"Kami tidak bisa membiarkan siswa berseragam sepertimu masuk, apa kau tidak tahu ini adalah club? Tempat kami memiliki batas usia tertentu."

Setelah menunggu berjam-jam, bukan kalimat larangan yang Naruto ingin dengar. Terutama dari kedua bodyguard bertubuh besar yang menjaga di depan pintu masuk, menatap remeh ke arahnya sambil tertawa mengejek.

"Apa anak muda sepertimu tidak bisa menahan diri untuk bersenang-senang? Sepertinya kau ini masih hijau, dan kau terlihat tidak terbiasa dengan lingkungan ini."

"Dia pasti sangat hijau, aku berani bertaruh dia akan menangis saat melakukannya untuk pertama kali hahahahaha!"

"Itu jika memang dia terbukti salah satu dari kita. Apa kau yakin dia ..., bukan salah satu dari mereka yang hanya ingin tahu ada apa saja di dalam sana karena rasa penasaran?"

"Hetero? Mungkin dugaanmu tepat. Sudahlah, aku tidak peduli. Hey pirang, sekarang tolong minggir karena kami harus bekerja, dan kau menghalangi jalan masuk!"

Naruto berusaha tenang, juga berusaha tidak memperlihatkan ekspresi kesal di wajahnya meski sulit. Emosi adalah kelemahan terbesar, dan kali ini harus bisa mengalah karena insting tajam kedua pria itu bisa membuat posisinya terancam.

Lagi pula, apa yang dikatakan kedua pria tersebut ada benarnya. Jika dibandingkan dengan mereka yang terbiasa akan gemerlap dibalik pintu hitam itu, ia sama sekali tidak memiliki pengalaman nyata. Semua pengalamannya bersama para gadis tidak berlaku di sini, menjelaskan secara detail tentang apa saja yang pernah dilakukan, atau berteriak untuk mengembalikan harga dirinya, tidak akan merubah banyak, atau membuatnya mendapat pengakuan.

"Kumohon," ada jeda sesaat, "aku tidak ingin kehilangan seseorang yang sangat berharga bagiku, kalian tidak akan mengerti betapa pentingnya ini meski kujelaskan. Aku benar-benar harus masuk ke dalam," lanjut Naruto sedikit menunduk, kedua alis mengernyit, juga giginya saling beradu. Suaranya terdengar pelan. Namun yakin saat mengucap. Memohon jika perlu, ia tidak akan kembali dengan tangan kosong setelah pergi sejauh ini.

Kedua pria itu saling menatap satu sama lain, lalu berbisik sembunyi-sembunyi entah apa yang dibicarakan. Tanpa Naruto sadari, ekspresi skeptis pada wajah mereka berangsur hilang digantikan dengan ekspresi iba.

"Tsk, aku benci yang seperti ini. Mungkin saja kekasihnya ada di dalam, dan dia tidak ingin kekasihnya diambil oleh orang lain."

"Jujur saja aku kasihan melihatnya, tetapi kita tidak bisa membantunya. Tidak ada yang boleh masuk dibawah usia 21 tahun, apa kau mau Mama memecat kita?"

"Apa kau lupa Mama juga memiliki beberapa tamu spesial? Mereka tidak jauh berbeda!"

"Kau benar juga, tetapi bagaimana dengan seragam anak ini? Kita tidak bisa mengijinkannya masuk begitu saja dengan menggunakan seragam sekolah—"

Kedua pria itu terus bertukar pikiran sambil berbisik. Hanyut dalam skenario imajinasi di kepala masing-masing dengan mudahnya bisa melupakan tugas utama untuk mengawasi keadaan sekitar. Bahkan saat sesosok wanita turun dari sebuah mobil sedan warna hitam, dan memotong paksa dari arah belakang garis tunggu, keduanya masih berada di posisi yang sama.

"Apa yang kalian lakukan? Kenapa membuat pengunjung menunggu seperti ini? Biarkan dia masuk ke dalam."

Serentak, semua pasang mata tertuju pada titik yang sama. Titik di mana wanita berambut pirang platinum berdiri dengan senyum tipis terkesan angkuh. Bibirnya yang dipoles perona merah menghembuskan asap putih beraroma kuat khas tembakau yang menguar di udara, pakaian yang dikenakan jauh dari kesan murah, dan aksesoris pendamping di kedua telinga membuatnya terlihat elegan.

"Mama?!"

Butuh lebih dari sepuluh detik bagi Naruto, untuk mampu mengalihkan pandangan karena tahu menatap seseorang yang lebih tua dari atas kepala hingga kaki dianggap tidak sopan. Namun tepukan di bahu kirinya diiringi dorongan pelan dari arah belakang, membuatnya kembali menoleh ke tempat yang sama.

"Ayo, apa lagi yang kau tunggu?"

Di detik selanjutnya, Naruto hanya bisa diam menuruti apa pun yang diperintahkan untuknya; tubuhnya didorong masuk ke dalam pintu, tangannya dituntun melewati beberapa meja penuh dengan alkohol, dan tubuhnya yang dipaksa duduk ke atas sofa di salah satu ruang berlabel VIP depan pintu.

Bagaikan magnet, pesona wanita itu membuatnya tidak bisa berkutik. Ada rasa tertarik yang tidak bisa ditolak, menjadikannya seperti boneka tali yang bergerak bukan atas keinginannya.

"Tsunade," ucap wanita itu menghisap kuat batang rokok diselipan jari sebelum bara apinya dimatikan paksa. "Atau, kau bisa memanggilku 'Mama' sama seperti mereka."

"N-Naruto," sahut si pirang terbata. "Uzumaki Naruto," tegasnya lagi.

Tsunade menaikkan sebelah alis. Perona bibirnya meninggalkan noda merah pada tepi gelas, saat cairan beralkohol berpindah tempat ke dalam mulut. "Jadi, apa yang sebenarnya ingin kau lakukan di sini, terutama dengan seragam sekolah?"

"Itu ..., ada hal yang harus—" Naruto merasa jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Berbeda dari sebelumnya, kini ada rasa takut yang membuatnya gugup. Tsunade menatapnya dari tengah ruangan, tatap tajam yang membuatnya sulit berpikir, juga menyusun kalimat untuk bibirnya ucap karena merasa terancam.

"Hal yang harus?" ada jeda sesaat, "dengar Naruto, aku mungkin tidak tahu alasan sebenarnya kau melakukan hal ini, tetapi sepenting apa pun itu seharusnya kau tidak mengunjungi bar menggunakan seragam. Aku terpaksa membawamu masuk ke dalam, polisi akan mempermasalahkan hal ini jika mereka melihatmu di depan club milikku, kau tahu?"

"Maaf." Dari sekian banyak kalimat, hanya kata itu yang bisa diucap tanpa hambatan dari bibir Naruto.

"Tunggu di sini."

Naruto mengangguk saat kaki jenjang Tsunade pergi meninggalkan ruangan. Seperti anak anjing tanpa tuan, kedua mata terpaku pada pintu untuk menunggu kembalinya sosok yang sama. Jujur saja, ia merasa ada yang aneh pada dirinya malam ini. Entah karena kehadiran Tsunade, atau karena mulai mempelajari bagaimana rasanya kesepian saat Sasuke tidak lagi bersamanya seperti biasa.

Apa pun itu, ia belum pernah merasa seperti ini sebelumnya.

"Pakai ini."

Mata berkedip beberapa kali mendapati Tsunade sudah berdiri tepat di hadapannya sambil bertolak pinggang. Lamunan Naruto terpaksa buyar, saat jaket serta celana hitam senada dilempar tepat mengenai wajahnya. "Huh?"

"Apanya yang 'huh'? Jika kau benar-benar harus melakukan sesuatu di sini, lepas seragam itu sekarang juga, dan cepatlah. Aku punya banyak pekerjaan," perintah Tsunade, saat kakinya kembali melangkah keluar ruangan.

"Huh?" gumam Naruto, memerhatikan jaket dalam genggaman tangan sambil mengernyit.

.

Pakaian yang dikenakan saat ini tidak lagi membuatnya mencolok, dengan mudahnya bisa membaur di antara kerumunan manusia tanpa menimbulkan rasa curiga karena memang fisiknya mendukung. 30 menit yang lalu masih duduk diam di dalam ruang spesial berfasilitas luar biasa mahal, kini tubuhnya bersandar pada dinding dengan sebelah kaki melipat ke belakang menumpu pada dinding.

Helaan napas berulang kali terdengar dari bibirnya. Dikira bisa mendapatkan informasi dengan mudah, nyatanya tidak. Ia tidak tahu harus memulai dari mana, kerumunan manusia di hadapannya memang terlihat ramah, tapi beberapa pasang mata yang menatapnya lapar juga membuatnya bergidik.

Bukannya takut, hanya merasa canggung.

Lagi-lagi perasaan yang sama semenjak kakinya melangkah masuk ke dalam pintu club, karena tahu ia tidak sebanding dengan mereka.

"Hey!"

Sontak menoleh dengan ekspresi kaget di wajah. Sepasang mata Naruto menatap seorang wanita berambut merah muda pastel tersenyum ramah ke arahnya.

"Apa kau terkejut? Ekspresi di wajahmu itu ..., sangat aneh!" Wanita itu tertawa geli hingga kedua matanya menyipit. "Jangan takut, aku tidak akan menggodamu. Lagipula kita memiliki selera masing-masing bukan?"

Naruto mulanya mengernyit tidak paham, tetapi melihat bagaimana si wanita berambut merah muda pastel menyapa lembut sosok wanita lainnya yang berambut indigo, sedikitnya ia mulai paham tentang apa yang terjadi.

"Aku Sakura, dan ini kekasihku Hinata."

Sesuai dengan prediksinya, senyum puas mengulas di bibir si pirang sebelum balas memperkenalkan diri. "Aku Naruto."

"Kau tahu Hinata, Naruto ini lucu sekali. Dia pikir aku akan menggodanya tadi. Kau harus lihat bagaimana ekspresi terkejut di wajahnya! Apa kau benar-benar setakut itu terhadap wanita, Naruto?" Sakura lagi-lagi tertawa geli, sedangkan Hinata hanya bisa tersenyum tipis sambil sedikit menunduk, takut jika saja perkataan kekasihnya bisa menyinggung si pirang.

"Aku terkejut bukan karena takut wanita, tetapi karena tahu ini gay club. Jika seorang pria yang menggodaku tentu saja itu normal di sini, tetapi wanita?" batin Naruto dalam hati, tidak ingin ambil pusing untuk menyuarakan apa yang ada di kepalanya.

"Maaf Naruto, aku hanya bercanda," ujar Sakura menepuk bahu si pirang berulang kali sambil tertawa kaku setelah Hinata menatapnya tajam.

"Bukan masalah," sahut Naruto, "apa kau ..., uh, ada yang bisa kubantu? Atau kau membutuhkan sesuatu?"

Sakura menoleh ke arah Hinata lalu mengangguk tanpa basa-basi. "Sebenarnya Hinata melihatmu datang bersama Mama tadi, Hinata pikir kau adalah bartender baru yang akan membantunya, tetapi sepertinya dugaan Hinata salah. Lagi pula, mana mungkin Mama membawa bartender ke dalam ruang VIP."

Naruto tidak langsung menjawab. Matanya memerhatikan Sakura dan Hinata yang tampak begitu familiar dengan lingkungan dalam club. Merasa mungkin ini kesempatannya mendapat celah, ia tidak berniat untuk melepas mereka begitu saja. "Aku hanya pengunjung biasa, Mama membawaku ke dalam karena takut seragamku akan menarik perhatian polisi," sahutnya, lalu beralih pada Hinata. "Apa aku boleh tahu kenapa kalian memanggilnya Mama? Namanya Tsunade bukan?"

"Ah, itu ..., mungkin karena Tsunade pemilik club ini? Dia juga lebih tua dibandingkan dengan kami, mungkin karena itu kami terbiasa memanggilnya dengan Mama," jelas Sakura, melirik Hinata memastikan.

"Lebih tua?" tegas Naruto bingung.

"Meskipun terlihat sepantaran dengan kami, sebenarnya Mama baru saja menginjak tahun ke-50 beberapa bulan lalu," timpal Hinata.

"A-Apa?" Sekarang Naruto paham, mengapa ia merasa Tsunade memiliki pesona tersendiri yang memikat, mengintimidasi, karismatik, juga menakutkan secara bersamaan. "Dia penyihir!" batinnya dalam hati.

"Aku tahu kau pengunjung baru di lingkungan ini, tetapi tidak harus terkejut seperti itu. Semua orang menyukai Tsunade, di sini. Bahkan aku pernah tergila-gila padanya sebelum bertemu dengan Hinata." Sakura masih tertawa geli, sama sekali tidak menyadari jika Hinata mulai menatapnya tajam dari arah samping.

"Lalu, apa kalian juga pengunjung?" tanya Naruto.

"Sakura pelanggan tetap, dan aku bartender club ini," sahut Hinata, disusul angguk mantap dari Sakura.

"Jackpot!" batin Naruto puas.

"Lihat, sudah kukatakan bukan? Naruto tidak mungkin bartender yang Mama bicarakan," ujar Sakura pada Hinata. "Mama tidak mungkin mempekerjakan pelajar, kau tahu itu."

Naruto tertawa. "Apa aku tidak terlihat seperti pelajar? Kau pasti mengira aku ini orang aneh yang suka mengenakan pakaian tertentu untuk mencari atensi, huh?"

"Iya," sahut Hinata polos, dan Naruto merutuki dirinya sendiri atas pertanyaan yang ia suarakan beberapa detik sebelumnya.

"Hinata semua ini membuatku haus. Aku ingin minum, buatkan yang seperti biasa," ujar Sakura tersenyum manis, "bagaimana denganmu Naruto?"

Naruto menggeleng, meski ingin. Tugasnya di sini belum selesai, akan sangat berbahaya jika tubuhnya ambruk di antara kerumunan manusia, dan tidak ada Sasuke yang akan menolongnya. "Tidak. Mungkin nanti," sahutnya.

"Baiklah," balas Sakura singkat, lalu mendekat ke arah Hinata untuk mengecup pipinya sebelum wanita berambut indigo itu memutuskan kembali ke tempatnya semula, di belakang meja bar.

"PDA," Naruto meledek.

"Iri?" balas Sakura tersenyum tipis, menaikkan sebelah alis.

Naruto tertawa, menyadari kalimat yang diucapnya tadi terkesan sangat bodoh. Mendapat kecupan dari para gadis di pipi bukanlah hal aneh atau baru baginya, tetapi entah mengapa ada rasa iri tidak tertahan melihat bagaimana Sakura, dan Hinata tersenyum lembut saat keduanya bertatapan setelah bertukar kecupan. "Bukankah itu hal yang wajar? Kau, dan Hinata memilki rasa yang sama; kau menganggapnya sebagai kekasih, begitu juga dengan Hinata yang menganggapmu kekasihnya." Matanya melirik ke bawah, memerhatikan sepasang kaki yang berpijak pada lantai. "Terkadang ada beberapa hal yang membuatmu sangat frustasi menyadari apa yang kau rasa benar ternyata hanya ada di kepalamu saja, lalu mereka meninggalkanmu karena berpikir itu menganggu saat kau mencoba memastikan apa yang sebenarnya terjadi."

"Hey." Sakura mendekat untuk merangkul si pirang, matanya melirik memastikan bagaimana ekspresi pada wajah lawan bicaranya sebelum mengucap, "Naruto, apa kau sedang membicarakan kekasihmu saat ini?"

Naruto mengernyit. "Dia saha—" Hendak mengelak. Namun kalimatnya lebih dulu dipotong paksa.

"Apa kau sangat yakin? Mungkin aku tidak mengenalnya sepertimu, tetapi bukankah aneh jika kau berasumsi dia tidak memiliki rasa yang sama denganmu? Maksudku ..., kalian sepasang kekasih bukan? Jika dia tidak mencintaimu, sejak awal cintamu pasti tidak akan diterima, mungkin ada alasan tertentu yang sengaja disembunyikan darimu, Naruto."

Si pirang memutuskan diam bukan karena kehabisan kata, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan menyadari apa yang dikatakan Sakura benar adanya. Sejak awal Sasuke tidak pernah mengelak disebut sebagai 'sahabatnya' Tidak pernah terlihat keberatan, juga tidak pernah terlihat terganggu. Itu sudah cukup membuktikan jika asumsinya salah karena Sasuke juga menganggapnya sebagai sahabat. "Apa ini karena aku terus mempertanyakan soal sahabat di depan wajahnya? Sasuke pasti membutuhkan keberanian besar untuk membuka rahasianya padaku, dan yang kulakukan setelahnya hanya mempertanyakan status sahabat di antara kami. Seakan-akan aku tidak mampu lagi menganggapnya sebagai sahabat seperti biasa setelah mengetahui jika dia gay ..., pantas saja dia marah. Naruto, kau menghancurkan segalanya."

Sakura mengeratkan rangkulan, menyadari ekspresi di wajah Naruto menggelap. "Dengar, Naruto. Bersenang-senanglah hari ini, dan kembali padanya besok untuk menyelesaikan masalah kalian. Lagi pula kau sudah ada di sini, aku yakin dia tidak akan marah melihat kekasihnya bermain sebentar."

Naruto tersenyum meski harus memaksa otot bibirnya bekerja. Kepalanya yang menunduk diangkat, sepasang matanya memerhatikan sekitar, lalu menoleh ke arah di mana jari Sakura menunjuk. Dari jauh ia mendapati Hinata melangkah menghampiri di antara kerumunan orang, tangannya penuh membawa dua gelas berisikan cairan warna biru dengan hiasan lemon di tepi.

"Aku tahu kau tidak ingin minum, tetapi ini pertama kalinya kau datang berkunjung. Kurasa sedikit alkohol tidak akan menyakitkan," ucap Hinata, tersenyum tipis.

"Ayo minum, jangan khawatir biar aku yang mentraktirmu malam ini," timpal Sakura, mendorong gelas si pirang mendekat ke arah mulut.

Naruto mengangguk diiringi tawa pelan, sebelum meneguk habis cairan dari dalam gelas. Membiarkan rasa manis sedikit pahit membakar lidah juga tenggorokannya, yang diharapkan mampu menghapus rasa tidak nyaman setiap kali memikirkan tentang Sasuke.

Mungkin mereka benar, ia membutuhkan istirahat singkat setelah bekerja cukup keras sejak kemarin.

"Kau memang hebat, huh? Mampu menahan alkohol diusia seperti ini." Sakura menyikut pelan dada Naruto, lalu jemarinya menunjuk pada sebuah titik dekat dengan pintu masuk kedua club. "Kau lihat itu Naruto, di sana Mama selalu menyambut tamu spesialnya. Mungkin bisa disebut pintu masuk berbasis status sosial? Kau pasti masuk melalui pintu utama jadi tidak begitu memerhatikan apa yang terjadi di sana."

Tertarik mendengar kata 'spesial' mata Naruto memerhatikan tempat yang ditunjuk oleh Sakura. Berbeda dari tempat lainnya yang dipenuhi kerumunan orang, sudut ruangan tempat Tsunade berdiri dibatasi partisi kaca beku yang disambung langsung pada ruang VVIP. Meski tidak jelas, ia masih bisa melihat siluet siapa saja yang berada di sana.

"Mama memiliki tamu penting berbeda setiap malamnya, dan mereka tidak ingin identitasnya diketahui. Itu sebabnya Mama sengaja membatasi, dan membedakan kedua area," jelas Hinata.

Sakura menimpali, "ini rahasia, tetapi kau pasti tahu Hyuga Neji si pewaris tunggal salah satu brand jam tangan mewah itu. Dia ada dalam daftar tamu penting Mama, aku tidak tahu siapa pasangannya, tetapi akhir-akhir ini mereka sering bertemu di sana."

"Oh, begitu. Aku tidak tahu hal yang seperti itu." Naruto tidak menaruh perhatian berlebih pada kehidupan orang lain, tetapi menyadari jika pewaris tunggal seperti Neji memiliki selera yang sama seperti sahabatnya, membuatnya berpikir ada banyak hal umum yang dianggap tabu meski sebenarnya tidak. Seandainya mereka diperlakukan sama, hal semacam ini tidak perlu lagi disembunyikan hanya karena alasan pukul rata 'mana yang benar, dan mana yang tidak'.

"Lihat, baru saja dibicarakan dan sekarang dia di sini." Sakura tertawa pada Hinata, tetapi si wanita berambut indigo hanya balas menatap sambil menggeleng pelan.

"Ya aku bisa melihatnya. Dia terlihat cukup mencolok dengan rambutnya yang hitam panjang i—" sahut Naruto, memerhatikan siluet seorang pria berpakaian serba putih, berambut hitam panjang di balik kaca beku. Namun kalimatnya tidak dilanjutkan menyadari adanya sosok lain mengikuti Neji di belakang yang terlihat cukup familiar baginya.

Pria dengan pakaian serba hitam, kulit pucat, dan rambut melawan gravitas yang khas.

Sadar jika instingnya belum tentu benar, Naruto tidak bisa begitu saja menghapus imajinasi negatif dalam kepala. Semakin lekat ia memerhatikan bahasa tubuh kedua siluet, semakin sulit untuk mengelak kenyataan jika mungkin saja ia mengenali sosok itu.

"Naruto, ada apa? Kenapa kau terlihat seperti ingin membunuh seseorang? Apa kau salah satu penggemar berat Neji? Melihatnya bersama pria lain pasti menyakitkan, huh?" Sakura tertawa, lagi-lagi mengeluarkan bahan gurauan yang sebenarnya tidak lucu, juga dibenci oleh Hinata. Namun saat Naruto meletakkan gelas ke atas meja dengan menghentak, Sakura menyadari jika kali ini ia sudah melewati batas.

"Ya," sahut Naruto. Suaranya terdengar berat, dan ekspresi wajahnya lagi-lagi menggelap, "jika pria itu benar kekasihnya, aku tidak akan mampu lagi menahan keinginanku untuk membawa Neji menjauh darinya."

Saat Naruto pergi meninggalkan tempatnya berdiri, Sakura dan Hinata hanya membisu, saling menatap khawatir.

.

Continued