaut. Tak memahami isi kertas tersebut.
"Aku tidak mengerti," gumamnya pelan.
Tetsuya menghela napas, kertas yang tadi dibacanya itu ia letakkan diatas dadanya. Tetsuya tidak senagaja menemukannya diloker sepatunya saat pulang sekolah tadi. Kise bilang, itu adalah surat cinta. Tapi Tetsuya menyangkal, mana ada yang mengiriminya surat cinta?
Tadinya Tetsuya berniat memberikan kertas itu pada Kise saja, tapi perkataan Kise yang saat menolaknya membuat perasaan Tetsuya tertohok.
"Tetsuyacchi, masa kau tega memberikan surat cinta yang diberikan orang lain padaku? Padahal orang itu pasti sudah sangat berani dan mencurahkan perasaan tulusnya kedalam surat ini."
Memang dasarnya Tetsuya itu baik. Ia jadi tidak tega dan membawa pulang surat itu.
"Tetsuya geser, aku ingin tidur," Seijuurou yang baru saja datang langsung mengusir adiknya yang tengah berbaring menguasai ranjang.
Pemuda mungil itu tak menjawab, ia berguling kesamping sebagai respon. Kertas kuning itu masih digenggamannnya.
Seijuurou yang melihat sesuatu yang mencurigakan tengah dipegang oleh adiknya memicing curiga, "Kau memegang apa?"
"Ini?" Tetsuya menunjukkan kertas kuning tersebut yang dijawab dengan anggukan Seijuurou yang kini duduk ditepi ranjang.
"Surat cinta. Tapi aku tak tau maksudnya," lanjutnya polos.
Sepasang ruby milik Seijuurou berkilat berbahaya, "Ho? Kau mendapat surat cinta rupanya? Kemari, biar kulihat."
Tanpa menaruh curiga sedikitpun, Tetsuya menyerahkan surat cinta itu kepada sang kakak dan langsung dibaca oleh pemuda crimson itu.
Your arms, your warmth, your heart
I want to see it all, I beg you
This moment, even the warm flower scented wind
Even the sky without a single cloud
Everything feels cold and I'm even scared of the clear sky
If you're not here, I'm just a corpse, so how can I breathe? *)
Akashi Tetsuya, I want you to be my side.
Would you be mine?
Kertas malang itu langsung diremat penuh kekesalan begitu isinya selesai dibaca dan dilempar ke keranjang sampah yang berada didekat meja belajarnya.
Tetsuya hendak menyuarakan protes, namun aura gelap yang dipancarkan Seijuurou membuatnya bungkam. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Tetsuya langsung menutupi kepalanya dengan selimut dan tertidur—meninggalkan Seijuurou yang tengah sibuk menyusun rencana sadisnya untuk orang yang sudah dengan lancang mengusik kesayangannya.
Keesekona harinya ketika berangkat sekolah, Tetsuya dibuat heran dengan Kise yang tiba-tiba sujud memohon ampun padanya sembari menangis pilu dengan sosok Seijuurou yang berdiri dibelakangnya—lengkap dengan aura gelapnya.
.
.
Masa Lalu.
Terkadang Seijuurou merasa heran. Bagaimana bisa ia begitu tergila-gila dengan Tetsuya yang tak lain adalah adiknya sendiri. Seijuurou tak ingat dengan pasti kapan ia mulai terpesona oleh adiknya dan menyeret pemuda manis itu untuk masuk kedalam lubang dosa yang sama dengannya.
Dulu Seijuurou tidak begini. Ia ingat, dulu saat SMP ia sempat memiliki beberapa pacar—saking banyaknya Seijuurou tak bisa menghitungnya, jangankan menghitung, ingat bagaimana rupa mantannya saja Seijuurou tidak.
Semuanya tidak ada yang bertahan lama. Paling lama hanya sebulan.
Tidak. Seijuurou selalu menyangkal jika ia disebut playboy. Ia hanya berusaha mencari yang cocok dengannya.
Beda Seijuurou, beda pula dengan Tetsuya. Seingat Seijuurou, adiknya itu bahkan belum pernah menjalin hubungan dengan orang lain.
Bukan karena Tetsuya itu jelek dan tidak laku. Justru sebaliknya, orang yang mengincar Tetsuya sangatlah banyak. Namun tak ada satupun yang berhasil mendapatkan adiknya—entah itu karena Tetsuya yang kurang peka atau Seijuurou yang terlalu protektif.
Dan semua itu berubah entah sejak kapan. Seijuurou tidak tau mengapa dirinya tidak suka melihat Tetsuya terlalu dekat dengan orang lain. Ia tidak suka melihat adiknya itu bahagia dengan orang. Yang boleh membuat Tetsuya tersenyum hanyalah dirinya.
Seijuurou tidak suka melihat Tetsuya disentuh oleh orang lain. Ia bahkan diam-diam menaruh dendam pada Aomine yang merupakan sahabat lengket adiknya. Aomine itu kurang ajar. Ia seenaknya merangkul Tetsuya didepan matanya. Seijuurou tidak rela.
Seijuurou ingat, dulu dirinya pernah berkelahi dengan Aomine. Ia tidak sengaja mendengar pernyataan cinta Aomine kepada Tetsuya dan ia reflek memukul pemuda dim itu. Keduanya bahkan masih tetap melanjutkan perang dingin selama 3 bulan lamanya. Jika bukan karena Tetsuya yang murka mungkin keduanya masih akan terus berperang sampai sekarang mengingat Aomine dan otak bodohnya itu terlalu bebal.
Bahkan sampai saat ini masih banyak orang yang mengincar adik manisnya. Namun, banyak pula dari mereka yang memilih untuk mundur ketika mengetahui bahwa Akashi Tetsuya telah menjadi milik Akashi Seijuurou seorang.
Kecuali tiga orang yang mendeklarasikan diri mereka sebagai Pejuang Cinta Akashi Tetsuya—Kise Ryouta, Momoi Satsuki, dan juga Aomine Daiki. Tiga manusia yang tidak mengenal kapok meski sudah diberi siksaan pedih.
"Sei-kun, bisa kau bantu aku menyelesaikan tugasku? Mereka bertiga tidak bisa diandalkan."
Seijuurou tersentak dari lamuannya. Ia menatap Tetsuya yang tengah duduk manis didepannya. Ah, ia terlalu asik bernostalgia hingga melupakan tugasnya untuk menjaga Tetsuya yang tengah mengerjakan tugas diperpustakan bersama kawannya.
Ia menyeringai ketika melihat para Pejuang Cinta Akashi Tetsuya tengah berpundung ria.
"Tentu. Kemarilah, aku akan mengajarimu, Tetsuya."
.
.
Ngambek.
Tetsuya yang darisananya sudah irit bicara itu kini mogok bicara—membuat Seijuurou sebagai kakak kembarnya uring-uringan sendiri. Pasalnya setiap ditanya, pemuda bersurai baby blue itu hanya menjawabnya dengan gumaman.
Seijuurou tak tau kenapa tiba-tiba Tetsuya berubah menjadi seperti ini. Perasaan kemarin pemuda itu masih seperti biasanya. Tidak sediam ini. Akashi bahkan ingat kemarin Tetsuya sangat berisik—berisik mendesah maksudnya.
"Tetsuya kau ini kenapa?" tanya Seijuurou ketika keduanya kini hanya berdua di kamar.
Pemuda manis itu tak menjawab, ia justru pura-pura sibuk memainkan ponselnya—membuat Seijuurou jengkel juga.
"Kau ini PMS ya?" kali ini pertanyaan Akashi melantur—mungkin efek karena didiamkan terlalu lama.
Tetsuya mendelik tidak terima. Hei, dirinya ini laki-laki, mana bisa PMS?
"Sei-kun, menyebalkan," ucapnya, azurenya menatap tajam Seijuurou yang kini duduk disebelahnya.
"Dasar tidak peka," imbuh Tetsuya.
Seijuurou semakin tidak mengerti, "Apa maksudmu?"
"Aku ini sedang marah padamu," sungut Tetsuya.
"Oh," satu jawaban singkat lolos dari bibir Seijuurou, membuat sosok pemuda manis disampingnya langsung memasang wajah sangar.
"Mana ada orang yang sedang marah bilang-bilang?" lanjut Seijuurou.
Paras Tetsuya memerah malu, membuatnya terlihat beberapa kali lebih manis, ia memukul sosok kakaknya—demi menghilangkan rasa malunya.
"Sei-kun menyebalkan! Aku membencimu!"
Seijuurou tersenyum, "Ya. ya. aku juga mencintaimu."
Ah, Akashi Tetsuya yang tengah ngambek memang begitu menggemaskan.
.
.
Omiyage.
"Kau minta oleh-oleh apa?" tanya Seijuurou pada sosok adiknya melalui saluran telepon. Manik dwiwarnanya menyusuri pertokoan yang tengah ia lewati.
"Vanilla milkshake," jawaban diujung telepon sana membuat dahi Seijuurou berkedut kesal.
"Kau tidak perlu repot-repot pergi ke luar negeri hanya untuk membeli segelas susu vanilla kocok, Tetsuya sayang."
"Siapa tau rasa vanilla milkshake di Swiss itu berbeda?"
"Terserah kau sajalah," balas Seijuurou ketus—lelah meladeni adiknya.
"Sei-kun cuman tanya itu 'kan? Kalau begitu kututup ya? Kise-kun sudah protes karena aku tidak selesai-selesai. Ngomong-ngomong soal oleh-oleh, apapun yang Sei-kun berikan untukku bisa kupastikan aku akan menyukainya dan memakainya," ucap Tetsuya panjang lebar sebelum mematikan sambungan teleponnya.
Seijuurou tersenyum menatap ponsel pintarnya. Ia kembali berjalan menyusuri area pertokoan yang berada di Swiss. Ya. dirinya memang sedang tidak di Jepang. Ia tidak sedang berlibur, justru sebaliknya, ia kemari karena ayahnya bilang ia membutuhkan bantuan dalam mengurus klien di luar negeri, dan terjadilah hal seperti ini, dimana ia terjebak di tumpukan tugas kantor yang berada di luar negeri.
Pemuda itu berjalan menembus keramaian area perbelanjaan, mencari sebuah benda yang kira-kira cocok untuk adiknya, Tetsuya.
Pemuda itu tersenyum miring ketika matanya tanpa sengaja menemukan sebuah toko lingerie. Berbagai pikiran nista langsung menari-nari dibenaknya. Dan ia pun memutuskan untuk masuk kedalam sana, membeli satu stel pakaian kurang waras untuk adiknya tersayang.
Begitu Seijuurou menginjakkan kakinya di Jepang, orang yang pertama menemuinya adalah Tetsuya—berhubung mereka ini sudah bersaudara, tidur sekamar pula, jadilah pemuda manis itu menjadi yang serba pertama.
"Oleh-olehku mana?" tanya Tetsuya. Ia bangkit dari acara berbaringnya.
Seijuurou tersenyum—aneh, ia mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru muda dari dalam ranselnya. Sebelum menyerahkan itu pada adiknya, Seijuuru menyodorkan jari kelingkingnya dihadapan Tetsuya.
"Sebelumnya janji dulu," jawab Seijuurou ketika Tetsuya bertanya kenapa tiba-tiba harus berjanji segala.
Dengan terpaksa Tetsuya mengangguk, ia menautkan jemari kelingkingnya dengan jari kakaknya.
"Janji kau tidak akan marah, dan akan langsung memakainya."
Tetsuya mengangguk. Seijuurou tersenyum lebar.
"Baiklah, silahkan dibuka."
Mendapatkan izin dari orang yang memberinya hadiah, Tetsuya pun membuka hadiahnya. Ia mengernyit heran ketika mendapati sebuah kain renda yang menjadi isinya. Ia menarik keluar renda tersebut.
Rahangnya nyaris copot begitu mengetahui bentuk sesungguhnya dari kain renda tersebut.
Sebuah lingerie.
Azure Tetsuya mendelik menatap kakaknya—yang saat ini justru mengumbar seringai.
"Ingat, kau sudah janji untuk tidak marah dan akan memakainya. Ayo sekarang tunggu apa lagi? Cepat pakai."
Dengan terpaksa Tetsuya memakai benda laknat tersebut. Demi apa, Tetsuya rasanya ingin mati saja. Apa yang dipakainya saat ini tidak ada bedanya dengan telanjang! Pakaian laknat ini mengekspos seluruh bagian tubuhnya. Apalagi pantatnya yang tidak tertutup apapun.
Seijuurou menyeringai, ia diam-diam memotret Tetsuya yang berdiri di depannya dengan wajah memerah. Sudah Seijuurou duga, benda itu cocok juga dengan adiknya.
Dan Tetsuya bersumpah saat itu juga, bahwa ia tidak akan pernah memakai pakaian laknat yang membuatnya harus rela dimakan oleh kakaknya.
.
.
Perfect.
Orang-orang selalu mengelu-elukan bahwa dirinya—Akashi Seijuurou adalah orang yang sempurna. Ia tampan, terlahir di keluarga bangsawan, otaknya cerdas, prestasinya gemilang. Hampir tak ada cacat padanya.
Ingat, hampir. Pada kenyataannya Seijuurou sama seperti manusia pada umumnya, memiliki kekurangan. Dan kekurangannya adalah dirinya ini seorang gay—gay yang menjalin hubungan dengan adiknya sendiri. Tak ada seorang pun yang tau, hanya dirinya, adiknya dan juga sahabat mereka yang begitu mereka percayai.
Namun pandangan mereka pada sosok adiknya, Akashi Tetsuya begitu berbeda. Mereka menganggap adik manisnya biasa saja. Kepintarannya yang pas-pasan, dan prestrasi yang hampir nol.
Tapi dimata Seijuurou semuanya tidak begitu.
Dimatanya, hanyalah Tetsuya yang sempurna, hanya pemuda manis itu yang mampu mengisi kekurangannya. Hanya bersama dengan Tetsuya lah ia merasa sempurna.
Seijuurou akui, Tetsuya memang memiliki tingkat kepintaran yang biasa saja—tidak pintar, tidak juga bodoh. Namun dibalik semua itu, ia memiliki semangat belajar yang tinggi. Terkadang Seijuurou memergoki Tetsuya tengah begadang demi mempelajari materi yang tidak ia mengerti.
Prestasi Tetsuya juga hampir nol. Hanya pada bidang basket saja, dimana hanya dibidang itulah Seijuurou mengizinkannya untuk bergabung—sebab ia bisa mengawasi Tetsuya selama kegiatan klub.
Apa orang-orang diluar sana tidak menyadari betapa manisnya Tetsuya itu? Lihat saja sepasang azurenya yang begitu indah. Bibir ranum yang begitu manis apabila dicicipi. Pipi putih yang sangat menggoda untuk digigit.
Ah, sekali lagi, dimata Seijuurou, Tetsuya itu begitu sempurna.
Seperti kata teman-temannya, "Orang yang sedang jatuh cinta biasanya menganggap orang yang dicintainya itu adalah orang paling sempurna di dunia."
.
.
.
To be Continued
a/n:
*) Hold me Tight - BTS (english translation)
chapter selanjutnya mungkin akan delay beberapa hari. Tapi diusahakan akan saya update dalam waktu dekat ini.
Terimakasih sudah membaca!
