Chapter 2 : #Satu
Six Adversary
author : norenship23
.
Cast : Renjun || Jeno || Mark || Jaemin || Haechan || Jungwoo || Yukhei
Lenght : Chaptered
Genre : Romance, School life, Friendship, AU
Rate : T
Desclaimer : Cast milik tuhan, agensi, dan orang tua masing-masing. Sedangkan komposisi cerita milik saya.
Warning : BxB, BoysLove, alur cepat, typo's
Big Thanks to : Hara22, BlueBerry Jung, Wiji, Mastaxxx, It's YuanRenKai, B8jaemjaem, Cho Minseo, Byunnie puppy, FojusGirl, nichi, hyena lee, chittaphon27, Cho Kyungmint, wafertango, Cheon yi, KM-FARA, JaeEun21, Adeka . Dan tengkyuu buat yang udah favs and follow ff ini
.
.
Bel masuk berbunyi begitu nyaring di telinga para murid Byung San High School yang masih bertebaran mencari kelas masing-masing. Semua murid langsung berhambur pergi ke kelas baru mereka. Tak terkecuali dengan Renjun. Ia yang awalnya sedang meratapi nasib sialnya dengan duduk di kursi taman sekolah segera bergegas menuju kelasnya yang ada di lantai tiga di bagian paling ujung sebelah selatan. Dengan langkah penuh beban yang tersangga di kedua bahu kecilnya, ia memasuki ruangan kelas barunya.
Dan untuk beberapa saat, ia terdiam. Kagum.
Ruangan kelasnya benar-benar mewah. Dengan ukuran cukup luas, kelas ini hanya diisi oleh dua puluh bangku yang ditata berpasangan dengan rapi dan lurus. Dinding yang berwarna putih gading terlihat bersih dengan berbagai ornamen yang tertempel disana. Lantai marmer mengkilat layaknya hotel bintang lima juga menambah kesan mewah di ruangan ini. Renjun bingung untuk berkata-kata. Dalam benaknya muncul pertanyaan, apakah kelas ini tidak terlalu berlebihan?
"Renjun-ge!" sebuah suara cempreng masuk kedalam gendang telinganya. Renjun menoleh dan mendapati laki-laki bertubuh berisi sedang melambai penuh semangat kearahnya. Itu Zhong Chenle, anak dari pemilik perusahaan sukses yang terkenal di China. Ia sangat kaya, tapi dia tidak sombong. Renjun mengenal Chenle sejak mereka masuk kedalam satu tempat bimbingan belajar.
Renjun segera menghampiri Chenle yang sedang duduk dibangku paling depan di deret sebelah kiri. Disampingnya, ada Jisung Park. Laki-laki berusia empat belas tahun yang entah kenapa sudah bersekolah di kelas dua menengah atas. Jisung memang terkenal pintar dalam berbagai bidang pelajaran, jadi kemungkinan ia bisa berada disini karena loncat kelas.
"Duduk di belakangku, hyung!" kini giliran Jisung yang berujar. Ia membuat gestur menyuruh Renjun duduk di belakangnya. Tanpa pikir panjang, Renjun pun menurut. Ia mendudukkan dirinya di bangku belakang Jisung. Bangku yang ia duduki sekarang berada dekat dengan jendela yang mengarah langsung pada pemandangan lapangan basket di bawah sana.
Renjun mengamati lapangan basket itu dengan nyaman. Hmm, damainya.
Tapi, kedamaian itu berlalu begitu cepat. Suasana nyaman yang ia rasakan langsung sirna saat ia mendengar suara ribut bisik-bisik dari teman-temannya. Renjun menoleh, mencoba melihat apa penyebab teman-teman barunya yang tiba-tiba bisik-bisik. Dan seketika jantung Renjun berdegup kencang saat melihat enam orang musuhnya datang secara bersamaan dengan langkah lebar nan angkuh.
Jungwoo, sang tukang pukul sekaligus yang tertua di geng itu melangkah duluan. Kakinya ia tapakkan menuju deret bangku sebelah kiri. Deret bangku Jisung dan Chenle.
"Minggir! Aku dan teman-temanku mau duduk disini!" desisnya pada Jisung dan Chenle. Dua anak ayam itu terlihat ketakutan, terlebih Chenle. Chenle sangat tau bagaimana mengerikannya seorang Kim Jungwoo bila marah. Berbeda dengan Jisung yang malah mengerjap polos tanpa tau bahaya apa yang mengancamnya. Tidak ambil resiko, Chenle segera menyeret Jisung pindah kebangku lain, memberikan akses bagi geng super menyebalkan itu duduk.
"Apa yang kau lakukan? Kubilang minggir!" bentak Jungwoo kearah Renjun. Ah ya, Renjun. Ternyata dia belum bergerak dari posisi duduknya.
"Aku duluan yang duduk disini," jawab Renjun dengan intonasi sesantai mungkin. Mendegar jawaban itu, Jungwoo mendengus kasar. Ia melangkah maju untuk memaksa Renjun pindah, namun tiba-tiba lengannya ditahan seseorang. Jungwoo menoleh, mendapati Jeno yang berekspresi datar seperti biasanya.
"Aku tidak menyangka kita akan satu kelas, Huang!" kata Jeno dengan diselingi senyum licik. "Bukankah menurutmu ini takdir?"
Renjun menatap sepasang onyx milik Jeno dengan sorot tajam. Tangannya tanpa sadar mengepal. Murid lainnya yang berada dalam kelas itu hanya diam mengamati dua orang yang saling menatap penuh kebencian.
"Pindah kebangku lain! Ppali!" Jaemin yang semakin tidak sabar langsung membuyarkan suasana muram itu. Kakinya sudah terasa pegal akibat berdiri terlalu lama.
Renjun menghela nafas kesal. Apakah geng menyebalkan ini tidak punya telinga? Sudah jelas-jelas Renjun bilang kalau ia yang duduk disini duluan. "Shireo! Aku akan tetap duduk disini!"
Jeno hanya tersenyum sinis. Lalu dengan sombongnya ia membanting ransel abu-abunya di bangku belakang Renjun. "Baiklah kalau begitu. Kita lihat seberapa kuatnya kau duduk disini, Huang!"
Renjun sontak mendelik tidak percaya saat kelima orang anggota geng lainnya mulai duduk di deret bangkunya. Dan yang lebih parah, si playboy pirang Mark malah mendudukkan dirinya disamping Renjun.
"Wae? Kau menyesal?" tanya Mark pada Renjun sambil mengunyah permen karet berperisa anggur favoritnya. "Kau yang membahayakan dirimu sendiri!"
Kenapa malah seperti ini? Renjun tidak percaya kalau ia akan berada dalam situasi yang lebih sulit. Sekarang ia benar-benar menyesal karena memutuskan untuk tidak pindah bangku. Haechan dan Yukhei duduk di depannya, Mark disampingnya, Jeno dan Jaemin duduk dibelakangnya, dan Jungwoo memilih duduk sendirian di bangku paling belakang.
DUAK
Renjun terkesiap saat tiba-tiba kursinya ditendang dari arah belakang. Tidak ada orang yang pantas disalahkan selain Lee Jeno, yang memang ia duduk tepat dibelakang Renjun.
DUAK
Sekali lagi Jeno menendang kursi Renjun, membuat laki-laki kecil berambut oranye cerah itu menggertakkan gigi. Oh ayolah, ini belum ada satu jam Renjun duduk dikelas barunya, tapi rasanya ia sudah tidak betah. Kelas ini bagai neraka.
DUAK
"Yak!" Renjun tidak tahan untuk hanya berdiam diri menerima gangguan ketua geng menyebalkan itu. Renjun menoleh, menatap tidak terima pada sang pengganggu.
Jeno hanya menatap balik dengan ekspresi yang sukar ditebak. Bibirnya tersenyum tipis, tapi matanya sarat akan kebencian yang meluap. "Kenapa? Mau mengajakku berkelahi, eoh?"
Terdengar suara cekikikan dari teman sebangku Jeno, Na Jaemin. "Kau bercanda, Jen? Anak sekecil kacang seperti dia tidak mungkin berani berkelahi denganmu. Hahaha!" ujarnya seraya menyilangkan tangan di depan dada.
Renjun berusaha sekuat tenaga untuk tidak tersulut emosi. Ia menghadapkan tubuhnya kembali kedepan, mencoba tidak perduli dengan ejekan-ejekan lain yang ditujukan padanya.
Tidak lama berselang, Johnny saem, guru berparas tampan asal Chicago memasuki kelas. Ia mengenakan kemeja putih polos dan celana hitam yang tampak licin. Sepatu fantofelnya yang mengkilat berdetak nyaring saat ia berjalan. Belum lagi rambut yang seakan berayun saat terkena angin. Sungguh, sosok guru yang sempurna.
"Hello student, I'm Seo Johnny." sapanya dengan mengulum senyum berkharisma. "Mulai hari ini aku akan menjadi guru Bahasa Inggris sekaligus wali kelas kalian untuk satu tahun kedepan. Apa ada pertanyaan?" tanya Johnny saem saat ia sudah meletakkan atribut mengajarnya di meja guru.
Tidak ada yang menjawab. Para murid langsung berdiri dan membungkuk serta memberi salam. Johnny saem mulai mengabsen siswa yang ada dikelas binaannya. Mulai dari absen pertama 'Huang Renjun' sampai absen terakhir 'Zhong Chenle'.
"Karena ini adalah tahun ajaran baru, akan lebih baik kalau kita memilih pengurus kelas yang baru juga. Sekarang siapa diantara kalian yang berkeinginan menjadi pengurus kelas?"
Johnny saem menggeleng heran saat tau muridnya tidak ada yang bersedia menjadi pengurus kelas. Memang sudah diduga sejak awal. Menjadi sosok pengurus kelas sama saja menjadi babu setia dari kelas itu sendiri. Harus rela disuruh-suruh, mengemban tanggung jawab, dan siap menjadi bahan pelampiasan kemarahan guru bila kelas melakukan kesalahan.
"Kalau memag tidak ada yang berminat, aku akan tunjuk langsung!" ujar Johnny saem seraya mengambil daftar absensi yang berada dalam map berwarna kuning transparan.
"Ketua kelas : Yukhei Wong. Wakil ketua : Huang Renjun. Bendahara : Yoon Sanha. Sekretaris : Zhong Chenle. Apa ada yang keberatan?"
Hati Renjun terasa mencelos dari tempatnya saat namanya disebut sebagai wakil ketua. Sebenarnya ia tidak masalah menjadi wakil, hanya saja ketua kelasnya adalah Yukhei, salah satu dari musuhnya. Meskipun Yukhei itu pendiam dan jarang bicara, tapi tetap saja Renjun yakin ia masih punya jiwa menyebalkan keturunan dari gengnya itu.
"Kalau tidak ada, kuanggap kalian setuju. Sekarang buka buku kalian!"
Semua murid langsung mengeluarkan buku masing-masing. Untuk permulaan pelajaran di tahun ajaran baru, Johnny saem hanya mengulang sedikit tentang grammar. Renjun melirik Mark yang duduk disebelahnya. Laki-laki pirang itu tidak mendengarkan penjelasan Johnny saem, melainkan malah asik bermain ponsel sambil mengunyah permen karetnya. Oh astaga, Mark memang terkenal sangat pintar dalam bidang Bahasa Inggris, bahkan ia menjadi ketua klub Bahasa Inggris di sekolah. Tapi setidaknya dia juga harus lebih menghormati guru.
"Ingin kuberitau sesuatu?" tanya Mark sambil menoleh tiba-tiba. Renjun yang masih melirik tidak suka sambil membatin dalam hati langsung tersentak.
"Aku memang tampan. Tapi kau itu bukan tipeku!" hardiknya seraya mengulum senyum. "Jadi jangan melirikku seperti itu!"
Yang benar saja! Renjun benar-benar ingin menjitak kepala pirang itu karena sifat percaya dirinya yang melampaui batas maksimal. Renjun meliriknya bukan karena kagum, tapi karena Renjun tidak suka dengan sikapnya yang semena-mena. Memang dasar playboy sok tampan!
.
.
.
.
Chenle meletakkan nampan berisi makan siangnya diatas salah satu meja kantin. Dibelakangnya, disusul Renjun dan Jisung. Mereka bertiga duduk di bangku kantin yang posisinya paling pojok. Sebenarnya Renjun tidak terlalu suka dengan meja sisi pojok seperti ini, tapi Chenle tetap bersikeras memilih meja yang ini. Jadi apa boleh buat.
"Selamat makan!" pekik Chenle dengan suara nyaring mirip lumba-lumbanya yang bernada tinggi. Ketiganya langsung menyantap makan siang mereka dengan lahap. Ini sudah pukul dua belas siang, dan mereka membutuhkan asupan energi yang cukup untuk melanjutkan pelajaran.
"Kenapa hyung tidak pindah saja sih?" tanya Jisung disela-sela makannya. Renjun yang juga sedang makan langsung berhenti mengunyah saat mendengar pertanyaan itu.
"Jisung apaan sih, Renjun ge kan masih makan. Tanyanya nanti saja!" komentar Chenle kesal. Jisung hanya tersenyum kikuk sambil mengangguk minta maaf. Renjun juga melanjutkan makan siangnya sampai habis, lalu meneguk minumannya hingga tak tersisa.
"Sebenarnya aku ingin sekali pindah." jawab Renjun.
"Lalu kenapa tidak pindah?" kini suara Chenle yang bertanya.
Renjun terdiam, keningnya berkerut. "Kalau saja ada yang mau bertukar bangku denganku, aku pasti pindah."
"Itu salah gege juga sih! Kenapa dari awal tidak mau pindah? Sekarang jadi susah kan?"
"Iya memang. Tapi kan tadi aku hanya tidak mau mereka bersikap semena-mena, makanya aku melawan." kelak Renjun.
Jisung yang merasa hati kecilnya sedikit terketuk rasa kasihan hanya bisa menepuk pundak Renjun berkali-kali. Mencoba meringankan beban laki-laki yang lebih tua dua tahun darinya itu. "Tidak apa-apa, hyung. Kau harus kuat, oke? Kita berdua pasti akan membantumu!"
Renjun hanya tersenyum tipis saat mendengar kalimat penghibur dari mulut Jisung. Yah, meskipun Jisung masih sangat muda, dia bisa menjadi lebih dewasa ketimbang Chenle.
"Gomawo, Jisungie, Lele-ya."
"Kalau begitu ayo kembali ke kelas. Lima menit lagi bel masuk berbunyi!"
Ketiga manusia itu segera beranjak menuju kelas mereka. Chenle yang memang sangat ceria diantara mereka bertiga merangkul bahu Renjun dan Jisung, mengajak dua orang itu bicara sembari berjalan. Jisung tak henti-hentinya terbahak mendengar lelucon dari Chenle yang memang dapat membuat perut sakit akibat terlalu banyak tertawa.
Renjun memasuki kelasnya duluan, meninggalkan Jisung dan Chenle yang masih bercakap ria sambil berangkulan. Mereka seperti anak kecil saja, batin Renjun. Langkah kakinya yang pendek ia arahkan menuju bangkunya, mendudukkan diri di bangku miliknya. Tapi baru saja ia duduk, ia merasa ada yang janggal.
Tunggu!
"Ranselku mana?" pekik Renjun yang baru sadar kalau ransel biru navy-nya tidak ada ditempatnya. Renjun melongok pada laci mejanya, tapi tidak ada. Oh astaga, kemana ranselnya pergi? Renjun masih ingat betul kalau ranselnya ia letakkan di kursi saat sebelum pergi ke kantin. Tapi kenapa sekarang ransel itu menghilang? Pasti ada seseorang yang sengaja menyembunyikannya. Pasti!
"Mencari sesuatu, Huang?" suara berat Jeno menghentikan acara Renjun mencari ranselnya yang hilang. Ia berdiri, mendongakkan kepalanya supaya sejajar dengan Jeno yang memang lebih tinggi darinya.
"Kembalikan ranselku!"
Kening Jeno berkerut. "Apa?"
"Jangan berpura-pura bodoh! Aku tau kau yang menyembunyikan ranselku. Sekarang kembalikan!" omel Renjun tidak sabar.
"Aigoo! Kenapa harus aku yang kau salahkan huh? Apa wajahku sekriminal itu?" tanya Jeno diselingi senyum terpaksa.
Renjun menggeram kesal. "Cepat kembalikan ranselku, dasar..."
"Yak, berani sekali kau membentak Jeno!" kata Haechan memotong ucapan Renjun. Seperti predikatnya yang melekat pada dirinya, ia memang kacung Jeno yang setia. Melihat Jeno dibentak saja, Haechan langsung naik darah. Yang benar saja!
"Kenapa? Kau tidak suka? Seharusnya kau beritau bos mu ini supaya ia bisa melakukan hal yang lebih berguna daripada menyembunyikan ransel orang lain!"
Atmosfer dalam kelas mulai kembali memburuk. Suasana yang awalnya biasa-biasa saja berubah menjadi tegang akibat perseturuan ini. Renjun memang kecil dan terlihat lemah, tapi bukan berati dia mau menerima segala jenis penindasan yang ditujukan padanya.
"Ya memang aku yang menyembunyikannya." kata Jeno mengakui. Sebuah senyum dengan kadar tidak tulus terbesit di bibirnya. "Kalau kau mau ranselmu kembali, cari saja sendiri!"
"Tapi..."
Renjun berniat protes, tapi niatnya ia urungkan saat melihat Jungwoo tiba-tiba memposisikan dirinya didepan Jeno. Apa ini? Apa tugas Jungwoo disini sebagai tameng?
Tanpa bicara lagi, Renjun langsung pergi keluar kelas. Kalau boleh jujur, Renjun tidak takut dengan semua anggota geng itu kecuali Jungwoo. Seperti Chenle, Renjun juga tau bagaimana mengerikannya seorang Jungwoo itu. Ia tidak akan segan-segan menghabisi musuhnya. Ingat, Renjun juga musuhnya! Maka dari itulah, kalau Jungwoo sudah menghadang, Renjun tidak bisa banyak berkutik.
Renjun menapakkan kakinya tanpa arah. Tujuannya hanya satu, mencari ranselnya. Ia tidak tau Jeno dan geng-nya itu menyembunyikan ranselnya dimana. Renjun bertekad, setelah ini ia tidak akan meninggalkan barang-barangnya lagi. Ia sudah cukup kapok dengan kejadian ini.
Kakinya pegal. Renjun sudah mengitari separuh sekolah ini untuk mencari keberadaan ransel itu. Tapi sampai kakinya rasanya tak sanggup lagi berjalan, ransel itu juga tak kunjung ketemu.
"Hey!"
Sebuah suara bernada sarkastik menyapa telinganya. Renjun berbalik, melihat siapa manusia yang menyapanya. Ternyata itu Yukhei Wong, salah satu dari musuhnya. Laki-laki tanpa ekspresi itu berdiri beberapa meter didepan Renjun. Tangan kanannya menenteng sebuah ransel berwarna biru navy dengan gantungan bentuk moomin. Itu ransel milik Renjun.
Tanpa aba-aba, Yukhei melempar ransel itu kearah sang pemilik. Dengan gelagapan Renjun menangkap ranselnya yang dilempar seenak jidat dengan tidak terhormat. Untung saja Renjun bisa menangkapnya, kalau tidak ranselnya pasti sudah terjatuh ke lantai.
"Kenapa kau memberikannya padaku?" tanya Renjun bingung. Tentu saja Renjun bingung! Semua juga tau kalau Yukhei itu anggota geng nya Jeno. Dan semua anggota geng itu adalah musuhnya Renjun. Dan sekarang, tanpa dimintai tolong Yukhei mengembalikan ransel miliknya, meskipun dengan cara yang cukup kasar.
Yukhei tak bergeming, yang ia lakukan hanya menatap Renjun dengan pandangan datar. "Maksudku, kita itu musuh. Bahkan kau dan teman-teman satu geng mu itu sudah mengibarkan bendera permusuhan denganku. Lalu kenapa kau mengembalikan ranselku saat teman satu geng mu sengaja menyembunyikannya?" tanya Renjun panjang lebar.
"Kalau kau ingin tau, aku tidak suka punya musuh!"
Hanya itu, dan Yukhei langsung berlalu, meninggalkan Renjun dengan berbagai pertanyaan yang melayang-layang di otaknya. Apa katanya tadi? Tidak suka punya musuh? Apa Yukhei sudah gila? Renjun mengerjap beberapa kali, ia benar-benar tidak habis fikir.
.
.
.
.
'Kau dimana?'
Jeno menutup kembali aplikasi pesannya setelah membaca pesan singkat dari salah satu sahabatnya, Na Jaemin. Biasanya, bila Jaemin mengiriminya pesan, Jeno akan langsung membalas pesan itu tanpa menunggu. Tapi kali ini tidak. Entah kenapa ia malas. Dibantingnya ponsel canggih berwarna hitam miliknya pada sofa yang ia duduki sekarang. Punggungnya ia sandarkan pada sandaran sofa, mencari posisi senyaman mungkin untuk istirahat. Matanya ia pejamkan sejenak. Nyaman. Satu kata yang selalu hadir saat Jeno berada disini.
Di ruang musik sekolahnya.
Ruangan ini punya daya tarik tersendiri bagi Jeno. Entah kenapa, sejak Jeno melangkahkan kakinya untuk pertama kalinya di sekolah ini, Jeno langsung tertarik dengan ruang musik. Ia tidak tau apa yang membuatnya suka berada disini. Kalau ditelisik bagaimana keadaan ruangan ini, sebenarnya ruang musik ini masih kalah jauh dibanding ruang perkumpulan klub basket miliknya. Tapi sekali lagi, Jeno tidak bisa menjelaskan apa yang membuatnya betah berlama-lama ada diruangan ini.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Damn!
Tanpa menoleh pun, Jeno sudah sangat tau siapa orang yang melayangkan pertanyaan itu. Suara yang sebenarnya merdu tapi tidak saat masuk ketelinga Jeno. Suara nyaring itu terasa begitu berisik diteliganya. Siapa lagi kalau bukan suara musuh satu-satunya si Huang Renjun.
Jeno tidak menggubris pertanyaan itu. Waktunya cukup berharga bila hanya harus menjawab pertanyaan tidak penting dari laki-laki berambut oranye cerah yang memuakkan. Jeno lebih memilih terus memejamkan mata, menganggap Renjun tidak ada disini.
"Kalau kau hanya menumpang tidur, seharusnya kau pergi ke ruangan klub mu sendiri!"
"Ck!" Jeno berdecak sebal saat suara Renjun kembali terdengar. Oh ayolah, Jeno kesini untuk mencari ketenangan, bukan malah untuk digganggu oleh pemuda bermarga Huang ini. "Bukan urusanmu!"
"Jelas saja ini urusanku. Aku anak klub musik, dan kau bukan!" jawab Renjun tajam. "Aku tidak suka ruangan klub musik digunakan untuk hal tidak berguna olehmu. Jadi lebih baik kau pergi saja."
Jeno berdecih tidak percaya. Ia baru sadar kalau Renjun bisa seberani ini. Yang ia tau selama ini, Renjun hanya laki-laki lemah yang selalu bersembunyi dibalik punggung kakak sialannya.
"Cepat pergi dari sini atau aku akan mengusirmu secara paksa!" tutur Renjun tidak sabar. Tapi sepertinya Jeno tidak akan takut dengan ancaman tingkat rendah seperti itu. Ucapan Renjun bahkan lebih terdengar kekanakan di telinga Jeno. "Silakan kalau kau bisa!"
Dengan gusar, Renjun melangkah kearah Jeno. Kedua netranya ia sorotkan tajam, berusaha memberikan kesan marah. Renjun sangat tidak suka kalau Jeno berada disini, diruangan musik. Apalagi kalau Jeno menggunakan ruangan ini hanya untuk menumpang tidur. Kebanyakan dari murid anggota klub musik lainnya tidak berani masuk kedalam ruang musik saat tau Jeno ada didalam. Tidak mau mengganggu, katanya. Tapi yang benar saja, selama ini Jeno yang mengganggu! Menggunakan ruangan klub musik seenak jidat hanya untuk tidur, padahal sebenarnya dia punya ruangan klub bakset atau ruangan lain yang tidak terpakai untuk menyalurkan hobinya.
Renjun mengumpulkan segala kekuatan dalam dirinya. Dalam hatinya bertekad akan membuang orang ini jauh-jauh dari ruang musik. Dengan segala jenis emosi yang ada didalam tubuhnya, Renjun menarik tangan kiri Jeno menggunakan kedua tangan kecilnya, memaksa Jeno untuk berdiri. Jeno yang awalnya masih memejamkan mata, sontak langsung terbelalak saat kulit Renjun menyentuh kulitnya. Bersamaan dengan bersentuhannya kedua tangan itu, Jeno merasa jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, memompa dengan lebih keras.
'Apa ini?'
Untuk beberapa detik Jeno didera kebingungan, setelah itu ego dan gengsinya kembali menguasai dirinya.
"Lepas!" Jeno menghempaskan tangan Renjun dengan kuat, hingga cukup membuat Renjun seikit terhuyung kebelakang. "Berani sekali kau mengambil kesempatan untuk menyentuh tanganku! Dengar, kau dan aku itu musuh! Sampai kapanpun akan selalu begitu. Aku tidak akan sudi dekat denganmu! Tanpa kau suruh pun, aku tidak akan mau menginjak ruangan kampungan ini lagi."
Jeno pergi dengan langkah lebar lalu membanting pintu ruang musik dengan keras. Hey, Renjun berhasil mengusir Jeno dari ruang musik. Bukankah itu yang diinginkan Renjun? Mengusir jauh-jauh seorang Lee Jeno dari sini? Ya memang itu yang diinginkannya, tapi entah kenapa sekarang ia merasa ada yang aneh. Rasa kecewa, sedih, dan bersalah terasa hinggap di lubuk hatinya.
Renjun mencoba mentralkan degup jantungnya yang sedikit tidak terkontrol karena tragedi barusan. Ia menghembuskan nafas panjang beberapa kali. Tubuhnya yang kurus ia banting pelan pada sofa tempat Jeno duduk tadi. Pikirannya kembali bergelayut pada ucapan Jeno beberapa menit yang lalu. 'Renjun adalah musuhnya, sampai kapanpun akan selalu begitu'.
Tiba-tiba dering ponsel asing membuatnya kaget. Renjun menoleh ke kanan, mendapati sebuah ponsel pintar yang menyala tak jauh dari duduknya.
Itu ponsel Jeno.
.
.
.
.
Sejak kejadian Renjun menarik paksa tangannya tadi sore, Jeno bersumpah untuk tidak kembali lagi keruang musik. Seberapa pun cintanya Jeno dengan ruangan ini, Jeno tetap tidak akan sudi lagi menginjakkan kakinya disini. Ucapan tadi sudah cukup menyiratkan harga dirinya yang juga terseret dalam situasi ini.
Tapi masalahnya, ponselnya ada didalam ruang musik.
Jeno mengutuk sifat cerobohnya yang sering kambuh disaat yang tidak tepat. Akibat kejadian tadi, ia sampai lupa mengambil ponselnya yang masih tergeletak di sofa samping tempatnya duduk. Jeno orang kaya, dan kalau Jeno mau, ia pasti sudah membeli ponsel baru dan membiarkan ponsel itu tetap didalam sana. Tapi bukan itu masalahnya, ponsel itu adalah ponsel pemberian dari kakaknya. Ponsel itu diberikan di hari ulang tahun Jeno yang kelima belas tahun. Kakaknya membelikannya dengan gajinya sendiri setelah berhasil menjuarai suatu perlombaan. Ponsel itu lebih berarti dari apapun yang Jeno punya. Maka dari itu, Jeno memilih untuk menjilat ludahnya sendiri hanya untuk mengambil ponsel itu diruangan ini.
Lagipula ini sudah menjelang petang, ruang musik pasti sudah tidak ada orang.
Dan benar saja, ruang musik sudah sangat sepi. Ruangan ini sudah ditinggalkan oleh para anggota klub sejak dua puluh menit yang lalu. Jeno menapakkan kakinya menuju sofa berwarna coklat muda yang ia yakini sebagai tempat ponselnya berada. Dicarinya benda persegi panjang itu disana, tapi nihil. Ia mencoba mencari diseluruh ruangan ini, tapi hasilnya sama. Ponselnya raib!
Jeno mengacak rambutnya frustasi. Matanya mengedar waspada. Pikirannya mencoba menerka dimana keberadaan ponselnya berada. Kalau tidak ada diruang musik, itu artinya, ada yang mengambilnya.
Tapi siapa?
Tidak ada yang tau. Ruang musik tadi sempat digunakan untuk berkumpul oleh sekitar sepuluh orang dari anggota klub musik untuk membahas penampilan mereka pada pentas seni yang akan berlangsung dua bulan kedepan. Jeno tidak bisa menebak siapa orang yang telah mengambil ponselnya. Yang ia yakini hanyalah, pasti salah satu dari anggota klub musik yang berkumpul di ruangan ini.
Tapi tunggu!
Otak dan feeling Jeno secara bersamaan memilih satu orang yang kemungkinan besar adalah pelakunya.
.
.
.
.
Renjun menatap sebuah ponsel pintar dengan merek ternama yang terkenal dengan kualitasnya yang tak ada duanya. Kedua tatapan lembutnya terus melihat inci demi inci dari benda persegi panjang itu. Ponsel pintar ini milik musuhnya, Lee Jeno.
Ponsel berwarna hitam ini tergeletak di sofa ruang musik sendirian. Sejak awal, Renjun sudah tau ini ponsel Jeno. Ia sebenarnya berniat mengembalikannya pada Jeno, tapi entah kenapa ia tidak cukup punya keberanian. Jadilah sekarang, ponsel Jeno menetap di rumahnya.
Tapi kalau boleh jujur, Renjun sedikit terkejut dengan kondisi ponsel Jeno. Siapapun juga tau, kalau Jeno itu sangat kaya. Orangtua Jeno adalah pemilik yayasan sekolahnya, pemilik perusahaan ternama di bidang bisnis dan kuliner, dan pemilik dari sebuah rumah sakit besar yang berdiri di pusat kota Seoul. Belum lagi berbagai jenis usaha kecil lainnya, membuat keluarga Lee menjadi sangat diperhitungkan. Tapi sekarang, Renjun tidak menyangka kalau Jeno punya ponsel dengan keadaan cukup jelek. Ponsel hitam itu terlihat cukup tua, meskipun itu dari merek ternama. Ada beberapa bagian lecet di sisinya. Bagian atasnya bahkan ada yang retak.
Dengan kekayaan yang ia punya, seharusnya Jeno mampu untuk membeli ponsel baru. Tapi kenapa Jeno malah tetap memakai ponsel dengan kondisi seperti ini?
Renjun menghela nafasnya pelan. Ia bingung. Jeno memang penuh misteri. Sukar ditebak.
"Renjunnie!" suara lembut ibunya terdengar diselingi dengan terbukanya pintu kamarnya. Renjun menoleh, menatap kedatangan sang ibu sambil mengerutkan dahi. "Ya, eomma?"
"Ada teman yang mencarimu," kata Yixing -ibunya- dengan senyum mengembang, membuat lesung pipinya yang dalam terlihat jelas.
"Siapa? Chenle? Atau Jisung?"
Yixing menggeleng tidak tau. "Entahlah, eomma belum pernah melihatnya. Ah ya, temanmu itu tampan dan bermata kecil. Rambutnya hitam."
Hah? Tampan? Bermata kecil? Rambut hitam? Siapa?
"Jangan banyak berpikir, cepat temui sana!" Renjun segera beranjak dari bangku belajarnya menuju lantai dasar. Kakinya melangkah menuju serambi rumahnya yang asri. Saat sampai di ambang pintu masuk, matanya seketika melebar saat tau siapa orang yang mencarinya.
Jeno.
Laki-laki tampan bermata kecil dengan rambut hitam. Jeno sedang berdiri membelakanginya sambil menatap anak kucing milik Renjun yang berada dalam sarang besi. Ia mengenakan mantel tebal berwarna hitam dengan sedikit ornamen merah di bagian lengannya. Bagian bawah tubuhnya terbalut jeans biru muda yang terdapat beberapa sobekan di bagian lutut. Ia juga mengenakan sepasang converse putih hitam yang terpakai indah di kedua kakinya.
"Kau mencariku?"
Jeno berbalik saat Renjun ternyata sudah keluar dari dalam rumahnya. Jeno terdiam sejenak, mengamati penampilan Renjun yang sederhana. Kaos putih bergambar centang hitam besar dan trening panjang berwarna hitam.
"Aku mau ponselku!"
Singkat dan jelas. Jeno ingin ponselnya kembali. "Kenapa kau mencarinya padaku? Apa wajahku sekriminal itu huh?" tanya Renjun sengaja menyalin pertanyaan Jeno saat kejadian hilangnya ransel miliknya tadi siang.
Jeno berdecak malas. Ia sedang tidak mood, apalagi ini sudah pukul delapan malam. Jeno sudah mulai mengantuk. "Aku serius, Huang!"
"Ya ya ya. Tunggu sebentar." Renjun berbalik masuk kembali kedalam rumah untuk mengambil ponsel hitam milik Jeno. Tak sampai lima menit, Renjun sudah kembali menemui Jeno sambil membawa ponsel ditangan kanannya.
"Ini!" Renjun memberikannya pada Jeno dengan ekspresi malas. Jeno menerimanya dengan kasar, sengaja menepiskan tangan Renjun supaya tidak bersentuhan lagi. Renjun hanya berdecih sebal. Memangnya tangan Renjun itu sumber virus atau apa? Sampai-sampai bersentuhan tangan saja Jeno sok jijik.
"Sampai kapanpun kita itu tetap musuh. Ingat!"
Jeno berkata dengan nada tajam seperti biasanya. Iya astaga, Renjun masih sangat ingat. Mereka berdua musuh, bahkan kelima teman geng-nya juga musuhnya. Renjun tidak akan lupa itu.
Ponsel hitam itu Jeno masukkan pada saku mantel tebalnya. Jeno memberikan tatapan tajamnya lagi pada Renjun sebelum akhirnya berbalik untuk pulang. Tapi baru saja selangkah untuk pergi meninggalkan rumah Renjun, seorang laki-laki berambut blonde muncul dari balik gerbang. Mata kecil Jeno yang mengantuk langsung membuka lebar saat melihatnya. Kedua tangannya mengepal kuat secara reflek. Rahangnya mengeras seketika karena menahan amarah.
Jeno bersumpah tidak akan pernah melupakan siapa laki-laki berambut blonde yang ada beberapa meter didepannya sekarang. Tidak akan pernah.
.
.
.
TBC
.
.
Uyyeeh, akhirnya chap 1 update. Huhu maafkan daku yang lama updetnya yaaa chingu
Seriusan cerita ini ngebingungin banget, aku sendiri aja bingung /dilempar sendal/
Oh ya, maaf banget kalau ff ini kurang maksimal, alurnya gak jelas, ataupun gak sesuai sama eskpetasi kalian yaa. Aku lagi banyak banget tugas, biasalah mau ujian akhir, jadi yagitu huehehe.
Disini moment norennya masi gak terlalu banyak ya, tapi santai aja chap lanjutan pasti bakal banyak, ntar ada pair lain kok selain noren. Dan untuk yang kasih saran untuk masukin SungLe, udah kumasukin huehee, tengkyu yaa.
Aku mau ngucapin makasih juga buat yang udah favs, follow, atau review untuk ff ini, serius aku bahagia sekali. Aku jadi semangat ngelanjutin nulisnya.
Oh ya satu lagi, jangan sungkan-sungkan kasih aku kritik dan sarannya ya chingu. Bagaimanapun aku juga masi belajar, jadi kritik dan saran kalian penting juga buat aing
Kayaknya uda kepanjangan ngomongnya wkwk, tolong tinggalkan jejak kalian yaa.
Monggo Review nya
.
Balasan Review :
Hara22 = kepo ya ehehe, kalo gitu terus baca sampai selesai ya . Iya sama kujuga suka jeno yang cakep rada bngst gini wkwk
BlueBerry Jung = tengkyu yaa kak, haduh iya ini udah dilanjut. Makasi supportnya
Wiji = adakok couple lain, moment mereka bakal muncul di chap-chap lanjutan kok huehehe, tengkyu yaa
Mastaxxx = tengkyu buat saran SungLe nya ya wkwk, iya kujadiin temennya enjun biar ga sendiri. makasi lo ya udah nungguin lanjutannya huehehe.
It's YuanRenKai = udah kutambah Jisung sama Chenle nya kok tenang aja Iya bakal dilanjut kok tengkyuu yaa
B8jaemjaem = seringnya Jaem emang jadi bf nya enjun, tapi pengen bikin yng beda gitu wkwk, jadi ya gini. Tenang aja ada duo SungLe yang bakal jagain njun kok . tengkyu yaa
Cho Minseo = tengkyu dukungannya mih wkwk, ku kan terus melestarikan ff noren kok hueheheh. Dan ya, pertanyaan mamih ku bakal terjawab seiring berjalannya chapter /tsah/ ditunggu aja ya huhehehe
Byunnie puppy = tenkyu yaa terus lanjut bacanya oke? Hueheh
FujosGirl = banyak yang bilang kalo terlalu benci bisa jadi cinta sih wkwk, love hate gitu uhukk. Tengkyu ya udah nungguin /terharu/
nichi = ciyee kepo hehehe, ditunggu terus ya, tengkyu loh mau baca ini Jeno emang cocok tsundere gitu wkwk. Jangan-jangan apa yaa? Huehehe ditunggu terus aja yaa kakak
hyena lee = tengkyu yaa supportnya, ini uda dilanjut huehehe
Chittaphon27 = wkwk rame karna enjun musuhnya banyak ya huehehe. Tengkyuu ya supportnya, ini uda dilanjut.
Cho Kyungmint = udah ku next nih hueheheh, tengkyuu ya supportnya.
wafertango = wkwk tengyuu ya udah mau mampir. Makasi ku uda lanjut
Cheon yi = iya pair nya noren hueheh, tenang aja kok. Ku ingin memberdayakan ff mereka wkwkw. Tengkyu yaa
KM-FARA = tengkyu yaa. Ini uda dilanjut
JaeEun21 = udah kulanjut kok huehehe, tengkyu yaa. Tetap baca terus yaa
Adeka = udaah kulanjut huehheh, doakan selalu yang terbaik untukku alur tidak tentu wkwk /digampar/ tengkyuuu ya udah nunggu. Fighting too
.
.
norenship23, 05052017
