LOVE THAT CAN NOT BE FORGOTTEN
Author : Love Panda [Mika]
Pairing : Kris Wu x Huang Zi Tao & Kevin Li x Huang Zi Tao
Cast : EXO
Genre : Romance, Angst
Rated : M
Disclaimer : Semua tokoh milik diri mereka sendiri. Saya tak memiliki hak apa-apa selain cerita ini.
Warning : Yaoi, Boys Love, typo, dll
Summary :
Ingin mengenal lebih jauh tentang kembarannya yang telah terpisah darinya cukup lama, Kris tanpa sengaja mengetahui tentang Tao dan akhirnya jatuh hati pada pemuda panda itu. Dan bagaimana reaksi Tao melihat kembaran dari mantan kekasihnya yang sudah meninggal?
Note :
Makasih buat yang udah kasih Review, nge-Follow dan nge-Favorite fanfic ini;
Guest(1), missjelek, Guest(2), rarega18, 91, tieneelau, ajib4ff, chikakyumin, taoris shipperrr, fallforhaehyuk, Brigitta Bukan Brigittiw, Riszaaa, oraurus, AmaterasuUchih1, , KTHS, Dark Shine, Myjonggie, Reezuu Kim, LYS ARR, Reina Huang, putchan, renachun, Baby Ziren KTS, ayulopetyas11, benbenkece, Lalala Kkamjong, Choi Moonkyung, zakurafrezee, wupanda, otule, Jin Ki Tao, PanDragonease26, Rima-TAOma, pujochi exo, ia (guest), mizuki yuki (guest), vella huang
***TMCY***
Chapter 2
Kris keluar dari dalam mobilnya yang kini terparkir di sisi jalan. Ia langkahkan kakinya menuju sebuah gedung tingkat tiga yang berada tak jauh dari sana. Melangkah masuk kedalam, Kris tak menghiraukan tatapan kagum dan heran yang ditunjukkan padanya. Naik ke lantai dua, kini dihadapan Kris terdapat sebuah ruangan berdinding kaca yang kini menarik perhatiannya. Terutama pada sesosok manis yang kini tengah bernyanyi bersama anak-anak. Tao.
Berkat Buku Harian Kevin, Kris mengetahui tempat Tao bekerja ini. Sebuah Daycare yang berada dipinggir kota Beijing. Tak jauh dari tempat tinggal pemuda panda itu.
Kris terpaku ditempatnya. Matanya tak pernah lepas dari sosok Tao. Tiba-tiba tangan kiri Kris meremas dada kanannya. Hatinya mendadak terasa sakit. Ia ingat salah satu tulisan kakak kembarnya di Buku Harian itu.
'Tao terlalu indah hingga membuat hati ini terasa begitu sakit.'
Membaca Buku Harian kakaknya sama saja dengan membuka Kotak Pandora bagi Kris. Namun, semuanya sudah terjadi dan Kris tak bisa menahannya lagi. Ia sudah terlanjur jatuh hati pada Tao.
Ironis.
Ketika ia dan Kevin bisa mencintai orang yang sama.
Saat ia tahu apa saja rintangan yang akan ia hadapi.
Dan tahu akan sesakit apa ia nanti untuk mendapatkan hati pemuda itu.
Cinta itu memang tak pernah mudah.
***TMCY***
10 Oktober 2011
Kevin menahan tangan Tao yang menjinjing kantung-kantung belanjaannya dan membuat pemuda itu tak jadi keluar dari mobil.
"Ada apa?" Tanya Tao sedikit terlihat kesal dan menepis tangan Kevin yang menggenggamnya.
"Aku belum mendapat hadiah darimu untuk barang-barang itu."
Tao menghela nafas berat. Ia silangkan kedua tangannya didepan dada dan menatap laki-laki disebelahnya itu dengan malas. "Hadiah apa yang kau mau?"
"Cium aku."
Jawaban Kevin langsung saja membuat Tao terbelalak kaget. Kakak kelasnya itu sepertinya sudah gila.
"Aku tidak mau," Tao mencoba keluar dari mobil, tapi Kevin kembali menahannya.
"Cium aku atau semua barang yang kau beli dengan uangku harus kau kembalikan. Kau pilih yang mana, cantik?"
Tao mendengus. Ragu-ragu ia mendekatkan tubuhnya pada Kevin. Dan secepat kilat ia mengecup pipi kanan laki-laki tampan itu.
Dan dengan wajah yang memerah sempurna, Tao akhirnya keluar dari mobil dan buru-buru masuk kedalam rumahnya. Meninggalkan Kevin yang kini berteriak senang.
***TMCY***
18 Oktober 2011
Luhan menatap Kevin tak percaya. Hampir saja ia menyeburkan minuman bersoda yang tadi memenuhi mulutnya.
"Berhenti bercanda, Kevin!" Luhan menatap laki-laki dihadapannya itu dengan tajam. "Kau bohong, kan?"
Kevin menggeleng. "Aku berkata jujur, kok."
Dengan keras Luhan menyimpan botol Cola-nya diatas meja.
"Kau benar-benar jatuh cinta dengan murid berandalan itu? Kau sudah tidak waras!"
"Ya. Aku benar-benar jatuh cinta pada Tao. Tapi maaf saja, aku masih waras," Kevin mengambil bungkus sisa makan siangnya dan kemudian membuangnya. Lalu ia tinggalkan Luhan yang masih kaget dan kesal di kantin yang sudah mulai sepi itu.
***TMCY***
06 Nopember 2011
Bisa berada dirumah Tao adalah mimpi Kevin sejak ia sadar ia jatuh hati pada pemuda panda itu. Dan saat disana hanya ada mereka berdua, Kevin rasanya tak pernah sebahagia ini sebelumnya.
"Berhenti menatapku!" Tao muak tentu saja, ia sedang mengerjakan tugasnya dan Kevin malah menatapnya terus-menerus.
"Aku tidak mau," Kevin malah memajukkan tubuhnya dan menatap lebih dekat Tao yang duduk berhadapan dengannya.
"Tapi, aku tidak suka! Aku tidak bisa mengerjakan tugas ini kalau kau menatapku terus!" Tao menunjuk Kevin tidak sopan dan melempar bukunya ke arah laki-laki itu yang berhasil ditangkap dengan mulus.
"Baiklah. Aku akan mengerjakan tugasmu. Lagipula hal itu memang alasanku berada disini. Tapi, kau harus menjawab pertanyaanku," Kevin pun mengedipkan matanya pada Tao dan dibalas tatapan jijik dari pemuda itu.
"Apa yang mau kau tanyakan? Singkat saja. Aku tidak ada waktu meladenimu."
Kevin tiba-tiba menyeringai, ia genggam kedua tangan Tao dan membuat pemuda itu mendelik marah. "Lepaskan!"
"Tao…"
"Apa?" Tao masih mencoba melepaskan genggaman tangan Kevin.
"Tao, apa kau itu gay?" Dan pertanyaan itu berhasil membuat panda manis itu terbatuk.
"Aku ini normal, berengsek!" Berhasil! Tao berhasil melepas genggaman Kevin.
"Tapi, kau terlihat tidak menyukai perempuan, Tao."
"Siapa bilang? Aku suka perempuan, kok."
"Kau bisex kalau begitu. Em?" Lagi, Tao melempar buku ke wajah Kevin.
"Aku normal!"
"Bohong! Kalau kau normal, kau tidak akan memerah pipinya saat menciumku waktu itu."
Dan Tao pun berdiri dari duduk bersilanya. "Oke! Aku memang gay! Tapi, ini bukan urusanmu!"
"Ini urusanku karena aku jatuh cinta padamu. Aku masih punya harapan diterima olehmu kalau begitu."
"Jangan harap!" Kembali Tao mendudukkan tubuhnya dan meminum jus-nya.
"Tao, apa yang membuatmu menjadi seorang gay? Atau siapa mungkin," Kevin menatap Tao yang tiba-tiba terdiam. "Kalau akau kan sudah jelas. Aku jadi gay karena kau."
"Berhenti mengatakan itu," Tao menyentuh pipinya yang memerah. "Dan aku tidak mau mengingat cinta pertamaku. Ini memalukan."
Kevin yang merasa tertarik, malah memaksa Tao untuk menceritakannya. "Ayolah, beri tahu aku!"
"Oke, aku akan cerita. Tapi, setiap aku malas mengerjakan tugas, kau yang harus menyelesaikannya. Setuju?"
Dan tanpa ragu Kevin langsung mengangguk.
"Laki-laki itu guru baru di SMP. Waktu itu aku masih kelas 2," Tao meminum jus-nya lagi sebelum kembali melanjutkan ceritanya. "Dia baik, pengertian dan tentu saja tampan. Hampir semua murid menyukainya, termasuk aku."
"Lalu?"
"Tapi sayang, dia ternyata sudah beristri. Pertama kalinya aku jatuh cinta pada laki-laki dan aku langsung patah hati. Menyebalkan."
"Waktu kelas 3, aku jatuh cinta dengan teman sekelasku. Kabar baiknya dia gay. Tapi, kabar buruknya dia sudah punya kekasih. Ini makin menyebalkan."
"Terus?"
"Tidak ada lagi, aku kapok jatuh cinta," dan dalam satu tegukan terakhir Tao menghabiskan jus-nya.
"Kau butuh pelukanku untuk menenangkanmu?" Kevin merentangkan tangannya dan menatap Tao yang terlihat sedih.
"Tidak perlu!" Kini, Tao melempar sebuah pensil ke arah Kevin. "Sekarang giliranmu. Aku ingin tahu siapa cinta pertamamu?"
Kevin menatap Tao heran, namun detik berikutnya ia tersenyum. "Perempuan itu teman sekelasku saat kelas 1 SMA. Kau tahu, kan? Si Ratu Dandan itu? Kami sempat pacaran tapi sayang, ia selingkuh dan berakhirlah hubungan itu."
"Oh, aku turut prihatin."
"Tidak apa-apa, kok. Karena dengan selesainya hubungan itu, aku bisa bebas mendekatimu karena aku single," dan saat Kevin menunjukkan senyuman menawannya yang menyebalkan itu, Tao melempari laki-laki itu dengan semua benda yang bisa digapai tangannya.
"Hei! Berhenti! Ini sakit tahu!"
"Aku tidak peduli!"
Dan akhirnya, setelah bersusah payah Kevin berhasil mengenggam tangan Tao lagi. "Kau tahu sekarang tanggal berapa?"
"Emm, 6 Nopember?"
"Iya! Dan kau tahu ada hal hebat apa yang berlangsung hari ini?"
"Ibu Fei membatalkan ulangan Matematika hari ini?"
"Bukan, cantik," Kevin sekarang mencubit kedua pipi Tao. "Hari ini hari ulang tahunku!"
"Oh? Sungguh?"
"Ya!" Dan kini Kevin menarik hidung bangir Tao.
"Hei!"
"Beri aku hadiah!"
"Tidak mau!"
"Kau pikir tas barumu, baju-baju barumu, sepatu barumu, kau beli dengan uang siapa?"
"Oke!" Tao mendengus sebal dan segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya.
Tak butuh waktu yang lama sampai Tao kembali. Kevin tersenyum, ia merasa lucu dengan tingkah Tao yang coba menyembunyikan benda dibelakang punggungnya yang tentu saja gagal karena ukuran benda itu yang terlalu besar.
"Untukmu," dengan malu Tao menyerahkan Boneka Panda berukuran besar itu pada Kevin.
"Kau memberiku boneka?"
"Memangnya kenapa? Kau tidak suka? Ya sudah, aku ambil lagi," Tao hendak menarik boneka itu namun Kevin sudah terlebih dulu menahannya. "Kau sudah memberinya padaku. Jadi ini sudah jadi milikku."
"Ya ya, terserah."
"Ngomong-ngomong, kau suka boneka, Tao?"
"Aku memang suka. Kau mau mengejekku? Boneka Panda itu lucu tahu!"
"Aku tidak akan mengejekmu, kok. Aku malah merasa kau semakin terlihat manis karena menyukai boneka. Aku makin jatuh cinta."
Perlahan, Kevin mendekatkan wajahnya dengan Tao. Tapi, sebelum ciuman itu tercipta. Tao sudah lebih dulu memukulnya.
"Jangan macam-macam, mesum!"
***TMCY***
13 Nopember 2011
Baekhyun menatap tajam laki-laki tinggi dihadapannya. Ingin sekali rasanya ia menendang wajah menyebalkan itu.
"Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan Tao! Menjauh darinya!"
"Aku tidak mau!" Kevin membalas.
"Berhenti bersikap seolah kau benar-benar menyukainya! Aku tahu kau hanya main-main!" Baekhyun menekan dada Kevin berulang kali dengan jari telunjuknya.
"Sok tahu sekali. Dengar! Aku tidak main-main karena aku sungguh-sungguh jatuh cinta dengan Tao!"
Baekhyun memutar matanya malas. "Kita lihat saja. Kalau kau sampai menyakitinya. Aku tidak akan segan menghabisimu!"
"Siapa takut. Aku bahkan rela menyerahkan nyawaku ini untuknya!"
Dan dengan itu mereka mengakhiri pembicaraan. Menyisakan Tao yang hanya menggeleng-geleng kepalanya, pasrah. Kedua orang itu sudah gila, pikirnya.
***TMCY***
30 Nopember 2011
"Bodoh," dengan cekatap Tao mengelap rambut Kevin yang basah.
"Aku hanya menunggumu, aku tidak bodoh."
"Sudah kubilang aku tidak bisa datang. Jadi, kenapa kau masih menungguku di taman?"
"Aku hanya berharap. Lagipula, akhirnya kau benar-benar datang, kan?"
Menghela nafas, Tao mengehentikan kegiatannya. Ia kini duduk disamping Kevin yang tengah basah kuyup.
"Luhan meneleponku dan menanyakan ada dimana kau. Dan karena itu aku tahu kau masih menungguku. Awalnya aku tidak mau peduli. Tapi, diluar sedang hujan deras dan mau tak mau aku jadi khawatir."
"Aku hanya ingin bisa jalan-jalan berdua denganmu."
"Tapi, kau nanti bisa jatuh sakit!"
"Maafkan aku karena sudah membuatmu khawatir," Kevin berdiri dari duduknya dsn berniat pergi saat tiba-tiba Tao menahannya.
"Sekarang masih hujan deras dan kau tidak membawa mobilmu. Bahkan sekarang sudah jam 11 malam," Tao menarik Kevin untuk kembali duduk. "Menginaplah disini."
Tanpa ragu, Kevin pun mengangguk. "Ya."
.
.
.
Kevin mendudukkan tubuhnya di sofa dan menatap Tao dengan mata yang masih mengantuk.
"Kevin, aku takut. Listrik mati dan petirnya menyeramkan sekali."
"Baekhyun sedang tidak ada. Jadi, temani aku tidur."
Dan Kevin pun tersenyum, mengikuti Tao masuk kedalam kamar. Dengan cepat mereka berdua berbaring ditempat tidur. Berpelukan.
"Malam, Tao."
Dan saat pelukan itu makin erat, perasaan aneh mulai merasuk kedalam hati pemuda panda itu.
***TMCY***
Untuk kesekian kalinya Kris masuk kedalam kamar Kevin. Begitu banyak hal yang berhubungan dengan Tao di ruangan ini dan Kris tidak mau melewatkannya sedikitpun.
Kris sadar, ia sudah semakin jatuh kedalam pesona pemuda panda itu dan ini semakin terasa menyakitkan. Walaupun begitu, ia akan tetap mengejarnya. Meski ia tahu seberapa dalam cinta Kevin dan Tao. Ia tidak akan menyerah. Biarkanlah ia egois untuk kali ini saja.
Tiba-tiba terdengar dering telepon yang berasal dari saku Kris. Segera membuka pesan yang baru saja masuk, tanpa sadar ia tersenyum.
'From: Lay
Besok aku kan menyusulmu ke Cina. Jangan percaya diri dulu, aku pulang untuk menemui orang tuaku. Jangan lupa jemput aku di Bandara.'
Oke, mungkin saja Lay bisa membantunya kali ini. Semoga. Dan dengan penuh cinta Kris mengecup foto Tao yang kini menjadi wallpaper telepon-nya.
***TMCY***
10 Desember 2011
Tanpa sadar Tao tertawa. Padahal awalnya ia ingin marah, ia kesal setengah mati pada Kevin yang membuatnya harus menunggu laki-laki itu begitu lama. Tapi, saat Kevin tiba-tiba datang sambil memakai kostum Santa, senyuman itu tak pernah lepas dari wajah Tao.
"Hei, berhenti menertawaiku. Luhan memaksaku untuk memakainya!" Dengan sebal Kevin menunjuk ke arah teman sekelasnya itu yang masih berada diluar rumah, masih asyik mengobrol dengan pacarnya.
"Tapi, astaga Kevin! Kau terlihat lucu sekali! Aku tidak sabar menunggu Hari Natal tiba!"
Dan wajah Kevin pun memerah, apalagi saat Tao tiba-tiba memeluknya.
"Santa, Natal nanti kabulkan keinginanku, ya…"
Kevin tertegun, namun detik berikutnya ia tersenyum sembari membalas pelukan hangat itu. "Tentu saja, Tao. Semua keinginamu akan aku kabulkan. Aku janji."
***TMCY***
17 Desember 2011
Hari itu temperatur udara menunjukkan minus lima derajat celcius. Meski begitu, dengan semangat Tao berlari-lari disepanjang jalan itu. Dan Kris hanya bisa tersenyum dan berjalan mengikutinya.
"Malam ini kita mau makan dimana?" Tao menghentikan larinya dan kini berjalan disamping Kevin.
"Di taman."
"Taman? Aku pikir kita akan pergi ke restoran," Tao cemberut. Ia gembungkan kedua pipinya dengan lucu.
"Jangan mengeluh, panda. Aku yakin nanti kau akan suka," dan setelah kalimat itu berakhir, Kevin lansung menutup mata Tao dengan kedua telapak tangannya.
"Eh?"
"Ini kejutan. Jadi ikuti aku saja tanpa perlu membantah, oke?"
Dan tanpa menunggu jawaban dari Tao, Kevin segera menuntun pemuda itu berjalan mengikuti.
"Tada,,," Kevin pun melepaskan telapak tangannya.
Dengan perlahan Tao membuka matanya dan tiba-tiba saja matanya terbelalak lebar. Dihadapannya kini ada satu set meja makan dengan lilin dan beragam macam makanan diatasnya. Lampu taman pun mendadak menambah kesan romantis ditempat itu.
"Kevin…"
"Aku tahu ini masih terlalu sederhana. Tapi, aku harap kau suka," Kevin mengusap-usap tengkuknya, gugup.
"Tidak! Aku suka, kok! Terima kasih."
Dengan ini mereka pun duduk di meja makan.
"Tao, sebelum kita makan, ada yang ingin aku katakan padamu."
"Katakan saja."
Perlahan, Kevin membawa tangannya mendekat ke arah Tao dan mengenggam dengan lembut telapak tangan pemuda panda itu.
"Aku memang sudah terlalu sering mengatakannya. Walaupun begitu, aku ingin mengatakannya sekali lagi."
Kevin menarik nafasnya, dengan teramat dalam ia menatap Tao.
"Aku jatuh cinta padamu, Tao. Sangat mencintaimu. Maukah kau jadi kekasihku?"
Tao tak menjawab, ia malah melepas genggaman tangan Kevin. Hampir saja Kevin menangis kecewa sebelum tiba-tiba Tao menyentuh pipinya.
"Aku juga mencintaimu, Kevin. Dan tentu saja aku mau jadi kekasihmu."
Dan Kevin tidak bisa menahan senyumannya lagi. Ia bawa Tangan Tao yang menyentuh pipinya dan kemudian menciumnya.
"Aku akan terus mencintaimu, Tao. Dan aku pun tidak akan pernah meninggalkanmu. Selamanya berada disisimu."
.
.
.
Kau tidak akan pergi? Selamanya disisiku?
Ah, Kevin. Kau sungguh pintar bebohong.
Bahkan menyakitiku sehebat ini.
Teganya kau, Kevin.
To Be Continued
Kevin ama tao udah jadian! XD
Jangan lupa kasih review nya, ya…
