Disclaimer : Masashi kishimoto (Om Maskish, setelah lama wondergrave hibernasi, kali ini wonder mau pinjem Chara om maskish lagi yaa)
Genre : Drama/romance, Hurt/Comfort, Marriage Life
Pairing : SasuHina | slight GaaHina | slight SasuSaku | slight GaaSaku
Rated : T semi M (always wkwkwk)
Warning : AU, OOC, gaje, typo, dll
Wondergrave Proudly Present :
Miracle in Revenge
"Siapa yang memasak semua ini? Pasti bukan Gaara, aku tau rasa masakan Gaara bagaimana." Mata wanita itu dengan liar menjelajahi dapur dan ia berhasil menemukan sebuah kertas disudut meja makan. Sebuah memo.
Gaara-kun, jangan lupa sarapan. Aku harap kita bisa bertemu lagi nanti, jangan berterima kasih karena aku membuatkan sarapan ini, aku dengan senang hati bisa membuatkanmu masakan dan sangat senang jika kau memakannya. Aku akan menghubungimu lagi, bye.
Hinata tidak ingat dirinya pernah membuat memo dan masakan ini.
"Hinata, kaukah itu?" Hinata kaget, ia pun melepaskan memo yang berada ditangannya, ia menoleh kearah Gaara, yang ternyata hanya memakai boxer. Hinata terkena sindrom triple shock seketika, tak menyangka Gaara akan muncul dengan keadaan seperti itu. Tapi, tunggu! Hinata mencoba berpikir mencerna semua kejadian ini, sekali lagi ia menatap kearah masakan, memo dan juga Gaara.
"G-Gaara-kun…. K-kau?"
Gaara menyandarkan dirinya kesisi pintu sambil melipat tangannya. "One night stand…" ujar Gaara santai namun ada ketegasan diantaranya.
Hinata yang masih shock, menutup mulutnya dengan tangannya. "Ti-tidak… mungkin" Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu kemudian mengambil sebuah masakan yang berisi tamagoyaki.
"A-aku akan membuatkanmu sarapan Gaara-kun. Ma-mandilah." Hinata menunduk sambil kemudian mengepak lauk-lauk yang telah dibuat Sakura, sedang Gaara masih tersenyum jahat. Ketika mengepak makanan-makanan tersebut, air mata pun menetes dari pelupuk mata Hinata. Isakan demi isakan berhasil keluar dari bibir manisnya. "Ti-tidak mungkin…." Ia menghapus air matanya, lalu kembali konsentrasi memasak sarapan special untuk Gaara.
Hinata duduk diam menunggu Gaara di meja makan, Hinata menatap kosong meja makan. Pintu kamar Gaara terbuka, dan terlihatlah Gaara yang tampak gagah seperti biasanya dengan jasnya, Hinata langsung beranjak dan mendekati Gaara.
"Aku telah membuatkan masakan kesukaanmu Gaara-kun, ayo cepat dimakan." Gaara hanya diam sambil mengangguk-anggukkan. Ketika Gaara ingin mengambil tempat duduk di meja makan, Hinata menghalanginya sehingga membuat Gaara mengernyitkan dahinya heran.
"Da-dasimu miring Gaara-kun, aku akan memperbaikinya." Dengan pelan dan penuh kasih sayang, Hinata membenarkan dasi Gaara. Lagi, Gaara hanya diam memperhatikan Hinata.
"Nah, sudah. A-ayo kita sarapan." Gaara masih menatap Hinata, seringaian terlukis diwajah rupawannya. Gagap yang merupakan kebiasaan Hinata dahulu, kini kembali lagi. Ketika Gaara ingin mengambil nasinya, Hinata langsung menghalanginya dan merebut mangkuk nasinya, hingga Hinata lah yang mengambilkannya, Gaara terkekeh pelan, ia pun membiarkan Hinata mengurusi mangkuk makannya.
"Si-silahkan, makanlah Ga-Gaara-kun." Gaara mengambil suapan demi suapan, Hinata masih menatap Gaara dengan senyum bodoh diwajahnya.
"Aku selesai" ucap Gaara yang memberhentikan Hinata menatapnya, sontak Hinata langsung beranjak mengikuti Gaara yang ingin berangkat kerja. Sebelum benar-benar pergi, Gaara berbalik dan menghadap Hinata yang masih tersenyum.
"Aku akan pulang terlambat. Jangan menungguku Hinata." Setelah mengatakan hal tersebut, Gaara pun meraih gagang pintu apartment nya.
"Tu-tunggu Ga-Gaara-kun" Gaara menoleh dan mendapati Hinata yang spontan mencium pipinya. Gaara terkejut, Hinata lebih terkejut dan pipinya memerah.
"Ha-hati-hati dijalan…." Ujarnya lirih sebelum kemudian berlari menuju dapur. Gaara terkekeh geli melihat tingkah Hinata, seharusnya dia lebih sering melakukan One night stand agar Hinata lebih manis seperti sekarang. Mengingat one night stand, Gaara merindukan wanita bersurai pink bernama Sakura. Gadis itu benar-benar menggoda iman Gaara dan sungguh menawan.
Dengan semangatnya, Hinata membersihkan apartment Gaara. Dapur, ruang TV, ruang tamu, toilet dan tinggal satu ruangan yang belum ia bersihkan, yakni kamar Gaara. Dengan jantung yang masih berdetak cepat, ia tidak yakin ingin masuk dan membersihkan kamar Gaara. Sekali-kali tidak apa-apa kan? Hinata pun membuka pintu kamar Gaara, bau khas Gaara memenuhi penciumannya, sehingga membuat pipinya memerah. Kamar Gaara tampak berantakan, Hinata menghela nafas panjang, lalu kemudian ia berkacak pinggang.
"Yosh! Hinata! Semangat!" ucapnya yang kemudian mulai membersihkan lantai. Setelah ia rasa bersih, ia memilih untuk membersihkan kamar mandi Gaara dahulu. Wangi maskulin sabun Gaara masih tercium di kamar mandi itu, sehingga membuat Hinata rasanya mau mandi disini. Tempat tidur Gaara adalah tempat terakhir yang akan Hinata bersihkan. Senyum mesum tampak menghiasi wajah polosnya.
"Kyaaaaaaa!" Hinata loncat dan mendarat di tempat tidur Gaara, ia mengguling-gulingkan badannya. "Bau Gaara!" muka Hinata tambah memerah seperti tomat, ia raih bantal Gaara dan diciumnya bantal tersebut. "Rasanya aku mau tidur disini saja!" dilemparnya bantal Gaara dan menggapai bantal satunya. Senyumnya memudar ketika mencium bau asing yang menguar dari bantal tersebut. Bau wanita, yang Hinata tau baunya seperti bau bunga Sakura.
Hinata menghela nafas panjang. "Siapa wanita itu Gaara-kun?" gumamnya, lalu dengan kasarnya, Hinata membuka sarung bantal yang memiliki wangi bunga Sakura tersebut.
⃝
Sakura tampak sibuk berbincang-bincang dengan sekretarisnya. Tapi kini dengan muka senang, karena masalah produk terbaru telah terselesaikan, dan ini semua berkat Gaara. Entah apa yang terjadi kalau seandainya Gaara tidak membantu, itulah yang ada di otak Sakura sekarang. Sepertinya ia akan mentraktir Gaara makan malam atau ia dengan sedia akan melayaninya kembali. Pipi Sakura memerah ketika memikirkan Gaara, sungguh ia merindukan lelaki itu sekarang.
"Nona Sakura"
Suara yang begitu familiar ditelinganya, iapun melihat Gaara berada dihadapannya dengan sebuah bucket bunga. Sakura begitu terkejut, ia pun menyuruh sekretarisnya untuk pergi, dan sekretarisnya pun segera mematuhinya. Sakura melihat keadaan sekitar, untuk memastikan karyawannya tidak melihatnya.
"G-Gaara-kun, apa yang kau lakukan?" Gaara tampak cemberut.
"Aku lelah dengan pekerjaanku Sakura, aku ingin makan siang denganmu. Kau bisa?"
"Uhh… se-sepertinya bisa."
"Bagus, ah iya, dan ini bunga untukmu." Gaara pun menyodorkan bucket bunga yang berada ditangannya kepada Sakura.
"Cantik sekali Gaara… aku menyukainya. Makasih" Gaara tersenyum mendengar pujian dari Sakura, lalu ia menggaruk tengkuknya.
"Padahal kau lebih cantik daripada bunga itu." Mendengar pujian dari Gaara membuat Sakura juga malu, ia pun dengan segera menggandeng lengan Gaara.
"Ayo kita makan, aku sudah lapar."
⃝
Shikamaru Nara—adalah sekretaris loyal berbakat yang kesetiannya berhasil dimiliki oleh Sasuke Uchiha. Sudah sejak kecil, shikamaru bersanding dengan Sasuke, baik sebagai teman maupun rekan kerja seperti sekarang.
"Kau katakan bahwa ketua divisi makanan Uchiha diatur oleh direktur Sabaku Gaara?"
"Ya, Sasuke-san."
"Jadi, dia satu-satunya sainganku?"
"Ya, Sasuke-san. Anda harus berhati-hati, dia memiliki prestasi dan dukungan dari pemegang saham." Sasuke mengangguk-angguk mendengar yang dikatakan shikamaru.
"Salah satu prestasi terbesarnya adalah ketika ia berhasil menyelamatkan divisi makanan dari bencana kebangkrutan. Kudengar dia mendapatkan dana dari restaurant pasta Blanc."
"Dimana lokasinya?"
"Suna, tapi sejak kemarin sudah berada di Konoha. Sangat gawat karena berkat restaurant itu, restaurant Hyuuga mulai mengalami penurunan pendapatan."
"Benarkah? Aku penasaran dengan restaurant itu."
"Apa anda akan melakukan kunjungan tuanku?"
"Shikamaru, berhentilah bersikap formal kepadaku, kau sudah kuanggap adik sendiri." Sasuke beranjak dari kursi kebesarannya, lalu memasang jasnya. Shikamaru masih terdiam.
"Ayo, kita makan siang."
"Kau mengajakku, seperti mengajak kekasihmu Sasuke." Sasuke terkekeh geli, lalu ia menepuk-nepuk pundak shikamaru. Shikamaru juga ikut terkekeh dan membalas tepukan Sasuke.
⃝
Sampailah mereka di restaurant pasta Blanc, bau pasta sudah memenuhi indera penciuman Sasuke. Seperti yang sudah diketahui bahwa makanan kesukaan Sasuke adalah yang berbahan dasar tomat, salah satunya adalah Pasta. Saus pasta dengan banyak tomat memang surga makanan.
"Sasuke, ingatlah, kau kesini sambil melakukan riset."
"Ahh, iya benar. Terima kasih shikamaru." Sasuke pun segera mencari tempat duduk, dan yang kebetulan tersisa satu tempat duduk lagi.
Sasuke memesan fettucini dengan ekstra tomat dan tanpa keju. Sasuke membenci keju tapi menyukai tomat. Kalau dilihat-lihat, Sasuke sangat berkebalikan dengan Gaara. Shikamaru memesan spaghetti biasa. Tak butuh waktu lama, pesanan mereka telah datang. Sasuke langsung melahap fettucininya, begitu pula shikamaru, mereka berdua tampak seperti orang yang benar-benar kelaparan.
Tanpa Sasuke dan shikamaru sadari bahwa Sakura melihat mereka. Sakura begitu shock, sehingga ia pun mengurungkan niatnya untuk pulang. Ia berbalik dan menuju ke toilet. Di toilet, Sakura pun menelpon Sasuke dengan tangan gemetaran.
"Sa-Sasuke-kun.."
"Hn, Sakura, ada apa?"
"Kau dimana?"
"Aku sedang makan siang."
"A-apakah kau sudah pulang ke konoha?"
"Ahh.. sudah, maaf tak memberitahumu. Aku juga baru pulang tadi pagi. Kau sudah makan siang?"
"Sudah, barusan saja." Sakura melirik bekal makanan yang baru saja ia makan bersama Gaara. Benar saja, sudah tiga minggu Sasuke melakukan perjalanan bisnis, dan selama itu hubungan antara Gaara dan Sakura semakin dekat. Setiap hari Sakura selalu mampir ke restaurant Gaara, Gaara pun terkadang menemuinya di restaurant Sakura atau mampir ke perusahaan Sakura. Dan tak jarang juga mereka berkumpul dan melakukan 'kegiatan malam' mereka di apartment atau hotel.
"Baiklah, kalau begitu sampai ketemu nanti malam sayang. Ahh iya, tak usah memasak, aku akan memesan dan membungkus fettucini saja. Bye"
Tangan Sakura gemetar hebat, ia bersyukur Sasuke melakukan perjalanan bisnis, namun sekarang? Sasuke sudah berada di konoha. Apakah dia harus mengaku kepada Gaara sekarang? Tapi, dia sudah terlanjur menyukai Gaara dengan tulus. Sungguh, rasa cinta yang ia rasakan berbeda dengan Sasuke. Semua ketakutan ini tiba-tiba mengakibatkan perut Sakura rasanya dikocok dan makanan yang baru saja ia makan rasanya akan keluar.
"Uwekkk…." Sakura merasa sangat mual. "Uwekkk…" apakah dia salah makan? Sakura mengatur nafasnya, lalu berkumur. Ia menatap dirinya di cermin. Lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "A-aku….."
"Hmmm….. shikamaru, apa pendapatmu tentang spaghetti itu? Apakah enak?"
"Hn, aku ingin tambah Sasuke."
"Benarkah?" Sasuke melirik mangkuk spaghetti shikamaru yang masih terdapat sedikit spaghetti yang tersisa, Sasuke tersenyum jahil, lalu dengan cekatan ia mengambil spaghetti shikamaru yang membuat shikamaru sedikit menggeram kesal.
"Kembalikan spaghetti ku!"
"Aku hanya meminta sedikit shika!"
"Kau bisa memesannya!" Sasuke tetap saja memakan spaghetti shikamaru, dan Sasuke tampak puas sedang shikamaru menatapnya datar dan kesal. "Akan kuampuni kali ini kau Sasuke" gumam shikamaru yang tentu didengar Sasuke.
"Aku akan memesankanmu shikamaru. Jangan marah seperti anak kecil. Haha, tapi sekali-kali kau tampak menggemaskan juga." Shikamaru masih menatap Sasuke datar.
"Kau tidak tau betapa tertariknya aku dengan makanan."
"Aku tau shika… hentikanlah, aku akan memesankannya lagi."
Dan shikamaru kembali bergumam serta menyumpahi Sasuke dan dibalas Sasuke dengan kalimat yang sama 'aku akan memesankannya lagi' begitulah mereka, begitu akrab mengalahkan keakraban Sasuke dengan keluarganya atau dengan istrinya, Sakura.
Setelah mengambil bungkusan dan membayar dikasir, Sasuke dan shikamaru pun beranjak pergi. Sakura pun keluar dari persembunyiannya saat itu juga. Sebelum kembali kerumahnya, Sakura membeli sebuah alat untuk memastikan sesuatu yang menjadi keraguan dan juga kekhawatirannya saat ini.
⃝
Sakura menutup mulutnya lebar-lebar. Ia begitu terkejut melihat hasil test pack yang terpampang jelas dihadapannya. Badannya gemetar hebat.
"A-aku…. Ha-hamil?" entah Sakura harus senang atau tidak saat ini. Disatu sisi dia senang, namun disisi lainnya, ia bingung. Apakah ini anak dari Sasuke atau Gaara?
Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tak boleh percaya, alat ini bisa salah." Tanpa berpikir panjang, Sakura pun membuang test pack ke kotak sampah yang berada ditoilet rumahnya. Ketika Sakura membuka toiletnya, ia terkesiap dan kaget melihat Sasuke yang sedang menggaruk-garuk rambutnya yang berantakan.
"Tumben sudah bangun Sakura. Kau kenapa? Tampak kaget?"
"Ti-tidak apa-apa Sasuke-kun. Aku akan menyiapkan sarapan." Sakura pun segera pergi melewati Sasuke yang tampak masih bingung, namun Sasuke tak ambil pikir panjang, ia langsung masuk ke toilet dan melakukan kegiatan paginya. Ketika sedang mengeringkan badannya dengan handuk, Sasuke tertarik ketika melihat kotak sampah. Bukan! Bukan karena sampah-sampah, tetapi melainkan kepada alat yang Sasuke yakin adalah test pack. Diambilnya test pack tersebut, dan senyum menghiasi wajahnya ketika melihat test pack itu.
Didobraknya pintu toilet lalu berlari kearah Sakura yang sedang berkutat didapur.
"Sakura!" Sakura menoleh dan langsung menjerit ketika melihat Sasuke. "Kyaaaaaa… Sasuke! Pakai bajumu!"
Sasuke melihat keadaan dirinya yang tanpa sehelai pakaian pun seperti orang gila, tapi Sasuke tak mengambil pikir panjang, ia malah berlari kearah Sakura dan kemudian menggendong Sakura, ia memutar-mutarkan Sakura. Sedang Sakura berontak sambil berteriak.
"Terima kasih Sakura! Terima kasih Sakura! Aku mencintaimu!" Sasuke pun berhenti menggendong Sakura, Sakura memukul dada bidang Sasuke.
"Setidaknya, pakai dulu bajumu! Apa yang membuatmu gila seperti ini?"
"Hihi, kenapa kau tidak bilang kepadaku?"
"Pakai dulu bajumu sana!" Sakura mengambil sendok sayur dan ingin memukulkannya kepada Sasuke, Sasuke nyengir kuda dan kemudian pergi meninggalkan Sakura. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya, ketika Sakura ingin melanjutkan memasak, ia teringat akan sesuatu, dengan sigap ia pun menuju toilet. Diperiksanya kotak sampah dimana ia membuang test packnya tadi. Alangkah terkejutnya Sakura ketika melihat test pack nya sudah hilang. Sakura menghela nafas panjang, kini dia tau apa yang menyebabkan Sasuke begitu riang seperti orang gila.
Sakura sudah duduk duluan di meja makan menunggu Sasuke. Dari tadi, Sakura meminum air putih bolak balik untuk menenangkan dirinya, khawatir kalau seandainya anak yang dikandungnya adalah anak Gaara. Apa yang harus dia katakan kepada Sasuke nanti?
Bunyi pintu pun terdengar, terlihat Sasuke menadatangi meja makan dengan senyum yang masih awet diwajahnya.
"Sakura, kau terlihat cantik hari ini."
"Hentikan Sasuke, cepatlah makan." Perintah Sakura, namun justru membuat Sasuke terkekeh.
"Ternyata test pack mu tidak salah. Kau lebih sensitive dari biasanya sayang." Sasuke mengambil kursi dan kemudian mengambil sarapannya. Sakura terdiam tak merespon perkataan Sasuke. Tak selang berapa menit kemudian, Sakura beranjak menuju wastafel dan memuntahkan apa yang ada dimulutnya. Sasuke yang melihatnya, langsung menghampiri Sakura dan membantunya.
"Sebaiknya kau tidak usah bekerja hari ini sayang. Minta saja cuti."Sakura menggelengkan kepalanya, dia tak ingin bersantai-santai disaat dia akan kehilangan semuanya. Sasuke menghela nafas panjang.
"Kau adalah CEO Sakura. Kau bisa bekerja dirumah, suruh sekretarismu datang dan mengabarkan semuanya. Pokoknya aku tidak ingin melihatmu di Hyuuga corp saat ini. Aku akan bilang kepada ayah kalau kau hamil."
"Jangan Sasuke! Biarkan kita saja yang tau untuk sementara. Aku tidak mau siapapun yang tau, aku hamil muda. Kau tidak tau siapa saja yang ingin menghancurkan pewaris kita." Sasuke terdiam, ia membenarkan apa yang dikatakan Sakura, tapi sebagai lelaki yang sebentar lagi mendapat gelar menjadi ayah, dia ingin sekali berkata kepada dunia bahwa dia bukan lagi suami biasa, melainkan suami luar biasa.
"Aku akan tetap diam Sakura, tapi dengan syarat, kau bekerjalah dirumah saja. Oke?"
Sakura pun akhirnya mengangguk patuh, tapi itu diluarnya saja, lain dihatinya, Sakura sama sekali tidak akan menuruti Sasuke.
⃝
Disinilah Sakura sekarang, didepan apartment milik Gaara yang biasa ia datangi. Sakura memencet bel dan terbukalah pintu tersebut, namun bukan Gaara lah yang terlihat, melainkan seorang wanita berambut indigo yang pernah ia temui sekali.
"Siapa anda?" Tanya wanita itu, Sakura mematung. Tangannya mulai gemetar, apalagi ketika melihat warna mata lavender tersebut. Mengingatkannya kepada masalah yang terjadi 18 tahun yang lalu, ia menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha untuk melupakan masalah kedaluarsa itu, sekarang yang ada dipikirannya, apa hubungan antara Gaara dengan wanita ini.
"Aku yang seharusnya bertanya siapa anda, dan mengapa kau berada diapartment Gaara-kun?" tantang Sakura, yang membuat Hinata menganga tidak percaya. Hidung tajam Hinata mulai mencium wangi parfum berbau bunga Sakura yang sangat ia benci ketika dekat dengan Gaara.
"Gaara-kun? Ohhh… aku tau siapa kau nona pinky. Kau pasti wanita penggoda tunanganku kan?" nada bicara Hinata kini meninggi, ia sudah sangat kesal dengan Sakura.
"Tunangan? Cih…." Sakura melengos, melihat kearah Hinata dengan pandangan meremehkan.
"Dia pembantuku Sakura. Hinata, apa yang kau lakukan? Cepat antar tamu kita masuk." Hinata dan Sakura menoleh kearah sumber suara, Gaara tampak mengambil minum dan meminumnya dengan santai. Sakura dan Hinata kembali menatap, tapi kemudian Hinata mendekati Gaara.
"Gaara-kun! Apa maksudnya ini? Kenapa kau mengatakan kepadanya aku pembantumu? Kau tau aku adalah tunanganmu!"
"Hinata, ayolah." Gaara menghembuskan nafas panjang, sambil melihat Sakura yang juga tampak kesal didepan pintu. Satu-satunya yang harus Gaara lakukan adalah menyingkirkan salah satu dari mereka, dan Gaara lebih memilih menyingkirkan Hinata. Ia pun menarik tangan Hinata dan membawanya ke kamarnya.
"Hinata, dia adalah mitra kerjaku. Dia mengetahui kalau aku ini lajang dan tak punya tunangan, karena itu, kumohon, aku tidak mau membohongi mitra kerjaku dan kehilangan kesempatan besar. Kau mau membantuku kan Hinata?" Hinata menatap jade Gaara, berusaha meyakinkan dirinya.
"Kumohon, Hinata. Sekali ini saja." Hinata terdiam, Gaara menatapnya, lalu perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata.
"Baiklah." Ucap Hinata singkat, sambil mejauhkan Gaara darinya. Gaara yang merasa ditolak hanya bisa menggeram didalam hatinya. Tapi, ia juga senang karena ia bisa menenangkan sumber uangnya kali ini.
Gaara keluar dari kamar, mendapati Sakura yang tampak berkacak pinggang dan kesal.
"Gaara-kun, aku mau kita bicara."
"Ya, bicaralah. Tapi kau jangan salah paham, dia hanya pembantuku."
"Aku yakin, wanita tadi jujur."
"Sakura….."
"Aku juga ingin bicara jujur sekarang Gaara." Gaara terdiam, ditatapnya emerald Sakura yang tampak serius.
"Sebenarnya, aku juga sudah mempunyai suami." Sakura menunduk, merasa malu mengakui dosanya didepan lelaki yang ia cintai. "Sekarang impas, kau juga selingkuh." Lama mereka diam, tiba-tiba Sakura merasakan kehangatan dari Gaara. Ya, Gaara memeluk Sakura, dielusnya puncak kepala Sakura dan mencium puncak kepalanya juga. Terdengar isakan dari bibir Sakura.
"Aku tau Sakura. Aku tau kau sudah mempunyai suami."
"Ga-Gaara-kun?" Sakura menengadah, menatap jade Gaara yang serius. "Kau tidak pernah bertanya dimana aku kerja. Aku adalah CEO divisi makanan di Uchiha corp. Sasuke adalah sainganku." Sakura menatap Gaara tidak percaya, namun Gaara mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Aku sudah jatuh cinta kepadamu, sejak dahulu. Aku mencintaimu duluan. Aku tidak akan marah dan meninggalkanmu Sakura."
"Ga-Gaara-kun?" dan isakan Sakura pun berubah menjadi tangisan. Ia tidak menyangka Gaara begitu hangat dan pengertian akan semua kejahatan yang telah ia lakukan. Gaara menatap bidadarinya yang tampak tersakiti, Gaara menghapus air mata Sakura, ia tersenyum penuh kehangatan. Ia rangkum wajah Sakura, dan memberikan ciuman yang lembut, untuk menenangkan kekasihnya itu. Gaara pun lupa kalau ada Hinata dikamarnya. Hinata ternyata sedang mengintip mereka, air mata sudah membasahi pipinya, rasanya sakit sekali, dikhianati tepat didepan mata sendiri. Dengan pelan, ia menutup pintu kamar Gaara agar tidak mengganggu kegiatan mengharukan Sakura dan Gaara. Seharusnya yang sembunyi adalah mereka, bukanlah Hinata. Tapi, Hinata memilih menutup mata dan telinganya atas kejadian yang barusan. Ia tidak ingin kehilangan Gaara, sungguh! Ia sangat mencintai lelaki itu. Tubuh Hinata pun bergetar. Saking bergetarnya, kakinya tak sanggup untuk menahan berat badannya. Ia pun merosot ke lantai. Ditutupnya mulutnya agar tidak mengeluarkan suara tangis yang keras. Ditahannya rasa sakit yang menyayat hatinya. Pilu memenuhi kamar Gaara. Dipeluknya lututnya agar tidak merasakan kesepian yang berarti. Berusaha untuk mengurangi luka yang tertoreh dihatinya.
⃝
Sakura menyeruput teh hijau yang telah ia pesan. Gaara menatap Sakura sambil menggenggam tangannya yang bebas, berusaha menenangkan Sakura yang masih tampaknya sedih dan bersalah.
"Sakura, jika aku ingin kau menceraikan Sasuke. Apa kau mau?" Sakura menghentikan kegiatannya, dan menatap Gaara.
"Apa kau serius Gaara-kun?"
"Tentu, aku tidak mau kau terus-terusan dijamah oleh dia Sakura. Aku tau kau tidak mencintainya."
"Aku mau saja menceraikannya Gaara, tapi….. a-aku sedang hamil."
"Apa? K-kau ha-hamil?"
"Y-ya, Ga-Gaara-kun. Ka-karena itulah, aku ragu. Apakah anak yang dikandunganku ini anakmu atau Sasuke." Gaara meremas rambut merah batanya, pusing melandanya. Ia akan sangat senang kalau anak dikandungan Sakura adalah anaknya, namun ia akan tak sanggup hati kalau sampai itu anak Sasuke.
"Apa maksudmu Sakura? Anak Gaara? Bukankah itu adalah anak kita?"
DEG…
Baik Sakura maupun Gaara, mereka menegang. Ternyata Sakura kembali ke restaurant pasta Blanc untuk makan siang hari ini. Tapi, alangkah terkejutnya ia melihat istrinya dan saingannya sedang berada dalam meja yang sama, ditambah mereka membicarakan mengenai anak dalam kandungan Sakura.
"Sa-Sasuke-kun….. k-kau salah dengar!" Sakura segera beranjak dan kemudian mengelus dada bidang Sasuke. Sasuke menepis tangan Sakura dan menggenggam pergelangan tangannya, namun pandangan tajamnya tetap menuju kearah Gaara yang juga menatapnya dengan tajam.
"Rasanya tidak sopan sekali tuan Sabaku, berbicara dengan istri orang tanpa meminta izin terlebih dahulu."
"Cih…rasanya sangat naif tuan Uchiha, istrimu sendiri yang mendatangiku."
"Ga-Gaara! Hentikan!" Sasuke memandang kearah Sakura, Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. Gaara yang melihat Sakura masih mempertahankan hubungannya, melengos dan tersenyum jahat.
"Katakan saja kepadanya Sakura, tentang hubungan kita. Kau tau, aku tidak kalah hebatnya dengannya." Sakura melihat kearah Gaara yang mengangguk-anggukkan kepalanya. Sakura bingung, kembali ia tatap Sasuke yang penuh dengan kekecewaan. Ia tak tega dengan Sasuke, namun tak rela meninggalkan Gaara.
"Tidak Sasuke-kun. Gaara hanya mitra kerjaku saja, ayo kita pulang." Mendengar perkataan Sakura, rasanya hati Gaara mencelos. Segera Sakura menarik lengan Sasuke dan mengajaknya agar pergi dari restaurant Gaara bersamanya. Sebelum benar-benar pergi, Sakura menatap kearah Gaara dan kemudian mengangguk-angguk. Sakura percaya, Gaara tak akan meninggalkannya.
Walaupun Gaara mengerti tatapan Sakura, ia tetap geram dan kesal. Mengapa Sakura tidak mengakhiri hubungan gelap ini, ia sungguh tidak ingin Uchiha busuk itu mengambil miliknya.
⃝
Gaara kembali ke apartment nya dengan terhuyung-huyung, ya benar sekali. Ia merasakan stress yang sangat hebat, karena itu ia pergi ke club untuk minum-minum agar otaknya bisa merasakan ketenangan. Kamar Gaara kini telah terbuka, gelap dan juga pengap. Saklar lampu pun dikliknya dan kini penglihatannya sudah jelas. Dengan terhuyung-huyung ia berjalan menuju tempat tidurnya. Namun, Gaara terhenti ketika melihat ada seorang insan yang sedang tidur ditempat tidurnya. Wanita berambut indigo yang sedang memejamkan matanya dengan tenang. Gaara terdiam, lalu tak berapa lama kemudian ia terkekeh sehingga membuat Hinata terbangun.
"Ga-Gaara-kun, k-kau sudah pulang?" Hinata beranjak, mendekati Gaara dan indera penciumannya menangkap bau alcohol. "Astaga, Gaara-kun." Gaara masih saja terkekeh tidak jelas. Hinata segera membaringkan Gaara keatas tempat tidur. Dilepaskannya sepatu pantofel Gaara, kemudian juga jasnya serta kemejanya.
"Apa yang membuatmu seperti ini Gaara-kun?" jujur, Hinata sangat khawatir dengan Gaara saat ini, Hinata menatap Gaara prihatin. Tangan Hinata pun mencoba menenangkan Gaara dengan mengelus rambut merah batanya. "Tenanglah Gaara-kun, aku disini, bersamamu." Bisik Hinata kepada Gaara pelan sehingga membuat Gaara terdiam dari kekehannya. Dipandangnya Hinata yang duduk disisi tempat tidurnya. Ditatapnya lavender itu dalam. Terdapat ketulusan didalamnya, sungguh manis. Gaara menarik Hinata dalam pelukannya, membuat Hinata terkesiap.
"Jangan pergi…..kumohon…." Hinata terdiam didalam pelukan Gaara. Ia tersenyum lalu membalas pelukan Gaara.
"Aku tidak akan pergi, sampai kau benar-benar memintanya." Ujar Hinata yang kemudian menyusul Gaara yang telah menyelami dunia mimpi.
⃝
Pagi telah menyingsing, Gaara terbangun. Matanya mencoba menyesuaikan dengan sinar matahari yang menyinari kamarnya. Gaara kemudian menyadari bahwa Hinata berada dipelukannya. Ia tersentak namun kemudian tersenyum simpul. Pelan-pelan ia memindahkan Hinata agar ia tidak terbangun.
Kemudian, ia memeriksa smartphone nya yang tampaknya barusan menerima pesan teks. Gaara melihat nama yang terpampang di smartphone nya. Sms dari Sakura.
Gaara, maafkan aku. Kumohon mengertilah, aku berjanji akan menceraikan Sasuke. Tapi, tunggu aku 9 bulan lagi, oke? Aku harus memberinya pewaris terlebih dahulu. Disaat itu, aku janji akan berada disisimu. Kau juga harus menjauhkan gadis indigo yang saat ini bersamamu. Aku tak suka ketika kau dekat-dekat dengan gadis maniak itu.
Gaara menghela nafas panjang. Ia merasa lelah, beban yang ia tanggung sungguh berat. Gaara pun menoleh kearah Hinata yang tampak masih tertidur. Wajahnya tampak tenang sehingga tak sadar sudut bibir Gaara terangkat. Lama Gaara menatap Hinata, lalu iapun beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
Rasanya sekujur badan Hinata sangat sakit dan dingin. Entah berapa lama ia sudah berada di kamar Gaara. Badannya rasanya terlalu lelah untuk bergerak dan melakukan kegiatan rumah, tapi ngomong-ngomong ia ingin sekali mengulangi 'kegiatan' yang baru pertama kali ia lakukan dengan Gaara tadi malam. Hinata tau perbuatan tak senonoh itu tak sepantasnya ia lakukan sebelum menikah, ia juga keberatan, tapi tidak keberatan jika itu Gaara. Diotaknya, hanya ada ingin mempertahankan Gaara dan Gaara tanpa berpikir masa depannya nanti. Yahh…. Apapun yang terjadi, Gaara tidak boleh berada di sisi nona pinky. Hinata melirik jam dan ia terlonjak kaget melihat jam menunjukkan pukul 11.
"Aihhhh….. Gaara makan apa tadi?" Hinata memukul-mukul kepalanya pelan, merutuki kebodohan dan kemalasannya. Iapun segera beranjak untuk bersiap-siap dan memasak untuk makan malam Gaara. Tidak, hari ini bukanlah hari hari seperti makan malam biasanya, karena hari ini ia akan melamar Gaara. Di zaman sekarang, wanita yang melamar itu biasa.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Dengan hati yang jantungan Hinata menunggu di ruang TV, digenggamnya erat-erat kotak bewarna coklat yang isinya adalah cincin propose nya.
Pintu apartment berbunyi, menandakan bahwa Gaara sudah pulang, Hinata dengan semangatnya menyambut kedatangan Gaara.
"Gaara-kun, okaeri." Gaara terkejut ketika melihat apartment nya penuh dengan hiasan, dia juga terkejut ketika melihat Hinata yang terlihat sangat berbeda malam ini. Hinata mengenakan dress bewarna violet selutut, dan rok gaunnya tampak seperti kelopak bunga yang bermekaran. Rambut Hinata juga tidak di kuncit dango seperti biasanya, melainkan disanggul dengan manisnya, dengan sedikit bagian rambutnya dikelabang menambah apik style rambutnya. Satu yang terlihat sama, yakni kacamata tebalnya, Gaara tau bahwa Hinata memiliki minus yang jika tidak memakai kacamata tersebut, Hinata seperti kehilangan sebagian nyawanya.
"Hinata, apakah ini hari special?" Tanya Gaara penasaran sehingga membuat Hinata tersenyum. Tak lama, Hinata mengandeng lengan Gaara.
"Kau akan tau, ayo kita makan malam dulu." Jujur, Gaara tidak pernah melihat begitu banyaknya makanan yang tersaji di meja makanannya.
"Aku tidak ulang tahun hari ini Hinata, kau sungguh membuatku takut." Hinata terkekeh geli, lalu ia pun kini menghadap kepada Gaara. Menatap jade nya serius.
"Gaara-kun, a-aku me-mempunyai sa-satu keinginan." Gaara menatap Hinata serius, Hinata dengan pelan namun pasti mengeluarkan kotak bewarna coklat dan membukanya seraya memberikan kepada Gaara. Gaara membelalak kaget ketika melihat isi kotak tersebut.
"Bagiku, ini sama sekali tidak memalukan Gaara-kun. Aku malahan sangat senang melakukannya. Kau tau? Lebih deg-degan dari biasanya, lebih tegang dari biasanya." Gaara terdiam melihat Hinata, membuat Hinata semakin salah tingkah.
"Ahh… aku bilang apa ya? A-ano, G-Gaara-kun….A-aku—" perkataan Hinata terpotong karena Gaara memeluknya sangat erat sehingga membuatnya kaget.
"Aku mengerti Hinata…. Aku mengerti." Ujarnya singkat, walau singkat, Hinata mengerti maksudnya Gaara. Hinata pun membalas pelukan Gaara, merasakan kehangatan diantara keduanya.
©SKIP TIME – 9 BULAN KEMUDIAN©
"Apa kau akan memeriksa kandunganmu hari ini Hinata?" Hinata menoleh kearah sumber suara, mendapati suaminya yang sedang mengupas apel.
"Tentu Gaara-kun, aku sangat bahagia, kau tau aku sudah bisa merasakan gerakan-gerakan dari anak kita." Ucap Hinata senang sambil mengelus-elus kandungannya.
"Benarkah?" Gaara mendekati Hinata yang duduk di sofa, dielusnya perut Hinata yang sudah buncit. Seketika Gaara mendapat balasan dari si janin, berupa gerakan asing yang membuat Gaara dan Hinata senang dan tertawa bersama. Gaara mencium perut Hinata lembut dan kemudian mencium dahi Hinata.
"Aku mencintaimu, Hinata."
"Aku tau Gaara-kun. Ahh iya, setelah ke dokter kandungan, aku akan mengunjungi ibu. Tidak apa-apa kan?"
"Kau ingin aku mengantarmu?"
"Tidak usah Gaara. Aku tidak ingin anak kita menjadi manja seperti dirimu." Gaara mempoutkan bibirnya mendengar perkataan Hinata, lalu kemudian tertawa renyah bersama Hinata.
⃝
Gaara sedang mengotak-atik laptopnya ketika terdengar bel apartment nya berbunyi. Dengan senyum yang mengembang, Gaara beranjak. Ia buka pintu apartmentnya.
"Hinata, kau kan sudah ta—" kalimat Gaara terputus ketika melihat seseorang yang datang ternyata bukan Hinata.
"Kau masih menyimpan gadis maniak itu Gaara-kun?"
"Sa-Sakura?"
Sudah lama Gaara tidak melihat wanita bersurai pink ini. Ahh benar, Gaara baru teringat akan sms terakhir yang pernah Sakura kirim kepadanya. Gaara ternyata sudah lupa akan wanita bersurai pink ini, mungkin karena ia terlalu bahagia bersama Hinata dan tentu dengan calon anaknya juga.
"Kau kaget? Kenapa? Kau sudah lupa denganku?"
"Tidak, kau masuklah." Gaara pun mempersilahkan Sakura untuk masuk.
"Sudah lama sekali aku tidak menginjakkan kakiku disini." Sakura mulai menelusuri setiap sudut apartment Gaara dan pandangannya berhenti ketika melihat sebuah foto, ya foto itu tidak lain adalah foto pernikahan antara Gaara dan Hinata. Rasanya hatinya mencelos melihat foto itu.
"Ka-kau? Menikah dengan si maniak?" Sakura menatap Gaara tidak percaya, sedang Gaara hanya menganggukkan kepalanya sambil menatap Sakura datar.
"Ceraikan dia." Ucap Sakura
"Apa? Kau gila Sakura! Cukup! Keluar dari apartmentku, aku tidak ingin melihatmu lagi. Aku minta maaf soal masa lalu kita, tapi sekarang kumohon tidak ada yang tersisa diantara kita." Sakura tidak percaya akan apa yang didengarnya, matanya mulai memerah karena air mata sudah memberontak untuk keluar.
"Tidak Gaara. Masalah kita belum selesai. Kau tau? Karenamu! Aku cerai dengan Sasuke."
"Apa? Kau sudah cerai? Cih…. Begitu mudahnya kau cerai dengannya!"
Sakura mulai menangis, isakan demi isakan terdengar. "Tidak mudah Gaara bodoh! Kau tau seberapa berat usahaku? Seberapa berat aku harus menahan diriku untuk bertemu denganmu! Aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu Gaara! Kau tau? Anak yang ada di dalam kandunganku itu adalah anakmu Gaara!" Gaara terdiam, hening. Hanya tangisan Sakura yang mengisi seluruh ruangan apartment Gaara. Sakura menangis sangat pilu dihadapan Gaara.
"Lalu, jika dia memang anakku, dimana dia sekarang?"
"Dia tetap ditangan Sasuke, Gaara-kun. Aku menyerahkannya."
"Kenapa? KENAPA KAU SERAHKAN ANAKKU DENGANNYA!" Gaara membanting vas yang berada didekatnya sehingga membuat Sakura menjerit histeris diselingi dengan isakan.
"Sudah kubilang padamu! Sudah kukatakan bahwa usahaku sangat berat! Kau tau sendiri selain istri Sasuke, aku adalah CEO Hyuuga corp. Karena anak sialanmu itu, aku memiliki catatan buruk di muka karyawan. Akan sulit bagiku di RUPS nanti. Aku kehilangan segalanya karena anakmu Gaara! Karena….. karena yang ada dipikiranku hanya kau Gaara! Kau adalah lelaki pertama yang kucintai dengan tulus!" Gaara kembali terdiam.
1 menit
2 menit
5 menit
Gaara mendekati Sakura, merangkum lengan gadis itu dan menariknya kedalam pelukannya. Gaara berusaha untuk memunculkan peraasaannya lagi. Entahlah, ia juga sangat berat hati untuk mempertahankan masalalu nya lagi, diotaknya terngiang senyum Hinata yang berhasil mengobati kepedihannya saat ditinggal Sakura. Tapi, sebagai lelaki ia harus bertanggung jawab juga atas Sakura. Dia merasa benar-benar bajingan saat ini.
⃝
Sepasang onyx itu terus meratapi ruang dimana terdapat seorang bayi mungil berambut merah bata mirip seperti milik sang Sabaku Gaara, saingannya di perusahaan. Sungguh tak ia sangka bahwa istri yang selama ini ia cintai dan percayai telah mengkhianatinya. Hatinya sungguh sesak mengetahui semua fakta ini.
Sasuke menunduk sejenak, lalu kemudian berbalik. Langkahnya terinterupsi ketika melihat sepasang sepatu kulit milik seseorang yang berada dihadapannya.
"Mengapa kau mempertahankan anakku?"
Sasuke melihat kearah suara bajingan yang sangat ia benci, ia sungguh membenci rambut merah dan segala kearogansian milik lelaki bernama Sabaku Gaara.
"Mengapa kau mengambil istriku? Tak cukup perusahaan saja? Mengapa kau mengambil istriku juga?"
"Cih… justru kau harus bersyukur, Sasuke Uchiha. Aku telah menyelamatkanmu dari kebahagiaan semu. Terimalah, dia tidak mencintaimu."
"Dasar kau bajingan busuk." Buku-buku tangan Sasuke telah memutih, giginya bergemelatuk menatap Gaara yang begitu arogan.
"Sekarang, kembalikan anakku, Sasuke."
"Tidak, sebelum kau kembalikan istriku."
"Mau aku paksa pun, dia pasti rela mati hanya demi aku Sasuke." Ketika Sasuke ingin memukul Gaara, gerakannya terinterupsi karena Gaara menahannya dan gentian Gaara lah yang malah memukul Sasuke hingga Sasuke tersungkur. Nafas Gaara menjadi berat menahan semua amarah yang ada didalam hatinya. Ketika Sasuke ingin bangun, Gaara menginjak lengan Sasuke. Untunglah lingkungan sekitar Gaara sedang sepi, jadi tidak aka nada saksi mata, kecuali…
Srakk…..
Suara dokumen jatuh yang membuat Gaara memandang menuju kearah tersebut, dan mata jade nya membelalak kaget ketika melihat siapa yang berdiri mematung disana.
"Hi-Hinata…"
Hinata berdiri dengan air mata bercucuran, tangannya bergetar, memandang Gaara dengan tatapan tidak percaya.
"Hi-Hinata, ini tidak benar." Gaara berusaha untuk mendekati Hinata.
"Jangan mendekat! A-aku, aku ingin mempercayai Gaara, ta-tapi…." Hinata melirik kearah ruang inkubasi, diliatnya bayi berambut merah bata yang sama seperti milik Gaara.
"Sepertinya, anak dariku saja tidak cukup." Hinata berbalik dan berlari, disusul Gaara yang mengejarnya, sedang Sasuke masih berusaha untuk bangkit.
"Hinata! Tunggu!" Hinata berlari tak tau arah, sehingga membuat beberapa pengunjung, suster maupun dokter bingung melihatnya berlari seperti orang gila dengan Gaara.
Hinata memencet tombol lift, namun lift tak kunjung datang. Hinata tak sanggup untuk menghadapi Gaara, karenanya ia memilih untuk memakai tangga darurat. Dengan tergesa-gesa ia membuka pintu darurat dan dengan tergesa-gesa juga ia menuruni tangga tersebut sehingga tak pelak, kakinya pun terpleset dan akhirnya ia berguling bebas disetiap anak tangga. Hinata menjerit. Untung saja, Hinata tidak berguling ke seluruh anak tangga hingga lantai dasar, tetapi 2 lantai saja sudah cukup untuk membuatnya berdarah, serta ketubannya pecah. Rasa nyeri menyerangnya, Hinata pun menjerit lebih keras. Gaara yang menyusulnya dari belakang pun tampak terkejut, Gaara melihat Hinata yang terlihat hancur dan putus asa, tangannya menggapai-gapai kearahnya.
"To-tolong, a-anakku!" ujar Hinata kemudian, sebelum kedua mata lavendernya terpejam.
©MIRACLE IN REVENGE-WONDERGRAVE-TBC©
#NB : hello lagi para readers. Fyuh.. akhirnya berhasil menyelesaikan chapie 2. Senangnya hatiku melihat 5 review pertama… thanks ya buat para review, follower, favers dan juga para silent readers sekalian. Tanpa semangat dari kalian, wonder pasti bakal kagak bisa menyelesaikan nih chapie 2. Oh iya, ngomong-ngmong di chapie 2 belum mulai balas dendam yahhh… dan juga di chapie 3 belum saat nya balas dendam, wonder mau nyiksa hinata duluehhh #plak
Hehe… harap bersabar ya buat adegan SasuHina nya, wkwkwkwkwkwk…. Cinta itu butuh proses :')
BALASAN REVIEW
#Sean kim : cepetin adegan nya….. iya, memang kasian hinata menderita, tapi biarin aja biar dendamnya numpuk dan balas dendam nya lebih kejam.. wkwkwkwkw.. thanks ya selamat mereview kembali, semoga ceritanya ntar memuaskan
#gothiclolita89 : heluuw gothic-chan. Bukan ketuker atau gimana-gimana….. ntar diceritakan kok, ceritanya lebih rumit, hehe
#mianaav : Aaaaak jugaaa…. Uwahhh ide nya pasaran aduh sayang, tapi makasih deh, review mu membakar semangat!
#apikachudoodoll : Yoshhh… ayo kita kembalikan ketempatnya masing-masing! Fighting!
#MN : hohoho… pairing nya bukan banyak, melainkan gonta-ganti labil wkwkw.. tapi yang utama sasuhina dong pastinya, mereka pairing A hhe…. :D
Okeee… next, RnR, RnF, RnFav~~~~
