KETERANGAN ADA DI BAGIAN BAWAH FICTION INI YA!
Restrictive Ch.1
Disclaimer : Mashashi Kishimoto
Rated: T
Warning: Typo's , absurd, gaje, dan sederet kekurangan lain
.
.
Di dalam mobil, Sakura hanya diam dan menekuk mukanya. Dia masih tidak habis fikir dengan pria yang sedang duduk di sampingnya ini. Bisa bisanya dia menerima perjodohan konyol dengan tenang. Dia malah bersikap lembut dan baik seolah ingin membuat Sakura jatuh cinta padanya. Sakura mengingat ingat bagaimana sikap Sasuke padanya saat ia kecil. Sasuke sangat sering menjahilinya saat ada pertemuan antara klan Haruno dan Uchiha. Sasuke sering mencubiti pipinya, menggigit pipinya, menakutinya dengan boneka seram. Pokoknya semua yang bisa membuat Sakura menangis. Hingga saat Usia Sakura menginjak 10 tahun, Sasuke pergi melanjutkan sekolahnya ke New York selama enam tahun dan baru kembali beberapa bulan yang lalu sebagai seorang yang tampan dan berwibawa. Sakura sempat tidak mengenali Sasuke saat perjamuan makan malam, dia baru tahu saat disuruh berjabat tangan dengan Sasuke oleh Tousannya. Sasuke berubah menjadi dingin dan semakin menyebalkan, itu menurut Sakura. Sehingga dia melupakan panggilan 'Sasuke-kun' dan beralih menjadi 'Sasuke-san'. Sasuke juga terlihat tidak perduli, mungkin juga Sasuke tidak akan perduli jika Sakura memanggilnya Uchiha-san.
Tapi bagaimana jika si menyebalkan itu akan menjadi suaminya? Sakura tahu betul bagaimana sesudahnya jika kita menikah dengan keluarga kerajaan, terlebih kerajaan Uchiha. Kita akan benar benar dibatasi, mungkin hanya untuk keluar dari istana dan main di halaman pengawalnya 15 orang, sangat berlebihan. Tapi itulah kenyataanya, seorang permaisuri akan sangat dijaga dengan ketat. Sakura mendengus.
Hey, Sakura lupa memikirkan sesuatu. Klan Uchiha pasti akan menuntut keturun-
"Sakura" panggil Sasuke dengan nada datar. Membuyarkan lamunan Sakura yang sudah hampir membuatnya menangis.
"Hm?" jawab Sakura dengan gumaman.
"Kenapa kau selalu melamun? Kalau kau masih berharap pernikahan ini dibatalkan, itu adalah mimpi" ucapnya. Inilah alasan yang membuat Sakura men-cap Sasuke adalah orang yang menyebalkan. Dia sangat To The Point, tidak ada basa basinya.
"Tidak, aku tidak lagi bermimpi pernikahan ini dibatalkan. Aku hanya menyayangkan masa mudaku yang harus ku habiskan dalam penjara emas ini." jawab Sakura acuh masih menatap bayangan jalan yang lewat cepat di jendela mobil mewah yang sedang ditumpanginya.
"Kau seorang anak raja. Harusnya kau tahu bagaimana hakikat istri raja mengingat kau sangat dekat dengan ibumu"
"Ya, aku tahu. Ibuku sangat rajin mengingatkan aku tentang itu." jawab Sakura sambil menolehkan kepalanya ke Sasuke.
"Tapi tidak akan jadi separah ini jika saja aku bergabung dengan kerajaan Hyuuga" sambungnya sambil kembali membuang muka.
"Bicara apa kau. Kerajaan Hyuuga itu juga kerajaan yang ketat!" kata Sasuke dengan mata yang makin melebar, memaksa mata sipitnya mengerahkan otot ototnya.
"Tidak seketat kerajaan Uchiha" Sakura menelengkan kepalanya sejenak bermaksut mengejek Sasuke.
"Karena Hyuuga tidak sebesar Uchiha. Semakin besar suatu kerajaan, maka semakin ketat peraturannya, bodoh!" ucap Sasuke santai.
"Aku lebih baik tinggal di kerajaan kecil tapi bahagia daripada bergelimang harta tapi terkekang" Sakura ber-opini sambil menghadapkan badannya ke arah Sasuke.
"Kami tidak mengekang seorang permaisuri, kami memberinya aturan agar dia menjadi lebih terarah" ucapnya lembut layaknya seorang ayah sedang melarang putrinya untuk bermain hujan.
"Aku tahu" jawab Sakura asal, karena dalam hati kecilnya dia juga membenarkan perkataan calon suaminya itu.
"Apa kau sangat menginginkan Hyuuga Neji itu?" tanya Sasuke pada Sakura.
"Ba-ba-bagaimaaana k-kau..." Sakura terbata.
"Mana mungkin aku tidak mengerti kemana arah pembicaraanmu" ucapnya sambil lurus menghadap depan "Apa yang kau suka darinya?" lanjut Sasuke.
"Aa-aku tti-tidak, maksutku..." ucap Sakura dengan rona yang menjalar di muka putihnya.
"Katakan saja, aku takkan marah"
"D-dia baik, d-dan per-perhatian." ucap Sakura.
"Lalu?"
"Dia menghiburku saat aku merindukanmu" ucap Sakura lancar tanpa terbata, dan sebenarnya kata kata itu tidak disengaja dikeluarkan oleh Sakura.
"Kau merindukanku?" ucap Sasuke sambil tersenyum miring. Lebih mirip di bilang seringai.
"Oh, tidak. Maksutku.. Ah lupakan!" Muka Sakura makin memerah, dan juga dia sangat shock mengingat apa yang sudah tak sengaja dikatakannya.
"Tak apa jika kau tak mau mengatakannya, Sakura-chan" katanya sambil melebarkan seringainya yang sebelumnya hanya sedikit.
Sakura hanya mendengus kesal. Bukan karena dia kesal karna Sasuke kembali memanggilnya dengan panggilannya sewaktu kecil dulu. Dia menyesali kenapa dia tidak pernah bisa membalas perkataan perkataan menyebalkan yang dikeluarkan oleh si bungsu Uchiha ini. Jika Itachi tidak sedang menjalin hubungan Long Distance RelationShip pada Konan yang jauh di negeri kincir angin itu, mungkin Sakura akan memilih menikah dengan Itachi.
~~~ooo~~~
"Oh ya ampun, apakah ini calon menantu Kaa-sama? Cantiknya" ucap permaisuri sambil membelai halus pucuk kepala sang calon menantu.
"Ha'i Mikoto-sama" jawab Sakura sambil membungkukkan badannya hormat. Tangan kanan yang tadi digunakan menggandeng lengan kiri Sasuke dilepaskannya dan di taruh di depan paha.
"Kau calon anakku, tidak perlu seformal itu Sakura-chan" ucap Ibu Sasuke "Kau boleh memanggilku Kaa-sama seperti Sasuke memanggilku, dan memanggil suamiku dengan panggilan Tou-sama" lanjutnya lagi sambil berjalan dan diikuti oleh Sakura dan Sasuke yang kembali bergandengan. Bingung? Ini memang tata cara keluarga kerajaan. Bergandengan merupakan tanda bahwa mereka memiliki hubungan khusus.
Mikoto terus berjalan seolah memandu Sakura untuk mengenali lebih jauh lagi tentang kerajaan ini.
"...yang kau lihat tadi adalah perpustakaan istana, ini adalah dapur istana dan- ah sudahlah. Kenapa aku jadi begitu bersemangat hingga melupakan janjiku dengan Raja untuk membawakannya teh herbal, Sasuke bisa kau antar Sakura ke kamar tamu? Menjelang pernikahaan kau akan tidur disana Sakura-chan" jawab Mikoto asal sambil berlalu pergi meninggalkan dua sejoli yang dilanda keheningan. Sebelum pergi dia menyempatkan diri untuk mengacak rambut Sakura dengan gemas. Maklumlah , dia tidak pernah merasakan bagaimana mempunyai anak perempuan. Apalagi anak perempuan berparas cantik dan menggemaskan seperti Sakura.
"Baiklah, ayo ku antar Sakura" ucap Sasuke sambil menarik tangan Sakura menuju tangga.
"Hey, kenapa ke atas? Kurasa tadi saat ibumu memberi tahu tentang istana aku sempat mendengar ibumu mengucapkan kamar tamu ada di sebelah perpustakaan istana" Sakura masih mempertahankan posisi berdirinya.
"Kau pikir di istana sebesar ini cuma memilikki satu kamar tamu?! Aku akan membawamu ke kamar tamu yang ada di sekitar kamarku" jawab Sasuke sambil kembali mencoba menarik Sakura.
"Tak apa Sasu, aku ingin tidur di kamar yang ada di bawah" kata Sakura yang berjalan terhuyung karena di tarik oleh Sasuke.
Sasuke memberhentikan langkahnya tepat di depan tangga klasik mewah yang diberikan ukiran indah, dan tentu saja harganya sangat mahal.
"Kau tahu tempat itu sudah sangat lama tidak dipakai. Yah walaupun dibersihkan setiap hari tapi tetap saja akan sangat banyak hantu yang bersemayam disitu. Apa kau tidak memikirkan jika hantu itu memperkosamu, lalu memakan jantung dan hatimu, lalu melilitkan ususmu ke tiang?" ucap Sasuke dengan suara rendah menimbulkan efek horor yang kental, tapi juga tidak dipungkiri dia menahan tawanya agar tidak meledak. Mengingat sang calon istri sangat mudah terpengaruh karena sering menonton film horor.
"Oh, Tidak. Aku tidak mau berakhir seperti itu. Baiklah, antar aku ke kamar tamu yang berdekatan dengan kamarmu Sasuke" kata Sakura yang sekarang malah menarik tangan Sasuke.
~~~ooo~~~
"Nah, inilah kamar sementaramu. Dan itu kamarku" ucap Sasuke seraya menunjuk salah satu kamar bercat putih elegan.
Sakura membuka knop pintu yang konon kata Sasuke adalah kamar sementaranya dengan perlahan.
"Huh, kamar ini tidak ada bedanya dengan kamar yang di bawah Sasuke. Tatanan nya sama dan juga pasti tidak pernah ditempati" ucap Sakura sambil menghempaskan bokongnya ke kasur empuk yang tidak terlalu besar tapi cukup untuk berdua itu.
"Tentu saja beda, disini kau akan berada dekat denganku"
"Em, Sasuke. Bolehkah aku tidur di kamarmu? En, Ano, maksutku aku sangat takut" pinta Sakura malu malu sambil memainkan ujung kedua telunjuknya.
"Haha, kalau kerajaan pemberbolehkan itu terjadi, aku akan membawamu ke kamarku, lalu mengekap mu seharian dan tidak membiarkanmu keluar. Tapi sayangnya aku harus menunggu dulu sampai kau sah istriku" goda Sasuke sambil terkekeh ringan.
Muka Sakura yang tadinya sangat imut karna malu malu berubah menjadi merah dan garang.
"Argh! Lupakan! Keluar kau" bentak Sakura kesal.
"Ya, aku memang akan keluar permaisuri" jawab Sasuke sambil melangkah menuju pintu.
"Hey, suruh anak buahmu mengantarkan koperku!"
"Hn" perintah Sakura hanya dijawab hanya dengan dua huruf konsonan andalan Sasuke.
Sakura kembali termenung sambil mengayunkan kakinya yang tergantung karna dia duduk di ranjang.
'Apakah aku bisa melupakan semuanya? Neji-kun, aku menyukaimu, sangat menyukaimu. Tapi aku tidak ada kesempatan lagi mengungkapkan perasaanku. Karena aku akan menikah. Aku memang sangat bodoh Neji-kun' batin Sakura.
'Apa aku akan mencintai Sasuke-kun? Aku takut Neji-kun, dia meninggalkanku lagi dan aku membutuhkanmu lagi' ucap Sakura sambil menitikan air mata hingga matanya memerah. 'lalu bagaimana dengan janji kita untuk-'
CKLEEK
"Sakura-chan" panggil seseorang yang tentu saja bukan anggota keluarga kerajaan. Keluarga kerajaan mengerti tentang tata cara memasukki ruang pribadi seseorang. Setidaknya mereka akan mengetok pintu dan menunggu sang empunya kamar mempersilahkan masuk. Tapi orang iniā¦..
"Kau datang? Oh Kami-sama, aku sangat merindukanmu" ucap Sakura senang sambil menghambur memeluk orang itu, hingga pasa pelayang yang berlalu lalang di depan pintu kamar Sakura terdiam karena-
-TBC-
Hehe, pendek banget yah? Ini system kebut cepat sih.
Ohya, terus banyak Readers yang bilang tentang princes hour. Princess hour itu apa? Sejenis manga yah? Aku belum baca. Aku gak maksut nge'plagiatin itu kok. Maaf kalo alurnya sama. Tapi sumpah aku belum baca itu.
Daaaaaaaannn , rate nya aku ganti jadi M! , karena banyak yang minta M, hehe. Tapi chapter ini belom ada lemon sih. Hehe XD
Balesin Review yang ga Login dulu ah :
Miku : oke, makasih review nya ya.
ThalitaSSL : Hehe, makasih pendapatnya ya. Aku juga suka Sasori jadi kakak Sakura. BTW thanks review nya ya.
Guest : oke, makasih info dan sarannya ya, dan makasih juga review nya.
Scarlet24: Wah, maaf banget ya. Rate nya aku ganti jadi M, soalnya banyak yang minta gitu. Tapi kalo kamu gak suka lemon, nanti kamu bisa skip lemon nya kok. BTW thanks review nya ya.
sasusaku loversss : oke, ini rate M! thanks review nya ya.
Nadia Namikaze : udah nih. thanks review nya ya.
Saya : oke, ini rate M! thanks review nya ya.
23 : wah, ini juga pendek nih. Soalnya system kebut cepat ngetiknya. Maaf yah, chap depan aku usahain panjang deh.
Sasusaku kira : ini udah aku ganti jadi rate M, soal yang kamu tanyain, nanti bakalan terungkap, sabar yaa.. :D :p
A-tan : Wah, maaf banget ya. Rate nya aku ganti jadi M, soalnya banyak yang minta gitu. Tapi kalo kamu gak suka lemon, nanti kamu bisa skip lemon nya kok. BTW thanks review nya ya.
Yamanaka Chika : gitu ya senpai? kok lucu sih? Okedeh, makasih saran dan review nya ya..
Udah nih bales review nya. Tunggu kelanjutan ceritaku ya teman.
See you!
