-Chapter 2-

"Meeting"

Sudah berjam-jam lamanya Yuuri menunggu Ken Murata di lapangan baseball tempat ia biasa berlatih. Hari ini ia sedang ada janji dengan Ken untuk membeli peralatan baseball bersama. Tapi sudah lama sekali Yuuri menunggu Ken tak kunjung datang. Ia hanya ditemani oleh sarung baseball dan bola baseballnya. Sesekali ia mencoba untuk berlatih baseball sendirian hingga peluh membasahi tubuhnya.

"Ke mana perginya Murata, ya? Tidak biasanya ia terlambat seperti ini? Atau jangan-jangan ia lupa punya janji denganku?", Yuuri mulai merasa bosan.

Akhirnya Yuuri beranjak dari lapangan baseball tersebut dan mulai melangkah pergi meninggalkan lapangan baseball tersebut. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah karena langit terlihat mendung. Yuuri cukup kecewa karena tidak jadi pergi membeli peralatan baseball untuk klub baseballnya karena perlengkapan baseball klubnya sudah sangat usang, bagaimana bisa menang dengan keadaan seperti itu, pikirnya. Lagipula ia hanya sendirian di rumah. Ibunya seperti biasa sedang berbelanja, kakaknya ada pertemuan dengan teman-teman kuliahnya, sedangkan ayahnya tiba-tiba saja menghilang, pergi entah ke mana pagi-pagi sekali. Ia pun merasa sangat bosan bila harus pulang ke rumah, tapi ia tidak punya tempat tujuan lain untuk dikunjungi.

Beberapa saat kemudian hujan turun, sedangkan Yuuri masih harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sampai di rumahnya. Ia pun akhirnya memutuskan untuk berteduh di tempat terdekat. Saat itu ia melihat bangunan tua yang tak berpenghuni, ia segera berlari ke teras bangunan tersebut. Betapa sial ia hari ini, pikirnya. Tubuhnya menggigil dan gemetar kedinginan karena bajunya yang basah kuyup. Ia hanya bisa menatap titik-titik hujan yang menghantam tanah. Cukup lama ia melamun sendirian di dalam teras rumah tua itu hingga seorang pemuda ikut berteduh di teras tersebut. Tubuh pemuda itu juga basah kuyup tersiram air hujan. Wajahnya tak terlihat karena ia memakai semacam jubah.

Tiba-tiba saja pemuda itu mengeluarkan semacam jubah yang sama persis seperti yang dipakainya dari dalam tasnya. Yuuri memperhatikan pemuda itu dengan seksama, sepertinya ia pernah mengenalnya. Ketika Yuuri sedang memperhatikan pemuda itu lebih dalam, pemuda itu menghampiri Yuuri dengan wajah tertunduk dan menyelimuti tubuh Yuuri dengan jubah yang dikeluarkannya dari tasnya.

"Terima kasih, tapi aku rasa ini tidak perlu…", Yuuri berkata sambil berusaha melihat wajah pemuda tersebut.

"Kau bisa sakit kalau kedinginan seperti itu, bodoh! YOU'RE SUCH A WIMP!", jawab pemuda itu sambil melangkah menerobos hujan meninggalkan Yuuri.

"Hey, tunggu! Padahal kan kita baru bertemu, mengapa kau berkata seperti itu padaku? DON'T CALL ME THAT! Tunggu!", Yuuri berusaha mengejar pemuda tersebut, meminta penjelasan darinya. Pemuda itu kemudian berhenti melangkah. Yuuri pun hanya dapat terdiam di belakang pemuda tersebut. Pemuda tersebut membalikkan badannya dan mengangkat wajahnya. Terlihat mata tajam berwarna hijau menatap Yuuri sangat dalam.

"Hey, who are you? Have we ever met before? I know you… but…", ucapan Yuuri terhenti karena pemuda tersebut segera berlari meningalkan Yuuri sendirian dengan segala pertanyaan di dalam kepalanya.

Yuuri melangkah dengan perasaan gamang menuju rumahnya. Siapakah pemuda tersebut? Mengapa dia seperti telah mengenal Yuuri? Yuuri pun seperti mengenali sikap arogannya, gaya bicara dan berjalannya, dan tatapannya pada Yuuri? Datang dari manakah pemuda itu? Mengapa ia memakai jubah aneh seperti itu malah memberikan satu untuk Yuuri. Yuuri hanya bisa terus berpikir, berpikir, dan berpikir sambil terus memegang jubah tersebut. Terjadi keanehan di dalam hati Yuuri. Ia merasakan kehangatan dan kelembutan setiap kali ia menyentuh jubah itu. Tapi perasaan lain juga muncul di dalam hati Yuuri, perasaan sakit dan pedih entah datang dari mana. Ia merasa telah meninggalkan sesuatu yang penting, yang sangat berharga baginya.

Ketika ia tiba di persimpangan jalan matanya terbelalak melihat satu lagi keanehan. Ayahnya, Ken, dan seorang lelaki tua sedang berbincang-bincang degan wajah sangat serius. Mengapa Ken bisa terlihat begitu serius dengan ayah? Siapa orang tua itu? Apa yang mereka lakukan di persimpangan jalan? Yuuri memutuskan hanya akan melihat saja tanpa menghampiri mereka. Sayang, jarak antara Yuuri dan mereka cukup jauh sehingga Yuuri tidak dapat mendengarkan pembicaraan mereka.

Tak lama kemudian mereka pun berpisah. Ken menuju rumahnya bersama lelaki tua tadi dan ayah Yuuri menuju ke rumah. Yuuri mengikuti ayahnya dari jauh hingga ayahnya masuk ke dalam rumah. Ia pun masuk ke dalam rumah setelah beberapa saat kemudian.

"Aku pulang!"

"Selamat datang! Yuuri, habis pergi dari mana kau?", ayahnya bertanya sambil tersenyum.

"Tadinya sih aku ingin membeli perlengkapan baseball dengan manager klub baseballku, Ken Murat. Tapi, aku tunggu-tunggu dia tak kunjung datang. Ayah sendiri dari mana?"

"Hmm, ayah habis menemui pak kepala perusahaan."

"Oh, begitu…", Yuuri bertambah bingung lagi. Mengapa ayahnya harus berbohong padanya? Ada apa sebenarnya? Teka-teki seperti ini terlalu berat untuk dipecahkan olenya, pikirnya.

Sudah berhari-hari ini Yuuri mencari pemuda tersebut untuk sekadar menyampaikan pertanyaan-pertanyaannya waktu itu. Ia selalu menyempatkan diri mampir atau melihat-lihat rumah tua itu atau di sekitar rumah tua itu. Namun, hasilnya nihil. Tak ada tanda-tanda kehadiran pemuda tersebut. Pemuda itu tak pernah menampakkan diri lagi sejak kejadian siang itu. Entah mengapa hatinya selalu bergejolak setiap ia mengingat tatapan tajam pemuda itu. Semua pertanyaan dan keanehan yang menimpanya sejenak ia lupakan karena itu semua terkalahkan oleh rasa penasarannya terhadap pemuda itu

Sudah berkali-kali Yuuri mencoba melupakan rasa penasarannya terhadap pemuda itu, namun rasa itu seperti tak mau hilang dari hati dan pikirannya. Ia merasa ada sesuatu yang aneh pada diri pemuda itu. Sesuatu yang sepertinya telah ia ketahui namun tidak dapat ia keluarkan dari pikirannya. Ia menjalani kesehariannya seperti biasa, namun sebenarnya ia terus mencari apa yang telah ia lewatkan dalam usahanya mengingat-ingat kembali pemuda tersebut. Ia merasa pemuda tersebut ada hubungannya dengan keanehan-keanehan yang terjadi pada dirinya selama ini. Ada sesuatu di dalam dirinya yang seolah-olah ingin ia keluarkan karena telah lama tersimpan dan terlupakan olehnya. Pertemuan dengan pemuda itu membuat "sesuatu" itu makin meluap-luap dan menjadi-jadi bahkan mungkin dapat menghapus dirinya yang sekarang ini.

Senja itu hujan kembali turun. Yuuri menyesali tindakannya menolak membawa payung seperti saran ibunya. Padahal dia sendiri telah mengetahui kalau saat ini hujan turun hampir setiap hari. Entah mengapa ia tetap saja malas membawa payung. Hari ini Yuuri merasa kesal karena dia tidak menemukan Ken di mana pun, hari ini Ken tidak masuk sekolah dan tidak ada di rumah. Padahal Yuuri berencana ingin mengajukan protesnya pada Ken karena selalu tidak sempat menemaninya membeli peralatan baseball klub. Hujan yang turun hari itu pun menambah buruk situasi hatinya. Ia terpaksa harus basah kuyuplagi menerobos hujan yang jatuh menghujani badannya.Ia pun kembali berteduh di bangunan tua itu lagi.

Tiba-tiba pandangan Yuuri tertuju pada seorang pemuda berwajah cantik yang berdiri tak jauh darinya. Pemuda itu juga basah kuyup. Rambut kuning keemasannya terlihat lepek tersiram air hujan, kulit putihnya terlihat lebih putih karena udara dingin saat itu. Matanya tajamnya yang berwarna hijau tak mau lepas dari Yuuri. Yuuri pun membelalakkan matanya, ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Pemuda yang selama ini dicari-carinya sekarang sedang berdiri tak jauh darinya. Otaknya berpikir dengan keras, apa yang harus ia lakukan saat ini? Apa yang harus ia katakan? Apa yang harus ia lakukan agar ia mendapatkan semua jawaban yang ia cari? Berbagai macam perdebatan di dalam pikirannya menjadi satu dan membuat dirinya bertambah gelisah.

Pemuda itu hanya berdiri, tak menghiraukan Yuuri sama sekali. Ia tak mengucapkan sepatah katapun. Dengan begini, Yuuri menyimpulkan bahwa pemuda tersebut memang tak mau diganggu olehnya. Ia terus saja memperhatikan pemuda itu. Ekspresi pemuda tersebut sangat aneh, pikirnya. Kadang ia terlihat sangat serius tapi kemudian dia akan terus memandangi langit.

"Hmm, maaf? Bolehkah aku bertanya beberapa pertanyaan padamu?"

"Mengapa aku harus menjawab pertanyaanmu?", jawab pemuda itu sinis.

"Alright, alright… sepertinya kau memang tidak bersahabat. Apakah aku pernah mempunyai kesalahan padamu, kalau iya, aku minta maaf. Walaupun aku sendiri tidak menyadarinya."

"Tentu saja kau melakukan banyak kesalahan padaku, bodoh! Kau terlalu bodoh sehingga tidak menyadarinya. YOU'RE SUCH A WIMP!"

"Hey, apa-apaan kau? Lagi-lagi kau mengucapkan hal itu. Tunggu, sepertinya aku pernah mendengar kata-kata itu dari seseorang.", Yuuri berusaha mengingat-ingat kembali.

"Orang bodoh dan pelupa sepertimu pasti tidak akan dapat mengingatnya bahkan bila itu tunanganmu sendiri because you always cheat on me with young girl and good looking boy!", pemuda tersebut tiba-tiba saja terlihat sangat kesal. Namun, tiba-tiba dia kaget atas perkataanya sendiri. Sepertinya dia telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tak ia katakan. Ia pun pergi meninggalkan Yuuri yang masih kebingungan. Sama seperti saat itu, Yuuri pun mengejarnya dan ikut-ikutan menerobos hujan. Kejadian saat itu pun terulang lagi. Pemuda itu membalikkan badannya, tapi Yuuri tidak lagi mendapatkan sorot matanya yang tajam. Tetapi, mata penuh kepedihan yang tak hentinya mengeluarkan air mata. Yuuri pun terhenyak sesaat. Bagaimana bisa pemuda tersebut terlihat begitu terluka.

"Hey, why you…", pertanyaan Yuuri terhenti ketika pemuda tersebut mulai mendekatinya. Pemuda tersebut mendekatkan wajahnya dengan wajah Yuuri. Tatapannya kosong, ia kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Yuuri. Yuuri hanya bisa terdiam ketika dengan lembut bibir pemuda itu menyentuh bibir Yuuri. Tapi entah kenapa hatinya dan tubuhnya mengatakan kalau ia harus diam. Air mata pemuda itu dan air hujan masuk ke dalam mulut Yuuri. Sesaat Yuuri seperti terhipnotis, ia tak bisa melakukan perlawanan apa-apa. Tiba-tiba ia dapat merasakan rasa sakit dan pedih yang dirasakan oleh pemuda itu. Rasa bersalah dan kehilangan yang amat sangat. Tanpa sadar tangan Yuuri membelai rambut pemuda tersebut, rambutnya terasa begitu lembut.

"Wolfram…", di sela-sela ciuman tersebut Yuuri mengucapkan sebuah nama. Pemuda tersebut tersadarkan dan langsung pergi meninggalkan Yuuri.

"…", Yuuri hanya bisa terdiam di tengah hujan menatap kepergian pemuda tersebut hingga pemuda tersebut hilang dari pandangannya. Entah mengapa ia begitu ingin menangis. Tanpa terasa air matanya jatuh, hatinya terasa begitu terluka. Tapi ia tak tahu kenapa, ia hanya ingin menangis.

PENGUMUMAN!!

Authornya nangis beneran nih pas nulis ini… selain karena nih cerita, lagu sedih yang tiba-tiba muncul gitu aja, dan juga karena tmen wa yang sangat jahat bernama JUJU yang telah membuat fanfict yg begitu sedih sehingga gw ga bisa berenti nangis…

HWAA… JUJU… HWEEEE…. JAHAT BANGET SIH…!! B, I LOVE U….

WHY B? KNAPA GAK AYAM TETANGGA AJA YANG MATI…….

Sorry, this page cannot be displayed because the author was die…

4