Disclamer : Hiro Mashima
Genre : Fantasy, Friendship, Romance
Warning : AU, Gaje, OOC, Aneh, Typo, alur cepat dll
Hai minna, saya kembali dengan chapter 2. Di chapter 1 sebelumnya emang kelihatan banyak typo dll. Terus ceritanya juga masih membingungkan. Tpi di chapter-chapter kedepan mungkin jalan cerita dan konflik akan mulai terlihat. Romancenya juga. Jadi harap tetep baca fic saya ini ya. Pokoknya makasih dah ada yang mau baca dan ngereview. ^_^. Oke, Read Enjoy!
###########
CHAPTER 2.
+Kelas Fairy Tail+
SSIIIINNNGGGG! DUAAARR!
"KYAAAA!"
Lucy menjerit kaget kita mendengar suara ledakan yang sangat keras. Ia menutup telinganya lalu menunduk yang duduk di sampingnya menyentuh bahu Lucy.
"Kau kenapa Lu-chan?"
Lucy menaikkan kepalanya,menatap bingung gadis bersurai biru itu. "Apa kau tidak mendengar suara tadi Levy-chan?"
Gadis itu memiringkan kepalanya. "Dengar. Memangnya kenapa?" jawabnya polos.
Lucy serasa ingin menghantamkan kepalanya ke tembok. Kenapa teman sebangkunya malah menjawab begitu? Dan apa-apaan reaksi dari para siswa-siswi di kelas? Kenapa mereka hanya diam saja tak meributkan suara ledakan berisik itu?
"Kalau kau dengar, kenapa kau malah memasang ekspresi seolah tak terjadi gangguan seperti itu Levy-chan?"
"Oh, itu sudah biasa kok Lu-chan"
Lucy menatapnya bingung. "Maksudmu?"
"Suara itu mungkin berasal dari siswa-siswa yang sedang bertarung" Terang Levy. "Lebih tepatnya Natsu, Gray, Laxus dan Gajeel yang sedang berkelahi" tambahnya.
Lucy hanya bisa di buat tertegun mendengar penjelasan teman barunya. Bagaimana keempat orang itu bisa bertarung sampai mengeluarkan suara ledakan sangat keras seperti itu? Lalu memangnya boleh ya bertarung atau berkelahi di sekolahan? Dan kenapa wali kelasnya hanya diam saja dalam arti sama sekali tak merasa terganggu dengan kegaduhan ini? Benar-benar dirinya tak habis fikir. Sepertinya ia telah salah memilih sekolahan.
Makarov sedang mengajarkan mengenai sihir requip.
"Jadi sebelu-"
JGLEEERRR! PRRAANNGG!
"Sebelum menggunakan-"
DUEEERRR! ZZZRRRTT!
"Requip. Kalia-"
SRRAAKK! BWOOOSSHH! DUARR! JDDUUUGG!
Dan Makarovpun menyerah untuk melanjutkan penjelasannya. Suara gaduh itu sudah benar-benar sangat mengganggu! Iapun menutup pelajaran lebih awal.
"Haah...anak-anak. Kita lanjutkan pelajaran ini di pertemuan berikutnya saja. Aku harus segera ke ruang Porlyusica-san." dan Makarov segera berlari meninggalkan kelas di iringi sorakan semangat dari siswa-siswi Fairy Tail karena pelajaran membosan itu berakhir lebih awal.
"Mereka benar-benar sudah keterlaluan. Aku juga yang harus kena amukan Anggota Dewan." keluh Makarov.
Tak berselang lama suara ledakan di atas berhenti berganti dengan suara desing pedang lalu menjadi hening dalam hitungan detik. Karena sudah tenang mereka tak menyia-nyiakan waktu mereka untuk isatirahat.
Levy mengajak Lucy berkeliling di Magnolia Academy. Ia menjelaskan seluruh seluk beluk Magnolia Academy agar gadis blondie itu tak tersesat. Setelah itu Levy mengajaknya ke kantin di mana beberapa gadis tengah duduk dan bercengkrama. Gadis berambut biru itu melambaikan tangannya.
"Hai minna..."
"Oh Levy! Ayo kesini!"
Levy duduk di ikuti Lucy di sampingnya. Gadis berambut silver panjang melemparkan senyum padanya
"Kenapa kau baru datang Levy?"
"Haha...gomen. Aku baru saja mengajak Lu-chan berkeliling."
Gadis berambut putih itu menatap Lucy yang duduk di samping lawan bicaranya. "Eh, kau murid baru itu kan?"
"Ah, iya. Biarkan aku memperkenalkan diri. Watashiwa Lucy Heartfilia desu."
"Namamu bagus ya. Kalau begitu perkenalkan. Mirajane Strauss desu. Panggil saja Mira"
"Aku Juvia Lockser."
"Cana Alberona.."
"Panggil saja aku Bisca..."
"Kau sudah tahu namaku kan Lu-chan?"
Lucy menganganggukkan kepalanya. Ia berjabat tangan dengan gadis-gadis itu.
"Karena hari ini kita kedatangan teman baru, bagaimana kalau kita memesan makanan yang agak banyak untuk meryakannya?" Usul Mira.
"Boleh! Kalau begitu ayo kita adakan pesta kecil-kecilan!" kata Levy dengan setelah itu mereka memesan beberapa makanan dan minuman cukup banyak untuk merayakan kedatangan Lucy.
Lucy sangat senang karena teman-temannya sangat baik dan ramah padanya. Walau belum lama berkenalan Lucy sudah tampak akrab dengan teman-teman barunya. Mereka saling bercanda, menggosip, membicarakan masalah hobi, pengalaman dan cowok idaman. (namanya juga cewek...)
"Lu-chan, kapan-kapan boleh tidak kalau aku membaca novel buatanmu?" Tanya Levy yang merupakan seorang kutu buku.
Mira langsung menatap Lucy. "Eh, kau membuat Novel Lucy?"
Lucy mengangguk malu-malu. "Ya begitulah. Tapi ceritanya belum selesai. Lagi pula jalan ceritanya juga jelek."
"Lucy-san tidak boleh merendah seperti itu." tegur Juvia.
"Omong kosong Lu-chan. Aku membaca sinopsisnya dan ceritanya benar-benar menarik!" puji Levy.
Gadis-gadis itu tampak tertarik.
"aku jadi ingin membacanya!"
Di puji begitu membuat Lucy tersenyum senang. Apa lagi sekarang teman-teman barunya sedang berebut ingin menjadi orang pertama yang membaca Novelnya.
"Oh ya Lucy, apa kau sudah punya pacar?" tanya Mira sambil mengaduk-aduk buble icenya.
Pertanyaan Mira barusan sukses membuat suasana berubah hening. Para gadis yang penasaran langsung duduk diam sambil mendekatkan wajah mereka ke Lucy. Lucy yang diperlakukan seperti itu hanya bisa tersenyum kikuk.
"Err...be-belum."
"Benarkah?!"
Lucy mengangguk mantap dan itu membuat Levy dan lainnya cengo seketika. Seorang Lucy Heartfilia, yang memiliki wajah cantik, anggun dan body seperti gitar spanyol sama sekalia belum pernah pacaran! Ku ulangi! BELUM PERNAH PACARAN!
Tapi sepertinya tak semuanya berubah cengo karena Mira tampak senang mendengar perkataan Lucy, kemudian ia berusaha menjodoh-jodohkan Lucy dengan cowok-cowok tampan di Magnolia Academy. Bahkan yang lainnya juga ikut-ikutan. Sungguh Lucy jadi merasa sedikit sebal mendengarnya.
"Ne, bagaimana dengan Natsu Dragneel?" Usul Levy setelah meminum milkshakenya.
Perkataan Levy sukses membuat suasana kembali hening. Lalu tiba-tiba berubah ramai kembali karena gadis-gadis itu langsung memekik.
"Kyaa!benar! Mereka sangat cocok!"girang Mira.
"Ya, benar. Natsu yang dingin, ganteng dan pendiam bisa bersama Lucy yang hangat, cantik dan ramah. Mereka saling melengkapi." pikir Juvia.
"Aku mendukungmu dengan pemuda itu Lucy." tambah Bisca.
Lucy menepuk dahinya pelan. Teman-temannya ini benar benar berniat seperti ingin menikahkannya dengan pemuda itu.
"Oh Kami-sama...berhentilah menjodoh-jodohkanku seperti itu. Aku bahkan tak kenal siapa itu Natsu Dragneel."
"Masa kau tak tahu? Itu lho cowok berambut pink yang tadi pagi terlambat bersama dua temannya." Jelas Levy.
Lucy tak mungkin melupakan pemuda berambut misim semi itu. Entah kenapa dia sangat penasaran dengan pemuda itu. 'Jadi...cowok itu Natsu Dragneel?'
"Hey, aku baru bertemu dengannya sekali. Jadi mana mungkin aku bisa menyukainya?" Bantah Lucy.
Mirajane tersenyum smirk. "Ne, jadi kalau sudah kenal agak lama apa kau juga akan menyukainya Lucy?"
Lucy yang sedang meminum vanilla shakenya langsung tersedak. "Uhuk uhuk! Hah?ap-apa katamu?!"
"Tuh kan...sepertinya kau memang menyukainya. Lagi pula kami tadi cuma memasang-masangkan lho...tapi kenapa kau malah bilang 'mana mungkin aku menyukainya?'. Apa jangan-jangan..." Cana tak meneruskan kata-katanya karena sudah di potong dengan suara teriakan Mira.
"KYAAA! Sepertinya si murid baru Lucy Heartfilia menyukai tuan berhati dingin aka Natsu Dragneel! Apakah dia berhasil menyatakan cintanya?"
Muka Lucy langsung berubah menjadi merah. Pasalnya Mira menyebarkan gosip yang tak benar di kantin yang sekarang ramai. Alhasil semua mata sekarang tertuju pada meja mereka. YANG BENAR SAJA!
"Wah Lucy, sepertinya sebentar lagi kalian akan bertemu. Dan pertemuan ini membawa perubahan pada hubungan kalian. Kartu tarotku menunjukkan seperti itu." Ujar Cana yang sedang memainkan kartu tarotnya.
Mira menjerit histeris laku pingsan. Levy dan lainnya mencie-ciekan Lucy. Lucy hanya menggembungkan pipinya menahan sebal.
"KYAAA! ITU MEREKA!"
Suara pekikan kaum hawa terdengar menggema di sepanjang koridor yang melewati kantin. Para gadis di dalam kantin langsung berhamburan keluar koridor. Lucy menutup telinganya rapat-rapat.
"Kenapa mereka berisik sekali?"
"Mungkin ada cowok populer yang sedang lewat." Jelas Levy yang masih duduk anteng sambil menyeruput milkshakenya.
"Mungkin itu Natsu, Lucy." Tebak Mirajane.
"Wah! Kalau itu Natsu-san berarti ada Gray-sama dong?! GRAY-SAMA!" Juvia berlari dengan mata berbentuk love ke arah kerumunan gadis-gadis yang alay itu. Sementara Lucy dan lainnya hanya bisa sweatdrop. (mereka nggak ikutan berkerumun)
Dan benar saja! Disana empat orang cowok yang di kenali sebagai Natsu,Gray,Laxus dan Gajeel sedang lewat dengan pakaian lusuh dan kotor. Mereka berjalan dengan langkah malas. Lalu seorang gadis berambut merah terlihat berjalan menggiring keempatnya seperti nara pidana.
"Kenapa mereka di giring seperti itu Mira?"
Mira yang telah sadar dari pingsan segera menoleh. "Oh, mungkin mereka ketahuan bertarung lagi oleh Erza. Lalu Erza berniat membawa mereka ke ruang dewan."
"Jadi gadis berambut merah itu Erza?"
"Ya. Erza Scarlet itu ketua dewan keamana dan ketertiban siswa di sini. Selama dia menjabat, tak ada yang berani berbuat onar. Yah, di kecualikan untuk keempat cowok itu sih." Jelas Cana sambil meneguk birnya.
"Erza itu cantik dan anggun. Tapi jangan salah. Dia sangat kuat dan tegas, adil juga berwibawa. Tapi terkadang jika sudah marah dia bisa sangat menakutkan lho. Pernah saat itu ada segerombolan cowok yang mengganggunya tapi hanya dalam waktu semenit dia berhasil membuat merek masuk rumah sakit." Tambah Levy.
"Dan lagi, kita sekelas lho dengan Erza." Kata Bisca
Lucy hanya bisa menelan ludahnya. Sekarang ia tahu, banyak pantangan yang perlu dihindarinya agar selamat sekolah di sini.
Lucy menatap punggung para gadis yang masih belum lelah berteriak di koridor. Ia tak dapat melihat siluet keempat pemuda itu dan gadis bernama Erza. Yang ia lihat hanya kepala orang-orang itu di sepanjang koridor. Hingga di antara celah para gadis akhirnya Lucy bisa melihat siluet mereka dan tepat ketika Natsu lewat , pemuda itu menatapnya. Ya ! menatapnya lewat celah kerumunan . Walaupun dalam posisi berjalan onix hitam itu berhasil bertemu dengan karamelnya hingga menciptakan sedikit debarana aneh di dada Lucy, seperti ada efek sengatan dan slow motion. Tatapan yang datar tapi penuh rasa...penasara?
Lucy tak bisa berkata-kata dan setelah itu pemuda berambut pink itu kembali menghilang dari indra penglihatannya. Lucy terheran. Bagaimana bisa Natsu melihatnya di antara kerumunan samudra manusia itu? Atau itu hanya kebetulan? Tapi kalau hanya kebetulan kenapa orang itu bisa langsung menatap ke arahnya? Sungguh mengherankan. Lucy hanya bisa terus memikirkannya sambil memainkan sedotan minumannya dalam diam.
###########
Di ruangan luas itu Erza Scarlet tengah menggiring empat pemuda ke hadapan seorang wanita tua berambut pink. Beberapa orang di sana yang diketahui merupakan anggota dewan keamanan dan guru menatap keempatnya dengan tatapan kesal. Apa yang dikatakan Mira benar. Erza memang membawa mereka ke ruang dewan agar keempat pemuda itu mendapat hukuman atas tindakannya yang meresahkan.
Beberapa saat setelah Natsu dan ketiga temannya bertarung, Erza langsung keluar dari ruang osis yang saat itu tengah mengadakan rapat. Ia menggunakan kemampuanan requip dan teleportnya untuk menghentikan pertarungan itu, lalu membekuk keempatnya dengan cepat. Dan tanpa di komando mereka berjalan di depannya ke ruang dewan.
Erza berdiri di samping Laxus, ia melapor kepada kepala sekolah" Porlyusica-san. Hari ini aku menangkap mereka karena mereka kembali bertarung hingga hampir menghancurkan sekolahan"
Porlyusica mengangguk " Terimakasih atas laporannya Erza-san. Sebagai ketua dewan keamanan kau memang bertanggung jawab" ia beralih pada keempat biang kerusuhan yang di bawa Erza.
" Lagi-lagi kalian berbuat kerusuhan. aku sampai bosan melihat kalian keluar masuk ruang dewan. Apa kalian tidak bisa tenang barang sehari saja. Aku banyak mendapat laporan dari siswa yang pelajarannya terganggu karena ulah kalian. Sudah berapa kali aku bilang, ini sekolahan bukan arena pertarungan. Bahkan aku sampai lelah membuat hukuman yang menurutku cukup berat untuk kalian karena kalian selalu menjalani hukuman itu dengan mudah. Jika kalian ingin bertarung selesaikan di arena saat daimatou enbu. Terutama kau Natsu, sering membolos jam pelajaran dan selalu sesukanya. Jika kau terus seperti itu, kau bisa dikeluarkan dari Magnolia Academy." tatapnya tajam pada pemuda bersurai salmon yang sedari tadi berdiri dengan ekspresi datar sambil berulang kali mendecih.
" Apa kau sudah selesai berceloteh?" sindir Natsu, sangat tidak sopan. tak ayal sindirannya itu mendapat lirikan dan komentar tak suka dari para anggota dewan.
"Hey kau bocah ingusan! di mana sopan santunmu !" bentak salah seorang anggota dewan.
"Diam saja kau orang tua" timpal Laxus membela sahabatnya.
"Kauu-"
"Tenanglah"potong porlyusica dengan nada datar. ia sudah biasa mendapat perkataan tak sopan dari keempat murid itu." Sekarang kalian boleh pergi"
Kali ini erza menentang "Tapi kepala sekolah-"
"Biarkan mereka pergi dan kau juga bisa keluar dari ruangan ini Erza" tegasnya. Erza tak jadi meneruskan perkataannya. Lalu ke empat pemuda yang sudah menjadi langganan-masuk-ruang-dewan itu berjalan ke luar dengan santai tanpa merasa bersalah ataupun menyesal di ikuti Erza yang mengekor di belakang.
Makarov yang melihat kepala sekolah membiarkan saja mereka pergi mulai angkat bicara " Maafkan ketidak sopanan mereka kepala sekolah"
Sang kepala sekolah hanya memasang wajah datar " Ya itu sudah biasa bukan?"
"Kenapa Anda membiarkan mereka pergi begitu saja ?" tanya salah seorang anggota dewan dengan raut agak kesal.
"Iya, mereka harusnya di hukum atau sudah dikeluarkan dari sini" tambah seorang lainnya.
"Mereka benar-benar tak tahu etika. Apa yang kau ajarkan pada mereka Makarov-san sampai mereka bisa berlaku sesuka mereka seperti itu ?" sindir salah seorang anggota dewan.
Makarov hanya menundukkan kepalanya. Ia memang salah membiarkan mereka berlaku seenaknya dan membolos di jam pelajaran. Tapi apa yang bisa dia perbuat dengan kekeras kepalaan keempat siswa didikannya itu.
"Kalian tidak berhak menyalahkan Makarov. sekarang lebih baik kalian kembali pada pekerjaan kalian masing masing dari pada berdebat dan menyalahkan orang lain terus" tegur porlyusica lalu berlalu pergi di ikuti Makarov.
"Sepertinya aku harus lebih tegas kepada mereka" gumam Makarov setelah keluar dari ruang dewan. Tapi dapat di dengan dengan jelas oleh Porlyusica.
"Percuma saja. Kau tahu kan mereka tipe anak yang tetap tak akan menurut walau sudah di tegur dan di hukum. Biarkan saja mereka seperti itu. Lagi pula sekolah ini tak akan ramai jika tak ada mereka berempat."
Makarov tersenyum. Ternyata Ibu Kepala sekolah ini lebih baik dan bijak di banding para anggota dewan. Syukurlah...
#########
Sekeluarnya dari ruang dewan, keadaan sudah sepi karena sekarang sudah mulai masuk jam pelajaran. Erza yang berdiri di depan keempat pemuda itu hanya bisa memandangi mereka kesal karena Porlyusica tak menghukum mereka.
"Berhentilah memandangi kami seperti singa kelaparan."Sindir Laxus yang merasa di perhatikan.
"Jika dengan memandangi kalian saja sudah bisa membuat kalaian sekarat, maka aku akan sangat bahagia" balas Erza dengan sedikit ketus.
Sesampainya di depan kelas mereka langsung duduk di bangku masing-masing. Erza duduk di samping Evergreen, Natsu duduk bersama Laxus dan Gray duduk bersama Gajeel. Sontak kedatangan kelima orang itu mendapat perhatian penuh dari penduduk dalam kelas itu. Termasuk dari gadis cantik berambut pirang yang saat ini tengah menatap pemuda bersyal kotak-kotak yang duduk sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
Tak lama kemudian tercium bau wangi yang sangat menyengat hingga membuat mereka terbatuk-batuk, lalu masuklah seorang pria bertubuh pendek dengan wajah ala om-om berusia 40-an walaupun sebenarnya umurnya baru 29 tahun. Dia masuk sambil bersenandung ria.
"Selamat siang semua men~"
"Siang sensei..."
"Wah...sepertinya hari ini kalian terlihat terlihat bersemangat sekali men~. Dan...uhm...aku mencium bau parfum yang sedikit asing men~. Apa ada yang murid baru? Atau ada yang berganti parfum men~?"
"Ada murid baru sensei..."jawab seluruh siswa di dalam kelas.
"Oh...jadi di mana murid baru itu men~?"
Lucy mengangkat tangannya lalu dengan cepat guru itu sudah berdiri di samping Lucy sambil mengendus-endus rambutnya hingga membuatnya risih sekaligus ngeri.
"Le-Levy-chan...t-tolong jauhkan dia dariku.. "pinta Lucy lirih pada gadis bertubuh mungil yang duduk di sampingnya.
"Tenang saja Lu-chan, nanti dia juga akan menyingkir kok."
"Oh jadi kau siswi baru? Perkenalkan aku Ichiya men~ dan aku suka bau parfummu...vanila...sangat cocok untuk gadis manis sepertimu men~." pujinya lalu tak lama ia kembali melenggang dari samping Lucy. Gadis itu menghela nafas lega.
"Okey men~! Hari ini kita akan mempelajari cara mencampurkan bahan-bahan untuk menciptakan sebuah ramuan sihir. Jadi aku akan membagi satu kelompok berisi dua orang. Oke...kita lihat men~"
Ichiya mengelompokkan siswa-siswi di dalam kelas. "Mira dengan Laxus, Levy dan Gajeel, Juvia dan Gray, Erza-chan dengan Freed lalu...blablabla..."
"Dan yang terakhir...Natsu dengan...ehm...sepertinya semua sudah memperoleh kelompok. ah tidak masih ada Lucy. Kalau begitu Natsu kau dengan Lucy satu kelompok."
Lucy mengerjapkan matanya beberapa kali. Jadi dia sekelompok dengan Natsu Dragneel? Uh...pasti dia akan di ejek lagi oleh Mira dan benar saja karena saat ini gadis berambut silver itu tengah menatapnya sambil tersenyum penuh arti. Lucy hanya bisa menghela nafas. Kemudian ia melirik Natsu melalui ekor matanya tapi dia malah melihat pemuda bersurai pink yang selalu memakai syal itu menatapnya seperti tidak suka.
"Sensei, saya dengan yang lain saja." ucap Natsu.
"Memangnya kenapa kau tak mau sekelompok dengan Lucy?"
"Aku malas saja." kata pemuda itu membuat Lucy merasa sedikit tak nyaman.
"Tapi kelompok sudah di bagi Natsu men~. Dan aku tak menerima kata penolakan men~" kukuh Ichiya. Mau tak mau Natsu hanya menurut saja. Ia malas berdebat setelah diceramahi panjang levar oleh kepala sekolah.
"Sudah tak ada masalah lagi kan men? Kalau begitu silahkan duduk menjadi satu kelompok."
Semua murid langsung berjalan ke arah meja kelompok mereka. Begitupun dengan Lucy, ia berjalan ke bangku di mana telah duduk Natsu yang masih membuang mukanya. Lucy meneguk ludahnya sendiri ketika telah sampai di meja Natsu.
Lucy pov.
Aku jadi merasa tidak nyaman duduk di samping Natsu karena sedari tadi dia terus membuang muka. Bahkan ketika aku sudah duduk di sampingnya dia tetap diam saja. Tapi karena tak mau menentang Ichiya-sensei, jadi aku tetap duduk di bangku sampingnya. Sepertinya dia tak suka denganku? Atau itu hanya perasaanku saja ya?
Aku mencoba memperkenalkan diri padanya, sekedar berbasa-basi.
"Perkenalkan, Aku Lucy Heartfilia." kataku sambil mengulurkan tangan. Pemuda itu menoleh padaku tapi dia hanya diam saja, menatap tanganku yang terulur lalu kembali membuang muka. Dengan sedikit malu aku menarik tanganku kembali. Sepertinya dia memang tak mau menjadi temanku.
Ku lihat Ichiya sensei menggerakkan tangannya lalu tiba-tiba muncul sebuah mangkuk dari besi yang berisi air panas dan beberapa benda yang merupakan bahan percobaan untuk membuat ramuan sihir. Aku melihat bahan bahan itu dan sedikit merasa jijik dengan beberapa bahan yang terlihat seperti lidah ular dan ekor ular. Aku bertanya tanya ramuan sihir apa yang akan di hasilkan oleh bahan-bahan ini?
"Jadi anak-anak, di depan kalian ada bahan-bahan yang sudah ku siapkan dan tempat untuk meramu bahan-bahan itu. Di sini ada yang tahu ramuan apa men~ yang akan di hasilkan?"
Levy mengangkat tangannya dengan semangat. "Ramuan penyembuh sensei."
"Benar sekali! Jadi sekarang kita akan mencoba membuat ramuan penyembuh men~. Perhatikan baik-baik apa yang ku masukkan terlebih dahulu, lalu kalian bisa mencobanya ."
Ichiya-sensei mulai memasukkan bahan-bahan di atas meja satu persatu. Dia juga menjelaskan langkah-langkahnya.
Ku lihat semua kelompok tengah sibuk melakukan percobaan bersama. Sementara aku? Aku melakukan percobaan ini sendiri karena pemuda berambut pink yang duduk di sampingku hanya diam saja. Dia bahkan tak membantuku sama sekali. Benar-benar membuatku sebal saja!
Mira dan pemuda yang ku ketahui bernama Laxus tampak kompak dan saling membantu. Di kelompok Juvia, Juvia tampak sangat senang dan duduk sangat dekat dengan partnernya walaupun partnernya tampak berusaha menjauh dari Juvia. Lalu di kelompok Levy-chan, dia tampak menyuruh pemuda dengan wajah penuh tindik di sampingnya untuk memasukkan bahan-bahan sementara dia mengurutkan bahan-bahan yang hendak dicampurkan. Sesekali Levy berteriak mengingatkan agar pemuda itu tak memakan peralatan dari besi itu.
"Gajeel! Jangan memakan peralatan percobaan!" tegurnya untuk ketujuh kali.
"Berisik! Dasar udang! Aku lapar!" protes pemuda itu.
"Kalau lapar makanlah makanan! Jangan makan peralatan dari logam!"
" Ck, malas sekali aku sekelompok denganmu!" balas pemuda bernama Gajeel itu yang saat ini telah mengunyah sebuah sendok.
"Kau pikir aku mau?! Sudah cepat masukkan bahan-bahannya lagi!"
Aku tersenyum sendiri melihat pertengkaran kecil itu. Seandainya partnerku bisa seperti yang lainnya. Lalu ku lirik pemuda di sampingku yang sama sekali tak tertarik dengan suasana kelas karena dia masih setia menatap ke luar jendela. Dengan mengumpulkan keberanian, aku memanggilnya.
"Dragneel-san..."
Ku lihat di mebolehkan kepalanya kepadaku dengan tatapan dingin. Dan itu membuat nyaliku menciut.
"A-ano...k-kita kan satu kelompok..j-jadi...bisakah kau membantuku ?" pintaku seramah mungkin agar dia tak merasa terganggu atau tersinggung.
"Lakukan saja sendiri."jawabnya dingin dan dia langsung berdiri dari bangkunya lalu melenggang pergi ke luar kelas tanpa pamit dulu pada Ichiya-sensei yang saat ini sedang berusaha membujuknya untuk kembali ke dalam kelas. Lalu murid-murid lain memandangiku. Aku jadi bingung. Apa aku sudah salah bicara? Ya ampun...apa salahku?
#########
Malamnya aku tak bisa tidur karena memikirkan pemuda bernama Natsu Dragneel itu. Aku tak tahu kenapa malah aku jadi merasa bersalah. Jadi keesokan paginya aku memutuskan untuk meminta maaf padanya walaupun aku tak tahu apa salahku.
Dan beruntung saat di sekolah, di koridor aku melihatnya sedang berjalan sendiri. Sepertinya dia baru saja sampai sama sepertiku. Aku berlari kecil adar bisa menyamakan langkahnya. Lalu setelah sampai di sampingnya, aku memanggil namanya.
"Dragneel-san..."
Dia hanya diam dan masih terus berjalan.
"Dragneel-san..."
Dia masih diam.
Karena sedikit jengkel memanggilnya dengan agak keras.
"Dragneel san!"
Tap
Dia menghentikan langkahnya dan otomatis aku berhenti juga. Beruntung saat ini koridor masih sepi.
"Ada apa lagi?"
Dia tampak menatapku dengan enggan. Aku jadi merasa tak enak sekarang.
"M-maaf, aku tak bermaksud mengganggumu. Aku hanya mau minta maaf." kataku tulus. Raut wajahnya tampak bingung.
"Untuk apa?"
"Untuk kemarin. Maaf kalau aku menyinggungmu." kataku tulus. Tapi pemuda itu malah mengabaikanku dengan meneruskan langkahnya. Aku berusaha mengejarnya kembali.
"Tunggu!"
Aku menarik lengannya dan dia langsung berhenti. Tapi ku lihat rautnya berubah kesal jadi buru-buru ku lepaskan peganganku pada tanganya. Di sekarang menatapku tajam dengan onixnya yang segelap malam.
"Jangan ganggu aku." katanya lalu pergi kembali.
Aku hanya bisa mematung di tempatku. Aku jadi bingung sendiri. Kenapa aku mau bersusah payah meminta maaf seperti ini? Sungguh aku ini sangat aneh.
Akupun memutuskan untuk berjalan ke kelas dengan pikiran yang terus berkecamuk.
End Lucy pov.
Bersambung...
Yohoho...chap 2 end! Setelah saya baca ulang sepertinya ceritanya masih penuh misteri. Terus alurnya juga mungkin kecepetan. Yah...mau gimana lagi...saya kehabisan ide untuk bikin adegan lainnya. Bahkan setelah saya baca ulang, saja jadi bingung sendiri sama jalan ceritanya...lho... 0_0. Tapi saya usahain ff ini bakal saya tamatin. Review dari readers sekalian akan sangat membantu saya untuk segera membuat chapter selanjutnya. Jadi tolong reviewnya ^_^.
