HUNHAN | DEPRESSED | CHAPTER 2
Tittle : Depressed
Author : LarasAfrilia1771
Genre : Tragedy, Romance, Yaoi
Cast : Oh Sehun
Lu Han
Wu Yifan
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Kim Jinhwan ( iKON )
A/N : hallo saya kembali lagi dengan ff gaje nan abal yang hanya ada di akun saya sendiri. Saya sebelumnnya mau minta maaf ya buat yang merasa ff ini kurang dari segala hal juga ke tidak telitian saya buat mengedit cerita. Saya emang masih pemula sih, dan juga masih perlu saran dan masukkan buat kelanjutan cerita kedepannya. Tapi saya terimakasih banget buat pembaca yang ngasih saran juga masukkan yang sangat membangun ^_^
Chap 2 is coming to TOWN~~~ #NyanyibarengiKON.
Tanpa ada unsur menjelek - jelekkan tokoh saya ciptakan ff ini (?) juga Luhan punya keluarganya semua member juga kecuali Sehun yang mutlak punya saya Bhaqq ^o^
Summary
Sehun terpaksa dijodohkan dengan putra dari kerabat orangtuanya bernama Luhan. Hal pertaman yang membuat Sehun aneh kepada orangtuanya adalah kenapa ia bisa dijodohkan dengan namja yang mengidap depresi seperti Luhan?
AUUUUUUUUUUU~~~~~
Sebelumnya
Sehun tersentak kaget, menatap sosok di hadapannya yang tengah memegangi perut juga menutup mulutnya. Sehun segera menghampirinya, ia tahu apa yang dibutuhkan namja mungil itu sekarang.
Ia meraih pinggang ramping itu menuntunnya menuju toilet. Sehun baru saja berpikir begitu dan sekarang benar Luhan mengalami keterlambatan untuk membuang isi perutnya.
HUEKK~HUEKK
Tangannya memijat tengkuk itu perlahan mencoba membantunya agar lebih mudah mengeluarkan isi perut. Luhan hendak membuka keran air, mencoba membersihkan sisa noda yang mengotori wajahnya. Sesorang yang diyakini adalah Sehun menocoba membantunya, mengelap wajah cantik yang nampak lelah itu untuk dibersihkan. Tangan itu menyibak poni Luhan yang hampir menutupi matanya. Hingga pada detik berikutnya Luhan terkulai tak sadarkan diri pada bahu Sehun.
_Depressed_
Yeoja itu terus saja mondar mandir di ruang tamu. Sejak tadi Sehun si anak bungsu belum juga pulang bersama dengan Chanyeol hyungnya. Ia tak terlalu mempermasalahkan Chanyeol namun lain halnya dengan Sehun, karena ia takut anaknya itu memberontak dan kabur untuk membatalkan pernikahan cantik tersebut nampak menggigiti kukunya resah dan akhirnya lelah kemudian memutuskan untuk duduk di sofa ruangan itu.
Suara langkah kaki menggema di ruangan, membuat yeoja bernama lengkap Sooyoung itu bangkit, kemudian melihat siapa yang datang.
"Chanyeol kenapa kau tak bersama Sehun?" tanya Sooyoung pada anak sulungnya yang baru datang. Chanyeol menatap sang eomma yang nampak khawatir, ia berfikir untuk mengatakan yang sebenarnya agar eommanya tak cemas.
"Ahh Sehun, dia sedang bersama Luhan di aparthemennya" ujar Chanyeol dan ia dapat melihat ekspresi wajah eommanya berubah drastis saat itu juga.
Sooyoung menghampiri Chanyeol yang masih mematung ditempat. Wajah yeoja itu menyiratkan jika ia sangat terkejut.
"Kenapa bisa? Jangan bohong" Chanyeol mendengus menatap jengkel eommanya yang selalu tak mempercayai dirinya. Chanyeol mengangguk meyakinkan "Ne, aku tak pernah bohong eomma" ujarnya dan sontak membuat Sooyoung tersenyum sendiri setelahnya.
"Kau tak cemburu?" dahinya mengeryit menatap eommanya yang sekarang tengah menunjuk – nunjuk pipinya. Hey apa – apaan ini kenapa ia harus terjebak dengan pertanyaan macam itu sekarang.
"Cemburu apa? Sudahlah jangan memancingku aku lelah" Chanyeol melenggang setelahnya membuat yeoja itu berfikir bahwa Chanyeol sudah tidak mencintai Luhan lagi. Setelahnya yeoja itu hanya bisa tersenyum, melipat kedua tangannya di perut sambil membayangkan apa yang dilakukan Sehun dan Luhan di dalam apathemen.
Chanyeol menghempaskan tubuhnya di ranjang setelah ia masuk ke kamarny a secara terburu - buru. Tubuhnya ia gerakkan secara berantakan, menghentak – hentakkan tubuh itu secara brutal. Wajahnya ia tenggelamkan pada bantal, berusaha untuk meredam suara geramannya sekarang.
Ruang kamarnya memang dibuat kedap suara dan itu tak dipermasalahkan, hingga dirasa wajahnya memerah hingga memutuskan untuk menatap langit – langit kamar.
Chanyeol menatap lurus ke depan dan berpikir jika sebenarnya ia telah bodoh melakukan hal yang sangat dipantang seorang dokter tadi. Apalagi jika bukan berkunjung ke club. Ia memang bodoh, namun ya sudahlah ini akhir dan ia tak kan mengulangi karena mungkin pikirannya tadi sedang tidak baik dan terjadilah seperti tadi.
Deru napas berat terdengar, membuat Chanyeol menatap miris dirinya yang belum bisa melupakan Luhan sepenuhnya. Dirinya pikir lima tahun berpisah dengan namja cantik itu ia bisa secepatnya untuk melupakan semua kenangan yang sialnya masih tersimpan pada memory.
Luhan cinta pertama juga mantan terindahnya hingga sekarang. Chanyeol merasa sangat lemah hanya karena seorang namja cantik bernama Luhan tersebut. Ia meruntuki dirinya yang berusaha mati – matian menahan gejolak aneh saat Sehun dan Luhan sedang bersama. Chanyeol sangat cemburu jelas dan ia tak tahu harus berbuat apa. Hingga ponselnnya berdering tanda ada pesan masuk yang diacuhkannya beberapa saat.
Dering ponselnya berbunyi beberapa kali lalu mengambil benda itu pada saku jeans, mencoba mengecek pesan yang masuk. Chanyeol mendengus sebal, membuang sembarang benda pipih itu dan kembali tergeletak di kasurnya hingga matanya perlahan terpejam bersama dengan dering ponsel yang kembali berbunyi.
From : Namja Cerewet
"Dokter aku ingin bertemu, apakah kau sibuk sekarang?"
From : Namja Cerewet
"Kenapa kau tak membalas pesanku?. Ayo kita bertemu, ku mohon"
From : Namja Cerewet
"Ya sudah aku akan menungguk dokter di taman rumah sakit. Jangan terlambat"
From : Namja Cerewet
"INGAT JANGAN TERLAMBAT"
_Depressed_
Luhan terbangun tengah malam, perutnya terasa sangat sakit dan ia bingung harus melakukan apa. Erangan sedikit keluar dari bibir plum tersebut, menciptakan nada kesakitan yang terdengar oleh seseorang yang tengah berbaring di sofa ruang TV.
Tangan ramping itu memegangi perutnya, nyaris meringguk bagai janin di dalam kandungan. Entah kenapa di tengah malam seperti ini Luhan mengalami sakit pada perutnya, hingga berikutnya ia baru menyadari perutnya belum diisi makanan sejak pagi dan langsung meminum banyak alkohol.
Luhan menatap pintu itu yang baru saja dibuka oleh seseorang. Sehun membuka pintu itu, lalu dengan cepat ia menghampiri Luhan yang nampak mengerang kesakitan dengan peluh yang membanjiri pelipisnya. Namja tampan tersebut mengecek kondisi Luhan dengan peralatan medis yang untungnya ia simpan di laci sebelah.
"Sehun~, perutku sakit" Luhan berujar membuat Sehun menatap kasihan namja cantik itu. Meskipun mengidap depressi Luhan tetaplah seorang namja polos, dan Sehun baru meyakini jika ucapan hyungnya waktu itu memang benar adanya.
Tangan itu membongkar isi tas kedokteran. Memcoba mencari obat pereda rasa nyeri yang mungkin masih tersedia. Sehun mencoba memasukkan cairan tersebut pada suntika yang berada di tangannya. Luhan yang menahan sakit sekilas menatap jarum suntik tersebut takut, membuatnya merasa ingin kabur sebelum tangan lain menahan lengannya.
"Aku tak mau disuntik~~ SEHUNNNN~~~. Jauhkan benda itu" Rengekkan itu tak digubris oleh Sehun yang nampak fokus. Luhan meronta membuat ia sedikit kualahan untuk mnyuntikkan obatnya.
"Tahan sebentar, ini tak akan sakit" ujar Sehun hingga jarum itu menancap pada kulit lengan Luhan lalu menyuntikkannya hingga habis. Setelah selesai Sehun mencabut jarum tersebut kemudian menatap Luhan yang sudah agak tenang dari sebelumnya.
"Obatnya akan bereaksi sebentar lagi, tahan rasa sakitmu sebentar" ucapan Sehun hanya dibalas tatapan datar Luhan dengan mata yang penuh dengan air mata. Namja cantik itu menangis sejak tadi sambil merengek bagaikan balita. Sehun mencoba meraih beberapa lembar tissue kemudian membersihkan banyaknya peluh bercampur air mata Luhan.
Senyuman terpatri dari wajah dinginnya tak kala menyadari jika Luhan mulai tenang. Tangannya masih membersihkan wajah itu, mencoba mengusap peluh yang mengotori dahi sang namja cantik. Namja tampan itu merasa pasiennya yang satu ini sangat – sangat konyol.
"Apa masih sakit?" pertanyaan itu dianggukicepat oleh Luhan, meski tak separah tadi namun ia masih merasakan sakit. Luhan meraih tangan Sehun untuk digenggam, mengarahkannya ke perut untuk meminta agar sang dokter mengelus perutnya.
"Sehun elus perutku hingga aku tidur~~ palliiii~~" bola mata Sehun melebar tak yakin dengan perkataan barusan yang sangat mustahil. Selain depresi Luhan memiliki kepribadian ganda dan itu sontak membuatnya menjadi bingung.
Suara detak jantung Sehun mulai terdengar cepat, sang dokter tak tahu kenapa jantungnya bisa tiba – tiba memompa cepat seperti ini. Mungkin ia harus memeriksakannya besok.
Tangannya ditarik paksa oleh Luhan, menggoyang – goyangkannya dan Luhan merajuk untuk itu. "SEHUNNN~~~ palli perutku sakittt Huuwaaaa~~" Luhan menangis keras, dengan cepat Sehun berbaring di sebelah namja cantik itu saling berhadapan dengan tangan yang mulai mengelus perut rata Luhan. Jika dilihat seperti ini Sehun nampak seperti seorang calon ayah yang sedang menunggu jabang bayinya keluar dari perut sang istri.
Lama tangannya masih mengelus pelah perut itu hingga Luhan perlahan terlelap berhadapan dengannya. Jujur ini adalah kali pertamanya ia melakukan ini, tidur bersama seseorang di ranjang miliknya sendiri.
Dalam soal cinta Sehun bukan jagonya ia hanya sesekali bertanya pada sang hyung yang sudah pengalaman dan ia merasa ia terlalu cuek dengn keadaan.
Sehun memperhatikan lekat wajah mungil Luhan yang parahnya mengapa cantik sekali. Ia melempar pandangannya ke arah lain, menyeimbangkan detak jantungnya yang menjadi tak karuan. Namun ia meruntuki dirinya sendiri dan kembali menatap kearah namja itu hingga dirasa ia menyerah dan kembali menatap wajah itu lebih dekat.
Deru nafas yang dirasa membuat dirinya merasa hangat. Namja bernama Luhan inilah yang membuatnya bingung. Disatu sisi ia tidak menyukainya karena Luhan mengidap depresi namun di sisi lain ia merasa mulai menyukai namja cantik tersebut. Sehun bingung, matanya tak mau terpejam hingga berjalannya waktu ia masih tak mau memejamkan mata sedikitpun. Melupakan jika dirinya mempunyai pekerjaan yang menunggu esok.
_Depressed_
Malam ini salju turun, membuat hawa dingin mulai menusuk pada kulit. Baekhyun namja manis yang sedang terduduk di bangku taman itu sedikit mengeratkan jaket putihnya. Ia sedang menunggu seseorang untuk datang.
Jika ingin tahu, namja manis ini adalah seorang pasien rumah sakit yang dengan nakalnya mencoba keluar dari ruangan rawat untuk pergi ke taman ini. Namja bernama lengkap Byun Baekhyun itu sudah dua minggu berada di rumah sakit ini karena kecelakaan yang membuatnya seperti sekarang. Ia sempat sangat sedih mengingat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya, kecuali dirinya yang selamat dari kecelakaan itu. Baekhyun yang mengingatnya sontak terpukul, namun pada dasarnya sifat Baekhyun yang ceria membuatnya tak terlalu bersedih hingga berakhir dengan menemukan seorang namja yang membuat ia menyukai sosok itu dalam kurun waktu yang singkat. Meski ia tahu sosok itu risih dengan keberadaannya.
"Ishh kemana si dokter itu"
Baekhyun berkali kali menghentakkan kakinya ke tanah menghilangkan rasa bosan. Menunggu memang bukan keinginannya namun demi dokter itu ia rela.
Hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, dan namja yang ia tunggu – tunggu akhirnya datang. Membuatnya sontak bangkit meski sedikit mengaduh sakit di bagian kakinya yang diperban karena patah.
Chanyeol berlari ke arah namja tersebut, yang sialnya kenapa sangat ceroboh. Salju turun malam ini dan dengan bodohnya Baekhyun memutuskan keluar dari ruang rawatnya.
"Ya Tuhan. Kenapa disini ayo kembali ke ruanganmu" Baekhyun menggeleng membuat Chanyeol bertanya karenanya.
"Aku ingin bertemu denganmu disini bukan di ruangan itu" ujar Baekhyun dan Chanyeol hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia sangat tahu jika Baekhyun terkenal karena sifat pembangkangnya ini, jadi tak perlu ditanya lagi Chanyeol segera menyeret pasien yang satu ini untuk kembali ke ruang rawatnya.
Baekhyun ingin protes namun tak bisa karena Chanyeol segera menggendongnya ala bridal style. Sontak namja manis itu bungkam, menatap suatu tonjolan di leher sang dokter yang naik turun membuatnya ikut menelan air liur.
"Kau sangat tampan dokter" perkataan itu awalnya tak digubris oleh Chanyeol. Baekhyun mendengus berharap sekali ucapannya dibalas seperti keinginannya.
"Ya aku tahu" suara Chanyeol yang keluar membuat Baekhyun tersenyum. Dengan berani namja manis itu Mengalungkan lengannya pada leher sang dokter yang membawanya kembali ke ruangan.
Baekhyun sangat senang bisa sedekat ini dengan dokter pujaannya, hingga ia hanya bisa tersenyum sendiri tanpa Chanyeol ketahui.
_Depressed_
"Hyung apakah kita harus mencarinya. Ini sudah sehari semenjak Luhan hyung menghilang. Aku sangat khawatir" eluh namja bernama Jinhwan yang sedang terduduk di sana. Wufan mencoba menghubungi beberapa kerabat dekat Luhan, namun nihil tak ada yang mengetahui keberadaan sang dongsaeng.
Jinhwan menatap hyungnya yang duduk disebelah sambil memijit pelipisnya lelah. "Apa kita harus pergi ke kantor polisi?" Wufan tak meresepon, ia lelah semalam tak tidur hanya untuk mencari Luhan dan berakhir seperti sekarang dengan lingkaran hitam dibawah matanya.
"Wufan hyung, ayolah. Kau kenapa diam saja" Jinhwan kesal, mulai meninggalkan namja bernama Wufan tersebut untuk mengambil kunci mobil. Mungkin Wufan lelah pikirnya dalam hati.
"Mau kemana?" tanya Wufan. Jinhwan memakai jaketnya asal sebelum menjawab "Mencari Luhan hyung, karena pengawal – pengawal yang berada di rumah ini tak becus. Sudahlah aku pergi" Jinhwan melenggang dari hadapannya, membuat Wufan tak bisa mencegahnya lagi.
"Ingat aku sudah melaporkannya ke polisi. Kau jangan pergi kesana lagi" Jinhwan yang hendak keluar sontak berhenti, rencananya sekarang adalah kantor polisi namun setelah apa yang ia dengar namja mungil itu menjadi bingung harus mencari hyungnya kemana lagi. Ia meruntuki dirinya sendiri merasa sangat bodoh sekarang.
"Ya aku tau, sudahlah aku pergi"
Jinhwan menghentak hentakkan kakinya dilantai sambil berjalan. Jujur ia bingung , sudahlah mungil saat dirinya pergi suatu keajaiban datang dan ia bisa menemukan Luhan hyung secepatnya.
Namja mungil itu menyusuri jalanan Seoul pagi ini. Nampak masih lenggang juga banyak pertokoan yang belum buka. Ia menghela napas berat, Jinhwan mengecek smartphone yang berdering dengan tangan lainnya yang fokus mengendalikan stir. Matanya melebar saat melihat pesan masuk tersebut, ia segera mempercepat laju mobilnya, membelah jalanan Seoul pagi ini.
Jinhwan terus berlari hingga pintu bernomor 223 itu berada dihadapannya. Tangannya memencet bel pada pintu itu beberapa kali. Ia baru mendapat pesan tadi, memberitahunya jika orang yang dicari berada di apathemen namja yang memberinya pesan barusan.
Beberapa kali ia memencet bell itu dan akhirnya pintu itu terbuka menampakkan seorang namja yang hanya memakai baju mandi dengan rambut yang terlihat masih basah. Bola mata itu melebar membuat namja tampan itu mengeryit aneh kearahnya.
Tanpa aba – aba Jinhwan masuk ke dalam aparthement itu, meninggalkan Sehun yang masih mematung di depan pintu.
"SEHUNNN~~ dimana kau sembunyikan Luhan hyungg~~" teriakkan Jinhwan membuat Sehun menutup telinganya. Kakak beradik sama saja, sering berteriak tidak jelas. Dengan gontai ia berjalan menuju Jinhwan yang nampak membuka setiap ruangan yang berada di sana namun belum juga menemukan orang yang dicari.
"Hey berisik, dia sedang tidur" ucap pelan Sehun padanya. Namja mungil itu menatap jengah ke arah Sehun yang mulai membawanya menuju kamar.
Jinhwan segera berlari saar pintu kamar itu telah dibuka. Ia melihat Luhan hyung yang masih tertidur di ranjang besar ruangan itu.
"Kau apakan Luhan hyung? Kenapa ia bisa memakai pakaian milikmu?" Sehun mulai membuka lemari pakaian yang berada disana, mengambil kemeja juga celana untuk dirinya kerja sekarang, menghiraukan pertanyaan Jinhwan.
"Aku tak akan jawab sekarang, waktuku tidak banyak aku harus kerja" Sehun berucap malas dan namja itu hendak protes sebelum Sehun berucap kembali "Kata sandinya akan aku kirimkan, jaga Luhan hingga bangun nanti. Dan ingat obatnya ada di atas nakas, jam sembilan nanti obat itu harus diminum" Jinhwan mendecih atas penuturan itu, ini semua pasti gara – gara Sehun pikirnya.
Tak butuh lama Sehun telah siap dengan penapilannya, mulai mengambil kunci mobil dan melenggang pergi dari sana meninggalkan Jinhwan yang masih menatap hyungnya was – was, takut terjadi sesuatu tadi malam.
_Depressed_
Sehun mulai mengemudikan mobilnya. Entah kenapa pikirannya berkecamuk, selalu memikirkan Luhan. Ia berusaha fokus menyetir, mencoba memutar lagu untuk menghilangkan pikiran – pikiran aneh yang menguasai isi kepalanya. Tadi malam adalah kali pertamanya ia melakukan itu pada seseorang, ia terlihat sangat cemas apalagi saat Luhan mengeluh sakit pada perutnya, membuat dirinya sontak merasakan sesuatu yang baru ia rasakan, dan mungkin itu rasa menyukai dalam artian cinta.
Ia menggeleng segera, menghilangan pikiran aneh itu. Nanti malam ada pertemuan yang akan membahas perjodohan dirinya, dan anehnya setelah kejadian kemarin ia merasa entahlah mungkin senang.
Hingga lima belas menit berlalu ia sudah sampai di rumah sakit. Ia memarkirkan mobilnya terlebih dahulu sebelum langkahnya ia bawa menuju ruang kerja pribadi. Hari ini ia ada pemeriksaan untuk pasien kecelakaan yang sudah di rawat dua minggu yang lalu. Memeriksa saraf dikepalanya yang mengalami benturan sewaktu kecelakaan.
Sehun mulai membuka pintu ruang rawat. Hingga ia mematung saat melihat apa yang terjadi didepannya.
"Hyung kau sedang apa?"
TUBIKONTINYUUUEEEE~~~~~~~~~~~~~
Masih adalah yang menunggu ff abal ini? wkwkwk makasih kalo gak ada saya mau pulang aja.
Sebelumnya makasih ya yang undah review nyemangatin saja juga ngasih saran. Aku apa atuh kalo tanpa kalian wkwkkw.
Yg mau tanya – tanya plus saran sok mangga di invite 5B7BEDCC
Ig : larasodalt
Ig masih sedikit banget nih, follow – follow lah yg baik langsung follback kok #promosi
WANNA REVIEW~~~
